(www.kompas.com, 18-05-2010)
JAKARTA, KOMPAS.com — Sebuah ekspedisi ilmiah menemukan sejumlah spesies baru di Pegunungan Foja, di Pulau Guinea Baru, Provinsi Papua. Salah satunya jenis katak baru yang pantas disebut katak Pinokio karena memiliki bagian tubuh memanjang di mukanya.
Spesies baru itu yakni katak (Litoria sp nov) yang diamati memiliki benjolan panjang pada hidung seperti pinokio yang menunjuk ke atas bila ada ajakan dari jenis jantan serta mengempis dan mengarah ke bawah bila aktivitasnya berkurang. Katak ini ditemukan herpetologis, Paulus Oliver, secara kebetulan.
Kepala Komunikasi Conservation International (CI) Elshinta S Marsden di Jakarta, Senin (17/5/2010) malam, mengatakan, katak tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak spesies baru yang ditemukan selama Conservation International’s Rapid Assessment Program (RAP) pada tahun 2008. Ekspedisi ini merupakan kolaborasi ilmuwan dari dalam dan luar negeri, termasuk para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Selain katak pinokio, spesies baru yang ditemukan lainnya, antara lain, tikus besar berbulu, tokek bermata kuning berjari bengkok, merpati kaisar, walabi kerdil (Dorcopsulus sp nov) anggota kanguru terkecil di dunia, serta seekor kanguru pohon berjubah emas yang sudah sangat langka penampakannya, dan sangat terancam keberadaannya karena perburuan dari bagian wilayah Guinea Baru lainnya.
Kejutan terbesar dari ekspedisi itu datang ketika seorang ornitologis, Neville Kemp, melihat sepasang merpati kaisar yang baru ditemukan (Ducula sp nov) dengan bulu-bulu yang terlihat berkarat, agak putih, dan abu-abu. Temuan lainnya yang direkam selama survei RAP itu, antara lain, kelelawar kembang baru (Syconycteris sp nov) yang memakan sari bunga dari hutan hujan, seekor tikus pohon kecil (Pogonomys sp nov), seekor kupu-kupu hitam dan putih (Ideopsis fojana) yang memiliki hubungan dengan jenis kupu-kupu raja pada umumnya, dan semak belukar berbunga yang baru (Ardisia hymenandroides).
"Untuk menentukan temuan tersebut betul-betul terbaru perlu diteliti dulu famili dan habitatnya. Hal itu butuh waktu bertahun-tahun," katanya. Kepastian penemuan itu diungkapkan dalam rangka menandai peringatan Hari Keanekaan Ragam Hayati se-Dunia (International Day for Biological Diversity) pada 22 Mei.
Pada ekspedisi RAP yang didukung The National Geographic Society dan Smithsonian Institution ini, para ahli biologi bertahan menghadapi hujan badai yang lebat dan banjir bandang yang mengancam sambil terus melacak spesies-spesies, mulai dari bukit rendah di Desa Kwerba sampai ke puncaknya pada kisaran 2.200 meter di atas permukaan laut.
Disebutkan juga, Wakil Presiden Regional CI Indonesia Jatna Supriatna, PhD, mengatakan, temuan ini dapat menunjukkan berapa banyak bentuk spesies unik yang hanya hidup di hutan-hutan pegunungan Papua, dan menyadarkan dunia betapa hutan-hutan ini harus dilestarikan.
"Para peneliti LIPI merasa sangat bersyukur turut terlibat dalam pengungkapan keanekaan ragam hayati kawasan Pegunungan Foja, Mamberamo. Adanya kerja sama penelitian ini jelas mendukung program-program konservasi pada kawasan yang memiliki biodiversitas sangat tinggi dan termasuk dalam daftar perlindungan undang-undang RI," kata Ketua Tim Peneliti dari Pusat Penelitian Biologi LIPI Dr Hari Sutrisno.
Sedangkan Gubernur Papua Barnabas Suebu mengingatkan, pihaknya sepakat dan sangat mendukung agar wilayah-wilayah ber-biodiversitas sangat tinggi di Provinsi Papua dipertahankan karena banyak spesies endemik di wilayah ini yang masih terisolasi dan tidak terdapat di belahan dunia lain.
Penulis: WAH
Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua
IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org
19 May 2010
Katak "Pinokio" Spesies Baru dari Papua
21 April 2010
Raja Ampat : Inilah 11 Spesies Baru Biota Laut
(www.kompas.com, 20-04-2010)
JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Alam Indonesia (LIPI), Suharsono, di Jakarta, Senin (19/4/2010), memperkenalkan 11 nama spesies biota laut baru yang ditemukan di perairan Raja Ampat, Kepala Burung Papua Barat.
Kesebelas spesies baru tersebut adalah Hemiscyllium galei, atau hiu berjalan yang tampak seperti hiu kecil dengan warna bentol-bentol seperti tokek yang berjalan di dasar lautan. Ikan tersebut ditemukan oleh peneliti Australia, Allen dan Unmack pada 2008 dan namanya diambil dari nama Jeffrey Gale.
Hemiscyllium henryi, sejenis hiu berjalan yang mirip dengan Hemiscyllium galei namun berbeda bentuk corak dan warnanya dengan H.galei. Hiu berjalan tersebut ditemukan Allen dan Erdmann pada 2008 dan namanya diambil dari nama Wolcott Henry.
Melanotaenia synergos yang ditemukan Allen dan Unmarck pada 2008 yang namanya diambil dari nama Synergos Institute. Corythoichthys benedetto, sejenis kuda laut yang tampak seperti buaya yang sangat ramping. Ditemukan Allen dan Erdmann pada 2008 dan namanya diambil dari nama mantan perdana menteri Italia, Benedetto Craxi.
Pterois andover yang sejenis pterois berwarna merah yang ditemukan Allen dan Erdmann pada 2008 yang namanya diambil dari nama Sindhuchajana Sulistyo. Pseudanthias charlenae, ikan kecil berwarna merah muda cerah yang namanya diambil dari nama Pangeran Monaco, Albert II.
Pictichromus caitlinae sejenis ikan kecil berwarna cerah yang ditemukan Allen, Gill, dan Erdmann pada 2008 yang namanya diambil dari nama Caitlin Elizabeth Samuel, sebagai hadiah ulang tahun Caitlin dari orangtuanya, Kim Samuel Johnson.
Pseudochromus jace ikan kecil unik yang ditemukan Allen, Gill, dan Erdmann pada 2008 yang namanya merupakan singkatan dari nama Jonathan, Alex, Charlie, dan Emily, yang merupakan keempat anak Lisa dan Michael Anderson.
Chrysiptera giti, ikan kecil yang tampak berduri ditemukan oleh Allen dan Erdmann pada 2008 dan namanya diambil dari nama perusahaan yang dimiliki Enki Tan dan Cherie Nursalim, yakni perusahaan GITI.
Paracheilinus nursalim, yang ditemukan Allen dan Erdmann pada 2008 dan namanya diambil dari nama Sjamsul dan Itjih Nursalim.
Pterocaesio monikae diambil dari nama Lady Monica Bacardi
Kesebelas nama spesies tersebut diberikan oleh para pemenang lelang dalam pelelangan "Blue Auction" yang digelar di Monaco. Disampaikan Suharsono, hasil lelang tersebut akan digunakan untuk memajukan ilmu penamaan spesies atau taksonomi di Indonesia. Penemuan spesies baru tersebut merupakan kerjasama LIPI dengan Conservation Internasional.
12 February 2010
Manca Negara : Malaysia : Hidup Bersama Kelelawar
(Majalah TROPIKA, www.conservation.or.id, 10-02-2010)
Oleh: Albert Satyadharma
Cahaya bulan purnama yang terang tidak mampu untuk menerangi jalan yang kami lalui, tertahan oleh dedaunan yang rapat menutupi. Hanya dengan bantuan lampu senter kami dapat menembus gelapnya hutan tropis. Dengan perlahan kami mendaki jalan yang terjal, semakin dekat dengan perangkap yang telah terpasang dari siang hari. Semua berharap agar perjalanan yang melelahkan ini tidak sia-sia, dan apa yang kami tunggu masuk ke dalam perangkap yang telah disiapkan.
Saat itu, kami sedang berada di kawasan cagar alam Krau yang terletak di tengah semenanjung Malaysia. Kawasan ini berupa hutan tropis seluas 60 hektar dan telah berumur lebih dari 30 juta tahun. Saya bersama beberapa teman menjadi sukarelawan selama 13 hari untuk membantu kegiatan para peneliti di sana. Obyek penelitian kami adalah kelelawar. Tujuan dari penelitian ini untuk melestarikan kelelawar dengan memahami bagaimana habitat yang cocok untuk mereka. Penelitian ini sangat penting, bukan hanya bagi kelelawar, juga untuk kita. Karena ternyata kelelawar itu banyak gunanya dalam menjaga keseimbangan alam kita. Nah, baru tahu kan? Saya juga baru tahu setelah mengikuti penelitian ini.Kelelawar yang tertangkap akan didata berdasarkan jenis, berat, dan umurnya. Contoh jaringan sayap juga diambil untuk diteliti labih lanjut DNA-nya. Setiap dua minggu sekali ada beberapa kelelawar yang dipasangi radio pemancar yang sangat kecil, sehingga kita dapat mengetahui daerah jelajahnya.
Persepsi orang mengenai kelelawar kebanyakan negatif. Kelelawar sering dianggap hama dan berbahaya. Malahan ada teman saya dari Mesir yang ikut di penelitian ini mengatakan dia sewaktu kecil di sekolah diajari bahwa kelelawar itu biasanya hinggap di muka dan menghisapnya sampai habis.
Sebenarnya kelelawar tidak lebih berbahaya dari anjing, kucing, kera, sapi, kuda dan hewan lainnya. Hewan-hewan tersebut juga akan menggigit atau menunjukkan sikap bermusuhan bila tidak kenal dengan kita atau merasa terancam. Namun banyak yang belum mengetahui manfaat kelelawar bagi kehidupan kita.
Dari jenis makanannya, kebanyakan kelelawar adalah pemakan serangga. Walaupun ada juga yang memakan buah dan madu, serta hewan-hewan kecil seperti tikus dan ikan.
Kelelawar pemakan serangga dapat menjadi pengendali populasi serangga karena mereka dapat makan ratusan serangga hanya dalam waktu satu jam. Dalam satu malam, berat serangga yang mereka makan dapat mencapai berat tubuh mereka. Satu koloni besar kelelawar dapat menghabiskan beberapa ton serangga hanya dalam waktu semalam! Tentunya ini kabar yang sangat menggembirakan bagi para petani yang harus menghabiskan uang untuk membasmi serangga pengganggu tanaman. Belum lagi nyamuk yang dapat membahayakan keselamatan kita.
Yang menarik dari jenis pemakan serangga ini adalah kemampuan mereka untuk mengidentifikasi benda-benda disekitar, termasuk mangsanya dengan pantulan atau gema suara mereka (echolocation). Suara yang mereka keluarkan bernada sangat tinggi (hypersonic) yang tidak dapat terdengar oleh telinga manusia. Cara ini juga dilakukan oleh lumba-lumba dan paus.
Kelelawar pemakan buah dan madu membantu penyebaran biji dan penyerbukan bunga. Biji dari buah yang dimakan kelelawar akan dibuang di tempat yang jauh dari pohon asalnya. Buah yang dimakan oleh kelelawar hanya buah yang sudah sangat matang. Jadi petani tidak perlu khawatir tanaman buah mereka dihabiskan oleh kelelawar. Karena biasanya petani sudah memetik buah-buahan tersebut sebelum sangat matang. Jadi hanya buah-buahan yang tertinggal di pohon yang akan dimakan.
Penyerbukan bunga terbantu oleh keberadaan kelelawar pemakan madu. Sewaktu mereka memasukkan kepalanya ke dalam kelopak bunga untuk memakan madu, serbuk benang sari bunga tersebut akan menempel di bulu kelelawar dan membuahi bunga berikutnya yang dikunjungi oleh si kelelawar.
Di daerah tropis, ada kira-kira 300 tanaman yang pembuahannya tergantung oleh kelelawar. Banyak buah-buahan tersebut merupakan konsumsi kita sehari-hari. Contohnya, pisang, durian, petai, alpokat, mangga, jambu mede, cengkeh, dan bahkan tequila! Untuk sekedar info, bisnis durian di Asia Tenggara mencapai nilai 120 juta dolar Amerika setahun. Jadi, kelelawar juga memiliki nilai ekonomis.
Diperkirakan, 95% dari regenerasi hutan dilakukan oleh kelelawar jenis pemakan buah dan madu. Apakah ada kelelawar pemakan darah? Memang ada, namun dari 925 jenis kelelawar yang diketahui, hanya ada 3 jenis yang memakan darah. Tapi kita tidak perlu khawatir, karena mereka hanya ada di Amerika Tengah dan Selatan. Dengan giginya yang tajam seperti silet, mereka melukai korbannya yang sedang tidur, kemudian menjilati darah yang menetes dari luka.
Besar tubuh kelelawar juga berbeda-beda. Ada yang cuma 3 cm, ada juga yang mencapai 50 cm. Bahkan ada yang rentang sayapnya mencapai satu meter.
Sarang yang populer untuk kelelawar adalah gua. Ada juga yang tinggal di lubang pada batang pohon, di bawah daun yang besar, atau menggelantung di dahan pohon. Di kota, kita mungkin menjumpai mereka di bawah jembatan, rumah yang kosong, dan tempat-tempat tersembunyi lainnya.
Meskipun tampaknya kelelawar hidup di berbagai tempat, namun sekali mereka beradaptasi dengan lingkungannya, mereka tidak dapat tinggal di tempat lain yang kondisi lingkungannya berbeda. Jadi bila lingkungannya kita usik, kemungkinan besar mereka tidak akan dapat bertahan hidup.
Kelelawar adalah satu-satunya mamalia yang benar-benar dapat terbang. Namun struktur sayapnya berbeda dengan burung. Sayap kelelawar terbentuk dari jari-jari yang memanjang dan dihubungkan dengan selaput tipis.
Penelitian kelelawar telah memberikan sumbangan besar dalam pengembangan sistem navigasi untuk orang buta, pengendalian kelahiran, inseminasi buatan, pembuatan vaksin, pengujian obat-obatan, dan prosedur pembedahan di tempat bersuhu rendah. Bahkan dari jenis kelelawar pemakan darah kini dipelajari kandungan air liurnya yang dapat mencegah penggumpalan darah di jantung.
Kotoran kelelawar juga dapat digunakan sebagai pupuk. Di Amerika, kotoran kelelawar dari satu gua dengan koloni yang besar dapat dijual seharga 6 juta dolar.
Jadi, setelah mengetahui betapa bergunanya kelelawar, saya berharap kita semua dapat menjaga kelestariannya dengan menjaga kelestarian habitatnya, seperti gua dan hutan.
Penulis adalah Assistant Vice President HSBC Indonesia. Perjalanan penulis sepenuhnya disponsori oleh HSBC, bekerja sama dengan Earthwatch Institute.
HSBC telah berada di Indonesia selama 121 tahun dan memiliki lebih dari 9700 cabang dengan lebih dari 110 juta nasabah di seluruh dunia.
Earthwatch Institute adalah organisasi global, bukan pemerintah, yang mendukung penelitian ilmiah dengan menempatkan sukarelawan di lapangan untuk bekerja bersama para ilmuwan.
11 February 2010
Nasional : OSIRIS, Cara Baru Menghitung Kompensasi REDD
(Majalah TROPIKA, www.conservation.or.id)
Oleh: Alex Mac Lennan
OSIRIS merupakan singkatan dari kata Open Source Impacts of REDD Incentives Spreadsheet, yaitu alat yang dikembangkan bersama mitra riset antara Conservation International (CI), the Center for Social and Economic Research on the Environment at the University of East Anglia, Woods Hole Research Center, Environmental Defense Fund, dan Terrestrial Carbon Group. Cara ini dikembangkan untuk membantu PBB dalam menegosiasikan REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Degradation), sebuah mekanisme yang dirancang untuk memberikan kompensasi finansial untuk negara yang mereduksi emisi mereka dengan cara mengurangi dan mencegah penggundulan hutan.
Ilmu Ekonomi dan Program Excel
OSIRIS mampu menganalisis seberapa banyak suatu negara akan memperoleh kompensasi dana dari berbagai mekanisme REDD, dan seberapa banyak emisi karbon yang dapat dikurangi. OSIRIS mampu menghitung nilai-nilai ini berdasarkan kondisi pasar global dan lokal, juga aturan-aturan yang diajukan dalam REDD (yang berfungsi sebagai patokan standar bagi pengurangan karbon dan standar kelayakan peserta) .
Namun tidak seperti kebanyakan model ekonomi atau model perubahan iklim lainnya yang ditulis dalam bahasa program tersembunyi, platform OSIRIS dapat dikenali—dan bisa di-download oleh hampir semua orang. Programnya berbasis Microsoft Excel spreadsheet. Setiap pengguna dapat menentukan nilai untuk menghitung pembayaran REDD, tingkat emisi karbon, atau tingkat deforestasi, dengan hanya mengklik satu sel di Spreadsheet tersebut. Hasil dari kebijakan alternatif REDD, atau skenario pasar yang berbeda, dapat dengan mudah dibandingkan.
Conference of Party (COP) 15, U.N. Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) pada desember mendatang di Copenhagen merupakan alasan besar. Hasil negosiasi yang akan muncul di konferensi tersebut, terutama isu besar hutan tropis akan tetap ada atau justru hilang. Puluhan juta dolar akan mengubah nasib pekerja; dan dampak iklim yang dihasilkan akan berpengaruh pada kehidupan dan ekonomi jutaan manusia—yang kesemuanya didasarkan pada aturan pasar REDD dan desain yang terpilih.
Dihadapkan pada dampak sebesar ini, hampir setiap orang dalam komunitas global merupakan pihak pemangku kepentingan dalam prosesnya. Jadi mungkin setiap orang idealnya berpeluang untuk menganalisis aturan-aturan dan hasilnya.
Mudah diakses
Partisipasi sebesar itu memang merupakan visualisasi Tim Desain OSIRIS. Mereka mengadakan meeting di mana saja, dari sebuah istana di Austria hingga di coffee shop di Washington D.C. OSIRIS merupakan instrumen trerbuka yang mendemokratisasikan ilmu pengetahuan di balik pengembangan kebijakan REDD. Ia tidak hanya mudah diakses, tapi ia juga bisa melakukan perbaikan sendiri. Salah satu manfaat proses open-source adalah setiap orang bisa menyumbangkan saran dan perbaikan. Oleh karena itu, OSIRIS akan terus berkembang karena umpan balik dan saran pengguna diintegrasikan dalam desain program.
Memerangi Perubahan Iklim
OSIRIS berperan dalam menentukan aturan-aturan pasar karbon di Copenhagen; ia juga berpotensi berperan dalam pengembangan aturan-aturan yang lebih rinci, yang akan dinegosiasikan di tahun-tahun berikutnya.
Pekerjaan yang paling penting mungkin akan dimulai ketika aturan-aturan tersebut mulai diimplementasikan di lapangan, negara per negara. OSIRIS kemudian akan diadaptasikan untuk mendukung pengembangan dan implementasi program untuk mengurangi deforestati pada tingkat nasional.
Seperti tulisan Shakespeare yang berpesan kepada semua orang, kebutuhan solusi perubahan iklim juga ditujukan bagi semua orang. Telah ada instrumen untuk membuat orang awam, bukan hanya akademisi, mengerti tulisan Shakespeare; sekarang juga ada instrumen bagi semua orang, bukan hanya ilmuwan atau ahli ekonomi, untuk mempelajari implikasi kebijakan-kebijakan yang mempengaruhi perubahan iklim. Dengan OSIRIS, setiap orang dapat bergabung dalam konversasi. k
Materi tentang OSIRIS dapat diunduh disini: http://www.conservation.org/osiris/Pages/overview.aspx
21 June 2009
Manca Negara : Ekuador : Katak Kaca dari Ekuador
(www.kompas.com, 20-06-2009)
JAKARTA, KOMPAS.com — Para ilmuwan dari organisasi lingkungan hidup Conservation International (CI) dalam penelitian keragaman hayati di Hutan Lindung Nangaritza Ekuador dekat perbatasan Peru menemukan katak kaca atau kristal yang disebut Hyalinobatrachium pellucidum.
Jenis amfibi ini berukuran lebih kecil dari kuku jari dan berkulit transparan sehingga organ dalamnya tampak dari luar. Satwa ini tergolong terancam punah.
Di lokasi yang sama, peneliti dari CI juga menemukan paling tidak 15 fauna dan flora yang tergolong baru bagi khazanah ilmiah.
Di dunia diperkirakan terdapat 14 juta flora-fauna, yang telah teridentifikasi manusia hanya sekitar 1,8 juta.
26 February 2009
Jayapura : Sinode Gelar Lokarya Lingkungan Hidup
(www.papuapos.com, 25-02-2008)
SENTANI(PAPOS)-Badan pekerja Ham Sinode Gereja Kristen Injili(GKI) ditanah Papua, sebagai lembaga gereja yang aktif melihat masalah masyarakat Papua, terlebih khusus dibidang lingkungan hidup menggelar lokarya kesadaran lingkungan hidup di wilayah GKI Klasis Sentani bekerja sama dengan Conservation International Indonesia Program Mamberamo di Aula PPLP Yahim Sentani, Selasa (24/2).
Lokakarya ini dibuka secara resmi oleh perwakilan Sinode Pdt Albert Yoku S,Th. Penangung jawab kegitan lokarya yang juga Kepala bidang Keadilan perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (KPKC), Pdt Dora Balubun S,Th mengatakan kegiatan lokarya kesadaran lingkungan yang dilakukan oleh GKI merupakan amanat Sidang sinode ke-XV di Wamena, yang mengamanatkan kepada Sinode GKI tanah Papua agar dapat memberikan perhatian dalam bidang perdamaian, keadilan keutuhan ciptaan yang didalamanya terdapat lingkungan hidup.
Sebab dari pengamatan sinode GKI ditanah Papua, lingkungan hidup menjadi permasalahan yang cukup serius dialami oleh semua Klasis yang ada di tanah Papua, terutama hutan yang terus menjadi sasaran perambakan oleh oknum-oknum yang tidak bertangung jawab.
Hal ini yang mendorong hingga sinode merasa sangat bertanggung jawab untuk memberikan pemahaman kepada warga Jemaat yang lansung bersentuhan dengan linkungan di tiap klasis dan kegitan ini merupakan kegiatan yang ketiga di tanah Papua. ‘’Kami merasa sangat bertangung jawab untuk masalah lingkungan ditanah Papua,” terangnya.
Lebih jauh diterangkan, dalam pelaksanaan kegitan ini yang dilaukan oleh Sinode juga melibatkan pihak pemerintah setempat yang mengetahui secara jelas tentang kondisi lingkungan hidup. Sementara pihak sinode akan menjelasan kebijakan-kebijakan sinode tentang pengelolahan lingkungan hidup dan pihak lembaga konservasi juga memberikan materi tentang pengelolahan sumberdaya alam, sedangkan untuk dewan adat Sentani diberikan kesempatan juga untuk memberikan batas-batas wilayah adapt. (nabas).
05 February 2009
Jayapura : Bincang-bincang dengan Calon Kepala Kampung Kwerba Distrik Mamberamo Tengah Kabupaten Mamberamo Raya
(CII Mamberamo Program, 04-02-2009)
Cuaca Mendung menyelimuti langit dan sesekali turun Hujan gerimis membuat udara dingin di kantor CII Mamberamo Program Jln. Bhayangkara I No. 5 saat percakapan antara staf CII Program Memberamo dan Calon Kepala Kampung Kwerba Distrik Mamberamo Tengah Kabupaten Mamberamo Raya Bapak Isak Tawane (2/02).
Pertemuan berlangsung dalam suasana santai, Bapa Isak demikian beliau biasanya di sapa, dengan sesekali bersendau gurau bagaikan orang tua dengan anak beliau mulai menyampaikan perihal kedatangannya dari Mamberamo ke Jayapura. Beberapa hal Bapa Isak sampaikan bahwa saat ini Masyarakat di Kampung sedang menunggu kedatangan anak-anak Siay ( CI ) dorang dan Bapa sangat mengharapkan Siay (panggilan CI) datang agar dapat membantu Bapa dalam proses tindak lanjut dari rencana pembangunan di dalam kampung yang telah di susun bersama dengan Siay.
Saat ini ada tukang dan di bantu oleh masyarakat sedang mengerjakan pembangunan beberapa rumah di dalam kampung dengan pembiayaan dari Dana Pemberdayaan dari Pemerintah, dulu kami tidak tahu harus bagaimana menggunakan Dana Pemberdayaan biasanya kalau Dana itu turun kami kumpul rapat dan selanjutnya dana itu dibagikan kepada tiap Kepala Keluarga yang ada di dalam Kampung, namun sekarang kami sudah mengerti karena anak-anak dari Siay membantu kami memberikan pengertian yang baik dan membantu kami dalam penyusunan program rencana kampung dengan dana yang pemerintah kasih kepada kami masyarakat.
Sebagai Calon Kepala kampung Bapa berterima kasih kepada anak-anak Siay sudah membantu kami meringankan kesulitan kami di kampung dengan adanya Radio SSB di Pos Konservasi Kwerba, adanya Perahu Motor Tempel yang dikelola oleh masyarakat sendiri, ada Sensor untuk kami belah Kayu Bangun Rumah juga melatih mama-mama dan perempuan di dalam kampung membuat Abon dan Dendeng yang merupakan suatu pengetahuan keterampilan yang sangat berarti sekali dan ini dapat berguna bagi perekonomian kami, namun yang menjadi halangan kami tidak tahu harus melanjutkannya usaha ini bagaimana, karena kami kesulitan untuk medapatkan bumbu-bumbunya dan juga bagaimana dan di mana kami harus menjualnya.
Bapa ini jadi Calon Kepala Desa/Kampung ini sudah 30 tahun lebih, dari tahun 1974 Bapa ini sudah sebagai Calon Desa sampai saat ini, Kampung Kwerba terdiri dari kurang lebih 64 KK dan kurang lebih 380 Jiwa masih berstatus Desa/Kampung Tradisional dan masuk dalam Desa/Kampung Burumeso Distrik Mamberamo Tengah, Bapa punya Pakaian Dinas ada tapi biasanya Bapa malu pakai karena bapa ini belum sah sebagai Kepala kampung, tahun ini ada rencana pengesahan dan pelantikan Kwerba sebagai Kampung Definitif dan Bapa sebagai Kepala kampung Definitif.
Sementara itu Jance Bemei menjelaskan bahwa CII Mamberamo Program dalam waktu dekat ini akan melaksanakan suatu proses kegiatan antara BPMD Prov. Papua, UNDP dan CII Mamberamo Program guna mengevaluasi Program CII selama beberapa tahun ini di Mamberamo khususnya di Kampung Papasena I dan Papasena II Distrik Mamberamo Hulu dan di Kampung Kwerba Distrik Mamberamo Tengah. Selain itu juga akan ada Kegiatan Pemetaan Partisipatif atau Multidiciplyn Lenscape Assessment ( MLA ) bersama dengan Masyarakat Adat di Kampung Marina Vallen Distrik Mamberamo Tengah.
Staf CII Mamberamo Program yang menjamu kunjungan Calon Kepala Kampung Kwerba Distrik Mamberamo Tengah ini, antara lain Sdr Jance Bemey, Theo Nari, Amson Flasi, Yoseph Watopa, dan Terry Buinei; akhir perbincangan, Bapa Isak yang ramah senyum ini berterima kasih dengan Program CII dalam membantu menjaga Kawasan Hutan Pegunungan Foja sebagai sumber kehidupan untuk masa depan (Disampaikan oleh Jance Bemei, Mamberamo Field Officer, CII Mamberamo Program).
04 February 2009
Video : Berbagi informasi kegiatan di Desa Papasena I dan II, Mamberamo - Papua
Klik disini apabila tidak bisa menampilkan video
Video ini berisikan bincang-bincang tentang kegiatan Tim CII Mamberamo Program di Desa Papasena I dan Papasena II, Mamberamo - Papua, yang dituturkan oleh Amson Flassy selama tahun 2008
Manca Negara : Kolombia : 10 Spesies Amfibi Ditemukan di Kolombia
(www.kompas.com, 03-02-2009)
BOGOTA, SELASA — Ilmuwan mengumumkan penemuan 10 spesies baru amfibi, di antaranya katak berkulit duri, katak oranye hujan, tiga katak beracun, dan tiga katak "kaca" karena kulitnya tembus pandang sehingga organ dalamnya bisa terlihat jelas. Seluruh spesies itu ditemukan di Pegunungan Tacarcuna, wilayah Darien, Kolombia, dalam satu ekspedisi Rapid Assesment Program.
Ekspedisi yang dilaksanakan di perbatasan Kolombia dan Panama itu melibatkan ahli dari berbagai disiplin ilmu, di antaranya ahli reptil dan amfibi (herpetologi) dari Conservation International di Kolombia dan ahli burung (ornithologi) dari Ecotropico Foundation yang didukung komunitas lokal Embera di Eyakera.
Selama tiga pekan ekspedisi itu, para ilmuwan bisa mengidentifikasi sekitar 60 spesies amfibi, 20 reptil, dan hampir 120 jenis burung. Banyak di antara binatang-binatang itu tidak bisa dijumpai di tempat lain di kawasan itu.
Sebagai hasil tambahan ekspedisi ilmiah itu, ditemukan pula satu mamalia besar semisal tapir baird (Tapirus bairdii) yang masuk dalam Daftar Merah IUCN sebagai hewan liar terancam punah di Kolombia dan empat spesies monyet, meliputi monyet laba-laba geoffrey (Ateles geoffroyi), dan tamarin geoffroy alias tamarin bermuka pucat merah (Saguinus geoffroyi).
Selain itu, juga ditemukan kapucin tenggorokan putih alias kapucin dada putih gorgona (Cebus capuchinus) dan monyet mantel besar (Alloutta palliate), dan mereka juga menjumpai satu kelompok pekari bibir putih (Tayassi pecari).
Hal mengejutkan adalah para ilmuwan itu menemukan kehadiran spesies binatang liar yang khas Amerika Tengah di bagian utara Amerika Selatan, meliputi salamander (Bolitoglossa taylori), katak hujan (Pristimantis pirrensis), kadal kecil (Ptychoglossus myersi), dan satu jenis ular yang belum diketahui nama ilmiahnya.
"Satu hal yang kami yakinkan adalah kami pemimpin dalam keragaman alam, tidak saja di wilayah kami, tetapi juga di dunia. Tanpa bantahan, penemuan ini mewakili satu batu penjuru bagi kemanusiaan dan kesehatan," kata Menteri Lingkungan Kolombia Juan Lozano.
Para ilmuwan selama ini menyakini bahwa kehadiran amfibi menjadi indikator penting bagi kesehatan ekosistem. Dengan kulitnya yang porus dan memiliki daya serap tinggi, amfibi sering memberi peringatan awal terhadap degradasi lingkungan yang disebabkan hujan asam atau kontaminasi metal berat dan pestisida. Seluruhnya bisa berdampak pada kualitas kehidupan manusia.
Selain itu, amfibi sangat peka terhadap perubahan cuaca, dengan banyak spesies di antara mereka yang mudah terkena dampak perubahan iklim. "Tanpa bisa dibantah, wilayah ini sungguh adalah bahtera Nabi Nuh. Jumlah besar amfibi yang ditemukan adalah sinyal harapan, sekalipun ada ancaman serius terhadap keberadaan binatang-binatang itu dalam wilayah ini dan juga di dunia," kata Direktur Ilmiah CI Kolombia Jose Vicente Rodriguez-Mahecha.
Wilayah Darien sejauh ini sangat terisolasi dalam wilayah pegunungan Cordilllera de Los Andes. Kalangan ilmiah mengenalinya sebagai pusat endemis binatang liar dan sangat berharga dalam hal keragaman biodiversitas. Dari kajian sejarah, wilayah itu berkedudukan sebagai "jembatan" bagi perubahan flora dan fauna antara belahan utara dan selatan Benua Amerika.
Walaupun lingkupan alamiah wilayah Darien itu relatif tidak terganggu, wilayah itu juga menghadapi banyak ancaman dan sedang mengalami transformasi cepat perubahan bentang alam, terutama karena penebangan kayu terbatas, pembukaan peternakan, pembukaan lahan pertanaman, perburuan, pertambangan, dan fragmentasi habitat.
Diperkirakan antara 25 dan 30 persen vegetasi alamiah di sana telah mengalami deforestasi, terutama di dataran rendah bertanah aluvial.
Mengikuti penemuan ilmiah ini, diharapkan hasil ekspedisi bisa menjadi sumbangan terhadap upaya perlindungan status wilayah dan membantu dalam hal pengumuman wilayah-wilayah dilindungi baru di Pegunungan Tarcuna. Tujuan tambahan lain adalah mendorong inisiatif yang menjamin hak pemilikan lahan bagi komunitas asli Embera di Eyakera.
WAH, Sumber : Antara
02 February 2009
Video : Berbagi informasi kegiatan Tim CII Mamberamo Program di Desa Kay, Mamberamo - Papua
Klik disini apabila tidak bisa menampilkan video
Video ini berisikan bincang-bincang tentang kegiatan Tim CII Mamberamo Program di Desa Kay, Mamberamo - Papua, yang dilakukan oleh Theodorus Nari dan Hugo Yoteni , pada aktifitas komunitas dengan masyarakat dan kegiatan CCA pada tahun 2008
31 January 2009
Mamberamo : Ide Pengembangan Dabra Sebagai Pusat Inisiatif Prakarsa Rakyat
(CII Program Mamberamo, 30-01-2009)
Suasana santai dan senda gurau terlihat saat percakapan diantara staf CII Program Mamberamo dan Kepala Distrik Mamberamo Hulu, Bpk Charles Wikari yang bertandang ke Kantor CII Program Mamberamo di Bhayangkara I Jayapura (14/01).
Pertemuan yang tak direncanakan ini melahirkan pengertian bersama antara Kepala Distrik Mamberamo Hulu dan CII Program Mamberamo mengenai rencana atau inisiatif dilahirkannya pusat pengembangan masyarakat di Ibu Kota Distrik Mamberamo Hulu, Dabra.
Bapak Charles Wikari, anak asli Dabra Mamberamo Hulu ini, mengutarakannya rencananya untuk menindaklanjuti hasil pelatihan CII Program Mamberamo, khususnya hasil pelatihan pembuatan dendeng buaya, ikan yang dipikirkan kualitas produksinya yang berlanjut, serta dipikirkan wadah untuk menampung hasil-hasil alam rakyat melalui wadah Koperasi. Ia menyatakan pendapat cara untuk mendapatkan dana talangan koperasi, yaitu dengan cara koperasi membeli produk rakyat dan dipasarkan. Soal manajemen, ia tegaskan, kalau pusat pengembangan masyarakat Dabra akan bisa direalisasikan, maka praktis pelatihan-pelatihan bagi anggota koperasi akan dilatih, guna peningkatan kapasitas.
Charles yang bertubuh jangkung, dan ramah ini mengatakan, ia akan mencoba memutuskan ketergantungan anggota masyarakat Dabra pada pedagang yang menyediakan barang konsumsi yang harganya melambung tinggi di Mamberamo Hulu. Ini sebuah fakta yang terjadi katanya, yang menyebabkan anggota masyarakat tidak memiliki simpanan dari usaha kelola sumberdaya alam. Ia juga tidak mengabaikan peran pedagang lain di Mamberamo. Inisiatif lain yang telah di lakukan Charles, yaitu melakukan pembicaraan dengan perusahaan penerbangan Merpati untuk kemungkinan Merpati dalam mendukung upaya pengadaan barang kebutuhan pokok yang akan diprakarsai pihak pemerintah distrik Dabra.
Sementara itu, Tommy Wakum dalam menjelaskan CII Program Mamberamo dalam menginisiatif berdirinya Pusat Pengembangan Masyarakat di Dabra ini juga terkait dengan program pemberdayaan kampung yang dicanangkan pemerintah provinsi Papua. Dijelaskan oleh Tommy, hasil-hasil pelatihan yang telah digagasi CII Program Mamberamo beberapa waktu lalu, dapat ditingkatkan melalui pelatihan-pelatihan bagi anggota masyarakat di pusat pengembangan masyarakat di Dabra.
Staf CII Program Mamberamo yang menjamu kunjungan Kepala Distrik Mamberamo Hulu ini, antara lain Sdr Tommy Wakum, Jance Bemei, Theo Nari, dan Terry Buinei; akhir percakapan, Kepala Distrik yang ramah senyum ini berjanji akan membangun pengertian anggota masyarakat untuk secara bersama berpikir atas prakarsa CII program Mamberamo yang mengagasi berdirinya pusat pengembangan masyarakat di Dabra. (Jance Bemei)
15 January 2009
Foto : Kegiatan CCA di Desa Papasena, Mamberamo - Papua
(CII Mamberamo Program, 14-01-2009)
Kegiatan lapangan oleh Tim CII Mamberamo Program dalam rangka pengesahan persetujuan masyarakat adat suku Batero kampung Papasena tentang wilayah adat dan keragaman hayati yang terkandung di dalamnya yang selanjutnya disebut “Aroki Arekapeake” oleh masyarakat adat Batero, Desa Papasena - Mamberamo dalam suatu dokumen Conservation Community Agreement (CCA),
(Foto : Amson Flassy, Mamberamo Field Officer)
14 January 2009
Jayapura : PDAM Jayapura Apresiasi CII Mamberamo Untuk Kampanye Penyelamatan Sumber Daya Air di Wilayah Kabupaten dan Kota Jayapura
Lokasi sumber air PDAM di wilayah Entrop, Jayapurayang sudah sangat menipis daya tampung airnya. (Foto : Irwan Chalid / CI)
(www.konservasipapua.blogspot.com, 13-01-2008)
Dalam audiensi Tim CII program Mamberamo ke Kantor PDAM Jayapura, Senin (5/1) pagi, Direktur PDAM menyatakan apresiasinya kepada CII program Mamberamo yang memprakarsai rencana kampanye public terhadap penyelamatan sumber-sumber air bersih.
Direktur PDAM kepada tim CII memberitahukan bahwa sejak bulan September 2008 hingga awal Januari 2009 tahun ini, oleh keadaan musim kemarau yang panjang, menyebabkan kantong-kantong air tidak memproduksi air bersih yang cukup. Kata Ir Gading Butar-Butar bahwa sejak ia menjabat Direktur Utama PDAM 4 tahun, baru kali ini musim kemarau di Kota Jayapura cukup panjang dan berdampak pada minimnya ketersedian air bersih, sehingga PDAM kurang optimal dalam melayani masyarakat kota Jayapura.
Dikatakan oleh Gading dengan upaya kampanye publik yang digagasi CII program Mamberamo akan sangat membantu PDAM dalam gerakan penyadaran public untuk penyelamatn sumber-sumber air bersih. Dikatakan Gading, salah satu upaya yang dilakukan PDAM, yaitu ditertibkannya jalur pipa distribusi dan sistem meteran, tujuannya agar ada kepastian dalam pelayanan dan dapat dimengerti oleh publik bahwa tanpa pengaturan yang tertib, maka akan lahir ketidaktertiban yang menyebabkan kerugian bagi anggota masyarakat, termasuk sulitnya PDAM melakukan pelayanan yang optimal kepada masyarakat.
Dikatakannya lagi, inisiatif CII program Mamberamo dalam upaya kampanye publik dalam rangka membangun kedasaran penyelamatan sumber-sumber air bersih, akan sangat membantu PDAM dalam upaya yang dilakukan selama ini, yaitu dalam membangun kesadaran publik guna memanfaatkan air bersih lebih bijaksana dan hemat. Hal lain yang tak kalah penting dikatakan oleh Gading bahwa kesadaran pelestarian hutan oleh anggota mayarakat yang bermukim di wilayah kantong-kantong air sangat mendukung ketersediaan air bersih.
Direktur dan Staf PDAM Jayapura bersama tim CII Mamberamo beradadi lokasi sumber air PDAM di wilayah Entrop, Jayapura
(Foto : Irwan Chalid / CI)
Menindaklanjuti audiensi team CII program Mamberamo, maka hari Rabu (7/1) tim CII telah didampingi Direktur PDAM dalam melakukan pengambilan gambar video di sumber air PDAM di wilayah Entrop, dan pengambilan gambar video terhadap pipa transmisi air bersih PDAM di wilayah Kamp Wolker Waena. Pengambilan gambar viedo ini nantinya akan digarap tim CII guna menjadi materi kampanye dalam waktu dekat ini, yaitu berupa materi kampanye untuk spot iklan televisi lokal. (TAW)
12 December 2008
Video : Tupai jenis baru dari pegunungan Foja, Mamberamo - Papua
Mamalia baru itu adalah binatang sejenis tupai, Pygmy possum Cercatetus, dan tikus raksasa, Mallomys. Kedua jenis hewan itu ditemukan oleh gabungan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Conservation International (CI) saat menjelajah wilayah tersebut pada Juni 2007 lalu. Pada ekspedisi pertama yang dilakukan akhir tahun 2005 silam, para ilmuwan terkejut saat menemukan puluhan jenis satwa yang baru bagi dunia ilmu pengetahuan dan juga kenakearagaman hayati yang sangat kaya di papua.
Saat ditemukan, hewan tersebut tidak takut kepada manusia bahkan seringkali mengunjungi perkemahan yang didirikan para peneliti. Sedangkan sang tupai, Possum, layak disebut marsupial (hewan berkantung) terkecil di dunia karena ukurannya yang cukup digenggam tangan. Begitu jinaknya, hewan pengerat itu meloncat dan dengan tenangnya dan berjalan-jalan di lengan dan kamera yang dibawa sang kameramen ekspedisi tersebut.
Penemuan mamalia baru seperti ini termasuk jarang sekali mengingat sebagian besar telah terdokumentasi. Foja adalah bagian dari lembah sungai Mamberamo, hutan tropis terbesar di Asia-Pasifik yang belum terjamah. Pemerintah Indonesia telah menyatakan wilayah itu sebagai suaka margasatwa. (info selengkapnya baca disini)
11 December 2008
Foto : Mambruk, burung bermahkota cantik jelita
Orang mancanegara menyebutnya sebagai crowned pigeon alias merpati bermahkota. Sebab memang bentuk tubuhnya mirip merpati tapi kepalanya dihiasi mahkota indah. Mahkota ini mirip dengan bulu hiasan pada ekor burung merak. Sedangkan nama Latinnya adalah Goura victoria. Sepasang burung Mambruk ini adalah berasal dari daerah pegunungan Foja - Mamberamo, Papua. (Foto : Nev Kemp / Conservation International)
03 December 2008
Nasional : Ditemukan, 5 Spesies Ikan Baru di Nusa Penida

(www.kompas.com, 02-12-2008)
DENPASAR, SELASA - Para ahli dari Conservation International Indonesia menemukan lima spesies ikan baru di perairan sekitar Pulau Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali.
Kelima spesies itu adalah Chromis sp, Priolepis 33 sp, Priolepis 11 sp, Pseudochromis sp, dan Trimma sp. Penemuan ini memperkaya sekitar 550 spesies ikan karang yang telah teridentifikasi sebelumnya, termasuk spesies campuran dari Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.
Direktur Marine Program Conservation International Indonesia Ketut Sarjana Putra mengatakan, pihaknya yakin kelima ikan itu termasuk spesies baru. Namun, pihaknya tetap menghubungi museum internasional dan beberapa organisasi internasional untuk memastikan.
”Kami berharap pemerintah daerah menjaga dan mengajak masyarakat untuk memelihara perairan di sekitar Nusa Penida, apalagi potensinya sangat besar untuk biota kelautan,” kata Ketut di Denpasar, Senin (1/12).
Chromis sp yang ditemukan memiliki warna oranye dengan ekor putih, panjang sekitar 12 cm, dan berasal dari famili demsel. Ikan tersebut pemakan plankton dan hidup secara berkelompok di kedalaman 20-50 meter.
Tiga jenis ikan lain, Priolepis 33 sp, Priolepis 11 sp, dan Trimma sp, masuk kelompok gobi dengan ukuran sekitar 3,5 cm. Ikan ini hidup di kedalaman mulai dari 50 meter. Ikan Pseudochromis sp termasuk dalam famili dottyback. Habitatnya di perairan arus kuat kedalaman 25-60 meter. Warna badannya coklat kemerahan serta ada garis kuning dan biru di bawah kelopak mata.
Temuan itu dihasilkan dari penelitian Nusa Penida Marine Rapid Assessement Program selama 10 hari, 20-30 November. Penelitian melibatkan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Kementerian Negara Riset dan Teknologi, SEACORM, Yayasan Bahtera Nusantara, Universitas Udayana, dan Universitas Warmadewa.
Gerry Allen yang dikenal sebagai ahli ikan kelas dunia juga terlibat dalam penelitian itu. Rapid menyimpulkan, 60 persen terumbu karang Nusa Penida masih tumbuh dengan baik. Saat ini tercatat ada 260 spesies dari 800 spesies di dunia. (AYS)
Sumber : Kompas Cetak
30 November 2008
Foto : KKLD Kaimana
Foto udara Konservasi Kawasan Laut Daerah Kaimana.Foto kiriman: Kusdiantoro, Sumber :http://foto.detik.com
28 November 2008
Foto : KKLD Kaimana Diresmikan
(http://foto.detik.com, 27-11-2008)
Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numbery didampingi Bupati Kaimana Drs Hasan Achmad, M.Si dan Direktur Konservasi Laut Ditjen KP3K meresmikan KKLD Kaimana di Provinsi Papua Barat.
Foto kiriman: Kusdiantoro
27 November 2008
Kaimana : Masyarakat Adat Kaimana Relakan Lautnya Untuk Konservasi
(www.tvone.co.id, 26-11-2008)
Warga masyarakat di delapan suku besar dalam wilayah Kabupaten Kaimana merelakan hak ulayat adatnya seluas 579.747 hektar untuk dijadikan pengembangan kawasan konservasi laut daerah di wilayah tersebut.
Pengembangan kawasan konservasi laut daerah tersebut dibangun atas kerjasama pemerintah daerah Kaimana dengan Conservation International Indonesia (CII). Kawasan konservasi yang diluncurkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi Senin kemarin, adalah kawasan laut yang berpotensi sebagai bank ikan di Indonesia. Selain itu, kawasan ini berpotensi sebangai kawasan konservasi laut terbesar di dunia.
Kawasan yang terletak di selatan Provinsi Papua Barat ini adalah salah satu kawasan yang memiliki biomassa ikan tertinggi di Asia Tenggara sebanyak 228 ikan per kilometer persegi, dengan 959 jenis ikan karang, 471 jenis karang serta 28 jenis udang mantis.
Freddy juga mengingatkan, agar pengembangan kawasan ini dikelola dengan prinsip-prinsip ramah lingkungan namun tetap membuka akses bagi nelayan lokal dalam pemanfaatannya secara berkelanjutan.
Disinggung soal sambutan positif masyarakat adat yang merelakan hak ulayatnya bagi kepentingan konservasi, menurut Freddy kebijakan memang dibangun dengan menghormati hak-hak masyarakat adat.
26 November 2008
Foto : Ikan Sembilang dari Desa Kay, Mamberamo - Papua
Ikan Sembilang dari sungai Mamberamo ini jumlahnya melimpah ruah, oleh masyarakat desa Kay bersama-sama Conservation International Indonesia - Mamberamo Program menjadikan ikan ini produk makanan jenis Abon Ikan Sembilang (sumber : CII - Mamberamo Program)