Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua

Cari Informasi/Berita/Tulisan/Artikel di Blog IKP

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org

31 October 2004

Jayapura : Dinas Perikanan dan Kelautan fokus budidaya ikan

(Harian Cenderawasih Pos, 30 Oktober 2004)
Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua akan berupaya menfokuskan diri pada budidaya perikanan. Sebab program tersebut, selain didukung ketersediaan potensi sumber daya laut, juga dalam pengembangannya tidak membutuhkan anggaran yang besar.

Hal tersebut seperti dikatakan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua, Ir. Astiler Maharadja. “ Jadi pengembangan budidaya perikanan, selain karena pembiayaannya tidak menelan dana yang besar juga didukung oleh ketersediaan potensi sumber daya alamnya. Apalagi kalau lihat, ternyata budidaya perikanan, khususnya ikan tawar hasilnya dapat langsung diakses oleh nelayan dan masyarakat konsumen,” ujarnya.

Dikatakan, pengembangan budidaya perikanan ini selain karena diuntungkan dua faktor tersebut, juga sudah menjadi kebijakan dari gubernur sendiri. Sebab langkah ini sangat efisien dilakukan daripada harus menyediakan akan mendatangkan perangkat-perangkat peralatan untuk kegiatan perikanan yang membutuhkan biaya tinggi seperti dimiliki para pengusaha-pengusaha perikanan.

“ Keuntungan lain dari program budidaya ikan ini adalah, selain dapat membantu langsung masyarakat di tingkat bawah, juga mendorong masyarakat nelayan untuk berupaya mengembangkan diri menjadi terus melakukan bahkan membuat masyarakat nelayan mengembangkan diri hingga menjadi seorang pengusaha perikanan yang sukses,” harapnya. (mud)

27 October 2004

Jayapura : Rusak, Cagar Alam di Pegunungan Cycloops Papua

(Sumber : Media Indonesia, 27-10-04)
Jayapura, Kawasan cagar alam Pegunungan Cycloops yang terbentang dari Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura, Papua, kini kondisinya rusak berat sehingga fauna dan flora terlangka di dunia itu terancam punah serta sumber air juga terancam kering.Wartawan Antara yang menelurusi Kawasan Cagar Cycloops pekan ini melaporkan, di tepian lereng Pegunungan Cycloops dari Pasir II, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, sampai di Distrik Abepura nampak gersang.Masyarakat merambah kayu untuk pembuatan arang yang kemudian mereka pasarkan kepada para pengelola rumah makan dan warung ikan bakar.


Selain itu masyarakat menebang kayu untuk membuat perahu dan pendirian rumah di tepian Laut di bibir Teluk Yos Sudarso. Dua sumber air utama di Polimak dan Kamp Wolker debitnya semakin kecil karena selain pembukaan kebun di kawasan mata air juga terdapat kegiatan penggalian pasir dan pemecahan batu.Kondisi serupa terjadi di bawah air terjun Kali Kemiri, Dosay hingga Distrik Sentani Tengah, Sentani Barat, dan Sentani Timur sampai Distrik Sentani.

Tampak masyarakat urbanis asal Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Paniai membuka kebun tradisional.Ribuan jenis burung dan serangga serta anggrek dan nutfah lainnya terancam punah, padahal cagar alam tersebut telah diteliti memiliki jenis fauna dan flora terlangka di dunia.Departemen Kehutanan menetapkan Cycloops sebagai kawasan cagar alam pada tahun 1980 dengan luas areal 2,5 juta hektar terbentang dari Distrik Jayapura Utara, Jayapura Selatan, dan Distrik Abepura Kota Jayapura sampai Distrik Sentani, Sentani Tengah, Sentani Barat dan Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura.

Penjabat Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (KSDA) Dinas Kehutanan Provinsi Papua Drs. Phileps Johnson yang ditanya membenarka kondisi KCA Pegunungan Cycloops kini semakin memprihatinkan. Pihaknya belum lama ini bersama Kepala Bapedalda Kota Jayapura, Drs. Korinus Watory menelurusi lereng Pegunungan Cycloops dan mereka menyatakan prihatin karena perambahan hutan semakin merajalela." Kondisi itu akibat penduduk pemilik hak adat dan hak ulayat mengizinkan para kelompok masyarakat urbanis membuka kebun dan menebang pohon untuk memenuhi kebutuhan mereka," kata Phileps.Dia mengemukakan, bila terjadi bencana banjir dan longsor melanda Kota Jayapura, berbagai pihak saling menyalahkan satu sama lain. "Kalau Cycloops tidak dijaga, maka ribuan penduduk di Kota dan Kabupaten Jayapura tidak hanya akan mengalami krisis air bersih, tetapi juga akan menuai bencana," ujarnya dengan nada prihatin.

21 October 2004

Publikasi : Penilaian Kondisi Biologi Di Yongsu-Pegunungan Cyclops dan Selatan Sungai Mamberamo Papua

Buletin RAP No.25
Judul dalam Bahasa Inggris : A Biodiversity Assessment of Yongsu - Cyclops Mountains and the Southern Mamberamo Basin, Papua, Indonesia
Editor : Stephen J. Richards and Suer Suryadi
Bahasa : Inggris dan Indonesia
Halaman : 184
Tipe File : PDF

Laporan Ringkasan :

Tanggal Ekspedisi
Pelatihan RAP di Yongsu: 19–30 Agustus 2000
Ekspedisi RAP Mamberamo: 1–15 September 2000

Deskripsi Lokasi
Pelatihan RAP dilaksanakan di sekitar Yongsu Dosoyo, sebelah utara Cagar Alam Pegunungan Cyclops, Propinsi Papua, Indonesia. Kawasan ini memiliki kontur topografi yang tinggi dengan punggung gunung yang berlekuk-lekuk dengan ketinggian lebih dari 1000 m hingga tepi laut dengan jarak kurang dari 5 km. Tidak terdapat dataran pesisir dan pelatihan dilakukan pada hutan yang terletak antara ujung utara lereng Pegunungan Cyclops dan laut.

Ekspedisi RAP mengeksplore berbagai habitat darat dan air di dua lokasi sekitar kampung Dabra, sebelah selatan daerah aliran Sungai Mamberamo. Aliran sungai ini mendukung hutan hujan dataran rendah asli yang luas di sebelah utara dari Cordillera tengah. Kawasan ini merupakan daerah tangkapan air yang terluas, menampung semua aliran sungai-sungai kecil ke utara yang turun mulai dari pegunungan tengah antara perbatasan Papua New Guinea dan sekitar 137° bujur barat. Batas permukaan air di sungai utama sangat berfluktuasi sepanjang tahun, menciptakan berbagai habitat termasuk rawa-rawa dan hutan terendam, rawa berumput, sungai mati, dan danau kecil. Terdapat daerah peralihan dari dataran rendah ke hutan di kaki bukit di sebelah selatan Mamberamo dimana Cordillera tengah menjulang tajam dari dataran rendah berawa. Survey kami dilakukan pada musim kering ketika permukaan air di sungai utama dan aliran sungai kecil dari cordillera tengah secara relatif sedang rendah.

Alasan Pelaksanaan Pelatihan dan Survei RAP
Pelatihan RAP dilakukan karena di Papua belum banyak ilmuwan yang memiliki kemampuan untuk secara cepat mengumpulkan, menganalisa, dan menyebarluaskan informasi keanekaragaman hayati yang sangat penting untuk membuat rekomendasi konservasi yang memadai. Pelatihan ini juga memberikan kesempatan untuk melakukan survei flora dan fauna di pesisir utara Pegunungan Cyclops. Daerah aliran Sungai Mamberamo menjadi fokus ekspedisi RAP karena luasnya daerah yang masih alami, hutan yang jarang penduduknya dan belum banyak didokumentasi serta menghadapi ancaman yangmeningkat. Rencana Megaproyek Mamberamo termasuk peleburan aluminium dan perluasan industri pertanian yang listriknya disuplai dari dam pembangkit listrik tenaga air, akan merendam sejumlah besar areal hutan. Dam juga akan mengubah pola aliran air di hilir dengan dampak serius pada dinamika ekologi di ekosistem hutan dan perairan. Migrasi manusia yang berhubungan dengan proyek tersebut tidak diragukan lagi akan memberi dampak budaya yang serius bagi masyarakat adat yang tinggal di daerah aliran Sungai Mamberamo. Jika proyek ini dilaksanakan maka akan menimbulkan bencana besar yang saat ini sudah memperoleh tekanan dari aktivitas penebangan hutan. Pada kondisi tersebut, kajian mengenai kondisi dan nilai keragaman hayati dari eksositem hutan rimba yang luas ini sangat diperlukan untuk membantu pengembangan strategi konservasi dan pembangunan yang tepat.

Hasil-hasil Utama
Dua puluh tiga ilmuwan lokal dari Universitas Cenderawasih Papua, LSM, dan lembaga-lembaga di bawah Departemen Kehutanan dilatih oleh 10 ilmuwan dalam dan luar negeri yang ahli untuk flora atau fauna di kawasan ini. Hutan di Yongsu merupakan sumberdaya penting bagi penduduk setempat tetapi tingkat pemanfaatan tumbuhan dan hewan tampak berkelanjutan dan masih terdapat hutan luas tak terganggu di sekitar kampung. Hal ini berbeda dengan daerah di sebelah timur-laut Pegunungan Cyclops yang hutannya
sudah terdegradasi berat. Masyarakat Yongsu mendukung kegiatan konservasi di daerah ini sehingga untuk jangka panjang, kondisi hutan yang bagus di dearah Yongsu dapat dipertahankan. Survei di Mamberamo bukti membuktikan bahwa hutan, ekosistem perairan, dan tanah di sungai pada kondisi yang bagus. Tingkat populasi penduduk masih tergolong sangat rendah dan total areal yang telah dikonversi menjadi kebun
masih kecil.

Namun, pengamatan udara tampak jelas adanya perluasan jalan logging ke arah dari sungai dari utara menuju Mamberamo. Berdasarkan jumlah spesies yang berhasil ditemukan selama survei, proporsi ikan introduksi ada pada tingkat yang mengkhawatirkan (17,1%), dan dampaknya pada ekosistem perairan serta spesies ikan asli sangat perlu untuk dikaji. Terlepas dari posisinya yang berdekatan, kedua lokasi utama survei (Furu dan Tiri) memiliki flora dan fauna yang agak berbeda. Terdapat lebih banyak vegetasi sekunder di Furu daripada di Tiri, akibat dari besarnya dampak kegiatan manusia di lokasi tersebut. Selain itu, adanya hutan bukit di Furu memungkinkan diperolehnya berbagai tumbuhan dan satwa yang berbeda. Diperlukan survey tambahan di kawasan ini pada beberapa rentang ketinggian untuk memperoleh kajian lengkap mengenai nilai keanekaragaman hayatinya.

Rekomendasi dan Aktivitas Konservasi
Hutan di sekitar Yongsu tampaknya relatif terlindungi karena penduduk setempat mendukung inisiatif konservasi di daerah ini. Untuk memastikan berlanjutnya perlindungan hutan di Yongsu diperlukan kerjasama lebih lanjut dengan masyarakat di Yongsu. Karena letaknya yang dekat dari Jayapura dan hutannya yang sangat bagus, Yongsu merupakan tempat yang cocok untuk melanjutkan program pelatihan
bagi ilmuwan Papua. Hal ini akan memungkinkan masyarakat lokal dapat terus memperoleh manfaat dari perlindungan hutan mereka.

Ekspedisi RAP ke Daerah Aliran Sungai Mamberamo memastikan bahwa flora dan fauna di rimba belantara ini adalah luar biasa beragam tetapi dokumentasinya masih sedikit. Diperlukan beberapa survei tambahan pada sejumlah ketinggian untuk menentukan status dan distribusi spesies yang terancam dan langka untuk melengkapi informasi mengenai pola keragaman spesies dan endemisitas di Mamberamo. Proyek-proyek besar seperti Proyek Mega Mamberamo yang akan mengubah dan merusak eksosistem hutan dan
perairan harus ditolak dan masyarakat lokal perlu didorong untuk mengembangkan proyek-proyek pembangunan yang memperhatikan aspek ekologi. Kepadatan penduduk yang rendah dan hutan yang luas membuat Daerah Aliran Sungai Mamberamo menjadi tempat ideal untuk konservasi keanekaragaman hayati. Mamberamo merupakan salah satu hutan hujan asli terluas yang tersisa di dunia. Hasil RAP ini dapat digunakan oleh CI-Papua, masyarakat lokal, dan lembaga lainnya untuk merevisi dan memperkuat sistem kawasan lindung yang telah ada; dan menentukan daerah kunci di Mamberamo untuk konservasi keanekaragaman hayati dan pemanfaatan sumberdayanya oleh masyarakat.

Untuk mendapatkan File Laporannya secara lengkap dalam format PDF silahkan menghubungi Kantor Conservation International Indonesia – Papua Program (Mamberamo Program) di email :
ci-papua@conservation.or.id

Download File Per BAB
Table of Content , Ringkasan Eksekutif , Laporan Ringkas

Bab 2:Plant diversity in lowland forests of the Yongsu area, Papua, Indonesia Yance de Fretes, Conny Kameubun, Ismail A. Rachman, Julius D. Nugroho, Elisa Wally, Herman Remetwa, Marthen Kabiay, Ketut G. Suartana, and Basa T. Rumahorbo

Bab 3:Vegetation of the Dabra area, Mamberamo River Basin, Papua, IndonesiaYance de Fretes, Ismail A. Rachman, and Elisa Wally

Bab 4:Aquatic Insects of the Dabra area, Mamberamo River Basin, Papua, Indonesia Dan A. Polhemus

Bab 5:Butterflies of the Yongsu area, Papua, Indonesia Edy Rosariyanto, Henk van Mastrigt, Henry Silka Innah, and Hugo Yoteni

Bab 6:Butterfles and Moths of the Dabra area, Mamberamo River Basin, Papua, Indonesia Henk van Mastrigt and Edy Rosariyanto

Bab 7:Fishes of the Yongsu and Dabra areas, Papua, Indonesia Gerald R. Allen, Henni Ohee, Paulus Boli, Roni Bawole, and Maklon Warpur

Bab 8:Amphibians and Reptiles of the Yongsu area, Papua, Indonesia Stephen Richards, Djoko T. Iskandar, Burhan Tjaturadi, and Aditya Krishar

Bab 9:Amphibians and Reptiles of the Dabra area, Papua, Indonesia Stephen Richards, Djoko T. Iskandar, Burhan Tjaturadi, and Aditya Krishar

Bab 10:Birds of the Yongsu area, Northern Cyclops Mountains, Papua, Indonesia Pujo Setio, Paul Johan Kawatu, David Kalo, Daud womsiwor, and Bruce M. Beehler

Bab 11:Birds of the Dabra area, Papua, Indonesia Bas van Balen, Suer Suryadi, and David Kalo

Bab 12:Small mammals of the Dabra area, Papua, Indonesia Rose Singadan and Freddy Patiselanno

Peta

16 October 2004

Jayapura : Penataan Kota harus berwawasan lingkungan

( Harian Cenderawasih Pos 16-10-2004 )
Diskusi sehari yang diselenggarakan Dinas Tata Kota Jayapura, kemarin merekomendasikan beberapa hal pokok dalam rangka membangun dan menata Kota Jayaoura sesuai visinya. “ Ada 5 rekomendasi yang dihasilkan terkait dengan penataan Kota Jayapura,” ungkap Kepala Dinas Tata Kota Jayapura M.H Thamrin Sagala, MM, kepada Cenderawasih Pos, kemarin.

Ia menjelaskan, rekomendasi tersebut antara lain membangun Kota Jayapura berwawasan lingkungan dimana konsep tata ruang hendaknya disinergikan dengan pembangunan berwawasan lingkungan. Paradigma kebijakan yang mengutamakan PAD kini harus dirubah menjadi paradigma PAD ditambah pemerataan kesejahteraan dan kelestarian lingkungan yang mengacu pada factor bio fisik, social dan ekonomi. Selain itu , masyarakat adapt harus dikondisikan sebagai motivator pembangunan lingkungan.

Disarankan juga agar pembangunan jalan alternative Entrop – Waena segera dilaksanakan dengan membuat buffer zone kiri kanan jalan selebar 200 meter untuk melindungi sumber air dan masyarakat di sekitarnya. Dikatakan Thamrin, para pemateri dalam diskusi itu juga menegaskan agar penataan kota yang indah tidak hanya ditujukan pada prasarana fisik tetapi juga manusianya. Selain itu, disarankan agar dirancang Perda tentang kebersihan kota lalu mem-break down RT/RW ke RDTRK yang ditindaklanjuti dengan percepatan pembangunan kawasan timur serta ditingkatkannya sosialisasi dan konsultasi publik.

Rekomendasi itu juga disebut fenomena migrasi masyarakat pedalaman ke Kota Jayapura yang cukup tinggi dan pengaruhnya, misalnya saja masyarakat pedalaman jangan diperlakukan sebagai masyarakat marjinal tetapi harus dilihat sebagai asset. Disarankan, masyarakat pedalaman perlu dididik dan dibina sehingga memiliki ketrampilan dengan pola kemitraan dengan melibatkan LSM terkait. Begitu juga dengan masyarakat etnis khusus tidak diisolasi dalam kawasan tersendiri.

“ Jadi begitu antara lain yang kemarin direkomendasikan ,” imbuh Thamrin Sagala lagi. Hanya saja, semua itu tentu akan dibahas lagi sehingga bisa menjadi acuan untuk membangun Kota Jayapura ke depan. (ta).

07 October 2004

Jayapura : Pengembangan Komoditas Pertanian harus disesuaikan kondisi setempat

( Harian Cenderawasih Pos,7-10-2004 )
SENTANI – Untuk mengembangkan suatu komoditas pertanian maka yang harus dilakukan adalah dengan menwilayahkan suatu komoditas yang disesuaikan dengan kondisi fisik dan social ekonomi setempat. Misalnya disesuaikan dengan curah hujan, bagaimana kesuburannya, dan sebagainya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Dr. Ir. Jermia Limbongan, MS, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua, saat ditemui Cenderawasih Pos diruang kerjanya, Rbu (6/10) kemarin.

Menurutnya, dari hasil itu kemudian bias diploting apakah daerah tersebut ocok dengan komoditas yang akan dibudidayakan. “ Pemetaan semacam ini banyak kabupaten telah meminta, misalnya Kabupaten Jayapura, Merauke dan sebagainya “ tuturnya.

Sebagai contoh, lanjutnya untuk menanam padi maka perlu diteliti apakah ada penyakit yang akan menyerang tanaman itu, kemudian kira-kira jenis padi apa yang cocok untuk lokasi tersebut. Sehingga tindakan-tindakan pembudidayaan akan bisa efektif. Bahkan penelitian juga dilakukan hingga pasca panen dan pemasarannya.

Dijelaskan, seandainya suatu komoditas produksinya sudah ditingkatkan tetapi tidak bisa dipasarkan , maka sama saja tidak ada artinya. “Misalnya beras, di Papua ini masih banyak membutuhkan tetapi kita masih mendatangkan dari provinsi lain, padahal kita punya celah yang cukup potensial yaitu dari Merauke, akan tetapi mengapa tidak bisa memenuhi kebutuhan pasar disini. Untuk itu tentunya memerlukan kerjasama dari berbagai instansi terkait untuk melakukan suatu kesepakatan, sehingga masalah itu bisa diatasi,” paparnya.

Sementara untuk pembudidayaan Vanili pihaknya sudah memulai yaiu di kabupaten Keerom. Dengan membandingkan klon-klon dari PNG dan yang lainnya didatangkan dari Bogor.
Sedangkan terkait dengan adanya virus yang banyak menyerang tanaman jeruk, pihaknya menjelaskan bahwa hal itu tidak bisa diberantas karena virus itu tidak bisa mati, tetapi bisa ditanggulangi yaitu dengan cara meningkatkan ketahanan tumbuhan itu sendiri dengan cara dipupuk, dipangkas pada bagian yang sudah terserang virus itu dan sebagainya.

Kepala BPTP itu berharap agar para pengguna teknologi para petani maupun dinas-dinas terkait supaya memanfaatkan balai ini dengan sebaik-baiknya. “ Kami terbuka untuk melayani teknologi dibidang pertanian secara umum,” tuturnya. (fud)

06 October 2004

Publikasi : Laporan Penilaian Cepat Kondisi Biologi di Kawasan Sungai Wapoga, Irian Jaya, Indonesia

BULETIN RAP NO. 14
Judul Inggris : A Biological Assessment of the Wapoga River Area of Northwestern Irian Jaya,
Indonesia

Penulis oleh : Andrew L. Mack and Leeanne E. Alonso, Editors

Bahasa : Inggris dan Indonesia

Halaman : 131

Type File : PDF

Ringkasan Penelitian
1) Tanggal Ekspedisi: 31 Maret – 2 Mei 1998

2) Pentingnya RAP di Irian Jaya:
Irian Jaya yang terletak di ujung timur Indonesia dengan total wilayah daratan seluas 416.000 km2, ternyata menyumbang 30% hingga 50 % dari total keanekaragaman hayati Indonesia. Namun penelitian multi-disiplin yang komprehensifuntuk mengungkap kekayaan hayatinya belum banyak dilakukan. Salah satu usaha yang telah dilakukan oleh CI untuk mengisi kekurangan informasi tersebut adalah dengan melakukan serangkaian survei RAP (Rapid Assessment Program) di Irian Jaya.

3) Deskripsi Lokasi:
Ekspedisi RAP dilakukan di Seiwa dan Wapoga (Kawasan Sungai Wapoga, barat laut Irian Jaya), Kabupaten Paniai, yang terletak antara 3° 02.202’ LS, 136° 22. 515’ BT dan 3° 08.687’ LS, 136° 33.412’ BT. Survei dilakukan pada berbagai tipe habitat, mulai dari hutan dataran rendah sampai hutan kabut pegunungan dengan ketinggian mulai dari pantai hingga 1890 m di atas permukaan laut.

4) Alasan Pelaksanaan Ekspedisi RAP:
Kawasan Sungai Wapoga dipilih sebagai tempat ekspedisi karena dari Lokakarya Penentuan Prioritas Kawasan Konservasi Irian Jaya (1997) yang disponsori Conservation International diketahui bahwa data ekologi dan biogeografi daerah itu sangat tidak memadai. Salah satu tujuan survei adalah menghimpun data keanekaragaman hayati serta potensinya yang selama ini belum pernah diteliti para ahli biologi. Hasil ekspedisi RAP akan memberikan informasi ilmiah tentang kekayaan biota daratan dan perairan Kawasan Sungai Wapoga. Data tersebut diperlukan oleh para pengambil kebijakan, praktisi konservasi, ilmuwan, LSM, dan masyarakat setempat sehingga pembangunan dan konservasi dapat dikerjakan secara terpadu.

5) Hasil-hasil Utama:
Kawasan Sungai Wapoga merupakan daerah hutan perawan yang luas dan hampir tidak tersentuh gangguan manusia. Hanya sedikit daerah seperti itu yang masih tersisa di Irian atau bahkan di seluruh kawasan tropik dunia. Para ilmuwan yang ikut dalam ekspedisi RAP menemukan banyak spesies baru dari kelompok katak, serangga air, semut, ikan, kadal, dan tumbuhan. Penemuan tersebut menunjukkan pentingnya kawasan ini bagi konservasi keanekaragaman hayati, sekaligus menggambarkan keterbatasan pengetahuan kita tentang flora dan fauna Irian Jaya. Banyak serangga air, semut, katak, dan burung ternyata mempunyai sebaran geografis lebih luas dari yang diperkirakan. Selama survei
RAP ditemukan populasi yang cukup besar dari beberapa spesies katak yang telah mengalami penyusutan di bagian lain dunia. Keunikan komposisi spesies dalam Kawasan
Sungai Wapoga mengindikasikan bahwa daerah tersebut membentang sepanjang perbatasan dua sub propinsi biogeografi dan mungkin merupakan sebuah zona zoogeografi tersendiri.

Tumbuhan > 430 spesies
Serangga air:
Heteroptera (kepik sejati) 80 spesies (34 genera)
Zygoptera 25 spesies (12 genera)
(capung dan lalat sehari)
Semut 196 spesies (52 genera)
Ikan 46 spesies
Katak 47 spesies
Reptilia 25 spesies (kadal, kura-kura, tokek, ular)
Burung 213 spesies
Mamalia 11 spesies

6) Spesies Baru yang Ditemukan:
Tumbuhan 5 spesies
Serangga air
Heteroptera (kepik sejati) 36 spesies, 2 genera
Zygoptera 2 spesies
(capung dan damselflies)
Semut 17 spesies
Ikan 3 spesies, termasuk 2
ikan penlangi dan 1
ikan gobi
Katak 29 spesies (> 50%)
Reptilia (kadal dan tokek) 2 spesies

7) Rekomendasi dan Upaya Konservasi:
Kami yakin bahwa ekspedisi RAP ini akan berfungsi sebagai sebuah model kerjasama antara industri dan lembaga konservasi akademik di masa yang akan datang. Kondisi alamiah Kawasan Sungai Wapoga yang masih murni menjadikannya sebagai lokasi ideal untuk penelitian-penelitian selanjutnya. Banyak penelitian pada semua kelompok taksonomi yang masih perlu dilakukan untuk melengkapi pengetahuan kita tentang keanekaragaman Kawasan Sungai Wapoga yang sangat tinggi dan untuk menentukan jenis aktivitas konservasi yang diperlukan bagi pelestarian biotanya yang unik. Upaya-upaya yang harus dilakukan mencakup pembatasan dampak kegiatan manusia dan pencegahan introduksi spesies-spesies eksotik ke dalam kawasan. Para ahli herpetologi yang tergabung ke dalam ekspedisi RAP merekomendasikan perlunya kegiatan monitoring bagi beberapa populasi katak untuk mengetahui faktor-faktor yang berpotensi menyebabkan penurunan populasi katak itu di bagian lain dunia dan pada saat yang sama juga memberikan pemecahan terhadap masalah tersebut.

Untuk mendapatkan File Laporannya dalam format PDF silahkan menghubungi Kantor Conservation International Indonesia – Papua Program (Mamberamo Program) di email :
ci-papua@conservation.or.id

05 October 2004

Biak : Budidaya Keladi dan Sagu akan diperhatikan

( Harian Cenderawasih Pos 5-10-2004 )
Ketergantungan masyarakat di Papua termasuk di Kabuoaten Biak Numfor terhadap beras semakin tinggi, sementara makanan pokok seperti keladi, betatas dan sagu semakin jarang dikonsumsi masyarakat. Kondisi ini menurut Sekda Kabupaten Biak Numfor Drs. Izaak Kapisa, akan membuat ketergantungan daerah terhadap pasokan beras semakin tinggi.

Semakin tingginya ketergantungan daerah terhadap pasokan beras dari daerah penghasil beras menurut Izaak Kapisa akan menyulitkan daerah apabila terjadi gagal panen pada daerah penghasil beras. “ Kalau daerah penghasil beras mengalami paceklik maka yang pertama kena imbasnya adalah kita. Sebab kita tidak mempunyai sawah untuk menanam padi,” kata Izaak Kapisa kepada wartawan seusai membuka Pelatihan Kewirausahaan Bagi Petani di Kabupaten Biak Numfor , senini kemarin di Hotel Sinar Kayu.

Untuk mengurangi ketergantungan masyarakat akan beras, Sekda mengharapkan agar masyarakat tidak meninggalkan makanan pokok seperti keladi dan sagu. Dirinya juga mengakui semakin kurangnya minat masyarakat untuk mengkonsumsi makanan pokok khas Papua dikarenakan kurangnya variasi pengolahan bahan makanan tersebut. “ Instansi teknis pemerintah perlu mengembangkan variasi pengolahan makanan dengan bahan pokok keladi dan sagu,” tegasnya. (nat).

04 October 2004

Raja Ampat : Harap Gag Nikel dapat beroperasi

( Harian Radar Sorong,21-09-2004 )
Drs Marcus Wanma M.Si : Perubahan status hutan lindung masih dalam proses

Wilayah Kabupaten kepulauan Raja Ampat, selain memiliki potensi yang sangat besar dalam bidang perikanan dan perpariwisataan yang sampai saat ini belum dikelola secara maksimal karena keterbatasan dana, juga memiliki potensi tambang yang dapat diandalkan.

Barang-barang tambang yang terkandung dalam perut bumi Raja Ampat, selain minyak dan gas bumi, juga mengandung batubara dan tambang nikel. Melihat kondisi wilayahnya, barang tambang khususnya nikel diperkirakan banyak terdapat di wilayah kabupaten Raja Ampat.

Pejabat Bupati Kabupaten Raja Ampat, Drs Marcus Wanma M.Si saat ditemui baru-baru ini mengatakan kalau kawasan pulau Gag yang merupakan lokasi rencana eksplorasi bahan tambang berupa nikel itu beberapa tahun yang lalu berdasarkan Undang Undang Nomor 41 tentang Kehutanan ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung sehingga untuk melakukan kegiatan-kegiatan perekonomian tidak sebesar biasanya karena dibatasi dengan peraturan yang berlaku. “ Apalagi untuk aktifitas penambangan, dengan status tersebut sangat tidak memungkinkan untuk dilakukan walaupun potensi didalamnya sangat besar,” kata Wanma.

Karena kendala itulah Pemerintah Raja Ampat beberapa waktu terakhir ini terus berupaya agar status hutan lindung dicabut sehingga memungkinkan untuk dilakukan eksplorasi bahan tambang tersebut . “ Pemda sementara ini masih menunggu dan diharapkan dalam waktu dekat ini Gag nikel sudah bisa beroperasi,” tukans Wanma.

Dikatakannya bahwa perjuangan dari Pemda untuk hal tersebut sangatlah maksimal namun demikian perlu dipahami bersama bahwa untuk hal tersebut memerlukan proses dan dalam setiap proses pastinya dibutuhkan waktu yang agak lama.

“ Namanya proses perjuangan pastinya membutuhkan waktu, jadi ya kita harapkan dalam waktu dekat sudah bias beroperasi. Mengenai kepastiannya saya belum bisa berikan komentar karena hasil usaha untuk mengubah status hutan lindung yang kita lakukan sampai saat ini belum jelas,” tukasnya. (ian)

03 October 2004

Raja Ampat : Izin Eksplorasi Tambang Batubara di Raja Ampat Sudah di Keluarkan

( Harian Fajar Papua,02-09-2004 )
Sorong, Izin untuk melakukan eksplorasi tambang batubara di Kabupaten Kepulauan Raja Ampat telah dikeluarkan pemerintah daerah Kepualuan Raja Ampat. Izin untuk eksplorasi tersebut dikeluarkan melalui SK Bupati Kabupaten Kepulauan Raja Ampat, Marcus Wanma, M.Si. dalam SK. No. 540/73/2004. Dengan dikeluarkanya izin tersebut maka PT. Anugerah Surya Pratama akan memulai kegiatan eksplorasinya yang diawali dengan mengadakan survey dan study lapangan.

Kepala Bidang Penelitian Dan Pengembangan (Litbang) BAPPEDA, Kabupaten Kepulauan Raja Ampat, Paulus P. Tambing, SE saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (31/9) lalu mengatakan Bupati Kabupaten Kepulauan Raja Ampat, Drs. Marcus Wanma, M.Si sudah mengeluarkan izin untuk melakukan eksplorasi tambang batubara di beberapa wilayah di kabupaten Kepulauan Raja Ampat tersebut merekomendasi PT. Anugerah Surya Pratama untuk melakukan survey, studi lapangan dan eksplorasi dalam jangka waktu 3 tahun.

Adapun wilayah yang memiliki kandungan batubara di Kabupaten Kepulauan Raja Ampat adalah Distrik Salawati serta Waigeo Utara. Untuk Waegeo Utara Bupati telah mengeluarkan izin eksplorasi diatas lahan seluas 10 Ha.
Ia menjelaskandalam izin yang dikeluarkan Bupati tersebut selain memuat masalah jangka waktu eksplorasi tetapi juga memuat beberapa ketentuan yang menjadi prasyarat bagi PT.Anugerah Surya Pratama dalam melakukan eksplorasinya.Dimana dalam izin itu memuat beberapa hal penting misalnya, dimana eksplorasi tersebut harus dilalui tahapan analisa dampak lingkungan (amdal), pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar lokasi operasi .

Lebih jauh ia menjelaskan berdasarkan hasil survey, kandungan tambang batubara di Kabupaten Kepulauan Raja Ampat sangat banyak. Untuk itu perlu diolah demi kepentingan masyarakat dan meningkatkan PAD bagi Kabupaten Kepulauan Raja Ampat.

Sementara itu,berkaitan dengan eksplorasi biji nikel yang ada di pulau Gag, Distrik Waigeo Barat ia menjelaskan Pemda Raja Ampat sedang berupaya kepada pemerintah pusat untuk mencabut SK yang menetapkan kawasan sekitar P.Gag tersebut sebagai kawasan konservasi. ” Pemerintah Raja Ampat lagi berjuang agar SK. Kehutanan yang menetapkan kawasan Pulau Gag itu sebagai hutan lindung. Pemda berupaya agar itu juga bisa dikelola,”ujarnya. (edo)

Jayapura : Wabah Hog Cholera Babi perlu diwaspadai

( Harian Cenderawasih Pos,2-10-2004 )
Kepala Dinas Peternakan Provinsi Papua, drh Didik Radjasa, MMT meminta masyarakat mewaspadai penyebaran penyakit Hog Cholera yang menyerang ternak babi. Pasalnya penyakit ini disebabkan virus dan setiap ternak babi yang terinfeksi tidak akan lama bertahan hidup.

Dikatakan, penyakit babi yang disebabkan virus ini telah mewabah sejak April 2004 di Kabupaten Mimika yang menyebabkan ribuan ternak babi didaerah itu mati. “Penyakit ini paling cepat menular dari satu babi ke babi yang lainnya, bahkan babi yang terserang hanya bias bertahan paling lama 1 bulan,” jelasnya kepada Cenderawasih Pos saat ditemui diruang kerjanya, Selasa (28/9) kemarin.

Dikatakan, karena penyebabnya virus maka penyakit ini cukup membahayakan sebab penyebarannya sangat cepat. Dan setiap Babi yang terinfeksi akan mengalami gejala menggigil atau demam, selain itu gejala lainnya adalah terdapat bintik-bintik merah kehitam-hitaman dibagian paha dan ketiak babi.

Untuk mengantisipasi hal itu, pihak Dinas Peternakan setempat telah melakukan vaksin dan isolasi khusus bagi daerah-daerah yang memang belum terinfeksi.

Ditanya soal pembuktikan penyakit itu, pihaknya saat itu mengambil sample darah, hati, darah, daging lalu dikirim ke Badan Penyelidikan Venteriner Makassar dan dinyatakan hasilnya positif bahwa yang menyebabkan ribuan babi mati di Kabupaten Mimika adalah penyakit Hog Cholera yang disebabkan virus. (ito)

Sorong : 4 kapal ditangkap diperairan Fasifik, karena tidak memiliki dokumen resmi

( Harian Cenderawasih Pos, 2-10-2004 )
Empat kapal (26/9) ditangkap diperairan Fasifik oleh KRI Multatuli. Empat kapal tersebut terdiri dari 3 kapal berbendera Indonesia dan satu berbendara Filipina. Saat ini 4 kapal ikan tersebut dengan jenis Pursein PE ditahan dikolam Bandar Sorong, guna kepentingan pemeriksaan dan penyelidikan lebih lanjut.

Danlanal Sorong Letkol Laut (P) Sutaryono didampingi Pasi Ops Letda Laut Haridus, SH dan Pasi Intel Letda Mar.M.D Rumbiak mengatakan, 4 kapal tersebut hingga jumat (1/10) kemarin masih diperiksa.

Menurut Danlanal, 3 kapal yang berbendera Indonesia bernama KM Rejeki Utama I, Rejeki Utama VI, Rejeki Utama VII, sedangkan 1 kapal berbendera Filipina bernama KM F/V Ruffy T-3. Ditambahkan Danlanal pula kemarin pihak Lanal Sorong baru menerima dokumen lengkap dari KRI Multatuli , mengenai jenis pelanggaran yang dilakukan 4 kapal tersebut. Dengan diterimanya dokumen tersebut, Lanal Sorong secepatnya akan melakukan pemeriksaan dan penyelidikan terhadap kasus itu.

Danlanal menjelaskan sesuai dengan dokumen yang diterima dari KRI Multatuli. Diduga 4 kapal tersebut melanggar Surat Ijin Berlayar (SIB), anak buah kapal (ABK) sesuai crue list tidak memiliki simen book dan juga tidak memiliki barcode. Dikatakan pula untuk kapal berbendera Filipina, dimana ABK yang berjumlah 22 orang tidak disertai dengan dokumen yang lengkap, dalam arti tidak memiliki dokumen keimigrasian, bahkan tidak memiliki dokumen kapal sama sekali. Ditambahkan Danlanal pula 3 kapal berbendera Indonesia tersebut berkedudukan di Jakarta dengan nama perusahaan PT. Perada Arzak Tadah, sedangkan kapal berbendera Filipina dengan nama agen perusahaan PT. Bintang Laut Nusantara.

“ Itu sesuai dengan dokumen kapal yang kami terima, kalau ABK kapal berbendera Indonesia kebanyakan berasal dari Sangihe Talaud Sulawesi Utara,” tukasnya seraya mengatakan bahwa ketiga kapal itu diduga melanggar UU Nomor 9 Tahun 1985 tentang perikanan dan UU Nomor 21 Tahun 1992 tentang pelayaran. (boy).

Biak : APKI Tampung Minyak Goreng Petani Kelapa

( Cenderawasih Pos, 2-10-2004 )
Meski pengembangan tanaman kepala di Kabupaten Biak Numfor cukup menjanjikan, namun sampai saat ini produksi kelapa rakyat yang dibuat oleh petani kelapa di kabupaten Biak tidak berkesinambungan. Belum mampunya petani kelapa untuk memproduksi minyak kelapa secara intensif, menurut Ketua Asosiasi Petani Kelapa Indonesia (APKI) Biak Numfor, Aspenas Karma sangat merugikan petani sendiri.

Sebab dari pantauan APKI sendiri, cukup banyak pengusaha atau koperasi di kabupaten Biak Numfor kata Aspenas yang siap menampung produksi minyak kelapa rakyat. “Beberapa pengusaha dan koperasi yang kami hubungi sudah menyatakan kesiapan mereka untuk menampung produk minyak kelapa rakyat. Tetapi petani kelapa kita belum mampu memenuhi permintaan tersebut. Sebab produksi mereka tidak intensif dan ini yang sedang kami gumuli saat ini,” kata Aspenas kepada wartawan Jumat kemarin.

Untuk membantu petani kelapa meningkatkan produksinya dan memenuhi permintaan pasar, APKI kabupaten Biak Numfor pada tahun 2004 telah melakukan penanaman jenis kelapa dalam seluas 4 Ha. Pengembangan perkebunan kelapa rakyat tersebut menurut Aspenas mulai dilaksanakan di Kampung Wouna Distrik Warsa Kabupaten Biak Numfor. “ Kita harapkan dengan adanya perkebunan rakyat ini, pasokan bahan baku buah kelapa akan lancar. Sehingga produksi minyak kelapa petani kelapa bisa semakin intensif dan memenuhi permintaan pasar ,“ ujar Aspenas.

Meskipun demikian APKI kata Aspenas Karma sangat berharap Pemerintah Kabupaten Biak Numfor dalam hal ini Dinas Perkebunan dan instansi teknis lainnya turut membantu petani kelapa dalam mengembangkan usahanya, misalnya dengan mengadakan mesin parut kelapa. “Petani kelapa juga mengalami kesulitan untuk mengolah kelapa mereka. Mereka tidak mempunyai alat yang dapat membantu untuk mengolah kelapa mereka. Mereka tidak mempunyai alat yang dapat membantu mempercepat proses produksi minyak kelapa,” tutrnya. (nat).