Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua

Cari Informasi/Berita/Tulisan/Artikel di Blog IKP

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org

04 February 2006

Manca Negara : Amerika : Air Beku Terlihat di Permukaan Komet

( Kompas, Jumat 03 Febuari 2006 )
Para peneliti telah sejak lama mengetahui bahwa bahan pembentuk utama komet adalah air beku. Namun mereka tidak yakin apakah es itu terdapat di bagian dalam atau bisa juga ditemukan di permukaannya.

Pertanyaan itu baru terjawab setelah analisa mutakhir dari misi Deep Impact NASA menemukan bukti pertama mengenai keberadaan air beku di permukaan komet. Penelitian yang dipublikasikan di journal Science menyebutkan bahwa permukaan Tempel 1 - komet yang menjadi sasaran Deep Impact - memiliki tiga kantong air beku.

Tempel 1 memiliki luas permukaan sekitar 116,55 kilometer persegi. Sedangkan area yang ditutupi air beku hanyalah 27.871 meter persegi. Wilayah lainnya berupa daerah yang ditutupi debu. "Lapisan es ini tampak seperti lapangan ski es di sekitar debu salju," kata Peter Schultz, salah seorang peneliti dari Brown University.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada 4 Juli 2005, NASA menabrakkan wahana penabrak dari tembaga yang disebut "Impactor" ke permukaan Tempel 1. Tabrakan terjadi sekitar 134 juta kilometer dari Bumi.
Tumbukan itu menciptakan kawah sebesar stadion olah raga dan menghamburkan beberapa ton debu ke angkasa. Saat Impactor menabrak, wahana induk Deep Impact merekam dan menganalisa hantamannya. Salah satu hasil analisa menunjukkan adanya es dan debu di tubuh komet.

Para peneliti yakin permukaan es di Tempel 1 semula berada di bagian dalam, namun menjadi terekspos seiring berjalannya waktu. Diduga pula sering terjadi semacam ledakan debu dan uap air yang disebut jets, yang memuntahkan es keluar.

Ketika terdorong keluar, kristal es menjadi satu dengan luminous coma, gumpalan material yang menyelimuti tubuh komet, atau es itu bisa juga menjadi bagian ekor komet. Dalam laporan terdahulu, tim peneliti mengatakan bahwa bagian interior Tempel 1 juga mengandung material organik dalam jumlah banyak, dan memberi dugaan komet itu berasal dari wilayah di tata surya yang kini menjadi lokasi Uranus dan Neptunus.

Manca Negara : Amerika : Kura-kura Berleher Ular Dari Pulau Roti Terancam Punah

( Kompas, Jumat 03 Febuari 2006 )
Spesies Chelodina mccordi adalah kura-kura kecil berleher panjang yang hanya ditemukan di lahan basah di Pulau Roti, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejak memperoleh nama spesies pada 1994, permintaan pasar internasional terhadap kura-kura endemik ini meningkat, sehingga menyebabkan jumlahnya berada pada ambang kepunahan.

Permintaan dari kolektor dan penggemar satwa langka di Eropa, Amerika Utara dan Asia Timur terus bertambah. Padahal, perdagangan resmi terhadap spesies ini telah dilarang sejak 2001. Para pedagang gelap biasanya memberi label spesies C. novaeguineae yaitu kura-kura berleher ular dari New Guinea, yang juga dilindungi di Indonesia sejak 1980.

Dalam laporan berjudul "Perdagangan Kura-Kura Berleher Ular dari Pulau Roti Chelodina mccordi," jaringan pemantau perdagangan satwa dan tumbuhan liar TRAFFIC menemukan bahwa penangkapan dan perdagangan satwa ini tidak dilaksanakan berdasarkan peraturan resmi yang berlaku di Indonesia.

Meskipun ada quota nasional yang diberikan untuk pemanenan dan ekspor spesies C. mccordi antara tahun 1997 dan 2001, kenyataannya tidak ada lisensi yang dikeluarkan untuk melakukan koleksi (pengumpulan), termasuk tidak ada izin pemindahan (transportasi) yang dikeluarkan dari tempat sumber spesies ini ke tempat-tempat ekspor dalam wilayah Indonesia. Artinya, semua specimen C. mccordi yang telah diekspor sejak 1994 diperoleh secara ilegal.

Di tahun 2000, Daftar Merah IUCN mengkategorikan spesies ini kedalam status kritis (Critically Endangered), dan pada tahun yang sama kura-kura berleher ular dari Pulau Roti ini dievaluasi berada diambang kepunahan secara komersial. Spesies ini masuk dalam daftar Appendix II Konvensi Mengenai Perdagangan Internasional Terhadap Spesies Satwa dan Tumbuhan Dilindungi (CITES), dimana semua perdagangan internasional terhadap satwa ini harus dilaksanakan sesuai hukum yang berlaku.

Walaupun telah dimasukkan dalam daftar spesies dilindungi di Indonesia, pemantauan dan penegakan hukum untuk melindungi satwa liar ini dari eksploitasi berlebihan sangat lemah. Jika peraturan-peraturan, misalnya untuk penangkapan dan pemindahan satwa liar ini tidak ditegakkan, keberadaan spesies ini di alam dipastikan akan punah dalam waktu dekat.

Laporan ini juga mengeluarkan beberapa rekomendasi termasuk status perlindungan yang lebih baik bagi spesies ini ditingkat nasional dan penguatan kapasitas aparat untuk memperluas dan meningkatkan penertiban. Pada bulan Desember 2005 bertempat di Pulau Roti, TRAFFIC bekerjasama dengan Managemen Otoritas CITES di Indonesia menyelenggarakan pelatihan dan peningkatan kepedulian aparat penegak hukum di pulau tersebut dan tetangganya Timor.

"Kami berharap dengan meningkatnya kapasitas dan kesadaran aparat penegak hukum, akan semakin sulitlah bagi pemburu dan pedagang liar untuk menyelundupkan kura-kura berleher ular yang tersisa di Pulau Roti," kata Chris Shepherd dari TRAFFIC Southeast Asia yang juga merupakan penulis laporan ini.

"Manajemen Otoritas CITES di Indonesia bekerjasama dengan TRAFFIC melatih aparat penegak hukum di Pulau Roti mengenai status perlindungan dan perlunya penyelamatan spesies ini" kata Dr Samedi dari Manajemen Otoritas CITES di Indonesia (PHKA). PHKA juga bekerjasama dengan LIPI, sebagai Otoritas Ilmiah CITES di Indonesia, untuk memasukkan kura-kura berleher ular dari Pulau Roti ke dalam daftar spesies yang dilindungi penuh.

Manca Negara : Jenewa : Penyakit Menular, WHO Pastikan Kematian Remaja Irak Akibat Flu Burung

( Media Indonesia, Jum'at 03 Febuari 2006 )
Seorang remaja Irak yang meninggal bulan lalu dipastikan terserang virus flu burung H5N1, demikian diumumkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Kamis, dan itu berarti penyakit tersebut kini telah menewaskan puluhan orang di tujuh negara di dunia. WHO mengatakan, ada kebutuhan darurat untuk menetapkan tingkat keparahan wabah itu di unggas-unggas di Irak yang dilanda perang.

Korban terakhir itu adalah seorang remaja perempuan yang meninggal setelah mengalami gangguan pernapasan parah di rumah sakit di kota Sulaimaniya, Irak utara, pada 17 Januari. "Hasil pengujian emastikan bahwa ia terjangkit," kata WHO dalam sebuah pernyataan setelah pengujian di sebuah laboratorium Inggris.

Sampel yang diambil dari paman anak itu, yang meninggal 10 hari kemudian, sedang dalam perjalanan menuju laboratorium itu bersama sampel dari wanita berusia 54 tahun yang dirawat karena penyakit pernapasan.

Dua orang lagi, yang juga berada di daerah Sulaimaniya, memiliki "gejala-gejala yang mengisyaratkan infeksi H5N1", kata badan kesehatan PBB itu. Kawasan Kurdistan Irak utara yang umumnya otonom itu, yang merupakan tempat tinggal remaja perempuan tersebut, terletak berdekatan dengan daerah-daerah yang sering didatangi burung-burung migran dan tidak jauh dari perbatasan dengan Turki dimana empat anak tewas akibat flu burung.

Sejumlah pejabat Irak mengatakan pekan ini, mereka saat ini merawat 12 pasien yang diduga terkena flu burung. Virus H5N1 kini telah menewaskan 86 orang dari 161 kasus yang diketahui sejak muncul kembali di Asia pada akhir 2003.

Korban terkena virus itu melalui kontak dekat dengan unggas yang terjangkit. Namun, para ahli khawatir virus itu akan bermutasi dan meluas secara mudah antara manusia dan bisa menyulut sebuah pandemik yang bisa menewaskan jutaan orang. (Rtr/Ant/OL-1)

Manca Negara : Jenewa : Penyakit Menular, WHO Pastikan Kematian Remaja Irak Akibat Flu Burung

( Media Indonesia, Jum'at 03 Febuari 2006 )
Seorang remaja Irak yang meninggal bulan lalu dipastikan terserang virus flu burung H5N1, demikian diumumkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Kamis, dan itu berarti penyakit tersebut kini telah menewaskan puluhan orang di tujuh negara di dunia. WHO mengatakan, ada kebutuhan darurat untuk menetapkan tingkat keparahan wabah itu di unggas-unggas di Irak yang dilanda perang.

Korban terakhir itu adalah seorang remaja perempuan yang meninggal setelah mengalami gangguan pernapasan parah di rumah sakit di kota Sulaimaniya, Irak utara, pada 17 Januari. "Hasil pengujian emastikan bahwa ia terjangkit," kata WHO dalam sebuah pernyataan setelah pengujian di sebuah laboratorium Inggris.

Sampel yang diambil dari paman anak itu, yang meninggal 10 hari kemudian, sedang dalam perjalanan menuju laboratorium itu bersama sampel dari wanita berusia 54 tahun yang dirawat karena penyakit pernapasan.

Dua orang lagi, yang juga berada di daerah Sulaimaniya, memiliki "gejala-gejala yang mengisyaratkan infeksi H5N1", kata badan kesehatan PBB itu. Kawasan Kurdistan Irak utara yang umumnya otonom itu, yang merupakan tempat tinggal remaja perempuan tersebut, terletak berdekatan dengan daerah-daerah yang sering didatangi burung-burung migran dan tidak jauh dari perbatasan dengan Turki dimana empat anak tewas akibat flu burung.

Sejumlah pejabat Irak mengatakan pekan ini, mereka saat ini merawat 12 pasien yang diduga terkena flu burung. Virus H5N1 kini telah menewaskan 86 orang dari 161 kasus yang diketahui sejak muncul kembali di Asia pada akhir 2003.

Korban terkena virus itu melalui kontak dekat dengan unggas yang terjangkit. Namun, para ahli khawatir virus itu akan bermutasi dan meluas secara mudah antara manusia dan bisa menyulut sebuah pandemik yang bisa menewaskan jutaan orang. (Rtr/Ant/OL-1)

Manca Negara : Amerika : Air Beku Terlihat di Permukaan Komet

( Kompas, Jumat 03 Febuari 2006 )
Para peneliti telah sejak lama mengetahui bahwa bahan pembentuk utama komet adalah air beku. Namun mereka tidak yakin apakah es itu terdapat di bagian dalam atau bisa juga ditemukan di permukaannya.

Pertanyaan itu baru terjawab setelah analisa mutakhir dari misi Deep Impact NASA menemukan bukti pertama mengenai keberadaan air beku di permukaan komet. Penelitian yang dipublikasikan di journal Science menyebutkan bahwa permukaan Tempel 1 - komet yang menjadi sasaran Deep Impact - memiliki tiga kantong air beku.

Tempel 1 memiliki luas permukaan sekitar 116,55 kilometer persegi. Sedangkan area yang ditutupi air beku hanyalah 27.871 meter persegi. Wilayah lainnya berupa daerah yang ditutupi debu. "Lapisan es ini tampak seperti lapangan ski es di sekitar debu salju," kata Peter Schultz, salah seorang peneliti dari Brown University.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada 4 Juli 2005, NASA menabrakkan wahana penabrak dari tembaga yang disebut "Impactor" ke permukaan Tempel 1. Tabrakan terjadi sekitar 134 juta kilometer dari Bumi.
Tumbukan itu menciptakan kawah sebesar stadion olah raga dan menghamburkan beberapa ton debu ke angkasa. Saat Impactor menabrak, wahana induk Deep Impact merekam dan menganalisa hantamannya. Salah satu hasil analisa menunjukkan adanya es dan debu di tubuh komet.

Para peneliti yakin permukaan es di Tempel 1 semula berada di bagian dalam, namun menjadi terekspos seiring berjalannya waktu. Diduga pula sering terjadi semacam ledakan debu dan uap air yang disebut jets, yang memuntahkan es keluar.

Ketika terdorong keluar, kristal es menjadi satu dengan luminous coma, gumpalan material yang menyelimuti tubuh komet, atau es itu bisa juga menjadi bagian ekor komet. Dalam laporan terdahulu, tim peneliti mengatakan bahwa bagian interior Tempel 1 juga mengandung material organik dalam jumlah banyak, dan memberi dugaan komet itu berasal dari wilayah di tata surya yang kini menjadi lokasi Uranus dan Neptunus.

Manca Negara : Amerika : Kura-kura Berleher Ular Dari Pulau Roti Terancam Punah

( Kompas, Jumat 03 Febuari 2006 )
Spesies Chelodina mccordi adalah kura-kura kecil berleher panjang yang hanya ditemukan di lahan basah di Pulau Roti, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejak memperoleh nama spesies pada 1994, permintaan pasar internasional terhadap kura-kura endemik ini meningkat, sehingga menyebabkan jumlahnya berada pada ambang kepunahan.

Permintaan dari kolektor dan penggemar satwa langka di Eropa, Amerika Utara dan Asia Timur terus bertambah. Padahal, perdagangan resmi terhadap spesies ini telah dilarang sejak 2001. Para pedagang gelap biasanya memberi label spesies C. novaeguineae yaitu kura-kura berleher ular dari New Guinea, yang juga dilindungi di Indonesia sejak 1980.

Dalam laporan berjudul "Perdagangan Kura-Kura Berleher Ular dari Pulau Roti Chelodina mccordi," jaringan pemantau perdagangan satwa dan tumbuhan liar TRAFFIC menemukan bahwa penangkapan dan perdagangan satwa ini tidak dilaksanakan berdasarkan peraturan resmi yang berlaku di Indonesia.

Meskipun ada quota nasional yang diberikan untuk pemanenan dan ekspor spesies C. mccordi antara tahun 1997 dan 2001, kenyataannya tidak ada lisensi yang dikeluarkan untuk melakukan koleksi (pengumpulan), termasuk tidak ada izin pemindahan (transportasi) yang dikeluarkan dari tempat sumber spesies ini ke tempat-tempat ekspor dalam wilayah Indonesia. Artinya, semua specimen C. mccordi yang telah diekspor sejak 1994 diperoleh secara ilegal.

Di tahun 2000, Daftar Merah IUCN mengkategorikan spesies ini kedalam status kritis (Critically Endangered), dan pada tahun yang sama kura-kura berleher ular dari Pulau Roti ini dievaluasi berada diambang kepunahan secara komersial. Spesies ini masuk dalam daftar Appendix II Konvensi Mengenai Perdagangan Internasional Terhadap Spesies Satwa dan Tumbuhan Dilindungi (CITES), dimana semua perdagangan internasional terhadap satwa ini harus dilaksanakan sesuai hukum yang berlaku.

Walaupun telah dimasukkan dalam daftar spesies dilindungi di Indonesia, pemantauan dan penegakan hukum untuk melindungi satwa liar ini dari eksploitasi berlebihan sangat lemah. Jika peraturan-peraturan, misalnya untuk penangkapan dan pemindahan satwa liar ini tidak ditegakkan, keberadaan spesies ini di alam dipastikan akan punah dalam waktu dekat.

Laporan ini juga mengeluarkan beberapa rekomendasi termasuk status perlindungan yang lebih baik bagi spesies ini ditingkat nasional dan penguatan kapasitas aparat untuk memperluas dan meningkatkan penertiban. Pada bulan Desember 2005 bertempat di Pulau Roti, TRAFFIC bekerjasama dengan Managemen Otoritas CITES di Indonesia menyelenggarakan pelatihan dan peningkatan kepedulian aparat penegak hukum di pulau tersebut dan tetangganya Timor.

"Kami berharap dengan meningkatnya kapasitas dan kesadaran aparat penegak hukum, akan semakin sulitlah bagi pemburu dan pedagang liar untuk menyelundupkan kura-kura berleher ular yang tersisa di Pulau Roti," kata Chris Shepherd dari TRAFFIC Southeast Asia yang juga merupakan penulis laporan ini.

"Manajemen Otoritas CITES di Indonesia bekerjasama dengan TRAFFIC melatih aparat penegak hukum di Pulau Roti mengenai status perlindungan dan perlunya penyelamatan spesies ini" kata Dr Samedi dari Manajemen Otoritas CITES di Indonesia (PHKA). PHKA juga bekerjasama dengan LIPI, sebagai Otoritas Ilmiah CITES di Indonesia, untuk memasukkan kura-kura berleher ular dari Pulau Roti ke dalam daftar spesies yang dilindungi penuh.

03 February 2006

Biak : Biak Terancam Penularan Virus Flu Burung

( Papua Pos, Kamis 02 Maret 2006 )
Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Biak Numfor, Ir. Absalom Rumkorem mengatakan bahwa kalau dilihat dari peta, Biak merupakan daerah terancam penularan virus flu burung. "Karena, Biak dekat dengan Sulawesi di mana seperti Makassar saat ini sudah ditemukan adanya korban suspect flu burung. Selain itu, Biak sangat strategis untuk persinggahan jalur penerbangan dari laut melalui dari Makassar.. Apalagi penularan virus flu burung saat ini sudah terjadi dari manusia ke manusia dalam satu komunitas,"kata Ir. Absalom Rumkorem saat ditemui di Kantor Bupati Biak Numfor, Rabu (1 /3) kemarin.

Sehingga, lanjut Absalom Rumkorem, kalau tidak diawasi secara ketat maka besar kemungkinan virus flu burung itu secara perlahan akan masuk di Biak. Sehingga untuk mengantisipasinya, kata Absalom Rumkorem, berdasarkan SK Gubernur Propinsi Papua No. 158/2004, tetap dilaksanakan pelarangan pemasokan semua jenis barang makanan yang berasal dari hewani dari luar papua ke Biak. Seperti: Telur, Ayam hidup, daging ayam dan daging sapi dan sebagainya.

"Tetapi, tidak menutup kemungkinan, ada pengusaha atau perorangan yang masih nakal dan tetap memasoknya secara diam-diam, sehingga itu yang harus diantisipasi dengan membentuk satu tim terpadu atau satgas dan posko,"ungkap Absalom Rumkorem.

Pembentukan tim satgas dan posko itu sesuai surat edaran Mendagri per 25 Oktober 2005 lalu tentang antisipasi penularan virus flu burung, kata Absalom Rumkorem, hingga saat ini belum terbentuk di Biak.
"Mestinya Pemda Biak Numfor sudah harus segera membentuknya yang terdiri dari Dinas Kesehatan, Peternakan, karantina dan dinas teknis lainnya. Sebab, yang berjalan untuk melakukan antisipasi sampai sekarang ini adalah Dinas Peternakan, karantina, KP3 Laut dan Adpel, "kata Absalom Rumkorem.

Kemudian, kata Absalom Rumkorem, kalau satgas dan Posko itu telah terbentuk maka langkah awal yang dilakukan adalah tindakan pencegahan dan penyuluhan atau sosialisasi. Dan bila sudah ada virus masuk maka langkah selanjutnya adalah pengendalian dan pemberantasan. ** . .

Manca Negara : Alaska : Di Alaska, Merpati Dibantai Gagak

( Kompas, Kamis 02 Febuari 2006 )
Merpati-merpati yang bertengger di sekitar Juneau terlihat lesu dan malas sehingga begitu mudah diserang lawannya. Seorang penduduk melihat setengah lusin gagak menyerang seekor merpati yang tidak melakukan perlawanan saat diserang.

"Mereka membunuh seekor merpati dan mulai menyerang lainnya seperti sebuah pembantaian," kata Sharon Kelly yang lama tinggal di sana. Perilaku tersebut sempat memenuhi kiriman di situs chat yang membahas dunia burung lokal di sana.

Seorang karyawan toko roti Silverbow Inn and Bakery Dani Byers juga menjadi saksi mata kekejaman yang terjadi di sana. Saat berjalan pulang, ia melihat sayap-sayap burung tergeletak di jalan tanpa badan. "Saya tidak percaya jika hal tersebut dilakukan hewan lainnya atau sengaja dipotong-potong badannya oleh manusia," katanya.

Bahkan seorang fotografer Art Sutch melihat sendiri serangan gagak-gagak dari tokonya yang terletak di pusat kota. "Saya melihat salah satunya makan bagian yang mungkin anggota tubuh merpati bagian bawah sebab ia terlihat membawa kaki merpati dengan mulutnya," kata Sutch.

Ahli biologi di Departemen Perikanan dan Satwa Alaska Ryan Scott menghabiskan waktu hingga dua
harian untuk mengamati sampel merpati-merpati yang mati. Ia menemukan dua ekor dan mengirimkannya ke dokter hewan liar di Fairbanks untuk dilakukan nekropsi (otopsi pada hewan-red) .
"Ada sesuatu yang menyebabkannya namun kami belum mengetahui lebih jauh apa yang sedang terjadi," kata Scott. "Pantas diperhatikan sebab mereka memangsa merpati yang masih hidup," kata Scott lagi.

Perilaku gagak seperti itu juga jarang terlihat. Meskipun menurut Susan Sharbaugh, seorang ahli biologi senior dari Observatorium Burung Alaska di Fairbanks, gagak adalah pemangsa yang oportunis. "Jika sesuatu melambat, mereka akan menyerang dan mereka memangsa hampir apap un," katanya.

Di belahan bumi bagian utara, gagak memangsa lemming, sejenis marmut, pada musim semi. Mereka juga terlihat mencocok gelas dan puntung rokok. Merpati bukanlah hewan asli Alaska Tenggara. Diperkirakan merpati-merpati tersebut memakan garam yang digunakan untuk mencairkan salju, sehingga tubuhnya mengalami dehidrasi yang membuatnya lemah dan mudah diserang predator. Alasan lainnya, merpati mungkin lesu karena kondisi cuaca yang dingin, penyakit, atau bakteri yang menyebar melalui makanan yang dibuang manusia.

Hasil nekropsi terhadap jasad merpati yang telah mati baru akan diketahui dalam beberapa minggu ke depan. Tanpa penyebab yang jelas, para penduduk belum dapat melakukan langkah yang tepat untuk mencegah semakin banyaknya merpati yang mati.

Manca Negara : Amerika : Pantau Polusi Udara, Merpati Nge-Blog

( Kompas, Kamis 02 Febuari 2006 )
Sudah punya blog belum? Segera buka alamat weblog Anda jika tidak ingin kalah cepat dengan merpati-merpati di San Jose, California. Sebanyak 20 ekor merpati rencananya akan dibekali alat pelacak GPS, sensor polusi udara, dan sejenis ponsel untuk melaporkan kondisi udara di sana secara rutin mulai tengah tahun ini.

"Kami mengkombinasikan sebuah sensor polusi udara dan ponsel buatan sendiri," kata peneliti dari Universitas California, Irvine Beatriz da Costa. Bersama mahasiswanya Cina Hazegh dan Kevin Ponto, mereka membangun prototip berisi rangkaian ponsel dengan kartu SIM dan chip komunikasi serta sensor karbon monoksida dan nitrogen dioksida.

Kamera berukuran mini juga dikalungkan di lehernya sehingga dapat mengambil gambaran udara di sekitarnya untuk dilaporkan. Tim berencana meringkas seluruh komponen ke dalam rangkaian tunggal sekecil mungkin sehingga dapat dibawa oleh burung dalam sebuah kotak yang ringan.

Jangan dibayangkan ia akan menuliskan catatan-catatan harian yang panjang. Sebab, merpati-merpati tersebut hanya dimanfaatkan untuk memantau udara di berbagai wilayah dan alat-alat yang dipasang di tubuhnya membantu meneruskan hasil pengukuran. Menggunakan sensor, tingkat polusi udara diukur kemudian hasilnya dikirim sebagai pesan teks singkat (SMS) dan langsung ditampilkan dalam blog.

Merpati-merpati ini akan dilepas pertama kalinya pada simposium tahunan bertajuk Inter-Society for Electronic Arts di San Jose, Agustus 2006. Data yang dikirimkan akan ditampilkan secara rutin dalam sebuah blog yang dilengkapi peta interaktif.

Manca Negara : Atlantik : Siput Pun 'Terbang' Melintasi Samudera

( Kompas, Kamis 02 Febuari 2006 )
Siput memang cerdik, tak hanya mengalahkan kancil dalam lomba berlari, namun juga bisa terbang meskipun tidak memiliki sayap. Jika kemenangan siput dalam lomba berlari hanya ada dalam dongeng pengantar tidur, siput yang terbang - dalam arti yang tidak sesungguhnya - mungkin kenyataan. Siput kemungkinan besar menumpang burung untuk menyebar dari kepulauan di Atlantik Utara ke Selatan.
Selain di Eropa dan Azore, gugusan pulau di Laut Atlantik Utara, siput-siput dari genus Balea juga ditemukan di gugusan pulau di Atlantik Selatan. Sebelumnya para ahli memasukkan siput-siput di Atlantik Selatan dalam genus Tristania karena jarak kedua wilayah yang tergolong jauh.

Namun, belakangan analisis genetik dan anatomi menunjukkan bahwa siput-siput tersebut satu genus.
Penelitian lebih lanjut menunjukkan indikasi bahwa siput-siput Balea suatu ketika melakukan perjalanan dari Eropa menuju Azore dan menurunkan dua spesies berbeda. Kemudian, beberapa di antaranya menyebar hingga Pulau Tristan da Cunha yang berjarak 8.800 kilometer sebagai awal perkembangannya menjadi lebih dari delapan spesies.

Siput-siput Balea yang berkembang di Tristan kemudian kembali ke Eropa. Siput bernama Balea perversa ini sempat dikira sebagai jenis siput yang melakukan perjalanan pertama kali. Tapi, bagaimana siput-siput tersebut mengarungi samudera? "Melakukan perjalanan ke Atlantik Selatan adalah hal yang cukup sulit bagi siput darat yang berjalan merayap," kata Richard Preece dari Universitas Cambridge.

Sepertinya mereka tidak menumpang kapal laut seperti yang dilakukan spesies-spesies lainnya untuk menyebar. Sebab, manusia belum mencapai Tristan da Cunha hingga 1506 dan tidak pernah tinggal di sana sampai 1816. Bahkan sampai sekarang kepulauan ini hanya ditempati sekitar 300 orang. Dari bukti-bukti tersebut sudah jelas bahwa siput telah menyebar lebih dulu sehingga cukup waktu untuk berkembang biak dan menghasilkan berbagai keturunan. "Penyebaran ini terjadi jauh sebelum manusia mencapai sana," kata Preece.

Tubuh siput-siput Balea diketahui menghasilkan lendir yang sangat lengket. Mereka jarang ditemukan di tanah dan banyak menempel di dahan pohon. Para peneliti menduga siput-siput itu berpindah dari dahan satu ke dahan lainnya dengan cara menumpang ke tubuh burung. Cara yang sama mungkin dilakukan untuk berpindah ke pulau-pulau di daerah tropis.

"Saya kira karena hidup di pohon dan tubuhnya teramat lengket, mereka mudah terbawa burung," kata Preece. Untuk mencari jenis burung yang membantu penyebaran siput-siput tersebut dari Atlantik Utara ke Selatan tidaklah mudah. Hampir semua burung migrasi yang melintasi ekuator jarang singgah ke pantai.

"Mencari burung yang terdapat siput di badannya tidak mudah," kata Preece. Ia curiga beberapa jenis burung yang sayapnya secara tidak sengaja membawa benda berisi sejumlah siput terempas badai dan meninggalkan siput di pulau-pulau tersebut.

Badai dan angin ribut sebelumnya diketahui menyebarkan laba-laba dan serangga melintasi lautan. Namun, Preece menduga untuk menyebarkan siput secara langsung kemungkinannya kecil. Terhanyut di atas tanaman yang mengapung juga kecil kemungkinannya sebab jaraknya sangat jauh.

Lagipula percobaan Charles Darwin juga gagal membuktikan bahwa siput pulau menyebar dengan cara tersebut. "Darwin meletakkan siput di kaki bebek kemudian menenggelamkan di air laut dan hasilnya siput-siput tersebut mati beberapa saat kemudian," kata Preece. Padahal untuk membentuk koloni, hanya diperlukan seekor siput. Siput Balea memiliki sifat hermaprodit atau berkelamin ganda, sehingga dapat berkembang biak secara mandiri.

Manca Negara : Amerika : Pantau Polusi Udara, Merpati Nge-Blog

( Kompas, Kamis 02 Febuari 2006 )
Sudah punya blog belum? Segera buka alamat weblog Anda jika tidak ingin kalah cepat dengan merpati-merpati di San Jose, California. Sebanyak 20 ekor merpati rencananya akan dibekali alat pelacak GPS, sensor polusi udara, dan sejenis ponsel untuk melaporkan kondisi udara di sana secara rutin mulai tengah tahun ini.

"Kami mengkombinasikan sebuah sensor polusi udara dan ponsel buatan sendiri," kata peneliti dari Universitas California, Irvine Beatriz da Costa. Bersama mahasiswanya Cina Hazegh dan Kevin Ponto, mereka membangun prototip berisi rangkaian ponsel dengan kartu SIM dan chip komunikasi serta sensor karbon monoksida dan nitrogen dioksida.

Kamera berukuran mini juga dikalungkan di lehernya sehingga dapat mengambil gambaran udara di sekitarnya untuk dilaporkan. Tim berencana meringkas seluruh komponen ke dalam rangkaian tunggal sekecil mungkin sehingga dapat dibawa oleh burung dalam sebuah kotak yang ringan.

Jangan dibayangkan ia akan menuliskan catatan-catatan harian yang panjang. Sebab, merpati-merpati tersebut hanya dimanfaatkan untuk memantau udara di berbagai wilayah dan alat-alat yang dipasang di tubuhnya membantu meneruskan hasil pengukuran. Menggunakan sensor, tingkat polusi udara diukur kemudian hasilnya dikirim sebagai pesan teks singkat (SMS) dan langsung ditampilkan dalam blog.

Merpati-merpati ini akan dilepas pertama kalinya pada simposium tahunan bertajuk Inter-Society for Electronic Arts di San Jose, Agustus 2006. Data yang dikirimkan akan ditampilkan secara rutin dalam sebuah blog yang dilengkapi peta interaktif.

Manca Negara : Amerika : Pantau Polusi Udara, Merpati Nge-Blog

( Kompas, Kamis 02 Febuari 2006 )
Sudah punya blog belum? Segera buka alamat weblog Anda jika tidak ingin kalah cepat dengan merpati-merpati di San Jose, California. Sebanyak 20 ekor merpati rencananya akan dibekali alat pelacak GPS, sensor polusi udara, dan sejenis ponsel untuk melaporkan kondisi udara di sana secara rutin mulai tengah tahun ini.

"Kami mengkombinasikan sebuah sensor polusi udara dan ponsel buatan sendiri," kata peneliti dari Universitas California, Irvine Beatriz da Costa. Bersama mahasiswanya Cina Hazegh dan Kevin Ponto, mereka membangun prototip berisi rangkaian ponsel dengan kartu SIM dan chip komunikasi serta sensor karbon monoksida dan nitrogen dioksida.

Kamera berukuran mini juga dikalungkan di lehernya sehingga dapat mengambil gambaran udara di sekitarnya untuk dilaporkan. Tim berencana meringkas seluruh komponen ke dalam rangkaian tunggal sekecil mungkin sehingga dapat dibawa oleh burung dalam sebuah kotak yang ringan.

Jangan dibayangkan ia akan menuliskan catatan-catatan harian yang panjang. Sebab, merpati-merpati tersebut hanya dimanfaatkan untuk memantau udara di berbagai wilayah dan alat-alat yang dipasang di tubuhnya membantu meneruskan hasil pengukuran. Menggunakan sensor, tingkat polusi udara diukur kemudian hasilnya dikirim sebagai pesan teks singkat (SMS) dan langsung ditampilkan dalam blog.

Merpati-merpati ini akan dilepas pertama kalinya pada simposium tahunan bertajuk Inter-Society for Electronic Arts di San Jose, Agustus 2006. Data yang dikirimkan akan ditampilkan secara rutin dalam sebuah blog yang dilengkapi peta interaktif.