Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua

Cari Informasi/Berita/Tulisan/Artikel di Blog IKP

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org

13 January 2009

Nasional : Tinggal Jejak Badak Sumatera di Gunung Leuser

(www.kompas.com, 12-01-2009)
MEDAN, SENIN - Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) di wilayah Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam hanya tinggal jejaknya saja. Peneliti hanya mampu memetakan enam kawasan di Taman Nasional Gunung Leuser atau TNGL. Ancaman punahnya mamalia langka ini ada di depan mata.

"Kami masih terus memetakan habitat badak di Sumatera Utara dan Aceh. Sementara ini kami belum menemukan satupun badak di wilayah ini," kata Ketua Pengurus Yayasan Badak Indonesia (Yabi) Widodo Ramono, Senin (12/1) di Medan dalam lokakarnya Pemetaan Peran Pemerintah Daerah dan LSM dalam Konservasi Badak di Wilayah Sumbagut.

Widodo mengatakan belum ada data mutakhir tentang jumlah badak sumatera di Sumut dan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Padahal sebelumnya di wilayah Sumut dan NAD tepatnya di TNGL jumlah badak sebanyak 60-120 ekor. "Peneliti hanya menemukan jejak berupa kubangan dan tapak kaki badak," katanya.

Data keberadaan badak sumatera terakhir di dunia ada 200 sampai 275 ekor saja. Konsentrasi badak itu ada di Indonesia sebanyak 135-185 ekor. Selebihnya tersebar di Malaysia dan Thailand. Yabi mencatat ada penurunan jumlah b adak sumatera secara tajam di Taman Nasional Kerinci Seblat yang masuk wilayah Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan.

"Bahkan data terakhir di tempat ini tidak ada lagi badak," katanya. Sebelumnya di TNKS pada 1983 terdapat 130-250 ekor badak sumatera. Pada 2001, jumlahnya menurun tajam menjadi lima sampai tujuh ekor saja. Dia mengkhawatirkan hewan ini akan punah dalam waktu dekat.

Andy Riza Hidayat

Nasional : Perusahaan Belgia Bangun Taman Margasatwa 10.000 Ha di Bengkulu

(www.kompas.com, 12-01-2009)
BENGKULU, SENIN — Sebuah perusahaan dari Belgia akan membangun taman margasatwa di Bengkulu. Departemen Kehutanan (Dephut) telah menyetujui proposal tersebut.

"Kami sudah melaporkan keinginan pembangunan Taman Margasatwa oleh pengusaha Belgia itu, dan Departemen Kehutanan telah menyetujuinya," kata Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu Khairil Burhan di Bengkulu, Senin (12/1).

Ia mengatakan, proses pembangunannya terus berlanjut, dan kini tinggal menunggu pelaksanaan ekspos dari pihak investor di hadapan Gubernur Bengkulu Agusrin Maryono Najamuddin.

Pengusaha asal Belgia itu sudah siap untuk pemaparan. Namun, hal itu belum bisa dilaksanakan karena Gubernur Bengkulu saat itu sedang menunaikan ibadah haji, dan baru kembali pada akhir Desember 2008.

"Pak Gubernur minta agar ekspos dilakukan langsung di hadapannya. Oleh karena itu, ekspos kami tunda dulu, sampai beliau ada waktu," katanya.

Ia juga menjelaskan, seluruh biaya untuk pembangunan Taman Margasatwa tersebut ditanggung pengusaha asing itu. Pemerintah Provinsi Bengkulu hanya diminta menyediakan lahan seluas 10.000 hektar.

Untuk lahan akan disediakan dari kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) dengan dua pilihan lokasi, yakni di Kabupaten Bengkulu Utara atau Mukomuko. "Areal HPT di Kabupaten Bengkulu Utara dan Mukomuko cukup luas. Jadi, tidak ada masalah karena mereka hanya minta 10 ribu hektar," katanya.

Pihak pengusaha Belgia awalnya menginginkan agar lokasi tidak terlalu jauh dari Kota Bengkulu. Namun, karena sulitnya mencari lahan 10 ribu hektar dalam satu hamparan, keinginan itu tidak bisa dipenuhi.

"Walaupun ada, harus keluar biaya cukup besar untuk pembebasan lahan karena lahan di Kota Bengkulu pada umumnya milik masyarakat," katanya.

Dengan pertimbangan tersebut, akhirnya ditawarkan untuk menggunakan kawasan HPT. Selain mudah mencari lokasi dalam satu hamparan, juga tidak perlu mengeluarkan dana untuk pembebasannya.

Pembangunan Taman Margasatwa itu menurut dia sangat positif, selain untuk kegiatan pariwisata, membuka lapangan kerja, juga menyelamatkan hewan langka dari kepunahan.

WAH, Sumber : Antara

12 January 2009

Foto : Kangguru di Taman Nasional Wasur, Merauke - Papua

Hewan Kangguru yang berada di tempat penangkaran TN Wasur berhasil ditangkarkan. Saat ini ( sampai dengan Desember 2008) sudah ada 30 ekor kangguru berhasil ditangkarkan (sumber : www.btnwasur.blogspot.com)

11 January 2009

Manca Negara : Kanada : Lobster 140 Tahun Dikembalikan ke Laut

(www.kompas.com,10-01-2009)
BEIJING,SABTU-Lobster yang diduga berusia sekitar 140 tahun akan dikembalikan ke samudra lepas setelah menjadi maskot bagi sebuah restoran di New York City.

Menurut laporan Xinhua, Sabtu (10/1) Lobster seberat 9 kilogram itu ditangkap di lepas pantai Newfoundland di Kanada sekitar satu setengah pekan lalu dan dikirim ke New York.

Lobster tersebut dibeli dengan harga 100 dollar oleh City Crab and Seafood untuk dijadikan maskotnya. "Kami membeli satu lobster besar, mulai mengambil gambar bersama anak-anak dan itu sungguh berhasil," kata manajer restoran Keith Valenti.

"Kami tak pernah bermaksud untuk menjual lobster raksasa, hanya bermaksud menarik perhatian ke restoran," kata manajer tersebut.

Lobster tersebut akan dikirim ke Maine dari restoran New York itu oleh pegiat hak asasi hewan dan memungkinkan hewan tersebut kembali ke samudra bebas di sekitar Kennebunkport, tempat penangkapan lobster dilarang.

"Usia lobster itu dapat diperkirakan dari berapa berat badannya, karena setiap pound berarti sama dengan 7 sampai 10 tahun," kata Valenti.
ONO, Sumber : Ant

10 January 2009

Nasional : Bank Inggris Beli Karbon Hutan Aceh

(www.kompas.com, 09-01-2009)
BANDA ACEH, JUMAT - Merrill Lynch International, salah satu bank di Inggris berkomitmen membeli karbon hutan Ulu Masen Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) senilai 10 juta dollar AS.

"Merrill Lynch akan membeli kredit karbon senilai 10 juta dolar AS dengan ketentuan jika sudah memiliki sertifikat kredit karbon," kata Tim Asistensi bidang sistem manajemen informasi Gubernur NAD, Wibisono yang dihubungi dari Banda Aceh, Jumat (9/1).

Menurut Wibisono, keinginan Merrill Lynch tersebut baru sebatas tahap komitmen dan mereka mengusulkan untuk direalisasikan dengan kesepakatan. Mereka juga baru akan membayar jika kawasan hutan sudah memiliki sertifikat kredit.

Wibisono menambahkan, perdagangan karbon memiliki beberapa model antara lain mengikuti Protokol Kyoto yang mengatur pengurangan emisi aktifitas industri.

Saat ini yang baru dilakukan berupa pasar sukarela dimana siapa saja bisa membuat komitmen untuk membeli karbon hutan.

Sementara itu Comunication Officer Flora dan Fauna International (FFI) Aceh, Dewa Gumay mengatakan, FFI yang sejak awal menginisiasi kredit karbon hutan Aceh khususnya Ulu Masen memfasilitasi bantuan teknis misalnya menyediakan konsultasi untuk Pemerintah Aceh. Perdagangan karbon sendiri, menurut Dewa Gumay, hingga kini belum ada mekanisme jelas yang mengaturnya seperti bagaimana penyaluran dana oleh Merrill Lynch ke Aceh.

Dewa Gumay mengatakan, komitmen tersebut akan dimulai di wilayah Ulu Masen yang menjadi pilot proyek. Dipastikan tidak keseluruhan luas hutan Ulu Masen yang mencapai 740 ribu hektare menjadi kawasan perdagangan karbon.

"Kita belum tahu wilayah mana yang layak untuk perdagangan karbon karena assessment juga belum dilakukan," tambahnya.

Hutan Ulu Masen, sebagai kawasan ekosistem yang belum memiliki status baik melalui Peraturan Menteri maupun peraturan lainnya dipilih karena memiliki tantangan bagaimana melindungi wilayah hutan yang tidak berstatus hukum.

Berdasarkan proyeksi citra lansat Badan Planologi menunjukkan, dalam kurun waktu sembilan tahun, hutan Aceh mengalami pengurangan luas sebesar 500 ribu hektare atau setara 13,84 persen dari total luas 3.611.953 hektare.

Pengurangan luas ini terjadi sejak tahun 1994 hingga 2003, sementara Greenomics memperkirakan deforestasi dan degradasi di kawasan hutan Aceh selama 2002-2004 mencapai 200 ribu Ha, 60 persen terjadi di kawasan konservasi dan hutan lindung.

Penurunan luas kawasan hutan, sebagian besar disebabkan konversi hutan untuk kebutuhan pemukiman, lahan pertanian, perkebunan, dan industri. Penyebab lainnya adalah aktivitas illegal logging, dan kebakaran hutan.

Karena kawasan hutan Aceh masih dinilai salah satu yang terbesar di Indonesia maka diwacanakan perdagangan karbon terhadap hutan-hutan tersebut untuk mengurangi dampak perubahan iklim.

Pada dasarnya, perdagangan karbon berupa kesepakatan negara pemilik hutan dengan negara lain agar tetap menjaga hutannya sehingga menjadi paru-paru dunia.

WAH, Sumber : Antara

Nasional : Penyelundupan 89 Burung Digagalkan

(www.kompas.com, 09-01-2009)
JAKARTA, KAMIS — Upaya penyelundupan sebanyak 243 satwa, di antaranya jenis satwa dilindungi, yang coba diselundupkan ke Filipina dari Tobelo, Halmahera, Provinsi Maluku Utara, berhasil digagalkan akhir tahun lalu. Kini satwa-satwa tersebut berada di Kepolisian Resor Sangihe untuk dijadikan barang bukti.

Dari jumlah tersebut, 89 ekor di antaranya burung langka asal Maluku Utara, yakni jenis nuri bayan (Eclectus roratus), kasturi ternate (Lorius garrulus), kakatua putih (Cacatua alba), dan nuri kalung ungu (Eos squamata). Demikian siaran pers dari Burung Indonesia melalui Rachma Tri Widuri dari Komunikasi Burung Indonesia, Rabu (7/1) di Jakarta.

Nuri kalung ungu adalah satu dari tiga jenis burung paling terancam di Maluku Utara akibat perburuan dan perdagangan burung, sama dengan kasturi ternate.

Rata-rata setiap tahunnya sebanyak 4.345 ekor kasturi ternate diperdagangkan, sementara tingkat perdagangan kakatua putih adalah yang tertinggi sebesar 8.824 ekor per tahun.

Kasus terungkap setelah sebuah perahu tradisional Filipina terdampar di Pantai Kuma, Kecamatan Tabukan Tengah, Kabupaten Sangihe-Talaud, di pengujung 2008.

Penanganan cepat
Team Leader Burung Indonesia untuk Program Halmahera David Purmiasa mengatakan, ”Kami sangat menyayangkan hal ini dan berharap ada penanganan cepat karena setiap hari ada satu-dua ekor kakatua mati.”

Pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam Maluku yang dilapori segera berkoordinasi dengan BKSDA Manado.

”Tindak lanjutnya, kemungkinan para satwa akan dikembalikan ke habitatnya,” kata Kepala KSDA Maluku Ir Yohana R Sahulata.

Menurut keterangan staf Burung Indonesia di Tahuna yang membantu mengidentifikasi burung selundupan, Donny J Tayang, semua satwa yang akan diselundupkan itu dibeli dari Tobelo. Harga jenis burung kakatua sekitar Rp 100.000 per ekor, sedangkan jenis lain Rp 50.000 per ekor.

Ada 15 nuri bayan akan diselundupkan, 8 di antaranya mati. Kasturi ternate ada 20 ekor, kakatua putih ada 49 ekor, sementara nuri kalung ungu 5 ekor, 2 ekornya mati. (isw)

09 January 2009

Wamena : Pengesahan Peta Pemanfaatan Lahan dan Wilayah Adat FAR Joerat

(WWF Region Sahul, Papua e-newsletter No. I/2008 Edisi Bahasa)
Pemetaan partisipatif (Participatory Mapping) yang dilakukan bersama masyarakat adat dalam Forum Adat Rumpun (FAR) Joerat dan Pemerintah Daerah Kabupaten Asmat telah memasuki tahapan akhir dari proses yang telah berlangsung selama kurang lebih 2 tahun (2006-2008). Bertempat di Agats (ibukota Kabupaten Asmat) dan Distrik Sawa Erma pada Tanggal 15-18 Juli 2008, dilakukan kegiatan Penandatangan dan Penyerahan Peta Pemanfaatan Lahan FAR Joerat Sekitar Kawasan Taman Nasional (TN). Lorentz di Kabupaten Asmat.

Suku Asmat yang termasuk dalam Forum Adat Rumpun Joerat dan Forum Adat Rumpun Emari Ducur meliputi 12 kampung dimana 8 dari 12 kampung tersebut masuk dalam kawasann TN. Lorentz. Peta dan berita acara penyerahan peta tersebut ditandatangani oleh perwakilan atau kepala kampung yang wilayahnya dipetakan yaitu Kampung Djakapis, Kapi, Ao, As, Atat, Eroko, Esmapan, Jeni, Jamas, Nakai, Jaun dan Jufri; Sebagai bentuk pengesahan dan pengakuan atas peta partisipatif yang telah dihasilkan bersama.

Peta Pemanfaatan Lahan FAR Joerat Sekitar Kawasan TN. Lorentz hasil pemetaan partisipatif ini akan menjadi milik masyarakat adat yang pemanfaatannya diatur oleh masyarakat adat sendiri. Selain sebagai informasi keruangan, peta ini dapat dipergunakan untuk menunjukkan wilayah-wilayah adat beserta peruntukannya secara adat setempat.

Pada penutupan kegiatan pengesahan dan penyerahan peta hasil pemetaan partisipatif di Distrik Sawa Erma, Bapak Benny Senpits (sebagai perwakilan distrik) menyampaikan terima kasih kepada WWF-Indonesia dan semua pihak yang terlibat karena telah membantu melalui pemetaan pemanfaatan lahan FAR Joerat yang masuk dalam wilayah TN. Lorentz pada distrik Sawa Erma dan wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan TN. Lorentz demi menjaga dan melestarikan kawasan ini sebagai situs warisan dunia yang ada di Distrik Sawa Erma
khususnya Rumpun Joerat.

Selama kegiatan pemetaan ini berlangsung di lapangan WWFIndonesia bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Asmat (melalui Bapeda Kabupaten Asmat dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Asmat), Pemerintah Distrik Sawa Erma, Balai Taman Nasional Lorentz, BPKH Wilayah X Papua, FAR Joerat, Lembaga Masyarakat Adat Asmat, Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agats dan Museum Kemajuan dan Perkembangan Asmat.

Nasional : Perburuan Liar Ancam Populasi Kakaktua Seram

(www.kompas.com, 08-01-2009)
Laporan wartawan Kompas Agung Setyahadi
MASOHI, MINGGU — Populasi burung kakaktua Seram (Cacatua moluccensis) di Taman Nasional Manusela terus menurun akibat perburuan liar. Satwa endemik di Pulau Seram, Provinsi Maluku itu diperkirakan tinggal 400 ekor dari 1.000 ekor pada akhir 1990-an. Kakaktua berbulu putih dengan jambul oranye ini dijual ke Ambon, Bali, dan Jakarta.

Perburuan liar juga mengancam satwa liar lainnya seperti nuri raja (Alisterus amboinensis), nuri kepala hitam (Lorius domicella), rusa ( Cervus timorensis moluccensis), dan kasuari (Casuarius casuarius).

Supriyanto, Kepala Balai Taman Nasional Manusela, menjelaskan, perburuan liar merupakan ancaman utama bagi kakaktua Seram. Para pemburu sebagian besar adalah masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi. Mereka menggunakan alat-alat berburu tradisional, seperti jerat dan jebakan burung. "Perburuan kakaktua masih banyak dilakukan di desa-desa terpencil. Para pemburu biasanya berjalan kaki 3 hingga 4 hari untuk berburu," ujar Supriyanto.

Berdasarkan penelusuran di Ambon, kakaktua Seram biasa dijual sekitar Rp 500.000 per ekor. Kakaktua dibawa ke Ambon dengan menumpang kapal-kapal pelayaran rakyat yang sandar di pelabuhan Slamet Riyadi. Pengawasan terhadap perdagangan satwa liar di Ambon oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam masih sangat longgar. Masyarakat leluasa membawa satwa dilindungi itu tanpa halangan petugas.

Perburuan liar, lanjut Supriyanto, terus menurunkan populasi burung endemik Pulau Seram itu. Saat ini, hanya ada sekitar 400 ekor kakaktua Seram yang tersebar di Sawai, Masihulan, dan Wahai. Populasi di sekitar lokasi ekowisata Teluk Sawai dan Masihulan diperkirakan sekitar 100 ekor.

Populasi kakaktua di lokasi itu relatif terjaga karena ada Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) yang melibatkan peran masyarakat lokal. Satwa liar yang berhasil diselamatkan, baik dari perburuan maupun perdagangan liar, direhabilitasi di PRS sebelum dilepas ke habitat aslinya.

PRS, lanjut Supriyanto, mempekerjakan para mantan pemburu satwa sebagai karyawan. Mereka kini menjadi pelindung hutan yang menjadi habitat satwa liar. Kegiatan itu mampu menekan perburuan satwa liar yang sempat marak di Sawai dan Masihulan. Masyarakat di sekitar Sawai dan Masihulan juga dibina untuk mengelola desa ekowisata.

Kegiatan andalan adalah pengamatan burung dari menara setinggi 25 meter, pendakian, penelusuran goa, dan menyelam. Di teluk Sawai yang jernih dengan terumbu karang yang indah juga ada penginapan terapung untuk para wisatawan.

"Kami berusaha mengembangkan ekowisata ini supaya masyarakat memperoleh penghasilan sehingga meninggalkan perburuan satwa liar. Saat ini, kunjungan wisata masih sedikit, sekitar 150 turis asing setiap tahun," ujar Supriyanto.

Taman Nasional Manusela ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 281/Kpts-IV/1997. Kawasan konservasi seluas 189.000 hektar ini merupakan gabungan Cagar Alam Wai Nua dan Cagar Alam Wai Mual. Taman nasional ini memiliki keanekaragaman hayati 241 jenis pohon, 120 jenis paku-pakuan, 100 jenis lumut, 96 jenis anggrek, 196 jenis aves, 24 mamalia, 200 jenis kumbang, 90 jenis kupu-kupu, 46 jenis reptil, 19 jenis ikan air tawar, dan 8 jenis amfibi.
Agung Setyahadi

Wamena : Tamu dari Belanda Kunjungi Danau Habema

(WWF Region Sahul, Papua e-newsletter No. I/2008 Edisi Bahasa)
Taman Nasional Lorentz mendapat kunjungan tamu dari Negeri Belanda yaitu Postcode Lotterij dan WNF (WWF- Nederland) berjumlah enam orang yang didampingi Direktur Konservasi WWF-Indonesia (Klaas Jan Teule) dan Direktur WWF-Indonesia Region Sahul (Benja Mambai).

Selama 3 hari (28-30 Nopember 2007) di Wamena mengunjungi berbagai objek wisata tarian perang dan wisata alam. Diawali dengan mengunjungi Distrik Kurulu untuk melihat objek wisata budaya masyarakat Kurulu berupa atraksi perang-perangan antar suku, atraksi bakar batu, melihat Mummi dan belanja cinderamata khas Kurulu.

Pada kesempatan ini tim juga mengunjungi kantor WWF di Wamena dan mendapatkan penjelasan singkat oleh staf WWF-Indonesia di Site Lorentz mengenai program konservasi WWF di TN. Lorentz.

Pada keesokan harinya tim mengunjungi Danau Habema. Turut mendampingi dalam kunjungan ini Kepala Balai Taman Nasional Lorentz dan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Jayawijaya. Danau Habema sendiri terletak di dalam kawasan Taman Nasional Lorentz pada ketinggian 3.500m dpl. Selama mengunjungi Danau Habema tim melakukan berbagai aktifitas pengamatan burung (bird watching) dan species tumbuhan endemik seperti jenis tumbuhan Myrmecodia brassii, Hydnophytum archboldianum , Trachymene flabellifolia, Potentilla habbemana dan berbagai jenis tumbuhan lainnya.

08 January 2009

Jayapura : Pasca Gelombang Pasang, Sejumlah Kawasan Pantai Akan Dibersihkan

(www.cenderawasihpos.com, 07-01-2008)
JAYAPURA-Rusaknya beberapa kawasan pantai di Kota Jayapura khususnya Pantai Hamadi yang diakibatkan gelombang pasang yang terjadi akhir tahun 2008, mendapat perhatian serius dari Bapedalda Kota Jayapura.

Rencananya untuk mengatasi kerusakan tersebut, Bapedalda Kota Jayapura akan melakukan kegiatan berupa gerakan bersih pantai. “Kami memang ada rencana untuk melakukan kegiatan pembersihan di sejumlah kawasan pantai, khususnya di Pantai Hamadi,”ujar Kepala Bapedalda Kota Jayapura Drs Jan Hendri Hamadi saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (5/1).

Dikatakan, rencana pembersihan kawasan pantai terutama akibat timbunan pasir ini masih dalam proses pembahasan lebih lanjut, terutama terkait tindakan yang akan dilakukan. Beberapa alternatif memang sudah dipersiapkan diantaranya mengeruk pasir kembali ke pantai atau mengangkutnya sebagai sumber galian golongan C atau upaya pembersihan lainnya. “Kami masih akan bahas lebih lanjut,”tandasnya.

Kegiatan bersih pantai ini menurutnya akan difokuskan di kawasan pantai Hamadi, yang dulunya merupakan bekas daerah pendaratan pasukan Sekutu di Jayapura. Disamping akan memberisihkan pasir-pasir yang terbawa saat gelombang pasang, juga akan dilakukan akan dilakukan pembersihan terhadap sisa-sisa peninggalan perang dunia II yang banyak terdapat di pinggir pantai.

Hendrik Hamadi mengakui bahwa pihaknya sendiri juga sudah melihat kondisi ini secara langsung, termasuk sejumlah sejumlah amunisi aktif yang kemungkinan masih banyak tersebar di kawasan pantai Hamadi.“Oleh karena itu, untuk penanganan kegiatan pembersihan pantai ini memang membutuhkan kerjasama dari pihak terkait,”ujar Hendrik Hamadi. (tri)

Sorong : Karantina Sorong Musnahkan 12 Ekor Unggas

(www.cenderawasihpos.com, 07-01-2008)
Sorong- Sebannyak 9 ekor ayam dan 3 ekor burung sore kemarin dimusnahkan oleh Karantina Pertanian Klas I Sorong. Hal itu dilakukan sebagai upaya pencegahan virus Flu Burung, di masyarakat.

Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kalas I Sorong, Amril kepada Radar Sorong (grup Cenderawasih Pos) mengatakan, unggas yang dimusnahkan tersebut adalah merupakan unggas yang dibawa oleh para penumpang KM Gunung Dempo dari Jawa dan Sulawesi." Tujuan kami adalah melakukan pencegahan hama dan penyakit yang dibawa dari luar masuk ke Sorong, prinsipnya kerja kami untuk masyarakat"katanya.

Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinnya penularan di wilayah kerjanya yang mencakup,Kota Sorong, Kabupaten Sorong, Sorong Selatan, Raja Ampat, Kaimana dan Fak Fak, pihaknya selalu mengarahkan petugasnya untuk melakukan pemeriksaaan satiap kapal maupun pesawat yang masuk."Kami bekerja siang dan malam hanya untuk melindungi masyarakat Sorong dan sekitarnya, semua tempat- tempat penularan tetap kami akan jaga,"jelas Amril.

Diungkapkan, pada akhir Desember kemarin pihaknya telah melakukan pengambilan data untuk dilakukan pengujiannya di Balai Karantina Hewan Maros, masih menunggu hasil apakah Kota Sorong saat ini masih bebas dari virus itu atau sudah terjangkit.(ris)

07 January 2009

Jayapura : Seluruh Papua Berpotensi Gempa Tektonik, Gempa Susulan Masih Terjadi di Manokwari

(www.cenderawasihpos.com, 06-01-2009)
JAYAPURA-Kepala Bidang Data Dan Informasi BMG Wilayah V Jayapura, Ahmad Mujahidin mengungkapkan, tidak hanya Manokwari dan Sorong yang berpotensi gempa tektonik, tetapi seluruh Papua berpotensi.

Ia menyebutkan, selama ini menurut daerah pemetaan potensi gempa yang tertinggi terjadi di wilayah Utara dan Barat, serta Papua bagian Tengah dan terendah adalah Merauke. "Banyaknya gempa tektonik ini disebabkan karena Papua berdiri di atas dari pergerakan bumi tersebut, sehingga banyak terjadi gempa di wilayah Papua bagian Utara dan Papua bagian Tengah," ungkapnya.

Untuk itu, ia menegaskan kepada masyarakat agar membangun gedung atau bangunan yang tahan gempa ataupun bagunan yang tidak permanen. Ia juga menyebutkan bahwa bangunan yang dibangun di lereng bukit hendaknya mempunyai kekuatan konstruksi yang sesuai daaerah yang berpotensi gempa.

Sementara itu, masih terjadi beberapa gempa tektonik susulan yang terjadi di Manokwari dan Sorong. Tercatat hingga pukul 19.45 WIT, sudah terjadi sekitar 917 kali dan yang terasa oleh manusia, atau melebihi dari magnitude 5 SR adalah sebanyak 57 kali.

"Angka gempa susulan ini akan terus meningkat sepanjang peluruhan yang terjadi di patahan core Sorong terus terjadi," ungkapnya saat dikonfirmasi melalui telepon gemgamnya, Senin (5/1) kemarin.

Dikatakan, frekuensi gempa tiap 3 jamnya, akan semakin menurun dan diprediksikan frekuensi itu akan berhenti atau tidak terasa lagi ketika sudah 6-7 hari setelah gempa pertama terjadi. "Frekuensi tiap 3 jam itu pada hari pertama bisa melebihi 100 kali gempa susulan. Diharapkan dalam beberapa hari mendatang seperti data statistik biasanya akan berkurang," ujarnya.

Guna mempermudah dan mempercepat pengiriman data gempa tektonik yang terjadi di Manokwaari dan sorong, dua tim dari BMG Wilayah V Jayapura telah sampai di Manokwari kemudian dan memasang alat 'terpedo seismograaf'.

Sementara itu, mahasiswa Manokwari yang tinggal di Asrama Acemo, Padang Bulan. terkesan sepi. "Sebagian besar adalah masih ada di Manokwari karena adanya masa liburan Natal dan Tahun Baru, sehingga beberapa hari lagi mungkin semua mahasiswa akan datang," ungkap Astrik Rumbonde Ketua Asrama bersama dengan Allen Saiba.

Ditanya soal rencana kedepan yang akan dilakukan mahasiswa Manokwari di Jayapura, dikatakan masih akan menunggu kedatangan teman mereka dari Manokwari, akan tetapi mahasiswa Manokwari tidak menutup kemungkinan bila ada donatur bisa membantu, untuk selanjutnya diteruskan ke Manokwari.

Allen Saiba menambahkan bahwa dirinya dengan beberapa orang lain tidak akan pulang ke Manokwari karena perkuliahan ada yang sudah mulai.(ind)