( Cenderawasih Pos, 07 Januari 2005 )
Tiga dari lima kapal penangkap ikan yang berhasil ditangkap dan digiring oleh Kapal Patroli KM Hiu 005 beberapa waktu lalu ke Merauke akhirnya dilepas. Dilepasnya 3 kapal tersebut karena setelah dalam pemeriksaan ternyata tidak ditemukan pelanggaran yang dilakukan oleh ketiga kapal tersebut tapi sudah sesuaidengan ijin yang dimilikinya.i
Kendati demikian, menurut Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Merauke, Amari Sugianto, SE, ketiga kapal itu bukan dilepas tapi dioperasikan kembali dalam arti apabila sewaktu-waktu diperlukan maka ketiga kapal tersebut siap untuk ditarik kembali. Ketiga kapal yang dioperasikan kembali itu, masing-masing NV Cakra 07, NV RAVI Kiran III dan NV Surya Teja.
Dioperasikannya kembali 3 kapal itu, setelah dalam pemeriksaan ternyata 3 kapal itu sudah melakukan kegiatan sesuai dengan perijinan yang dimiliki. Apalagi, 3 kapal itu berpusat di Merauke. “Dalam penangkapan itu, kita tetap pada azas praduga tak bersalah. Kalau tidak bersalah, maka kita juga harus melepas mereka. Tapi kalau terbukti bersalah, maka kita akan tetap proses,” lanjutnya ketika dihubungi saat berada di Jayapura, kemarin.
Selain 3 kapal itu, 2 kapal lannya yang juga ditangkap : NV Shou Yu 697 dan NV Shou Yu 688 tetap ditahan karena ada indikasi kuat kedua kapal tersebut telah melakukan pelanggaran berupa fail trawl (penangkapan dengan cara menggunakan satu jaring yang ditarik oleh dua kapal, red).
Ketiga kapal yang ditangkap Kapal Patroli KM Hiu 005 beberapa waktu lalu itu, karena pada saat itu 3 kapal ini menggunakan pukat udang sedangkan dalam izinnya menggunakan pukat ikan.
Namun demikian, menurut Kasubdin Pengawasan Dinas Perikanan Kabupaten Merauke, Suparman Hamid, ketiga pemilik kapal ini juga membayar izin penangkapan udang kepada pemerintah.
Selain itu, menurutnya, bila menggunakan pukat ikan tidak semestinya hanya ikan yang ditangkap tapi bisa juga udang. Karena dalam UU tentang perikanan tidak diatur bila pukat ikan yang digunakan tidak boleh mengambil udang.
Sekedar diketahui, pada 6 Desember 2004 lalu, Kapal Patroli KM Hiu 005 menangkap 5 kapal tersebut disekitar perairan Wanam Merauke saat ke 5 kapal itu sedang beroperasi ditengah laut. Penangkapan itu karena kelima kapal itu diduga melakukan pelanggaran penangkapan ikan. Setelah dilakukan penangkapan, kelima kapal itu akhirnya digiring ke Merauke tepatnya di Pelabuhan Kepala Lima, Merauke. (ulo)
Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua
IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org
08 January 2005
Merauke : Tiga Kapal Penangkap Ikan dilepas, dua kapal lainnya masih ditahan
Jayapura : Master Plan bidang Kelautan dan Perikanan belum ada
(Cenderawasih Pos, 07 Januari 2005)
Bupati Jayapura Habel M Suwae, S.Sos, MM mengatakan bahwa sampai saat ini master plan beberapa sektor pembangunan seperti bidang kelautan dan perikanan saat ini masih belum ada, begitu pula beberapa sektor lainnya. Oleh karena itu dengan adanya konsultasi publik bidang kelautan dan perikanan ini dapat mendukung upaya untuk memaksimalkan pengelolaan potnsi sumber daya kelautan dan perikanan yang ada.
“Sampai sekarang pengelolaan kelautan dan perikanan ini belum maksimal, master plan untuk pembangunan sektor ini juga belum ada, oleh karena itu perlu adanya rencana pembangunan jangka panjang menengah untuk pengelolaan ini,” ungkap bupati saat kegiatan konsultasi public untuk memberikan masukan terhadap penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) bidang kelautan dan perikanan, kamis (6/1) kemarin.
Lebih lanjut Bupati juga mengungkapkan bahwa untuk pembangunan 127 kampung dan 5 kelurahan yang ada di Kabupaten Jayapura, maka masing-masing kampung dan kelurahan ini juga harus mempunyai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kampung (RPJMK). Diharapkan dengan rencana tersebut, dapat diketahui bahwa pembangunan kampung ini akan dibawa kearah mana.
Dengan belum adanya RPJMK, maka pembangunan yang ada saat ini belum benar-benar memanfaatkan potensi yang ada. Dicontohkan seperti daerah pantai atau pinggir danau , dana yang ada dimanfaatkan untuk pembangunan jembatan, bukannya untuk potensi yang ada. “Untuk pengembangan kemandirian masyarakat, perlu memperhatikan potensi apa yang dimiliki masing-masing kampung atau kelurahan,” jelasnya. (tri)
Keerom : Keerom bakal menjadi penghasil Coklat dan Vanili terbesar
(Cenderawasih Pos, 07 Januari 2005)
Dalam dua tahun kedepan, Kabupaten Keerom akan menjadi penghasil Coklat dan Vanili terbesar di Papua, sebab selama 2004 ini, Pemerintah Daerah (Pemda) Keerom telah memberikan bantuan bibit Coklat kepada masyarakat sebanyak 210.500 batang dan bibit Vanili 20.324 batang. Demikian ungkap Kepala Dinas Kabupaten Keerom Ir. Ruben Kombolangi, MM saat ditanya Cenderawasih Pos di Arso VII, kamis (6/1) kemarin.
Menurutnya, hal ini sebagaimana telah dicanangkan oleh Bupati Yusuf Wali, SE, MM agar peningkatan sektor perekonomian masyarakat Keerom dititikberatkan pada sektor pertanian. “Untuk luas lahan tanaman Coklat yang berada di wilayah Keerom di 5 distrik mulai Distrik Arso, Skamto, Senggi, Waris dan Web hingga 2004 ini seluas 4.710 hektar. Sebab hingga 2003 telah ada 4.500 hektar dan ditambah 210 hektar pada 2004. Dalam setiap hektarnya rata-rata 1.000 pohon Coklat. Sedangkan tanaman Vanili telah mencapai 29 hektar yang terdiri dari 26 hektar program sebelum 2004 dan program 2004 sebanyak 5 hektar dengan masing-masing hektarnya terdiri sekitar 2.200 pohon,” papar Ruben.
Dikatakan, untuk tanaman Coklat dalam jangka 18 bulan sudah berbuah dan untuk tahun ketiganya merupakan puncak musim panen. Sementara untuk tanaman Vanili juga dalam jangka waktu 3 tahun sudah bisa panen. “Kalau Vanili pada akhir tahun kedua sudah mulai berbuah dan pada tahun ketiganya sudah bisa memetik hasilnya. Dengan demikian, Coklat maupun Vanili akan melimpah di Keerom ini,” ujarnya.
Disamping itu, juga telah dikembangkan jenis tanaman buah-buahan seperti Durian di wilayah Distrik Senggi dan Waris serta tanaman jeruk di wilayah Wembi Arso. “Untuk bibit jeruk yang telah diberikan kepada masyarakat selama 2004 ini sebanyak 18.250 batang, sementara bibit Durian sebanyak 4.000 batang. Disamping itu bibit Pinang juga telah diberikan kepada masyarakat sebanyak 10.000 batang,” kata kepala dinas itu.
Ditambahkan untuk bantuan agro input bagi petani berupa hewan ternak yaitu Sapi bibit bakalan sebanyak 420 ekor dan Kambing 60 ekor. Sementara benih untuk peningkatan produktifitas padi sebanyak 6.900 kg, Jagung 2.450 kg dan Kedelai 1.880 kg. Disamping itu juga telah memberikan beberapa jenis bantuan pupuk, pestisida dan peralatan pertanian. (fud)
Keerom : Masalah pengolahan Potensi Hutan perlu kajian lebih mendalam
(Cenderawasih Pos, 07 Januari 2005)
Potensi hutan yang berada diwilayah Kabupaten Keerom merupakan potensi yang juga cukup signifikan untuk menunjang program pembangunan. Akan tetapi untuk mengolah potensi hutan tersebut perlu kajian yang lebih mendalam. Hal ini sebagaimana diungkapkan Bupati Keerom Yusuf Wally, SE, MM saat ditanya Cenderawasih Pos, Kamis (6/1) kemarin.
Menurutnya, untuk mengelola hasil hutan, harus ada sebuah aturan yang harus dikaji terlebih dahulu setelah DPRD resmi terbentuk. Misalnya untuk mendatangkan investor termasuk pembangunan jalan yang menghubungkan daerah hutan tersebut harus dibahas secara serius. “Apakah pembangunan sarana jalan merupakan bagian dari tanggung jawab pengusaha atau bagaimana, jika kita berikan dia tanggung jawab itu, kompensasinya bagaimana dan seterusnya. Kedepan hal ini yang harus kita lihat sebagai alternatif baru untuk menerobos isolasi keterbelakangan daerah-daerah yang mempunyai potensi hasil hutan, baik di distrik Waris, Senggi maupun lainnya,” jelasnya.
Dikatakan, masalah infrastruktur yang ada sekarang, misalnya di Distrik Arso dan Skamto yang merupakan bekas program trasmigrasi itu sudah cukup baik, tinggal peningkatan kualitas saja. Sementara tentang masalah perijinan, menurut bupati juga harus dikaji kembali, karena bidang kehutanan ini sampai saat ini masih sentralistik.
“Jadi juga harus dipelajari dulu mana kewenangan bupati, mana kewenangan provinsi dan mana kewenangan pusat. Sehingga ini harus dikaji secara baik, supaya sikron dengan kebijakan yang akan kita buat, karena hal ini merupakan lintas sector sehingga tidak mungkin tiba-tiba bupati akan menentukan kebijakan atau mengambil langkah-langkah tentang masalah itu, apalagi sekarang belum definitif,” tegasnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Ir Ruben Kombonglangi, MM menambahkan, beberapa hari lalu pihaknya juga telah melakukan penertiban dengan melibatkan berbagai pihak seperti kepolisian, polisi kehutanan dan sebagainya terhadap para penebang liar. “Bupati sudah cukup memberikan waktu satu tahun untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat supaya penebangan liar jangan dilanjutkan, sehingga kami melakukan penertiban tersebut,” ujarnya. (fud)
Jayapura : Pengendalian Dampak Lingkungan akan dievaluasi, sebagai acuan perencanaan lima tahun ke depan
(Cenderawasih Pos, 07 Januari 2005)
Kepala Bapedalda Provinsi Papua, Drs D Dimara, MM mengatakan, pada anggaran 2005 ini, Badan Pengendalian Lingkungan Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Provinsi Papua akan evaluasi program pengendalian dampak lingkungan khususnya tiga tahun implementasi otonomi khusus (Otsus) bagi Papua.
“Kami akan mengevaluasi semua kegiatan atau program-program yang telah dibuat sejak bergulirnya Otsus di Papua khususnya kegiatan pengendalian dampak lingkungan,” ujarnya kepada Cenderawasih Pos saat ditemui diruang kerjanya, selasa kemarin.
Dari hasil evaluasi ini, kata dia akan dijadikan sebagai bahan acuan untuk melakukan perencanaan khususnya tentang konsep pengendalian dampak lingkungan selama lima tahun kedepan. Dimana dalam perencanaan pengendalian dampak lingkungan ini akan melibatkan semua komponen masyarakat dengan menggunakan berbagai tolak ukur tentang keberhasilan yang telah dilakukan pihaknya itu.
Dikatakan, sistem pembangunan saat ini sebagian telah memperhatikan analisis dampak (Amdal). Hanya saja, persoalannya ada pada industri kecil. Yang mana industri kecil ini belum memahami dengan baik tentang cara-cara pengendalian lingkungan yang baik sehingga perlu ada sosialisasi terhadap mereka tentang hal tersebut.
Selain industri, yang dinilai sumber dampak lingkungan yang besar adalah kerusakan lingkungan. Namun kedepan, lanjut dia, hal ini perlu ditingkatkan dengan tetap memberikan sosialisasi kepada masyarakat agar tetap mengutamakan kesadaran.
Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti menciptakan kesadaran publik tentang kesadaran lingkungan, kedua penataan hukum lingkungan hidup, penegakan hukum dan perlunya partisipasi masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan ini. (ito)
07 January 2005
Sentani : Penebang Liar Digrebek Polisi, Kapolres : Mereka Berhasil Melarikan Diri
( Cenderawasih Pos 06 Januari 2005 )
Untuk menghindari terjadinya kerusakan lingkungan akibat ulah para penebang liar yang beroperasi diwilaya Arso Kabupaten Kerom, maka jajaran Polres Jayapura pada selasa (4/1) lalu menggelaroperasi dengan menggrebek para penebang liar yang saat itu sedang melakukan aksinya.
“Ketika digrebek, para penebang liar itu berhasil melarikan diri, sehingga kami hanya berhasil mengamankan 5 buah mesin sensor yang digunakan oleh merek. Kelima buah mesin tersebut kemudian diamankan di Mapolres,” ungkap Kapolre Jayapura AKBP Robert Djoenso saat ditemui Cendrawasih Pos diruang kerjanya, Rabu (5/1) Kemarin.
Menurutnya, operasi tersbut jga dilanjutkan hari ini juga (kemarin,red) dengan dipimpin Kasat Reskrim AKP Jafar H. Yusuf. “ Operasi ini digelar dalam rangka turut mensukseskan program kerja seratus hari SBY, disamping itu juga untuk menghindari adanya kerusakan hutan akibat ulah-ulah oknum yang tidak bertanggung jawab,” jelasnya.
Dikatakan yang menjadi sasaran operasi ini adalah para penebang liar dan juga perusahaan kayu yang sudah beroperasi, apakah mereka mempunyai izin HPH dan sebagainya.
Sementara, para penebang liar yang sensornya telah diamankan itu pada Rabu (5/1) kemarin berdatangan ke Polres Jayapura. Meskipun selanjutnya diperiksa oleh tim penyidik. “Dari informasi yang diperoleh, mereka itu bekerja secara perorangan dan untuk kepentingan pribadi mereka sendiri. Oleh sebaab itu bagi mereka perlu diberitahukan tentang aturan mengenai lingkungan hiduo dan selanjutnya perlu dilakukan pembinaan oleh instansi terkait, misalnyaDinas Kehutanan,” ujar Robert Djoenso.
Terkait 5 buah sensor yang telah disita, Kapolres menyatakan untuk sementara barang tersebut diamankan, akan tetapi selanjutnya akan dikembalikan. Karena menurut keterangan yang diperoleh, banyak diantara pemilik sensor tersebut yang masih kredit. (fud)
04 January 2005
Tips & Trik : Sehat Dengan Sereh
(sumber : www.suarakarya-online.com)
Oleh : Prof Hembing Wijayakusuma
( Khasiat sereh antara lain digunakan untuk mengobati sakit kepala, otot dan sendi ngilu, nyeri sendi, pegal-pegal, rematik, nyeri saraf, radang tenggorokan, radang usus, radang selaput lendir usus, radang lambung, nyeri lambung, perut kembung, masuk angin, diare, sakit perut, keputihan, haid tidak teratur, bau mulut, batuk, penghangat badan, peluruh keringat, haid tidak lancar, peluruh haid, menambah nafsu makan, gusi bengkak, sakit gigi dan lain-lain )
Sereh merupakan jenis rumput berumpun banyak yang mengumpul menjadi gerombolan besar. Sereh merupakan herba menahun yang tumbuh liar di tepi sungai, tepi rawa dan tempat-tempat lain yang dekat dengan air. Sereh biasanya ditanam di pekarangan, tegalan, dan sela-sela tumbuhan lain. Tumbuhan sereh ini juga biasa ditanam sebagai tumbuhan bumbu atau tanaman obat. Akarnya tunggal, panjangnya berbentuk benang dan berbau wangi.
Daun tumbuhan ini juga tunggal dengan bangun garis atau linier, berjumbai dengan panjang 1 m dan lebar 15 mm, tepi daunnya kasar dan tajam, tulang daun sejajar, permukaan atas dan bawah daun berambut, warnanya hijau muda. Bila daunnya diremas akan berbau harum (aromatik).
Bunga daun sereh cukup banyak berbentuk bulir, melengkung dan berkembang yang mana satu duduk sempurna, sedang lainnya bertangkai jantan atau manduk, tandan besar, melengkung dan panjangnya sampai 3 mm. Perbanyakkan tumbuhan ini umumnya tidak dengan pembiakan kelamin, tetapi dengan pemisahan tumbuhan itu sendiri.
Sereh memiliki nama yang berbeda pada tiap daerah, misalna di Sumatera disebut sere mangat bi, di Aceh disebut threue, dan di Batak disebut sere, sereh, sange-sange, sedangkan di Minangkabau disebut sarai, serai arun, serai batawi serta sorai di Lampung.
Di Dayak Kenya disebut bengkalak dan di Nusa Tenggara disebut salai atau segumau. Di Bali disebut see, di Bima adalah pahata mpori, di Sumba disebut kendoung witu, dan di P Roti disebut enian malai, nau sina.
Khasiat sereh antara lain digunakan untuk mengobati sakit kepala, otot dan sendi ngilu, nyeri sendi, pegal-pegal, rematik, nyeri saraf, radang tenggorokan, radang usus, radang selaput lendir usus, radang lambung, nyeri lambung, perut kembung, masuk angin, diare, sakit perut, keputihan, haid tidak teratur, bau mulut, batuk, penghangat badan, peluruh keringat, haid tidak lancar, peluruh haid, menambah nafsu makan, gusi bengkak, sakit gigi dan lain-lain.
Pengolahan sereh untuk mencegah dan mengatasi beberapa penyakit seperti:
Untuk radang lambung, gunakan 15 gram sereh, 90 gram daun lidah buaya yang dikupas kulitnya, lalu tambahkan gula batu secukupnya direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 200 cc, saring dan airnya diminum.
Bila menderita sakit kepala, gunakan 15 gram sereh, 20 gram jahe direbus dengan 500 cc air hingga tersisa 200 cc, saring dan airnya diminum.
Untuk haid yang tidak teratur, gunakan 15 gram sereh, 30 gram daun dewa, 20 gram kunyit, 25 gram kencur, 25 gram temu hitam, 15 gram bangle direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 200 cc, saring dan airnya diminum.
Bila menderita nyeri lambung, gunakan 15 gram sereh, 25 gram temu hitam, 5 gram adas direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 200 cc, saring dan airnya diminum.
Mengobati gusi yang bengkak dapat menggunakan 15 gram daun dan akar sereh, 20 gram kunyit, garam secukupnya direbus dengan 500 cc air hingga tersisa 200 cc, saring dan airnya diminum.
Untuk penghangat badan, dapat menggunakan 15 gram sereh, 25 gram jahe direbus dengan 500 cc air hingga tersisa 200 cc, saring dan airnya ditambah gula merah secukupnya lalu diminum.
Guna mengatasi pegal-pegal, gunakan 60 gram sereh segar beserta akarnya direbus dengan air secukupnya. Kemudian airnya hangat-hangat digunakan untuk mandi.
Bila menderita sakit gigi, dapat gunakan 30 gram akar sereh direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 200 cc, saring dan airnya hangat-hangat digunakan untuk berkumur-kumur.
Untuk obat peluruh keringat, gunakan 15 gram akar sereh, 10 gr daun sereh yang masih muda, 20 gram jahe direbus dengan 500 cc air hingga tersisa 200 cc, saring dan airnya diminum hangat-hangat.
Pengobatan dengan bahan alami ini dilakukan 2 kali sehari secara teratur sampai kondisi kesehatan membaik. Namun untuk penyakit yang berat/serius disarankan untuk tetap konsultasi ke dokter.
(Prof HM Hembing Wijayakusuma adalah Ketua Umum Himpunan Pengobat Tradisionaldan Akupunktur Se-Indonesia (HIPTRI)
Kendari : Kayu Dari Papua Tertangkap Di Kendari
( Papua Pos 03 Januari 2005 )
Kendari – Sebanyak2,472 meter kubik kayu hasil illegal logging dari Kabupaten Sorong, Provinsi Papua , dijaring aparat petugas Polairud Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) disekitar perairan laut Kabupaten Waktobi, Provinsi Sultra. Kayu jenis merbau yang hendak diselundupkan ke Surabaya itu, Rabu (22/12) dibongkar di pelabuhan Kendari untuk diamankan jadi barang bukti.
KM Ewis, kapal tunda yang menarik kayu tersebut juga ikut ditahan. Sedangkan Nakhoda kapal Tubun (47) masih diperiksa intensif di Polda Sultra.
Kapolda Sultra Brigjen (Pol) Tengku Ashikin Husen mengatakan , kapal tersebut dijaring petugas saat melintas di perairan Wakatobi dalam perjalanan dari Sorong menuju Surabaya, pada 16 Desember2004 lalu.
Petugas mengamankan kapal berikut muatan dan nakhoda kapal itu kata Kapolda Tengku Ashikin setelah dalam pemeriksaan, dokumen yang digunakan sudah kadaluawarsa.
Selain itu, dokumen yang digunakan juga diduga palsu, karena stempel dalam dokumen kelihatan ganda. (SHP).
Jayapura : Pemprov Akan Kembangkan Potensi Hutan Perbatasan
( Cenderawasih Pos, 03 Januari 2005 )
Jayapura – Kepala dinas Kehutanan Provinsi Papua Ir. Marthen Kayoi, MM mengatakan wilayah perbatasan RI-PNG di Provinsi Papua dengan potensi luas hutan yang cukup besar yakni kurang lebih 9.500.000 Ha adalah merupakan guna mendukung pengembangan wilayah perbatasan.
“Wilayah Papua yang merupakan salah satu kawsan timur Indonesia secara geografis langsung berbatasan dengan negara Papua New Guinew (PNG). Dan secara administratif wilayah perbatsan ini berada di lima kabupaten/kota, yakni Kabupaten Kerom, Pegunungan Bintang, Boven Digul, Kota Jayapura dan Merauke,” tandasnya kepada Cenderawasih Pos, pekan kemarin.
Dikatakan permasalahan-permasalahan yang kerap muncul diwilayah perbatasan adalah bersumber dari ekonomi, sosial budaya, maupun aspek pertahanan sebagai akibat dari kurangnya kerjasama antar negara, serta kurang optimalnya pembangunan yang dilakukan diwilayah perbatasan.
“Melihat kondisi seperti itu, saat ini pemerintah telah mengeluarkan kebijakan tentang penanganan masalah perbatasan yakni dengan terbitnya UU No. 25 2002 tentang program pembangunan nasional, yakni peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan masayarkat peningkatan kapasitas pengelolaan potensi wilayah perbatasan dan pemantapan ketertiban serta keamanan perbatasan, “ tandasnya.
Berkaitan dengan pengembangan potensi kehutanan di wilayah perbatasan Dinas Kehutanan Provinsi telah mengambil suatu kebijakan dalam rangka mengelola sumber daya hutan, penanganan dan pelestarian ekosistem hutan dikawasan perbatasan. Selain itu, upaya yang dilakukan adalah melakukan pendekatan sosio-culture serta perubahan pradigma dalam pengelolaaan hutan.
“Upaya pengelolaan hutan dikawasan perbatasan ini dimaksudkan untuk menghasilkan kayu yang mempunyai nilai ekonomis, namun upaya eksploitasi hutan itu tetap mempertimbangkan kelestarian hutan, agar keberadaan hutan itu tetap lestari dan terjaga “ ujarnya singkat. (mud)
02 January 2005
Manokwari : Mamalia apa sajakah yang ada di Kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Meja ?
( Sumber : Tim Mamalogi Biovasi 01 FMIPA UNIPA yang terdiri dari : Acha, Ola, Tri, Rintho, Dian, Risma, Tunjung, Flora, Melly, Debi, Jannie, Riyani, dan Evi)
Kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Meja yang berlokasi di Manokwari, ternyata masih menyimpan misteri keanekaragaman hayati yang belum terungkap. Hal ini dibuktikan oleh Tim Mamalogi Biovasi 01 FMIPA UNIPA yang melaksanakan praktek pada tanggal 2 dan 9 Desember 2004 di kawasan ini.
Tim ini terdiri dari 12 orang, dengan berbekal gorengan dan air vit berada di hutan Kawasan TWA sekitar pukul 17.00 hingga pukul 21.30 WIT. Mencari lokasi, menyiapkan peralatan dan memasang jala kabut dilakukan dengan penuh antusias oleh tim yang anggotanya kebanyakan dari kaum hawa. Akhirnya jala kabut dapat dipasang dan berdiri tegak di antara pohon-pohon hutan pada pukul 18.00 WIT. Sedangkan perangkap alami dengan umpan pisang masak telah dipasang sejak pukul 10.00 WIT oleh seorang anggota tim yang satu-satunya pria ini.
Kurang lebih 200 meter dari lokasi pemasangan jala kabut, seluruh tim duduk dengan beralaskan tikar dan sleeping pad sambil mengunyah gorengan menunggu giliran untuk mengecek jala kabut.
Sekitar 45 menit dari pukul 18.00, pengamatan I pada jala kabut ditemukan seekor kelelawar (Dobsonia minor). Berikut pengamatan II ditemukan lagi seekor kelelawar (Nyctimene albiventer). Kemudian pada pengamatan III dan IV ditemukan masing-masing dua ekor kelelawar yaitu Macroglossus minimus dan Nyctimene albiventer. Pengamatan jala kabut diakhiri pada pukul 21.30 disebabkan hujan.
Kegiatan yang sama juga dilakukan pada tanggal 9 Desember, namun kelelawar yang ditangkap jenisnya sama dengan yang ditangkap pada tanggal 2 Desember. Selain tiga jenis kelelawar yang berhasil ditangkap, seekor bandikut / tikus tanah (Peroryctes raffrayana) juga terjerat pada perangkap alami.
Apakah data ini sudah mewakili semua jenis mamalia di kawasan ini?
Untuk menjawabnya perlu observasi dan penelitian-penelitian lanjut, baik untuk mamalia maupun flora dan fauna lain di Kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja.
Untuk informasi lebih lanjut, anda bisa menghubungi:
Laboratorium Biologi F MIPA UNIPA
Jalan Gunung Salju Amban Manokwari
Telp/Fax (0986)213089 atau
Email: aksamina_yohanita@yahoo.com
Simpati Kami Yang Mendalam Atas Korban Tsunami Aceh dan Sumut
Cakupan tragedi 26 Desember, yaitu gempa bumi dan tsunami yang menghantam Indonesia hingga ke jantung Sumatera Utara, adalah tidak terbayangkan. Sangat sulit menggambarkan bagaimana terjadinya bencana yang begitu cepat yang memangsa: jiwa, harta, kota-kota serta komunitas yang ada hanya dalam beberapa jam.
Kami di Conservation International ingin mengekpresikan rasa duka mendalam untuk semua orang yang tinggal di Negara-negara yang terkena musibah termasuk, India, Sri Lanka, Myanmar, Thailand, Malaysia, dan Indonesia.
CI telah bekerja di Indonesia sejak 1989. Proporsi kerja kami sangat besar terpokus pada Sumatera Bagian Utara. Hal yang sangat menyedihkan adalah beberapa staff kita termasuk patner dalam organisasi disana—Pegawai Kehutanan, WALHI, Fauna & Flora International, dan WWF—telah kehilangan banyak personal mereka akibat bencana tersebut.
Staff CI di Sumatera sedang bekerja bahu membahu bersama mitra NGO yang lain untuk mengirimkan makanan, obat-obatan serta mensuplai air bersih. Kami akan terus menolong dalam kapasitas kemampuan yang ada, apakah dalam jangka pendek maupun janka panjang yaitu langsung ikut membangun kembali Aceh dan Sumatera Utara setelah bencana ini.
Dalam upanya untuk menanggulangi kesulitan finansial dan dampak ekologis atas komunitas yang adal dikawasan tersebut CI telah mempersiapkan dana emergensi guna mendukung mitra konservasi, komunitas, dan keluarga yang terkena musibah.
Satu sarana kemanusiaan akan dapat langsung memberikan tanggapan keperluan emergensi bagi yang memerlukan, CI akan menggunakan saluran (account) ini sebagai sarana bagi patner kita, termasuk membayarkan gajih dan mempersiapkan hibah untuk mereka membangun, dengan penekanan yaitu pada pembangunan kembali kemampunan kapasitas konservasi yang telah hilang.
Dalam jangka panjang, kita akan memfokuskan pada ekosistem yang telah terkena dampak bencana ini. Menyalurkan kembali air bersih yang telah terkontaminasi, hutan dan terumbu karang yang rusak, dan pantai yang telah tererosi.
Karena kaitan antara manusia dan sumberdaya alam adalah sangat erat dan integral dalam meningkatkan kualitas kehidupan, kami juga akan mengadakan assessment mengenai pelayanan ekosistem yang telah rusak dan hilang. Termasuk fungsi tangkapan air, tutupan terumbu karang dan kesuburan tanah, guna memahami langkah terbaik dalam rangka mengembalikan kondisi dan kerjasama dengan para mitra dan komunitas setempat. Aktifitas ini mungkin dengan cara penghutanan kembali, membangun terumbu karang buatan atau kegiatan yang lainnya. Dari Conservation International masyarakat dan mitra di seluruh dunia: segenap hati, pikiran dan perasaan, kami bersimpati dan berbela sungkawa mendalam atas terjadinya tragedi ini.
Peter A. Seligmann
Chairman and Chief Executive Officer
Conservation International
01 January 2005
Jayapura : Upaya Pemerintah Memangkas Lahan Kritis
(Cenderawasih Pos, 31-12-2004)
Laju kerusakan Hutan Indonesia amatlah luar biasa dan sangat memprihatinkan. Saat ini angka deforestasi diperkirakan mencapai 2,8 juta Ha/thn selama periode tahun 1998-2000.
Berdasarkan citra landsat tahun 1999-2000 yang dirilis Dephut terindentifikasi bahwa lahan kritis yang perlu direhabilitasi mencapai 101,73 juta Ha. Dari luasan tersebut 42,11 juta Ha berada diluar kawasan hutan dan seluas 59,62 juta Ha berada didalam kawasan hutan (Press Release Dephut 2004).
Dari deretan angka yang memiriskan hati itu, ternyata lahan kritis di Provinsi Papua telah mencapai 3,6 juta Ha dan berpotensial kritis seluas 7,6 juta Ha (Tersebar pada 19 DAS dan 110 sub DAS).
Tak pelak lagi kondisi diatas saar ini mulai memunculkan berbagai masalah lingkungan, ekonomi dan social. Berbagai masalah yang sebelumnya tidak terbayangkan kini mendadak bermunculan. Sebut saja kota Jayapura air bersih kini menjadi barang langka seiring semakin “botaknya” kawasan pegunungan Cycloop. Kondisi yang sama juga dialami penduduk berbagai kota seperti Sorong, Manokwari, Wamena dan Merauke dan beberapa kota lainnya. Sebaliknya dimusim hujan, kini masyarakat Papua semakin n “terbiasa” dengan kehadiran bencana banjir dan tanah longsor yang kehadirannya memunculkan banyak cerita sedih dan duka.
Menyikapi kondisi lingkungan yang semakin menurun kwalitasnya, pihak Departemen Kehutanan kemudian menempatkan program rehabilitasi lahan dan hutan sebagai salah satu program prioritas. Kegiatan yang dirancang oleh Departemen Kehutanan dibidang rehabilitasi lahan dan hutan ini kemudian dikenal sebagai Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL / Gerhan).
Program rehabilitasi ini diera menteri Prakosa merupakan program unggulan, karena pada program ini prestise Departemen Kehutanan dipertaruhkan. Bahkan M.S Kaban selaku Menhut yang baru juga tetap memasukkan program ini sebagai salah satu prioritas kerja Dephut.
Penyelenggaraan GNRHL diatur dengan Keputusan Menteri Kehutanan No 349/Kpts-II/2003 tentang Penyelenggaraan Pelaksanaan GNRHL tahun 2003 dan SK Menhut No 369/Kpts-V/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan GNRHL tahun 2003. Kegiatan Gerhan direncanakan berlangsung selama 5 tahun dengan target menghijaukan lahan seluas 3 juta Ha dengan perincian terlampir.
Untuk wilayah Papua dan Irjabar, program Gerhan baru digulirkan tahun 2004 dengan target luas tanam mencapai 3.600 Ha (Papua 2.750 Ha dan Irjabar 850 Ha) dan pembangunan 230 bangunan konservasi tanah (Papua 170 unit dan Irjabar 60 unit) yang tersebar dalam 12 kabupaten (8 Kab/Kota di Papua dan 4 Kab/Kota di Irjabar).
Berdasarkan fungsi hutan/lahan sasaran Gerhan meliputi Hutan Produksi (470 Ha), Hutan Lindung (1.300 Ha), Hutan Rakyat (1.805 Ha) Penghijauan Kota (25 Ha). Dana yang disiapkan untuk mendukung kerja besar periode 2004 ini mencapai Rp. 6 Milyar.
Mengamati data serta angka diatas tak pelak lagi kita bisa katakan bahwa program rehabilitasi besar ini semestinya mendapat dukungan luas dari berbagai pihak sesuai namanya. Namun waktu yang akan membuktikan apakah gerakan ini mampu menggelorakan animo masyarakat untuk berlomba-lomba menghijaukan lahan dan atau hanya “menghijaukan mata” sebagian kecil oknum pejabat untuk ramai-ramai “arisan” uang Negara. (BaST).