Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua

Cari Informasi/Berita/Tulisan/Artikel di Blog IKP

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org

20 June 2007

Sentani : Dampak Larangan Produksi Kayu Mulai Terasa

(www.papuapos.com, Selasa 19 Juni 2007)
Memasuki dua bulan aksi mogok kerja yang dilakukan para pengusaha kayu lokal Papua, akibat tidak ada kejelasan aturan atau payung hukum pengelolaan kayu lokal.

Kini masyarakat mulai merasakan dampaknya, pengusaha tidak bisa membangun, sementara bagi masyarakat pemilik hutan dan hasil kayunya, kondisi ekonomi mereka sudah memprihatinkan. Pasalnya masyarakat pemilik hutan tidak lagi memiliki uang, sejak kayu-kayu mereka tidak disa jual.

Menyikapi kelangkaan kayu lokal tersebut Ketua Pergerakan Pemuda Mahasiswa Indonesia Kabupaten Jayapura, Ikatan Mahasiswa Asal Sentani dan tokoh intelekutual asal Pegunungan tengah, mendesak Gubernur, DPRP, termasuk instansi terkait lainnya untuk segera mengesahkan aturan tetap yang dimuat dalam bentuk Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) bagi pengelolahan kayu lokal.

Selanjutnya dengan tegas mengutuk oknum-oknum tertentu yang kini sedang memanfaatkan kesempatan dalam artian bermain di air keruh, karena kenyataan ditengah aksi mogok pengusaha kayu lokal ini, ada oknum pengusaha kayu lainnya yang berlindung dibawah kekuasaan tertentu, dengan seenaknnya membawa kayu ke kota.Hal tersebut dikarenakan akan berdampak terhadap nilai beli masyarakat semakin tinggi dan pengusaha yang berlindung dibalik kekuasaan tertentu ini memungut keuntungan yang besar, dengan menaikan harga semaunya, sementara masyarakat yang menderita.

" Kami melihat tingkat kelangkaan kayu untuk masyarakat lokal sudah mulai terasa, terutama dampak yang lebih dirasakan adalah masyarakat pemilik kayu di hutan yang sampai saat ini kayu-kayu masih tertumpuk dan tidak bisa difungsikan untuk dijual, untuk itu kami meminta pemerintah dalam hal ini instansi terkait untuk segera mencari solusi yang tepat melalui peraturan daerah khusus tentang pengolahan kayu lokal di Papua," ujar Ketua Pergerakan Pemuda Mahasiswa Indonesia Kabupaten Jayapura, Aris Kreutha.

Sementara itu Ketua IMPAS, Edison Awotau menambahkan orang pribumi perlu ikut terlibat dalam hal aktifitas kayu lokal di Papua agar Perdasus yang mengatur tentang kayu lokal, dapat sesuai dengan konteks UU Otsus di Papua.Lanjut dia untuk mengatasi kelangkaan kayu dan permasalahan kayu lokal, pemerintah perlu secepatnya menyikapi kondisi tersebut, dengan jalan Raperdasus yang sudah diajukan oleh MRP segera ditindaklanjuti oleh DPRP dan Eksekutif.Hadir juga dalam menyampaikan keterangan perssnya tokoh intelektual asal Pegunungan Tengah, Christian Wanimbo, Ronald Kogoya, Frengki Monim bersama rekan-rekannya mendesak pemerintah untuk segera memberikan solusi yang tepat.**

Jayapura : Gubernur Minta Pembangunan Harus Berwawasan Lingkungan

(Cenderawasih Pos, 19 Juni 2007)
JAYAPURA-Papua kaya akan potensi Sumber Daya Alam (SDA), namun sebagian besar belum termanfaatkan secara optimal. Kekayaan itu akan terus menjadi raksasa yang tidur jika tidak diolah dan dimanfaatkan melalui investasi.

Tanpa investasi, tidak akan ada pertumbuhan ekonomi, tanpa pertumbuhan ekonomi, tidak ada pengentasan kemiskinan dalam arti sebenarnya. Demikian antara lain dikemukakan Gubernur Barnabas Suebu, SH dalam arahannya ketika membuka seminar sehari peranan sektor pengelolaan SDA bagi pembangunan nasional di Papua kerja sama Uncen, Unipa, LPEM dan FE-UI di Sasana Karya, Senin (18/6) kemarin. "Kita harus membangun raksasa yang sedang tidur ini, di mana harkat dan martabat manusia menjadi titik sentral pembangunan (people center development) dan pembangunan harus berwawasan lingkungan yang tidak semena-mena untuk kepentingan sesaat, tetapi mengorbankan rakyat," katanya.

Diungkapkan, investasi yang dilakukan dengan membabi buta dan tanpa kepekaan sangat berpotensi menciptakan kerusakan lingkungan dan akan memarginalkan masyarakat asli Papua. "Kata yang saya gunakan, kita memerlukan investasi tetapi kita harus berhati-hati dengan investasi itu sehingga tidak membunuh anaknya sendiri," katanya. Itulah sebabnya analisis dampak lingkungan yang dilakukan secara sungguh - sungguh dan ketat dengan menggunakan standar internasional menjadi salah satu syarat bagi investasi di Papua.

Sementara itu, Rektor Uncen Prof DR Bert Kambuaya mengatakan bahwa disadari Papua sangat kaya akan SDA, karena itu ia mengajak semua pihak khususnya perguruan tinggi agar terlibat dalam proses pengelolaan SDA. "Kita semua tahu bahwa pengelolaan SDA yang tidak diatur secara baik dan tidak memperhatikan kelestarian lingkungan maka akan bisa mengancam lingkungan," katanya. Karena itu, dalam kegiatan opersaional pertambangan harus memperhatikan prinsip - prinsip pembangunan berkelanjutan.

Yapen : Suebu Panen Rumput Laut di Yapen

(Cenderawasi Pos, 19 Juni 2007)
Juga Panen Ikan Keramba Apung di Teluk Ampimoi
YAPEN - Suatu langkah kemajuan yang cukup bagus yang terjadi di Kabupaten Yapen, dimana saat ini, sebagian masyarakat melalui bantuan Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Yapen, mulai mengembangkan budidaya rumput laut di Kampung Kabuena Distrik Angkaisera dan keramba Apung dengan jenis ikan Kerapu di Teluk Ampimoi Distrik Yapen Timur. Bahkan, pada pada 12 Juni lalu, Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, SH, melakukan panen perdana terhadap kedua kegiatan budidaya masyarakat itu.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Yapen, Ir. John F. Pattikawa, MM, mengatakan, kegiatan budidaya ikan Kerapuh atau keramba jaring apung itu dilakukan di Randawaya (Tepatnya diteluk Ampimoi), sementara budidaya rumpt laut berawal dari kegiatan beberapa warga yang memelihara keramba ikan apung. Ddari situlah, pihak Departemen Kelautan dan Perikanan RI menyalurkan bantuan ke pemerintah kabupaten senilai Rp 5,5 M. Untuk mengembangkan 20 unit petani, keramba jaring apung/pengembangan rumput laut yang disebarkan disepanjang pesisir Pulau Yapen.

“ Tentang bibit, awalnya kami datangkan dari pulau Jawa, namun sebagiannya tidak produktif karena rusak dan mati (Ikan),” ujarnya kepada Cenderawasih Pos, disela-sela kegiatan Turkam di Kampung Randawaya, Distrik Yapen Timur, Kabupaten Yapen, Selasa, (12/6) lalu.Diterangkannya, sebenarnya, keramba jaring apung, pihaknya telah melakukan panen tahap pertama beberapa waktu lalu, dengan jumlah banyak ikan sebanyak atau sekitar 150 kg. Sementara budidaya rumput laut baru dipenen tahap pertamanya oleh gubernur.

Khusus untuk rumput laut, ia menyatakan, pihaknya saat ini mengalami kesulitan benih/bibitnya, sehingga alternatifnya dilakukan pembenihan bibit rumput laut dengan memanfaatkan rumput laut yang sudah dimiliki pihaknya itu.

Diharapkannya, dengan adanya dukungan pemerintah daerah dan pemerintah provinsi, maka pihaknya akan berupaya untuk memproduksi rumput laut maupun ikan Kerapuh dalam jumlah yang besar, guna mampu untuk memenuhi permintaan pasaran yang mulai masuk di wilayah Yapen.

“Saat ini kami memiliki sekitar ratusan petani kelompok budidaya rumput laut dan keramba jaring apung. Kami targetkan setiap tahunnya kami panen rumput laut dan ikan Kerapu sebanyak 50 ton sampai 100 ton. Kami kewalahan bibit karena, biaya yang cukup tinggi bila mendatangkan bibit ikan Kerapu dan rumput laut yang berkualitas dari Jawa,” sambungnya.

Sementara itu, Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, SH, saat melakukan panen perdana rumput laut dan ikan Kerapuh, menyatakan, permasalahan kekurangan bibit ikan Kerapuh dan bibit rumput laut, tetap menjadi perhatian dirinya untuk membantu para petani pembudidaya, sehingga kedepannya mampu memproduksi ikan keramba dan rumput laut dalam skala yang besar.Sehingga mampu memenuhi permintaan pasaran yang masuk pada wilayah itu. Dan tentunya juga agar stok ikan Kerapu dan rumput laut tetap tersedia secara berkesinambungan.

Kebijakan berikutnya, adalah pihaknya berupaya untuk melakukan pengontrolan terhadap pangsa pasar yang ada, sehingga harga ikan Kerapu dan rumput laut tetap terjaga. Dalam hal ini dengan harga yang tinggi, agar para petani pembududaya tidak dirugikan.(nls)

16 June 2007

Raja Ampat : Suku Betew di Laut Kofiau

(Liputan6.com, Papua Barat 16/06/2007 14:20)
Kofiau adalah sebuah pulau di wilayah Raja Ampat, Papua Barat, yang menyimpan peradaban salah satu suku laut di Indonesia. Sebelum abad 18, Kofiau menjadi kawasan jajahan Kerajaan Ternate. Legenda setempat menyebut asal kata Kofiau dari kisah kopiah Raja Jailolo yang tertinggal di pulau besar ini.

Adapun Betew adalah suku yang menghuni pulau tersebut. Suku perantau dari Pulau Waigeo atau wilayah utara dari Kofiau yang hanya berjarak 60 mil. Sejak abad 19, suku Betew telah mendiami Pulau Kofiau dan berbaur dengan para pendatang dari Pulau Biak. Dan hingga saat ini, laut seperti tak akan pernah lepas dari tali kehidupan suku Betew. Mereka memang mendiami bibir pantai. Dan mengambil ikan sekadarnya hanya untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Setiap keluarga minimal memiliki satu sampan. Maklum, sampan adalah alat transportasi yang penting dalam kehidupan warga Betew. Dengan perahu kecil itulah, baik tua maupun muda kerap mencari ikan di laut. Dan ikan yang paling dicari adalah ikan lema. Ikan ini berenang mengikuti arus laut yang terus berubah. Walau demikian, anak-anak suku Betew tetap mencarinya dengan peralatan sederhana.
Cara mencari ikan dengan peralatan sederhana tak hanya dikerjakan anak-anak. Pria dewasa seperti Yosafat pun melakukannya. Adapun panah atau jubi-jubi adalah satu-satunya alat yang digunakan Yosafat. Jubi-jubi memiliki daya jangkau hingga lima meter. Alat ini menjadi andalan suku Betew untuk menangkap ikan pada kedalaman hingga empat meter.

Sekilas memang mudah, namun mencari ikan dengan jubi-jubi memerlukan pengaturan napas tersendiri. Lantaran terbiasa, Yosafat mampu bertahan dalam air sekitar tiga menit dalam sekali tarikan napas. Memang, meneliti gerak-gerik ikan sangat penting dalam menggunakan jubi-jubi. Dan kali ini Yosafat berhasil membidik ikan samandar hitam.

Selain mencari ikan dengan jubi-jubi, masyarakat suku Betew juga mempunyai suatu kebiasaan positif. Mereka kerap berpatroli keliling perairan yang luasnya sekitar 84 hektare. Ini semata-mata untuk mencegah tindakan yang sifatnya merusak, seperti bom racun dengan bahan kimia potasium. Kegiatan ini digelar seminggu sekali.

Dalam pandangan suku Betew, kuasa laut di bawah adalah rumah bagi ikan-ikan. Terlebih, perairan Kofiau memiliki kekayaan terumbu karang dan makanan yang berlimpah bagi ikan-ikan. Lembaga penyelamatan lingkungan Nature Conservacy menyebut sekitar 75 persen jenis karang dunia terdapat di kawasan Raja Ampat, Papua.
Rincinya, ada 537 jenis spesies terumbu karang yang hidup di perairan tersebut. Itu adalah tempat aman bagi 1.074 jenis ikan karang. Dengan kata lain, semakin kayanya terumbu karang, kian beragam pula ikan yang datang.
Satu di antara indikasi perairan sehat dapat ditandai kehadiran pigmen bintang laut yang memunculkan warna-warni seperti bintang laut sinularia. Sementara ikan-ikan pemakan plankton seperti damsel banyak bersandar di dekat acropora dan karang lunak. Di acropora dan karang lunak, ikan-ikan dengan mudah menyebar benih telur di sekitarnya. Ikan kupu-kupu pun mencari makan di sekitar karang lunak. Ada juga ikan badut yang selalu identik dengan lautan kategori baik yang bersimbiosis dengan anemon laut.

Terumbu karang memang beragam di perairan Kofiau. Karang daun besar, misalnya, telah tumbuh selama ratusan tahun. Berdasarkan suatu penelitian, karang tumbuh setiap tahunnya hanya lima sentimeter. Rata-rata turbinaria atau karang daun itu sudah tumbuh sekitar satu meter dari permukaan laut.

Kekayaan terumbu karang di sana memang perlu dijaga. Untuk itu, setiap bulan, para pencinta lingkungan melihat kondisi kesehatan karang sebagai tempat peneluran ikan. Kegiatan itu penting guna menjaga kesehatan perairan, terutama jutaan ikan akan bersemai di dalamnya. Dengan demikian, keutuhan rantai makanan dapat terjaga dengan baik.
Perairan Kofiau jelas memiliki kekayaan hayati yang berlimpah. Namun, suku Betew hidup di kawasan tersebut tidak serta-merta mengeksploitasi habis-habisan potensi itu. Maka, berkebun menjadi pilihan utama pemenuhan kebutuhan hidup warga.

Adapun permukiman suku Betew terpisah dengan kebun sebagai tempat menyimpan makanan. Tujuannya sederhana, yaitu agar lingkungan tempat kebun suku ini tidak akan tergusur oleh kebutuhan tempat tinggal. Ini berarti lahan bakal tetap terjaga secara turun-temurun. Dan sagu adalah tanaman utama.

Sebagai makanan pokok, sagu harus diolah terlebih dahulu. Orang Betew biasanya merendam sagu dalam goti atau penampung paling lama sehari. Dalam goti itu terdapat celah untuk air. Sebab, air digunakan untuk membilas sagu. Sagu yang telah bersih kemudian dibiarkan mengendap agar dapat diambil sari patinya. Proses pengendapannya adalah selama beberapa jam.

Kaum adam biasanya menyiapkan tumang atau wadah pengawetan sementara untuk sagu. Tumang ini dibuat dari daun sagu. Setelah diendapkan, sagu dipindahkan ke dalam tumang. Tumang adalah wadah agar sagu ini nantinya dapat diolah dan dimakan.

Selain mencari sagu, masyarakat Betew mengandalkan kopra sebagai bahan yang dapat dijual dan ditukarkan dengan barang lain. Setiap hari, warga suku Betew dapat menghasilkan kopra sekitar 200 kilogram dengan harga per kilogramnya Rp 2.500. Biasanya, suku Betew mengumpulkan semua kelapa kopra yang telah jatuh. Kopra kemudian disimpan di para-para. Kopra memang laku dijual karena merupakan bahan ekstrak minyak dan sabun.

Orang Betew di Kofiau, mensyukuri setiap kekayaan alam di sekitarnya. Ekspresi rasa syukur dan gembira dalam nyanyian dan tarian Yospan. Tarian kemenangan untuk merayakan kesahajaan dalam kesederhanaan hidup.(ANS/Tim Potret SCTV)

01 June 2007

Manokwari : Bom Ikan Marak, Kadis Perikanan Manokwari Prihatin Akan Bentuk Kelompok Siswasmas di 4 Wilayah Pantai

( Cenderawasih Pos, Rabu 31 Mei 2006 )
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Manokwari Naftali Rumkoren menyatakan keprihatinannya atas ulah para penangkap ikan yang masih menggunakan bom untuk menangkap ikan. Demikian disampaikan Rumkorem kepada Manokwari Pos (group Cenderawasih pos) di ruang kerjanya, Senin (29/5) kemarin.

Dikatakan, pihaknya akan terus melakukan langkah-langkah dalam menghentikan kebisaaan penangkapan ikan dengan menggunakan bom dan akan melakukan langkah pengawasan yang lebih ketat. "Kami akan melakukan pengawasan didaerah-derah yang selama ini rawan pengeboman ikan dan akan menindak tegas para pelakunya,"katanya.

Bahkan menurutnya pada tahun 2007 nanti sistem pengawasan akan lebih diperketat lagi. Pasalnya dalam musrembangda Kabupaten Manok­wari kemarin, ia mengaku telah mengajukan proposal pengamanan dan pengawasan pesisir pantai dengan merencanakan membangun kelompok Siswasmas (sistem pengawasan masyarakat), dimana selain untuk mencegah terjadinya penangkapan ikan tanpa mengantongi izin, resmi juga untuk menjaga agar tidak terjadi penangkapan ikan dengan meng­gunakan bom.

Siswas mas yang akan dibentuk akan bertugas di Manokwari, Ransiki, Oranbari dan Pantura karena derah ini rawan masyarakat bom ikan. Selain itu akan ditunjang dengan 2 pos pengawas pantai yang akan dibangun di pantai Ransiki dan Saokorem sebagai daerah terluar dari kota Manokwari.

Mereka yang masuk sebagai kelompok Siswanas adalah mereka yang memiliki jiwa menyelamatkan lingkungan. Patroli yang dilakukan selama ini dengan Pol Airut hanya satu kali ditahun 2005 dan sampai sekarang sudah tidak dilaksanakan meskipun fasilitas lainnya ada tapi terbentur dengan persoalan klasik masalah dana opersaional.

Rumkorem juga berharap agar pelru digelar Rakornis Dinas Kelautan dan Perikanan di Provinsi Irian Jaya Barat. (cr-17)

03 May 2007

Biak : Pemkab Biak Bentuk Satlak Flu Burung

( Cenderawasih Pos, Rabu 02 Mei 2007 )
BIAK-Untuk mengantisipasi masuknya virus flu burung ke wilayah Kabupaten Biak Numfor, Pemkab setempat telah membentuk Satuan Tugas Pelaksana (Satlak) Pengendalian dan Penanggulangan Penyaklit Flu Burung.


Meskipun Satlak Flu Burung yang melibatkan berbagai instansi teknis diantaranya, Peternakan, Kesehatan, Karantina Hewan, Karantina Kesehatan dan TNI/Polri sudah terbentuk namun sampai saat ini Satlak belum dapat bekerja secara efektif.

Ketua I Satlak Pengendalian dan penanggulangan Penyakit Flu Burung, Absalom Rumkorem, S.Pt, MM yang dikonfirmasi mengakui hal tersebut. Meskipun demikian, upaya penanggulangan dan pencegahan penyakit Flu Burung hingga saat masih berjalan secara intern yang dilakukan oleh Dinas Peternakan Kabupaten Biak Numfor.

"Kita masih menunggu arahan dan petunjuk bupati lebih lanjut sebelum Satlak ini melaksanakan tugasnya. Satlak Flu Burung ini nantinya bertugas untuk melakukan pengendalian dan pemantauan terhadap bahan makanan asal hewan khususnya unggas serta menerima informasi terkait dengan munculnya gejala-gejala flu burung untuk selanjutnya mengambil langkah-langkah pencegahan,"ujar Absalom yang saat ini menjabat sebagai kepala Dinas Peternakan Kabupaten Biak Numfor.
Meskipun sampai saat ini informasi mengenai kasus Flu Burung di Indonesia mulai menurun, namun penyebaran penyakit tersebut, menurut Rumkorem tetap harus diwaspadai oleh seluruh lapisan masyarakat.

Untuk mencegah masuknya virus flu burung ke wilayah Kabupaten Biak Numfor, larangan pemasukan terhadap unggas hidup masih tetap diberlakukan.

Selain melarang masuknya ungga hidup, memasukan bahan makanan asal hewan seperti daging dan telur tetap diperketat."Sampai saat ini kita belum menemukan adanya unggas hidup atau bahan makanan asal hewan yang tidak dilengkapi dokumen yang masuk ke wilayah kita. Ini menunjukan bahwa pemasok kita di Biak sudah mengerti dan mentaati aturan yang berlaku,"tandasnya.(nat)

11 April 2007

Surabaya : TNI Gagalkan Penyelundupan Kayu Asal Papua

( Media Indonesia, Rabu, 11 April 2007 )
Kapal patroli TNI AL, KRI Panana 817 berhasil menggagalkan upaya penyelundupan 1.354 batang kayu jenis merbabu atau sekitar 5.416 M2 asal Papua yang dibawa kapal tongkang Kian Guan-02 dengan ditarik Tug Boat Theodore."Kapal itu ditangkap di perairan Namlea, Pulau Buru, 26 Maret lalu dan saat ini sedang dalam perjalanan menuju Surabaya. Kapal itu digiring ke Surabaya karena kasusnya tergolong besar," kata Kadispen Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim), Letkol Laut (KH) Drs Toni Syaiful kepada ANTARA di Surabaya, Selasa.

KRI Panana yang dikomandani Kapten Laut (P) Musleh Yadi itu berhasil menggagalkan pengangkutan kayu ilegal setelah melakukan pemeriksaan kedua kapal tersebut. Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan, kayu-kayu itu akan dibawa ke Belawan, Sumatera Utara.Menurut Kadispen, kedua kapal berbendera Indonesia itu diageni oleh perusahaan berbeda. Tug Boat Theodore diageni PT Surya Maritim Shipping dan Kapal Tongkang Kian Guan-02 diageni PT Kian Guan Line, sementara kayunya milik PT Maluku Sentosa.Setelah dilakukan pemeriksaan, kapal itu tidak dilengkapi dengan dokumen pengangkutan kayu sehingga diduga kuat kayu tersebut betul-betul hasil penebangan liar. "Kapal itu diduga melanggar pasal 50 ayat 3 juncto pasal 78 ayat 7 dan 15 UU No 41 tentang Kehutanan. Ancamannya adalah pidana dan denda maksimal 10 miliar, sedangkan barang buktinya bisa disita untuk negara," katanya.Menurut Kadispen, kalau kayu itu dirata-rata permeter kubiknya Rp750.000 untuk harga paling murah, maka keseluruhan nilainya mencapai Rp4 miliar lebih.

Kapal tersebut agak lama tiba di Surabaya karena kecepatannya sangat rendah, yakni hanya dua knot perjam. Selanjutnya kapal tersebut akan ditangani oleh penyidik dari Satuan Kapal Patroli Terbatas (Satroltas) Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) V Surabaya."Kemungkinan penyidik TNI AL nantinya juga akan melibatkan instansi terkait, seperti Departemen Kehutanan. Pokoknya kami tidak akan main-main dengan pelanggaran di laut, termasuk penangkapan ikan dan kayu ilegal ini," kata Kadispen.

07 April 2007

Biak : Pemprov Papua Larang Log Dibawa Keluar Daerah

( Media Indonesia, Sabtu, 07 April 2007 )
Pemerintah Provinsi (Pemrov) Papua membuat kebijakan tentang larangan penjualan semua jenis kayu gelondongan (log) yang berasal dari dalam hutan Papua untuk dibawa keluar. Kepala Dinas Kehutanan (Kadishut) Provinsi Papua Marthen Kayoi di Biak, Selasa (3/4), mengatakan, kebijakan yang akan dilakukan pemerintah provinsi dalam bidang kehutanan berupa pemberhentian pemasaran kayu log antarpulau di Indonesia.


Ia mengatakan, alasan penghentian pelarangan penjualan kayu log keluar Papua karena selama ini belum memberikan nilai tambah kepada daerah. "Jika ingin mendampatkan nilai tambah dari kayu log maka harus dibangun industri, jika tidak dilakukan pembangunan industrinya maka tak ada hasil buat daerah bersangkutan," kata Kayoi.

Kebijakan pelarangan penjualan kayu log, menurut Kadishut Papua, merupakan komitmen dalam Gubernur Papua Barnabas Suebu dalam menyikapi pembangunan bidang kehutanan yang nanti akan segera ditindaklanjuti kepada kabupaten/kota secara konkret.Kadishut mengakui, untuk Provinsi Papua, pihak dinas kehutanan telah menjadikan empat zona wilayah yang dijadikan lokasi industri kayu, di antaranya, Jayapura, Mimika, Merauke dan kawasan Teluk Cenderawasih, terdiri Biak, Nabire, dan Yapen Waropen.Hingga saat ini di Provinsi Papua, menurut Kadishut, jumlah industri kayu dalam skala besar sebanyak lima buah sementara untuk kategori kecil mencapai kurang lebih 30 buah.

Menyinggung dampak pemberlakuan pelarangan kayu log dibawa keluar, menurut Kadishut Papua, sudah jelas ada, salah satu di antaranya, masyarakat lokal dapat menikmati hasil dari pengolahan kayu berupa penyerapan tenaga kerja maupun pembuatan barang jadi seperti meubel, kursi dan lain sebagainya."Kebijakan pelarangan pemasaran kayu log keluar Papua akan segera diberlakukan, karena itu saya minta masyarakat harus dapat mendukung keputusan ini," ungkap Kadishut.

01 April 2007

Tips & Trik : Melindungi Mata Dari Katarak

( cybermed.cbn.net.id, Jumat 31 Maret 2006 )
Katarak terjadi seiring pertambahan usia. Pemeriksaan mata teratur adalah kunci deteksi awal. Jika Anda berusia lebih dari 60 tahun, jadwalkan pemeriksaan mata paling tidak sekali setahun. Anda juga dapat melakukan langkah-langkah berikut untuk mencegah pembentukan katarak:
· Jangan merokok karena rokok memproduksi radikal bebas yang meningkatkan risiko katarak.
· Mengasup makanan bergizi seimbang. Jangan lupa memperbanyak porsi buah dan sayuran.
· Lindungi mata dari sinar matahari. Sinar ultraviolet dapat menyebabkan pembentukan katarak. Kenakan kacamata gelap ketika berada di bawah sinar matahari terik.
· Lindungi diri dari penyakit seperti diabetes. Ikuti pengobatan diabetes atau penyakit lain dengan benar sesuai petunjuk dokter.
· Sampai saat ini operasi masih merupakan terapi terbaik untuk memulihkan penglihatan akibat katarak. Para peneliti masih terus bekerja untuk menemukan cara baru mencegah dan mengobati katarak guna mengurangi kebutuhan operasi.
· Jika Anda mulai mengalami gejala katarak, segera periksa ke dokter ahli mata. Dokter akan mendiagnosis dengan bantuan peralatan yang canggih dan teliti.

16 March 2007

Jayapura : Warga Keluhkan Sulitnya Air Bersih, Terpaksa Minum Air yang Tidak Layak Dikonsumsi

( Cenderawasih Pos, Kamis 15 Maret 2007 )
Prihatin. Meski sudah seminggu bencana banjir menimpa warga di Kota Sentani, namun aktivitas masyarakat hingga Rabu (14/3) kemarin, belum bisa kembali normal seperti biasanya. Pasalnya fasilitas jembatan yang belum semua bisa diperbaiki dan parahnya lagi kebutuhan air bersih menjadi sulit didapatkan.
Sulitnya kebutuhan air bersih ini juga dialami oleh sejumlah warga masyarakat di daerah Pos 7, Sentani. Bahkan sejumlah warga masyarakat terpaksa menkomsumsi air yang sebenarnya tidak layak untuk dikomsumsi. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Neni Kogoya, bahwa anaknya yang baru berusia 2 tahun sudah selama tiga hari ini sakit mencret-mencret.

"Saya tidak tahu apakah air yang kita komsumsi yang jadi penyebab anak saya sakit,"ungkap Neni Kogoya yang ditemui di sela-sela mengikuti pengobatan gratis yang digelar YPKM di daerah Pos 7, Sentani, Rabu (14/3) kemarin.

Pendistribusian air bersih di Pos 7 ini, menurut Neni hanya baru satu kali dinikmatinya, setelah habis terpaksa mengkomsumsi air apa adanya yang kotor akibat masih ada sisa lumpur. "Biasanya kita minum air mentah dari air terjun yang ada ini tidak apa-apa, sekarang bisa sakit,"ujar Neni yang dibenarkan sejumlah ibu-ibu yang ada disekitarnya.

Selain berharap adanya distribusi air bersih, pihaknya juga berterima kasih atas dukungan YPKM dalam memberikan pengobatan massal secara gratis kepada masyarakat. Menurutnya, pasca musibah banjir ini memang banyak warga yang menderita sakit, apalagi kebun tempat mereka mengantungkan hidup juga telah tersapu banjir. (tri)

Biak : Kawasan Berikat di Biak Dilirik Investor

( Cenderawasih Pos, Kamis 15 Maret 2007 )
Kawasan Berikat yang dibangun BP Kapet Biak meskipun belum dioperasikan namun sudah dilirik oleh beberapa investor. Wakil Ketua/Ketua Harian BP Kapet Biak, Friggia AF Marien, saat ini BP Kapet tengah melakukan negosiasi dengan investor yang akan menggunakan jasa Kawasan Berikat.

Kedua investor yang rencananya siap menggunakan Kawasan Berikat itu, menurut Friggia Marien, yaitu salah satu kontraktor Nation Petroluem dan satunya lagi pengusaha Kawasan Berikat di Jakarta. "Sudah ada yang melakukan penawaran untuk menggunakan Kawasan berikat yaitu kontraktor Nation Petroluem dan pengusaha Kawasan Berikat atau penimbunan konteiner yang juga mencari tempat. Mudah-mudahan bulan ini sudah bisa deal dan hari kami akan melakukan negosiasi soal harga,"ungkapnya kepada Cenderawasih Pos saat menghadiri kegiatan Pencanangan Biak Menanam 2007 di Distrik Biak Barat.

Meskipun Kawasan Berikat yang dikelola BP Kapet Biak telah dilirik oleh beberapa investor, Friggia Marien mengakui masih ada kendala yang dihadapi oleh BP Kapet dalam mengoperikan kawasan tersebut.

Kendala yang dihadapi yaitu belum adanya sambungan jaringan listrik ke kawasan yang terletak di Kelurahan Karang Mulia serta pemasangan conblock yang belum tuntas. " Untuk lakukan pesangan sambungan listrik tentunya membutuhkan biaya. Sehingga dalam negosiasi nanti, pihak yang akan menyewa kawasan ini kita minta untuk memasang sambungan listrik sehingga harga sewa yang kita berikan lebih ringan,"ujarnya.
Selain menyiapkan pengoperasian Kawasan Berikat menurut Friggia Marien, saat ini BP Kapet Biak juga sedang melakukan pembicaraan dengan beberapa orang investor yang rencananya akan menanamkan modalnya di Biak.

Investor yang sedang melakukan penjajakan tersebut adalah eksportir rumput laut dan teripang. " Yang sedang kita ada pembicaraan dan merekamau datang untuk melakukan penjajakan yaitu investor untuk teripang dan rumput laut. Satu dari Italia dan yang satu lagi importir dari Canada,"tambahnya. (nat)

Biak : Ketika Program Biak Menanam Dicanangkan, Bertujuan Agar Ada Kesadaran Masyarakat Menjaga Kelestarian Hutan dan Lahan

( Cenderawasih Pos, Kamis 15 Maret 2007 )
Mendapat Dukungan Masyarakat dan TNI/Polri Bupati Biak Numfor, Rabu (14/3) kemarin di Kampung Warberik Distrik Biak Barat melakukan pencanangan program Biak Menanam 2007. Bagaimana pelaksanaan program tersebut dan apa tanggapan masyarakat ?

Musibah banjir dan tanah longsor yang akhir-akhir ini marak terjadi di beberapa daerah di Indonesia termasuk di Kota dan Kabupaten Jayapura, tampaknya memberikan pelajaran yang cukup berarti bagi Pemkab Biak Numfor. Untuk mencegah terjadinya musibah yang sama di wilayah Kabupaten Biak Numfor, Bupati Yusuf Melianus Maryen, S.Sos, MM, Rabu kemarin mencanangkan program Biak Menanam 2007. Program tersebut dirangkaikan dengan peringatan hari Bhakti Rimbawab ke-24.

Pencanangan program Biak Menanam 2007 yang dilakukan di Kampung Warberik, Distrik Biak Barat ini, selain mendapat dukungan dari DPRD Biak Numfor dan masyarakat kampung, program tersebut juga mendapat support dari unsur TNI/Polri yang ada di Biak.

Dukungan terhadap pelaksanaan program tersebut terlihat dengan kehadiran Panglima Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Pangkosek Hanudnas) IV, Marsekal Pertama TNI Djubaedi, Danrem 173/PVB Kolonel Inf Herman Tedez dan perwakilan dari Guskamlatim.

Dalam pencanangan program Biak Menanam 2007, khusus untuk Kampung Warberik, lahan kritis yang disiapkan untuk ditanami tanami seluas 100 Ha dan untuk tahap awal luas areal yang disiapkan 25 Ha. Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Biak Numfor Ir.AF Lameky disela-sela kegiatan kepada Cenderawasih Pos mengatakan, menurut data citra satelit, Kampung Warberik termasuk daerah lahan kritis yang tidak produktif. Sehingga mendapat prioritas untuk direhabilitasi.

Selain di Kampung Warberik, menurut AF Lameky, program yang sama juga akan dilaksanakan di 9 distrik lainnya dan diharapkan mulai April mendatang, program penanaman sudah mulai berjalan. Sebab menurut data yang ada, jumlah lahan kritis di Biak sekitar 17.000 Ha dan yang telah ditanami sekitar 4.000 Ha.

"Untuk pelaksanaan program penanaman dan program penunjang lainnya, dana yang disediakan sebesar Rp 13 miliar yang kita peroleh dari Departemen Kehutanan. Untuk tahun ini total lahan yang disiapkan sekitar 3.000 Ha,"ungkapnya.

Terkait dengan pelaksanaan program Biak Menanam, selain Bupati Yusuf M Maryen dan Waket I DPRD Biak Jan D Kbarek yang memberikan dukungan, Pangkosek Hanudnas IV Marsekal TNI Djubaedi mengaku sangat merespon program tersebut. Bahkan dirinya berharap dengan adanya program ini kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan dan lahan bisa meningkat.***