Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua

Cari Informasi/Berita/Tulisan/Artikel di Blog IKP

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org

01 February 2013

Serui : TPS 02 Anotourei Musnahkan Ayam Bangkok

 (www.bintangpapua.com, 01-02-2013)
SERUI - Bertempat di kantor karantina pertanian. Jl, Frans Kaisepo Serui, Kamis (1/2)pihak Karantina Pertanian wilayah kerja Serui, melakukan pemusnahan ayam bangkok yang dibawa dari bitung.
Pemusnahan tersebut dihadiri oleh Komandan Kodim 1709 Yapen Waropen Letkol. Inf. Dedy Iswanto, Kapolres Yapen yang diwakili kepala pelabuhan dan dinas pertanian dan peternakan.

Penanggung jawab karantina pertanian wilayah kerja Serui, Mahyudin kepada Bintang Papua menjelaskan, pemusnahan tersebut sebagai upaya pencegahan firus flu burung. Pasalnya, Bitung merupakan daerah penyebar firus flu burung.

Selain itu pemusnahan juga merupakan salah satu bentuk dukungan dan kerja sama dengan karantina pertanian dalam meningkatkan pengawasan terhadap keluar masuknya setiap unggas,daging ayam,telur termasuk tumbuh-tumbuhan melalui dermaga dan bandara serui.

Dijelaskan, kronologis penahanan ayam Bangkok dari Bitung Sulawesi Utara ketika KM.Dorolonda tiba di Dermaga Serui di pintu keluar oleh petugas karantina menahan salah seorang penumpang dengan barang bawaan untuk disita sesuai ketentuan UU karantina No.16 thn 1992,serta peraturan pemerintah No.82 thn 2000 dan keputusan Gubernur No.158 thn 2004 tentang pemasukan unggas ke Provinsi Papua, yaitu selama tiga hari pemilik barang atau unggas tidak kembali maka unggas tersebut di musnahkan.

Sementara staf karantina pertanian wilayah kerja Serui, Mardiyanto mengemukakan, Serui merupakan salah satu daerah di Indonesia yang sampai saat ini masih steril dari penyebaran virus flu burung sehingga perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang mendatangkan unggas dari luar daerah.

Untuk itu dirinya menghimbau kepada masyarakat yang belum memahami tentang mekanisme kepengurusan administrasi dokumen karantina agar dapat mendatangi kantor karantina yang terletak di samping hotel kelapa dua serui, sehingga dapat mengetahui informasi yang benar agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. (seo/aj/LO1)

Tiga spesies baru Kukang ditemukan di Kalimantan

 (www.antaranews.com,01-02-2013)
Sukabumi (ANTARA News) - Ahli peneliti primata kukang Universitas Oxford Brookes, Profesor Ana Nekaris, berhasil menemukan tiga spesies baru Kukang di Pulau Kalimantan melalui penelitian Deoxyribonucleic acid atau DNA kukang di Indonesia.

"Spesies baru Kukang ini belum lama ditemukan oleh Ana Nekaris dalam penelitiannya, bahkan profesor yang fokus terhadap primata dan hewan yang beraktivitas pada malam hari ini sudah memberikan `workshop` di Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga, Sukabumi tentang penemuan tiga spesies baru Kukang," kata Staf Hubungan Masyarakat Bidang Media Informasi PPSC Cikananga, Sukabumi Iing Haryanto kepada ANTARA News di Sukabumi, Selasa.

Ketiga spesies baru Kukang tersebut adalah Nycticebus Kayan, N. Borneanus, dan N. Bancanus. Kukang itu dinyatakan baru setelah Ana Nekaris melakukan penelitian dengan cara mengambil sampel-sampel DNA kukang di Indonesia.

Menurut Iing, dengan ditemukannya spesies baru Kukang itu, hingga saat ini di dunia menjadi ada delapan spesies kukang, enam di antaranya di Indonesia yang tersebar di Pulau Sumatra, Kalimantan, dan Jawa.

Ia menjelaskan penelitian terhadap kukang memang relatif sangat sulit, baik untuk menemukan spesies baru maupun populasinya.

Oleh karena itu, pihaknya cukup terbantu dengan penelitian yang dilakukan oleh Ana Nekaris terhadap spesies kukang di Indonesia.

"Hasil penelitian ini pun sudah disosialisasikan langsung oleh Ana Nekaris di Cikananga beberapa waktu lalu, yang tujuannya agar pihak penyelamat satwa, LSM, atau pemerhati satwa tidak salah melepas liarkan kukang yang bisa menyebabkan kukang tersebut bukan di habitatnya," katanya.

Pihaknya saat ini juga terus melakukan penelitian terhadap spesies kukang khususnya di Pulau Jawa (N. Javanicus).

Namun, dia mengakui bahwa untuk meneliti Kukang pihaknya sangat kesulitan seperti yang dilakukan di Garut beberapa waktu lalu. Penelitian pihaknya tersebut untuk mengetahui sejauh mana penyebaran Kukang dan populasinya.

Ia menjelaskan Kukang saat ini sudah masuk ke dalam daftar satwa yang dilindungi baik di Indonesia maupun dunia karena sudah terancam punah.

Berdasarkan Daftar Internasional Satwa Tercancam Punah, Kukang Jawa sudah masuk kategori satwa yang terancam punah di dunia, sedangkan Kukang Sumatera dan Kalimantan saat ini baru masuk dalam satwa rentan terancam punah.

"Kami pun sangat menyayangkan pihak Kementerian Kehutanan, Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), dan intansi pemerintah lainnya yang fokus terhadap satwa dinilai kurang peduli dengan keberadaan kukang yang terancam punah. Ini ditandakan dengan maraknya jual beli kukang yang secara bebas seperti di pasar-pasar burung atau binatang," kata Iing.

Berdasarkan hasil survei dan penelitian pihaknya secara langsung di lapangan, kukang merupakan hewan primata yang paling tinggi tingkat eksploitasi setelah monyet ekor panjang.  Hewan itu dijual seperti di pasar-pasar burung di Bandung, Jakarta, dan Barito, Kalimantan.

"Mayoritas Kukang yang dijual berasal dari spesies yang ada di Sumatra dan Kalimantan," katanya.
(M029)

Editor: Ella Syafputri

Manca Negara : Perancis : Bumi Bakal Miskin Hujan di Masa Depan

(www.kompas.com, 01-02-2013)
PARIS, KOMPAS.com — Pakar iklim dunia memperkirakan, Bumi akan mengalami lebih sedikit hujan di masa depan karena pemanasan global. Fenomena tersebut berbeda dengan pemanasan di masa lalu yang justru meningkatkan curah hujan.

Dalam publikasi di jurnal Nature, ilmuwan mengungkapkan bahwa pemanasan global yang disebabkan oleh gas rumah kaca dari aktivitas manusia memiliki dampak berbeda dari pemanasan yang hanya disebabkan oleh peningkatan radiasi Matahari.

Menurut para ilmuwan, perbedaan tersebut disebabkan karena gas rumah kaca memicu pemanasan pada zona atmosfer berbeda. Gas rumah kaca memperkecil perbedaan temperatur antarlapisan atmosfer. Atmosfer menjadi lebih stabil sehingga curah hujan menurun.

"Untuk peningkatan temperatur yang sama, pemanasan akibat radiasi Matahari saja akan memicu curah hujan lebih tinggi daripada gas rumah kaca," papar peneliti dalam publikasinya di Nature, seperti dikutip AFP, Rabu (30/1/2013).

"Dengan lebih sedikit curah hujan (akibat pemanasan karena gas rumah kaca) maka berarti secara rata-rata ada potensi peningkatan kekeringan," kata Bin Wang, peneliti dari International Pacific Research Center, University of Hawaii, yang terlibat riset.

Radiasi Matahari bisa meningkat karena aktivitas vulkanik, label aerosol di atmosfer, dan perubahan orbit Bumi terhadap Matahari. Hasil riset ini menunjukkan adanya potensi turunnya curah hujan di masa depan secara global, bukan lokal.
Sumber :AFP
Editor :yunan

30 January 2013

Fak-Fak : Pedagang Datangkan Sayur Bayam Merah dari Ambon

 (www.bintangpapua.com, 30-01-2013)
FAK-FAK – Jika daerah lain di luar Kabupaten Fakfak biasanya menanam sayur bayam merah oleh penduduk lokal atau transmigrasinya, maka lain halnya dengan pedagang sayur mayur di Fakfak. Justru sayur bayam merah maupun sayur bayam hijau, sayur kangkung, terong, sawi, ketimun, rica,  jahe maupun lainnya didatangkan dari Ambon atau Sorong. Untuk sayur kol, rica, bunga kol pun harus didatangkan dari Manado. Sungguh memprihatikan.

   Dari pantauan Bintang Papua diatas KM Nggapulu saat sandar di Pelabuhan Fakfak, para pedagang sayur lokal Fakfak sudah stand by di dalam pelabuhan menunggu sayur pesanan yang didrop dari Ambon turun ke pelabuhan.

   Sejumlah pedagang yang ditemui di pelabuhan mengatakan bahwa di Fakfak tidak ada petani yang mendrop sayur mayur ke pasar, sementara pesanan dari Ambon ke Fakfak hanya membutuhkan 16 jam perjalanan laut sehingga tiba di Fakfak pagi hari sayur itu masih segar.

   “Biar kitorang pesan dari Ambon atau Sorong semua sayur masih segar. Karena diatas kapal kan dingin sayur tahan lama, walaupun itu sayur bayam, kangkung. Disini (Fakfak) kitorang tidak bisa harapkan,” kata sejumlah pedagang kepada Bintang Papua.

 Saat Bintang Papua naik ke atas kapal dan melihat banyaknya sayur mayur yang berderet di depan pantri dapur dek 4 KM Nggapulu. Menurut ABK KM Nggapulu bahwa sayur biasanya dipesan dari Fakfak. “Coba lihat saja pak, inikan semua sayur pesanan dari pedagang Fakfak, jadi kita taruh disamping dapur ini saja supaya mudah diturunkan kalau sampai di Fakfak,” kata ABK tersebut. (mul/don/l03)

28 January 2013

Kelelawar Memilih Tidur dengan Sejenis

 (www.kompas.com, 28-01-2013) 

 
LEEDS, KOMPAS.com - Beberapa kelelawar memilih tidur dengan sejenis. Makna tidur di sini harfiah. Artinya, beberapa dari mereka mengawini betina tetapi tak mau tinggal dengannya.

Fakta tersebut terungkap dalam hasil penelitian John Altringham dari School of Biology, University of Leeds, dan timnya yang dupublikasikan di jurnal PLoS ONE baru-baru ini. Kelelawar yang diteliti adalah kelelawar Daubenton (Myotis daubentonii).

Altringham menemukan, banyak pejantan ditemukan di tempat tinggal yang bersih. Sebaliknya, betina ditemukan di tempat yang kotor bersama anak-anaknya. Tak ditemukan pejantan di tempat betina.

"Salah satu alasan tak menemukan pejantan di tempat tinggal betina adalah karena induk mencegah kompetisi memperebutkan makanan. Butuh banyak serangga untuk menghasilkan susu bagi para bayi kelelawar," kata Altringham seperti dikutip Discovery, Jumat (25/1/2013).

Namun, Altringham mengatakan, "Mungkin juga, pejantan memang tak ingin tinggal bersama dengan betina."

Menurut Altringham, betina dan bayi kelelawar memiliki banyak parasit, seperti tungau dan kutu. Dalam lingkungan yang padat dimana banyak bayi, parasit menjadi ancaman. Parasit tak cuma membuat hidup kelelawar tidak nyaman, tetapi juga mengancam kesehatan.

"Pejantan biasa tinggal sendiri di tempat yang bersih, jadi Anda paham mengapa mereka tak mau tinggal bersama betina," kata Altringham.

Memilih tinggal sendiri atau bersama lawan jenis bagi kelelawar tampaknya merupakan pilihan. di lokasi penelitian lain, tepatnya di Grassington, ada beberapa pejantan yang tinggal bersama betina dan anak-anaknya.

"Betina memiliki pejantan yang menghangatkan. Dengan demikian, betina menghabiskan sedikit energi untuk menghangatkan bayi, bayi tumbuh lebih cepat," jelas Altringham.

Di Grassington, pejantan pun tetap membatasi jumlah betina yang tinggal bersamanya. Jika berlebih, beberapa betina akan "ditendang". Tentu, risiko terkena parasit tetap ada dengan tinggal bersama betina. Mengapa pejantan masih mau? Alasannya adalah seks.

Kelelawar tampaknya menghadapi tantangan yang sama dengan manusia. Manusia sulit mencari pasangan dan rumah bagus. Demikian juga kelelawar.
Sumber :DISCOVERY
Editor :yunan

27 January 2013

Pemanasan Global, Rekor Suhu Panas Naik Lima Kali Lipat

 (www.kompas.com, 27-01-2013)
KOMPAS.com - Dalam studi yang dipublikasikan oleh peneliti asal Jerman dan Spanyol, disebutkan bahwa pemanasan global telah menyebabkan rekor suhu tinggi bulanan akan meningkat frekuensinya hingga lima kali lipat. Di sebagian kawasan Eropa, Afrika, dan selatan Asia, frekuensi bulan-bulan dengan suhu panas yang memecahkan rekor telah meningkat sepuluh kali lipat.

Bukti-bukti ini didapat setelah para peneliti menganalisa data temperatur bulanan selama 131 tahun terakhir yang dipantau dari 12 ribu titik di seluruh dunia yang disimpan di database NASA. Ironisnya, jika pemanasan global akibat ulah manusia tidak disertakan dalam penghitungan, rekor-rekor bulan terpanas akan berkurang hingga 80 persen.

“Gelombang panas yang belum pernah terjadi sebelumnya muncul pada dekade lalu. Sebagai contoh, seperti yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 2012, di Russia pada tahun 2010, Australia pada 2009, dan Eropa pada tahun 2003,” kata Dim Coumou, peneliti dari Potsdam Institute for Climate Impact Research, Berlin, Jerman.

Dalam 30 tahun ke depan, dengan tren pemanasan global yang ada saat ini, jumlah rekor bulan-bulan terpanas akan 12 kali lipat lebih banyak dibanding saat ini. “Artinya, suhu tinggi di musim panas bukan saja akan muncul 12 kali lipat lebih sering, tapi jauh lebih buruk lagi,” kata Coumou.

Meski demikian, Coumou menyebutkan, untuk dihitung sebagai rekor baru, gelombang suhu panas itu memang harus mengalahkan rekor suhu panas yang akan terjadi di 2020 dan 2030-an. Padahal, temperatur di tahun-tahun tersebut sudah lebih panas dibandingkan dengan yang pernah kita alami sampai saat ini.

Studi yang dilakukan bersama-sama dengan peneliti dari Complutense University of Madrid ini dipublikasikan di jurnal Climatic Change. (Abiyu Pradipa/National Geographic Indonesia)
Sumber :National Geographic Indonesia
Editor :yunan

26 January 2013

Jerapah Ternyata Suka Pilih-pilih Teman

 (www.kompas.com, 26-01-2013)
KOMPAS.com - Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti asal University of Queensland, Austraila, terungkap bahwa mempelajari hubungan sosial di kalangan jerapah betina menghasilkan informasi penting terkait pengelolaan dan konservasi spesies tersebut.

Kerryn Carter, ketua tim peneliti dari School of Biological Sciences mengamati kelompok sosial yang terdiri dari 535 ekor jerapah liar yang ada di Taman Nasional Etosha, Namibia, selama 14 bulan. Pengamatan membuktikan bahwa jerapah memiliki hubungan dan jaringan sosial yang lebih kompleks dibanding perkiraan sebelumnya. Dan temuan ini sangat penting untuk memahami evolusi sosial hewan dan juga manusia.

“Jerapah menunjukkan sistem sosial seperti manusia, di mana masing-masing individu jerapah secara sementara menjalin hubungan dengan yang lain sehingga jumlah dan identitas dari setiap individu di dalam kelompok terus berubah,” ucap Carter. “Sebelum ini, jerapah diperkirakan tidak menunjukkan pola khusus dalam hubungan antar sesama,” ucapnya.

Dalam studi, Carter memperhatikan frekuensi setiap pasang jerapah saling berhubungan, berapa banyak mereka saling mengunjungi, serta kemampuan mereka untuk saling bertemu secara reguler. Hasilnya adalah seperti yang dipublikasikan di jurnal Animal Behaviour tersebut.

“Kami menemukan, para jerapah betina bukannya tidak pilih-pilih dalam berinteraksi seperti perkiraan sebelumnya, tetapi justru setiap individu jerapah betina lebih memilih untuk berkelompok dengan para betina tertentu dan menghindari kelompok betina yang lain,” kata Carter.

Ada kemungkinan, Carter menyebutkan, preferensi sosial jerapah betina dalam memilih teman ada hubungannya dengan usia dan status reproduksi mereka. Untuk itu, para peneliti kini melanjutkan studi agar dapat mengetahui lebih banyak faktor-faktor apa yang berkontribusi terhadap preferensi tersebut.

Carter menyebutkan, memahami pola jaringan sosial pada spesies seperti jerapah dapat membantu kita memahami bagaimana penyakit bisa menyebar di dalam populasi dan bagaimana setiap individu bisa belajar tentang lingkungan mereka dari sesama mereka. “Pemahaman seperti ini sangatlah penting untuk konservasi,” ucapnya.

Selain manusia dan jerapah, spesies lain yang memiliki preferensi khusus dalam hubungan di antara sesamanya adalah kanguru, lumba-lumba, kelelawar. “Kesamaan perilaku dalam sistem sosial dari spesies yang berbeda ini sangat mengejutkan, mengingat ekologi dari spesies-spesies ini sangat berbeda,” kata Carter. (Abiyu Pradipa/National Geographic Indonesia)
Sumber :National Geographic Indonesia
Editor :yunan

25 January 2013

Manokwari : Stasiun Karantina Kembali Musnahkan Ayam dan Bibit Jeruk Illegal

 (www.bintangpapua.com, 25-01-2013)
MANOKWARI– Stasiun Karantian Pertanian Manokwari kembali melakukan pemusnahan terhadap 4 ekor ayam (bangkok) dan 2 bibit jeruk yang berhasil disita dari sejumlah penumpang KM. Dorolonda, 8 Januri lalu dan penumpang KM Labobar, 17 Januari  lalu. Sejumlah ayam dan bibit jeruk itu masuk ke Manokwari berhasil diamankan oleh wilayah kerja pelabuhan.

Sejumlah ayam dan bibit jeruk ini masuk secara illegal tanpa disertai dokumen lengkapnya. Tindakan pemusnahan ini mengacu pada Undang-undang (UU) Nomor 16 Tahun 1992 tentang karantina hewan, ikan, dan tumbuhan. Serta SK Bupati Manokwari Nomor 3 Tahun 2005  tentang pemasukan unggas dan produknya.

“Upaya pemusnahan ini dalam rangka mempertahankan staus wilayah Provinsi Papua Barat khususnya kabupaten Manokwari, provinsi Papua Barat bebas dari penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration) berdasarkan SK Mentan No. 610 tahun 1997 tentang Peredaran Bibit Jeruk. Termasuk penyakit flu burung (avian influenza),” kata salah satu petugas Stasiun Karantina Manokwari, drh. Thamrin melalui surat elektronik yang diterima koran ini, rabu (24/1).

Dikatakan, ayam dan bibit jeruk tersebut berasal dari yang pernah terjangkiti penyakit CVPD dan tidak disertai dengan label lulus sertifikasi dari Balai/Loka Pengawas dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura. Selain itu, penahan dilakukan juga oleh petugas karantina Wilayah kerja Bandara Rendani Manokwari terhadap 10 box (500 ekor) DOC, 16 Januari lalu, yang dimasukkan melalui Bandara udara Rendani.

“Penahan tersebut dilakukan dengan alasan berasal dari daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dimana daerah tersebut sedang merebak wabah Flu pada itik dan daerah tersebut juga endemik flu Burung,” jelasnya.

Ditambahkan, tindakan pemusnahan tersebut merupakan upaya pemerintah dalam melindungi Papua Barat dan peternak lokal dari Hama dan Penyakit Hewan dan Organisme Pengganggu Tumbuhan. ”Oleh karena itu dibutuhkan peran serta masyarakat untuk mencegah masuknya penyakit,” imbuh Thamrin. (Sera/don/l03)

24 January 2013

Unik, Salamander Ini Hidup dengan Tenaga Surya

 (www.kompas.com, 24-01-2013)

PHILADELPHIA, KOMPAS.com - Beberapa hewan hidup dengan cara aneh. Salah satunya adalah salamander berbintik. Spesies ini mampu hidup dengan tenaga surya, walau tak secara langsung.

Salamander berbintik (Ambystoma maculatum) menjalin simbiosis dengan alga hijau jenis Oophila amblystomatis. Hubungan simbiosis berlangsung sejak salamader masih dalam fase telur. Begitu telur diletakkan, alga hijau itu langsung mengolonisasinya.

Persahabatan dengan alga hijau menguntungkan bagi salamander. Alga hijau menjadi semacam panel surya alami karena kemampuan fotosintesisnya.

Riset yang dilakukann tahun 1940 pada embrio salamander ini mengungkap, alga memanfaatkan sampah embrio sebagai nutrisi membantu fotosintensis. Embrio sendiri mengambil keuntungan dari oksigen yang dilepaskan lewat proses itu. Lebih banyak alga, kesempatan survive embrio makin tinggi.

Riset pada tahun 2011 mengungkap, alga tidak hanya hidup di permukaan embrio, tetapi juga di dalamnya. Lebih ekstrem, bisa juga di dalam sel embrionik.

Berdasarkan hasil riset tersebut, ilmuwan menduga bahwa salamander tak cuma mengambil keuntungan berupa oksigen dari alga. Sangat mungkin embrio juga mengambil glukosa. Jadi, alga berfungsi bak pabrik energi bagi salamander.

Penelitian terbaru Erin Graham dari Temple University di Philadelphia membuktikan hal tersebut. Graham menginkubasi telur salamander dalam air mengandung karbon 14 yang bersifat radioaktif.

Terungkap bahwa embrio salamander terpapar zat radioaktif, kecuali bila diletakkan dalam lingkungan gelap. Hal ini menunjukkan bahwa embrio hanya bisa mengambil karbon 14 dalam bentuk glukosa dari hasil fotisintesis alga.

Lalu, apa yang didapatkan alga dari proses simbiosis itu. Satu hal yang pasti adalah substrat untuk hidup. Tanpa salamander, alga hanya didapati dalam bentuk kista yang mengalami dormansi.

Graham seperti diberitakan New Scientist, Jumat (18/1/2013) menuturkan, semua hewan bisa menjadi kandidat substrat bagi alga ini. Namun, burung dan mamalia tak bakal bersimbiosis dengan alga ini karena telurnya sudah diisolasi dengan dunia luar oleh cangkangnya.
Sumber :NewScientist
Editor :yunan

22 January 2013

Jayapura : 2013 Pemkot Tidak Cetak Sawah Baru

 (www.bintangpapua.com, 22-01-2013)
JAYAPURA – Di Tahun 2013, Pemerintah Kota Jayapura, tidak akan mencetak sawah baru sesuai dengan rencana kerja setiap tiga tahunan.
Kepala Dinas Pertanian Kota Jayapura Jean H Rollo di Jayapura, Senin, mengatakan tahun ini pihaknya tidak memprogramkan penambahaN areal sawah baru karena program tersebut dilakukan setiap tiga tahunan.

”Pada 2013 ini tidak ada program cetak sawah baru, tetapi kita lebih fokus kepada penyebaran bantuan bibit kepada petani dan peningkatan produksi pertanian,” katanya.
Ia mengatakan, luas lahan pertanian di Kota Jayapura yang terpusat di Distrik Muara Tami mencapai sekitar 600 hektare, 70 persen di antaranya merupakan lahan sawah dan 30 persen sisanya ladang.
”Dari total areal tersebut setiap tahun produksinya cenderung naik rata-rata 2 hingga 3 ton padi per hektare. Untuk 2013 Pemkot menargetkan 3,6 ton per hektare,” katanya.

Untuk mencapai target itu, kata dia, Dinas Pertanian melakukan pendampingan kepada petani dengan memberikan penyuluhan, sehingga petani dapat mengoptimalkan pemanfaatan lahan yang ada sekarang.
”Sebenarnya di Kota Jayapura, khususnya Distrik Muara Tami, masih banyak lahan tidur atau terbengkalai. Namun karena kekurangan alat pertanian, lahan tersebut tidak dapat digarap sebagai persawahan,” katanya.
Pihaknya berharap kepada pemerintah pusat untuk memberikan bantuan alat pertanian yang nantinya digunakan petani menggarap lahan, sehingga ke depan produksinya meningkat.

Ia mengatakan, untuk mengantisipasi alih fungsi lahan pertanian menjadi perumahan, pihaknya saat ini berencana mengusulkan Peraturan Daerah (Perda) sebagai pengawal UU No 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Tanaman Pangan Berkelanjutan.
”Kami berharap dengan adanya Perda itu nanti, tidak ada alih fungsi lahan, dan produksi padi di Kota Jayapura terus meningkat dari tahun ke tahun,” katanya.  (ant/aj/lo2)

Ini Dia Makhluk Laut Paling Beracun

 (www.kompas.com, 22-01-2013)
 
KOMPAS.com — Apa makhluk laut paling mematikan? Jawabannya adalah tawon laut atau ubur-ubur kotak. Racun hewan ini bisa menyebabkan kematian pada manusia.

Tawon laut memiliki bentuk tubuh kotak serta tentakel dengan nematosit, bagian yang kaya akan racun. Racun spesies ini jika diinjeksikan pada manusia bisa menyebabkan paralisis hingga kematian dalam waktu hanya beberapa menit setelah sengatan.

Ada 50 jenis tawon laut yang ada di dunia. Spesies tawon laut yang paling beracun adalah tawon laut Australia (Chironex fleckeri), ditemukan di perairan Indi-Pasifik. Tawon laut sekaligus yang terbesar di dunia. Diameter tubuhnya mencapai 31 cm dengan panjang tentakel mencapai 300 cm atau 3 meter.

Ubur-ubur kotak berbeda dengan ubur-ubur lainnya. Karakteristik uniknya adalah kemampuan untuk berenang.

Dituliskan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), tawon laut mampu berenang dengan kecepatan 7,4 km/jam, sementara ubur-ubur lain hanya mengikuti arus. Tawon laut juga memiliki kluster mata sehingga mampu melihat.

Ilmuwan percaya, dengan kemampuan berenang dan melihat, tawon laut mampu berburu mangsa, utamanya udang dan ikan kecil.
Sumber :NOAA
Editor :yunan

19 January 2013

Sentani : Tercemar, Habitat Danau Sentani Terancam Hilang

 (www.bintangpapua.com, 19-01-2013)
SENTANI — Pencemaran air Danau Sentani yang terus tak terkendali dapat mengancam masa depan anak cucu, karena habitat danau mulai hilang.
Hal ini sebagaimana diungkapkan Anita Mehue selaku Ketua Bhuyakha Care yang merupakan komunitas pemuda pemudi Sentani.

Dikatakannya,  selain itu, kondisi air yang tidak bersih membuat air ini tidak dapat dikonsumsi masyarakat sekitar.
“Jika sudah begini, anak cucu kita mau makan apa,” tandasnya kepada wartawan di Sentani, Jumat (18/01).
Dijelaskannya, melihat fenomena ini, pihaknya bekerjasama dengan Lembaga Missi Reclasseering Republik Indonesia (LMR-RI) dan PT Freeport Indonesia melakukan pembersihan sampah dengan tujuan menjaga kebersihan Danau Sentani.

“Namun, keadaan yang ada justru kesadaran masyarakat masih kurang, karena banyak sampah dari perkotaan dibuang ke Danau Sentani,” imbuhnya.
Padahal, lanjutnya, pihaknya sudah sering mengimbau kepada masyarakat agar jangan membuang sampah sembarangan.

“Di pantai lain juga seperti dermaga di Pantai Khalkote, Yoka dan wilayah lainnya, banyak ditemui tumpukan sampah, sungguh memprihatinkan,” ujarnya.
Oleh sebab itu, diungkapkannya, dalam waktu dekat pihaknya akan  melakukan audience dengan Walikota Jayapura dan Bupati Kabupaten Jayapura agar segera dibuatkan peraturan daerah (perda) tentang larangan pembuangan sampah dengan memberikan sanksi yang tegas.

“Kami tidak meminta apa-apa ke pemerintah, hanya dibuatkan perda. Sekarang kami bekerja, apa adanya, karena kami prihatin dengan kondisi danau Sentani,” tegasnya.
Selain itu, diharapkannya juga pemerintah segera membangun Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Waibron, agar sampah di Kota Sentani dan sekitarnya bersih.

“Kegiatan yang dilakukan Bhuyakha Care akan secara kontinyu dilaksanakan dan mengajak pemuda lainnya,” tambahnya. (dee/aj/lo2)