Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua

Cari Informasi/Berita/Tulisan/Artikel di Blog IKP

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org

28 September 2008

Nasional : Perkebunan Monokultur Skala Besar Mengancam

(www.suarapembaruan.com, 27-09-2008)
[JAKARTA] Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyatakan, pembangunan perkebunan monokultur skala besar akan menjadi ancaman bagi kehidupan rakyat pada masa depan. Perkebunan monokultur ini akan menghadirkan peningkatan bencana ekologis dan hilangnya sumber-sumber kehidupan rakyat karena hutan yang selama ini memberikan layanan ekologis dan menopang kehidupan rakyat, secara perlahan semakin menghilang.

Demikian dikatakan Kepala Departemen Kampanye dan Advokasi Walhi, Teguh Surya, di Jakarta, Kamis (25/9). Teguh mengatakan, hingga saat ini luas perizinan yang telah diberikan pemerintah untuk hutan tanaman industri (HTI) kepada 248 unit telah mencapai 10.226.374 juta hektare, sementara yang ditanam baru seluas 2.882.575 juta hektare.

Celakanya, kata Teguh, sebagian besar lokasi tersebut diberikan izin pada kawasan dengan potensi kayu lebih dari 20 meter kubik setiap hektarenya.

Kondisi ini, menurut Teguh, menunjukkan perluasan kebun kayu monokultur hanya mencapai 7.100 hektare/tahun belum mampu menjawab hilangnya 2,72 juta hektare kawasan hutan Indonesia setiap tahunnya.

Menurutnya, hutan bukanlah semata-mata persoalan kayu. Produksi kayu dari kawasan hutan, jelasnya, hanyalah 5 persen dari bagian fungsi hutan.

Namun, fungsi ekologi dan sosio-kultur dari hutan, jauh lebih memberikan topangan kehidupan bagi manusia yang ada saat ini di dunia. "Hutan sebagai rumah kehidupan, area belajar, apotek raksasa, penyedia air dan udara bersih dan beragam manfaat ekologis, serta sosial-budaya lainnya, harus terus dipertahankan keberadaannya," ujarnya.

Dia melanjutkan, rencana pemerintah untuk melakukan percepatan hutan tanam-an, merupakan sebuah langkah yang bisa jadi semakin mendorong pengelolaan hutan Indonesia ke arah jurang terdalam.

Teguh menilai, orientasi pembangunan kehutanan yang tetap saja menekankan produksi kayu, hanya akan semakin menjauhkan cita-cita menuju kesejahteraan rakyat.

Walhi meminta kepada pemerintah agar negara mengakui sistem pengelolaan hutan oleh komunitas lokal/adat, yang telah terbukti mampu memberikan kesejahteraan rakyat daripada kelompok yang datang dengan modal dana yang besar yang justru malah menghancurkan kehidupan sosial-budaya masyarakat.

Untuk menjamin, terpenuhinya hak-hak masyarakat tersebut, Walhi mendesak pemerintah segera melahirkan peraturan perundang-undangan yang memberikan jaminan terhadap ekologi penting dan mengakui sistem kelola rakyat. [E-7]

27 September 2008

Manca Negara : Australia Klasifikasi 113 Spesies Baru Ikan Hiu dan Pari

(www.kompas.com, 26-09-2008)
CANBERRA, SENIN
- Dengan teknik pemindaian DNA, para ilmuwan Australia berhasil mengidentifikasi 113 spesies baru ikan hiu dan pari yang hidup di benua tersebut. Sebagian di antara ikan-kan tersebut sebelumnya dianggap satu spesies namun teryata memiliki sifat genetika berbeda sehingga dipisahkan.

Jika dilihat sekilas, sebagian di antaranya terlihat sangat mirip sehingga sulit dibedakan. Bahkan, beberapa hidup di habitat yang sama dan seringkali berenang bersama-sama.

"Dalam beberapa kasus, yang sebelumnya dikira satu spesies ternyata menjadi lima spesies," ujar Peter Last, taksonom yang memimpin proyek CSIRO (Commonwealth Scientific and Industrial Research organization) ini.

Setengah dari spesies tersebut merupakan endemik dan hanya ditemukan di Australia. Dengan klasifikasi baru ini menempatkan Australia sebagai hunian bagi sepertiga spesies hu dan pari di seluruh dunia.

Spesies-spesies yang baru teridentifikasi tersebut sebagain sudah sangat langka dan terancam punah karenanya. Di antaranya ikan hiu dan pari raksasa dari sungai utara, maugean skate, dan hiu gulper.

"Kami telah me-review hampir semua fauna hiu dan ikan pari," ujar Last. Untuk mempelajari spesies ikan hiu dan pari asal Australia yang tersebar di museum-museum di Australia, Selandia Baru, dan Inggris dibutuhkan waktu sekitar 18 bulan. WAH, Sumber : National Geographic News

26 September 2008

Pengumuman Menteri Kesehatan Terkait Produk Susu Tercemar Dari Cina

(www.depkes.go.id, 25-09-2008)
Sehubungan dengan maraknya pemberitaan tentang produk susu yang tercemar melamin dari Cina, Menteri Kesehatan mengeluarkan pengumuman resmi berdasarkan kajian dan laporan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Selengkapnya download filenya disini

Jayapura : 660 Kg Daging Babi Dibakar, Dicurigai Mengandung Virus Hog Colera

(www.cenderawasihpos.com, 25-09-2008)
JAYAPURA-Sekitar 660 kilogram daging babi asal Bitung, Sulawesi Utara, terpaksa dimusnahkan
petugas Balai Karantina Pertanian Klas I Jayapura, di Halaman Laboratorium Karantina Pertanian,
Rabu (24/9) kemarin. Daging babi tersebut didatangkan oleh seorang bernama Novi, penumpang KM Sinabung, Selasa (23/9) pukul 23.00 WIT.

Saat kapal itu merapat ke Pelabuhan Jayapura, petugas Balai Karantina Pertanian langsung melakukan pemeriksaan dan akhirnya menggagalkan upaya pemasukan daging babi tersebut. Pada saat pemeriksaan, petugas melihat buruh TKBM membawa 13 coolbox yang dibungkus dengan plastik dan langsung dimasukan ke Gudang PT Pelindo.

Karena merasa curiga, akhirnya petugas Balai Karantina Pertanian menanyakan barang tersebut
kepada pemiliknya dan dijawab coolbox tersebut berisi ikan mujair, karena curiga kemudian
petugas Balai Karantina Pertanian bersama petugas KP3 Laut Jayapura melakukan pemeriksaan dengan membongkar salah satu coolbox tersebut.

Ternyata setelah diperiksa, berisi ikan mujair yang ditaruh paling atas untuk menutupi daging
babi di dalamnya, sehingga langsung dilakukan penolakan, namun karena pemiliknya tidak datang
dan mengembalikan barang tersebut hingga kapal KM Sinabung berangkat, akhirnya dilakukan tindakan karantina dengan memusnahkan atau membakar daging tersebut.

Kepala Balai Karantina Pertanian Klas I Jayapura, drh Abdul Qadir Jailani didampingi Kasi
Pengawasan dan Penindakan, Boaz Henry Lumbaa mengatakan, pihaknya terpaksa melakukan pemusnahan daging babi karena pihaknya curiga bahwa daging babi tersebut mengandung virus hog colera."Kami berupaya untuk mempertahankan Papua khususnya Kota Jayapura dari pemasukan virus hog colera yang menyerang ternak babi,"jelasnya.

Apalagi, kata Boaz, daging babi asal Bitung tersebut, jika tidak dilengkapi dengan dokumen
dari Balai Karantina Pertanian asal dan pemilik tidak memiliki izin pemasukan barang tersebut
ke Papua, khususnya Kota Jayapura.

Pemusnahan daging babi ini, kata Boaz, dilakukan berdasarkan dengan Undang-Undang No 26
Tahun 1992 dan PP No 82 Tahun 2000 tentang karantina hewan. Boaz menilai bahwa pemasukan daging babi ini, dilakukan dengan modus baru dimana dimasukkan ke dalam coolbox kemudian dibungkus dengan plastik untuk mengelabuhi petugas dan didalam coolbox di bagian atas diisi dengan ikan mujair.

Selain memusnahkan daging babi lebih dari setengah ton tersebut, petugas Balai Karantina
Pertanian juga memuasnahkan 3 rumpun bibit jeruk yang berhasil diamankan dari salah seorang penumpang KM Sinabung sebagai upaya mencegah masuknya virus CVPD. (bat)

25 September 2008

Jayapura : Di Web Akan Dikembangkan 70 Ha Tanaman Kakao,

(www.cenderawasihpos.com, 24-09-2008)
Kini Sedang Tahap Penyemaian dan Pembukaan Lahan
JAYAPURA-Pengembangan tanaman kakao di wilayah Kabupaten Keerom terus digalakkan. Seperti halnya di Distrik Web Kabupaten Keerom, pada tahun 2008 akan dikembangkan tanaman kakao seluas 70 hektar yang dialokasikan di 6 kampung.

Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Kepala Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kelautan Distrik Web, Ferry Narahaubun saat bertandang ke Cenderawasih Pos, kemarin.
Menurutnya, 6 kampung yang menjadi sasaran program pengembangan kakao rakyat ini antara lain di Kampung Yuruf seluas 10 hektar, Kampung Dubu seluas 10 hektar, Kampung Embi seluas 15 hektar, Kampung Umuaf 15 hektar, Kampung Somografi 10 hektar dan Kampung Amgotro 10 hektar.

Dikatakan, untuk suksesnya kegiatan ini telah dilakukan beberapa tahapan kegiatan, antara lain penyuluhan, pembuatan lahan persemaian, pengadaan 80 ribu benih kakao dan kemudian dilakukan penyemaian secara serentak di 6 kampung itu.
Sebelum dilaksanakan penyemaian ini, telah dilakukan acara serahterima secara resmi oleh Kepala Distrik Web, Yosep Toyap,S.Sos di Kediaman Kadistrik Web. "Setelah dilakukan penyemaian, selanjutnya dilakukan kegiatan perawatan bibit, terhitung 9 September hingga 4 bulan kedepan," katanya.

Sebelumnya, Bupati Keerom, Drs. Celcius Watae juga telah melakukan peninjauan secara langsung di Kampung Umuaf, pada 29 Agustus lalu.
Dijelaskan, untuk program ini telah dilakukan pembukaan lahan di masing-masing kampung itu dan hingga saat ini pembukaan lahan tersebut sudah terealisasi sekitar 36 hektar dan itu dilakukan secara swadaya oleh masyarakat.

"Untuk pembukaan lahan ini ada anggaran dari Pemda Kabupaten Keerom, namun hingga saat ini masyarakat di 6 kampung itu belum menerima realisasi anggaran untuk pembukaan lahan itu. Oleh sebab itu, masyarakat berharap, supaya Pemda mempertimbangkan pencairan dana pembukaan lahan tersebut, supaya program ini bisa tuntas hingga akhir tahun ini," tuturnya. (fud)

Spesies : Ikan Karang Menyala Merah untuk Berkomunikasi

(www.kompas.com, 24-09-2008)

JAKARTA, RABU - Di antara celah karang yang tajam, ikan-ikan yang hidup di laut memiliki cara komunikasi yang unik satu sama lain. Misalnya, dengan kemampuan menyala dalam gelap atau fluorisensi untuk menunjukkan eksistensinya.

Berdasarkan hasil studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Biology edisi September 2008, setidaknya terdapat 32 jenis spesies ikan karang yang memiliki kemampuan tersebut. Ikan-ikan itu hidup pada kedalaman lebih dari 10 meter.

Salah satunya spesies Enneapterygius pusillus dan Pseudocheilinus evanidus

"Ikan laut umumnya tidak melihat atau menggunakan warna merah, kecuali beberapa ikan laut dalam," ujar Nico Machiels, dari Universitas Tuebingen, Jerman. Sebab, mata ikan lebih peka terhadap gelombang pendek. yang baru diketahui menyala merah di kegelapan. Penemuan tersebut mengejutkan karena ikan laut secara teori lebih memilih warna hijau atau biru yang memiliki panjang gelombang pendek.

ia mengatakan ikan-ikan tersebut tidak memproduksi sendiri warna merah itu. Namun, pigmen-pigmen di tubuhnya mengubah gelombang cahaya hijau dan biru yang jatuh ke tubuhnya dan memantulkannya menjadi gelombang cahaya merah.

Hal ini menunjukkan bahwa waran merah mungkin juga umum digunakan ikan laut. Tubuh yang berpendar menjadi cara ikan tersebut untuk berkomunikasi dengan sesamanya.

WAH, Sumber : National Geographic News

Manca Negara : Fiji : Selamat Datang Iguana Baru dari Fiji

(www.kompas.com, 24-09-2008)

JAKARTA, RABU - Katakan selamat datang kepada Brachylophus bulabula, spesies iguna baru dari Kepulauan Fiji. Namanya diambil dari Bula, kata sambutan selamat datang yang biasa diucapkan penduduk asli pada negara kepulauan di Samudera Pasifik tersebut.

Reptil yang berhidung kuning dan bertubuh belang tersebut merupakan spesies iguana ketiga yang ditemukan di Fiji. Sebelumnya hanya diketahui 2 spesies berbeda, namun dari hasil tes DNA menunjukkan terdapat spesies yang secara genetika berbeda dari dua spesies yang ada.

Robert Fisher, zoolog dari badan Geologi AS (USGS) di San Diego, AS mulai mempelajari keunikan morfologi dan genetika iguana tersebut sejak dua tahun lalu. setelah membandingkannya dengan sejumlah spesies sejenis di museum, ia menemukan keunikan fisik, genetik, maupun perilaku pada iguana tersebut.

"B. bulabula memiliki warna hidung yang lebih cerah dan corak berbentuk U yang khas di punggungnya," ujar Fisher yang melaporkannya dalam edisi terbaru "Philosophical Transactions of the Royal Society B." Dua bunglon yang sudah diketahui lebih dulu memiliki bentuk corak yang lancip seperti huruf V. Selain itu, spesies yang baru juga lebih menyukai kawasan hutan yang basah.

Fisher mengatakan di Fiji mungkin masih banyak spesies iguana yang belum ditemukan. Sebab, masih banyak daerah dan pulau yang belum dijelajahi termasuk kawasan pelosok di pulau-pulau terpencil.

WAH, Sumber : National Geographic News

Jayapura : Dinas Peternakan Kekurangan Dokter Hewan

(www.cenderawasihpos.com, 24-09-2008)
JAYAPURA-Kepala Dinas Peternakan Provinsi Papua, drh Alexander Radjasa Pintadewa mengatakan, sampai saat ini jumlah dokter hewan di Provinsi Papua masih sangat kurang. Akibatnya pengawasan terhadap penyebaran penyakit hewan seperti antraks, flu burung tidak optimal.

"Kami hanya mempunyai kurang lebih 8 dokter hewan yang tersebar di kabupaten Jayapura, Kota Jayapura, Kabupaten Keerom, Kabupaten Merauke, Kabupaten Biak Numfor, Jayawijaya, Kabupaten Nabire dan Kabupaten Mimika,"ungkapnya kepada Cenderawasih Pos ri ruang kerjanya, Selasa (23/9).
Menurut Radjasa, kurangnya jumlah dokter hewan itu menyebabkan pengawasan terhadap berbagai penyakit hewan yang dapat menyerang manusia menjadi sangat lemah. Pada kondisi ideal di setiap daerah, harus memiliki seorang dokter hewan dan dibantu oleh dua orang mantri hewan.

Di Papua juga terdapat 6 laboratorium hewan, "Tiap labotarorium juga harus memiliki Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner atau Kesmavet. Kesmavet inilah yang bertugas mencegah penularan penyakit hewan kepada manusia, sehingga kasus-kasus dari hewan sebagai sumber penyakitnya dapat dihindari sedini mungkin,"tandasnya.

Ia juga menyadari minat siswa sekolah menengah umum terhadap jurusan kedokteran hewan di perguruan tinggi harus ditingkatkan sejak dini. Minat itu sebaiknya didorong oleh kebijakan pemerintah kabupaten dan kota di daerah endemis untuk memfasilitasi jurusan kedokteran hewan di daerah mereka.

"Melalui Dinas Pendidikan dan Pengajaran Provinsi Papua, Pemprov Papua telah membiayai/memberikan beasiswa kepada kurang lebih 5 anak asli Papua untuk didik di Universitas Tinggi yang difokuskan kepada profesi dokter hewan, sehingga kedepan diharapkan kelima orang ini bisa mampu mengisi kekurangan dokter hewan di tanah Papua,"pungkasnya.(ind)

24 September 2008

Foto Spesies : Ikan Ekor Kuning di Kepulauan Raja Ampat

Gerombolan ikan ekor kuning (caesio sp.) didalam laut Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat (Foto : Muhammad Lazuardi)

Jayapura : WWF Sosialisaskan REDD

(www.cenderawasihpos.com, 23-09-2008)
SENTANI-Direktur World Wrestling Federation (WWF) Indonesia Region Sohul Papua Benja Mambai, M.Si mengatakan, seperti yang telah diketahui bersama bahwa isu-isu tentang carbon trade (perdagangan karbon) dan penerapan REDD di Papua sesungguhnya belum dipahami secara optimal mekanisme dan manfaatnya.

Pertemuan tersebut dilakukan guna memperkenalkan mekanisme Reducing Emission From Deforestation and Forest Degradation (Pengurangan Emisi Karbon dari deforestasi dan degredasi hutan).
Oleh sebab itu WWF merasa perlu melakukan sosialisasi untuk memberikan pemahaman terkait REDD kepada stakeholders dan Pemkab Jayapura. Mambay mengatakan bahwa mekanisme REDD secara umum dikenal sebagai kompensasi yang diberikan karena performens yang dilakukan oleh masyarakat.
Dalam arti masyarakat akan mendapat sesuatu dari apa yang mereka kerjakan, namun lebih terfokus kepada perlindungan hutan. Dimana masyarakat mengadakan penjagaan dan perlindungan kepada hutan maka secara langsung akan mendapat insentif dari hasil kerja mereka.

Sementara Kepala Dinas Kehutanan Kabuapaten Jayapura Ir Amos Hokoyoku dalam sambutannya mengatakan agar pertemuan ini dapat memberikan pemahaman bagi semua yang hadir agar dapat memberikan pengetahuan mengenai mekanisme REDD demi kemajuan daerah khususnya Kabupaten Jayapura di sektor kehutanan.

Pertemuan tersebut diawali dengan penjelasan oleh Mr Steve Ruddell perwakilan WWF dari USA terkait pengenalan REDD dan bagaimana mekanisme penerapannya serta bagaimana pendapatan dukungan dana dari sektor swasta untuk penerapannya di lapangan.
Sosialisasi tersebut dihadiri oleh tim REDD dari WWF-Indonesia dan WWF-Internasional kelompok kerja REDD tingkat Kabupaten Jayapura dan Provinsi. (jim)

23 September 2008

Teminabuan : Pertanian dan Pariwisata Terus Dikembangkan

(www.radarsorong.com, 22-09-2008)
TEMINABUAN- Dalam meningkatkan pelaksanaan pembangunan di Kabupaten Sorong Selatan maka Pemkab Sorsel telah melaksanakan berbagai macam langkah dalam meningkatkan pelaksanaan pembangunan di segala sektor. Seperti halnya yang akan dilakukan oleh Pemkab Sorsel dengan melaksanakan pembangunan di sektor pertanian dan pariwisata yang ada di daerah tersebut. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Bupati Sorsel, Drs Otto Ihalauw belum lama ini.

Dikatakan, untuk sektor pertanian dan pariwisata, Pemkab Sorsel akan mengambil langkah guna pengembangan kedua sektor tersebut. “Untuk sektor pertanian sendiri kami telah menyiapkan berbagai program perencanaan untuk mengembangkan sektor tersebut seperti yang telah kami lakukan di Distrik Moswaren. Langkah ini akan terus kami kembangkan lagi sehingga di sektor pertanian ini memiliki daya tarik tersendiri dalam peningkatakan kesejahteraan masyarakat yang ada di Kabupaten Sorong Selatan ini,”ujar Bupati.

Ditambahkan, untuk pengembangan sektor pertanian, Pemkab Sorsel telah memberikkan peran yang sangat besar dimana dengan diberikan bantuan bibit unggul serta dibangunnya gudang penyimpanan beras dan bantuan mesin pengolahan padi yang tentunya memiliki teknologi yang sangat baik.

Sementara itu untuk sektor pariwisata, Bupati menjelaskan Pemkab Sorsel melalui instansi terkait telah memprogramkan berbagai perencanaan kegiatan untuk meningkatkan sektor tersebut. Dimana sumber-sumber potensi wisata yang ada di Kabupaten Sorsel yang memiliki nilai yang tinggi seperti halnya potensi wisata Kali Sembra diberdayakan untuk menambah pendapatan daerah. Selain itu potensi wisata lainnya yang ada di Distrik Ayamaru seperti Danau Ayamaru dan Panta Kapal yang ada di Distrik Teminabuan serta beberapa potensi wisata lainnya yang ada di daerah-daerah lainnya akan dikembangkan pula.(mus)

Biak : Setiap Distrik Akan Dibuka 3 Ha Kebun Percontohan, Untuk Pengembangan Jarak Pagar

(www.cenderawasihpos.com, 22-09-2008)
BIAK-Potensi pengembangan tanaman jarak pagar di Kabupaten Biak Numfor terus mendapat perhatian serius pemeritah daerah. Setelah mengembangkan 100-an hektar lebih tanaman jarak pagar, kini giliran kebun percontohan akan dibuka di setiap distrik seluas 3 Ha.

Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Biak Numfor Ir.Tukimin Mardihardjo mengatakan pembukaan kebun percontohan di setiap distrik itu akan dilakukan dalam waktu dekat. Hanya saja, sebelum pembukaan kebun percontohan, akan dilakukan sosialisasi dengan melibatkan langsung masyarakat.
"Sosialisasi sebagai persiapan pembukaan lahan percontohan di setiap distrik penting dilakukan. Artinya perlu ada persamaan pandangan antara masyarakat dengan pemerintah serta pengusaha yang akan melakukan investasi," ujarnya kepada Cenderawasih Pos baru-baru ini.

Menurutnya, kebun percontohan yang akan dibuka ini, nantinya akan dijadikan sebagai sumber kebun bibit dalam pengembangan yang lebih besar di setiap distrik. Pengembangan jarak yang akan lebih luas, dimaksudkan agar pengelolaan hasil produksi tanaman itu langsung dilakukan di Biak.
Pasalnya, untuk mengoperasikan dua mesin pengolahan buah jarak yang sudah didatangkan di Biak menjadi minyak diesel, menurut Tukimin diperlukan sekitar 500 Ha tanaman jarak. Namun yang ada sekarang baru sekitar 145 Ha ditambah 88 Ha yang akan ditanam dalam waktu dekat.

"Pada dasarnya perusahaan yang akan mengelola dan menampung hasil produksi jarak dari masyakat sudah ada. Jadi tinggal bagaimana meningkatkan dan mengembangkan tanaman jarak pagar ini sehingga menghasilkan produksi yang cukup," tandasnya. (ito)