Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua

Cari Informasi/Berita/Tulisan/Artikel di Blog IKP

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org

22 June 2007

Sentani : Proyek Kebun Bibit Kakao Maribu, Dibatalkan

(www.papuapos.com, Kamis 21 Juni 2007)
Kendati proyek-proyek pembangunan pemerintah Kabupaten Jayapura tahun 2007 ini, belum semuanya berjalan di lapangan, namun terkesan ada proyek yang sudah dipaksakan berjalan. Proyek yang dikategorikan proyek fiktif ini ditemukan pada satuan kerja pemerintah daerah (SKPD) Dinas Perkebunan Kabupaten Jayapura, yakni proyek pembuatan sarana kebun bibit di Maribu yang fokusnya untuk pembibitan Kakao.

Dugaan proyek fiktif ini dilaksanakan tidak sesuai dengan aturan yang ada, dimana proyeknya tidak melalui proses pelelangan tender, pembentukan panitia dan prosedur lainnya, namun sudah dikerjakan.Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Jayapura Ir. Tasrief Thayeb, yang dihubungi wartawan mengakui kalau pihaknya sudah mendapatkan perintah dari Bupati Jayapura, Habel Melkias Suwae, S. Sos, MM untuk membatalkan pengerjaan proyek tersebut."Ya, kami sudah mendapat perintah dari Bupati untuk membatalkan proyek ini, dan selanjutnya kita sudah koordinasi dengan pihak pemimpin kegiatan atau kontraktor proyek tersebut,"imbuhnya.

Menurutnya, proyek pembuatan pembibitan kakao ini dibiayai dari anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) sebasar Rp 1,37 miliar, yang dalam pelaksanaannya harusnya diklasifikasikan menjadi 8 lelang tender proyek secara keseluruhan dan ditangani oleh beberapa kontraktor.Lanjut dia dari beberapa kegiatan tersebut, lainnya sudah berjalan sesuai dengan mekanisme pelelangan proyek dan semuanya ditangani oleh pihak ketiga, namun ada kontraktor yang menangani bagian pembuatan jalan dan drainase saat ini sedang berjalan tanpa melalui prosedur yang sebenarnya.

"Dalam pembuatan kebun pembibitan ini, ada beberapa kegiatan yang ditangani oleh pihak ketiga, masing-masing sudah ajukan tender dan prosedur proyek yang wajar, namun kontraktor yang menangani bagian pembuatan jalan dan drainase yang sebelumnya tidak melalui prosedur seperti pelelangan, pembentukan panitia tiba – tiba sudah berjalan dan saat ini sedang berlangsung, sehingga kami diperintahkan untuk memberhentikan proyek tersebut," tukasnya, kemarin.Indikasi pelaksanaan proyek yang ditangani oleh kontraktor yang bersangkutan, berdasarkan SPK yang diberikan oleh PLH Kabupaten Jayapura, sementara semua proyek pembangunan berjalan setelah pelantikan pejabat eselon II dan III di lingkungan pemerintah Kabupaten Jayapura, sehingga hal tersebut dinilai tidak sesuai mekanisme yang berlaku.**

Biak : Disnak Biak Awasi Kapal dari Jayapura

(Cenderawasih Pos, 21 Juni 2007)
Terkait dengan munculnya kembali kasus dugaan flu burung di wilayah Kota Jayapura, Satgas Flu Burung Dinas Peternakan Kabupaten Biak Numfor meningkatkan pengawasan terhadap kapal yang berlayar dari arah Jayapura. Hal itu menurut Kepala Dinas Peternakan Biak Numfor Absalom Rumkorem, S.Pt, MM dilakukan untuk mencegah masuknya virus flu burung ke wilayah Kabupaten Biak Numfor.

Pengawasan terhadap kapal yang sandar di Pelabuhan Biak, kata Absalom rumkorem selama ini hanya difokuskan pada kapal-kapal yang berlayar dari arah barat. Namun dengan adanya kasus dugaan flu burung di wilayah Kota Jayapura, pengawasan terhadap kapal baik itu kapal putih dan kapal perintis yang tiba dari Jayapura akan mendapat perhatian.

“Pemasukan unggas atau daging dari Jayapura selama ini belum pernah ditemukan. Tetapi kita harus mewaspadai masuknya daging atau telur ayam yang telah kita tolak di atas kapal sengaja dilarikan ke Jayapura kemudian dibawa kembali dari arah Jayapura. Sehingga pengawasan terhadap kapal yang masuk baik dari arah barat maupun timur tetap kita lakukan,”ujarnya.

Dalam melakukan pengawasan di pelabuhan, Dinas Peternakan bekerjasama dengan Karantina Hewan dan KP3 Laut selaku instansi teknis yang memiliki kewenangan di wilayah pelabuhan. Dalam melakukan pengawasan, selain memeriksa kelengkapan dokumen, juga dilakukan pemeriksaan secara fisik terhadap barang juga dilakukan.

Disinggung tentang kemungkinan adanya laporan kasus dugaan flu burung, Absalom Rumkorem mengatakan, sampai saat ini Dinas Peternakan belum menerima adanya laporan dari masyarakat terkait dengan adanya ayam atau unggas yang mati mendadak. “Meskipun demikian kewaspadaan terhadap masuknya virus flu burung perlu senantiasa mendapat perhatian masyarakat,” jelasnya.(nat

Jayapura : Forum Kemitraan Lingkungan Hidup Digalakkan

(Cenderawasi Pos, 21 Juni 2007)
JAYAPURA-Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Provinsi Papua nampaknya menyadari penuh perlunya keterlibatan semua pihak dalam pengendalian dan pencegahan kerusakan lingkungan. Karena itu, Forum Kemitraan Lingkungan Hidup yang telah terbentuk akan kembali digalakkan.


"Saya telah melakukan pertemuan dengan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk membicarakan tentang pengendalian kerusakan lingkungan," kata Kepala Bapedalda Provinsi Papua Drs Wiro Yosep Watken kepada Cenderawasih Pos saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (20/6) kemarin.

Dikatakan, forum kerja sama itu sebenarnya sudah berjalan, namun perlu ditingkatkan lagi sehingga memberikan hasil yang nyata, mengingat tingkat kerusakan lingkungan makin parah. Karena itu, dia menilai keterlibatan semua instansi teknis terkait seperti LSM, perguruan tinggi dan tokoh masyarakat atau adat sangat penting.

Dalam forum kerja sama ini, lanjut Watken, pihaknya akan melihat berbagai aspek lalu ditindaklanjuti dalam bentuk kerja sama sesuai dengan peran instansi terkait masing-masing. Dari aspek itu akan dicari suatu pola yang tepat dalam melakukan pengendalian atau pencegahan.

"Instansi atau komponen yang ada dalam forum ini tentunya memiliki peran yang berbeda, untuk itu peran tersebut perlu dipadukan untuk mencapai satu tujuan," tandasnya.(ito).

21 June 2007

Tips & Trik : Teh Campur Susu, Nikmat Tapi Kurang Sehat

( Kompas, Selasa 09 Januari 2007 )
Secangkir teh dicampur susu memang nikmat, apalagi disajikan panas-panas. Tapi tunggu dulu, meski nikmat namun campuran susu dalam segelas teh bisa menghalangi manfaat teh untuk menjaga kesehatan jantung. Mengapa begitu?

Berbagai penelitian telah membuktikan minum secangkir teh hitam bisa membuat syaraf lebih rileks dan menjaga tekanan darah tetap normal.

Namun, manfaat teh hitam tersebut akan terhalang oleh caseins, protein yang terdapat dalam susu, jika dicampurkan. Demikian seperti dilaporkan tim peneliti asal Jerman dalam European Heart Journal.

Tim peneliti melakukan riset untuk melihat manfaat teh terhadap 16 manusia dan jaringan pada tikus. Menurut tim peneliti, molekul dalam teh yang disebut catheins, akan memperlebar pembuluh darah dengan memproduksi senyawa kimia yang disebut nitric oxide. Nah, caseins yang berasal dari susu akan menghalangi manfaat tersebut dengan cara mengurangi konsentrasi catheins.

Hasil penelitian tersebut mendapat berbagai tanggapan, salah satunya dari anggota British Heart Foundation (BHF), June Davison yang mengatakan bahwa menjaga kesehatan jantung bisa dilakukan dengan banyak cara lain yang efeknya lebih besar, seperti tidak merokok serta menjaga pola makan yang sehat. Ia juga mengkritik sedikitnya responden dalam penelitian tersebut belum bisa membuktikan dampak dari sedikit campuran susu pada secangkir teh.

Namun anggota peneliti menyebutkan bahwa riset ini sangat kompleks, karenanya baru bisa dilakukan pengujian pada sedikit responden. Pihak yang kontra dengan hasil riset tersebut menyebutkan bahwa teh adalah minuman yang sangat menyehatkan dan mengandung 200 zat bioaktif, sehingga sedikit campuran susu tidak akan mengurangi manfaat zat-zat tersebut. Lagipula menurut mereka, tambahan susu bisa meningkatkan asupan kalsium.

Biak : Disnak Biak Perketat Pengawasan, Terkait Kembali Maraknya Kasus Flu Burung diLuar Papua

( Cenderawasih Pos, Jumat 19 Januari 2007 )
Maraknya kembali kasus flu burung di beberapa daerah di Pulau Jawa, mendorong Dinas Peternakan (Disnak) Kabupaten Biak Numfor lebih memperketat pengawasan peredaran unggas serta produk-produk unggas lainnya dari luar daerah.

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Biak Numfor Absalom Rumkorem, S.Pt, MM, mengatakan, untuk mengantisipasi masuknya virus flu burung ke Kabupaten Biak Numfor, pengawasan di pintu masuk seperti pelabuhan dan Bandar udara semakin diperketat.

"Satgas yang telah kita bentuk tetap kita aktifkan untuk melakukan pengawasan di wilayah pabean bekerjasama dengan isntansi terkait lainnya seperti karantina. Dalam melakukan pengawasan tersebut kita tetap berpedoman pada SK Gubemur Nomor 158 Tahun 2004 mengenai larangan pemasukan unggas dan produk unggas lainnya,”ungkapnya saat menghadiri pencanangan penanaman sejuta pohon jarak di Biak Barat.

Selain melakukan pengawasan di wilayah pelabuhan dan Bandar udara, pemantauan di lapangan khususnya pada ternak unggas milik masyarakat tetap diintensifkan. Meskipun saat ini usaha peternakan berskala besar belum ada di Kabupaten Biak Numfor, namun pengawasan peternakan masyarakat yang bersifat usaha keluarga kata Absalom tetap dilakukan."Kedepan mungkin kita akan memprogramkan penyemprotan disinfektan untuk mengantisipasi penularan virus flu burung,"tambahnya.

Saat disinggung tentang temuan kasus yang berkaitan dengan flu burung, Absalom mengatakan sampai saat ini Dinas Peternakan belum menemukan adanya kasus yang berkaitan dengan flu burung seperti unggas yang mati mendadak.

Meskipun demikian, Absalom meminta agar masyarakat lebih tanggap terhadap munculnya gejala-gejala yang mengarah kepada flu burung dan segera melaporkannya untuk dilakukan upaya penanganan sedini mungkin. (nat)

Jayapura : Penyaluran Bantuan Ternak Sapi Dipersiapkan

( Cenderawasih Pos, Kamis 14 Desember 2006 )
Bantuan ternak sapi dari Kementrian Koperasi bagi masyarakat Kabupaten Jayapura yang berjumlah 200 ekor, yang rencananya mekanisme penyalurannya akan dilakukan melalui dua koperasi, kini mulai dipersiapkan. Pengadaan ternak sapi Peranakan Ongole (PO), saat ini mulai ditawarkan kepada para pengusaha di bidang peternakan.

Kepala Dinas Perindagkop Kabupaten Jayapura Drs Samuel Padollo, MM mengatakan, dua koperasi ternak yang ditetapkan sebagai penyalur ternak bantuan tersebut, yakni Koperasi Ternak Anugerah di Kemtuk dan Koperasi Ternak Naung di Nimboran.

"Proses pengadaan ternak sapi ini sudah dimulai, masing-masing ketua dari dua koperasi itu sudah melakukan pengumuman bagi para pengusaha bidang ternak yang berminat untuk pengadaan ternak ini,"tutur Samuel Padollo, Senin kemarin.

"Kepada para pengusaha di Kabupaten Jayapura dalam bidang pengadaan bibit ternak sapi Peranakan Onggole (PO) agar yang berminat dapat memasukkan perkenalan kepada pengurus kedua koperasi ternak tersebut,"tutur Padollo sebagaimana surat tembusan pengumuman lelang yang disampaikan pengurus dua koperasi tersebut.

Sesuai mekanisme yang ada di Kabupaten Jayapura maka bantuan ternak sapi dari kementrian koperasi ini menurut Padollo diharapkan, dilakukan perguliran kepada peternak sapi yang lain. Oleh karena itu, keterlibatan koperasi dalam penyaluran bantuan ternak ini, juga merupakan upaya pemberdayaan dan pembinaan koperasi. "Kita berharap melalui kegiatan koperasi ini,usaha ternak khususnya produksi ternak sapi di wilayah Kabupaten Jayapura dapat terus meningkat,"tambahnya.(tri)

Jayapura : Tiga Kabupaten Jadi Wilayah Percobaan Untuk Demonstrasi Pupuk Saputra Nutriens

(Cenderawasih Pos, 20 Juni 2007)
JAYAPURA-Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Papua, Ir. Leo Rumbarar, mengatakan, untuk tahun anggaran 2007 ini, pihaknya menjadikan tiga kabupaten sebagai wilayah percobaan/demonstrasi pupukSaputra Nutriens.Tiga kabuten tersebut, diantaranya, Kabupaten Biak, Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Mimika. Ketiga wilayah bersangkutan, masing-masing akan mengembangkan pupuk tersebut diatas lahan seluas 10 hektar.


“Tahun ini, kami programkan untuk mulai melakukan uji coba pupuk tersebut pada tiga wilayah itu. Kami sudah lakukan MoU dengan pihak Saputra untuk percobaan pupuk ini,” ujarnya kepada Cenderawasih Pos,KM. Papua Empat, disela-sela Turkam bersama Gubenur Suebu Minggu, (17/6) kemarin.Untuk mendukung program tersebut, pihaknya telah menyiapkan dana Rp 400 juta bagi ketiga kabupaten itu.

Alasan pihaknya memilih ketiga kabupaten tersebut, tidak lain adalah ketiga wilayah itu memilikikarakteristik dan struktur tanah yang mewakili kabupaten/kota lainnya, seperti lahan kering dan lahan basah/subur.Untuk Kabupaten Biak dikembangkan tanaman kacang panjang, dan sayuran kol. Kabupaten Jayawijaya, dikembangkan tanaman sayuran dan juga umbi-umbian, sementara Kabupaten Mimika, khusus dikembangkan tanaman sayur-sayuran.Dikatakannya, andaikan percobaan pupuk bersangkutan hasilnya bagus pada tanaman-tanaman yang dijadikan uji coba itu, maka pada 2008 mendatang, pihaknya memprogram untuk seluruh wilayah pedesaan, terutamadesa pertanian dan peternakan di tanah Papua ini.

Sementara itu, pada kegiatan turun kampung (Turkam) Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, SH, sejak 4 Juni 2007 lalu, hingga kini, ada sejumlah permasalahan yang ditemui baik dilapangan maupun acara dialog antara gubernur, kepala dinas/badan/kantor danmasyarakat, salah satunya masalah pertanian.Dan bertolak dari permasalahan tersebut, PemerintahProvinsi Papua, mengembangkan sekaligus mencanangkan program tanaman pertanian terpadu.Program tanaman pertanian terpadu tersebut meliputi kegiatan pertanian sendiri, peternakan serta kegiatan perlindungan konservasi hutan. Dalam kegiatan pertanian terpadu itu, tanaman yang dikembangkanadalah sayuran-sayuran, umbi-umbian dan buah. (nls)

Mimika : Pascabanjir, 11 Sumur Air Mengering

(Cenderawasi Pos, 20 Juni 2007)
MIMIKA - Banjir yang melanda Kota Timika dan sekitarnya Jumat pekan lalu, tidak saja merendam sejumlah rumah dan merusak harta benda. Dampak lain pascabanjir yakni, membuat puluhan warga di dua kampung yakni, Kebun Siri dan Goronggorong, Distrik Mimika Baru kekurangan air bersih.Data yang berhasil di himpun Radar Timika (group Cenderawasih Pos), Selasa (19/6) dilaporkan sudah 11 sumur air mengering, semantara yang lain, debetnya airnya menipis.

Lukas Sinmiansa, warga Kebun Siri menuturkan, pengurangan debit air sumur warga sudah terjadi sejak, Jumat (15/6). Ketinggian air diperkirakan hanya mencapai 30 Cm, bila dihitung dari dasar sumur. Padahal sebelum banjir, debit air sangat besar yakni mencapai sekitar dua hingga tiga meter.“Sekarang kalau timba air sangat susah dan harus sabar menunggu. Itupun air yang bisa ditampung tidak banyak, yah hanya untuk masak dan cuci saja,”ujar Lukas yang berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah di Timika.

Ny. Ani Wakum warga lainnya menyampaikan, sumur miliknya sama sekali kehabisan air. Untuk memenuhi kebutuhan seperti mandi dan mencuci terpaksa dilakukan di bendungan. Sedangkan untuk air minum dan membersihkan peralatan dapur menggunakan air gallon. “Kami ibu-ibu dalam tiga hari ini kalang kabut. Bagaimana tidak sumur tidak air lagi. Kami terpaksa menampung air hujan untuk memasak. Untuk cuci terpaksa di bendungan, “ujar Ny. Ati, warga lainnya.Pantauan wartawan Koran ini kemarin, kondisi yang sama tidak saja dialami warga Kebun Siri dan Goronggorong, tetapi juga warga di sekitar Bambu Kuning, kompleks Biak, kompleks Manado dan Kampung Pisang. “Kami di sini (Kampung Pisang-Red) terpaksa ke kali untuk kebutuhan MCK (mandi, cuci, kakus),”kata Melkias Awom. (krg)

20 June 2007

Jayapura : Giliran di Kotaraja Ditemukan Flu Burung

(Cenderawasih Pos, 19 Juni 2007)
* 30 Ekor Ayam Warga Mati Berturut-turut
JAYAPURA-Kasus flu burung atau yang dikenal dengan nama virus Avian Influenza (AI) kembali ditemukan. Jika beberapa waktu lalu merebak di daerah Dok-IX Jayapura dan di Kabupaten Jayapura (Sentani), maka kasus tersebut kini giliran ditemukan di daerah Cigombong Kotaraja, tepatnya di rumah warga samping SD Kotaraja.

Setidaknya 30 ayam milik warga dinyatakan mati, secara berturut-turut sejak minggu lalu, dengan gejala-gejala mirip flu burung. Antara lain, ditemukan keluar lendir, kaki ada bercak-bercak merah, dan jenger beberapa ayam berwarana biru keungu-unguan. Dengan gejala-gejala itu, sehingga ayam-ayam tersebut, diduga karena terserang flu burung.

Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, Senin siang kemarin sekitar pukul 11.30 WIT petugas Dinas Kesehatan Kota Jayapura, Dinas Peternakan Provinsi Papua, dan pihak Dinas Pertanian Kota Jayapura mendatangi tempat kejadian.

Setelah berada di tempat kejadian, pihak petugas yang terdiri dari dua dokter hewan, yakni drh, M Nadeak dan drh,Nyoman, langsung mengambil sampel berupa kotoran unggas tersebut dari 4 ekor ayam yang sudah mati. Hasilnya, dari pemeriksaan cepat yang dilakukan oleh dua dokter hewan tersebut, ternyata ada dua uanggas diduga kuat terserang penyakit flu burung, sementara 2 ayam tidak terbukti.

Namun untuk lebih memastikan hal itu, hasil dari kotoran ayam tersebut akan dikirim ke Balai Besar Veteriner (BBV) Maros Makassar, dan hasilnya akan diterima sekitar 2 minggu mendatang.

Kronologi penemuan
Asal mula ditemukannya kasus tersebut berawal ketika seorang warga bernama Kanus Pasallik, warga Samping SD Kotaraja, mendapatkan satu unggasnya mati tepatnya Senin (18/6), sekitar pukul 07.30 WIT pagi hari kemarin. Namun sebelum ayam tersebut mati, satu hari sebelum kejadian yakni Minggu (17/6), 4 ayamnya juga telah mati, sehingga saat melihat 1 ayamnya tersebut telah mati lagi, dirinya langsung curiga ayamnya terserang kasus flu burung, karena itu dirinya melaporkan ke Puskesmas Kotaraja. "Ayam saya dua hari ini, berturut-turut mati, totalnya berjumlah 5 ayam, sehingga saya langsung melaporkan ke puskesmas Kotaraja, takut terjadi apa-apa,"jelasnya.

Hal yang sama juga dialami seorang tentangganya, yakni Ibu Kusna, dimana ayamnya kurang lebih 25 ekor telah mati berturut-turut sejak minggu lalu, yakni Rabu (13/6). Ayam tersebut semuanya sudah dimusnahkan dengan cara dikubur sendiri, sedangkan 5 ayam kambali lagi mati Senin (18/6) subuh kemarin, dengan demikian total ayam yang mati di daerah tersebut berjumlah 30 ayam (data sementara dari Dinkes Kota Jayapura).

" Ayam saya sejak minggu lalu sudah mati secara berturut-turut, pikir saya hanya karena racun atau sakit biasa, sehingga saya langsung kubur saja di belakang rumah saya, ternyata setelah petugas turun dan memeriksa beberapa ekor ayam dari tetangga saya, ternyata ada dugaan kuat terserang penyakit flu burung, sehingga saya juga takut ayam saya terserang penyakit flu burung,"jelasnya.

Hasil Pemeriksaan sementara
Sementara itu menurut dokter hewan dari Dinas Peternakan Provinsi Papua, drh, M Nadeak, pihaknya sudah memeriksa kotoran dari 2 ayam, ternyata dari uji cepat tesebut menunjukkan ayam-ayam tersebut terserang penyakit flu burung, namun sebagai bahan perbandingan untuk pemeriksaan lebih lanjut di BBV Maros, pihaknya juga sudah mengambil kotoran dari 2 ayam yang lain. Sampel itu rencananya akan dikirim bersama-sama dengan 2 ayam peratam yang sudah diperiksa kotorannya, untuk diperiksa di BBV Maros.

" Kami sudah lakukan uji cepat terhadap kotoran dari 2 ekor ayam, yang telah mati, ternyata hasil tes menunjukkan gejala-gejala kuat ayam-ayam tersebut mati karena terserang penyakit flu burung,"tambahnya.

Lebih jauh diterangkan, pihaknya juga akan berkordinasi dahulu dengan Kepala Dinas Peternakan Provinsi untuk meminta pesetujuannya, guna mengirim hasil kotoran hewan yang mati tersebut, untuk dilakukan pemeriksaan di Maros.

Sedangkan Kasubdin P2M Dinas Kesehatan Kota Jayapura,Ny, Petronela Anitu Basik-Basik,SKM, yang juga langsung turun ke TKP, menyarankan agar warga di sekitar TKP harus berhati-hati dan lebih waspada, jika ada warga dicurigai terserang flu burung dengan ciri-ciri deman tinggi yang tidak turun-turun sampai 38 C serta sakit tenggorokan, batuk, nyeri otot, sakit kepala dan infeksi pada mata agar segera melapor ke Dinas Kesehatan Kota Jayapura, atau ke Puskesmas terdekat guna mendapatkan pertolonga. Untuk pertolongan kepada warga tersebut tidak dipungut biaya.

"Untuk bisa menghindari virus ini menyebar dari ayam ke manusia, saya himbau agar warga lebih berhati-hati. Sedangkan untuk mereka yang peternak saat kontak lansung dengan unggasnya, saya sarankan agar mempergunakan masker dan sarung tangan," ajaknya.Setelah dilakukan pengambilan sampel dari ayam-ayam tersebut, petugas bersama dengan warga setempat, langsung mengumpulkan bangkai ayam-ayam tersebut dalam 1 lobang, dan selanjutnya membakarnya. Sedangkan petugas yang lain, melakukan penyemprotan desinfektan di kandang-kandang milik warga setempat, serta di sekitar halaman rumah milik warga. Penyemprotan itu dilakukan sebagai upaya mengantisipasi menularnya kasus tersebut.(cak)

Sentani : Dampak Larangan Produksi Kayu Mulai Terasa

(www.papuapos.com, Selasa 19 Juni 2007)
Memasuki dua bulan aksi mogok kerja yang dilakukan para pengusaha kayu lokal Papua, akibat tidak ada kejelasan aturan atau payung hukum pengelolaan kayu lokal.

Kini masyarakat mulai merasakan dampaknya, pengusaha tidak bisa membangun, sementara bagi masyarakat pemilik hutan dan hasil kayunya, kondisi ekonomi mereka sudah memprihatinkan. Pasalnya masyarakat pemilik hutan tidak lagi memiliki uang, sejak kayu-kayu mereka tidak disa jual.

Menyikapi kelangkaan kayu lokal tersebut Ketua Pergerakan Pemuda Mahasiswa Indonesia Kabupaten Jayapura, Ikatan Mahasiswa Asal Sentani dan tokoh intelekutual asal Pegunungan tengah, mendesak Gubernur, DPRP, termasuk instansi terkait lainnya untuk segera mengesahkan aturan tetap yang dimuat dalam bentuk Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) bagi pengelolahan kayu lokal.

Selanjutnya dengan tegas mengutuk oknum-oknum tertentu yang kini sedang memanfaatkan kesempatan dalam artian bermain di air keruh, karena kenyataan ditengah aksi mogok pengusaha kayu lokal ini, ada oknum pengusaha kayu lainnya yang berlindung dibawah kekuasaan tertentu, dengan seenaknnya membawa kayu ke kota.Hal tersebut dikarenakan akan berdampak terhadap nilai beli masyarakat semakin tinggi dan pengusaha yang berlindung dibalik kekuasaan tertentu ini memungut keuntungan yang besar, dengan menaikan harga semaunya, sementara masyarakat yang menderita.

" Kami melihat tingkat kelangkaan kayu untuk masyarakat lokal sudah mulai terasa, terutama dampak yang lebih dirasakan adalah masyarakat pemilik kayu di hutan yang sampai saat ini kayu-kayu masih tertumpuk dan tidak bisa difungsikan untuk dijual, untuk itu kami meminta pemerintah dalam hal ini instansi terkait untuk segera mencari solusi yang tepat melalui peraturan daerah khusus tentang pengolahan kayu lokal di Papua," ujar Ketua Pergerakan Pemuda Mahasiswa Indonesia Kabupaten Jayapura, Aris Kreutha.

Sementara itu Ketua IMPAS, Edison Awotau menambahkan orang pribumi perlu ikut terlibat dalam hal aktifitas kayu lokal di Papua agar Perdasus yang mengatur tentang kayu lokal, dapat sesuai dengan konteks UU Otsus di Papua.Lanjut dia untuk mengatasi kelangkaan kayu dan permasalahan kayu lokal, pemerintah perlu secepatnya menyikapi kondisi tersebut, dengan jalan Raperdasus yang sudah diajukan oleh MRP segera ditindaklanjuti oleh DPRP dan Eksekutif.Hadir juga dalam menyampaikan keterangan perssnya tokoh intelektual asal Pegunungan Tengah, Christian Wanimbo, Ronald Kogoya, Frengki Monim bersama rekan-rekannya mendesak pemerintah untuk segera memberikan solusi yang tepat.**

Jayapura : Gubernur Minta Pembangunan Harus Berwawasan Lingkungan

(Cenderawasih Pos, 19 Juni 2007)
JAYAPURA-Papua kaya akan potensi Sumber Daya Alam (SDA), namun sebagian besar belum termanfaatkan secara optimal. Kekayaan itu akan terus menjadi raksasa yang tidur jika tidak diolah dan dimanfaatkan melalui investasi.

Tanpa investasi, tidak akan ada pertumbuhan ekonomi, tanpa pertumbuhan ekonomi, tidak ada pengentasan kemiskinan dalam arti sebenarnya. Demikian antara lain dikemukakan Gubernur Barnabas Suebu, SH dalam arahannya ketika membuka seminar sehari peranan sektor pengelolaan SDA bagi pembangunan nasional di Papua kerja sama Uncen, Unipa, LPEM dan FE-UI di Sasana Karya, Senin (18/6) kemarin. "Kita harus membangun raksasa yang sedang tidur ini, di mana harkat dan martabat manusia menjadi titik sentral pembangunan (people center development) dan pembangunan harus berwawasan lingkungan yang tidak semena-mena untuk kepentingan sesaat, tetapi mengorbankan rakyat," katanya.

Diungkapkan, investasi yang dilakukan dengan membabi buta dan tanpa kepekaan sangat berpotensi menciptakan kerusakan lingkungan dan akan memarginalkan masyarakat asli Papua. "Kata yang saya gunakan, kita memerlukan investasi tetapi kita harus berhati-hati dengan investasi itu sehingga tidak membunuh anaknya sendiri," katanya. Itulah sebabnya analisis dampak lingkungan yang dilakukan secara sungguh - sungguh dan ketat dengan menggunakan standar internasional menjadi salah satu syarat bagi investasi di Papua.

Sementara itu, Rektor Uncen Prof DR Bert Kambuaya mengatakan bahwa disadari Papua sangat kaya akan SDA, karena itu ia mengajak semua pihak khususnya perguruan tinggi agar terlibat dalam proses pengelolaan SDA. "Kita semua tahu bahwa pengelolaan SDA yang tidak diatur secara baik dan tidak memperhatikan kelestarian lingkungan maka akan bisa mengancam lingkungan," katanya. Karena itu, dalam kegiatan opersaional pertambangan harus memperhatikan prinsip - prinsip pembangunan berkelanjutan.

Yapen : Suebu Panen Rumput Laut di Yapen

(Cenderawasi Pos, 19 Juni 2007)
Juga Panen Ikan Keramba Apung di Teluk Ampimoi
YAPEN - Suatu langkah kemajuan yang cukup bagus yang terjadi di Kabupaten Yapen, dimana saat ini, sebagian masyarakat melalui bantuan Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Yapen, mulai mengembangkan budidaya rumput laut di Kampung Kabuena Distrik Angkaisera dan keramba Apung dengan jenis ikan Kerapu di Teluk Ampimoi Distrik Yapen Timur. Bahkan, pada pada 12 Juni lalu, Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, SH, melakukan panen perdana terhadap kedua kegiatan budidaya masyarakat itu.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Yapen, Ir. John F. Pattikawa, MM, mengatakan, kegiatan budidaya ikan Kerapuh atau keramba jaring apung itu dilakukan di Randawaya (Tepatnya diteluk Ampimoi), sementara budidaya rumpt laut berawal dari kegiatan beberapa warga yang memelihara keramba ikan apung. Ddari situlah, pihak Departemen Kelautan dan Perikanan RI menyalurkan bantuan ke pemerintah kabupaten senilai Rp 5,5 M. Untuk mengembangkan 20 unit petani, keramba jaring apung/pengembangan rumput laut yang disebarkan disepanjang pesisir Pulau Yapen.

“ Tentang bibit, awalnya kami datangkan dari pulau Jawa, namun sebagiannya tidak produktif karena rusak dan mati (Ikan),” ujarnya kepada Cenderawasih Pos, disela-sela kegiatan Turkam di Kampung Randawaya, Distrik Yapen Timur, Kabupaten Yapen, Selasa, (12/6) lalu.Diterangkannya, sebenarnya, keramba jaring apung, pihaknya telah melakukan panen tahap pertama beberapa waktu lalu, dengan jumlah banyak ikan sebanyak atau sekitar 150 kg. Sementara budidaya rumput laut baru dipenen tahap pertamanya oleh gubernur.

Khusus untuk rumput laut, ia menyatakan, pihaknya saat ini mengalami kesulitan benih/bibitnya, sehingga alternatifnya dilakukan pembenihan bibit rumput laut dengan memanfaatkan rumput laut yang sudah dimiliki pihaknya itu.

Diharapkannya, dengan adanya dukungan pemerintah daerah dan pemerintah provinsi, maka pihaknya akan berupaya untuk memproduksi rumput laut maupun ikan Kerapuh dalam jumlah yang besar, guna mampu untuk memenuhi permintaan pasaran yang mulai masuk di wilayah Yapen.

“Saat ini kami memiliki sekitar ratusan petani kelompok budidaya rumput laut dan keramba jaring apung. Kami targetkan setiap tahunnya kami panen rumput laut dan ikan Kerapu sebanyak 50 ton sampai 100 ton. Kami kewalahan bibit karena, biaya yang cukup tinggi bila mendatangkan bibit ikan Kerapu dan rumput laut yang berkualitas dari Jawa,” sambungnya.

Sementara itu, Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, SH, saat melakukan panen perdana rumput laut dan ikan Kerapuh, menyatakan, permasalahan kekurangan bibit ikan Kerapuh dan bibit rumput laut, tetap menjadi perhatian dirinya untuk membantu para petani pembudidaya, sehingga kedepannya mampu memproduksi ikan keramba dan rumput laut dalam skala yang besar.Sehingga mampu memenuhi permintaan pasaran yang masuk pada wilayah itu. Dan tentunya juga agar stok ikan Kerapu dan rumput laut tetap tersedia secara berkesinambungan.

Kebijakan berikutnya, adalah pihaknya berupaya untuk melakukan pengontrolan terhadap pangsa pasar yang ada, sehingga harga ikan Kerapu dan rumput laut tetap terjaga. Dalam hal ini dengan harga yang tinggi, agar para petani pembududaya tidak dirugikan.(nls)