(www.kompas.com, 12-04-2009)
Pengembangan dan inovasi teknologi adalah cara meningkatkan kemakmuran dan daya saing suatu negara seperti yang diperlihatkan negara berkembang, yakni China, India, dan Iran.
Meski begitu, Indonesia belum tertarik menjadikan inovasi teknologi sebagai faktor pendorong peningkatan produktivitas nasional. Inilah faktor mendasar yang menyebabkan kegiatan penelitian di Indonesia tidak menonjol.
Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman mengakui, persoalan itu seperti sirkuit kemelut ayam dan telur. Di satu sisi inovasi teknologi meningkatkan produktivitas ekonomi, di sisi lain ekonomi yang subur harusnya dapat menyisihkan dana untuk melakukan riset serta pengembangan dan inovasi teknologi.
Alokasi dana di lembaga riset milik pemerintah, menurut Kusmayanto, kini lebih banyak habis untuk membiayai kegiatan rutin, seperti gaji dan biaya lain yang harus dipenuhi. Industri dan perdagangan pun menggunakan teknologi baru sebagai alat bantu mengeksploitasi kekayaan alam, belum mengambil nilai tambahnya.
Padahal, sasaran pembangunan iptek nasional adalah menjadikan iptek penghela dan pendorong pertumbuhan ekonomi melalui investasi di sektor infrastruktur dan industri berbasis iptek dengan bahan baku sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor.
Kusmayanto mencontohkan, industri batu bara seharusnya tidak hanya digali, dibakar, lalu diekspor. Batu bara akan bernilai tambah tinggi bila diolah menjadi produk seperti produk minyak dan gas, amonia, urea, metanol, sampai melamin.
Untuk mencapai sasaran itu, pemerintah memakai strategi kebijakan dan insentif dengan tiga unsur: akademisi, pemerintah, dan bisnis. Di sini tugas pemerintah menciptakan kebijakan mendorong sinergi antara akademisi dan bisnis, melalui insentif moneter, fiskal, dan pajak. Pemerintah juga mendorong lembaga penelitian swasta ikut berperan.
”Sebagai Menristek, saya juga bertanggung jawab atas koordinasi kegiatan penelitian dan rekayasa di lembaga di bawah koordinasi saya,” jelas Kusmayanto.
Subyek penelitian bisa saja sama, tetapi kegiatan penelitiannya sangat berbeda. Dia mencontohkan penelitian padi yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan). ”Meskipun Batan dan LIPI telah menghasilkan jenis padi unggul, tetapi kegiatan penelitiannya tidak tumpang tindih yang menghabiskan uang rakyat,” tandas Kusmayanto.
Meski demikian, kenyataan memperlihatkan kebanyakan lembaga penelitian milik pemerintah kekurangan dana untuk fasilitas penelitian dan imbalan memadai bagi penelitinya. Tidak sedikit sumber daya terdidik dari Indonesia akhirnya memilih bekerja di luar negeri, antara lain di Malaysia.
”Dari dulu saya tidak percaya apalagi terancam dengan isu brain drain. Saya penganut aliran brain circulation dan brain gain,” jelas Kusmayanto.
Di dalam globalisasi, jejaring kerja di antara peneliti Indonesia yang bekerja di berbagai lembaga penelitian di berbagai negara dapat menjadi lebih bermakna daripada hanya melihat ke dalam.
Kusmayanto mengutip pidato Presiden Soekarno tahun 1960-an, yaitu kita semua mesti menjadikan orang Indonesia paham dan mempraktikkan konsep Taman Sari Internasional. (NMP)
Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua
Cari Informasi/Berita/Tulisan/Artikel di Blog IKP