( Cenderawasih Pos, Jumat 04 Agustus 2006 )
Berdasarkan hasil penyilidikan umum yang dilakukan PT Iriana Mutiara Idenburg (IMI) yang berkedudukan di Jakarta, bahwa di Distrik Senggi Kabupaten Keerom, ada ditemukan area yang mengadung emas, dengan berpatokan pada penyilidikan yang dilakukan dari tahun 1997-1998, yang kemudian berdasarkan hasil penyilidikan tersebut telah dikembangkan dengan melakukan kegiatan eksplorasi.
Namun, kegiatan eksplorasi yang dilakukan PT IMI ini sempat mengalami kevakuman selama 2 Tahun ( 1998-2000 ), akibat krisis moneter yang terjadi di Indonesia, lalu dilanjutkan pada Tahun 2000-2005, dimana hasil eksplorasi tersebut, baru mencapai kurang lebih 25 % dari total area seluas 108.600 Ha. Demikian diungkapkan President Direktur PT. IMI Michael R. Thirnbeck, saat mempresentasikan kegiatan perusahaannya kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Keerom, kemarin.
Dalam presentasinya, dikatakan dari hasil eksplorasi sementara hingga tahun 2005, yang telah teridentifikasi di proyek Idenburg, terdapat 7 Area prospek, dimana baru 2 area yang telah dilakukan kegiatan pemboran pendahuluan, yakni pada tahun 2000 di Prospek Mafi dan pada Tahun 2005 di Prospek Sua, yang mana hasilnya baru mencapai 50% dari target perusahaan.
"Rencana kami, 2006 dan 2007 nanti, akan dilakukan pemboran berikutnya, kalau hasilnya positif, maka akan dilanjutkan hingga tahap Study Kelayakan Tambang ( Feasibility Study ). Karena itu, pada kesempatan ini, selain mempresentasikan eksplorasi sementara ini, juga mengajak agar bupati atau dari pihak Pemerintah Kabupaten Keerom, bisa meninjau lokasi pemboran, di Kampung Usku, Distrik Senggi," ujar Presdir PT. IMI ini.
Michael juga mengungkapkan, bahwa dalam melakukan kegiatannya, mereka diperhadapkan pada berbagai kendala, baik iklim investasi yang kurang kondusif, akses transportasi yang kurang baik, serta permasalahan hutan lindung dan persoalan masyarakat lainnya. (yom)
Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua
IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org
05 August 2006
Keerom : PT. IMI Temukan Tambang Emas di Keerom?, *Berdasarkan Hasil Penyelidikan dan Kegiatan Eksplorasi Perusahaan ini
Timika : 401 Ekor Ayam Sudah Dimusnakan Petugas, Belum Termasuk yang Dimusnahkan Sendiri oleh Warga
( Cenderawasih Pos, Jumat 04 Agustus 2006 )
Pemusnahan terhadap unggas, terutama Ayam yang terjangkit virus flu burung di Timika terus dilakukan. Data terakhir yang diperoleh dari Dinas Peternakan Kabupaten Mimika, sudah 401 ayam kampung yang dimusnahkan oleh petugas, sementara yang dimusnahkan warga belum direkapitulasi. Demikian diungkapkan Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Mimika Ir. Jhon Wicklif Tegai kepada Radar Timika (group Cenderawasih Pos) di ruang kerjanya Kamis (3/8) kemarin.
Sementara untuk penanggulangan flu burung ini, lanjut Jhon, pemkab Mimika telah mengeluarkan dana sebesar Rp 160 juta yang dikeluarkan dari dana APBD Kabupaten Mimika Tahun Anggaran 2006. Dana tersebut dipergunakan untuk mendukung operasional pemberantasan flu burung di Kabupaten Mimika.
Kata Jhon, dana tersebut pada awalnya berdasarkan usulan dari Dinas Peternakan ke pemkab adalah dana untuk dana antisipasi kasus flu burung, sebab pada saat diajukan belum ada flu burung yang masuk ke Timika. Namun saat ini karena flu burung sudah masuk ke Timika sehingga dana tersebut digunakan untuk dana penanggulangan flu burung.
Pihaknya akan berkoordinasi kembali dengan pihak keuangan dari pemkab Mimika untuk perubahan penggunaan dana tersebut, sehingga dalam laporan penggunaan dana nantinya tidak terjadi masalah.Sementara itu dana dari APBN hingga saat ini belum ada turun meski sudah diusulkan dari Timika dan pihaknya sudah memfaks hasil data dari Timika tentang berapa besarnya ayam yang sudah dimusnahkan selama ini oleh petugas di Timika dan dilakukan secara sukarela.
Data terakhir adalah sebanyak 401 sekor ayam kampung yang dimusnahkan sendiri oleh petugas." Pendataan jumlah ternak unggas di lapangan masih mencapai 50 persen dan hasilnya juga belum dikumpulkan, mungkin dalam waktu dekat ini," terangnya.
Dana tersebut, lanjutnya, sudah dipergunakan selama ini, dimulai dengan masuknya flu burung sekitar tiga minggu lalu. Dana tersebut antara lain untuk pemusnahan ayam yang terindikasi flu burung di beberapa lokasi seperti di Sempan, Kampung Timika Jaya SP II, Kampung Wonosari Jaya dan di Pasar Swadaya Timika.
Selama masa penanggulangan ini, pihak Disnak sudah menyemprotkan desinfektan ke kandang di berbagai lokasi."Hingga saat ini sudah ada 1800 liter desinfektan yang disemprotkan kepada 180 kandang di beberapa lokasi di berbagai tempat," ujarnya.
Lanjut Jhon sebahagian dana tersebut juga akan digunakan untuk membeli perlengkapan penyemprotan seperti alat sprayer, perlengkapan sarung tangan, masker dan dana operasional lainnya serta pembelian alat rapid test. Langkah-langkah yang masih terus dilakukan saat ini oleh Disnak untuk pencegahan flu burung adalah melakukan depopulasi selektif dimana ayam-ayam yang sudah sakit dipisahkan dari yang sehat dan dimusnahkan. "Pemusnahan secara sukarela oleh pemilik ternak unggas juga masih terus dianjurkan," ungkapnya. (sas)
Timika : Diduga Kena Flu Burung, Satu Pasien Dirawat RSMM
( Cenderawasih Pos, Jumat 04 Agustus 2006 )
Seorang warga Utikini Baru (SP XII), Distrik Kuala Kencana, DD (36), kini dirawat di Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika. DD diduga terkena virus H5N1 (flu burung) yang bisa mutasi ke tubuh manusia.
Hasil pemeriksaan klinis RSMM membenarkan yang bersangkutan suspek flu burung. Karenanya, sejak dilarikan ke RSMM, Sabtu (29/7) lalu hingga Kamis (3/8) keamrin, DD diisolasi di ruang Isolasi RSMM.
Kemarin, petugas WHO (World Health Organization) dan utusan Departemen Kesehatan (Depkes) RI yang didampingi petugas Dinas Kesehatan dan KB Kabupaten Mimika, mengunjungi RSMM Timika untuk melihat kondisi DD.
Usai mengamati hasil rontgen bagian dalam pasien di ruang X-Ray, utusan WHO dan Depkes RI memberi waktu satu minggu kepada pihak RSMM untuk mengamati perkembangan gejala klinis pasien tersebut. Direktur RSMM, Dokter Paulus S. Sugiarto SpB yang ditemui Radar Timika (Grup Cenderawasih Pos) di RSMM, Kamis (3/8) kemarin, menjelaskan DD terhitung sebagai pasien pertama yang menderita gejala klinis flu burung.
Hasil pemeriksaan medis Sabtu lalu, yang bersangkutan menderita pneumonia (radang paru-paru parah) disertai demam tinggi, batuk dan pilek. "Menurut Depkes, gejala itu merupakan spesifikasi gejala penderita flu burung. Jadi untuk sementara dia kami isolasi agar lebih aman dan tertangani dengan baik. Kami juga masih mengikuti perubahan gejala klinis bersangkutan," jelas Dokter Paulus.
Meski DD diduga terserang virus H5N1, kata dr Paulus, pihak RSMM belum bisa mengumumkan secara pasti bahwa yang bersangkutan terserang flu burung. Mengingat hasil pemeriksaan Minggu (30/7) hingga kemarin, gejala klinis sudah negatif.
"Dalam seminggu ini kami lihat perkembangan kesehatannya. Setelahnya baru dilaporkan ke WHO untuk disimpulkan yang bersangkutan terjangkit flu burung atau bukan," ujarnya. Dugaan medis DD terserang flu burung berdasar keterangan keluarga pasien bahwa yang bersangkutan berprofesi sebagai peternak. Sejak empat minggu lalu atau awal Juli 2006, sejumlah ternak ayam miliknya mati secara tiba-tiba.
"Ini masih keterangan keluarga korban. Yang meragukan kami, flu burung sudah serang empat minggu lalu, tapi yang bersangkutan baru menderita. Padahal penyebaran virus itu cepat dan bisa berakibat fatal jika tidak segera tertangani," jelas Dokter Paulus.
Sementara itu, meski pihak RSMM menyatakan telah merawat seorang pasien yang diduga terjangkit virus flu burung, namun hasil pemeriksaan Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kabupaten Mimika, menyatakan negatif.
Kepala Dinkes dan KB Mimika, dr Maurits Okoseray membenarkan pihak RSMM merawat satu orang pasien yang diduga terjangkit virus flu burung. Pasien tersebut beridentitas laki-laki, umur 36 tahun, dari Kampung Utekini Baru (SP XII), Distrik Kuala Kencana, Mimika, Papua.
Setelah mendapat informasi tersebut, kata dr Maurits, pihak Dinkes kemudian mengambil sampel darah, suap tenggorokan dan hidung dari pasien tersebut lalu dikirim ke Rumah Sakit Numbru di Jakarta pada hari Senin (31 Juli 2006). Sehari kemudian, Selasa (1 Agustus) hasil pemeriksaan di laboratorium RS Numbru diterima melalui Sub Dinas Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (P2M dan PL) Dinkes & KB Mimika. Hasil pemeriksaan menunjukkan negatif atau tidak terjangkit.
"Sampel darah itu dikirim Dinkes Senin (31/7) lalu ke Rumah Sakit Numbru Jakarta untuk diperiksa. Hasilnya telah diperoleh Selasa (1/8) lalu dan dinyatakan negatif bagi pasien yang diduga terinfeksi flu burung yang dirawat di RSMM," kata dr Maurits Okoseray yang ditemui Radar Timika di ruang kerjanya, Kamis (3/8). Menyikapi kabar merebaknya isu flu burung di Timika, dokter Maurits, mengimbau masyarakat waspada dan jangan takut mengkonsumsi daging dan telur ayam.
"Yang penting dimasak atau direbus sampai matang baru dimakan. Khusus untuk telur setelah dibeli dari pasar dicuci menggunakan sarung tangan dulu baru disimpan dalam kulkas. Karena untuk antisipasi masih terdapat sisa-sisa kotoran pada kulit telur ayam yang kemungkinan terkena virus," terangnya.
Warga juga diimbau waspada terhadap burung liar atau burung piaraan yang masuk ke kandang ayam. Karena kotoran burung yang hinggap di kandang ayam juga bisa membawa virus. Khusus burung piaraan diimbau sisa makanan agar dibersihkan. "Jangan biarkan sisa makanan dan kotoran burung dalam kandang." (fan/ino)
03 August 2006
Biak : Aktifitas Illegal Fishing di Sekitar Pulau Mapia Berkurang
( Cenderawasih Pos, 02 Agustus 2006 )
Kegiatan penangkapan ikan secara illegal khususnya yang Dilakukan oleh kapal asing di sekitar Pulau mapia yang nerupakan salah satu pulau terluar yang berada di wilayah kabupaten Supiori mulai berkurang.
Komandan Korem 173/PVB Kolonel Inf Herman Tedez yang ditemui wartawan usai peringatan HUT Kodam XVII Trikora dilapangan Makorem mengatakan sejak pembangunan pos pengamanan di Pulau Mapia mulai difungsikan, kegiatan kapal asing di sekitar pulau Mapia sudah menurun drastis.
Dikatakan, untuk melakukan pengamanan terhadap Pulau Mapia yang merupakan salah satu pulau terluar menurut Danrem TN1 AD sudah menempatkan 1 pleton personil yang melakukan pemantauan di sekitar pulau Mapia.Selain anggota TNI AD di Pulau tersebut kata Danrem, juga terdapat personil TNI AL dan masyarakat yang bahu-membahu mengamankan wilayah NKRI dari gangguan pihak luar.
Jadi sejak pos di Pulau Mapia tersebut difungsikan banyak manfaat yang bisa kita dapat. Selain kita dapat melakukan pemantaun terhadap kegiatan penangkapan ikan secara illegal yang dilakukan oleh kapal asing. Dengan adanya pengamanan yang kita lakukan bersama masyarakat. maka kegiatan kapal.asing yang melakukan penangkapan ikan menurun drastis,"ujarnya.
Disinggung mengenai tanggapan masyarakat tentang keberadaan personil TNI yang melakukan pengamanan, Danrem mengatakan masyarakat sangat menyambut baik kehadiran anggota TNI untuk melakukan pengamanan dan meminta agar dapat dilakukan penambahan personil. Untuk penambahan personil menurut Danrem sulit dilakukan mengingat luas Pulau Mapia yang tidak terlalu besar. Secara geografi Pulau Mapia terdapat beberapa gugusan pulau namun tidak dapat dihuni. Sebab saat air pasang, hanya pulau Brasi yang tidak tertutup air laut,"tandasnya. (nat)
Jayapura : Jaring Sampah di Kali Acai Belum Maksimal
( Cenderawasih Pos, 02 Agustus 2006 )
Upaya Pemerintah Kota Jayapura untuk memasang jaring sampah di Kali Acai, nampaknya belum berfungsi secara maksimal. Pasalnya masih banyak sampah yang hanyut terbawa air ke bermuara ke Teluk Youtefa.
"Kalau hujan, banyak sampah terbawa air ke muara Teluk Youtefa, jaring yang dipasang untuk menahan sampah belum maksimal, di mana masih ada yang terbuka, mungkin sengaja dibuka, tapi itu tetap dilewati sampah,"kata Burhanuddin, warga yang mengaku tinggal di kawasan tersebut.
Hal yang sama dikatakan, Suprianto, warga yang juga kos di pinggir Kali Acai tersebut. Ia mengatakan,
setiap kali hujan, masih banyak sampah terbawa air."Mestinya ada orang yang ditugaskan secara rutin untuk memasang jaring dan membuka jaring. Ini penting untuk mengontrol kegunaan jaring itu, sebab kalau itu dibiarkan, tentu saja tidak maksimal berfungsi,"ujarnya.
Dari pantauan Cenderawasih Pos di lapangan kemarin siang, sepanjang Kali Acai ini sudah dipenuhi rumput panjang. Di rumput itu, terdapat sejumlah sampah yang tersangkut, sampah-sampah itu tidak terbawa oleh air. Sementara jaring yang dipasang itu kelihatan tidak berfungsi, karena sebagiannya dibiarkan terbuka sehingga air berjalan kencang. (ito)
Jayapura : KPSDM Akan Tanam 5.000 Pohon
( Cenderawasih Pos, Rabu 02 Agustus 2006 )
Sebagai bentuk kepedulian terhadap upaya pelestarian lingkungan hidup, Kelompok Peduli SDM (KP SDM) Papua dalam waktu dekat ini akan melakukan penghijauan berupa gerakan penanaman 5000 pohon. "Gerakan penghijauan yang kita sebut dengan gerakan penanaman 5.000 pohon itu difokuskan di salah satu lahan kritis tepatnya di kampung Nendeli Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, ini merupakan bagian dari kepedulian kita terhadap lingkungan hidup yang terus menerus mengalami kerusakan,"ungkap Ketua KPSDM Papua dr Jhon Manangsang kepada CenderawsihPos, kemarin.
Lanjutnya, selain gerakan penanaman 5.000 pohon sebagai bentuk kepedulian KPSDM Papua terhadap upaya-upaya peningkatan dan pelestarian lingkungan hidup, gerakan ini juga sebagai salah kegiatan dalam rangka menyambut peringatan HUT RI ke- 61 yang jatuh 17 Agustus nanti. Di jelaskan, lokasi penghijauan ke depan akan dijadikan lokasi pembangunan pusat pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM) Papua yang menganut konsep next generation.
"Lokasi lahan kritis yang dijadikan tempat penghijaun itu ke depannya akan dijadikan lokasi pembangunan pusat pengembangan kualitas SDM Papua yang menganut konsep next generation yang dimotori kelompok pedulis SDM Papua yang terdiri dari pemerintah daerah, DPRP, MRP, DAP, DAS dan pihak-pihak terkait lainnya yang benar-benar peduli terhadap perkembangan dan kemajuan SDM di Papua,"terangnya.
Di singung soal waktu pelaksanaan dan bagaimana kemasan acara dari gerakan penanaman 5000 pohon ini, kata dia, rencananya dibuka langsung gubernur dan juga kegiatan ini dibarengi dengan kemah pemuda yang melibatkan seluruh mahasiswa/wi dari 20 perguruan tinggi se-kota/kabupaten Jayapura. (and)
02 August 2006
Jayapura : Kini, Setahun Bisa Panen Beberapa Kali, Kadistrik Pasema Puas, Diajari Banyak Hal
( Cenderawasih Pos, Selasa 01 Agustus 2006 )
Hadirnya tim interdep yang mengajarkan banyak hal kepada masyarakat di sejumlah distrik di Kabupaten Yahukimo, termasuk Distrik Pasema, rupanya membuat warga di distrik tersebut merasa senang, bahkan puas.
Kepala Distrik Pasema Gerard Wetapo kepada Cnderawasih Pos belum lama ini mengaku sangat senang. "Kami diajari banyak hal, mulai dari bertani sampai menggosok gigi," akunya.
Kata Gerard, sekarang warganya sudah pandai bercocok tanam, khususnya menanam ubi jalar yang hasilnya lumayan besar. Kalau dulu warga menanam ubi hanya sekali dalam setahun, maka kini dengan mengamati cuaca, serta pemberian perlakuan pada tanaman, warga juga bisa menanam ubi beberapa kali dalam setahun. "Memang belum ada satu tahun, tapi selama 6 bulan terakhir ini, kami sudah menanam dan panen dua kali," ujarnya.
Kata Gerard, selama ini kalau menanam ubi usai ditanam, dibiarkan begitu saja. Tidak diberi perlakuan, sehingga tumbuhnya tidak optimal. Dengan teknologi bercocok tanam yang diajarkan oleh tim yang ada di Pasema, kini mereka bisa mengerti bagiamana agar hasil panen ubi bisa optimal.
Selain itu, warga juga senang karena mereka sudah mengerti bagaimana mandi dan membersihkan badan yang baik termasuk menggosok gigi. "Beberapa bulan lalu, masih banyak yang gatal-gatal karena airnya kurang bersih. Tapi sejak warga mandi air bersih, warga yang gatal-gatal sudah berkurang," katanya.
Tidak hanya itu, menurut Gerard, yang lebih membuat senang warganya adalah kini di Pasema telah dibangun sarana air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga akan air bersih. "Dengan adanya air bersih, sekarang warga mengambil air dari tabung yang di atas," ujarnya seraya menunjuk dua tabung penampung air bersih yang terletak di atas bukit yang tidak jauh dari Bandara. Dengan air bersih itu, kini warga mandi serta memasak dan tidak lagi menggunakan air dari sungai yang cenderung kurang bersih.
Menurut Gerard, penampungan air bersih tersebut dibuat dengan teknologi sederhana yang mana sumber airnya diambil dari mata air di gunung dan ditampung di bak besar yang ada, yang tentunya diberi obat agar kuman dan bibit penyakit lainnya tidak ada lagi, sehingga air benar-benar layak disebut air bersih dan layak dikonsumsi.(ta)
Kaimana : Penerimaan Hasil Kayu Capai Rp 46,5 M
( Cenderawasih Pos, Selasa 01 Agustus 2006 )
Hutan di Kabupaten Kaimana yang kaya menghasilkan dana yang besar bagi pemkab setempat, terhitung sejak tahun 2004 lalu hingga tahun 2005 kemarin, pemasukan devisa dari hasil hutan, terutama kayu sudah mencapai Rp 46,5 miliar lebih dengan total kayu yang sudah diproduksi oleh sebanyak 8 HPH di Kabupaten tersebut yakni sebanyak 340.631,53 meter kubik atau sekitar 65.963 picis (batang).
Namun besarnya penerimaan yang masuk menjadi devisa Negara tersebut dalam penerimaan PSDH dan DR, hingga saat ini pemerintah daerah Kabupaten Kaimana, belum satu pun mendapatkan bagi hasil kehutanan tersebut.
Demikian yang dijelaskan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kaimana, melalui Kepala Bidang Kehutanan dan Perkebunan pada dinas tersebut, Ir. F. I. Lawalata, kepada Radar Sorong (group Cenderawasih Pos) kemarin.
Dijelaskan, dari data yang ada pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kaimana, tercatat pada tahun 2004 lalu, hasil kayu yang dikeluarkan adalah sebanyak 86.527,67 meter kubik atau sebanyak 18.283 picis (batang) atau dibayarkan oleh pihak perusahaan untuk dana PSDH dan DR adalah sebesar Rp. 7.813.697.318. Sedangkan pada tahun 2005 lalu, hasil kayu yang diproduksi oleh sebanyak 8 HPH tersebut adalah sebanyak 254.103,97 meter kubik atau sekitar 47.680 batang dengan biaya PSDH dan DRnya sebesar Rp. 38.690.972.889, sehingga total secara keseluruhannya adalah sebesar Rp 46.504.670.270.
Sementara data yang diperoleh Radar Sorong dari 8 HPH yang saat ini sedang melakukan kegiatan eksploitasi hutan di Kabupaten Fakfak adalah, PT. Budhi Nyata, PT. Centrico Unit I yang juga bekerja di Distrik Teluk Etna dengan luas lahan, PT. Hanurata Unit II di Buruway dan sebagian lahannya masuk dalam wilayah Kabupaten Fakfak, PT. Hanurata Unit III di Distrik Kaimana, PT. Kaltim Hutama di Teluk Etna, PT. Iramsulindo di Distrik Arguni dan Kaimana, PT. Prabu Alaska di Distrik Kaimana dan PT.Wana Kayu Hasilindo di Distrik Teluk Arguni.(ani)
01 August 2006
Jayapura : Disinyalir Banyak Bangunan Abaikan Amdal
( Cenderawasih Pos, Senin 31 Juli 2006 )
Kepala Bidang Amdal dan Penyelesaian Sengketa Bapedalda Provinsi Papua Ir. Martha Mandosir mengatakan, cukup banyak bangunan di sejumlah titik di Kota Jayapura tidak memiliki dan mengabaikan anilisis mengenai dampak lingkungan (Amdal).
Selain itu, lanjutdia, banyak juga masyarakat yang mengurus Amdal hanya sebagai persyaratan untuk mendirikan bangunan atau membuka usaha. Sementara proses pengawasan terhadap izin Amdal yang diurus tersebut tidak berjalan baik. Akibatnya, banyak perusahaan atau bangunan yang menimbulkan dampak-dampak terhadap kerusakan lingkungan.
"Jangankan bangunan yang dibuat masyarakat, bangunan kantor dan fasilitas pemerintah saja banyak mengabaikan Amdal. Biasanya Amdal diurus hanya sebagai persyaratan, sementara dalam pengawasannya setelah bangunan itu selesai tidak berjalan dengan baik sehingga dampak lingkungannya tidak terpantau," katanya kepada Cenderawasih Pos saat ditemui di ruang kerjanya, baru-baru ini.
Terkait dengan hal tersebut, ia berpendapat perlu ada aturan yang tegas yang dikeluarkan pemerintah daerah secara tegas dalam pengelolaan lingkungan dan pemberian Amdal. Jika tidak ada Perda, lanjutnya, maka dikhawatirkan akan banyak kegiatan-kegiatan yang menimbulkan dampak kerusakan lingkungan lebih besar lagi. (ito)
Jayapura : Tumpukan Sampah di RSUD Abe Dikeluhksn
( Cenderawasih Pos, Senin 31 Juli 2006 )
Permasalahan sampah di Kota Jayapura nampaknya tidak pernah habis. Seperti yang ada di RSUD Abepura. Tumpukan sampah yang berada di samping kamar mayat itu, dikeluhkan, karena tumpukan sampah itu mulai mengeluarkan bau tak sedap, bahkan dikhawatirkan bisa mengganggu pasien yang sedang menjalani perawatan.
Direktur RSUD Abepura, dr AK Malisa, S.PR saat dikonfirmasi membenarkan adanya tumpukan sampah itu. Dikatakan, pihaknya sudah berupaya menghubungi pihak Dinas Kebersihan dan Pemakaman (DKP) Kota Jayapura agar sampah itu diangkut ke TPA Nafri, namun hingga Sabtu, belum juga diangkut petugas DKP.
"Kami sudah hubungi Kepala DKP Kota dan katanya akan segera memerintahkan petugas kebersihan untuk mengangkutnya, namun hingga saat ini sampah itu belum diangkut,"ungkapnya kepada Cenderawasih Pos di kediamannya, Sabtu (29/7).
Karena petugas DKP tidak datang mengangkut sampah itu, maka pihaknya terpaksa mengeluarkan biaya operasional untuk membiayai pengangkutan sampah itu ke TPA Nafri. "Kami akhirnya menghubungi Brimob Papua untuk bantu kami mengangkut sampah itu ke TPA Nafri,"imbuhnya. Agar tumpukan sampah itu tidak terjadi lagi, pihaknya mengharapkan kepada instansi teknis yang merupakan penanggungjawab kebersihan di kota ini, untuk menyikapi setiap masalah persampahan yang ada, sehingga di kemudian hari, tidak terjadi lagi penumpukan sampah di mana-mana. "Kami dulunya telah merencanakan pengadaan truk sampah, namun setelah kami kaji, ternyata menimbulkan masalah, dalam hal ini menyangkut biaya operasionalnya, serta dampak lainnya. Jadi kami percayakan pemerintah untuk menangani kebersihan di RSUD ini,"tandasnya. (nls)
Manca Negara : Inggris : Burung Botak dari Timur Tengah Dilacak
( Kompas, Senin 31 Juli 2006 )
Tiga ekor burung dari spesies yang diperkirakan telah punah di Timur Tengah sejak empat tahun lalu dipasangi pemancar gelombang radio. Langkah tersebut dilakukan agar migrasi burung dapat dilacak menggunakan satelit setelah mereka meninggalkan tempat berkembang biaknya di dekat Palmyra, bagian tenggara Suriah.
Burung ibis berkepala botak merupakan jenis burung yang dipuja Firaun di zaman Mesir Kuno. Burung tersebut pernah mendiami sebagian besar Timur Tengah, Afrika bagian utara, dan Pegunungan Alpen di Eropa. Burung ibis berkepala botak diklasifikasikan sebagai hewan yang sangat terancam punah dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) atau World Conservation Union (WCU). Keberadaannya di alam berkurang drastis karena berkurangnya habitat, perburuan liar, dan penyebaran racun pestisida.
Saat ini, populasinya di alam tinggal tersisa 13 ekor di Suriah dan terdapat 100 pasang di tempat penangkarannya di Maroko. Tiga dari tujuh ekor tujuh ekor burung yang telah dewasa di Suriah ditangkap dan diberi pemancar gelombang radio.
Para ilmuwan dari Royal Society for the Protection Birds (RSPB) dan BirdLife Timur tengah berharap dapat memetakan ke mana burung berpindah tempat selama musim dingin dan memahami mengapa hanya sedikit jumlah burung yang kembali ke habitatnya. Burung tersebut diperkirakan terbang hingga daerah selatan melalui Saudi Arabia dan Yaman bahkan mungkin Eritreia.
"Kami tidak akan mempelajari apapun jika burung ini musnah dan ini kesempatan terakhir kami untuk menjaga kelangsungan hidupnya di Suriah," kata Paul Buckley, kepala program di RSPB. "Jika kami dapat mengikuti jalur migrasinya dan memetakan tempat tinggalnya selama musim dingin maka kami dapat menemukan mengapa jumlahnya terus menurun dan bagaimana cara melindunginya," lanjut Paul. Begitulah langkah awal untuk meningkatkan populasinya kembali.
Kepala Birdlife Timur Tengah, Ibrahim Khader, mengatakan bahwa penemuan ibis botak seperti menemukan burung phoenix di Arab. Baginya, survei dan pemasangan pemancar radio di tubuhnya merupakan proyek yang paling menantang saat ini.
"Kami tahu mengenai keberadaannya di Palmyra dari laporan pengembara Badui dan pemburu lokal. Tanpa proyek pelacakan, burung tersebut hanya akan dikenal dari sejarah dan ukiran hieroglyph," tandasnya.
Manca Negara : Afrika : Gajah Benci Kawasan Berbukit
( Kompas, Senin 31 Juli 2006 )
Bahkan bukit kecil pun dihindari gajah. Bagi gajah, mendaki cukup menghabiskan energi sehingga mereka menghindari daerah cekungan. Demikian kesimpulan para peneliti Universitas Oxford setelah mempelajari perilaku gajah-gajah Afrika.
Para peneliti menggunakan peralatan berbasis global positioning systems (GPS) untuk melacak perpindahan gajah-gajah di Kenya bagian utara. Di lokasi yang dihuni sekitar 5400 hewan berkulit tebal ini, para peneliti menemukan bahwa populasi gajah sangat jarang di tempat-tempat yang berbukit.
Mungkin mereka menghindarinya karena sulit menemukan air di sana atau takut tergelincir. Namun, hasil penghitungan para peneliti menunjukkan bahwa energi yang dibutuhkan untuk mendaki merupakan faktor yang sangat berpengaruh. Untuk mendaki sebuah bukit hingga setinggi 100 meter dibutuhkan energi yang setara dengan setengah jam mencari makan.
"Jelas bahwa mendaki adalah pekerjaan yang tidak menyenangkan bagi gajah, tapi justru harus dipertimbangkan masak-masak," kata para peneliti dalam makalah penelitian yang dimuat jurnal Current Biology edisi 25 Juli. Penelitian ini dilakukan Fritz Vollrath dan Jake Wall dari Universitas Oxford serta Ian Douglas-Hamilton dari Save the Elephants. Mereka menyimpulkan, hewan-hewan berbadan besar seperti gajah mungkin melihat sekelilingnya dengan cara berbeda dibandingkan hewan-hewan yang lebih kecil.
