(www.infopapua.com, Rabu, 11 Juli 2007 - 01:56 AM)
Manokwari, Masyarakat Sorong Selatan, Papua Barat, menolak pembukaan industri sagu di wilayahnya. "Jika industri sagu masuk, dikhawatirkan masyarakat akan kesulitan mendapatkan salah satu bahan makanan pokok di Papua," ujar Fritz Boudori, Kepala Suku Imekko Wilayah Sorong, Selasa (10/7) di Manokwari.
Mewakili komunitasnya, Bouduri menjelaskan penolakan warga terhadap upaya pemerintah kabupaten membuka industri pengolahan sagu di Sorong Selatan, terutama yang bertujuan ekspor. Menurut warga, saat ini mereka belum siap memenuhi kebutuhan industri. Pernyataan warga itu, lanjut Bouduri, telah disampaikan kepada Kepala Dinas Perdagangan, Industri dan Penanaman Modal Papua Barat Franky Jitmau. Pemerintah Provinsi Papua Barat pun, lanjutnya, menyatakan sepakat dengan warga. Jika industri sagu masuk ke daerah itu, kata Boudori lagi, masyarakat memang akan mendapatkan uang dari penjualan sagu. Namun, imbasnya, masyarakat sendiri akan kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga mereka sendiri.
Masyarakat adat Imekko di Sorong Selatan, menurut Bouduri, sebetulnya tidak antiterhadap investor/pendirian industri. Hanya saja, mereka belum siap dalam menyuplai bahan baku sagu. Menurut Bouduri, di Sorong Selatan terdapat hutan sagu alami seluas 900 hektar. Hutan pangan ini berada di Kampung Wambari, Distrik Kaur. Tepatnya, antara Sungai Kemundang dan Sungai Wiriagar. Melihat potensi itulah, Bupati Sorong Selatan Otto Ihalauw mencoba mendatangkan investor Austrindo Group. Langkah ini ditindaklanjuti Wakil Bupati Tom Dedaida dengan mendatangkan pula investor Agri Nusantara Jaya. "Kami meminta Pemerintah Provinsi Papua Barat jangan menerbitkan izin industri pengolahan sagu di Sorong Selatan," kata Bouduri, mengimbau. Ia mengusulkan, pemerintah terlebih dahulu mempersiapkan ketersediaan tanaman sagu.(sumber: kompas)
Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua
Cari Informasi/Berita/Tulisan/Artikel di Blog IKP