Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua

Cari Informasi/Berita/Tulisan/Artikel di Blog IKP

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org

14 November 2010

Merauke : Masyarakat Demo Tolak MIFFE

(www.papuapos.com, 13-11-2010)
MERAUKE [PAPOS]- Kurang lebih 20-an orang warga asli Papua, melakukan aksi demonstrasi di sepanjang jalan. Aksi yang dilakukan semata-mata menolak kehadiran program MIFFE yang telah dicanangkan pemerintah pusat untuk dibuka lahan pertanian yang dijadikan sebagai program Lumbung Pangan Nasional.

Dari pantauan Papua Pos, Jumat (12/11), aksi demo dimulai di depan Tugu Pepera, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Merauke. Selanjutnya, mereka bergerak menuju Jalan Raya Mandala hingga berakhir di Jalan Brawijaya. Mereka memilih untuk tidak menyampaikan aspirasi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) maupun pemerintah setempat. Tetapi hanya berorasi di jalanan agar didengar oleh semua orang.

Koordinator demonstrasi, Staniuslaus Gebze mengungkapkan, meskipun yang turun di jalan hanya 20-an orang, namun tujuan yang dilakukan sangat jelas. Dimana mendesak kepada pemerintah pusat maupun kabupaten, agar tidak menjalankan program MIFFE. Pasalnya, jika sampai dijalankan, akan terjadi pembabatan hutan secara besar-besaran dan habitat yang dilindungi dan atau dijaga selama ini, akan punah. Juga bakal terjadi abrasi besar-besaran. Sehingga, masyarakat menolak dengan tegas program tersebut masuk di Kabupaten Merauke.

Selama ini, kata Stanislaus, masyarakat sendiri tidak mengetahui dan memahami secara baik apa itu MIFFE. Sehingga, alangkah baiknya tidak perlu beraktivitas di Merauke. “Kami punya tanah sendiri dan tidak menginginkan agar semua yang telah dijaga dan dirawat dari tahun ke tahun, dibabat habis hanya untuk kepentingan orang tertentu,’’ tegasnya.

Dia juga menambahkan, program MIFFE sama sekali tidak akan memberikan kontribusi bagi masyarakat pribumi. Justru kerugian besar yang akan diderita. Olehnya, sebelum ada aktivitas, lebih baik perusahan-perusahan mengurungkan niat datang melakukan aktivitas. Karena masyarakat menantang keras adanya kegiatan tersebut. “Kami tidak akan mengijinkan siapapun melakukan aktivitas di daerah ini,” tuturnya. [frans]

Timika : Kejari Limpahkan Berkas Tersangka "Illegal Logging"

(www.papuapos.com, 13-11-2010)
TIMIKA [PAPOS]- Kejaksaan Negeri Timika, melimpahkan berkas dua tersangka kasus dugaan pembalakan liar (illegal logging) ke pengadilan negeri setempat untuk disidangkan.

Kepala Kejaksaan Negeri Timika, Arie Pawarto Yustinus, kepada ANTARA, Jumat, mengatakan berkas kedua tersangka atas nama HEY dan MR telah dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Timika pada Selasa (9/11). Kedua tersangka yang menjabat direktur dan karyawan PT Dia Diani Timber itu diduga melakukan penyelundupan kayu tanpa izin di Jera, Distrik Mimika Barat Tengah, Kabupaten Mimika.

Kedua tersangka dijerat dengan UU No.41 tahun 1999 tentang Kehutanan dan saat ini menjalani penahanan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Timika.

Pawarto menjelaskan, kasus yang melibatkan tersangka HEY dan MR ditangani oleh tim penyidik dari Mabes Polri."Berkas perkara kedua tersangka kami terima dari Mabes Polri," jelas Pawarto.

Menurut dia, dugaan kerugian negara yang dilakukan kedua tersangka diperkirakan mencapai miliaran rupiah."Kerugian negaranya besar. Uang hasil lelang barang bukti saja sejumlah Rp5 miliar. Bahkan masih ada ratusan meter kubik kayu yang belum dilelang tapi sudah disita oleh penyidik," kata Pawarto.

Ketua PN Timika, Sucipto SH, membenarkan telah menerima pelimpahan berkas kedua tersangka dari Kejari Timika dan telah menunjuk majelis hakim yang akan menyidangkan kasus tersebut.

Sesuai rencana, katanya, persidangan perdana kasus itu akan digelar pada Jumat (19/11) dengan majelis hakim terdiri dari terdiri dari Willem Marco Erari SH, M Purba SH dan Hatija A Paduwi SH. Meski menjadi salah satu kasus prioritas seperti halnya perkara korupsi, namun menurut Sucipto, persidangan kasus "illegal logging" tersebut nantinya berlangsung normal seperti perkara-perkara pidana lainnya.

PT Dia Diani Timber yang merupakan perusahaan tempat kerja kedua tersangka merupakan salah satu perusahaan HPH yang beroperasi di Jera, Distrik Mimika Barat Tengah. Perusahaan tersebut baru mendapat izin perpanjangan usahanya selama 35 tahun dari Pemprov Papua dengan produksi kayu gelondongan mencapai 65 ribu kubik dari target sebanyak 125 ribu kubik.[bel/ant]

Naional : Elang Bido Terakhir di Ngrangkah

(www.kompas.com, 13-11-2010)
KOMPAS.com
— Dua ekor elang bido di Dusun Ngrangkah, Umbulharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu (24/10/2010)—dua hari sebelum letusan pertama Gunung Merapi—barang kali merupakan elang bido terakhir yang diamati Lim Wen Sin.

Letusan dahsyat Merapi itu dipastikan menghancurkan ribuan hektar hutan dan kebun rakyat, yang juga habitat burung-burung di lereng Merapi. Selain elang bido, vegetasi di sisi selatan Merapi juga rumah bagi burung langka—elang jawa— yang sebelum letusan berjumlah kurang dari 10 ekor.

Dusun Ngrangkah merupakan salah satu dusun dengan kerusakan terhebat. Beberapa warganya tewas pada letusan pertama. Dusun itu merupakan tetangga Dusun Kinahrejo, dusun tempat tinggal juru kunci Merapi, Mbah Maridjan.

”Bukan hanya burung jenis raptor (pemangsa), burung-burung lain dipastikan juga tersebar ke berbagai lokasi lain, menjauh dari Merapi,” kata Lim, penggiat pengamatan burung pada Raptor Club Indonesia. Selain tersebar, bukan tak mungkin sebagian di antaranya mati, seperti laporan sesama pengamat burung yang melihat elang jawa sekarat di sekitar Kaliurang.

Burung seperti kepodang dan srigunting yang memangsa keluarga serangga diperkirakan sangat terdampak. Kalaupun banyak burung selamat, bisa dipastikan masa depan puluhan jenis burung di lereng Merapi terancam.

Letusan Merapi yang membumihanguskan vegetasi dan ekosistem lerengnya berdampak langsung pada ketersediaan aneka jenis pakan di alam. Kalaupun ada, selain terbatas, kualitas pakan burung, seperti serangga, ular, buah-buahan, atau tetumbuhan, dipastikan terkontaminasi abu vulkanik.

Sebenarnya, harapan banyak burung di lereng Merapi selamat masih ada. Sejumlah laporan menyebutkan adanya kelompok burung yang bermigrasi lokal beberapa hari sebelum Merapi meletus.

Bahkan, satu hari setelah letusan, sejumlah burung pemangsa lain teramati bergeser ke rerimbunan pohon di Dusun Kepuharjo, di sisi selatan dan timur Kinahrejo. Pasca-letusan kedua, Jumat (5/11/2010) dini hari, keberadaan burung-burung yang bermigrasi lokal itu tak terpantau lagi.

Kawasan lereng Merbabu dan Sindoro-Sumbing di Jawa Tengah diduga menjadi tujuan migrasi lokal berikutnya. ”Itu akan terjadi selama ada koridor penghubung berupa vegetasi,” kata Lim. Kalaupun berhasil tiba di tempat baru, kompetisi pakan menjadi persoalan lanjutan. Di alam, siapa kuat dia bertahan.

Di dalam rantai makanan, elang jawa dan burung pemangsa lain, seperti elang bido, merupakan predator puncak. Namun, baik predator maupun mangsa tak ada perbedaan di ”mata” Merapi. Dan, burung-burung pun dipaksa beterbangan entah ke mana. (GSA)

12 November 2010

Nasional : Kelelawar Langka Ditemukan di Sumatera

(www.kompas.com, 11-11-2010)
KOMPAS.com — Ahli-ahli konservasi asal Inggris menemukan kelelawar langka di hutan Sumatera. Kelelawar yang ditemukan dikenal dengan nama barong ridley (Hipposideros ridleyi), spesies yang tergolong terancam punah dalam daftar International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Spesies kelelawar itu ditemukan di fragmen hutan yang luasnya hanya 300 hektar. Fragmen tersebut dikelilingi perkebunan kelapa sawit yang dibuka di area hutan dan diperluas sehingga merambah habitat yang penting bagi kelangsungan hidup hewan langka.

Peneliti mengatakan, penemuan itu menunjukkan bahwa fragmen hutan sekecil apa pun tetap berharga untuk dilestarikan. Para pengelola perkebunan kelapa sawit wajib mengidentifikasi wilayah yang membutuhkan pelestarian.

Fragmen hutan tempat penemuan kelelawar tersebut adalah bagian dari hutan yang dikelola oleh pemilik perkebunan kelapa sawit. Dalam rangka melestarikan kehidupan liar, peneliti meminta para pemilik perkebunan untuk mengidentifikasi wilayah yang membutuhkan pelestarian.

Lebih lanjut, peneliti mengatakan bahwa jaringan fragmen-fragmen hutan mungkin cocok untuk melestarikan spesies-spesies tertentu. "Komunitas ilmiah mesti membantu komunitas bisnis sehingga kehidupan liar yang terancam bisa tetap eksis di wilayah yang dikelola dalam jangka panjang," kata Matthew Struebig dari Queen Mary, University of London, salah satu anggota tim peneliti.

Pembahasan tentang isu konservasi dan keterkaitannya dengan perkebunan kelapa sawit dilakukan pada Selasa (8/11/2010) di Jakarta.

Sophie Persey dari Zoological Society of London sekaligus Manajer Proyek Perkebunan Kelapa Sawit mengatakan, "Perlindungan hutan selalu menjadi prioritas dalam konservasi. Namun, jika program perluasan perkebunan kelapa sawit tetap dilakukan, maka melindungi fragmen hutan dalam perkebunan kelapa sawit juga menjadi hal yang penting untuk mempertahankan keanekaragaman hayati Indonesia."

Manca Negara : Vietnam : Spesies Kadal Aneh Ditemukan di Restoran

(www.kompas.com, 11-11-2010)
KOMPAS.com
— Menemukan spesies unik di hutan rimba mungkin sudah biasa. Tapi, bagaimana kalau spesies itu ditemukan di rumah makan?

Pasangan ayah dan anak yang sama-sama peneliti reptil, Lee Grismer dan Jesse Grismer, berhasil mengidentifikasi spesies kadal baru yang ditemukan di sebuah rumah makan di Vietnam. Kadal itu berjenis kelamin perempuan dan mampu berkembang biak secara aseksual alias bisa beranak tanpa kawin.

Nama spesies kadal yang ditemukan adalah Leiolepis ngovantrii. Sebenarnya, ini bukan kali pertama spesies kadal tersebut dijumpai. "Orang-orang Vietnam telah menjadikannya makanan sehari-hari. Rumah makan juga telah menjadikannya salah satu menu masakan yang dijual," kata Lee yang menjadi ahli reptil di La Sierra University di Riverside, California.

Penelitian dimulai ketika rekan Lee, Ngo Van Tri, dari Vietnam Academy of Science and Technology, melihat spesies kadal tersebut di rumah makan. Ia merasa ada kejanggalan pada kadal tersebut karena semuanya memiliki warna yang sama. Ia kemudian memotretnya dan mengrimkan fotonya kepada Lee.

Lee kemudian datang ke Ho Chi Min City bersama Jesse. Setelah sempat kehabisan stok ketika mencarinya di sebuah rumah makan, ayah dan anak ini akhirnya berhasil mengumpulkan lebih kurang 70 kadal. Mereka mengidentifikasinya dan akhirnya menemukan fakta bahwa semua spesies kadal itu berjenis kelamin betina.

Spesies kadal yang seluruhnya betina ini bereproduksi secara partenogenesis. Dengan sistem reproduksi itu, kadal ini bisa melepaskan sel telurnya yang sudah matang dan "menggabungkannya" dengan sel telur lain yang dia produksi. Gabungan dari dua sel telur itulah yang membentuk individu baru.

Lee mengatakan, kadal yang dia temukan mungkin merupakan hibrida dari garis maternal dan paternal dari dua spesies berbeda yang saling terkait, sebuah fenomena yang biasa terjadi di zona transisi. "Jadi, spesies yang ada di suatu daerah dan daerah lain dalam waktu tertentu bertemu dan bereproduksi untuk membentuk hibrida," kata Lee.

Setelah melakukan tes DNA mitokondria kadal tersebut, Lee menemukan bahwa garis maternal dari kadal itu adalah spesies Leiolepis guttata. Sementara itu, garis paternalnya belum diketahui karena sulitnya mengidentifikasi garis paternal dengan DNA mitokondria. Hasil studi ini dipublikasikan di jurnal Zootaxa tanggal 22 April 2010.

08 November 2010

Biak : Singa Laut Sepanjang 6 M, Ditemukan di Warsa

(www.papuapos.com, 07-11-2010)
BIAK [PAPOS] - Seekor Singa Laut dengan panjang 6 meter, lebar 4 meter serta memiliki taring sepanjang 2,6 meter ditemukan terdampar dan membusuk di pesisir pantai kampung Karui Berik distrik Warsa, Kamis [28/11]. Pantai tersebut berhadapan langsung dengan lautan Pasific dan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor sekitar 1,5 jam perjalanan dari kota Biak.

Timo Asyerem, seorang sekretaris kampung setempat yang mengaku pertama kali melihat hewan raksasa itu, dari kejauhan mengira adalah seekor ikan hiu yang tengah terdampar. Namun sehari berikutnya, ketika bangkai hewan tersebut semakin mendekat ke pinggir pantai, diketahui bahwa hewan itu merupakan Singa laut dengan ukuran yang lumayan besar, dan dalam keadaan membusuk.

Menurut penuturan warga setempat saat ditemui Papua Pos di kampung Karui Berik, [5/11] kemarin, setelah Tiga hari bangkai Singa laut itu terdampar di pinggir pantai, bau busuk semakin meruak hingga ke perkampungan warga. Oleh sebab itu kata mereka, warga kampung setempat berupaya untuk mendorong bangkai hewan tersebut ke tengah laut, dan ternyata berhasil dibawa arus laut sejak Minggu [31/10].

Sekretaris kampung Karui Berik, Timo Asyerem mengakui, jika penemuan bangkai Singa Laut tersebut, belum sempat ia sampaikan ke pihak terkait seperti dinas Perikanan dan kelautan.

Sehingga ia juga tidak mengetahui secara pasti penyebab dari kematian hewan yang biasanya hidup secara berkelompok itu.

Masih menurut penuturan Timo, sebelum warga mendorong bangkai Singa Laut tersebut ke tengah laut, mereka pun melihat taring sepanjang 2,6 meter itu telah patah, dan Timo pun akhirnya membawanya pulang ke kediamannya di kampung tersebut. [gia]

06 November 2010

Timika : DPR Minta Freeport Taati Ketentuan UU Minerba

(www.papuapos.com, 5-11-2010)
Timika [PAPOS]- Ketua Komisi VII DPR, Effendi MS Simbolon meminta PT Freeport Indonesia menaati semua ketentuan yang diatur dalam UU No 4 tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara (Minerba).

"Kontrak generasi ke lima soal Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) kepada PT Freeport belum disetujui sehingga dia harus tunduk kepada UU No 4 tahun 2009 tentang Minerba," kata Effendi Simbolon kepada wartawan di Timika, Rabu.

Ia bersama sembilan anggota Komisi VII DPR lainnya pada Rabu pagi tiba di Timika, ibu kota Kabupaten Mimika dalam rangka kunjungan kerja selama tiga hari.

Menurut wakil rakyat dari Fraksi PDI Perjuangan itu, kunjungan kerja ke Mimika dalam rangka menyerap, menggali dan melakukan kros cek dengan Pemkab setempat, Pemprov Papua dan manajemen PT Freeport Indonesia mengenai masalah izin pertambangan, pengelolaan lahan eksplorasi, persoalan lingkungan, masalah kelistrikan, masalah bahan bakar dan lainnya.

Setiba di Timika, Komisi VII DPR bersama rombongan dari Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), BP Migas, Pertamina dan PLN Wilayah Sulmapa menggelar pertemuan dengan Bupati Mimika, Klemen Tinal.

Pada Kamis (4/11), rombongan Komisi VII DPR akan meninjau lokasi pertambangan emas, tembaga dan perak Freeport di Grassberg Tembagapura dan selanjutnya akan meninjau areal pengendapan pasir sisa tambang (sirsat) di Maurupauw MP 21.

Effendi dan rekan-rekannya juga menjadwalkan pertemuan dengan jajaran direksi PT Freeport Indonesia.

"Pertemuan dengan Direktur Utama dan jajaran Direksi Freeport sangat penting sekaligus untuk memberikan klarifikasi atas data yang kami miliki," tuturnya.

Ia mengharapkan PT Freeport dapat memenuhi semua ketentuan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan baik menyangkut pengelolaan lingkungan, termasuk besaran royalti dan iuran tetap tentang tarif atas jenis penerimaan negara bukan pajak yakni 3,75 persen dari ketentuan semula sebesar satu persen sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah No 45 tahun 2003.

Dengan menaati berbagai aturan tersebut, kata Effendi, kegiatan operasional PT Freeport tidak akan mengalami gangguan hingga selesainya masa kontrak karya dengan Pemerintah Indonesia yang dijadwalkan berakhir sekitar tahun 2040.

PT Freeport Indonesia merupakan perusahaan penanaman modal asing pertama yang berinvestasi di Indonesia sejak ditandatangani kontrak karya pertama tanggal 7 April 1967. Kontrak karya Freeport dengan Pemerintah Indonesia diperbaharui (kontrak karya tahap II) pada tahun 1991 yang ditandatangani oleh mendiang Presiden Soeharto.[ant/agi]

Manca Negara : Amerika : Ular Ini Beranak Tanpa Kawin

(www.kompas.com, 5-11-2010)
KOMPAS.com - Reproduksi aseksual, yaitu reproduksi yang terjadi tanpa disertai pembuahan sel telur oleh sperma, adalah hal yang umum terjadi pada hewan tak bertulang belakang. Tapi, reproduksi cara tersebut bisa sangat mengejutkan bila terjadi di kelompok hewan bertulang belakang atau yang sering disebut vertebrata, walaupun bukan berarti tidak ada.

Baru-baru ini peneliti dikejutkan dengan adanya spesies ular yang mampu bereproduksi secara aseksual lewat proses yang disebut partenogenesis. Spesies tersebut adalah Boa constrictor, atau biasa disebut boa, golongan ular tak berbisa yang memiliki badan relatif besar dan biasa ditemukan di Karibia, Amerika Selatan dan Amerika Tengah.

Temuan itu dimulai ketika Warren Booth, ahli Genetika Populasi dan Evolusi dari Virginia State University, menemukan seekor boa yang melahirkan 22 anakan. Boa yang ditemukan di Boa Store Tennesee ini melahirkan anakan yang seluruhnya betina dan karakteristiknya sama dengan induknya, berwarna karamel.

Setelah melakukan tes DNA pada boa betina yang ditemukan dan pejantan yang ada di tempat tersebut, Booth sangat yakin bahwa boa yang ditemukannya bereproduksi secara partenogenesis. Pasalnya, tak mungkin anakan yang dihasilkan memiliki karakter yang jarang itu jika tidak menuruni gen dari kedua induknya.

Booth menemukan sesuatu yang unik pada partenogenesis boa ini. "Partenogenesis ini dilakukan saat ada pejantan di tempat itu," ujar Booth. Hal tersebut, menurut Booth, berbeda dengan partenogenesis pada umumnya yang dilakukan ketika tak menemukan pasangan kawin. Hingga kini, Booth belum menemukan alasan partenogenesis pada ular tersebut.

Keunikan yang lain adalah materi genetik yang terdapat pada anakan. Pada ular, anakan jantan biasanya akan memiliki kromoson ZZ dan anakan betina memiliki kromosom ZW. Namun, anakan boa ini berbeda sebab kromosom anakannya adalah WW dan berjenis kelamin jantan. "Ini mengejutkan. Selama ini, ilmuwan berpandangan bahwa anakan dengan kromosom WW tidak akan berkembang," jelas Booth.

Booth mengatakan, kemampuan boa dalam melakukan partenogenesis ini bisa berdampak negatif. "Mereka kehilangan jumlah keanekaragaman genetik. Boa itu akan cenderung secara fisik dan fisiologi yang berpengaruh pada kemampuannya untuk survive dan bereproduksi," terang Booth. Perhatian pada cara bereproduksi ini, menurut Booth, sangat penting dalam mengupayakan konservasi ular.

Hasil penelitian Booth dipublikasikan di jurnal online Biology Letters pada tanggal 3 November 2010.

05 November 2010

Nasional : Kakatua Terancam Punah

(www.kompas.com, 3-11-2010)

BOGOR, KOMPAS.com — Burung kakatua di Indonesia yang tersebar di kawasan Wallacea terancam punah pada berbagai tingkatan. Tiga dari tujuh jenis kakatua yang endemik (hanya ada di Indonesia) adalah kakatua maluku (Cacatua moluccensis), kakatua putih (Cacatua alba), dan kakatua tanimbar (Cacatua goffiniana). Sementara itu, kakatua-kecil jambul-kuning (Cacatua sulphurea), yang juga terdapat di Timor Leste, memiliki status keterancaman tertinggi, yaitu kritis.

Demikian siaran pers yang dikeluarkan Burung Indonesia, yang ditandatangani Fahrul P Amama, Communication and Media Relations Burung Indonesia, Senin (1/11/2010). Burung Indonesia atau Perhimpunan Pelestari Burung Liar Indonesia adalah organisasi nirlaba yang bekerja sama dengan Bird Life Internasional (berkedudukan di Inggris) yang memfokuskan pekerjaan pada pelestarian jenis-jenis burung yang terancam punah.

Dalam siaran pers itu dipaparkan, Indonesia sebagai negara dengan kekayaan hayati yang tinggi bertengger di peringkat pertama sebagai negara dengan jumlah jenis burung terancam punah dan paling banyak akibat eksploitasi berlebih. Berbagai jenis burung paruh bengkok tersebut diekspor ke luar wilayah Indonesia untuk memenuhi kesenangan manusia. Catatan paling awal pada abad ke-15, terjadi pengangkutan kakatua pertama ke Eropa lewat perairan Nusantara yang kala itu disebut East Indies.

Selain penangkapan dan perdagangan internasional yang tidak memerhatikan keberlangsungan populasi untuk pulih, jenis-jenis kakatua dan paruh bengkok lainnya di Indonesia masih harus menghadapi ancaman berupa bukaan hutan untuk fungsi lain. Setiap tahunnya, pada periode 2006 hingga 2009, laju deforestasi hutan mencapai 31 juta hektar per tahun.

Ketiga jenis kakatua tersebut memang dapat pula dijumpai di hutan sekunder atau hutan yang telah mengalami proses pembalakan. Bahkan, kakatua putih dianggap cukup toleran dengan hutan modifikasi. Walau demikian, ketiganya sangat membutuhkan tutupan hutan alam dengan tutupan tajuk rapat, terutama ketersediaan pohon besar sebagai sarang.

227 DPB

Bird Life International selaku otoritas ilmiah Badan Konservasi Dunia (IUCN) untuk semua jenis burung di dunia menilai, tiga dari tujuh jenis kakatua di Indonesia menghadapi ancaman kepunahan. Ketiga jenis kakatua tersebut menghadapai berbagai tekanan yang dapat melenyapkan populasi mereka di alam bebas.

Untuk itu, sebagai organisasi konservasi dengan jaringan kemitraan terbesar, Bird Life International mengembangkan program konservasi berbasis standar dan kriteria yang diterima dan dapat diaplikasikan secara global. Program konservasi ini tidak hanya mengenali, mendokumentasikan, dan melindungi jaringan kawasan-kawasan penting bagi burung, tetapi juga terhadap kekayaan hayati lainnya. Program ini dikenal sebagai Important Bird Area (IBA) atau Daerah Penting bagi Burung (DPB).

Dengan 227 kawasan penting bagi burung (di luar Pulau Papua), Indonesia memiliki DPB/IBA terbanyak di Asia Tenggara, disusul Filippina (117 IBA) dan Vietnam (63 IBA). Daerah penting bagi burung di Indonesia tersebar di Jawa dan Bali (53 DPB), Nusa Tenggara (43 DPB), Sumatera (40 DPB), Maluku (36 DPB), Sulawesi (32 DPB), dan Kalimantan (23 DPB).

Secara umum, paruh bengkok di Asia dan Amerika Latin saat ini juga menghadapi ancaman serupa. Sejak pertengahan abad ke-17 hingga awal abad ke-19, terhitung sembilan belas jenis paruh bengkok telah menghilang. Perburuan sebagai pakan dan hewan peliharaan ditengarai sebagai penyebab utamanya. Faktor lain penyebab kepunahan paruh bengkok adalah introduksi mamalia dan hilangnya tutupan hutan alam.

Kakatua adalah kelompok burung yang mudah dikenali dari ciri fisiknya: paruh atas yang lebih membengkok dan kuat serta tipe jari kaki zygodactyl (dua jari ke depan dan dua mengarah ke belakang). Berbeda dengan paruh bengkok lain, kelompok kakatua memiliki jambul dan warna bulu dominan yang kurang beragam, seperti putih, hitam, abu, dan kombinasinya.

Secara ilmiah, mereka dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu Cacatuinae (kakatua), Calyptorhynchinae (kakatua hitam), dan Nymphicinae (Cockatiel).

Pusat keragaman kakatua berada di kawasan tropis Australasia (Australia, Papua, dan Wallacea). Dari 21 jenis kakatua di dunia, Indonesia memiliki 7 jenis. Tiga jenis di antaranya hanya terdapat di Indonesia.

03 November 2010

Manca Negara : Afrika : Nyamuk Pembawa Malaria Berevolusi

(www.kompas.com, 2-11-2010)
KOMPAS.com
— Dua galur nyamuk penyebar penyakit malaria di Afrika berevolusi secara genetik hingga menjadi spesies baru yang berbeda dengan sebelumnya. Hal itu diketahui dari penelitian internasional yang dipimpin ilmuwan dari Imperial College London (ICL) tentang galur M dan galur S pada nyamuk Anopheles gambiae yang ada di Sub-Sahara Afrika.

Secara fisik, galur M dan S itu identik. Namun, secara genetik, keduanya berbeda sehingga jenis nyamuknya pun seharusnya dibedakan. Perbedaan genetik itu membuat upaya mengontrol populasi nyamuk Anopheles gambiae dipastikan hanya efektif untuk satu galur dan tidak efektif untuk galur yang lain. Karena itu, jika akan dibuat insektisida untuk membasmi nyamuk tersebut, insektisidanya harus efektif untuk kedua jenis galur.

Pemimpin peneliti, George Christophides dari Divisi Sel dan Biologi Molekuler pada ICL, seperti dikutip ScienceDaily, Kamis (21/10/2010), menyebutkan, malaria adalah penyakit mematikan. Satu dari lima kematian yang terjadi di Afrika disebabkan oleh malaria. ”Cara yang tepat untuk membasmi malaria adalah dengan mengontrol nyamuknya sebagai pembawa penyakit,” katanya.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 200 juta orang terserang malaria di seluruh dunia, sebagian besar ada di Afrika. Malaria membunuh satu anak setiap 30 detik.

Peneliti lain dari ICL, Mara Lawniczak, mengatakan, studi menunjukkan, evolusi nyamuk penyebar malaria jauh lebih cepat dibandingkan yang diperkirakan sebelumnya. Untuk itu, pemantauan genetik tersembunyi pada nyamuk perlu dilakukan jika ingin sukses dalam mengatasi malaria karena strategi menghadapi satu galur nyamuk berbeda dengan strategi untuk menghadapi galur yang lain. (SCIENCEDAILY/MZW)

29 October 2010

Manca Negara : Myanmar : Monyet Hidung Pesek dari Myanmar

(www.kompas.com, 28-10-2010)
KOMPAS.com
— Seekor monyet berhidung pesek jenis baru ditemukan di bagian utara kawasan hutan Myanmar, kawasan hutan yang terancam habitatnya oleh penebangan hutan liar dan proyek pembangunan waduk yang akan dilakukan China. Spesies baru itu diberi nama Rhinopithecus strykeri.

Monyet yang ditemukan ini memiliki ekor yang panjang, warna tubuh yang hitam, daun telinga putih, dan jenggot yang juga berwarna putih. Yang unik dari monyet ini adalah kebiasaannya bersin saat hujan sebab selain hidungnya yang pesek, lubang hidungnya pun menghadap ke atas.

Thomas Geissmen, salah satu peneliti yang berasal dari Universitas Zurich-Irchel, menyatakan, "Ini adalah hal baru dalam ilmu pengetahuan. Sangat tidak biasa menemukan monyet yang memiliki karakteristik lain daripada yang lain di daerah seperti ini."

Para ilmuwan mengungkapkan, monyet-monyet itu memiliki ciri yang berbeda dengan monyet berhidung pesek lain yang berada di China dan Vietnam. Mereka memperkirakan, ada antara 260 dan 330 monyet berciri serupa yang hidup di area hutan yang luasnya mencapai 27 km persegi itu.

Melihat kondisi habitatnya, peneliti mengatakan bahwa monyet-monyet itu berada dalam ancaman. "Ancaman perburuan akan meningkat dalam setahun ke depan seiring rencana pembangunan dam dan pembabatan hutan yang terjadi," ungkap para ilmuwan itu di American Journal of Primatology bulan ini.

Berkaitan dengan kondisi habitatnya, Frank Momberg dari Flora Fauna International yang terlibat dalam penelitian ini mengatakan, "Masa depan dari si monyet pesek ini tergantung pada China." Selama ini, monyet banyak diburu untuk dimanfaatkan daging, bulu, dan organ tubuhnya untuk dijadikan obat.

Peneliti mengungkapkan kemungkinan kerusakan lingkungan yang bisa terjadi akibat pembangunan waduk. Selain merusak ekosistem si monyet, pembangunan waduk yang disertai pembuatan jalan baru dan penebangan dalam jumlah besar dapat berakibat pada erosi daerah aliran sungai (DAS) sehingga akan mengurangi fungsi waduk itu sendiri.

Atas dasar konsekuensi itu, peneliti meminta China melakukan analisis dampak lingkungan terkait dengan pembangunan waduk itu. Tujuannya adalah menyelamatkan monyet yang saat ini sudah dalam kondisi terancam punah itu. Sebagai informasi, rencananya waduk akan dibuat di Sungai Irrawady, Myanmar, oleh China Power Investment Corporation.

28 October 2010

Merauke : Waspada, Tinggi Gelombang Di Perairan Merauke 3-5 Meter

(www.papuapos.com, 28-10-2010)
BIAK [PAPOS] - Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) kelas I Biak merilis, tinggi gelombang laut di perairan sebelah Barat hingga Selatan Merauke diperkirakan mencapai 3 hingga 5 Meter. Perkiraan tersebut berlaku sejak tanggal 20 hingga 26 Oktober 2010 mendatang.

Kepala seksi data dan informasi BMKG kelas I Biak, Ibnu Sulistiono menjelaskan, tinggi gelombang laut yang melebihi batas normal tersebut, terjadi karena adanya angin kencang. Dimana, kecepatan angin di wilayah tersebut diperkirakan mencapai 20 hingga 25 knot, yang bertiup dari arah Barat daya menuju Timur laut Papua.

Sementara itu, Ibnu juga menjelaskan, tinggi gelombang laut di wilayah Pantai Utara Papua diperkirakan masih dalam batas normal, yakni 0,5 hingga 2 Meter, terkecuali di bagian sebelah Selatan Papua, khususnya yang berbatasan dengan sebelah Barat hingga Selatan merauke, tinggi gelombang diperkirakan bisa mencapai 2 hingga 3,5 Meter. [gia]


Manca Negara : Amazon : Inilah Makhluk-makhluk Aneh dari Amazon

(www.kompas.com, 27-10-2010)
KOMPAS.com — Spesies yang istimewa dan spektakuler yang sebelumnya tak diketahui keberadaannya ditemukan di hutan hujan tropis Amazon dengan tingkat penemuan yang cukup tinggi, satu spesies setiap tiga hari. Hal itu dilaporkan WWF pada hari ini.

Beberapa spesies seperti anaconda yang panjangnya sepanjang limusin, lele raksasa yang bisa memakan monyet, laba-laba bertaring biru, dan katak beracun adalah beberapa dari 1.220 spesies hewan dan tumbuhan yang ditemukan dalam periode 1999 hingga 2009.

Salah satu penemuan terhebat adalah ditemukannya anaconda yang panjangnya mencapai 4 meter di Pando, Bolivia, pada tahun 2002. Itu adalah spesies anaconda pertama yang teridentifikasi sejak tahun 1936 dan menjadi spesies keempat anaconda yang teridentifikasi.

Selain itu, ada 55 jenis reptil lain yang ditemukan, termasuk anggota famili Elapidae yang meliputi ular-ular paling berbisa di dunia, yaitu kobra dan taipan. Ada lagi temuan berupa 24 jenis katak berwarna, termasuk katak-katak beracun.

Dari 257 jenis ikan yang ditemukan di sungai dan danau di Amazon, sebagian besar adalah lele raksasa. Satu di antara lele itu ditemukan di Venezuela dengan panjang mencapai 1,5 meter dan berat 32 kilogram. Umumnya, lele yang ditemukan menjadi makanan spesies lain.

Namun, pernah pula ditemukan lele raksasa yang memakan monyet, terbukti dari adanya bagian tubuh monyet yang terdapat di perut lele itu. Ada pula lele yang ditemukan di Rondonia, Brasil, yang memiliki ukuran yang sangat kecil, buta, dan berwarna merah.

Ada pula laba-laba yang ditemukan dengan jumlahnya mencapai 500 spesies, termasuk laba-laba yang memiliki badan coklat tapi memiliki struktur macam gigi taring yang berwarna biru. Sementara untuk mamalia, ada lumba-lumba berwarna merah jambu, tujuh macam monyet, dan dua macam landak.

Amazon sendiri merupakan tempat 637 spesies tumbuhan baru ditemukan, seperti bunga matahari, lili, dan berbagai macam nanas. Amazon adalah rumah bagi 40.000 spesies di mana 1.000 spesies bisa ditemukan di satu hektar hutan hujan tropis di Ekuador dan 3.000 spesies bisa ditemukan di 24 hektar hutan Kolombia.

Laporan tentang adanya spesies itu dikeluarkan di sela-sela pertemuan PBB yang diadakan di Nagoya, Jepang, dalam rangka upaya pencegahan kepunahan massal spesies di seluruih dunia. Bersama dengan laporan itu, WWF juga menggarisbawahi pentingnya pelestarian Amazon.

"Laporan ini menunjukkan dengan jelas betapa istimewanya keanekaragaman hayati di Amazon," kata Fransisco Ruiz, pimpinan WWF's Living Amazon Initiative. Namun, ia menyesalkan bahwa keistimewaan itu kini dalam tekanan karena keberadaan manusia. Lanskap wilayah itu cepat sekali berubah.

13 August 2010

Papua : Pengetahuan Dan Kearifan Tradisional ­ Masyarakat Adat

(Tabloid Jubi, 12-08-2010)
Link : http://tabloidjubi.com/index.php/edisi-cetak/advertorial/8605-pengetahuan-dan-kearifan-tradisional-s-masyarakat-adat

JUBI --- Kesadaran mencin­tai lingkungan hidup timbul dari keseharian setiap suku-suku bangsa di dunia ini termasuk masyarakat asli di Tanah Papua. Pandangan kosmis masyarakat tradisional menurut antropolog Dr JR Mansoben dari FISIP Uncen adalah ham­pir menjadi patokan dari sebagian besar kelompok kelompok etnik di Tanah Papua. Mereka ini bisa tergolong ke dalam masyarakat yang mela­kukan pelestarian ling­kung­­an hidup sesuai dengan penge­tahuan dan kearifan local masing-masing suku. Masyarakat Suku Amungme misalnya memasukan symbol-simbol lingkungan hidup dengan tubuh seorang manusia.

“Tanah bagi orang Amungme adalah ibu atau mama, karena itu tak heran kalau mereka memiliki hubungan yang begitu kuat dengan tanah dan alam. Alam sekitarnya dianggap sebagai tubuh seorang mama yang memberi dan menjamin hidup mereka. Begitu pula dengan masyarakat Asmat menganggap pohon sebagai penjelmaan dari jati diri manusia.

Pandangan ini lanjut Mansoben telah menyebabkan terbentuknya norma-norma dan nilai-nilai tertentu yang berfungsi sebagai pengendali social bagi masya­rakat adat untuk berintegrasi dengan ekosistem. Norma-norma itu mengatur dan menetapkan aturan-aturan yang baik untuk dijalankan maupun larangan-larangan termasuk pantangan yang harus dipatuhi. Sistem pengetahuan konservasi tradisional itu adalah dengan melarang masyarakat untuk mengambil hasil hutan atau hasil laut pada suatu tempat tertentu yang telah disepakati selama beberapa waktu.Larangan-larangan ini dimaksudkan agar memberikan peluang bagi jenis-jenis biota laut untuk berkembang tanpa diganggu selama jangka waktu tertentu. Hal ini penting agar ikan dan biota laut yang akan dipanen bisa memberikan hasil yang banyak. Sistem pelarangan ini banyak dikenal oleh suku-suku di Tanah Papua. Misalnya saja Suku Tepera di Distrik Depapre Kabupaten Jayapura mengenal sistem pelarangan ini dalam bahasa local disebut Takayeti atau Tiatiki.

Sedangkan dalam masyarakat Biak Numfor dan Kabupaten Raja Ampat meng­enal sistem korservasi lokal dengan nama Sasisen. Orang-orang Maya di Pulau Salawati Kabupaten Raja Ampat menyebutnya Rajaha dan Pulau Misol menamakan sistem konservasi tradisional dengan nama samsom. Arti samsom dalam bahasa Matbat(Pulau Misol) adalah larangan.

Bagi masyarakat Suku Tepera Distrik Depapre Kabupaten Jayapura, upacara Tiatiki tentang pelarangan selama beberapa bulan bagi warga kampung mencari ikan pada lokasi tertentu. Ini artinya masyarakat setempat telah menyadari pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan hidup.Dr Wiklif Yarisetou dalam bukunya berjudul Tiatiki Konsep dan Praktek menyebut­kan pembagian zonasi-zonasi menurut klen di Kampung Senamai; Tablanusu; Tablasupa dan Kampung Maruway antara lain, Akadame yaitu bagian laut yang diukur mulai dari batas surut air laut sampai air pasang di kedalaman 12 meter. Ciri khas yang menonjol di sini saat air laut surut, wilayah tersebut dinamakan akademi, kering (meti). Saat itu warga mempunyai kesempatan untuk mencari ikan di padang lamun, termasuk mencari siput dan kerang-kerangan.

Kia-kia merupakan zonasi bagian laut yang memiliki kedalaman dari 12 sampai dengan 25 meter. Dasar laut masih bisa dilihat atau tampak oleh mata. Bila air laut surut lokasi ini tak sampai kering atau meti.Nau koti, yaitu bagian laut yang mempunyai kedalaman 25 meter sampai 100 meter. Bagian dasar laut tidak kelihatan dan warna air sudah kebiru-biruan.Beta nau, bagian laut yang kedalaman lautnya 100 meter sampai ke zona laut lepas atau laut bebas di Samudera Pasifik.Dari gambaran zonasi-zonasi tersebut, maka menurut Dr Wiklif Yarisetou wilayah-wilayah laut akadame; kia-kia dan nau koti termasuk dalam areal kekua­saan tanah-tanah adat. Jika ada warga lain yang menangkap ikan di lokasi tersebut dianggap melanggar adat. Wilayah laut inilah yang menjadi pusat kegiatan tiaitiki karena lokasi akadame dan kia-kia meru­pakan tempat pemijahan; pemeliharaan dan pertumbuhan ikan-ikan. Lokasi ini sangat aman dari arus dan gelombang laut sehingga ikan-ikan dan biota lainnya dapat berkembang biak.

Selain pengetahuan local tentang tiaitiki masyarakat Suku Dani di pedalaman tanah Papua juga telah mengenal prinsip keseimbangan lingkungan sejak dulu. Mereka membuat parit-parit mengelilingi bedeng-bedeng agar terhindar dari pengrusakan babi. Parit-parit juga sangat berguna karena mengeluarkan airbekas tanah dari akar-akar petatas (Ipomea batatas/ipere) Fungsi parit parit memberikan kesuburan bagi bedeng-bedeng petatas (ipere) dan menya­lurkan air kalau musim kema­rau tiba. Atau sistem pengairan ini sangat berguna bagi kesuburan tanah dan juga mencegah terjadinya banjir.

Mestinya kelaparan dan bencana tidak akan terjadi,kalau masyarakat setempat masih mematuhi aturan adat yang berlaku dari generasi ke generasi. Sayang­nya pengetahuan lokal atau indigenious knowledge tentang lingkungan hidup seringkali dia­baikan, sehingga tak heran kalau petaka selalu menimpa mereka.Berbeda dengan masyarakat adat di PNG yang telah memadukan aturan kon­servasi tradisional dengan kebijakan-kebijakan pemerintah Papua New Guinea. Masyarakat lokal hanya mengusulkan kepada pemerintah PNG agar lokasi di kampung mereka menjadi wilayah yang dilarang bagi masyarakat adat setempat untuk menebang atau berburu. Di negara Papua New Guinea (PNG) disebut sebagai areal konservasi atau Wildlife Management Area. Misalnya warga Kampung Kamiali di Lae menyepakati Wildlife Management Area di kampung mereka sehingga banyak sekali telur-telur burung Maleo atau ayam hutan yang berkembang biak. Pada waktu tertentu masya­rakat adat setempat bisa menangkap atau mengkonsumsi telur burung ayam hutan. Karena itu kesadaran untuk menjaga tradisi pelestarian lingkungan hidup sangat tergantung pada masyarakat adat sendiri. (Jubi/Dominggus Mampioper)

11 August 2010

Timika : Penertiban Camp di Freeport Mendapat Perlawanan

(www.papuapos.com, 10-08-2010)
TIMIKA [PAPOS] – Rencana PT. Freeport Indonesia untuk menertibkan camp-camp milik warga di daerah kali Iwaka, Distik Kuala Kencana mendapat perlawanan dari masyarakat.

Daerah yang hampir seluruhnya hutan ini, merupakan kawasan yang dijaga oleh Freeport untuk melestarikan hutan dan ekosistim di dalamnya, karena disinyalir sebagian dari warga telah melakukan penebangan liar untuk kepentingan ekonomi dan pribadi.

Namun, kawasan ini diklaim oleh masyarakat suku moni sebagai tanah adat yang mencakup hingga areal Kuala Kencana seluar 17 Hektar lebih, sehingga mereka menuntut agar Freeport mengembalikan tanah tersebut atau ganti rugi areal yang telah digunakan.

Sementara PT. Freeport Indonesia menggunakan tanah tersebut berdasarkan sertifikat tanah yang dikeluarkan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Fak-fak tahun 1994, Sertifikat Hak Guna Bangunan yang diterbitkan Badan Pertanahan Nasional Timika tahun 2002 dan Pelepasan Hak atas Tanah Adat dari beberapa kepala Suku Kamoro tahun 1995.

Disisi lain masyarakat suku Moni menilai bahwa tanah tersebut adalah hak ulayat mereka yang beranggapan selama ini tidak pernah diserahkan kepada PT Freeport.

“Untuk menyelesaikan masalah ini, dewan akan mengirimkan surat kepada PT.Freeport untuk meminta Freeport dan pihak keamanan menjelaskan kasus ini, sambil menunggu kesiapan waktu untuk bicara antara Freeport, warga Moni dan Pemda,” ujar Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Mimika, Karel Gwijangge kepada Papua Pos diruang kerjanya, Jumat [6/8].

Menurut, Karel Gwijangge, upaya PT. Freeport Indonesia mengosongkan wilayah sekitar Kali Iwaka yang berbatasan dengan Perumahan Karyawan Freeport dan Pusat Perkantoran Kuala Kencana dinilai tidak beralasan karena wilayah ini bukan kawasan Eksplorasi. Sehingga perluu dibicarakan secara baik. [cr-56]

Timika : Pemukiman Liar Pemicu Banjir Kota Timika

(www.papuapos.com, 10-08-2010)
TIMIKA (Papos) – Drainase yang buruk dan penyempitan daerah serapan air akibat pembangunan pemukiman warga disinyalir menjadi pemicu terjadinya banjir di Kota Timika dalam 2 bulan terakhir. Belum lagi, kebiasaan warga yang masih saja membuang sampah di drainase dan kali sehingga aliran air tidak berjalan dengan lancar.

Demikian dikatakan Kepala Bidang Bina Marga, Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Mimika Ir. Robert Mayaut kepada Papua Pos, di ruang kerjanya, Jumat [6/8].

Kata dia, curah hujan di Kabupaten Mimika ini sangat tinggi, sehingga sangat berpotensi terjadi banjir pada musim hujan akibat tersumbatnya aliran air karena sampah dan penyempitan daerah resapan air karena pembangunan pemukiman penduduk.

Menurutnya, harus ada perencanaan yang matang terkait dengan aliran air di drainase dan kali, sehingga tidak menimbulkan bencana banjir yang lebih besar di masa yang akan datang.“Saat ini beberapa kali yang melintas dalam kota tidak berfungsi dengan baik, selain mengalami penyempitan akibat timbunan, kali juga dijadikan tempat pembuangan sampah oleh warga,” ujarnya.

Kata Robert, Master Plan drainase dan pembuangan air dari kali menuju laut dalam kota Timika saat ini belum ada, sehingga pembangunan drainase terkadang sia-sia karena air yang melalui drainase tidak bejalan lancar menuju penampungan, seperti kali dan selanjutnya mengalir ke laut.“Drainase itu sangat penting untuk manampung air terus dibawa ke kali, agr tidak terjadi kubangan-kubangan air sehingga menyebabkan banjir,” jelas Robert.

Dia berharap masyarakat tidak lagi membuang sampah tidak di drainase dan kali karena sangat berpotensi terjadi banjir apabila musim hujan tiba seperti saat-saat ini.“Masyarakat harus berperan serta dalam pembangunan, seperti sadar akan membuang sampah pada tempat, merelakan sebagain dari tanahnya untuk pembangunan drainase, ini semua dilakukan untuk kepentingan masyarakat juga,” tukasnya.

Ditemui secara terpisah ketika memberikan seminar di Timika, Kepala Seksi Observasi Stasiun Geo Fisika Kelas I Angkasapura, Jayapura Cahyo Nugroho mengatakan, bencana yang sangat rentang terjadi di Kabupaten Mimika adalah bencana banjir dan tanah longsor

Hal ini diakibatkan Topografi wilayah Kabupaten Mimika yang rata dan di daerah utara memiliki tebing-tebing yang curam.“Dengan curah hujan yang mencapai 2.500 - 5.000 mili meter per tahun atau berkisar antara 200-400 mm per bulan, wilayah Kabupaten Mimika sangat rentang dengan bencana banjir, apalagi pada setiap musim hujan seperti saat ini,” terangnya.

Sementara itu untuk Bencana Gempa Bumi kata Cahyo, secara umum Kabupaten Mimika tidak memiliki potensi Gempa karena tidak dilalui oleh patahan besar. [cr-56]

Wamena : Hutan Asmat Belum Didata

(www.papuapos.com, 10-08-2010)
ASMAT [PAPOS] - Hutan Kabupaten Asmat hingga saat ini belum ada data base luasan secara permanen baik hutan lindung, hutan dikonversi, hutan terbatas dan hutan areal penggguna lain (APL) dan perkebunan.

Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Asmat, Elias Bapaimu yang ditemui Papua Pos di ruang kerjanya, Jumat [6/8] lalu mengungkapkan hingga saat ini belum adanya data base luasan hutan Kabupaten Asmat. Namus dia mengatakan, secara bertahap akan dilakukan pendataan mulai dari hutan lindung sampai dengan taman Lorenz hingga perbatasan Kabupaten Nduga.

“Memang saat ini kita belum mengetahui secara pasti hutan Kabupaten Asmat secara pasti kita hanya melihat itu dari wilayah masing-masing dimana yang termasuk hutan lindung, hutan konversi,” katanya.

Dikatakan, potensi hutan yang menghasilkan Kayu besi atau kayu merbau yang hanya ada di Kabupaten Asmat hingga saat ini diperkirakan tinggal 40 persen.

Padahal kayu Membrau yang dominan digunakan di Asmat baik untuk pembangunan jalan, perumahan dan digunakan para pengukir sebagai bahan ukiran.Dalam memantau peredaran hutan para pengusaha dibatasi dengan setiap pengambilan hasil hutan harus dilaporkan ke Dinas Kehutanan.[cr-57]

06 August 2010

Nasional : Wow, Ada Mawar Hijau di Kebun Raya Bali

(www.kompas.com, 05-08-2010)
KOMPAS.com- Mawar merah sering menjadi lambang asmara. Nah, bagaimana kalau bunga mawar berwarna hijau? Lambang cinta lingkungan mungkin kali ya?
Nah, soal mawar hijau yang mungkin belum banyak diketahui itu kini bisa dijumpai di Kebun Raya Bali, salah satu obyek wisata di kawasan Bedugul, Bali.

Sosok tanamannya sendiri tak jauh berbeda dengan mawar pada umumnya, dengan batang bercabang berduri serta daun menyirip.

Uniknya, warna mahkota bunganya seluruhnya hijau. Yang mungkin agak berbeda, ukuran mahkota bunganya lebih kecil daripada mawar pada umumnya.
Mawar hijau adalah salah satu bonus keunikan yang bisa dinikmati pengunjung Kebun Raya Bali. Kenapa bonus? Karena kehadirannya tak terlalu menonjol. Koleksi mawar hijau tersebut bisa ditemui di area koleksi mawar yang tidak jauh dari pintu masuk Kebun Raya Bali.

"Mawar hijau adalah salah satu keunikan Kebun Raya Bali. Bisa dilihat setiap saat karena bunganya mekar tanpa tergantung musim," ujar Dr Bayu Adjie, Kepala Riset Kebun Raya Bali, di sela-sela workshop penulisan artikel lingkungan yang digelar CiFOR, 17-23 Juli 2010. Ia mengatakan, sejauh ini tanaman tersebut baru dikoleksi Kebun Raya Bali dan Kebun Raya Cibodas, Jawa Barat. Koleksi yang ada di Kebun Raya Bali merupakan sumbangan seorang kepala desa di Candikuning, Baturiti, Tabanan, daerah dekat Kebun Raya Bali. Koleksi pertama masuk tahun 1976. Konon, asal tanaman tersebut dari kolektor tanaman bunga di Malang, namun sampai sekarang belum diketahui apakah tanaman tersebut asli dari sana atau didatangkan dari daerah lain.

"Diperkirakan, mawar hijau hasil silangan dua jenis spesies mawar tapi secara alami," kata Putu Suendra, Koordinator Jasinfo Kebun Raya Bali. Pihaknya saat ini mencoba membudidayakannya dengan teknik stek dan menghasilkan sekitar 100 batang tanaman sejenis. Karena jumlahnya yang masih sedikit, belum ada rencana menjual bibitnya atau mendistribusikan ke luar Kebun Raya Bali. Namun, ia berjanji jika hasil budidaya sukses akan segera menyabarkannya ke masyarakat sebagai bagian upaya konservasi ex-situ. Jika itu terjadi, mungkin mawar hijau akan mudah dijumpai di pasar sepeti halnya mawar batik yang kelopak bunganya berbintik-bintik mirip motif batik.

28 July 2010

Manca Negara : Srilanka : Primata yang Dianggap Punah, Ditemukan

(www.kompas.com, 27-07-2010)
LONDON, KOMPAS.com – Setelah dianggap punah selama 60 tahun karena habitatnya dibabat menjadi perkebunan teh, sejenis primata unik ditemukan kembali dan berhasil difoto. Sebelumnya primata jenis Loris Horton Plains (Loris tardigradus nycticeboides) ini sempat dilaporkan terlihat pada tahun 2002, namun tidak ada bukti foto yang menyertainya.

Penelitian selama lebih dari 1000 malam dilakukan di 120 wilayah berhutan di Sri Lanka oleh para ahli biologi bekerjasama dengan Zoological Society of London (ZSL). Pencarian ini akhirnya menemukan loris di enam wilayah, dan para peneliti menangkap tiga spesimen hidup untuk diteliti

Alasan utama yang membuat hewan ini menghilang adalah lenyapnya habitat mereka. “Banyak lahan yang dibuka dan hutan-hutan yang tadinya menutupi barat daya Sri Lanka telah diubah jadi kebun teh,” kata Dr Craig Turner dari ZSL.

Diperkirakan saat ini jumlah loris tinggal 100 ekor sehingga menjadikannya salah satu dari lima hewan paling terancam populasinya. Namun karena sedikit saja yang diketahui mengenai loris, maka jumlahnya bisa jadi di bawah 60 ekor, yang artinya akan membuatnya sebagai jenis yang paling langka.

Loris pertama kali ditemukan secara ilmiah tahun 1937. Namun kemudian dianggap punah karena tidak ada lagi laporan mengenainya. Hewan yang bergerak lambat ini panjangnya sekitar 20 cm dan berat sekitar 310 gram. Dibandingkan dengan loris dataran rendah, loris Horton Plains memiliki kaki lebih pendek dan bulu lebih panjang.

21 July 2010

Sri Lanka : Primata "Cantik" Ditemukan

(www.antaranews.com, 20-07-2010)
London (ANTARA News) - Primata "cantik" yang sangat langka sehingga diduga sudah punah telah tertangkap kamera di hutan Sri Lanka untuk pertama kali, kata beberapa ilmuwan, Senin.


Loris Horton Plains yang ramping adalah hewan kecil malam hari yang dapat tumbuh sampai panjang tubuh 17 centimeter, dengan mata yang besar dan menonjol.

Primata tersebut, yang memiliki habitat di Sri Lanka, pertama kali ditemukan pada 1937 tapi hanya terlihat empat kali sejak saat itu.

Para ilmuwan terakhir kali melihat sepintas primata itu pada 2002, dan percaya hewan yang sukar dimengerti tersebut sejak itu telah punah.

Namun para peneliti lapangan, yang bekerja sama dengan Zoological Society of London, berhasil melacak hewan misterius itu di hutan di Sri Lanka tengah.

Untuk pertama kali di dunia, mereka dapat mengambil gambar satu loris ramping jantan dewasa yang sedang duduk di satu cabang pohon.

Tim lapangan tersebut dapat menangkap satu hewan dan melakukan pemeriksaan fisik, yang pertama dilakukan, sebelum melepaskan hewan itu kembali ke alam liar.

Namun, banyak ahli memperingatkan bahwa penggundulan hutan di Sri Lanka --yang kebanyakan diduga dilakukan dalam upaya membuat perkebunan teh di wilayah tersebut-- sekarang menjadi ancaman terbesar bagi loris itu.

Loris adalah nama umum bagi primata "strepsirrhine" dari sub-keluarga Lorine di dalam keluarga Lorisidae.

Craig Turner, ahli biologi konservasi di ZSL, mengatakan habitat hutan alamiah mereka telah dibagi buat pertanian dan pembalakan, sehingga memutus hewan "yang sangat cantik" itu dari pasangan mereka.

"Hutan tersebut sekarang telah dikotak-kotakkan jadi serangkaian pulau kecil," kata Turner kepada radio BBC.

"Mereka tak bisa pindah dari satu tempat ke tempat lain, mereka tak dapat berpasangan, berkembang-biak, sehingga itu memiliki dampak nyata pada kelangsungan hidup masa depan spesies tersebut," katanya.(C003/A011)

18 July 2010

Timika : Freeport Produksi Uranium

(www.papuapos.com, 17-07-2010)
JAYAPURA [PAPOS] - Freeport diduga menggali bahan baku uranium secara diam-diam sejak delapan bulan silam, kata Yan Permenas Mandenas S.Sos Ketua Fraksi Pikiran Rakyat Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Papua di Jayapura, Selasa, di ruang kerjanya.


"Kegiatan ini dilakukan secara tersembunyi dan telah berlangsung cukup lama," ungkapnya yang juga anggota Komisi C DPRDP.

Ia menambahkan, Freeport telah mencuri hasil kekayaan masyarakat Papua dan membohongi pemerintah dengan hasil tambang yang disalurkan lewat jaringan pipa-pipa bawah tanah. "Selain emas, uranium juga diproduksi oleh Freeport," tambahnya.

Informasi ini menurutnya, didapatkan dari sejumlah masyarakat dan karyawan Freeport di Timika. "Selain karyawan dan masyarakat, saya juga mendapat laporan dari sumber yang dapat dipercaya," tandasnya.

Hal ini sangat disayangkan mengingat pajak yang didapatkan dari perusahaan emas terbesar didunia ini, hanya berjumlah Rp30 milyar pada tahun lalu.

Mandenas juga mengeluhkan, bahwa dewan belum bisa bergerak karena terkendala masalah klasik, yaitu belum ada alokasi dana untuk turun ke lapangan."Kami belum bisa ke lapangan karena terkendala dana," katanya.

DPRD Mimika Belum Tahu
Sementara itu Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Mimika belum mengetahui apakah betul PT. Freeport Indonesia juga menambang bahan baku Uranium dalam kegiatan eksplorasinya selain Emas dan Tembaga sesuai dengan Kontrak Karya dengan Pemerintah Indonesia.

Wakil Ketua I DPRD Mimika Yan Piet Magal dalam Jumpa Pers di ruang VIP DPRD Mimika, Rabu (14/7)mengatakan, hingga kini DPRD Mimika belum menerima laporan baik dari manajemen Freeport maupun karyawan terkait dengan betul tidaknya PT. Freeport Indonesia juga melakukan penambangan bahan baku uranium. “ Kami dewan belum tau soal ini, saya juga baru dengar,” ujarnya.

Menurutnya, Dewan sendiri belum meyakini kebenaran informasi ini karena belum ada penelitian lebih dalam dari orang yang berkompeten dalam bidang ini.

Namun dia menegaskan apabila informasi ini betul, maka harus ada penangan yang baik sehingga tidak berdampak pada lingkungan dan mahluk hidup yang ada disekitarnya termasuk manusia. “Kalau ini betul maka penduduk yang bermukim disekitar lokasi penambangan PT. Freeport Indonesia harus direlokasi karena sangat berbahaya dan ini merupakan tanggung jawab pemerintah," ungkapnya.

Dikatanya, jikalau ada penambangan bahan baku Uranium oleh PT. Freeport Indonesia pasti Pemerintah Indonesia mengetahuinya karena keluar masuknya barang perusahaan dalam pengawasan pihak keamanan dan pemerintah dalam hal ini Bea Cukai Timika.

“ Kami serahkan sepenuhnya kepada pemerintah pusat karena yang melakukan MoU adalah Pemerintah Pusat dan PT. Freeport Indonesia,” tuturnya.

Ditempat terpisah Dosen Teknik Mineral Universitas Negeri Cenderawasih (Uncen), Endang Hartiningsih,MT di Jayapura, Rabu menanggapi keberadaan sumber daya uranium di wilayah Papua dan pendapat seorang anggota DPR Papua (DPRP) bahwa PTFI menambang uranium secara diam-diam.

Menurut dia, secara geologi, Papua memiliki sumber daya uranium karena wilayah ini tersusun oleh batuan beku ultrabasa.

"Bahan-bahan radioaktif seperti uranium terkandung dalam batuan beku ultrabasa dan ini banyak dijumpai di wilayah Papua, namun berdasarkan data yang ada, PTFI tidak menambang uranium. Jika hal itu dilakukan maka dibutuhkan penanganan khusus dan Freeport sendiri harus mengantoingi izin pemerintah," ujar Endang.

Berkaitan dengan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi terhadap bahan tambang yang mengandung unsur radioaktif, dia mengatakan, perlu penanganan khusus yang berbeda dari kegiatan penambangan lainnya karena termasuk bahan galian vital bagi kepentingan negara dan masyarakat luas.

Selain itu, lanjut Endang, bahan radioaktif tentu memiliki dampak yang cukup membahayakan bagi lingkungan hidup, termasuk manusia jika tidak ditangani secara benar. Oleh sebab itu, penelitian, pengembangan dan pemanfaatannya diatur dalam undang-undang dan peraturan pemerintah.

"Sejauh ini belum ada kegiatan eksplorasi lebih lanjut mengenai sumber daya radioaktif di Papua. Jika sudah ada penelitian dan pengembangannya pasti dilakukan lembaga pemerintah, misalnya oleh BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional)," ujarnya.

Pengelolaan bahan galian radioaktif diatur dalam Undang-Undang nomor 10 tahun 1997 tentang Ketenaga Nukliran.

Dalam penjelasannya disebutkan, pemanfaatan tenaga nuklir harus mendapat pengawasan yang cermat agar selalu mengikuti segala ketentuan di bidang keselamatan tenaga nuklir sehingga pemanfaatan tenaga nuklir tersebut tidak menimbulkan bahaya radiasi terhadap pekerja, masyarakat, dan lingkungan hidup.

Sementara itu, Budiman Moerdijat selaku Manager Corporate Communications PTFI melalui siaran pers menyatakan, sehubungan dengan pemberitaan di Antara pada Selasa (13/7)berjudul "Freeport Produksi Uranium Secara Diam-diam," pihaknya menyampaikan klarifikasi bahwa hal tersebut adalah tidak benar.

"PT Freeport Indonesia adalah perusahaan pertambangan umum dengan produk akhir berupa konsentrat yang mengandung logam tembaga, emas dan perak," katanya.

Sedangkan mengenai pembayaran pajak perusahaan kepada Pemerintah Indonesia tahun 2009, PTFI memberikan klarifikasi isi berita yang menyebutkan pajak yang didapatkan dari perusahaan emas terbesar didunia ini, hanya berjumlah Rp30 milyar pada tahun lalu.

PTFI dengan ini memberitahukan bahwa selama Januari sampai Desember 2009, Freeport Indonesia telah melakukan kewajiban pembayaran kepada Pemerintah Indonesia.

Kewajiban pembayaran pajak itu sebesar 1,4 miliar dolar AS, atau sekitar Rp 13 triliun dengan kurs saat ini, yang terdiri dari Pajak Penghasilan Badan, Pajak Penghasilan Karyawan, Pajak Daerah serta pajak-pajak lainnya sebesar 1 miliar dolar AS. Selain itu royalti 128 juta dolar AS serta dividen sebesar 213 juta dolar AS.

Jumlah ini lebih besar dibandingkan dengan pembayaran untuk periode bulan Januari sampai Desember 2008 yang mencapai 1,2 miliar dolar AS. Hal ini disebabkan oleh fluktuasi harga komoditas dan tingkat produksi.

Dengan demikian, total kewajiban keuangan sesuai dengan ketentuan yang mengacu pada Kontrak Karya tahun 1991 yang telah dibayarkan Freeport Indonesia kepada Pemerintah Indonesia sejak tahun 1992 sampai 2009 adalah sebesar 9,5 miliar dolar AS.

Jumlah tersebut terdiri dari pembayaran Pajak Penghasilan Badan, Pajak Penghasilan Karyawan, Pajak Daerah, serta pajak-pajak lainnya sebesar 7,6 miliar dolar AS, royalti 1 miliar AS dan dividen sebesar 900 juta dolar AS. [bela/sped/ant]

Biak : Kawasan Pertenakan Kampung Telah Mencapai 200 Ha

(www.cenderawasihpos.com, 17-07-2010)
BIAK-Pengembangan sektor kawasan peternakan di wilayah Kabupaten Biak Numfor terus dilakukan pemerintah. Setiap distrilk bahkan kampung diupayakan supaya memiliki kawasan peternakan sendiri, khususnya lagi untuk program Kawasan Pengembangan Ternak Kampung atau lazimnya disebut dipeternakan sebagai “Kawasan Pengembangan Anak Kampung”.


Kawasan pengembangan anak kampung ini telah dilakukan di sejumlah distrik, namun untuk sekarang masih lebih dominan dengan ternak sapi. Untuk saat ini kawasan yang telah dijadikan pertenakan kampung telah mencapai sekitar 200 Ha areal. Luasan areal sebanyak itu terus akan dikembangkan melalui program pemberdayaan ekonomi berbasis kerakyatan.

“Khusus untuk pengemnangan peternakan kampung ini kami telah memili areal tidak kurang dari 200 Ha. Luasan sebanyak itu terbagi-bagi di sejumlah distrik, khususnya yang pengembangan perternakan kampungnya telah berjalan baik,” ujar Kepala Dinas Perternakan dan Pertanian Kabupaten Biak Numfor Ansalom Rumkorem, S.Pt, MM kepada Cenderawasih Pos, kemarin.

Menurutnya bahwa untuk pengembangan peternakan telah berhasil di sejumlah kawasan, diantaranya di kampung Maneru dan Dernafi Distrik Biak Utara sebanyak 25 ekor, di Kampung Sandei di Distrik Biak Timur sebanyak 50 ekor, di Distrik Yendidori sebanyak 130 ekor dan sejumlah kampung lainnya.

Selain pengembangan ternak sapi, Dinas Peternakan dan Pertanian Kabupaten Biak Numfor juga terus mendorong pengembangan peternakan lainnya. Diantaranya pengembengan ternak babi, kambing, ayam dan berbagai lainnya. Dimana pengembangan peternakan tersebut juga merupakan bagian dari kegiatan pengembangan ekonomi kerakyatan yang didanai langsung oleh anggaran Otonomi Khusus (Otsus).
“Kegiatan pengemangan ternak di kampung-kampung terus kami lakukan, secara luas dilakukan dengan pengembangan kawasan namun secara sempit juga ada dikembangkan melalui keluarga di kampung-kampung. Nah, dalam pengembangannya kami terus berupaya untuk memberikan pendampingan dengan maksud semuanya dapat berhasil,” tandas Rumkorem.(ito) (scorpions)

Nasional : Hutan Bakau Dunia Merosot Dalam Jumlah Mengerikan

(www.antaranews.com, 17-07-2010)
Jakarta (ANTARA News) - Hadiah berharga dari Tuhan itu menjadi tempat hidup banyak hewan laut dan jadi pelindung buat manusia dari terjangan bencana yang berkaitan dengan laut serta iklim, tapi ulah manusia membuatnya mengalami kerusakan.


Hutan bakau di dunia mengalami kerusakan sampai empat kali lebih cepat dibandingkan dengan hutan lain, sehingga menimbulkan kerugian jutaan dolar akibat hilangnya areal seperti habitat ikan dan perlindungan dari badai serta tsunami, demikian laporan yang dikeluarkan Rabu (14/7).

Studi tersebut, yang diselenggarakan oleh Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa/PBB (UNEP) dan The Nature Conservancy menyatakan seperlima hutan bakau telah hilang sejak 1980 dan hutan yang berada di pinggir laut itu terus mengalami kerusakan sebanyak 0,7 persen per tahun akibat bermacam kegiatan seperti pengrusakan pantai dan peternakan udang.

Laporan dengan judul "World Mangrove Atlas" tersebut menyatakan hutan bakau memberi layanan ekonomi yang sangat besar. Hutan itu berfungsi sebagai tempat pembibitan ikan laut, penyimpanan karbon dan menyediakan pertahanan kokoh terhadap banjir serta topan pada saat permukaan air laut mengalami pasang naik.

Pohon dan semak, yang tumbuh di habitat pantai yang berair asin, juga menyediakan kayu yang sangat bagus dan tahan busuk.

"Mengingat nilainya, tak boleh lagi ada pembenaran bagi kerusakan lebih luas hutan bakau," begitu pernyataan Emmanuel Ze Meka, pemimpin International Tropical Timber Organisation, yang membantu mendanai studi tersebut, sebagaimana dilaporkan kantor berita Inggris, Reuters.

Laporan studi itu mengutip bukti bahwa hutan bakau mengurangi dampak tsunami Samudra Hindia 2004 di beberapa tempat.

Laporan tersebut mendesak semua negara, terutama yang memiliki hutan bakau terbesar seperti Brasil, Indonesia, dan Australia, agar berbuat lebih banyak guna menghentikan kemerosotan pada sebanyak 150.000 kilometer persegi hutan bakau di dunia.

"Pelaku terbesar hilangnya hutan bakau adalah konversi langsung ke akuakultur, pertanian dan pemanfaatan tanah buat warga kota. Zona pantai seringkali menjadi tempat hunian padat dan tekanan bagi pemanfaatan lahan. Di mana pun hutan bakau masih ada, semua hutan itu seringkali telah mengalami kemerosotan akibat pengolahan yang berlebihan," demikian temuan laporan tersebut.

Laporan itu menyebut Malaysia sebagai negara yang memanfaatkan kepemilikan negara atas hutan bakau agar negara dapat lebih baik mengelola areal tersebut dan mencegah kemerosotan lebih jauh.

Seorang pakar mangrove dari Institut Pertanian Bogor Prof Dr Cecep Kusmana, mengatakan sebagian besar hutan bakau di seluruh wilayah Indonesia mengalami kerusakan parah.

Dalam perbincangan dengan ANTARA News di Bogor, awal Juli, Cecep Kusmana mengatakan kerusakan tersebut nyaris terjadi secara merata di semua daerah yang memiliki hutan bakau.

Ia merasa prihatin, karena dari tahun ke tahun luas hutan bakau terus menyusut drastis. Pemerintah baik pusat maupun daerah serta masyarakat, katanya, perlu bahu membahu menyelamatkan hutan bakau di negeri ini.

Hutan bakau yang dimiliki Indonesia merupakan yang terluas di dunia. Total areal hutan bakau di Indonesia diperkirakan mencapai 4,5 juta hektare.
(Uu.S018/P003)

17 July 2010

Nasional : Tujuh Spesies Ikan Langka Belum Dinamai

(www.antaranews.com, 16-10-2010)
Denpasar (ANTARA News) - Para peneliti Asutralia dan Indonesia sampai sekarang belum menamai tujuh spesies ikan langka yang ditemukan di pantai Pulau Nusa Penida, Bali, pada 2008 lalu.


"Ada 12 spesis ikan yang kami temukan, dari jumlah itu lima diantaranya sudah bisa diberi nama, tujuh lainnya sampai saat ini belum diberi nama karena masih dalam kajian," ujar Direktur Program Marine Conservation International Indonesia, Ketut Sarjana Putra, di Denpasar, Jumat.

Dikatakan Sarjana, spesies ikan langka tersebut ditemukan para ahli ikan dunia saat melakukan penelitian di bawah dasar laut dalam kedalaman 35 meter di sekitar Pantai Toya Pakeh, Nusa Penida, Kabupaten Klungkung.

Kelima spesies yang telah dinamai masing masing pseudocrhonis, prolepis, triammia SP, priolepis 1, priolepis 2 dan chromise. Penamaan ikan ikan tersebut dengan identifikasi sangat detil mulai bentuk dan besaran tubuh, jumlah sisik, duri hingga bentuk mulutnya.

"Sesuai konvensi internasional penamaan ikan itu merupakan hak penemunya," ujar Sarjana dalam program reporting trips konservasi ekosistem dan biodiversity Bali yang digelar LSM Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia atau Society of Indonesia Environment Journalist (SIEJ dan Aliansi Jurnalis Independen AJI Denpasar.

Ikan ikan langka tersebut ditemukan para peneliti dan akademisi dalam Program Marine Rapid Assessment. "Spesies ikan tersebut merupakan hybrid atau percampuran ikan pasifik dan samudra Hindia (Indonesia)," papar dia.

Dikataka dia, munculnya ikan tersebut juga merupakan percampuan telur ikan dari kedua kawasan itu yang akhirnya melahirkan spesies baru.

"Kelima spesies ikan ini sebagian besar merupakan jenis ikan karang yang berukuran kecil dengan pola warna yang unik," sambungnya.

Dari pengamatan Sarjana, potensi perairan Nusa Penida sangat memiliki kekayaan dan karagaman bahari, mengingat kawasan tersebut berada di antara dua samudra, India dan Pasifik.

Yang menarik, sambung Sarjana, kemunculan spesies ikan langka tersebut kenapa justru ditemukan di Bali padahal spesis ini dinamai di Australia."Jadi bagaimana bisa spesies ikan itu bisa sampai da di Bali sebagai tempat yang banyak dikunjungi wisatawan. Ini yang masih menjadi pertanyaan para ilmuwan," ujarnya.

Semula kedatangan para peneliti di Nusa Penida pada bulan November 2008 guna menginventarisasi potensi keanekaragaman karang, ikan karang, moluska, ekinodermata serta kondisi oseanografi di perairan Nusa Penida. Hanya saja dalam penelitian tersebut mereka justru dikejutkan dengan penemuan spesies-spesies ikan baru tersebut.(ANT/S026)

Mexico : Kerugian Terbesar Kebocoran Minyak Adalah Ekosistem

(www.antaranews.com, 16-07-2010)
Jakarta (ANTARA News) - Bencana minyak Teluk Mexico tampaknya menelan biaya jauh lebih besar daripada sekedar pembersihan dan ganti rugi bagi penghasilan yang hilang segera setelah kerusakan ekosistem dikumpulkan, kata seorang ahli terkemuka, Selasa.


Dalam satu wawancara yang dilakukan bersamaan dengan dikeluarkannya laporan yang ditaja PBB mengenai hubungan antara bisnis dan keragaman hayati, ahli ekonomi Pavan Sukhdev mengatakan bencana BP mempertegas perlunya bagi perubahan laut dalam cara "modal alam", yang menjadi tumpuan kesejahteraan manusia diukur dan dinilai.

"Tak terlihatnya masalah ekonomi pada layanan ekosistem dan keragaman hayati --air bersih, air segar, samudra yang sehat, tanah yang subur, iklim stabil-- harus ditangani dengan sungguh-sungguh," kata Sukhdev dalam pembicaraan telepon dari London.

"Kita harus bergerak memasuki masyarakat tempat kekayaan umum dan pribadi diakui sama pentingnya. Namun, hari ini berapa banyak orang yang mengerti `modal alam` sebagai perbadingan dari modal finansial?"

Sebagian masalah tersebut tak mengetahui bagaimana menghargai segala sesuatu yang telah lama dianggap ada dalam jumlah yang tak terbatas.

"Kita tak dapat mengelola apa yang tidak kita ukur, dan kita tak mengukur nilai dari manfaat alam atau harga kehilangan semua itu," kata Sukhdev, penulis utama Economics of Ecosystems and Biodiversity (TTEB) buat laporan Business.

Makin banyak CEO memahami bahwa mereka tidak lagi bisa menjamin layanan "bebas" itu, katanya.

Namun penduduk negara industri dan global yang menuju ke arah jumlah sembilan miliar orang paling lambat pada pertengahan abad ini telah menciptakan keregangan yang luar biasa.

Setiap tahun, 3.000 perusahaan terbesar di dunia menimbulkan kerusakan lingkungan hidup dengan nilai 2,2 triliun dolar AS (1,75 triliun euro), kata Sukhdev. Ia mengutip laporan perusahaan yang segera disiarkan dan disiapkan oleh konsultan TruCost, yang berpusat di Inggris.

"Bukan perusahaan atau CEO secara perorangan yang harus disalahkan. Mereka mengikutip jalur yang diciptakan buat mereka, yaitu perusahaan dapat menyalurkan semua biaya mereka kepada masyarakat," katanya.

Kebocoran minyak BP, yang telah mengeluarkan sebanyak 60.000 barel minyak mentah ke Teluk Meksiko setiap hari, telah muncul sebagai studi kasus mengenai bagaimana melindungi aset alam yang sangat berharga.

Seandainya pemerintah mengharuskan dilakukannya "penilai ekonomi holistik" sebelum pengeboran diizinkan, potensi pertanggungjawaban mungkin telah mendorong BP untuk melakukan langkah keamanan yang lebih ketat, katanya.

Saat semuanya muncul, "Kita hanya memikirkan semua itu setelah terjadi masalah, lalu bergegas dan pontan-panting" kata Sukhdev. Ia merujuk kepada akibat dari Valdez Exxon, kapal supertanker yang mengotori wilayah Alaska yang dulu murni, Prince William Sound, dengan 11 juta galon minyak.

Sumur minyak BP telah menyemburkan jumlah yang sama setiap empat atau lima hari sejak 20 April, demikian perkiraan pemerintah AS.

Memasang harga pada nilai ekosistem yang terpengaruh juga mengubah perkiraan mengenai kerugian.

"Tetapi bagaimana dengan biaya ekonomi dari hilangnya pemanfaatan --hilangnya ekopariwisata, cadangan ikan, yang merupakan kerugian masa depan bagi industri, tak bisanya menangkap ikan di daerah tersebut," kata Sukhdev.

Minyak itu juga dapat membunuh ratusan kilometer persegi hutan bakau di sepanjang pantai, yang menjadi habitat bagi spesies laut komersial dan penahan terhadap badai yang menghancurkan.

Bahkan ribuan pemilik yacht bisa memiliki klaim yang sah.

"Banyak orang telah menanam modal di kapal pesiar, termasuk biaya berlabuh, orang untuk mengurusnya. Ketika waktunya tiba untuk menggunakannya atau menyewakannya, mereka tak dapat melakukan itu --itu lah kerugian pemanfaatan. Apakah ada orang yang memperhitungkan itu?"

Krisis mengenai ambruknya ekosistem tersebut hanya akan ditangani ketika nilai layanan alam sepenuhnya tercermin di dalam pembuatan keputusan bisnis dan politik, kata Sukhdev.

"Kita setengah jalan ke arah pengembangan peralatan itu. Buat orang yang memahami bahwa peralatan tersebut memang ada dan mesti digunakan, kita berada pada posisi tiga sampai lima dalam skala hitungan 10," katanya.

"Mengenai penerapan sesungguhnya --antara nol dan dua," kata Sukhdev sebagaimana dilaporkan wartawan kantor berita Prancis, AFP, Marlowe Hood.

Laporan TEEB itu, yang didukung oleh Program Lingkungan Hidup PBB, diluncurkan oleh Komisi Eropa pada 2007, setelah G8 dan negara eknonomi utama yang baru muncul menyerukan dilakukannya studi global mengenai ekonomi dan keragaman hayati.

Studi penuh mengenai itu akan diungkapkan pada penghujung tahun ini, dalam Konvensi mengenai Keragaman Hayati di Nagoya, Jepang.(C003/T010)

15 July 2010

Nasional : Hutan Bukan Sekadar Tegakan Pohon

(www.kompas.com, 14-07-2010)
JAKARTA, KOMPAS.com - Sangat disayangkan kalau masih ada orang yang berpikiran bahwa hutan hanyalah sekadar tegakan pohon. Pasalnya, di antara pohon-pohon yang ada di hutan terdapat sebuah ekosistem dengan keanekaragaman hayati yang unik baik di atas permukaan maupun di bawah tanah.

Menurut Profesor Endang Sukara, Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), di dalam tanahnya saja tersimpan keanekaragaman hayati yang sangat kaya. Misalnya, hasil penelitian LIPI terhadap tanah yang ada di kebun raya Bali dan Cibodas.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa tanah di kebun raya tersebut mengandung sekitar 500 spesies bakteri Actinomycetes. Lebih mengejutkan, 30 persen di antaranya merupakan spesies baru yang belum dikenal di kalangan ilmuwan seluruh dunia.

"Betapa besarnya keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia," ujar Endang. Sayang sekali apabila kekayaan alam yang langka ini terabaikan manfaatnya. Bahkan, terancam hilang jika tidak segera diselamatkan dengan kebijakan yang menjaga keanekaragaman hayati tersebut.

Saat ini memang belum banyak penelitian di Indonesia yang memanfaatkan bakteri-bakteri tersebut. Namun, menurut Endang, Actinomycetes merupakan jenis bakteri yang selama ini banyak dipakai untuk membuat antioksidan. Bahkan, 98 persen antibiotik dibuat dari kelompok bakteri tersebut. "Jadi, kemungkinan untuk mengembangkan antibiotik jenis baru sangat besar," ujar Endang.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa konversi hutan bukan semata-mata melihat dari sisi petimbangan karbon berdasarkan tegakan pohon saja seperti yang sering digembar-gemborkan saat ini seperti pembukaan kebun kelapa sawit. Ekosistem hutan terutama aspek mikrokosmos seringkali dilupakan dalam konversi lahan.

Hal tersebut menjadi salah satu perhatian para ahli biologi Indonesia yang akan berpartisipasi dalam konferensi internasional Association for Tropical Biology and Conservation (ATBC) 2010 di Bali, 19-23 Juli 2010. Para ilmuwan Indonesia berusaha agar pertimbangan-pertimbangan sains yang membela kepentingan nasional dapat diterima komunitas internasional.

11 July 2010

Nasional : Burung Langka Ditemukan di Ketapang

(www.kompas.com, 11-07-2010)
KETAPANG, KOMPAS.com — Komunitas Burung Ketapang, Kalimantan Barat, kembali menemukan burung langka di kabupaten itu yang dikenal sebagai gajahan timur atau dengan nama Latin Numenius madagascariensis atau Far Eastern curlew.

Menurut Abdurahman Al Qadri dari Komunitas Burung Ketapang, Minggu (11/7/2010), burung gajahan timur tersebut ditemukan di tepi pantai Dusun Segak, Desa Sei Jawi, Kecamatan Matan Hilir, arah selatan Ketapang.

"Saya bersama peneliti burung Indonesia dari Belanda berhasil mengabadikan burung air tersebut yang suka mencari makan di tepi pantai yang berlumpur," katanya.

Sementara itu, pengamat burung dari Belanda, Dr Bas van Balen, menjelaskan, belum ada catatan mengenai penemuan burung gajahan timur di Kalimantan Barat.

Penemuan itu, kata dia, menghapus teori tentang burung berkik di Kalimantan Barat. Ia menambahkan, temuan burung langka itu menjadi perhatian para pengamat burung se-Indonesia. "Menarik diteliti temuan Komunitas Burung Ketapang itu," katanya.

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ketapang Yudo Sudarto mengatakan, temuan komunitas itu sangat mengejutkan para pengamat burung nasional dan internasional.

"Kami berharap kekayaan dan keanekaragaman flora dan fauna Kabupaten Ketapang menjadi magnet tersendiri bagi turis lokal dan mancanegara dalam mempromosikan pariwisata daerah Ketapang," katanya.

Yudo menambahkan, hobi mengamati burung di Ketapang memang baru dan diharapkan dapat menambah ilmu, wawasan, dan ilmu pengetahuan dalam pelestarian lingkungan hidup.

Merauke : Pabrik dan Perkebunan Tebu Segera Buka di Merauke, Agustus Mulai Lakukan Pembibitan di Kurik

(www.cenderawasihpos.com, 10-07-2010)
MERAUKE- PT Cenderawasih Papua Mandiri dan PT Karya Bumi Papua akan membuka pabrik tebu di Merauke. Kedua perusahaan tersebut akan membuka perkebunan dan pabrik tebu di Distrik Kurik dan Malind. Sedangkan pabrik gula akan dibangun di Kampung Domande, Distrik Malind.


‘’Luas lahan yang akan digunakan kedua perusahaan di kedua distrik tersebut 70.000 ha,’’ kata Kabid Promosi Badan Promosi, Investasi dan Perizikan Kabupaten Merauke Freddy Puturuhu, ketika ditemui Cenderawasih Pos, Kamis (8/7), kemarin.

Menurut Freddy, sosialisasi kepada masyarakat telah dilakukan oleh kedua perusahaan tersebut sedangkan Amdalnya sedang dalam proses. ‘’Tinggal sidang Amdalnya yang diperkirakan segera selesai,’’ujarnya.
Diperkirakan sekitar Agustus mendatang perusahaan tersebut akan membuka pembibitan seluas 50 ha di Kurik. Pembangunan pabrik gula akan dilakukan setelah kedua perusahaan tersebut menyelesaikan hak-hak masyarakat. Termasuk akan membangun pelabuhan utama di Muara Kali Bian.

Investasi yang akan ditanamkan kedua perusahaan tersebut akan membuka lapangan pekerjaan yang cukup besar. Sebab perusahaan ini diperkirakan akan merekrut sekitar 3.000 tenaga kerja, baik tenaga lapangan (kebun ,red), pabrik maupun tenaga administrasi. ‘’Diperkirakan tenaga kerja yang akan terserap oleh perusahaan ini sekitar 3.000 orang,’’jelas Freddy.

Dia menambahkan, investasi yang akan dilakukan oleh kedua perusahaan tersebut di Merauke menjadikan kedua perusahaan tersebut menjadi satu-satunya perusahaan yang akan memproduksi gula di bagian Timur Indonesia. ‘’Karena pabrik gula milik PTPN di Gowa-Makassar tidak berproduksi lagi. Ini harus disambut dan disyukuri oleh seluruh masyarakat Merauke, karena investasi ini selain akan membuka lapangan kerja, juga akan memberikan dampak pembangunan bagi daerah,’’imbuhnya.(ulo/ary) (scorpions)

Merauke : PT. Papua Agri Lestari Akan Buka Kebun Karet di Merauke

(www.cenderawasihpos.com, 10-07-2010)
MERAUKE- PT Papua Agri Lestari rencana membuka perkebunan karet seluas 60.000 ha di Distrik Ulilin dan Elikobel dan saat ini sedang melakukan survey atas lokasi yang akan menjadi konsesi perkebunan karet tersebut.


‘’Pemberian izin rekomendasi diarahkan ke Distrik Ulilin dan Elikobel seluas 60.000 ha,’’ kata Kabid Promosi Badan Promosi, Investasi dan Perizikan Kabupaten Merauke Freddy Puturuhu, ketika ditemui Cenderawasih Pos, kemarin.

Diakui Freddy, di dua distrik tersebut sudah banyak investor yang diberikan izin dari bupati sejak tahun 2007 dan pemerintah akan melihat kembali perusahaan yang sudah lama diberikan izin, namun belum beroperasi sampai saat ini.

‘’Hambatannya dimana dan akan kami tanya. Kalau memang tidak bisa menyelesaikan hambatan itu, izin lokasi yang sudah diberikan dapat dialihkan ke perusahaan lain,’’ tandasnya.
Diakuinya, untuk Daerah Ulilin, Muting dan Elikobel cocok untuk tanaman-tanaman jangka panjang seperti perkebunan kelapa sawit termasuk perkebunan karet. Sebab, daerah tersebut termasuk daerah agak kering atau tinggi.

Selain di Ulilin dan Elikobel menurut Freddy Puturuhu, perusahaan ini juga telah mendapatkan izin arahan dari Bupati Merauke seluas 15.000 ha di Distrik Tanah Miring. Bahkan Amdalnya saat ini sedang dalam proses.
Disinggung apakah di daerah tersebut cocok untuk karet, menurut Freddy, bisa untuk karet asalkan drainase diatur. Sebab jika musim hujan, sebagian daerah tanah miring menjadi genangan air. ‘’Karena karet tidak boleh tergenang air,’’ terangnya.

Dijelaskan, dengan izin arahan yang diberikan tersebut, saat ini pihak perusahaan sedang proses izin ke Menteri Kehutanan, dari hutan produksi ke hutan konversi untuk dapat digunakan menjadi hutan perkebunan atau fungsi lain.(ulo/ary) (scorpions)