(www.cenderawasihpos.com, Selasa 7 Agustus 2007)
MERAUKE- Jika selama ini petani di Merauke lebih banyak mengenal sistem mengembangkan pertanian non organik, maka mulai musim tanam tahun depan sistem pertanian organik (dengan menggunakan pupukorganik,red) akan mulai dicoba ke petani. Hal itu diungkapkan Kepala Tanaman Pangan Kabupaten Merauke Ir Omah Laduani Ladamay, M.Si. Apalagi, lanjutnya, ketersediaan bahan pupuk organik tersebut di Merauke cukup melimpah. ‘’Kami bukan mendatangkan dari luar,tapi di sini (merauke, red) sudah tersedia cukup banyak. Dan Kami bisa olah dan proses sendiri,’’ terangnya.
Menurutnya, pertanian dengan system organik tersebut tidak merusak tanah tapi menjaga keseimbangan struktur tanah karena tidak mengandung zat-zat kimia. Apalagi, hasil dari pertanian organik tersebut harganya lebih tinggi dibanding dengan hasil pertanian non organik, yang tentu saja akan memberikan keuntungan bagi petani.‘’Selain biaya produksi bisa ditekan, harga dari hasil pertanian organik ini cukup tinggi sehingga memberikan keuntungan bagi petani,’’ terangnya. Pertanian dengan menggunakan pupuk organik tersebut, lanjut Ladamay, telah dicoba di sawah milik Ketua DPRD Merauke danhasilnya cukup menggembirakan. ‘’Itu ditanam diantara Kayu Bus dan ternyata hasilnya cukup bagus,’’ jelasnya.
Mantan Kepala Bappeda Kabupaten Mimika tersebut menyebutkan, untuk negara-negara maju system pertanian organik tersebut telah dikembangkan. Apalagi, Presiden SBY, telah memberikan kartu merah agar system pertanian organik terus dikembangkan di Indonesia dalam menjaga keseimbangan alam. Disinggung luas tanam pada musim tanam Gadu (Garap Dua Kali,red) tahun ini, Ladamay mengungkapkan jika sampai saat ini telah tercatat 15.00 ha. ‘’Tapi kemungkinan jumlah itu masih bertambah, karena saya lihat masih ada petani kita yang sementara mengolah sawahnya. Mudah-mudahan jumlah tersebut bertambah,’’ harapnya. (ulo)
Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua
IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org
08 August 2007
Merauke : Merauke Akan Kembangkan Sistem Pertanian Organik
Foto : Satu Lagi Pos Konservasi dibangun di Kampung Papasena II, Yance : Kami Sudah Memiliki 3 Pos Konservasi di Mamberamo.
Setelah kampung Kwerba dan Papasena I, maka pada bulan ini satu lagi Pos Konservasi telah dibangun dikampung Papasena II oleh CI Indonesia - Mamberamo Program.
Menurut Jance Bemei yang juga sebagai Mamberamo Field Officer Conservation, mengatakan bahwa tujuan dari pembangunan pos konservasi di kampung Papasena II adalah sebagai pusat kegiatan konservasi dikampung, sebagai symbol kehadiran CI dikampung, sekaligus menjadi sarana belajar, memperoleh informasi serta menjadi sarana pendukung dalam kegiatan-kegiatan riset, survey peningkatan perekonomian masyarakat,’tuturnya.
Perlu diketahui bersama bahwa, pembangunan pos konservasi ini sudah dilakukan pada dua kampung sebelumnya, yaitu pada kampung Papasena I dibangun pada bulan juni 2005 serta kampung kwerba pada oktober 2005 juga.
Adapun tanggapan dari masyarakat terhadap pembangunan pos konservasi ini, sangat senang dan mendukung adanya pembangunan Pos Konservasi yang mana dukungan masyarakat yaitu dengan Memberikan Kayu untuk pembangunan Pos, mereka berpartisipasi untuk mengangkut kayu tersebut ke Lokasi pembangunan Pos, menyediakan Atap untuk Pos, menyediakan Gabah untuk Dinding Pos, menyediakan lokasi 15 x 25 meter untuk lokasi pembangunan dan membersihkan lokasi tersebut, dan membantu dalam proses pengerjaan sampai dengan selesai. ( irwan chalid )
07 August 2007
Foto : Taman Wisata Alam Teluk Youtefa
Taman Wisata Alam yang mempesona “ Teluk Youtefa “ yang terletak di kota Jayapura Papua (Foto : David Kalo)
06 August 2007
Sentani : PAI Kab.Jayapura Bangun Screen House, Untuk Jaga Spesies Asli Anggrek
SENTANI - Ketua Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) Kabupaten Jayapura Ny Konstafina Suwae, S Sos mengungkapkan bahwa untuk melindungi spesies Anggrek Asli Kabupaten Jayapura yang dalam beberapa kesempatan meraih prestasi juara. Kini PAI Kabupaten Jayapura memiliki screen house, sebagai tempat untuk menyimpan anggrek yang berprestasi sekaligus untuk membudidayakannya.
04 August 2007
Spesies : Burung Pitohui (Pitohui kirhocephalus)
( Info Konservasi Papua )
Paling tidak ada 650 spesies burung yang terdapat di Papua, sebagian besar merupakan burung endemic dan memiliki warna yang indah serta tingkah laku yang unik. Salah satu burung yang unik di Papua adalah burung Pitohui.
Pitohui merupakan burung berukuran sedang dengan panjang tubuh sekitar 23 cm dan merupakan salah satu dari beberapa spesies burung beracun yang ada didunia ini !!. Penyebarannya hampir diseluruh pulau Papua, pulau-pulau di bagian barat Papua (kepulauan Raja Ampat), Pulau Yapen sampai ke Kepulauan Aru. Habitat utamanya hutan hujan tropis dataran rendah sampai ke hutan pegunungan, mulai dari tepi pantai hingga 1.500 dar permukaan laut. Kondisi habitat yang dibutuhkannya berupa hutan primer, tepi hutan dan semak belukar.
Pitohui kirchocephalus merupakan spesies endemic. Berbagai spesies serangga dan buah-buahan hutan merupakan makan utama burung ini. Pelestarian : status burung ini dalam keadaan aman. Penduduk tidak memakan burung ini karena bulunya beracun.
(disadur dari buku : Mengenal keragaman hayati Irian Jaya (Papua), Conservation International)
Jayapura : Ikan gabus asli Danau Sentani makin langka
Penulis : Dominggus A. Mampioper
Dalam studinya, para ahli konservasi dari Conservation International Indonesia (CII) menyebut keanekaragaman hayati (biodiversity) Papua menyumbang 35-50 % keanekaragaman hayati di Indonesia. Ekosistem terlengkap mulai dari terumbu karang, hutan bakau, savanna (bagian tenggara Papua) hutan dataran rendah, pegunungan sampai ekosistem alpin, dari Provinsi Papua hingga Provinsi Papua Barat (Irian Jaya Barat).
Lokakarya Penentuan Prioritas Konservasi Keanekaragaman Hayati di Papua beberapa waktu lalu di Biak, Papua pun memastikan bahwa kawasan ini mengandung keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, sejumlah spesies endemik dan berbagai eksosistem yang khas secara keseluruhan memiliki nilai penting global. Perhitungan terbaru menunjukan tanah Papua memiliki sekitar 20 hinggga 25 ribu spesies tumbuhan berpembuluh.

"Angka ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan perhitungan sebelumnya," ujar Dr. Jance de Fretes, pakar Biology Forestry dari CII belum lama ini di Jayapura. Menurutnya, ada kira-kira 164 spesies mamalia, 329 spesies reptilia dan amfibia, sekitar 165 jenis burung, kurang lebih 250 jenis ikan tawar dan 1.200 spesies ikan air laut, diperkirakakan 150.000 spesies serangga, serta beratus ratus spesies avertebrata air tawar dan air laut. Kekayaan biodiversity ini menempatkan Papua sebagai penyumbang setengah dari total keanekaragaman hayati Indonesia.
Bahkan menyebabkan Indonesia menduduki peringkat teratas daftar negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, mengalahkan Brazil dan Columbia. Posisi ini menyebabkan tanah Papua merupakan salah satu daerah keanekaragaman hayati terpenting di planet bumi ini.
Namun dibalik itu semua tersimpan beberapa ancaman terbesar, mulai dari maraknya illegal logging kayu merbau, pertambangan skala besar dan kecil, serta pengembangan minyak dan gas bumi di Bintuni yang terletak di tengah kawasan hutan bakau terbesar di Indonesia. Selain itu, salah satu ancaman serius terhadap keanekaragaman hayati adalah introduksi spesies-spesies eksotik.
Dampak introduksi spesies eksotis secara sengaja atau tidak justru menjadi kompetitor atau predator bagi fauna asli, sehingga menimbulkan kerusakan yang tidak bisa diperbaiki pada keanekaragaman hayati air tawar. Danau Sentani yang termasuk danau terbesar di Papua pun tak lepas dari masuknya spesies ikan dari luar Papua.
"Setahu saya ada sekitar 15 jenis ikan-ikan baru yang diintroduksi ke Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua," ujar Hendrite L. Ohee, MSc, peneliti ikan tawar dari Fakultas MIPA Universitas Cenderawasih.
Menurut Ohee, masuknya ikan eksotik seperti ikan gabus toraja (Channa striata) telah menimbulkan dampak negatif terhadap populasi asli ikan Papua. Ikan gabus asli Danau Sentani (Oxyeleotris heterodon) juga terancam punah atau semakin langka. Masyarakat Danau Sentani menyebut ikan gabus asli sebesar paha atau betis manusia dengan nama khahebei sedangkan yang masih kecil disebut kayou.
Kelangkaan ikan gabus asli Danau Sentani menyebabkan harga melonjak tinggi menjadi Rp 50.000 per ekor ikan besar dan Rp 35.000 pertali untuk ikan kecil. Salah satu restaurant di tepian Danau Sentani, Kabupaten Jayapura yang selalu menyajikan ikan gabus kuah asam pun mengeluh dengan semakin langkanya ikan gabus asli ini.
Ohee yang juga peneliti ikan air tawar dari CII menyebutkan bahwa ikan gabus toraja memakan telur ikan dan anak-anak ikan gabus asli lainnya. Bahkan penelitian yang dilakukan CII di daerah Sungai Mamberamo menyebutkan, penyebaran ikan gastor (Gabus Toraja) ini semakin meluas dan banyak ditemukan di daerah rawa dan hutan sagu.
Sementara itu, ikan betok (Anabas testutestudineus) di Kabupaten Merauke pun mengancam populasi burung-burung bangau karena ikan ini berduri dan tersangkut di leher bangau menyebabkan banyak yang mati. Selain ikan gabus asli, ikan asli Danau Sentani yang terancam punah lainnya adalah ikan pelangi sentani (Chilatherina sentaniensis). Ikan ini banyak ditangkap untuk dibuat makanan ikan atau pellet bagi petambak ikan di sekitar Danau Sentani.
Jika disimak, bukan saja ikan asli di Danau Sentani yang terancam tetapi hampir di semua lokasi di Papua. Ikan air tawar yang terancam antara lain ikan pedang air tawar (Pritis microdon), ikan pari air tawar (Himantura chaophraya), ikan pelangi bleher (Chilatherina bleheri), ikan pelangi merah (Glossolepis insicus), ikan pelangi arfak (Melanotaenia arfakensis), ikan pelangi boeseman (M. Boesemani), dan ikan pelangi kurumoi (M. Parwa).
Raja Ampat : Ada "Senat" di Raja Ampat
(Majalah Tropika, Conservation International Indonesia)
- Forum senat Raja Ampat dibentuk sebagai wadah untuk berdialog -
Bukan senat yang menghasilkan senator sebagai penyambung lidah rakyat di Parlemen ala Amerika. Tapi senat disini bermakna sebuah alas atau tikar yang terbuat dari pohon sagu. Diatas alas tersebutlah para pemuda menggelar diskusi-diskusi, mengundang nara sumber yang mencerahkan tentang sekitar persoalan di Kepulauan Raja Ampat. Dan corong radio pun bergema di seluruh pulau dan disimak publik.
Bukan itu saja, senat ini juga menjadi arena guyub para pemuda untuk berkumpul, membuat kegiatan kesenian dan sebagai bengkel budaya. "(Gelar Senat) merupakan media diskusi masyarakat adat untuk menyelesaikan berbagai masalah masyarakat" kata Irman Meilandi Communication Specialist Raja Ampat. Kegiatan ini menggunakan media Radio Republik Indonesia (RRI) untuk menjangkau audience yang diharapkan yakni seluruh masyarakat Raja Ampat.
Kabupaten Raja Ampat yang terdiri dari puluhan pulau, sulit dijangkau komunikasi dapat diatasi dengan media radio. Forum Senat Raja Ampat dibentuk sebagai wadah untuk berdialog. Gagasan program ini dibidani oleh berbagai unsur yang terlibat dalam kegiatan di Raja Ampat antara lain Lembaga Noken, Bengkel Budaya, RRI, Tabloid Raja Ampat, Forbes, Konpers, JRKP-Jaringan Radio Komunitas Papua serta Conservation International.
Ada harapan dengan adanya wadah ini, yaitu terbangunnya kesadaran secara menyeluruh dalam pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan. "Tujuan lain juga untuk membiasakan masyarakat adat untuk selalu agar menggelar ‘tikar alias senat’ dalam bermusyawarah membahas isu-isu yang berhubungan dengan kepentingan bersama" kata Irman.
Sementara ini, memang program ‘gelar senat’ bisa terus menyuarakan tema-tema lingkungan hidup, budaya dan pembangunan, hingga masyarakat terbiasa dengan isu-isu tersebut. Misalnya pada minggu pertama bulan Maret ini, sekelompok mahasiswa akan menggelar "senat" untuk melaksanakan seminar tentang keberadaan Tambang di Raja Ampat. Program gelar senat tahap pertama akan dilakukan sampai bulan Juni 2007, kemudian setelah selesai akan dilanjutkan untuk satu tahun berikutnya. Diharapkan –dengan berkumpulnya para pemuda dalam forum ini, kelak akan terbangun "satu audio production house" yang menghasilkan berbagai produk-produk audio seperti sandiwara radio dll.//fm
03 August 2007
Raja Ampat : Ikan Pelangi dari Papua
(sumber : Tempo Interaktif)
Sekelompok ilmuwan dari Indonesia dan Prancis berhasil menemukan ikan pelangi di pedalaman Papua. Ikan pelangi dari familia Melanotaenia itu sebelumnya dikenal sebagai satwa endemik dari Australia dan Papua Nugini. Penemuan itu dilakukan oleh Laurent Pouyaud, seorang ahli genetik asal Prancis, bersama tiga peneliti asal Indonesia di Pulau Waigeo, Papua. Mereka melakukan penelitian selama lima pekan di sana.
Sebanyak 50 spesies dari familia Melanotaenia, ikan air tawar bertubuh kecil dan memantulkan warna-warna pelangi, sudah ditemukan sebelumnya. Namun temuan Pouyaud dan timnya terbilang spesies baru dan belum diberi nama. "Ikan pelangi sudah didomestikasi dan dijual sebagai ikan hias sejak 1980," kata Pouyaud, ahli genetik dari Institut Riset Pembangunan Paris itu, kepada kantor berita AFP pada senin lalu.Untuk mencapai habitat ikan-ikan tersebut, Pouyaud dan timnya berangkat dari Sorong menuju Danau Kurumoi lewat Manokwari dan Bintuni.
"Kami harus menumpang feri, perahu, sampai berjalan kaki selama seharian," kata Emmanuel Paradis, salah seorang anggota tim itu.Di tengah perjalanan mereka harus berhadapan dengan nyamuk-nyamuk hutan, buaya, dan ular-ular yang berbahaya. Bahkan di salah satu pulau di kawasan Raja Ampat, mereka dihadang sepasukan tentara bersenjata lengkap. "Kami dekat kawasan ladang mutiara, dua tahun lalu di tempat itu terjadi pertempuran dan beberapa tentara tewas," kata Kadarusman, salah seorang anggota tim yang lain.Kali lain, di tengah kawasan Kepala Burung, para peneliti itu dikira sekelompok orang asing yang telah datang ke kawasan tersebut dengan helikopter beberapa tahun lalu. Sekelompok orang itu telah mengambil ikan dan keluar dari sana tanpa penjelasan sepatah kata pun.
"Cobalah Anda berpikir seperti orang Papua yang hidup di tengah hutan, bertanam jagung dan ubi, tak punya listrik, telepon apalagi televisi, tak pernah melihat orang kaukasia atau helikopter yang mendarat di kebun mereka dan mengambil ikan-ikannya. Tidakkah Anda akan curiga?" kata Pouyaud. Namun, setelah dijelaskan, Pouyaud dan timnya diizinkan mengambil spesimen dari sungai dan menyimpannya di kantung plastik. Pouyaud mengatakan, mereka telah mengambil 15 spesimen yang berbeda dan setengahnya terbilang sebagai jenis baru. Pouyaud mengatakan, ikan-ikan itu kini terancam kepunahan. Bukan oleh perburuan masyarakat lokal karena ikan itu tak terlalu bernilai jual bagi masyarakat lokal. "Melainkan oleh pembabatan hutan," katanya seraya menambahkan bahwa ikan Melanotaenia sangat peka terhadap tekanan dan perubahan lingkungan. DEDDY SINAGA AFP MANILATIMES
02 August 2007
Sentani : Produksi Kakao Perlu Didukung Mekanisasi
(www.cenderawasihpos.com, 2 Agustus 2007)
SENTANI - Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Jayapura Mustaming, S Sos, MM mengungkapkan seiring dengan program wajib tanam kakao yang tengah dijalankan di Kabupaten Jayapura, Animo masyarakat untuk melakukan usaha tanam kakao ini cukup tinggi, bahkan untuk mendukung pengolahan kakao, masyarakat berharap adanya bantuan mekanisasi hasil kakao atau peralatan mesin pengolah kakao. Sementara itu Bupati Jayapura Habel M Suwae, S Sos, MM mengungkapkan selain dari Mentri Koperasi, melalui APBD Kabupaten Jayapura untuk mewujudkan program wajib tanam kakao, setiap tahunnya dianggarkan untuk pengadaan bibit kakao masyarakat ini. Diungkapkan bahwa pada tahun 2006 sudah dianggarkan dana untuk 1 juta bibit kakao. Tahun 2007 ini, Pemkab kembali menganggarkan untuk 3 juta bibit kakao.
Bahkan terkait dengan rencana pembangunan Pabrik Mini Kakao oleh CV Korina Jaya, dimana minimal dibutuhkan lahan kakao seluas 16 ribu hektar, sementara saat ini baru ada 9.600 hektar. Pemkab Jayapura tahun 2008 juga berencana untuk mengalokasikan bibit kakao sebanyak 5 juta bibit, begitu pula pada tahun 2009 juga akan kembali dianggarkan dalam jumlah yang sama. (tri)
Sentani : Bantuan Dep. Perindustrian Menumpuk, Belum Bisa Dimanfaatkan Oleh Pengrajin Rotan Karena Belum Ada Lokasi
(www.cenderawasihpos.com , 2 Agustus 2007)
SENTANI - Bantuan pemerintah pusat dalam hal ini Departemen Perindustrian yang diperuntukkan untuk kelompok pengrajin rotan yang dianggarkan pada tahun 2006 lalu, hingga saat ini, bantuan berupa peralatan mesin pengolah rotan tersebut masih menumpuk di Gedung B, kantor dinas/intansi jajaran Pemkab Jayapura. Meski sudah hampir satu tahun lebih, bantuan tersebut belum bisa dimanfaatkan oleh para pengrajin rotan.
Kepala Seksi Usaha Industri Disperindagkop Kabupaten Jayapura Ramot Gultom selaku pimpinan kegiatan penyaluran bantuan dari pusat tersebut, membenarkan bahwa bantuan peralatan mesin pengolah rotan dari Departemen Perindustrian ini belum bisa dimanfaatkan oleh para pengrajin rotan. “Dari 8 unit mesin pengolah rotan ini, dua diantaranya ada di Yahim dan 6 masih kami simpan di kantor dinas,”ungkap Ramot Gultom saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (1/8).Menurut Gultom, pengajuan permohonan bantuan ke pusat tersebut memang berdasarkan keluhan dari para pengrajin rotan di Kabupaten Jayapura yang merasa kesulitan untuk mengolah bahan baku rotan untuk kerajinan rotan dengan kualitas ekspor. Pengajuan permohonan bantuan tersebut sudah dijawab dari Departemen Perindustrian, dan direalisasikan langsung dalam wujud 8 unit peralatan pengolah rotan menjadi bahan yang siap pakai.
“Pemerintah daerah, baik Kabupaten Jayapura maupun provinsi memberikan dukungan untuk lokasi dan bangunan tempat peralatan tersebut dioperasikan,”ujarnya.Namun pembangunan gedung berukuran 5x7 meter persegi yang dibangun dengan dana APBD Pemkab Jayapura ini, ternyata tidak cukup untuk menampung semua peralatan tersebut. Bahkan, saat dilakuan uji coba untuk dua mesin, yakni mesin fitrit dan mesin poles, ternyata tenaga listrik yang ada dibangunan tersebut belum mampu mendukung operasional peralatan mesin pengolah rotan. Ditanya sampai kapan mesin peralatan tersebut bisa digunakan oleh pengrajin rotan. Gultom mengharapkan akhir tahun ini juga sudah bisa dimanfaatkan. Yang jelas melalui dana sharing dari provinsi maupun kabupaten disiapkan untuk penyediaan lokasi dan bangunan. (tri)
Jayapura : Kayu Suang, kayu endemik di Papua yang terancam punah
(sumber www.beritabumi.or.id)
Penulis : Dominggus A. Mampioper
Tak bisa disangkal lagi, keanekaragaman hayati di tanah Papua semakin terancam. Mulai dari kayu Merbau yang dibabat habis karena ilegal loging sampai kayu suang yang ditebang untuk arang pembakar ikan dan sate di Kota Jayapura.
"Kayu suang (Xanthosneon sp) ini bersifat endemik yang hanya terdapat di kawasan Cagar Alam Cyklops dan tidak ada lagi di wilayah lain Papua," ujar Ir. Benny Saroi MM, Kepala Balai Koservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah I Provinsi Papua beberapa waktu lalu.
Menurut Saroi, aktifitas penebangan masyarakat untuk menjual arang kayu justru mempercepat punah kayu suang ini. "Penebangan kayu di kawasan Cagar Alam Cyklops ini makin memperburuk kawasan tersebut sehingga banjir lumpur dan tanah longsor pun menghancurkan wilayah Kabupaten Jayapura yang berdekatan langsung dengan Cagar Alam Cyklops ini," ujar Saroi.
Ditegaskannya bahwa penelitian tentang jenis kayu suang dan budidayanya sampai sekarang belum dilakukan. "Sangat disayangkan kalau kayu suang ini semakin langka dan akhirnya punah sebelum ada penelitian," ujar Saroi.
Pendapat senada juga dikatakan Ketua Pencinta Alam Hirosi, Marcel Suebu yang memiliki lokasi pemantauan di kaki gunung Cyklops. Menurutnya aktivitas penebangan dan perladangan telah mengakibatkan longsor dan banjir lumpur Maret lalu di Kota Sentani Ibukota Kabupaten Jayapura.
"Kami pernah beberapa kali memergoki aktifitas penebangan kayu suang ini, tetapi hanya melaporkan kepada petugas kepolisian saja," ujar Suebu peraih Kalpataru 2005.
Sementara itu menurut Direktur WWF Region Sahul Papua, Drs Benja V Mambai, MSc., kawasan lahan kritis yang terdapat di kawasan Cagar Alam Cyklops seluas 1065 hektar. Sedangkan menurut Kepala BKSDA Papua, kerusakan kawasan Cagar Alam Cyklops sudah mencapai 30 % terutama pada kawasan penyangga (buffer zone).
Kawasan Cagar Alam Cyklops letaknya tepat di Kabupaten Kayapura dan Kota Jayapura Provinsi Papua. Ditetapkan sesuai dengan SK Menteri Kehutanan No: 56/Kpts/1987 dengan luas kawasan sekitar 22.250 hektar. Kawasan ini berfungsi sebagai daerah tangkapan air hujan bagi wilayah Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura, Provinsi Papua. Selain itu fungsi Cagar Alam Cyklops juga sebagai sumber air bagi Danau Sentani.
01 August 2007
Daftar Berita Edisi Bulan Jul 2007
INFO KONSERVASI PAPUA
Nomor : 087 - III/07/2007
Edisi : Juli 2007
DAFTAR ISI
BERITA MANCA NEGARA
1. Manca Negara : Amerika : Kucing Berhasil Melintasi Lautan Pasifik Selama Tiga Pekan
2. Manca Negara : Jepang : Fosil Dinosaurus Ditemukan di Jepang
3. Manca Negara : Malaysia : Terancam Punah, Penyu Di Kloning
4. Manca Negara : Amerika : Piara Kura-Kura Tidak Aman Bagi Anak
FOTO
1. Spesies : Anggrek Kribo, Dendrobium Spectabile
2. Sungai Wiri di Mamberamo
3. Pertemuan Tim CII Mamberamo Program dengan Gubernur Papua
4. Spesies : Ikan Pelangi (Rainbow fish) Chilatherina alleni
5. Spesies : Katak Hijau, spesies baru dari Papua
PUBLIKASI
1. Publikasi : Enewsletter WWF-Indonesia Program Region Sahul Papua-Edisi I / 2007 Bahasa Indonesia
2. Publikasi : Majalah Tropika Musim Panen (Edisi April-Juni Volume II, No. 2 Tahun 2007 )
3. Publikasi : Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kabupaten Raja Ampat Provinsi Irian Jaya Barat
KONSERVASI, LINGKUNGAN, KAWASAN DAN SUMBER DAYA ALAM DI PAPUA
1. Jakarta : Penjualan Gas Alam Cair Tangguh
2. Sentani : Pabrik Bioetanol Sagu Akan di Bangun
3. Biak : Biak Numfor akan Terima Mesin Pengolah Biji Jarak dari Menteri Kelautan
4. Manokwari : Usai Wisuda, Rimbawan Diberi Benih Pohon
5. Ambon : Pulang Dengan Semangat Mandiri, Masa Belajar Mengolah Sagu Masyarakat Yahukimo Berakhir.
6. Manokwari : Pusat Rusak Hutan, Rakyat Kena Getah
7. Manokwari : LNG Tangguh, Tambang Gas Terbesar ke-3
8. Manokwari : Pengamanan LNG Tangguh Berbasis Masyarakat
9. Nabire : Harga Ikan Naik 15 Persen, Nelayan Gulung Tikar ke Darat
10. Manokwari : Proyek Air Bersih di Perkampungan Pantai Utara, Melongok Program ISP Tangguh LNG 2007.
11. Jayapura : Terkagum-kagum, Sering Dipesan Pilot Sebagai Oleh-oleh (dari usaha ikan asar )
12. Sentani : Danau Sentani, Potensi Sumber Listrik : Gubernur : Ada Rencana Tim Ahli Dari Jepang Lakukan Survey
13. Teminabuan : Alirkan Air Bersih Terbentur Geografis
14. Fak-Fak : Kaimana, Menuju Kawasan Konservasi Laut, Kerusakan di Darat Dengan Illega Loging Jangan Sampai Terjadi di Laut
15. Raja Ampat : Merubah Perilaku Lingkungan di Raja Ampat
16. Manokwari : Taman Nasional Teluk Cenderawasih
17. Jayapura : Muara Tami Cocok Dikembangkan Tanaman Pangan
18. Jayapura : Perusahaan Terbesar Dunia Akan Kelola Kelapa Sawit di Keerom
19. Jayapura : Di Muara Tami, Gubernur Tanam Sagu dan Tabur Bibit Ikan
20. Merauke : Merauke Punya 1,2 Juta Ha Lahan Pertanian Potensial ( Ketika Program Mewujudkan Merauke Sebagai Lumbung Nasional Dipaparkan ( Bagian-3)
21. Merauke : Akan Bangun 3 Titik Pelabuhan Ekspor ((Ketika Program Mewujudkan Merauke Sebagai Lumbung Nasional Dipaparkan ( Bagian-4/Habis).
SPESIES
1. Fak-Fak : Sehari Dapat 50 Kg Telur Ikan Terbang
2. Ambon : Masyarakat Momuna Berguru Sagu di Maluku, Belajar Memotong Hingga Membakarnya
3. Serui : Masyarakat Kampung Sarawandori Panen Perdana Rumput Laut
4. Sentani : Disnak Sikapi Matinya Puluhan Ternak di Yahim Penyebab Kematian Belum Bisa di Pastikan
5. Teminabuan : Budidayakan 334 Kolam Ikan
6. Jayapura : Sediaan Kayu Merbau dan Perdagangannya di Tanah Papua
7. Wamena : Taman Nasional Lorentz “ Perwakilan Terlengkap dari ekosistem di New Guinea.
8. Sorong : Mencari Jejak Penyu Belimbing di Sepanjang Pantai Utara Papua
9. Teminabuan : Kelapa Sawit Diminta Disosialisasikan
10. Spesies : Zodia, Tanaman Pengusir Nyamuk
11. Biak : Dihantam Gelombang, Terumbu Karang di Biak Rusak
12. Jayapura : 92 Ekor Ayam Warga Koya Kena Flu Burung, Hari Ini 600-an Unggas Akan di Musnahkan
HUKUM, KEBIJAKAN DAN PEMBERDAYAAN
1. Merauke : Laut Perlu Diamankan dari Illegal Fishing
2. Biak : 35 Peserta Penas KTNA Biak Numfor Dilepas Menuju Palembang.
3. Jakarta : DPR Diminta Evaluasi Harga Gas Tangguh
4. Biak : Pengembangan Pertanian di Biak Terbentur Modal dan Pemasaran.
5. Jayapura : Pemkot Kirim 19 Petani ke Penas
6. Timika : Disnak Kirim Dua Peternak
7. Biak : Juni, Guskamlaarmatim Tangkap 28 Kapal Ikan.
8. Sorong : Lanal Warning Pembom Ikan
9. Biak : Angin dan Gelombang, Nelayan Dihimbau Tidak Melaut.
10. Manokwari : Masyarakat Adat Imekko Tolak Industri Sagu
11. Jayapura : Pemkot Akan Belajar Masalah Lingkungan di Jepang
12. Sentani : Bupati Habel Terima Penghargaan dari Menteri Pertanian
13. Teminabuan : 20 Pemilik Sensauw Dipanggil
14. Biak : Coremap-LIPI Gelar Kontes Inovator Muda
15. Sorong : Kurangi Melaut, Hasil Tangkapan Turun (Melongok Kehidupan Nelayan di Musim Angin Selatan
16. Fak-Fak : Parit Tersumbat, Pasukan Kuning Beraksi, Kesadaran Warga Buang Sampah Masih Kurang
17. Jayapura : Kelurahan Argapura Galakkan Kebersihan Lingkungan
18. Jayapura : Utusan Pemkot Berangkat ke Jepang
19. Biak : Gunakan Bom Ikan, Nelayan di Supiori Diamankan.
20. Jakarta : Aneh, di Papua Banyak Terdakwa Illegal logging di Vonis Bebas, Wawancara Dengan Menteri Kehutanan M.S Kaban
21. Jayapura : Karantina Hewan Musnahkan 60 Kg Daging Babi, Karena Tidak Disertai Dokumen Lengkap
22. Jayapura : Gubernur Bantu Bibit Ikan Buat Kota Jayapura
23. Serui : Dinas Kelautan Gelar Sosialisasi Pengawasa.n
24. Sarmi : Tinggal 3000 KK Lagi, Dari Target Pemberdayaan Kakao 8000 KK, Sudah Tercapai 5000-an KK.
25. Merauke : PT Dwi Karya Reksa Abadi Datangkan 100 Ton Ikan Campuran, Untuk Memenuhi Kebutuhan Masyarakat Merauke
TIP’S & TRIK’S : Bijak Pilih Bentuk Obat



