Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua

Cari Informasi/Berita/Tulisan/Artikel di Blog IKP

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org

16 October 2012

Keerom : DAK Diminta Tidak Asal Terima Investor

(www.bintangpapua.com, 16-10-2012)
KEEROM - Ketua Pemuda Adat Keerom, Hans Sumel,SH mengatakan, untuk menjaga lingkungan Hidup di Kabupaten Keerom, ia meminta Dewan Adat Keerom (DAK) agar tidak asal menerima investor yang masuk di wilayah Keerom, tetapi harus diperhatikan secara baik sehingga tindak menimbulkan kerusakan hutan di keerom dan bisa memperhatikan hak-hak adat.

Pasalnya, selama ini banyak investor yang masuk di Keerom hanya memikirkan bagimana mencari keuntungan, setelah itu kembali ke daerahnya dan tidak ada keberpihakan pada masyarakat adat Keerom.
“Lingkungan harus dijaga secara baik, tidak hanya memikirkan pendapatan semata dan Dewan Adat Keerom jangan menerima saja pada investor yang masuk keerom, tapi perlu dilihat secara baik,” ungkapnya saat ditamui Bintang Papua di Kantor Bupati Keerom, Sabtu (13/10).

Dijelaskan, memfaatkan Sumber Daya Alam (SDA) tidak dibatasi oleh siapapun, namun perlu diatur dan dikelola secara baik dan bijaksana, dan bisa membawa manfaat yang besar bagi kelangsungan hidup manusia dan lingkungan itu sendiri. “Kerusakan SDA dan lingkungan hidup selama ini, secara prinsip disebabkan kerena semakin renggangnya hubungan antara manusia dengan eksitensi Sumber Daya Alam itu sendiri.
Dengan demikian, hubungan ini mulai retak ketika pemanfaatan SDA hanya menjadi monopoli segelintir orang atau kelompok yang mendapatkan hak pengusahaan pengelolaan SDA.

“Sedangkan rakyat yang berabad-abad hidup berhubungan secara harmonis dengan alam disekitarnya, tidak mendapat manfaat pengelolaan sumber daya alam ini, baik langsung maupun tidak langsung,” tandasnya.
Dikatakan, banyaknya perubahan SDA diakibatkan banyak faktor yang mempengaruhi. Disatu sisi telah mendorong penggunaan SDA yang berlebihan dan tanpa memikirkan dampak dari pengguna SDA secara terus menerus, yang mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup.

Oleh kerana itu, lingkungan hidup perlu dijaga secara baik dan dilindunginya. Tidak hanya memikirkan pendapatan semata, tapi perlunya dilihat dari sisi dampak yang ada yang bisa merugikan ha-hak masyarakat adat di Keerom. (rhy/aj/LO2)

13 October 2012

Waropen : Abrasi Pantai Mengancam Masyarakat Pesisir Waropen

(www.bintangpapua.com, 13-10-2012)
WAROPEN - Masyarakat pesisir waropen sepanjang Urfas- Waren saat ini mulai resah dan khawatir akibat abrasi pantai yang kini terus menerus terkikis bahkan bakal terjadi relokasi warga secara besar-besaran jika saja tidak segera dibangun taluk pengaman ombak oleh pemerintah daerah setempat.

Bahkan saat ini beberapa ruas jalan seperti di ronggaiwa nyaris putus akibat abrasi pantai, selain itu juga sejumlah rumah masyarakat, rumah ibadah terancam hancur air laut akibat abrasi pantai. Pantauan Bintang Papua Kamis (11/10) kemarin, hampir disepanjang pantai urfas hingga waren sudah saatnya dibangun taluk pengaman ombak oleh pemerintah daerah setelah melalui dinas terkait.

Ketua DPRD Kabupaten Waropen Penehas Hugo Tebay, STh kepada wartawan Koran ini kemarin mengaku abrasi pantai disepanjang pesisir pantai Urfas- waren sudah saatnya dibangun taluk pemecah ombak oleh pemerintah daerah, jika saja kondisi ini terus dibiarkan maka dikhawatirkan dampak yang sangat besar dengan terjadi relokasi warga secara besar-besaran.

’’ abrasi pantai dari waren- urfas sekarang kondisinya sangat memprihatinkan, jika tidak segera dibangun talk pemecah ombak, ini akan sangat berbahaya bagi masyarakat pesisir yang ada di waropen,’’ jelas Hugo
Dikatakan, abrasi pantai dipesisir waropen tersebut tidak terlepas dari ulah manusia yang selama ini mengambil material berupa batu maupun pasir demi pembangunan yang semaak dilakukan di waropen, sehingga dari tahun ketahun terjadi pengikisan pantai yang luar biasa.

’’ di botawa banyak material bangunan, sehingga masyarakat tidak serta merta harus ambil batu dan pasir di pesisir pantai terus untuk pembangunan di waropen ini sangat berbahaya, memang semua karna kebutuhan masyarakat tapi harus dipikirkan efeknya yang lebih besar,’’terangnya.

Ia mengaku, dewan akan berupaya untuk  pada sidang perubahan anggaran yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat, akan diusulkan untuk pembangunan taluk dipesisir pantai waren-urfas dengan mengalihkan semua dana SKPD yang dianggap tidak terlalu urgen untuk dilaksanakan.

’’ informasi yang kami dapat, ada bantuan dari pemerintah provinsi untuk pembangunan taluk sepanjang 2 km, tapi sekarang belum jelas bantuan itu kapan direalisasikan, tapi kita juga akan prioritaskan pada sidang perubahan anggaran untuk bisa diakomodir, kegiatan SKPD yang tidak terlalu mendesak akan kita alihkan untuk APBD induk 2013 saja,’’ terangnya (es/achi/LO1)

Keerom : Pohon Sebagai Penyangga dari Kebanjiran

(www.bintangpapua.com, 13-10-2012)
KEEROM - Kepala Seksi Pembinaan dan Pengamanan Sertifikasi Hutan Kabupaten Keerom, George Bandasano,SH.MM mengatakan, penanaman pohon sangat diperlukan secara terus menerus.
Hal itu, salah satunya untuk meminimalisir dampak penebangan liar yang sering terjadi di wilayah Keerom oleh orang yang tidak bertaggung jawab.

“Kita harus terus menerus melakukan penanaman pohon disetiap wilayah kita,” ungkapnya saat ditemui Bintang Papua di ruang kerjanya,Kamis (11/10).

Selain itu, pohon juga berfungsi sebagai pejangga atau pencegahan dari kebanjiran, sehingga perlunya dilakukan penanaman pohon untuk bisa menahan banjir dengan cara penyerapan melalui akar pohon.
“Pohon adalah bagian yang tidak terlepas dari hutan  yang  berfungsi mensimulir sirkulasi ketersediaan oksigen bagi makluk hidup dan menjaga stabilitas kemurnian alam jagat raya ini dari  polutan karbondioksida   serta pembakaran yang tidak sempurna,” jelasnya. Dari sisi hidrologi keberadaan pohon /hutan sangat penting untuk ketersediaan, kecukupan, dan keberadaan air baik di permukaan tanah maupun di bawah tanah yang di ikat langsung oleh akar berbagai jenis tumbuhan hutan hasilnya adalah untuk kepentingan makluk hidup pada umumnya.

akibat  di lakukannya penebangan liar terhadap berbagai jenis pohon  sangat berdampak pada  perubahan iklim, meningkatkan frekwensi intensitas banjir, bahkan kadang terjadi bencana kekeringan.
“Inilah yang perlu kita waspadai bersama sebelum banjir datang melanda,” ujarnya lagi.

Sekedar di ketahui, berkaitan dengan itu, bahwa secara statistik data menunjukan saat ini terjadi penurunan (degradasi) fungsi hutan dan kerusakan (deforestasi) hutan di Indonesia, kini mencapai 1,08 juta ha/tahun. 
Sedangkan   hutan di Kabupaten Keerom yang rusak berat akibat penebangan liar, dan perladangan berpindah - pindah, serta kerusakan akibat HPH, lahan kritis di Kabupaten Keerom mencapai 162,693 ha.
Tingkat kerusakan di antaranya , lahan kritis 40,873 ha, lahan setengah kritis 85,168 ha, agak kritis 36, 652 ha,  sementara luas wilayah Kabupaten keerom hanya 9.360 km,   maka 5.091,6 km di peruntukan untuk sector kehutanan agar menjadikannya sebagai hutan lindung sambil menanam. (rhy/aj/lo2)

Keerom : Kinerja Penyuluh Lapangan Dinas Pertanian Keerom Disorot

(www.bintangpapua.com, 13-10-2012)
KEEROM - Dalam pelaksanaan tugas pokok penyuluh dilapangan, hingga saat ini dinilai belum nampak dan kurang memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Hal itu sebagaimana diungkapakan Ketua Komisi B DPRD Keerom, Kanisius Kango,S.Sos, yang meminta agar program-program peyuluhan agar lebih ditingkatkan dan sering melakukan pemantau atau mengecekan tanaman  masyarakat. Sehingga ada penyakit ditemukan bisa ditagani secara cepat.

Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikaman, juga diminta agar dapat memahami dan menggaji persoalan kendala utama dalam pengembangan sektor pertanian, perternakan dan perikanan secara konkrit di lapangan dengan melakukan mengamatan secara langsung dilapangan jangan hanya program samata. Sehingga, dalam perencanaan program maupun kegiatan bisa lebih diarahkan pada program yang mampu memberikan dampak secara langsung pada peningkatan pendapatan masyarakat petani.

“Dalam Perencanaan Program maupun kegiatan harus berdampak pada peningkatan pada Masyarakat Petani,” ungkapnya saat ditemui Bintang Papua di ruang kerjanya, Kamis (11/10).
Selain itu, perlunya dilihat pada peningkatan kinerja setiap program kerja agar dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunanan maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat petani. (rhy/aj/lo2)

11 October 2012

Keerom : Potensi SDA-Nya Sangat Menjanjikan, Butuh Sentuhan Serius Pemerintah

(www.bintangpapua.com, 11-10-2012)
Kabupaten Keerom memiliki 7 distrik, satu diantaranya distrik yang sangat tersiolir, yakni, Distrik Towe. Nah bagaimana kondisi distrik dan kampung-kampungnya. Berikut ulasannya.

Laporan : Kornelis Watkaat, Bintang Papua
Kepala Distrik Towe, Oktovinus Gusbager, S.Sos, saat bersama warga menikmati indahnya alam Kampung Towe Hitam, Distrik Towe, baru-baru ini.
Kepala Distrik Towe, Oktovinus Gusbager, S.Sos, saat bersama warga menikmati indahnya alam Kampung Towe Hitam, Distrik Towe, baru-baru ini.
Wilayah Distrik Towe, yang meliputi Kampung Towe Hitam, Kampung Lules, Kampung Terfones, Kampung Bias, Kampung Towe Atas, dan beberapa kampung lainnya, merupakan salah satu distrik di Kabupaten Keerom.

Permasalahan topografi Distrik Towe yang cukup sulit, sudah tentunya antara satu kampung dengan kampung lainnya hanya bisa dihubungkan dengan jalan setapak, yang memakan waktu perjalanan sehari penuh untuk kampung yang berdekatan, dan berminggu-minggu lamanya untuk kampung yang jaraknya jauh, jika perjalanan dilakukan di ibu kota Distrik Towe.

Secara geografis, kondisi wilayah tersebut sangat menjanjikan secara ekonomi dalam jangka waktu 20 tahun kedepannya, jika kita mau berinvestasi di wilayah tersebut. Pasalnya, dari data yang berhasil dihimpun Bintang Papua, potensi sumber daya alam (SDA) sangat potensial, mulai dari hutannya, tanahnya yang subur sehingga cocok untuk perkebunan dan pertanian.

Begitupun, dengan sungai-sungainya yang begitu dalam, jernih dan indah yang berpotensi untuk obyek wisata, apalagi biota sungainya seperti ikannya, jika siapapun yang melihatnya pasti setiap harinya memancing ikan, terutama yang mempunyai hobi memancing, karena ikannya besar-besar. Bahkan konon beberapa titik di Distrik Towe ada menyimpan tambang emas, yang hingga kini belum diolah. Dengan melihat kondisi demikian, potensi dimaksud sudah seharusnya menjadi ikon yang berharga bagi Pemerintah, baik pusat, provinsi dan Pemda Kabupaten Keerom sendiri untuk mengelola dan mengolahnya menjadi pendapatan asli daerah (PAD) maupun peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat.

Sayangnya, hal tersebut hingga sampai sekarang belum dilirik oleh pemerintah, karena kenyataannya masih terisolir, baik secara wilayah karena satunya-satunya transportasi ke wilayah tersebut hanya melalui transportasi udara, itupun jika ada pesawat dan helikopter carteran (Sewaan) yang dipakai oleh pihak pemerintah atau kegiatan pelayanan misi oleh gereja.

Persoalan wilayah yang terisolir, menyebabkan segala akses terbatas, mulai dari akses informasi dan komunikasi, akses ekonomi, akses pendidikan dan kesehatan dan akses lainnya dalam mengangkat harkat dan martabat masyarakat setempat.

Sementara itu, Kepala Distrik Towe, Oktovianus Gusbager, S.Sos, dalam kesempatan itu menyampaikan memang potensi SDA Distrik Towe begitu menggiurkan, sayangnya dengan segala keterbatasan pemerintah daerah, hal itu sampai kini belum dikelola guna membawa pendapatan ekonomi masyarakat.

Namun, dengan keterbatasan yang ada, dirinya telah melaporkan secara keseluruhan mengenai potensi SDA dan persoalan-persoalan kehidupan yang mendasar bagi Bupati Keerom, dan sudah pasti hal itu ditindaklanjuti ke Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Pusat.

“Ya, kami harapkan ada kebijakan yang tepat dalam membuka keterisolasian masyarakat di Distrik Towe ini,” ujarnya kepada Bintang Papua, baru-baru ini. (Bersambung)

10 October 2012

Keerom : Pemkab Keerom Tanam 20 Ribu Pohon

(www.bintangpapua.com, 10-10-2012)
KEEROM - Jelang perigatakan hari menanam nasional  yang  akan di selenggarakan di Kabupaten Keerom  tanggal 28 November tahun 2012 untuk tingkat Provinsi papua, serta jelang memperingati Bulan Menanam Nasional pada Bulan Desember 2012, maka kemarin (8/10) Pemkab Keerom dalam hal ini Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Keerom melakukan penanaman pohon sebanyak 20. 000 di sapanjang jalan Swakarsa. Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Keerom,  Ir Joko Susilo MM melalui kepala  Seksi Pembinaan dan Pengamanan Sertifikasih Hutan Kabupaten Keerom, George Bandasano SH,MH.

Dijelaskan, kegiatan menanam ini dari hasil rapat  pertemuan kordinasi  instansi  kehutanan se provinsi Papua di Asmat beberapa waktu lalu, yang mana dalam  rapat tersebut  telah di sepakati dan menunjuk Kabupaten Keerom sebagai tuan Rumah  untuk menyelenggarakan  kegiatan hari menanam nasional. Selain itu,kegiatan penanaman Pohon di fokuskan pada jalan-jalan poros atau jalan masuk ke kampung kampung. Bibit pohon yang ditanaman merupakan bibit dari hasil pengadaan Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Keerom, serta hasil binaan masyarakat yang kita bina untuk menyediakan bibit bibit.

Adapun Pohon yang telah ditanamn seperti Bibit Pohon Sengon, Trambesy, Akasia, Merbau,dan Kayu Besi.
Fungsi penanaman adalah menambah jumlah populasi pohon di wilayah ini yang makin berkurang, akibat penebangan liar yang terjadi di wilayah ini dan juga  sebagai daerah renda dan rawan banjir sehingga perlunya menanam beberapa jenis pohon ini untuk menahan banjir dengan cara meyerapnya melalui akar.

“ Pohon adalah bagian yang tidak terlepas dari hutan  yang  berfungsi mensimulir sirkulasi ketersdiaan oksigen bagi makluk hidup. selain itu pohon juga  menjaga stabilitas kemurnian alam jagat raya ini dari  polutan karbondioksida   serta pembakaran yang tidak sempurna,” ujarnya. (rhy/don/lo2)

05 October 2012

Sarmi : Dinas Kehutanan Sarmi Sosialisai Pembinaan Lewat Kaum Pemuda

(www.bintangpapua.com, 5-10-2012)

SARMI - Setelah sebelumnya melakukan sosialisasi tentang mekanisme dan prosedur penggunaan dan pemanfaatan kawasan hutan, Dinas Kehutanan Kabupaten Sarmi kembali melaksanakan sosialisasi tentang mekanisme dan prosedur pemanfaatan hasil hutan yang berlangsung di Kantor Kelurahan Sarmi Kota belum lama ini.

“Kami dari dinas kehutanan merasa perlu melakukan kegiatan sosialisasi ini setelah melihat begitu antusiasnya pemuda-pemuda asli Sarmi yang mulai belajar dengan membuka usaha di bidang perkayuan (sawmil),” ucap Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Sarmi, Ir. Fredy Latumahina, MM saat ditemui Bintang Papua beberapa waktu lalu.

Dikatakannya, mulai saat ini dinas kehutanan akan melakukan pembinaan lewat kaum pemuda, dimana yang sudah memulai melakukan usaha perkayuan akan dibantu sehingga bisa memiliki Ijin Pengelolaan Kayu Rakyat (IPKR).

“Disamping menjelaskan tentang mekanisme dan prosedur kepengurusan IPKR, dalam sosialisasi tersebut kami juga memberi gambaran kepada mereka-mereka yang hadir saat itu tentang proses-proses yang akan dilakukan oleh dishut seperti pembinaan, pendampingan hingga perlindungan, dan sekaligus akan memproteksi sehingga diketahui hasil yang diperoleh mau dijual kemana,” tandas Fredy. (cr-38/bom/LO1)

03 October 2012

Waropen : Budidaya Lele Dikembangkan di Waropen

(www.bintangpapua.com, 3-10-2012)
WAROPEN-Meski sebagian besar masyarakat Kabupaten Waropen hidup menjadi nelayan dilaut serta bertani, pemerintah setempat mencoba memperkenalkan budidaya ikan lele. Langkah ini diambil, karena menjadi nelayan sangat tergantung dengan cuaca serta keadaan laut. Hal itu diungkapkan Bupati Waropen Yesaya Buinei kepada wartawan, Minggu 30 September. 

“Pemerintah memperkenalkan kepada masyarakat tentang pembibitan ikan Lele Sangkuriang. Pasalnya kondisi alam disini berbeda dengan daerah lain, dimana arus gelombang laut kadang tidak menentu. Kalau gelombang naik akibat angin barat dan timur maka para nelayan tidak akan melaut. Jadi diharapkan dengan budidaya ikan lele ini menjadi alternative bila nelayan tidak melaut,’’ujar Buinei.

Bupati mengatakan, budidaya ikan lele Sangkuriang ini sudah diperkenalkan kepada rakyat sejak tahun 2011 lalu, dan Dinas Perikanan dan Kelautan telah melakukan pembibitan sebanyak 5000 bibit ikan. Bahkan sudah dua kali dipanen. “Sejak budidaya dimulai sudah panen dua kali,’’jelasnya.

Mengenai animo masyarakat terhadap budi daya ikan lele, Bupati menyatakan, sudah ada beberapa masyarakat yang melakukannya. “Ada beberapa masyarakat yakni  di SP V Distrik Urfas dan SP IV Distrik Waropen Bawah yang sudah membudidayakan ikan lele,,” imbuhnya.

Ia juga mengungkapkan, bahwa pihaknya melalui Dinas Perikanan dan Kelautan telah mengirim beberapa stafnya guna melakukan study atau magang di Jawa Barat tepatnya di Bogor. “Ada beberapa staf yang dikirim ke Bogor guna mendalami proses pembibitan Ikan Lele Sangkuriang dari anakan hingga dewasa, dengan harapan ilmu yang mereka dapat bisa diterapkan kepada masyarakat sehingga masyarakat dapat dengan mudah melakukan pembudidayaan ikan Lele Sangkuriang,” terangnya.

Bupati berharap  dengan program ini masyarakat tidak terlalu bergantung dengan hasil laut. “Mudah-mudahan masyarakat semaki menerima budi daya iken lele ini, agar mereka benar-benar punya alternative jika tidak bisa melaut,’’ucapnya. (jir/achi/lo1)

13 September 2012

Merauke : Varitas Cilo Sari dan Dea Suci Membuat Petani Lebih Untung

(www.bintangpapua.com, 13-10-2012)



Romoldus Telima, petani Sumber Harapan SP3, Tanah Miring saat beraktivitas di sawahnya.
Romoldus Telima, petani Sumber Harapan SP3, Tanah Miring saat beraktivitas di sawahnya.
MERAUKE – Warga petani padi di Kampung Sumber Harapan SP IV, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, kini mulai meninggalkan bibit padi (varitas) jenis Ampari yang diberikan pemerintah daerah selama ini. Alasannya,  warga petani setempat merasa terbantu dengan kehadiran varitas baru jenis Cilo Sari dan Dea Suci, karena dapat meningkatkan produksi dan kualitas padi.

Adalah Romoldus Teluma (40), salah satu petani setempat yang merasakan hasil memuaskan setelah ia menggunakan varitas Cilo Sari dan Dea Suci ini, dimana selain ekonomis rupanya bibit tersebut dapat meningkatkan kualitas produksi sehingga setiap panen dirinya tidak perlu gali lobang tutup lobang untuk membiayai produksi yang terkadang mencekik petani.

“Dulu menggunakan varitas yang lama, produksi kami selama ini tidak menguntungkan, malah merugi, sehingga istilah gali lobang tutup lobang itu pasti ada. Tetapi sekarang sudah tidak lagi sejak kami gunakan dua varitas ini, dan kami puas karena ada untung dan bisa kembali modal” ungkapnya kepada Bintang Papua, Senin (10/9) kemarin.

Dijelaskan pria asal NTT yang sudah 10 tahun berprofesi sebagai petani padi ini, selain menggunakan dua varitas ini, yang terpenting adalah petani harus betul-betul bekerja sesuai petunjuk.

 “Artinya buat apa kalau kita punya bibit bagus tapi pola kerjanya sembrono atau asal-asalan, justru hasilnya tidak efektif. Makanya saya dalam bekerja saya terapkan pola lain dengan petani lain, sehingga ada yang menganggap saya gila. Tetapi ketika mereka meliat hasil padi saya, langsung mereka semua salut,” ucapnya.
Selanjutnya dibandingkan varitas Ampari, Cilo Sari dan Dea Suci dapat meningkatkan produksi dua kali lipat, dimana dengan menaburkan Cilo Sari dan Dea Suci untuk ukuran lahan 20x50 meter, produksi padi bisa mencapai 2 ton gabah kering.

“Sementara kalau Ampari hanya mencapai 1 ton gabah kering. Dengan peningaktan produksi ini petani lebih sedikit mengalami keuntungan,” tandasnya. (lea/achi/LO1)

Jayapura : Sektor Pertanian Akan Jadi Primadona

(www.bintangpapua.com, 13-9-2012)



Penyerahan bantuan yang diserahkan waikota kepada para petani dan peternak di kawasan Koya Barat
Penyerahan bantuan yang diserahkan waikota kepada para petani dan peternak di kawasan Koya Barat
JAYAPURA—Dalam rencana pembangunan perekonomian Kota Jayapura ke depan, Walikota Jayapura, Drs. Benhur Tommy Mano, MM menyatakan bahwa sektor pertanian akan menjadi program primadona. Setidaknya ada tiga alasan yang mendasari mengapa hal tersebut berani ia kemukakan.

“Pertama kontribusinya terhadap penyediaan pangan bagi masyarakat selalu menjanjikan, kedua kontribusinya terhadappenyediaan dan kesempatan kerja serta kesempatan berusaha sangat besar dan terbuka, ketiga strategis dalam pengentasan masyarakat dari kemiskinan,” ucap Walikota dalam sambutannya pada acara pembukaan Pelatihan Bagi Petani Tanaman Sayuran di Kelurahan Koya Barat pada Selasa (11/09) kemarin.

Oleh karenanya Walikota berharap ke depan dapat tercipta pembangunan pertanian yang tangguh yang mampu bertumbuh dan berkembang atas kekuatan sendiri, sementara pemerintah menciptakan iklim yang memungkinkan peran serta petani dalam seluruh proses pembangunan pertanian didaerah.

Penyuluhan yang dilakukan pemerintah terhadap petani, dikatakannya sebagai salah satu bagian integral dari pembangunan pertanian, dan hal itu pada hakekatnya merupakan salah satu upaya pemberdayaan petani untuk meningkatkan produktifitas, pendapatan dan kesejahteraannya. (ds/aj/LO1)

08 September 2012

Merauke : Program MIFEE Tidak Gagal

(www.bintangpapua.com, 8-10-2012)
MERAUKE - Assisten Penataan Ruang dan Pengembangan Wilayah Kementrian Perekonomian, Abdul Kamarzuky mengklaim Program Merauke Integrate Food end Estate (MIFEE) yang sudah berjalan selama tiga tahun  berjalan baik alias tidak gagal. Hanya saja, kata dia,  yang masih bermasalah saat ini adalah masalah ijin pengelolaan hutan. 

“Pengembangan MIFEE  ini kan banyak sangkut sama ijin-ijinya, ijin pengunaan penguasaan hutan dan lain-lain gitu kan. Dengan keluarnya SK Menteri Kehutanan kita sekarang follow up perijinannya, tapi perijinaan itu kan menyangkut tata ruangnnya walaupun Merauke sudah punya RT/RW kabupaten , tapi kan tetap ternyata sebagian besar kawasan itu masih kawasan hutan,” ujar Abdul kepada wartawan saat berkunjung ke Merauke, Rabu (6/9) kemarin.

Menurutnya jika banyak yang menilai MIFEE ini gagal dan tidak berjalan, maka hal tersebut akan dipercepat sehingga MIFEE bisa berjalan dengan baik. Dan Abdul juga membantah jika porsi program MIFEE lebih besar pada program pengembangan Perkebunan di bandingkan Pertanian.

Padahal berdasarkan  data Badan Pengelolaan dan Investasi Kabupaten Merauke ada sekitar 60 Investor yang bakal masuk ke Merauke, bergerak dibidang perkebunan. Sebelumnya juga,banyak kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Papua menolak Program Mife, sebab dapat merusak hutan Merauke.  (lea/achi/LO1)

07 September 2012

Merauke : Kekurangan Air, 1.000 Hektar Tanaman Padi Terancam Puso

(www.bintangpapua.com, 7-10-2012)



Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura kabupaten Merauke Ir. Bambang Dwiatmoko
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura kabupaten Merauke    Ir. Bambang Dwiatmoko
MERAUKE – Akibat kekurangan air, kurang dari 1000 hektar tanaman padi di Kabupaten Merauke terancam puso atau rusak. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura kabupaten Merauke Ir. Bambang Dwiatmoko kepada wartawan, di Kantor Bappeda Merauke  Rabu (6/9) kemarin. Bambang menjelaskan, padi yang terancam puso terjadi di sejumlah darah sentral pangan yakni, Distrik Kurik, Distrik Tanah Miring, dan Distrik Semangga. Dan padi yang terancam puso itu di luar dari target tanam yang ditetapkan pemerintah Kabupaten Merauke selama ini.


“Dilapangan ada yang terlihat ada kekurangan air ada sementara yang panen, ada sementara yang akan panen, tapi kumulatif sasaran sudah terlampaui sekitar 3000 hektar dari sasaran. Di satu sisi mungkin ada satu dua yang kita lihat kekeringan sebetulnya memang itu tidak direkomendir untuk melanjutkan tanam karena masalah air, tapi mungkin pada waktu itu situasi air seperti memungkinkan sehingga dia tergerak ada yang su tanam hingga tiga kali,” ujarnya.

Menurut Bambang, pada prinsipnya musim gaduh sudah selesai, sehingga Dinas Tanaman Pangan kini mempersiapkan diri memasuki musim tanam periode Oktober-Maret musim tanam 2012- 2013.
“Tetapi masalah kekeringan mengancam pada pertanaman pada tanaman yang baru ditanam,” katanya. Selanjutnya  target tanam 2012 baik musim tanam rendengan maupun gaduh telah melampaui target yang ditetapkan pemerintah daerah, dari 10.300 hektar menjadi 13.000 hektar.  (lea/achi/LO1)