Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua

Cari Informasi/Berita/Tulisan/Artikel di Blog IKP

Foto Pilihan : Serangga Papua

Foto Pilihan : Serangga Papua
Serangga Papua jenis Diptera (sumber info : http://www.papua-insects.nl/insect%20orders/Diptera/Diptera%20families.htm)

Foto Pilihan : Anggrek Cimbidium

Foto Pilihan : Anggrek Cimbidium

21 January 2012

Di Merauke, Harga Beras ‘Mencekik Leher’

(www.papuapos.com, 20-01-2012)
MERAUKE [PAPOS] – Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Merauke, Beny Malik mengakui jika harga beras di pasar, mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan tahun tahun sebelum. Hal itu diakibatkan oleh panen masyarakat mengalami penurunan, sementara permintaan konsumen meningkat.
 
Kondisi demikian menjadi perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke.
Demikian disampaikan Beny saat ditemui Papua Pos di kantor bupati, Kamis (19/1). Menurutnya, sebagai tindaklanjut dari kenaikan harga beras itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Merauke, Drs. Daniel Pauta mengeluarkan surat instruksi yang ditujukan kepada Kantor Bulog yang tembusannya diterima instansi terkait, agar segera dilakukan operasi di pasar guna mengetahui secara pasti harga yang berlaku sekarang. “Memang kenaikan lumayan tinggi jika dibandingkan tahun-tahun sebelum,” tandasnya. 


Harga beras yang berlaku sekarang, demikian Beny, adalah Rp 8.500. Sedangkan harga standard yang berlaku selama ini adalah Rp 5000-Rp 6000. Memang karena kondisi alam dan tidak ada unsur kesengajaan dari para petani. Mereka sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menanam, namun karena cuaca dan juga mungkin gangguan hama, sehingga panen yang dihasilkan, tidak sesuai tahun kemarin. “Ya, ini juga menjadi suatu perhatian serius dari pemerintah,” katanya. 


Ditanya apakah petugas dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Merauke akan melakukan operasi pasar, Beny mengungkapkan, pihaknya tidak bisa dengan serta merta mengambil keputusan. Perlunya koordinasi dengan Bagian Perekonomian Setda Merauke. Jika sudah ada kesepakatan bersama, otomatis operasi pasar tetap dilakukan. “Saya sudah sempat diskusi dengan orang Perekda dan dalam waktu dekat, akan dilakukan pertemuan bersama,” tandasnya. 


Menyangkut sanksi kepada mereka yang menjual beras dengan harga tinggi, Beny menambahkan, tidak serta merta diberikan tindakan. Harus dilihat terlebih dahulu. Artinya bahwa, jika telah ada subsidi dari pemerintah dan ada oknum yang menaikkan harga beras yang tidak sesuai, disitu otomatis diberikan sanksi. “Kalau sekarang, kita tidak bisa berikan sanksi. Karena kenaikan harga beras itu tidak disengajakan,” tuturnya. [frans]

20 January 2012

Biak : Wakil Rakyat Harus Mampu Buat Regulasi Penyelamatan Tanah

(www.bintangpapua.com, 19-01-2012)
Biak - Dewan Adat Byak (DAB) menilai sebagai wakil rakyat yang saat ini menjabat sebagai anggota dewan terhormat di DPRD Biak Numfor, belum memiliki kemampuan dalam menyusun sebuah regulasi tentang penyelamatan tanah rakyat. Padahal tanah sebagai bagian dari kosmologi dunia dan ekosistim yang harus diselamatkan sebagai bagian yang telah ada sebelum manusia dijadikan. Sebab dengan adanya regulasi, nantinya masalah tanah tidak meluas menjadi persoalan yang selama ini terjadi ditengah kehidupan masyarakat, bahkan masyarakatpun tidak seenaknya akan menjual dan merusak tanah.

Ketua DAB, Yan Piter Yarangga mengatakan, saat ini persoalan tanah sebagai sentral gejolak sosial dimana-dimana, sehingga sebagai orang yang menyandang predikat wakil rakyat, sudah selayaknya mereka bersama pemerintah daerah berupaya membuat suatu regulasi sebagai payung hukum untuk menyelesaikan berbagai persoalan tanah yang semakin marak terjadi di wilayah adat Biak.


“Salah satu syarat utama dengan menyandang predikat wakil rakyat, seharusnya dia sudah memiliki konsep untuk menyusun sebuah regulasi yang nantinya sebagai payung hukum dalam upaya memberikan perlindungan dan penyelamatan tanah, sehingga masyarakat yang selama ini mengklaim dirinya sebagai pemilik tanah ulayat, tidak asal main jual ataupun dirusaki oleh manusia,” kata Yan Piter Yarangga kepada Bintang Papua, Kamis (19/1).

Manokwari : Rawan Banjir Akibat Salah Peruntukan Lahan

(www.bintangpapua.com, 19-01-2012)
MANOKWARI - Beberapa tahun belakangan ini kota Manokwari selalu menjadi langganan banjir setiap musim penghujan. Yang terbaru, banjir yang terjadi di Kali Wosi, Selasa (17/1) malam lalu berakibat 5 unit rumah di kampung Tanimbar, Transito-Wosi hanyut. Di beberapa wilayah lain, puluhan rumah warga terendam. 

Apa penyebab ibukota Provinsi Papua Barat berjuluk kota Injil ini kini menjadi rawan banjir ? Selain faktor cuaca ekstrim berupa curah hujan yang cukup tinggi, menurut wakil bupati  Manokwari Roberth KR. Hamar, permasalahan pokoknya  adalah kesalahan peruntukan lahan. 


Karena itu menurutnya,  perlu dilakukan  peninjauan kembali terhadap  tata ruang kota Manokwari.  Kawasan penyangga terutama yang berada di dataran tinggi serta daerah resapan air yang kini telah beralih fungsi menjadi perumahan, sebaiknya dikembalikan sesuai peruntukkannya.
Demikian pula kawasan konservasi seperti hutan lindung  telah banyak diserobot untuk kepentingan yang bisnis dan lainnya.


“Harus dibatasi wilayah mana yang dibuka dan wilayah mana yang tidak, akibat pembukaan (kawasan) inilah yang berakibat banjir, “ kata Hammar kepada wartawan, usai menyerahkan bantuan bahan bangunan dan peralatan masak bagi warga korban banjir di kampung Tanimbar, Wosi, Kamis (19/1).


Selain tata ruang, lanjut Hammar, Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) terutama di sepanjang bantaran kali juga perlu ditinjau kembali. Pasalnya, seiring meningkatnya populasi penduduk kota Manokwari, bangunan rumah warga kini sudah memenuhi daerah sepanjang aliran kali.

Biak : Sampah Cemari Udara, Warga Samofa Palang Jalan

(www.bintangpapua.com, 19-01-2012)
Biak - Kesabaran Warga RT 02 RW 05 Kelurahan Samofa, akhirnya tak terbendung lagi.  Ini akibat tumpukan sampah yang sudah sepekan mencemari udara serta mengganggu aktivitas warga setempat, tepatnya yang berdomisili di kompleks TKBM memalang Jalan Raya Condronegoro. 

Dua buah bak kontainer sampah yang dipenuhi sampah basah dan kering dan berada di pinggiran ruas jalan raya itu, dibongkar warga, sehingga sampah-sampah berceceran menghalang lalu-lintas. Kendaraan yang menuju arah barat maupun dari arah timur, tidak bisa melewati jalan tersebut, karena selain jalan raya ditutup sampah, warga juga menaruh balok pemalang. 


Meskipun pihak keamanan dan aparat pemerintah kelurahan setempat sudah melakukan negosiasi agar warga segera membuka jalan tersebut, namun warga tetap bersikeras menuntut adanya perhatian pemerintah daerah atau instansi terkait agar dapat turun langsung membersihkan sampah-sampah tersebut. 


“Karena sampah ini sudah satu minggu, dan warga sudah tidak tahan karena setiap hari bau sampah mengganggu warga terutama pada saat makan siang,” kata ketua RT 02/RW 5 Kelurahan Samofa, Eddi Meisiri saat ditemui Bintang Papua dilokasi pemalangan, Rabu (18/1). Lanjut kata Meisiri, warga tetap akan melakukan pemalangan hingga pihak kebersihan harus turun langsung mengangkut sampah-sampah tersebut. Begitupula warga secara tegas meminta instansi terkait tidak lagi menaruh bak kontener sampah di lokasi pinggiran ruas jalan itu. “Pemalangan sudah berlangsung dari jam 9 pagi dan ini akan terus dilakukan sampai Dinas Kebersihan datang angkut sampah beserta kedua bak kontener ini. Juga agar pemerintah daerah dapat turun dan membuka mata, jangan hanya duduk didalam kendaraan saja,” tegasnya.


Sementara itu, Kepala Seksi Lingkungan Jalan dan Pasar Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemakaman (DKP2) setempat, Marthen Wompere, S.Sos membenarkan kejadian tersebut. Menurutnya, permasalahan sampah sudah sangat memprihatinkan karena hampir dalam sepekan ini armada truk sampah yang beroperasi hanya satu unit saja. Sehingga ia juga meminta kepada warga untuk tetap bersabar, karena permasalahan sampah di daerah ini bukanlah hanya tanggung jawab pihak DKP2 tetapi peran serta masyarakat dan semua pihak yang berada di kota ini. “Kendalanya karena dari empat truk sampah yang dimiliki DKP2, kini yang beroperasi hanya 1 unit, sedangkan yang lainnya rusak sehingga terjadi penumpukan sampah dimana-mana,” katanya. 


Ia juga berharap, terkait permasalahan sampah di daerah ini, perlu secepatnya juga pemerintah daerah dan legislatif menyusun sebuah regulasi sebagai payung hukum dalam mengatasi permasalahan sampah. Meskipun demikian, ia pun menjamin dalam satu hingga dua hari kedepan pihaknya akan melakukan pembersihan sampah, bukan saja yang berada di jalan Condronegoro tetapi sampah yang kini mulai menumpuk di beberapa ruas jalan kota. (pin/don/lo2)

19 January 2012

Kepiting Karapas Coklat Ditemukan di Papua

 (www.kompas.com, 19-01-2012)
JAKARTA, KOMPAS.com — Satu lagi spesies baru dari Indonesia ditemukan. Spesies baru kali ini bernama Macrophthalmus fusculatus, sejenis kepiting yang punya karapas berwarna coklat.

Penemunya ialah dua staf Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dwi Listyo Rahayu dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Loka Bio Industri Laut di Mataram dan Dharma Arif Nugroho dari UPT Loka Konservasi Biota Laut Ambon. Keduanya bernaung di bawah Pusat Penelitian Oseanografi LIPI.

Dwi Listyo Rahayu yang akrab disapa Yoyok, mengatakan bahwa jenis Macrophthalmus fusculatus memiliki beberapa ciri khas.

"Spesies ini bentuk karapasnya melebar di bagian posterior (bagian karapas yang terletak di antara kaki kelima), dan bentuk capitnya memanjang," ungkap Dwi lewat surat elektronik kepada Kompas.com, Rabu (18/1/2012).

"Secara sepintas jenis ini tampak kusam, berlumpur, dan kotor. Tetapi setelah dibersihkan dari lumpur, maka akan terlihat karapas yang berwarna coklat dengan beberapa kelompok tonjolan-tonjolan kecil (tubercles), dan capitnya yang halus. Menurut saya terlihat cantik dibawah mikroskop," tambah Yoyok.

Nama spesies ini sendiri diambil dari ciri khas karapas yang berwarna coklat. Secara harafiah, kata bahasa latin fuscus dalam bahasa Indonesia berarti coklat.

Macrophthalmus fusculatus memiliki ukuran kecil. Diameter karapasnya hanya 4-10 sentimeter. Sementara, habitatnya adalah pada substrat pasir berlumpur di hutan bakau.

"Sampai saat ini hanya ditemukan di hutan bakau di daerah Timika, Papua," kata Yoyok. Meski demikian, terbuka kemungkinan untuk menemukannya di perairan lain seperti Maluku dan Sulawesi.

Proses identifikasi spesies ini sebagai spesies baru memerlukan waktu cukup lama, 10 tahun.

"Macrophthalmus fusculatus pertama kali dikoleksi pada tahun 2001 ketika saya mendapat kesempatan untuk melakukan penelitian di Timika, Papua. Pada saat itu biota tersebut diidentifikasi sebagai jenis (species) yang sudah dikenal," tutur Yoyok.

Namun, Yoyok dan rekannya terus mengumpulkan spesimen-spesimen organisme yang masuk genus Marcophthalmus dari Papua dan Lombok. Sejak tahun 2008, pengamatan secara lebih detail dimulai. Hasil pengamatan dan perbandingan dengan koleksi genus Macrophthalmus di Raffles Museum of Biodiversity Research di Singapura menunjukkan bahwa kepiting karapas coklat ini spesies baru. Macrophthalmus fusculatus positif dinyatakan sebagai spesies baru pada tahun 2011.

Bersama penemuan spesies Macrophthalmus fusculatus ini, Yoyok dan rekannya juga menemukan 14 spesies lain dari genus Macrophthalmus, di antaranya spesies Macrophthalmus abbreviatus dan Macrophthalmus sulcatus malaccensis yang eksistensinya di Indonesia baru diketahui kali ini.

Penemuan ini menunjukkan bahwa Indonesia kaya akan jenis Macrophthalmus. Genus yang bercirikan tubuh pipih dan tangkai mata panjang ini diketahui hanya hidup di wilayah Indo-Pasifik Barat, mulai Laut Merah, Samudra Hindia, dan perairan Jepang. Penemuan organisme yang berhabitat di wilayah pesisir ini mempertegas bahwa hutan bakau dan wilayah pesisir perlu dijaga kelestariannya.

Penelitian Yoyok dan Dharma Arif Nugroho dipublikasikan di jurnal internasional taksonomi, Zootaxa, Kamis (12/1/2012).

Waropen : Sampah di Pesisir Pantai Waropen Memprihatinkan

(www.bintangpapua.com, 18-01-2012)
WAROPEN - Menyinggung tentang masalah sampah yang terus bertebaran di tepian pantai, sementara saat ini belum ada lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sehingga menjadi kendala serta keresahan bagi masyarakat Kabupaten Waropen.

Wakil Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Waropen, Wem Y Nussy kepada Bintang Papua di Botawa menyampaikan, sebagai wakil rakyat dirinya menilai bahwa persoalan tersebut sangat tidak sesuai bagi masyarakat Waropen yang mendiami pesisir pantai.

“Dimana hampir seluruh masyarakat memiliki mata pencaharian sebagai nelayan, sementara dalam laut tersebut telah tersebar sampah plastik dan lain sebagainya. Untuk itu sebagai wakil rakyat saya merasa bahwa kurang adanya perhatian dari Pemerintah Daerah,” ungkapnya kepada Bintang papua, Selasa (17/1).

18 January 2012

Nasional : Jual-beli karbon itu bohong, kata pakar

(www.antaranews.com, 17-01-2012)
Jakarta (ANTARA News) - Perdagangan karbon antara negara yang memiliki potensi menyerap karbon dengan negara penghasil emisi karbon seperti Amerika Serikat rekaan belaka, kata Pakar Lingkungan dari Universitas Indonesia, Mohammad Hasroel Thayib.

"Amerika membakar minyak dan menghasilkan karbon dioksida (CO2) banyak. Bagaimana logikanya itu (karbondioksida) bisa melewati laut ribuan mil?" kata Hasroel kepada Antara News, Selasa.

Perdagang karbon adalah salah satu cara untuk mengurangi emisi karbon yang menyebabkan pemanasan global.

Hasroel menilai perdagangan karbon hanya skenario negara-negara penghasil emisi karbon untuk menghambat industri di Indonesia.

"Dalam ilmu kimia dasar disebutkan kalau karbondioksida itu lebih berat dibanding oksigen. Bagaimana karbondioksida yang dihasilkan itu bisa naik ke udara?" kata Hasroel.

Dia berpandangan, keberadaan karbondioksida di atmosfer terjadi karena sinar kosmik yang memecah nitrogen. bukan buangan dari bawah atmosfer.

"Sinar kosmik itu proton dan neutron. Begitu terkena nitrogen yang ringan, kena intinya, berubah dia (nitrogen)!" kata mantan peneliti Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) itu.

Karbondioksida di atmosfer besifat alami dan mendukung kehidupan Bumi dari suhu dingin (minus 18 derajat celcius). "Tidak usah takut dengan karbondioksida karena akan larut ketika hujan," kata Hasroel.

Hasroel menandaskan satu pernyataan ilmiah harus konsisten dengan pernyataan ilmiah sebelumnya.

"Pernyataan ilmiah sebelumnya (bilangan avogadro) mengatakan kalau CO2 itu berat, SO2 itu berat. Tidak mungkin dia penyebab efek rumah kaca," tegasnya Hasroel.

17 January 2012

Manca Negara : Denmark : Makhluk Setengah Hewan Setengah Tumbuhan

(www.kompas.com, 17-01-2012)
COPENHAGEN, KOMPAS.com — Penemuan spesies baru Mesodinium chamaeleon mengagetkan para ilmuwan. Spesies ini menarik perhatian karena karakteristiknya setengah hewan setengah tumbuhan. Ilmuwan yang semula menganggap bahwa tak mungkin ada makhluk di antara hewan dan tumbuhan pun harus berpikir ulang.

Mesodinium chamaeleon sebenarnya adalah organisme sel tunggal. Karakteristik yang membuatnya bisa dikatakan hewan adalah adanya cilia, organ sel yang digunakan untuk bergerak. Adanya organ memungkinkan spesies ini bergerak secara aktif mencari makan seperti layaknya hewan.
Sementara itu, karakteristik yang membuatnya dikatakan tumbuhan ialah adanya simbiosis dengan alga. Mesodinium chamaeleon "menelan" alga, membiarkannya tetap utuh dan berfotosintesis. Mesodinium chamaeleon juga membawa alga bergerak dan mengubah penampakan dirinya seperti warna alga, yakni merah atau hijau.

Ojvin Mooestrap, peneliti dari Universitas Copenhagen, Denmark, yang menemukan spesies itu seperti dikutip New Scientist, Jumat (13/1/2012), menyatakan, "Pembagian antara hewan dan tumbuhan benar-benar tidak ada." Mooestrap mengungkapkan, banyak organisme mungkin gabungan di antara keduanya.

Mesodinium chamaeleon ditemukan di Pantai Niva, Denmark. Spesimen lainnya juga ditemukan di lepas pantai Finlandia dan Rhode Island. Temuan organisme setengah tumbuhan cukup jarang. Selain Mesodinium chamaeleon, organisme yang punya ciri hampir sama ialah Mesodinium rubrum.

Bentuk simbiosis yang dilakukan Mesodinium chamaeleon dengan menelan alga disebut endosimbiosis. Bentuk simbiosis ini ialah yang terpenting dalam evolusi. Dua miliar tahun lalu, organisme sel tunggal menelan bakteri dan memperbudaknya sebagai pabrik energi. Akibat proses ini, terciptalah mitokondria yang pada organisme multisel dikenal sebagai pabrik energi.

Mesodinium chamaeleon mencerminkan bagaimana endosimbiosis berkembang. Penemuannya dipublikasikan di Journal of Eukaryotic Microbiology baru-baru ini.

Manokwari : Green Peace Siap Investigasi Kasus Kayu Log PT MAM

 (www.bintangpapua.com, 16-01-2012)
Manokwari - Lembaga pemerhati lingkungan  internasional Green Peace mensinyalir ada praktek mafia kehutanan di balik kasus kayu log milik PT Mambaramo Alas Mandiri yang beberapa waktu lalu di tahan Bea Cukai Manokwari.

Green Peace pun menilai ada hal yang aneh terkait keputusan membawa kembali kayu log dimaksud ke kabupaten Waropen, dengan alasan di Manokwari tidak ada tempat yang cukup luas untuk bisa dilakukan  penghitungan ulang kubikasi kayu tersebut.


Untuk itu, Green Peace akan datang ke Manokwari guna  melakukan investigasi lebih jauh terhadap kasus itu, termasuk menelusuri asal muasal kayu serta  proses hukum yang telah dilakukan aparat berwenang di Manokwari.


“Dalam waktu dekat kami akan turun ke lokasi (Manokwari), “ ungkap forest campaiger Green Peace and team leader Papua program, Richardten Charles Tawaru, dikonfirmasi via Ponsel, Jumat (13/1).
Charles mempertanyakan keputusan instansi terkait membawa kembali tumpukan kayu log yang sudah berstatus barang bukti itu ke Waropen hanya demi kepentingan pengukuran. 

16 January 2012

Video : Katak Bersuara Kucing

Keerom : Pemkab Susun Kajian Lingkungan Hidup Strategis

(www.bintangpapua.com, 15-01-2012)
ARSO - Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Keerom, Ir. Frans Tanga, mengatakan, untuk saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Keerom melalui pihaknya sedang menyusun kajian lingkungan hidup strategis.

Hal ini tidak lain merupakan perintah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. “Sehingga disini sudah kewajiban setiap pemerintah daerah di dalam membuat kajian terhadap penyelamatan lingkungan di wilayahnya masing-masing-masing,” katanya.


Menurutnya, kajian itu sangat diperlukan sebagai patokan di dalam mengendalikan berbagai hal yang mengancam lingkungan alam beserta isinya, seperti penebangan liar, berbagai macam limba beracun, yang tentunya dampaknya merugikan makluk hidup dan manusia.


Sebagai contoh saja, apabila hutan ditebang sembarangan dan tidak ada reboisasi (penghijauan kembali) terhadap lahan kritis, maka itu berbuntut pada bahaya banjir dan bahaya pemanasan global semakin terbuka lebar. “Contoh lainnya, misalnya limba beracun tidak dikendalikan, efeknya kehidupan ekosistem makluk menjadi terancam,” ungkapnya saat ditemui di Kantor Bupati,Jumat (13/1).


Ia menjelaskan, didalam upaya penyelamatan lingkungan, pemerintah hanya berfungsi melakukan pengendalian dan pengawasan saja, sementara yang lebih berperan utama adalah masyarakat sendiri.
Misalnya, masyarakat jangan melakukan penebangan pohon secara sembarangan, tidak membuang limbah hasil produksi rumah tangga dan produksi industri di sembarangan tempat, karena itu menimbulkan pencemaran lingkungan, dan lain sebagainya.


“Untuk tahun anggaran (TA) 2012 ini, kami melaksanakan program kegiatan yang sama, yakni, pengawasan dan pengendalian serta lingkungan hidup,” tandasnya.


Menyoal lahan-lahan kritis di wilayah Keerom, kata Frans Tanga, bahwa memang sejauh ini ada lahan-lahan kritis di wilayah Keerom, namun wilayah mana saja yang terjadi lahan kristis, saat ini pihaknya masih melakukan pendataan.


Khusus persoalan reboisasi lahan kritis, tentunya pihaknya memprogramkan kesana, tetapi apabila lahan kritis itu berada pada areal kawasan hutan, maka itu bukan tanggungjawab pihaknya melainkan tanggungjawab pihak kehutanan, karena pihaknya yang bertanggungjawab dalam lahan kritis yang berada pada wilayah yang bukan kategori hutan. (rhy/don/lo2)

15 January 2012

Bondol Jayawijaya

(sumber : www.kutilang.or.id, 14-01-2012)
Snow Mountain Munia  (Western Alpine Mannikin)
Lonchura montana
(Junge, 1939)

Deskripsi
Kecil (11 cm.). Mahkota dan muka hitam, dada bungalan dan kedua sisi tubuh berpalang.
Mirip dengan Bondol dada-coklat dan Bondol dada-hitam, ciri khas yang membedakan adalah warna bungalan pada bagian dada. Selain itu persebaran tempat hidup juga menjadi ciri pembeda ketiga jenis Bondol (pipit) yang sangat mirip ini.


Persebaran dan ras
Hanya diketahui hidup di Pegunungan Jayawijaya, di barat Ngarai Baliem, Pulau papua.


Tempat hidup dan Kebiasaan
Hidup dalam kawanan kecil di daerah padang rumput berlumut di dataran tinggi Pegunungan Jayawijaya pada rentang ketinggian antara 2100 – 4100 mdpl., meski lebih mudah dijumpai pada ketinggian di atas 3000 mdpl. Bersarang pada rerumputan di tepi daerah perairan dan memakan biji gulma di daerah padang rumput.


Status
Daftar merah IUCN : Resiko Rendah (LC)
Perdagangan Internasional: –
Perlindungan:


Galeri
Internet Bird Collection