( Cenderawasih Pos, Selasa 04 April 2006 )
Rencana Dinas Perkebunan Provinsi Papua membentuk Pokja (kelompok kerja) pengembangan tanaman jarak sebagai komoditi alternatif pengganti bahan bakar minyak (BBM) di setiap daerah baik provinsi/kota/kabupaten, disambut positif olehWakil Ketua Komisi B DPRP Drs. Paulus Sumino.
Menurutnya, pembentukkan Pokja tersebut sangat penting, mengingat dengan adanya wadah seperti ini, tentunya selain memberikan kemudahan dalam pelaksanaan program, juga akan terciptanya garis koordinasi yang baik.
"Kami berharap agar dengan terbentuknya Pokja pengembangan tanaman jarak yang dibentuk oleh Dinas Perkebunan di setiap daerah ini dapat mensinergikan semua tahap demi tahap pelaksanaan program ini sehingga bisa berjalan dengan baik,"katanya kepada Cenderwasih Pos, kemarin. Mengingat tahapan pelaksanaan program ini cukup bervariasi mulai dari sosialisasi program, basilene survey/studi, pengembangan tanaman jarak dan berbagai tahapan lainnya bahkan sampai pada pengolahan dan pemasarannya, maka perlu dipadukan program dari semua Pokja yang telah dibentuk sehingga program ini dapat berjalan dengan baik.
Di samping itu, tujuan mendasar dari pengembangan tanaman jarak adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan petani pada khususnya, tentunya peran aktif dari masyarakat sangat penting."Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama bagi petani, agar program ini berhasil maka pemerintah dan masyarakat selaku objek pembangunan harus berpartisipasi aktif mendukung program ini terutama dalam hal penyediaan lahan (tanah),"pungkasnya.(and)
Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua
IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org
05 March 2006
Jayapura : Komisi B DPRP Dukung Pengembangan Tanaman Jarak
04 March 2006
TIps & Trik : Mudah Lupa, Hindari Stres
( Cenderawasih Pos, Jumat 03 Maret 2006 )
Sering kita melupakan hal-hal yang sepele. Tentunya, hal ini sangat mengganggu. Apalagi, seiring dengan bertambahnya usia, daya ingat semakin menurun. Ada beberapa tips dari bagian Ilmu Penyakit Saraf RSU dr. Soetomo yang bisa dicoba untuk meningkatkan daya ingat.
- Terus belajar. Belajar hal-hal baru. Seperti, bahasa baru, mengikuti kursus, dan menghadiri perkuliahan. Ini semua merupakan cara-cara untuk mengasah daya ingat.
- Katakan sesuatu dengan berulang akan membantu untuk mengingat.
- Lakukan olah raga. Kegiatan fisik membuat jantung memompa dan otot bergerak. Sehingga, meningkatkan suplai darah dan nutrisi ke otak.
- Tidur yang cukup dapat membantu daya ingat berfungsi maximal. Sebab, keletihan dapat mengganggu informasi yang telah disimpan, begitu juga kemampuan untuk mempelajari sesuatu yang baru.
- Konsumsi zat gizi makanan yang cukup, seperti ikan.
- Mengkontrol stres. Stres membuat Anda berpikir tidak jelas dan dapat mengganggu daya ingat yang baik. Karena itu, lakukan relaksasi atau yoga.
- Permainan. Untuk merangsang daya ingat, cobalah permainan seperti catur atau scrabble.
- Hati-hati penggunaan obat tertentu beberapa anti deppresan antihistamin dapat melemahka daya ingat. Konsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum mengkonsumsi obat tersebut. (jpnn)
Jakarta : Penerima Dana Dari Cukong Kayu Terancam Dicopot
(Tempo Interaktif, 03 Maret 2006 )
Pejabat Kehutanan yang terbukti menerima transfer dana hasil pencurian kayu (Illegal logging) dari para cukong terancam dipecat. Selain itu, mereka juga akan diganjar hukuman pidana. Menteri Kehutanan Malam Sambat Ka'ban mengungkapkan, siapa saja pejabat kehutanan yang terbukti menerima transfer dana itu akan dicopot dari jabatannya. "Tapi ada proses hukum dulu," kata Ka'ban di Jakarta, Jumat (3/3).
Seperti diberitakan, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengumumkan 14 transfer dana dari Cukong Kayu. Dari jumlah itu, sepuluh transaksi diantaranya ditujukan kepada pejabat polisi, sipil dan militer. Menurut Kaban, laporan PPATK itu seharusnya langsung ditangani polisi. "Kenapa harus disimpan-simpan," ujarnya.
Meski begitu, Ka'ban meminta hakim tidak diskriminatif dalam memutus perkara ini. Menurut dia, selama ini banyak aparat kehutanan, polisi dan militer yang dipenjara dan dipecat karena terlibat pencurian kayu tapi tidak sedikit cukong kayu yang diputus bebas. Dia mencontohkan, di Papua, dari 13 kasus pengadilan pencurian kayu seluruhnya dibebaskan oleh hakim. Kondisi ini, katanya, menunjukkan hakim belum memiliki rasa keadilan dalam kasus pencurian kayu.
Dia juga mengusulkan agar Undang-Undang Pencurian Kayu yang kini tengah digodok menjadi lex specialis. Menurut dia, seharusnya Undang-Undang ini dan Undang-Undang No 41/1999 tentang Kehutanan menjadi rujukan utama dalam mengadili kasus pencurian kayu.
Menteri meminta, Mahkamah Agung dapat menyederhanakan proses pengadilan terhadap kasus pencurian kayu. Menurut dia, alat-alat berat yang dijadikan barang bukti seharusnya dapat dilelang ditempat seperti kayu. Hal ini untuk mengurangi tingkat kerusakan yang terjadi pada barang bukti itu. Saat ini, menurut Kaban, alat-alat berat yang menjadi barang bukti pencurian kayu banyak yang rusak karena proses peradilan yang bertele-tele.
Menurutnya, jika alat berat itu bisa dilelang ditempat, Penerimaan Bukan Pajak dari setoran hasil lelang barang bukti pencurian kayu tidak akan terkurangi. "Sekarang banyak yang bocor karena rusak dan dicuri," ujarnya. Ewo Raswa
Jakarta : Pembalak Liar Diduga Transfer Duit Ke Pejabat
(Tempo Interaktif, 03 Maret 2006 )
Sepuluh pejabat diduga terlibat kasus pembalakan liar. Indikasi keterlibatan ini diketahui dari aliran dana ke rekening pejabat tersebut dari para pengusaha kayu ilegal. Sepuluh pejabat ini berasal dari berbagai instansi.
"Ada sipil, militer maupun polisi," kata Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein di Jakarta, Kamis (2/3), usai mengikuti rapat Operasi Hutan Lestari III di Badan Reserse dan Kriminal Markas Besar Kepolisian RI. Rapat ini juga dihadiri Kepala Kepolisian Jenderal Sutanto dan Menteri Kehutanan Malam Sambat Ka'ban.
Yunus menolak menyebut identitas sepuluh pejabat ini. Nilai transfernya bervariasi, "Dari jutaan hingga satu, dua miliar rupiah," katanya. Aliran dana ini, menurut dia, telah dilaporkan ke polisi dan kejaksaan agung. Laporan ini merupakan bagian dari 14 kasus aliran dana hasil pembalakan liar yang dilaporkan PPATK. Selain aliran dana ke rekening di dalam negeri, kata dia, juga ada yang mengalir ke rekening di negara jiran.
PPATK berhasil menyimpulkan bahwa aliran dana yang masuk ke rekening sepuluh pejabat ini berasal dari hasil pembalakan liar. Menurut Yunus, ini didasarkan peta jaringan transfer yang dimilikinya. "Pejabat tersebut merima dari pengusaha kayu. Pengusaha kayunya bermain, pejabat terima dari pengusaha yang main. Berarti ikut bermain kan? Masak tidak ada kaitan?" katanya.
Kepala Kepolisian Jenderal Sutanto mengaku pihaknya tengah menyusun strategi untuk dapat menindak para pelaku pembalakan liar, baik yang di lapangan maupun para cukong. Sutanto berharap dapat membasmi kegiatan ini pada tahun 2006.
Para cukong yang menjadi otak pembalakan liar itu, menurut Sutanto, merupakan para pengusaha besar yang sudah dikenal masyarakat. "Selama ini yang ditangkap hanya penebang, supir dan orang yang berada di lapangan. Sedangkan cukongnya tidak kelihatan," ujar Yunus. Dimas Adityo
Jakarta : Incar 38 Nama Cukong Illegal Logging
( Cenderawasih Pos, Jumat 03 Maret 2006 )
Genderang perburuan terhadap cukong illegal logging ditabuh. Polri dan Departemen Kehutanan menargetkan memberantas habis semua dalang pembabat hutan pada tahun ini juga. Ada 38 nama yang jadi incaran. Jika mereka berhasil dibekuk maka triliunan rupiah uang negara akan bisa terselamatkan.
Untuk memuluskan target ini, tak hanya bekerja sendiri, kedua institusi ini menggandeng Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dart Ditjen Pajak. Kedua lembaga terakhir itulah yang akan diminta bantuan untuk mengendus keberadaan setoran-setoran terkait penebangan kayu ilegal yang mengarah pada para cukong.
Hal ini terungkap usai pembukaan Raker Pemberantasan Illegal Logging yang digelar di Bareskrim Mabes Polri kemarin. Raker ini dibuka oleh Kapolri Jenderal Pol Sutanto dan Menteri Kehutanan M.S Kaban sena juga dihadiri oleh Kepala PPATK Yunus Husein dan Dirjen Pajak Hadi Poernomo. Peserta raker yang berlangsung hingga hari ini adalah para Kapolres dan jajaran Polisi Air di seluruh Indonesia yang wilayahnya rawan penebangan liar. "Pokoknya tahun 2006 ini, semua kasus illegal logging harus tutup dan cukong-cukongnya akan dikejar. Tak ada ampun,"tegas Kaban. 38 cukong yang masuk daftar buruannya terdiri dari warga Indonesia dan juga asing. Perburuan itu akan dilakukan dalam gelar Operasi Hutan Lestari III yang dikomandoi Kabareskrim Komjen Pol Makbul Padmanagara.
Kaban juga menerangkan alasan menggandeng PPATK dan Ditjen Pajak. Yakni untuk mengusut kasus-kasus illegal logging tidak pada hanya pada tataran pelaku lapangan, tapi juga mengusut kemanakah larinya uang haram tersebut. "Karena selama ini menjerat cukong susah,"imbuhnya. Pasalnya para cukong berada di balik layar dan mengendalikan bisnis mereka dari Malaysia dan Singapura.
Lalu bagaimana juga dengan masalah administratif, misalnya Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan (SKSHH) yang mudah dipalsu? Kaban menjawab,"Sebenamya sudah tiga kali kita mengubah format SKSHH. Tapi jangan lupa, uang dollar dan rupiah saja bisa dipalsukan, apalagi SKSHH."
Sementara saat ditanya terobosan yang akan dilakukan Polri, Kapoiri mengatakan jika pihaknya memang menyiapkan sejumlah starategi untuk membabat habis para cukong tersebut. "Tapi jangan saya sampaikan di sini karena mereka bisa saja menghindar,"pintanya.
Dari 38 nama cukong tersebut, Kapolri mengaku sebagian sudah dikenal polisi. Namun Kapoiri tidak mengeksplorasi lebih lanjut siapakah nama-nama tersebut dan yang jelas, siapapun yang terlibat akan ditahan. Apa itu polisi, pihak kehutanan, maupun lainnya akan ditangani,"tambahnya.
Ditambahkan oleh Ketua PPATK Yunus Husein jika pengawasan transaksi mencurigakan terkait illegal logging sudah dilakukan PPATK meski tanpa permintaan khusus sekalipun. Hasilnya pun sudah pernah disetorkan pada Direktorat II/Tipiter Mabes Polri pada akhir tahun lalu. "Karena hanya dengan cara ini cukongnya akan kentara. Kita memang menawarkan penegakan hukum gabungan, sehingga tidak hanya sopir dan penebang kayu yang kena, tapi cukong juga kena,"ujar Hussein.
Ada 14 transaksi mencurigakan yang pernah dilaporkan PPATK ini. Transaksi itu terkait dengan rekening milik WNI dan warga asing. "Dari 14 transaksi itu ada pejabatnya. Baik sipil, polisi dan militer. Untuk pejabat ada 10 transaksi,"lanjutnya. PPATK berhasil mencium adanya kejanggalan-kejanggalan itu setelah menemukan adanya setoran dari para pengusaha kayu pada para pejabat tersebut. Ditanya secara terpisah, Direktur H/Tipiter Mabes Polri Brigjen Pol Suharto mengatakan pihaknya sudah menginventarisir 38 cukong tersebut. "Kita tidak ingin cukong besar dengan sistem terputus itu lepas lagi. Untuk itu kita merangkul semua pihak seperti saat ini (Raker, Red)," ujarnya dan menolak untuk menyebutkan daftar cukong tersebut. (jpnn)
03 March 2006
Jayapura : Disbun Papua Harap Petani Kembangkan Pohon Jarak
( Papua Pos, Kamis 02 Maret 2006 )
Tahun 2006 sekitar 22.500 hektar areal perkebunan untuk penanaman tumbuhan jarak (Jathrova Curcas) yang dipersiapkan Dinas Perkebunan provinsi Papua bagi masyarakat petani tersebar dibeberapa kabupaten, yang kerap mengalami kesulitan pengadaan bahan bakar minyak (BBM).
Hal itu dikatakan, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Papua, Ir. Leonardo Alexander Rumbarar, Rabu (1/3) saat ditemui di ruang kerjanya. Dikatakan, Pemerintah pusat melalui Departemen Pertanian memprogramkan penanaman 150.000 hektar pohon jarak di provinsi Papua. Namun karena ini tahap awal, sehinggahanya terbatas sekitar 22.500 hektar saja.
"Untuk Papua, sebenarnya pemerintah pusat programkan penanaman pohon jarak di areal seluas 150.000 hektar. Namun tahap awal ini, saya programkan sejumlah 22.500 hektar saja sambil kita siapkan sarana pendukungnya untuk masyarakat serta membangun pabrik pengolahannya,"kata Rumbarar.
Namun, walaupun pabrik pengolahan belum ada di daerah ini, masyarakat tetap dapat memetik manfaat pohon ini, sebab, hanya dengan pengolahan sederhana (pemerasan biji jarak), minyak hasil perasan yang disebut Crude Jathrofa Oil sudah dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan seperti lampu penerangan dan lainnya.
"Hasil uji lab ITB, CJO sudah bisa langsung dipakai. Prosesnya mudah, setelah biji jarak dipress menghasilkan minyak kasar. Kemudian minyak kasar itu tinggal disaring lagi sudah jadi CJO. Hanya satu mesin yang diperlukan untuk kedua proses itu. Bila diolah lebih lanjut malah bisa dipakai untuk mesin diesel. Bahkan, hasil penelitian CJQ, saat digunakan di mesin diesel, CJO lebih bagus daripada solar,"kata Rumbarar sambil menunjukan sample CJO dalam botol.
Lebih jauh dikatakan, selain menyiapkan lahan dan pengadaan bibit sebanyak 1.250.000 batang, Dinas Perkebunan juga telah menyiapkan planning untuk mengadakan mesin yang dibutuhkan untuk masyarakat dengan jalan memberikan kredit melalui koperasi yang nantinya akan dibentuk. Sehingga masyarakat dapat memproduksi sendiri berskala industri rumah tangga.
Untuk itu dalam tahun ini masyarakat diharapkan sudah dapat menanam jenis pohon jarak ini. Karena pemerintah akan segera mengadakan mesin pengolahan. "Sesudah masyarakat menanam, kita langsung siapkan mesinnya, supaya bisa langsung dijual. Nantinya, kita tetap akan membangun pabrik pengolahannya Ada beberapa investor yang menghubungi saya dalam rangka mendekatkan industri hilir ini. Tinggal dukungan dari masyarakat dalam menyukseskan program ini,"paparnya
Untuk memasyarakatkan penanaman pohon jarak ini, Rumbarar mengharapkan pemerintah kabupaten supaya lebih proaktif dalam menjalankan program ini. Karena, salah satu kesulitan yang kerap ditemui adalah masalah pengadaan lahan. Sehingga perlu dukungan pemerintah daerah dan mensosialisasikan manfaat positif dari pohon jarak ini. Apalagi, program ini akan memakan biaya yang tidak sedikit.
"Setidaknya kita butuh dana sekitar Rp 11 milyar rupiah, kita sudah ajukan dan komisi B DPRP juga telah memberi signal. Kalau provinsi NTB bisa, mestinya Papua harus bisa memproduksi lebih banyak,"ujarnya.
Dengan produksi minyak jarak ini akan bisa mengatasi kesulitan BBM solar seperti di kabupaten Keerom, Jayapura, Sarmi, Serui dan Wamena,"ujar Rumbarar dengan optimis. Ketika ditanyakan masalah di perkebunan kelapa sawit di Arso, ia menjelaskanm bahwa Dinas Perkebunan provinsi Papua tidak akan membiarkan masalah tersebut berlarut-larut Sehingga tahun ini Dinas Perkebunan mengajukan dana talangan dalam APBD.
"Saya prihatin mendengar hal itu. Karena itu, dana talangan yang dituntut masyarakat sudah kami ajukah pada dewan, tapi Pemkab juga mestinya pro aktif dalam menangani masalah warganya sehingga dana talangan dapat ditanggung bersama. Soalnya, ini kan sifatnya sementara saja sampai manajemen perusahaan sudah bisa pulih kembali,"terang Rumbarar.**
02 March 2006
Manca Negara : Jerman : Virus Flu Burung Ditemukan pada Kucing
( Suara Pembaruan, Rabu 01 Maret 2006 )
Untuk pertama kalinya virus flu burung ditemukan pada bangkai seekor kucing piaraan di Jerman. Penemuan yang cukup mengagetkan itu terjadi di Pulau Ruegen. Para pakar pada sebuah institut kesehatan hewan di Pulau Ruegen, Selasa (28/2), mengatakan, kucing tersebut ditemukan terkapar mati di sebuah tempat di Pulau Ruegen, Jerman Utara, tempat puluhan ekor unggas liar telah mati dan terjangkit virus H5N1 beberapa waktu lalu.
"Kucing itu ditemukan mati akhir pekan lalu di Pulau Ruegen. Di tempat yang sama, lebih dari 100 ekor unggas sudah diperiksa dan ternyata semuanya positif flu burung," kata Thomas Mettenleiter, Kepala Institut Friedrich Loeffler Jerman.
Walau telah menular ke kucing, Mettenleiter mengatakan, bagaimana pun virus tersebut belum dikategorikan berbahaya untuk manusia, karena sampai saat ini belum ada kasus yang menjelaskan bahwa virus tersebut bisa menular dari kucing ke manusia.
Maria Cheng dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa, Selasa, mengatakan, bagaimana pun belum ada informasi tentang bagaimana virus itu berpindah dari burung ke kucing. Maria mengaku punya catatan, seekor macan dan seekor harimau di Thailand pernah terinfeksi setelah memakan bangkai ayam yang mati akibat virus N5H1. Peristiwa itu terjadi tahun 2003 dan 2004.
Sementara itu, para pejabat kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sangat risau dan cemas dengan penemuan dan perkembangan penularan virus flu burung tersebut. Apalagi, virus yang mematikan itu berkembang sangat cepat di daratan Eropa. Hingga saat ini, virus tersebut sudah menyebar ke Bavaria dan empat negara bagian lain di Jerman.
Virus yang sama juga ditemukan di Swedia. Menurut Kementerian Pertanian Swedia, virus flu burung telah menjangkiti burung liar di wilayah Oskarshamn, tenggara Swedia. Namun belum jelas apakah flu burung di Swedia juga dari jenis yang sama dengan di negara-negara lain. Menurut WHO, virus berbahaya itu sudah menyebar ke 17 negara. Pada Selasa kemarin, Ethiopia mengaku, ribuan ayam di wilayah selatan negara itu tiba-tiba mati akibat terserang virus flu burung. (AP/BBC/L-8)
Jayapura : Green Peace: Di Papua tak Perlu Ada HPH
(Republika, 01 Maret 2006 )
Green Peace menemukan kian tingginya kecenderungan degradasi hutan di Provinsi Papua. Hal ini dikhawatirkan berdampak negatif pada manusia dan lingkungan fisik lainnya. Manajer Paradise Forest Compaign Green Peace Papua, Abner Korwa, mengatakan di Papua perlu dikampanyekan kelestarian lingkungan seperti yang dilakukan di Pulau Salomon, Pasifik Selatan. Di Salomon, bertahun-tahun Green Peace melakukan kampanye dan penyuluhan.
Sekarang di Salomon tidak ada hak pengusahaan hutan (HPH). Masyarakat setempat yang menebang sendiri pohon-pohon, sementara kayu-kayu tebangan itu dipasarkan kepada perusahaan yang ditunjuk oleh pemerintah. ''Kita harapkan Papua ke depan seperti Salomon. Masyarakat yang menjaga dan mengelola sendiri hutannya guna menghindari kehadiran HPH yang membuat kecenderungan degradasi hutan semakin meningkat,'' ucap Korwa.
Menurut Korwa, degradasi hutan itu meningkat karena kehadiran perusahaan HPH. ''Papua masih bersyukur karena belum terjadi bencana banjir dan longsor, sementara di Pulau Jawa, Sumatra dan Sulawesi telah terjadi bencana banjir. Manado, Sulawesi Utara, belum lama ini terjadi banjir yang mengakibatkan ratusan orang meninggal dunia diterjang banjir. Papua masih menunggu waktu datangnya bencana,'' kata Korwa, Senin (27/8).
Selain itu, semakin marak pula penggunaan bahan peledak (potasium) di Papua bagian selatan, seperti Kepulauan Raja Ampat, Irian Jaya Barat yang mengakibatkan biota laut rusak berat. Mengantisipasi perusakan hutan yang semakin parah, Green Peace melalui program Paradise Forest Compaign melakukan kampanye lingkungan. Seruannya, agar kelestarian lingkungan hidup yang menjadi sumber oksigen bagi kehidupan manusia diperhatikan. Apalagi, Papua selama ini menyuplai oksigen bagi miliaran jiwa manusia di belahan dunia. (ant )
Papua : Freeport dan Ketimpangan
6(Republika, 01 Maret 2006 )
Kunci kasus Freeport Indonesia saat ini sebenarnya terang-benderang. Kita tinggal melihat kembali peristiwa di sekitar penandatanganan Kontrak Karya I pada 1967. Kita lihat buku Power in Motion. Karya Jeffrey Winters ini mengungkap naskah yang masa rahasianya baru saja kedaluwarsa. Kekayaan Indonesia, menurut naskah tersebut, dibagi-bagi ke berbagai perusahaan dunia dalam sebuah pertemuan di Jenewa pada 1967.
Tim ekonomi Indonesia yang mendapat mendapat julukan Mafia Berkeley hadir pada petemuan itu. Mereka menerima perlakuan itu bahkan seraya berpromosi: Indonesia punya buruh murah, cadangan sumber daya alam, dan pasar yang besar. Pada tahun itulah, Henry Kissinger yang mewakili Freeport mendapatkan Ertsberg, kawasan kaya mineral di Papua.
Melihat situasi peralihan politik pada tahun tersebut, kita bisa meraba adanya deal besar dalam pertemuan Jenewa tersebut. Ini jelas bukan sekadar masalah bisnis, tapi juga kekuasaan. Bukan sekadar konsesi tambang, tapi juga konsesi politik. Celakanya, yang terciptanya kemudian adalah hubungan antara kekuatan ''ratu dunia'' dan ''hamba sahaya''. Kita bisa semakin merasakannya setelah mengamati bahwa pemerintah Indonesia--sampai kini--selalu tak punya wibawa setiap kali berhadapan dengan Freeport.
Seorang menteri lingkungan kita pernah mengundang bos Freeport Indonesia ke kantornya. Sang bos datang dengan sangat terlambat, namun tak menunjukkan penyesalan. Ia malah duduk dengan arogan di hadapan sang menteri, seraya bersilang kaki. Situasi tak berubah pada 1991, saat Kontrak Karya II ditandatangani. Para pejabat kita hanya berputar kata-kata saat bicara soal Freeport. Juga, saat ini, ketika banyak pihak menuntut peninjauan ulang kontrak.
Pemerintah tampaknya lebih terfokus pada upaya mendapatkan sedikit tambahan penghasilan dari kenaikan harga emas. Pembicaraan tentang kontrak yang berat sebelah dihindari. Kita sulit memahami bahwa untuk hal-hal sepele seperti pasokan makanan saja kita tak punya martabat di hadapan Freeport. Pasokan tidak datang dari negeri ini, melainkan dari Australia dan Selandia Baru. Kontraknya seperti itu.
Belum lagi bicara soal pembagian keuntungan. Pertama, kita sulit mengaudit nilai kekayaan yang dikeruk dari tanah Papua. Lebih dari 95 persen konsentrat diolah di luar negeri. Kita tak tahu apakah yang mereka peroleh adalah emas atau loyang. Kedua, pendapatan yang terungkap pun--termasuk dalam catatan Bursa Saham New York (NYSE)--ternyata menunjukkan ketimpangan besar. Total pendapatan negara sejak Kontrak Karya II, 1991, senilai 1,3 miliar dolar AS.
Itu pun sudah termasuk royalti, retribusi, iuran, dan pendapatan dari pajak seperti pajak penghasilan (PPh) dan pajak pertambahan nilai (PPN). Sementara, keuntungan bersih untuk Freeport McMoran mencapai 800 juta dolar setiap tahun. Itu saja sudah cukup sebagai alasan untuk mencurahkan empati kita pada saudara-saudara dari Papua. Mereka tetap saja hidup tertinggal padahal gunung emas mereka dibongkar dan kelestarian alam mereka hancur. Mereka hanya bisa marah dengan berdemo dan memblokir jalan, namun sulit berharap lebih pada pemerintah. Mereka malah ditangkapi.
Papua : Freeport dan Ketimpangan
(Republika, 01 Maret 2006 )
Kunci kasus Freeport Indonesia saat ini sebenarnya terang-benderang. Kita tinggal melihat kembali peristiwa di sekitar penandatanganan Kontrak Karya I pada 1967. Kita lihat buku Power in Motion. Karya Jeffrey Winters ini mengungkap naskah yang masa rahasianya baru saja kedaluwarsa. Kekayaan Indonesia, menurut naskah tersebut, dibagi-bagi ke berbagai perusahaan dunia dalam sebuah pertemuan di Jenewa pada 1967.
Tim ekonomi Indonesia yang mendapat mendapat julukan Mafia Berkeley hadir pada petemuan itu. Mereka menerima perlakuan itu bahkan seraya berpromosi: Indonesia punya buruh murah, cadangan sumber daya alam, dan pasar yang besar. Pada tahun itulah, Henry Kissinger yang mewakili Freeport mendapatkan Ertsberg, kawasan kaya mineral di Papua.
Melihat situasi peralihan politik pada tahun tersebut, kita bisa meraba adanya deal besar dalam pertemuan Jenewa tersebut. Ini jelas bukan sekadar masalah bisnis, tapi juga kekuasaan. Bukan sekadar konsesi tambang, tapi juga konsesi politik. Celakanya, yang terciptanya kemudian adalah hubungan antara kekuatan ''ratu dunia'' dan ''hamba sahaya''. Kita bisa semakin merasakannya setelah mengamati bahwa pemerintah Indonesia--sampai kini--selalu tak punya wibawa setiap kali berhadapan dengan Freeport.
Seorang menteri lingkungan kita pernah mengundang bos Freeport Indonesia ke kantornya. Sang bos datang dengan sangat terlambat, namun tak menunjukkan penyesalan. Ia malah duduk dengan arogan di hadapan sang menteri, seraya bersilang kaki. Situasi tak berubah pada 1991, saat Kontrak Karya II ditandatangani. Para pejabat kita hanya berputar kata-kata saat bicara soal Freeport. Juga, saat ini, ketika banyak pihak menuntut peninjauan ulang kontrak.
Pemerintah tampaknya lebih terfokus pada upaya mendapatkan sedikit tambahan penghasilan dari kenaikan harga emas. Pembicaraan tentang kontrak yang berat sebelah dihindari. Kita sulit memahami bahwa untuk hal-hal sepele seperti pasokan makanan saja kita tak punya martabat di hadapan Freeport. Pasokan tidak datang dari negeri ini, melainkan dari Australia dan Selandia Baru. Kontraknya seperti itu.
Belum lagi bicara soal pembagian keuntungan. Pertama, kita sulit mengaudit nilai kekayaan yang dikeruk dari tanah Papua. Lebih dari 95 persen konsentrat diolah di luar negeri. Kita tak tahu apakah yang mereka peroleh adalah emas atau loyang. Kedua, pendapatan yang terungkap pun--termasuk dalam catatan Bursa Saham New York (NYSE)--ternyata menunjukkan ketimpangan besar. Total pendapatan negara sejak Kontrak Karya II, 1991, senilai 1,3 miliar dolar AS.
Itu pun sudah termasuk royalti, retribusi, iuran, dan pendapatan dari pajak seperti pajak penghasilan (PPh) dan pajak pertambahan nilai (PPN). Sementara, keuntungan bersih untuk Freeport McMoran mencapai 800 juta dolar setiap tahun. Itu saja sudah cukup sebagai alasan untuk mencurahkan empati kita pada saudara-saudara dari Papua. Mereka tetap saja hidup tertinggal padahal gunung emas mereka dibongkar dan kelestarian alam mereka hancur. Mereka hanya bisa marah dengan berdemo dan memblokir jalan, namun sulit berharap lebih pada pemerintah. Mereka malah ditangkapi.
01 March 2006
Publikasi : TROPIKA Edisi Musim Tanam (Januari-Maret 2006/ Vol 10 (1)
Spesies baru terus dijumpai di Mamberamo. Apabila kekayaan hayati ini tidak diteliti, bisa saja mereka punah sebelum diketahui ilmu pengetahuan.
Keanekaragaman Hayati Menurut Masyarakat Mamberamo
CI bekerjasama dengan CIFOR dan LIPI untuk mengadakan pelatihan Multidisciplinary Landscape Assessment (MLA) guna memetakan informasi keanekaragaman hayati serta membangun kepercayaan dan partisipasi masyarakat lokal untuk kegiatan konservasi.
Tantangan di Bentang Alam Mamberamo Raya
Sebagai salah satu wilayah yang memiliki sisa kawasan hutan tropis terbesar di dunia, Papua memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan endemik serta keragaman bahasa dan budaya.
Dari Lapangan
Adakah Orangutan di Tapanuli Selatan
CI Indonesia melakukan survei populasi orangutan Sumatera di kawasan Tapanuli Selatan. Dijumpai beberapa bekas sarang orangutan yang menunjukkan hewan langka tersebut ini ada di kawasan ini.
Dari Safari Ramadhan TNBG di Mandailing Natal
Agroforestri di Pak pak Bharat
Menemukan Kembali Galapagos Asia , Russell A. Mittermeier
Pendidikan
Uji Nyali Melatih SDM di Taman Nasional Tanjung Puting
Pelatihan Konservasi untuk ‘Umar Bakrie’
Perjalanan
Cerita Kangguru Pohon Menipu Anjing
Aksamina Yoanita
Penelitian RAP di Mamberamo membawa kisah kisah lucu. Ada kangguru pohon yang ‘pintar’ membawa anjing pemburu ke daerah tanaman ‘bulu babi’ yang tidak disukai anjing.
Artikel
Penentuan Daerah-daerah utama Konservasi Keanekaragaman Hayati: Pelaksanaannya di Mamberamo. Hendrite Loisa Ohee
Tradisi Dayak Tomon di Rimba Belantikan Eddy Santoso
Kehidupan di Balik Tandus Pantai Berpasir Ma’ruf Kasim
Ekowisata
Rahasia 90 Tahun Cagar Alam Sibolangit
CA Sibolangit merupakan salah satu kawasan konservasi tertua di Indonesia. Layak dikunjungi dan jaraknya hanya 38 km dari Kota Medan.
Andi Siswanda
Spesies
Macan Tutul:Kucing Besar Terakhir di Pulau Jawa Anton Ario
Sosok
Aliya Rohali Mantan Puteri Indonesia ini prihatin dengan pemanasan global.
Manca Negara : Malaysia : Malaysia Terapkan Sanksi untuk Peternak
( Suara Pembaruan, Selasa 28 Febuari 2006 )
Pemerintah Malaysia memberlakukan peraturan keras dan tegas terhadap para pemilik unggas yang tidak menyerahkan binatang piaraannya untuk diperiksa. Peraturan baru itu mewajibkan sanksi berupa denda mencapai 500 ringgit (sekitar Rp 1,2 juta ) atau dipenjara selama enam bulan kepada para pemilik unggas yang dengan sengaja menyembunyikan binatang piaraannya.
Sasaran sanksi itu salah satunya adalah pekerja asal Indonesia yang menetap di kawasan Gombak, sebuah kawasan suburban di Kuala Lumpur. Di tempat itu, seminggu lalu, sekitar 40 ekor ayam tiba-tiba mati akibat terjangkit virus H2N1 atau subtipe virus flu burung.
Menurut peraturan yang baru diberlakukan itu, semua penduduk yang menempati empat permukiman di kawasan Gombak itu wajib menyerahkan semua binatang piaraan kepada otoritas untuk diperiksa, demikian harian The New Straits Times, Senin (27/2), mengutip pernyataan Abdul Aziz Jamaluddin, Deputi Dirjen Departemen Pelayanan Hewan Malaysia.
Abdul Aziz mengatakan, warga di empat permukiman itu tidak melakukan perlawanan ketika petugas datang memeriksa dan memisahkan 3.000 unggas mereka. Melihat pengalaman itu, Abdul Aziz meminta otoritas di tempat lain agar tidak ragu-ragu memberlakukan peraturan baru tersebut jika diperlukan.
"Karena fokus kami adalah memberantas unggas yang diyakini masih dipelihara secara sembunyi-sembunyi oleh pekerja asal Indonesia di tempat tinggal mereka masing-masing," katanya.
20 Rumah Sakit
Dari Hong Kong dilaporkan, otoritas setempat melarang impor unggas Prancis setelah virus flu burung menyerang negara itu. Larangan tersebut disampaikan pada saat Uni Eropa (UE) meminta negara-negara partner bisnis untuk tidak memberikan reaksi berlebihan atas penyebaran virus flu burung yang menyerang sebuah peternakan besar di Prancis.
Sebelumnya, Jepang juga telah melarang impor daging ayam dari Prancis. Jepang mengancam melakukan hal yang sama dengan Belanda. Hong Kong sangat ketat terhadap daging impor tersebut, karena kawasan itu adalah yang pertama kali diserang wabah flu burung pada 1997. Di sana, enam orang tewas seketika.
Dari Hong Kong, wabah itu merembet ke Cina dan kemudian ke seluruh dunia. Sampai saat ini, virus flu burung telah menewaskan 92 orang di Asia, Afrika dan Eropa. Sementara itu, Departemen Kesehatan Sri Lanka, Senin, mengatakan, untuk mencegah penyebaran virus flu burung ke manusia, pihaknya membangun 20 rumah sakit di seluruh negara.
Rumah sakit-rumah sakit tersebut akan memonitoring kasus-kasus penularan flu burung di seluruh negeri itu, kendati sampai saat ini belum ada kasus penularan wabah flu burung yang ditemukan.
Juru Bicara Departemen Kesehatan Sri Lanka, Dharma Wanninayake mengatakan, fasilitas laboratorium rumah sakit pun akan ditingkatkan setiap saat, sehingga mampu melakukan pemeriksaan atas berbagai kasus flu burung dengan cepat dan cermat.
Sejauh ini, otoritas Sri Lanka telah mengetes 300 unggas liar dan hasilnya negatif, dalam arti tidak satu pun terjangkit virus flu burung. Sri Lanka melakukan tindakan antisipatif setelah negara tetangganya, India, dilaporkan terserang wabah flu influenza. (AP/L-8)

