(www.cetak.kompas.com, 05-01-2009)
Jayapura, Kompas - Gempa di Manokwari, Papua Barat, Minggu (4/1), mengakibatkan seorang anak tewas, lebih dari 40 orang luka, dan ratusan bangunan rusak. Siaran pers Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebutkan, ada dua korban jiwa.
Gempa pertama terjadi Minggu pukul 02.43 dengan kekuatan 7,2 skala Richter. Pusat gempa berada di sebelah barat Manokwari dengan kedalaman 10 kilometer. Gempa susulan terjadi pada pukul 05.33 dengan kekuatan 7,6 skala Richter.
Getaran gempa membuat Hotel Mutiara Sanggeng dan Hotel Kali Dingin Wosi ambruk. Empat tamu terjebak dalam Hotel Mutiara. Keempat korban dapat dievakuasi enam jam sesudahnya dalam kondisi kritis.
Di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Manokwari, Yolanda Fabiola Banggoanbo (10) tewas tertimpa bangunan.
Hingga Minggu petang, data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menunjukkan, Manokwari diguncang 29 kali gempa tektonik berkekuatan lebih dari 5 skala Richter.
Direktur RSUD Manokwari Hengky Tewu menuturkan, ada 26 orang dirawat karena patah kaki dan tangan. Lima di antaranya penumpang kapal Dorolonda yang sedang merapat di dermaga Pelabuhan Manokwari, Minggu pagi. Mereka terjatuh dari tangga kapal.
Menurut Kepala Polres Manokwari Ajun Komisaris Besar Pit Wahyu, berdasarkan laporan para kepala polsek, korban jiwa ada 1 orang, luka ringan 40 orang, dan luka berat 3 orang. Jumlah pengungsi sekitar 1.000 orang di kota dan 7.000 orang di Distrik Masni, 90 kilometer dari kota.
Pit mencatat, Kantor Gubernur Papua Barat, kantor bupati, dan sejumlah kantor distrik rusak ringan. Sebelas bangunan rusak berat di kota (Distrik Manokwari Barat), antara lain Hotel Swiss-Bell, Mal Hadi, Gedung Pelni, rumah dinas bupati, dan gudang beras. Selain itu, 106 rumah rusak ringan dan 60 rumah rusak berat. Sebuah masjid dan dua gereja juga rusak.
Sekretaris Daerah Kabupaten Manokwari Anthony Lessnusa mengatakan, warga butuh bahan makanan dan tenda. Warga Manokwari berjumlah 200.000 memilih tinggal di luar rumah karena takut gempa susulan.
Untuk sementara, pemkab dan aparat keamanan menyediakan posko pengungsian di Lapangan Borarsi, Markas Kodim Manokwari, dan Lapangan TNI AL.
Aktivitas penerbangan di Bandara Rendani Manokwari dialihkan ke Bandara Frans Kaisiepo, Biak, dan Bandara Sentani, Jayapura. Kepala Bandara Rendani Sabaruddin mengatakan, gempa menyebabkan peralatan navigasi dan komputer di menara kontrol terjatuh sehingga membutuhkan kalibrasi ulang.
Gempa juga terasa di Sorong. Sejumlah bangunan rusak, tetapi tak ada korban jiwa.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Minggu siang, menginstruksikan sejumlah menteri agar berangkat ke Manokwari. Presiden juga berkomunikasi dengan Gubernur Papua Barat Abraham Octovianus untuk memeriksa langkah darurat yang dilakukan. ”Saya menerima informasi ada empat orang meninggal akibat gempa dan beberapa bangunan rusak,” katanya.
Menurut siaran pers Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kepala BNPB, Menteri Perhubungan, Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Sosial, dan Menteri Kesehatan beserta sejumlah wartawan berangkat ke lokasi bencana pukul 14.00. Dengan pesawat Hercules, tim membawa 1 mobil penyelamat, instalasi penjernih air, 20 tenda peleton, dan 200 tenda gulung.
Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan telah mengecek kondisi pascagempa bumi di Manokwari.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono menyatakan, warga tak perlu khawatir terjadi tsunami karena pusat gempa berada di darat.
Gempa bumi tektonik berkekuatan 5,6 skala Richter juga melanda Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur, Minggu pukul 02.20. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. (ICH/HAR/CHE/SEM)
Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua
IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org
06 January 2009
Jayapura : Gempa di Manokwari, Presiden Instruksikan Beberapa Menteri Berangkat ke Lokasi
05 January 2009
Nasional : Gurita Berkepala Manusia
(www.news.okezone.com, 04-01-2009)
PADANG - Aneh tapi nyata, itulah yang dialami Ita (42) warga Jalan Berok I No 48, Kelurahan Berok Nipah, Kecamatan Padang, Kota Padang, Sumatera Barat. Dia dikejutkan oleh gurita yang dimasak menyerupai kepala manusia, Minggu (4/1/2009).
Menurut Ita, peristiwa itu berawal ketika dia memasak gurita. Tiba-tiba, mendadak kepala gurita yang dimasaknya nongol di dalam kuali. Dia langsung terperangah karena gurita yang dimasak tak seperti biasanya.
"Saya terkejut. Ketika saya masak gurita, mendadak kepala gurita itu nongol di dalam kuali menyerupai kepala manusia," katanya.
Sontak dia mengurungkan melanjutkan memasak cumi tersebut. Kemudian dia langsung memberitahu suaminya Siman (42) bahwa cumi yang dimasak tersebut berkepala manusia.
Sementara, warga yang ada di kawasan tersebut menjadi heboh karena digegerkan isu gurita berkepala manusia. Mereka menyerbu rumah Ita untuk melihat peristiwa aneh tersebut.
"Gurita itu saya dapat dari suami saya yang dibelinya dari kapal pengangkut ikan dari Sipora Mentawai, karena rumah kami kecil terpaksa kami pajang di depan rumah," katanya.
Dari pantauan okezone di lapangan, kepala gurita tersebut memiliki 2 mata, telinga, hidung dan bibir serta memiliki buah dada yang menonjol ke depan. Sementara ukuran gurita itu panjangnya kira-kira 20 cm. Diperkirakan gurita tersebut berkelamin perempuan.
Kini gurita itu ramai dikunjungi warga. Ada beberapa warga yang mendokumentasikan gurita tersebut dengan kamera handphone. Bahkan pemilik gurita tersebut minta sumbangan kepada warga yang datang dan mendokumentasikannya. (nov)
03 January 2009
Foto : Ikan Tiger Goby, penghuni sungai Teidi, Buare, Dabra - Mamberamo, Papua
Tiger Goby ( Eugnathogobius tigrellus )
Ikan ini termasuk dalam Famili Gobiidae, berukuran kurang dari 3 cm SL, selama ini diketahui hanya dari 10 specimen awetan yang dikoleksi tahun 1939 oleh Ekspedisi Archbold ke Sungai Mamberamo.
Pada waktu itu, koleksi ikan ini diambil dari Bagian Tengah Mamberamo di Bernhard Camp. Enam puluh satu tahun kemudian yaitu tahun 2000, Gerald R. Allen pada penelitian dengan Conservation International berhasil mengoleksi ikan ini dan pertama kali membuat foto ikan yang masih hidup, yang dikoleksi dari cabang Sungai Tiri, sekitar 5 km baratdaya dari Dabra, Mamberamo Hulu.Pada waktu itu berhasil dikoleksi 10 specimen.
Pada tahun 2008, team Biologi Universitas Cenderawasih, Jayapura (Henni dan Erlani) menemukan kembali ikan ini di Sungai Teidi, di daerah Buare, Dabra. Ikan ini ditemukan di bagian tepi sungai, bekas banjir, beraliran tenang dan pada kedalaman beberapa cm saja.
Foto : Hendrite L. Ohee
Penulis : Hendrite L. Ohee, saat ini sedang studi Doktoran/S3 di Center for Nature Conservation. Georg-August Univ. Goettingen Von Siebold-Str. 2 D-37075 Goettingen, Germany
02 January 2009
Website Taman Nasional Wasur, Merauke - Papua
Telah hadir Website dari ufuk paling timur tanah Papua, Website Taman Nasional Wasur, Merauke - Papua. Silahkan kunjungi di www.btnwasur.blogspot.com
31 December 2008
Sorong : Teluk Bintuni akan Jadi Pusat Industri Petrokimia
(www.radartimika.com, 30-12-2008)
SORONG - Pemerintah memproyeksikan Kabupaten Teluk Bintuni di Papua Barat menjadi pusat industri petrokimia. Rencana tersebut berkaitan dengan mulai berproduksinya proyek gas alam cair Tangguh di Kabupaten Teluk Bintuni.
Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, dirinya mendapat tugas khusus dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono guna menilai potensi mendirikan industri petrokimia di Tangguh. Selain memaksimalkan potensi gas, industri tersebut juga digunakan untuk mengantisipasi penurunan harga minyak internasional.
’’Kita mencari nilai tambah dari gas di Tangguh. Kalau hanya jualan gas, ketika harga minyak turun, pendapatan (bagi hasil migas) pemerintah ikut turun,’’ ujar Kalla ketika menjadi pembicara kunci di seminar tentang otonomi khusus Papua di Sorong, Papua Barat, kemarin (29/12).
Wakil Presiden Jusuf Kalla hari ini memang dijadwalkan berkunjung ke Teluk Bintuni untuk melepas kargo ekspor perdana gas alam cair Tangguh. Kalla juga dijadwalkan meresmikan pengeboran perdana lapangan minyak hasil kerja sama operasi Pertamina dan Petrochina di Kabupaten Sorong.
Proyek gas alam cair Tangguh adalah megaproyek yang dikerjakan konsorsium yang dipimpin perusahaan migas Inggris BP Plc. Dengan pengapalan perdana kargo gas hari ini, proyek senilai USD 5 miliar itu bisa memenuhi komitmen pengapalan gas kepada semua pembeli.
Sesuai kontrak, pembeli LNG dari Tangguh adalah CNOOC untuk pengiriman ke terminal Fujian sebesar 2,6 metrik ton per tahun. Pembeli lain adalah Sempra Energy LNG Corporation untuk pengiriman ke receiving terminal di Costa Azul, Mexico, seberat 3,7 metrik ton per tahun. Gas yang dikirim ke Sempra dipasarkan di Amerika Serikat dan Meksiko.
Gas alam dari Tangguh juga dikirimkan ke POSCO, K-Power, dan SK Corporation dari Korea Selatan. Pembeli yang juga telah antre adalah Tohoku Electric dari Jepang. Proyek LNG Tangguh akan mengolah gas yang berasal dari tiga ladang gas di Papua Barat. Yaitu, blok Berau, blok Muturi, dan blok Wiriagar.
Cadangan gas terbukti dari ketiga ladang itu adalah 14,4 triliun kaki kubik. Untuk tahap awal, Tangguh direncanakan memproduksi 7,6 metrik ton LNG per tahun dari dua unit pemurnian dan pencairan gas (train). Dengan beroperasinya lapangan gas Tangguh dan Petrochina, ujar Kalla, dana bagi hasil yang diperoleh rakyat Papua Barat dipastikan meningkat.
Sebab, sesuai UU Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat, provinsi berhak mendapatkan 70 persen alokasi dana bagi hasil yang diterima pemerintah. ’’Apalagi, dana bagi hasil migas untuk Papua dan Papua Barat sangat besar. Jauh lebih besar dibandingkan dengan provinsi lain yang hanya memperoleh 15 persen dari dana bagi hasil migas yang diterima pemerintah," katanya.
Kalla yakin, tambahan dana bagi hasil migas tersebut akan mempercepat pembangunan di Papua dan Papua Barat yang infrastrukturnya sangat tertinggal dibandingkan dengan provinsi lain. Namun, sebelum dana bagi hasil tersebut terealisasi, Wapres meminta pemerintah provinsi dan DPR Papua mengoptimalkan pemanfaatan dana alokasi umum, dana alokasi khusus, dan dana otonomi khusus yang tahun ini mencapai Rp 29 triliun.
Bila dihitung dari sisi keuangan, alokasi anggaran pemerintah dibagi jumlah penduduk di Papua dan Papua Barat jauh melebihi provinsi lain. Dengan jumlah penduduk hanya 2,9 juta jiwa, setiap kepala di kedua provinsi mendapatkan alokasi dana Rp 10 juta per orang per tahun. ’’Kalau dibagikan, per keluarga bisa mendapat Rp 40 juta per tahun. Bandingkan dengan Sulawesi Selatan yang hanya Rp 2 juta per kepala, atau Jawa Barat yang hanya Rp 1,5 juta per kepala,’’ kata dia.
Karena itu, Wapres meminta pemerintah dan DPRD tidak hanya menuntut hak dan melupakan kewajiban otonomi khusus. Kedua lembaga diminta saling mendukung, sekaligus saling mengkritik kebijakan yang salah secara konstruktif. ’’Kalau bupati terlalu lama di Jakarta, DPRD harus mengkritik. Sebaliknya, kalau DPRD terlalu rajin studi banding, bupati juga harus teriak. Semua pihak harus bekerja sebaik mungkin untuk rakyat,’’ tegasnya.
Kalla juga membantah bahwa pemerintah pusat tidak adil. Sebab, dana yang ditransfer ke kedua provinsi jauh lebih besar dibandingkan dengan dana yang diterima dari royalti PT Freeport, yakni Rp 17 triliun per tahun. ’’Mengapa manfaatnya belum terlihat? Itu terjadi karena wilayah Papua sangat luas dan penduduknya terpencar sehingga susah membangun infrastruktur. Lagi pula, biaya pembangunan infrastruktur di Papua dua hingga tiga kali lipat dibandingkan dengan Jawa,’’ terangnya.
Meski demikian, Kalla mengakui bahwa pemerintah terlambat membangun infrastruktur di Papua dan Papua Barat. Ketika itu, pemerintah berpikir tidak efisien membangun infrastruktur bila hanya melayani penduduk yang sedikit dan tersebar. Namun, pemerintah kini membalik paradigma tersebut. ’’Kalau infrastruktur tidak dibangun, mereka mau lewat mana,’’ jelasnya. (noe/oki/jpnn)
Jayapura : BMG Warning Nelayan di Papua,
Awal Tahun Diminta Tidak melaut
(www.cenderawasihpos.com, 30-12-2008)
JAYAPURA-Badan Meteorologi dan Geofisikan (BMG) Wilayah V Jayapura memperingati (mewarning) para nelayan di Papua untuk sementara waktu tidak melaut. Sebab diperkirakan pada awal tahun 2009, tinggi gelombang laut di beberapa wilayah perairan Papua (Pantai Utara dan Laut Arafura) mencapai 2 hingga 4 meter.
Kepala Bidang Data dan Informasi BMG Wilayah V Jayapura, Ahmad Mudjahidin melalui Kasubdin Pelayanan Jaga, Zem I Padama, S.Si, mengatakan, pada awal tahun antara tanggal 1 hingga 3 Januari, tinggi gelombang di sekitar wilayah Laut Arafura bisa mencapai 3 hingga 4 meter.
Sementara untuk wilayah pantai utara Papua, gelombang laut diperkirakan bisa mencapai 2 hingga 2,5 meter.”Dengan kondisi seperti ini, tentunya sangat membahayakan bagi dunia pelayaran di Papua yang menggunakan kapal kecil khususnya bagi para nelayan. Untuk itu, nelayan diminta untuk mewaspadai tinggi gelombang ini. Sebab tinggi gelombang seperti ini sngat riskan untuk para nelayan dan kapal yang berukuran kecil,”ungkapnya kepada Cenderawasih Pos, Senin (29/12).
Dikatakan, tingginya gelombang di beberapa wilayah perairan Papua disebabkan adanya angin barat yang terjadi setiap tahun. Untuk wilayah Laut Arafura kecepatan angin menurutnya bisa mencapai 25 knot. Sedfangkan di Pantai Utara Papua kecepatan angin antara 10 hingga 25 knot.
Selain masalah gelombang laut menurut Zem, intensitas curah hujan yang mulai meningkatkan di beberapa kabupaten/kota juga perlu diwaspadai khususnya daerah yang rawan banjir dan tanah longsor. Sebab berdasarkan pengamatan BMG di beberapa kabupaten seperti Mimika, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Boven Digoel dan Asmat, intensitas curah hujannya tinggi yaitu lebih dari 400 mm.”Sedangkan untuk wilayah Kota Jayapura masih di bawah normal yaitu sekitar 215 mm, dimana peluang hujan terjadi pada malam hari,”tandasnya.(ind)
Nasional : Negara Memimpin Perusakan Ibu Pertiwi
(www.kompas.com, 30-12-2008)
JAKARTA, SELASA — Saat ini laju deforestasi atau kerusakan hutan di Indonesia masih di atas 1 juta hektar per tahun. Kemudian dilaporkan pemerintah, ada 24 pulau tenggelam dalam periode 2005-2007 serta kejadian banjir dan longsor yang hampir merata di semua daerah. Hal itu menunjukkan bahwa negara memimpin perusakan Ibu Pertiwi melalui berbagai kebijakan yang dikeluarkannya. Demikian disampaikan Ketua Institut Hijau Chalid Muhammad, Senin (29/12) di Jakarta.
”Pada akhir 2008 bahkan negara memberi dua kado berupa pengesahan Undang-Undang Pertambangan Mineral dan Batu Bara yang mempercepat eksploitasi tambang dengan menjual murah serta kado pembebasan perkara pembalakan liar hutan oleh 13 dari 14 perusahaan,” kata Chalid.
Belum lagi, adanya penyimpangan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2008 yang membatasi pemanfaatan hutan lindung untuk usaha pertambangan, meskipun itu berupa pengalihan fungsi hutan hanya untuk sarana dan prasarana tambang. Diungkapkan Chalid, seperti di Morowali, Sulawesi Tengah, pemerintah selama 2008 ini mengizinkan pembukaan pelabuhan usaha tambang di kawasan hutan lindung. ”Kemudian di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, masih diizinkan usaha tambang mangan di kawasan hutan lindung pula,” kata Chalid.
Kemudian fakta lain, sebanyak 263 warga dalam setahun ini meninggal akibat bencana ekologis, seperti banjir dan longsor. Ada lagi berupa perizinan pemerintah untuk pengalihan fungsi hutan seluas 4 juta hektar untuk perkebunan sawit di Papua, yang juga menjadi bagian peran negara dalam merusak Ibu Pertiwi.
Chalid juga mengemukakan hal-hal tersebut dalam suatu pertemuan Evaluasi 2008 dan Outlook 2009 Pergerakan Kaum Muda Indonesia kemarin di Jakarta. Tidak hanya bidang lingkungan yang disajikan, tetapi juga meliputi masalah hak asasi manusia, politik, kelautan, dan sosial-budaya.
Nawa Tunggal
Nasional : Pemantauan Penanaman Pohon Tidak Jelas, LSM Sudah Gunakan Citra Satelit
(www.kompas.com, 30-12-2008)
JAKARTA, SELASA - Program Penanaman 100 Juta Pohon yang dicanangkan pemerintah tidak disertai dengan mekanisme pemantauan kelangsungan hidup pohon yang ditanam secara jelas dan terukur. Oleh karena itu, klaim pemerintah yang menyatakan sudah menanam jutaan pohon, sulit dibuktikan.
”Karena itu, sistem pemantauan oleh pemerintah sangat penting untuk segera diwujudkan,” kata Kepala Komunikasi dan Branding World Wildlife Fund for Nature (WWF) Indonesia Elshinta Marsden, Senin (29/12), di Jakarta.
Menurut dia, seperti dilakukan WWF di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah, program penanaman pohon disertai pemantauan dan evaluasi setiap enam bulan mudah dilakukan dengan menggunakan teknologi pencitraan satelit.
”Di antara berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang peduli terhadap pemulihan lingkungan hutan memang sudah menerapkan teknologi serupa, namun yang dibutuhkan sekarang pemantauan secara menyeluruh yang harus diupayakan pemerintah,” kata Elshinta.
Kematian 17 persen
Dudi Rufendi selaku Koordinator Program NEWtrees WWF di Taman Nasional Sebangau mengatakan, hasil evaluasi penanaman pohon yang terakhir kali dilakukan pada November-Desember 2008 menunjukkan adanya kematian pohon sekitar 17 persen. Pemantauan dilakukan untuk penanaman lahan seluas 406 hektar, dengan setiap hektar ditanami 400 pohon endemik. ”Ada tiga jenis pohon endemik yang ditanam, meliputi jelitung, kulai, dan belangeran,” kata Dudi.
Menurut Dudi, pemantauan dilakukan dengan memotret sampel pohon yang ditanam dalam lingkup 1 hektar, kemudian ditentukan titik koordinatnya dengan teknologi GPS (global positioning system). Kemudian dengan teknologi pencitraan satelit dapat diperkirakan kelangsungan hidup pohon sesuai sampel tersebut dan bisa ditentukan persentase keberhasilan penanaman tersebut.
Tingkat kematian pohon sekitar 17 persen selama penanaman satu tahun, menurut Dudi, tergolong baik. Setelah dihitung tingkat kematian pohon tersebut, kemudian ditanami kembali dengan bibit yang baru.
Menurut Elshinta, pemantauan program penanaman pohon dilakukan selama tiga tahun. Masa-masa ini merupakan masa kritis penanaman pohon. ”Upaya untuk memantau kelangsungan hidup pohon yang tidak kalah penting lainnya adalah melibatkan masyarakat setempat,” kata Elshinta.
Elshinta menyebutkan, dukungan masyarakat untuk melestarikan pohon ini juga disuarakan melalui kampanye bersama Cita Hijau 2009. Pencanangannya pada Minggu (28/12) di Jakarta.
Nawa Tunggal
Timika : 37 Hektar Lahan Kosong Dibuka
(www.radartimika.com, 30-12-2008)
TIMIKA – Seluas 37 hektar lahan kosong di Nawaripi, Kampung Wonosari Jaya dibuka oleh PT Yamvaf Pasific Jaya. Serimonial pembukaan lahan tersebut dilakukan Bupati Mimika, Klemen Tinal, Minggu (28/12) yang ditandai dengan pengguntingan pita. Mendampingi bupati, pimpinan PT Yamvaf Pasific Jaya, Hasanudin Yampi berserta ratusan undangan.
Hasanudin kepada Radar Timika disela-sela kegiatan itu mengatakan, pihaknya telah banyak membuka lahan kosong di kota Timika dan sekitarnya. Diantaranya, tahun 1996 di depan Telkom, tahun 1997 di kompleks Kelapa Dua (belakang Hasrat Abadi) seluas 10.800 meter persegi, dan tahun 1999 di kompleks Matoa dengan luas lahan 22.456 meter persegi dan di Kampung Kadun Jaya tahun 2004 dengan luas lahan 240.000 meter persegi.
"Pembukaan lahan kali ini Nawaripi dengan luas 37 hektar. Yang akan dibuka tiga lahan yakni, tanah kavling seluas 11 hektar, penginapan dinas atau pengusaha 10 hektar, dan 16 hektar untuk perumahan. Maksud dan harapan kami membuka lahan tersebut untuk menciptakan sebuah lingkungan yang teratur, bersih, rapi dan aman,"ujar Hasanudin.
Dikatakan, dengan pembukaan lahan baru akan memberikan lapangan kerja dan bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, pembukaan lahan berarti memanfaatkan lahan yang tidak aktif menjadi lahan produktif untuk pemukiman.
"Acara yang kami selenggarakan ini sebenarnya sudah kami siapkan sejak bulan lalu. Jadi sudah 40 persen yang sudah mengambil tanah kavling. Selain tanah kavling kami juga membangun rumah tipe 70," tambahnya.
Bupati Klemen Tinal yang diminta komentarnya mengenai pembukaan lahan kosong mengatakan, pemerintah menganggap pembangunan ini sangat strategis, dan sesuai dengan otonomi khusus yang diberikan. "Otonomi khusus menjadikan masyarakat sebagai subyek untuk mengambil bagian dalam pembangunan daerah,". (ckr)
30 December 2008
Manca Negara : Amerika : Lebih dari 2 Triliun Ton Es Kutub Mencair
(www.kompas.com, 29-12-2008)
LEBIH dari dua triliun ton es di Kutub Utara dan Kutub Selatan mencair sejak tahun 2003. Hasil pengukuran menggunakan data pengamatan satelit GRACE milik NASA itu menunjukkan bukti terbaru dampak dari pemanasan global.
"Antara Greenland, Antartika, dan Alaska, pencairan lapisan es telah meningkatkan air laut setinggi seperlima inci dalam lima tahun terakhir," kata Scott Luthcke, geofisikawan NASA.
Dari pengukuran tersebut, lebih dari setengahnya adalah es yang sebelumnya ada di Greenland. Selama lima tahun, es yang mencair dari Greenland tersebut mengalir ke Teluk Chesapeake dan mengalir ke laut lepas. Bahkan menurut Luthcke, pencairan es di Greenland akan berlangsung semakin cepat.
Mencairnya es di daratan sebenarnya tak berpengaruh langsung terhadap kenaikan muka air laut di seluruh dunia seperti mencairnya lautan beku. Pada tahun 1990-an, pencairan es di Greenland tidak menyebabkan peningkatan air laut yang berarti.
"Namun, saat ini Greenland turut meningkatkan setengah milimeter tingkat air laut per tahun," kata ilmuwan es NASA Jay Zwally. “Pencairan terus memburuk. Ini menunjukkan tanda yang kuat dari pencairan dan amplifikasi. Tidak ada perbaikan yang terjadi,” lanjut Zwally.
Para ilmuwan NASA mempresentasikan temuan baru mereka pada konferensi American Geophysical Union di San Fransisco minggu lalu. Dengan menganalisis perubahan iklim, secara umum para ilmuwan akan melihat yang terjadi beberapa tahun untuk menentukan tren secara keseluruhan.
HIN
Sumber : LIVESCIENCE
27 December 2008
Nasional : Presiden Berharap WOC di Manado Sukses
(www.kompas.com, 26-12-2008)
MANADO, JUMAT — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap pelaksanaan Konferensi Kelautan Dunia (World Ocean Conference/WOC) dan Coral Triangel Initiative (CTI) Summit Mei 2009 diikuti enam kepala negara harus sukses.
Hal itu disampaikan Presiden saat meninjau prasarana infrastruktur dan peresmian sejumlah hotel berbintang di Manado, Jumat (26/12). Menurut Presiden, kedua event dunia yang sudah masuk dalam agenda Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merupakan inisiatif Indonesia untuk pembangunan laut dan kelestarian karang dunia.
"WOC adalah gerakan revolusioner di bidang kelautan, sedangkan CTI adalah sumbangan Indonesia kepada dunia dalam menjaga keberadaan karang dunia sebagai sumber pangan masa depan," katanya.
Sekretaris Eksekutif Panitia Daerah WOC Noldy Tuerah mengatakan bahwa dalam perkembangannya WOC menjadi minat pemangku kelautan dunia, bahkan tercatat sudah 121 negara yang menyatakan diri ikut dalam konferensi di Manado.
Sekretaris Menko Kesra S Indroyono yang menjadi Sekretaris Panitia Nasional mengatakan dalam pertemuan WOC dan CTI akan dideklarasikan Manado Ocean Policy. Untuk CTI, Indroyono mengatakan akan dihadiri enam kepala negara yakni Filipina, Malaysia, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Timur Leste, dan Indonesia, ditambah kehadiran dua negara partner, Australia dan Amerika Serikat.
Jean Rizal Layuck
25 December 2008
Merauke : Hijaukan Bumi, Korem 174/ATW Tanam Ribuan Pohon
(www.cenderawasihpos.com, 24-12-2008)
MERAUKE-Dalam rangka melakukan penghijauan, jajaran Korem 174/ATW melakukan penanaman ribuan pohon secara massal di Markas Korem 174/ATW, Tanah Miring, Rabu (23/12). Tidak kurang 170 personel dari satuan tersebut dikerahkan untuk menanam 2.930 pohon yang terdiri dari 1.830 pohon ekaliptus, 300 pohon jambu mete dan 800 pohon durian.
Penanaman diawali Danrem 174/ATW, Kolonel CZI Suratmo dilanjutkan dengan ratusan personil di jajaran Korem 174/ATW tersebut. Danrem Suratmo saat membacakan amanat Pangdam XVII/Cenderawasih mengungkapkan, tujuan penanaman 100 juta pohon tersebut adalah untuk mengurangi dampak pemanasan global, meningkatkan absorbsi gas CO2 dan polutan lainnya, mencegah banjir, kekeringan dan tanah longsor serta meningkatkan upaya konservasi sumber daya genetic tanaman hutan.
''Tujuan tersebut untuk mewujudkan pembangunan Indonesia yang bersih,"katanya. Namun untuk mewujudkan hal tersebut, lanjut Pangdam, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tapi harus ada kepedulian yang yang tinggi dari semua komponen masyarakat di Papua, Papua Barat khususnya di Kabupaten Merauke dengan mewujudkan kesadaran menanam dan memelihara tanaman sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Karena itu, kepada seluruh jajaran prajurit TNI AD, ia mengharapkan, penanaman pohon tersebut hendaknya dijadikan sebagai momentum guna menumbuhkan kembali nilai-nilai kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup sebagaimana yang telah dicangkan pemerintah saat ini guna membantu mengatasi permasalahan bangsa yakni menurunnya sumberdaya genetic tanaman hutan.
Pengdam menambahkan, pencanangan penanaman pohon ini sebagai wujud bahwa Kodam XVII/Cenderawasih juga mempunyai komitmen terhadap pelestarian lingkungan hidup. (ulo)
