(www.cenderawasihpos.com, 18-06-2008)
JAYAPURA-Sistem drainase di Kota Jayapura yang belum tertata baik, sehingga menimbulkan sejumlah permasalahan, nampaknya menjadi perhatian serius Pelaksanan Tugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Jayapura Rudolf Rumbino, ST, MT. Menurutnya, sampai saat ini Master Plan untuk pembangunan sistem drainase di Kota Jayapura ini memang belum ada, sehingga banyak persoalan muncul.
"Belum ada master plan untuk pembangunan sistem drainase Kota Jayapura yang representatif, tapi kami sedang berupaya untuk mengajukan master plan drainase lewat Cipta Karya Provinsi,"tutur Rudolf Rumbino saat ditemui Cenderawasih Pos di ruang kerjanya, Selasa (17/6).
Menurutnya, kondisi drainase di Kota Jayapura ini memang perlu dilakukan revitalisasi secara menyeluruh. Hanya saja, memang perlu master plan drainase yang lengkap dan detail, sehingga pembangunannya tidak sepenggal-sepenggal, dimana akibat tidak jelas ujung dan pangkalnya sering timbul genangan air. Selain itu juga harus dibedakan, mana drainase primer dan sekunder atau drainase tepi jalan dan drainase pemukiman dari bagian hulu hingga hilir.
Wilayah Kota di Jayapura yang terpisah-pisah, baik kawasan Jayapura, Entrop dan Abepura, sebenarnya penyusunan master plan drainase ini tidak rumit, karena tidak saling berhubungan. Hanya saja, memang harus mempertimbangkan beberapa faktor di masing-masing kawasan, sebab saat ini dengan padatnya pemukiman juga mengurangi daerah resapan air, yang berdampak debit air di drainase ini cenderung meningkat.
Masing-masing saluran drainase di tiga kawasan ini memang mempunyai permasalahan, tidak jelas mana saluran primer dan saluran sekunder, dimana ujung dan pangkalnya. Bahkan ada drainase tepi jalan yang fungsi utamanya untuk menyerap air agar tidak meluap, justru menjadi tempat aliran air dari berbagai tempat, sehingga sering meluap ke jalan dengan membawa sejumlah sampah, bahkan material tanah dan lumpur yang mengendap karena tidak jelas ujung dan pangkal saluran.
Untuk penanganan seluruh sistem drainase di Kota Jayapura ini memang membutuhkan biaya puluhan miliar. Dengan keterbatasan alokasi di Kota Jayapura, memang sangat diharapkan adanya dukungan dana baik melalui dana APBN dana Provinsi Papua maupun Kota Jayapura sendiri sebagai ibukota provinsi. (tri)
Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua
IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org
19 June 2008
Jayapura : Rumbino: Master Plan Drainase Kota Belum Ada
Jayapura : Nahkoda KM Cinta 88 Dituntut 200 Juta
(www.cenderawasihpos.com, 18-06-2008)
JAYAPURA-Terdakwa Nahkoda KM Cinta 88, Adam Bruza (32) yang merupakan warga Filipina dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Alfonsius G Loe Mau SH dengan denda 200 juta, subsidair 6 bulan kurungan dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Jayapura, Selasa (17/6).
Dari fakta-fakta yang ada didapati bahwa terdakwa Adam Bruza sebagai Nakhoda KM Cinta 88 dengan berbendera Indonesia, Kamis (6/3) sekitar pukul 12.30 WIT di perairan Samudra Pasifik telah melakukan kegiatan pengolahan ikan dengan tidak mematuhi daerah jalur penangkapan ikan.
Dokumen SIPI yang dimiliki oleh Nakhoda Adam Bruza meliputi Laut Sulawesi dan Laut Maluku tidak termasuk Laut Samudra Pasifik, dimana saat ditemukan oleh patroli Lakahia 1-10,-01 diperairan Samudra Pasifik ternyata KM Cinta 88 merupakan kapal lampu, dan saat diperiksa terdapat alat monitor ikan Fish Founder sedang dioperasikan untuk memonitor keberadaan ikan.
Oleh karena melakukan monitor keberadaan ikan di wilayah yang berada di luar daerah yang tertera di SIPI Nakhoda KM Cinta 88 Adam Bruza beserta 2 orang anak buak kapal langsung digiring ke Dermaga Porasko Lantamal X Jayapura.
Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap pada persidangan unsur-unsur yang didakwakan kepada terdakwa Adam Bruza melanggar pasal 100 jo pasal 7 ayat (2) huruf C Undang-undang No 31 Tahun 2004 tentang perikanan dengan unsur-unsur setiap orang yang melakukan usaha pengolahan perikanan wajib mematuhi jalur, daerah, musim penangkapan ikan.
"Sebagai pertimbangan dalam pengajuan tuntutan terdapat hal-hal yang memberatkan yakni terdakwa tidak mematuhi peraturan penangkapan ikan di wilayah Republik Indonesia, serta hal-hal yang meringankan terdakwa mempunyai tanggungan istri dan anak, belum pernah dihukum dan mengakui perbuatannya,"kata JPU Alfons.
Usai pembacaan tuntutan oleh JPU, melalui penterjemah Bahasa Philipina bernama Wolter, terdakwa Adam Bruza menggunakan haknya untuk melakukan pembelaan terhadap tuntutan yang telah dibacakan tersebut. Persidangan yang dipimpin oleh Hakim Ketua H Simarmata SH akhirnya menunda persidangan dengan agenda pembelaan terdakwa yang akan digelar Selasa nanti. (lie)
18 June 2008
Nasional : Ditemukan Spesies Baru Ikan Air Tawar
(www.kompas.com, 17-06-2008)
JAKARTA, SELASA - Peneliti ikan dari Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah, Fadly Y Tantu dan Jusri Nilawati, menemukan beberapa spesies ikan air tawar yang berasal dari danau-danau dan sungai-sungai di bagian tengah Sulawesi.
Di kawasan Danau Malili saja, ujar Jusri, terdapat 32 jenis ikan endemis, di antaranya lima jenis ikan yang baru ditemukan spesiesnya. Jenis-jenis tersebut meliputi tiga famili Telmatherinidae, yaitu spesies Telmatherina whitelips, T bagangensis, dan T exilis, serta dua famili Gobiidae, yaitu spesies Glossogobius spilii dan Mugilogobius flavus.
Jenis-jenis ikan ini merupakan hasil koleksi dari penelitian yang dipimpin Prof Dr Bambang Soeroto, MSc. Spesies ikan-ikan tersebut dikoleksi setelah ia melakukan serangkaian penelitian sejak tahun 2000 hingga 2008 ini.
"Sampai saat ini penelitian masih berlanjut," kata Fadly, Minggu (15/6). Temuan itu telah dia sampaikan pada Seminar Ikan V yang diselenggarakan oleh Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII) di Institut Pertanian Bogor, awal Juni lalu.
Masih banyak
Berdasarkan survei yang dia lakukan sejak tahun 2000 di perairan air tawar di Sulawesi, Tantu meyakini masih ada peluang akan bertambahnya jenis-jenis baru yang belum dideskripsikan. Saat ini kedua peneliti tersebut sedang mengerjakan beberapa spesimen ikan yang diduga sebagai spesies yang belum pernah dideskripsikan.
Menurut Fadly, keberadaan ikan-ikan endemis perairan Sulawesi perlu dilestarikan, mengingat jenisnya beragam dan belum teridentifikasi. Namun kenyataannya, ia melihat kelestariannya mulai terancam oleh upaya introduksi jenis-jenis ikan dari luar wilayah.
"Ikan-ikan endemis di danau-danau Malili sedang mengalami ancaman invasi oleh ikan-ikan introduksi, seperti mujair, nila, ikan sapu-sapu, dan ikan louhan yang digemari masyarakat," ujarnya.
Dari survei yang dilakukan Fadly dan Jusri, ditemukan 20 jenis ikan introduksi di kawasan Danau Malili. ”Kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena ikan- ikan itu akan menjadi ancaman serius bagi keberadaan ikan-ikan endemis,” kata Fadly menambahkan. (YUN/KOMPAS)
17 June 2008
Nasional : Pusat Penyelamatan Satwa Petungsewu Kolaps
(www.kompas.com, 16-06-2008)
MALANG, SENIN - Pusat Penyelamatan Satwa Petungsewu di Desa Petungsewu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur, kini tengah mengalami krisis finansial sehingga akan tutup beberapa bulan ke depan. Akibatnya, satu per satu satwa yang pernah dipelihara mulai dititipkan ke sejumlah lembaga konservasi, seperti taman safari dan taman rekreasi.
Krisis finansial itu terjadi karena tahun ini Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Petungsewu tak lagi mendapat jatah anggaran dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jatim, yang menjadi kepanjangan tangan pemerintah pusat.
"Tahun ini, katanya, ada kebijakan pengetatan anggaran di seluruh departemen, termasuk juga di Departemen Kehutanan. Itu sebabnya sementara tak ada anggaran untuk PPS," tutur Project Manager PPS Petungsewu Iwan Kurniawan, Sabtu (14/6).
Selain itu, PPS Petungsewu juga sudah semakin sulit mendapatkan donasi dari sejumlah donatur. Apalagi, sudah sejak dua tahun lalu, pemilik aset PPS Petungsewu, yaitu Gibbon Foundation (GF), telah menyatakan diri bangkrut.
Pembiayaan PPS Petungsewu selama ini berasal dari bantuan BKSDA (sekitar 45 persen), Yayasan Gibbon Indonesia (kepanjangan tangan GF), dan donatur salah satunya Profauna. Mulai beroperasi pada tahun 2007, PPS Petungsewu mengantongi dana sekitar Rp 35 juta per bulan.
Akibat krisis ini, sejumlah satwa sudah dilepasliarkan ke alam, antara lain merak, owa-owa, dan kakaktua. Adapun satwa yang belum bisa dilepas ke alam karena tak bisa hidup mandiri oleh PPS Petungsewu ditranslokasikan (dipindahkan) ke sejumlah lembaga-lembaga konservasi yang dirujuk BKSDA, antara lain Taman Safari Indonesia (TSI) II di Prigen (Pasuruan) sebanyak 33 satwa, Taman Rekreasi Kota Malang (13 satwa), Maharani Zoo Lamongan (13 satwa), dan Taman Rekreasi Sengkaling Malang (10 satwa). Satwa-satwa itu antara lain burung nuri, burung kakatua, buaya irian, siamang, owa-owa, buaya muara, paruh bengkok, burung bayang, dan kasuari.
Ketua Profauna Indonesia (salah satu NGO bidang pelestarian satwa, khususnya lutung jawa) yang juga membantu mencarikan donasi untuk PPS Petungsewu, Rosek Nursahid, mengatakan, dengan tutupnya PPS, pemerintah seharusnya yang menjalankan fungsi penyelamatan satwa yang selama ini dilakukan PPS. (DIA/KOMPAS)
16 June 2008
Kaimana : 1.500 Bibit Pala "Proyek" Dicuri
(www.radarsorong.com, 16-06-2008)
KAIMANA-Sebanyak 1.500 bibit pala yang hendak dikirim ke wilayah perkebunan di beberapa distrik dalam proyek tahun anggaran 2008 ini dicuri orang tak dikenal (OTD). Kejadian tersebut menyebabkan kerugian bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Kapolres Kaimana melalui Kasat Reskrim Iptu Kristian Sawaki kepada wartawan di ruang kerjanya Sabtu (14/6) lalu mengakui adanya laporan polisi terkait persoalan pencurian bibit pala tersebut.
Laporan polisinya sudah diterima. Pencurian tersebut dilakukan orang tak dikenal di tempat persemaian Dinas Kehutanan dan Perkebunan. Memang dari laporan kejadian sekitar pukul 07.00 WIT Sabtu (14/6) lalu.
“Setelah kita dapat laporan tersebut kita cek dan ternyata benar. Untuk menindaklanjuti laporan polisi itu, saya telah tugaskan anak buah untuk turun ke TKP,” terang Sawaki yang baru pulang dari Nabire melakukan penyelidikan terkait kasus illegal logging yang ditangani Mabes Polri.
Untuk memastikan pelakuknya, terang Kasat, saat ini pihaknya masih lakukan penyelidikan dan penyidikan kasus ini. Pihaknya sudah olah TKP dan akan diselidiki. Apabila ada keterlibatan orang dalam maupun lainnya akan diproses sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku,” terang Kasat Sawaki.
Sementara dari data yang diperoleh wartawan Koran ini, persemaian bibit pala tersebut merupakan program penanaman sejuta pohon sesuai anjuran Menteri Kehutanan. Ini program Pemda yang diimplementasikan instansi teknis.
“Kalau seperti ini jelas kami merasa sangat dirugikan, jadi saya mohon kepolisian bisa mengungkap kasus ini,“ ujar salah satu Staf Dinas Kehutanan dan Perkebunan kepada wartawan saat meninjau lokasi pencurian. Hingga berita ini diturunkan kasus pencurian 1.500 bibit pohon pala masih dalam tahap penyelidikan dan penyidikan Reskrim Polres Kaimana.(ani)
Jayapura : Sayur Mentah Dapat Hilangkan Racun
Ketua Dharma Wanita Provinsi Ny. Merry Tokoro bersama anggotanya saat melakukan Panen Sayur di Lahan Terapung Kampung Yoboi, Distrik Sentani Kota, Kabupaten Jayapura, Sabtu (14/6) akhir pekan kemarin (Foto : Gamel/Cenderawasih Pos)(www.cenderawasihpos.com, 16-06-2008)
Ketua Dharma Wanita Provinsi Panen Sayur di Lahan Terapung Kampung Yoboi SENTANI- Pola makan yang tidak dibarengi dengan kelengkapan sayur bisa dikatakan kurang bergizi karena selain protein yang hanya didapat dari lauk, gizi lainnya tentu harus diperoleh dari mengkonsumsi sayur mayur.
“ Dengan demikian kelengkapan gizi bisa terpenuhi. Lebih dari itu mengkonsumsi sayur mayor dengan mentah dikatakan mampu menghilangkan racun dalam tubuh,” ungkap Ketua Dharma Wanita Provinsi Papua, Ny Merry Tokoro saat melakukan panen raya sayur dilahan terapung kampung Yoboi Distrik Sentani Kota, Sabtu (14/6).
“Selama ini masyarakat kampung cenderung mengkonsumsi ikan tanpa dilengkapi dengan sayur, padahal sayur menyimpan banyak pelengkap gizi,” tuturnya.
Iistri Gubernur Barnabas Suebu ini juga mengaku salut melihat keinginan warga untuk membuka lahan terapung di halaman rumah meski medianya sangat terbatas.Yang digunakan warga untuk membuka kebun sayur, dapur hidup dan apotik hidup ini menggunakan pelepah sagu dan ampas pohon sagu sebagai pengganti media tanah.
Merry menjelaskan bahwa dari buku ilmu pengetahuan yang pernah dibacanya, ada seorang ahli mencoba bertahan hidup hanya dengan mengkonsumsi sayur yang dibuat jus. Beberapa tahun kemudian setelah dilakukan pemeriksaan medis, diketahui jika beberapa penyakit ditubuhnya berangsur-angsur berkurang.
Analisa yang dilakukan menyatakan bahwa mengkonsumsi sayur mentah dapat menghilangkan racun dalam tubuh.” Saya juga ingin mengajarkan kepada masyarakat bagaimana mengkonsumsi sayur mentah atau yang biasa dinamakan sebagau salad, juga jus dari sayur,” lanjutnya.
Ditambahkan, kebun terapung yang diprakarsai Dharma Wanita Kabupaten Jayapura dan Distrik Sentani Kota sejak tahun 2002 ini kedepannya akan diintensifkan dengan melibatkan tenaga pendamping (penyuluh) guna meningkatkan hasil dan memberikan wadah untuk memasarkan.
Dari lokasi perumahan penduduk, sepanjang 310 meter tampak ditanami berbagai sayur seperti kol, sawi, bayam merah, buncis, selada, kemangi, kangkung, dan kacang panjang. Sementara Ketua RW 01 Kampung Yoboi mengungkapkan yang menjadi kendala saat ini adalah media tanam dimana dalam 3 kali panen media tanam juga harus diganti begitu juga ketersediaan bibit.(ade)
Spesies : SEAZA: Selamatkan Katak dari Ancaman Kepunahan
(www.kompas.com, 16-06-2008)
BOGOR, SENIN - Kepunahan katak akibat pemanasan global dapat menimbulkan kerugian pada manusia sebab satwa amfibi tersebut memegang peran penting dalam mata rantai kehidupan, di antaranya pemangsa serangga dan bahan obat-obatan.
"Menurunnya populasi katak di berbagai belahan dunia membuat satwa ini menjadi perhatian dunia sehingga ada upaya-upaya agar tidak punah," kata Drs Jansen Manansang, MSc, pegiat konservasi satwa yang juga Presiden South East Asian Zoos Association (SEAZA) dalam penjelasannya di Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Jabar), Senin (16/6). Ia mengemukakan hal itu sehubungan dengan rangkaian kampanye 2008 Year Of The Frog.
Pada Konferensi SEAZA bulan September 2007 di Kuala Lumpur, Malaysia, tahun 2008 dicanangkan sebagai tahun katak (2008 Year of the Frog), dan kebun-kebun binatang di dunia mulai melakukan berbagai kegiatan untuk mengampanyekan tahun katak tersebut. Sehubungan dengan agenda dunia itu, pada hari Sabtu (14/5) hingga Minggu (15/4) dini hari, di Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, Bogor, diadakan pelatihan mengenai satwa amfibi, khususnya katak, dengan mendatangkan pakar amfibi dari Perhimpunan Herpetologi Indonesia Dr Mirza D Kusrini.
Kegiatan bertema "Pendidikan Konservasi Katak" itu dilakukan atas kerja sama TSI, PHI, Perhimpunan Kebun Binatang se-Indonesia (PKBSI), dan SEAZA, diikuti perwakilan Taman Akuarium Air Tawar Taman Mini Indonesia Indah (TMII), perwakilan Kebun Binatang Ragunan, Sea World, sejumlah karyawan/karyawati TSI, dan Direktur Kebun Binatang Bandung Romli Bratakusuma.
Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan pengamatan untuk identifikasi katak di sekitar areal TSI. Pengamatan katak ini dilakukan pada malam hari dengan melibatkan 30 orang, yang terbagi atas empat kelompok. Pencarian dilakukan di areal air terjun Curug Jaksa, Pasir Ipis, areal safari trek, dan areal tepian sungai Cisarua. Katak-katak yang ditemukan kemudian diidentifikasi, baik dari jenis, warna, bentuk tubuhnya. Terdapat lebih dari 11 jenis katak yang ada di areal TSI Cisarua. Kegiatan pengamatan ini dilakukan untuk mengenalkan katak lokal kepada masyarakat.
"Sehingga katak yang tadinya dianggap menjijikkan dan tidak mendapat perhatian masyarakat, saat ini menjadi salah satu jenis satwa yang menarik dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Dan bahkan menjadi perhatian dunia," katanya.
Jansen mengatakan, di dunia ini diperkirakan terdapat 4.000 spesies katak, beragam jenis, warna, maupun bentuknya. Sayangnya, tidak banyak yang mengetahui kalau ternyata satwa ini banyak manfaat dalam mata rantai siklus kehidupan, di antaranya predator bagi serangga, untuk konsumsi manusia, dan dijadikan obat-obatan.
Di Indonesia, lanjut dia, diperkirakan terdapat 400 jenis katak, di antaranya jenis Barborula kalimantanensis yang sangat langka di dunia karena dianggap sebagai satu-satunya katak yang tidak mempunyai paru-paru. Ia mengatakan, sejauh ini jumlah spesies katak yang ada di Indonesia belum diketahui secara pasti, karena belum banyak yang peduli ataupun melakukan penelitian, mengingat katak dianggap binatang yang menjijikkan dan tidak bermanfaat.
Dengan terus mengampanyekan pentingnya katak dalam mata rantai siklus kehidupan, ia berharap secara perlahan perhatian masyarakat pada katak dapat semakin baik sehingga ikut menjaga agar tidak punah.WAH Sumber : Antara
Sorong : Pemkab R4 Tanggapi Dingin Workshop Nikel
(www.radarsorong.com, 16-06-2008)
SORONG- Pelaksanaan workshop oleh MRP dengan menghadirkan Gubernur Papua Barat Abraham O Atururi serta perwakilan dari LMA yang ada di Kabupaten Raja Ampat selama 2 hari membahas mengenai dampak dari pemberian ijin kuasa pertambangan di Kabupaten Raja Ampat terhadap masyarakat. Dalam workshop di Hotel Mariat sempat dipertanyakan ketidakhadiran Pemkab Raja Ampat.
Bupati Raja Ampat, Drs Markus Wanma, M.Si menanggapi dingin pelaksanaan workshop tersebut yang langsung menyerahkan untuk menjawab pertanyaan kepada Kepala Bapedda Kabupaten Raja Ampat, Ir Rahman Wairoy. Ditegaskan, untuk masalah pertambangan yang diperdebatkan selama ini Pemkab Raja Ampat bekerja sesuai dengan aturan. Oleh karena tidak selamanya atau seharusnya mengenai pemberian ijin kuasa pertambangan, aturannya diambil dari Provinsi Papua Barat. Karena disesuaikan dengan aturan dan kewenangan yang dimiliki Pemkab Raja Ampat.
“Aturan yang kami pakai di kabupaten adalah aturan dari pemerintah pusat artinya bahwa wilayah tambang itu apabila berada didalam wilayah kabupaten maka itu kewenangan Bupati. Yah itu saja yang selama ini kami bekerja dan untuk implementasi pelaksanaannya,”ujarnya. Ditambahkan, semua sudah diikuti dengan tahapan-tahapan misalnya dalam menghargai hak-hak masyarakat adat. Perusahaan tambang yang mau beroperasi harus menemui masyarakat adat dan selama ini telah dilakukan. Contohnya uang bukan pintu dan sebagainya.
Ditegaskan, dengan pembayaran uang adat atau uang bukan pintu bukan berarti hak dari masyarakat adat sudah selesai. Setelah semuanya selesai dari rekomendasi dinaikkan kepada Bupati kemudian Bupati mengeluarkan ijin sesuai dengan kewenangan yang dimilikinya. Dimana selama ini untuk masalah tambang di Raja Ampat disinyalir seolah-olah bahwa kegiatan penambangan yang dilakukan melupakan hak-hak masyarakat adat. “Ternyata tidak benar itu, di Kabupaten Raja Ampat kita mengenal adanya kesepakatan-kesepakatan. Nah didalam kesepakatan yang dibuat selama 2 tahun untuk tahap pertama, ada beberapa prinsip yang kami pakai disitu,”tegasnya.
Ketika ditanya koran ini prinsip apa saja yang dipakai oleh Pemkab. Kata Wairoy “Prinsip yang pertama adalah prinsip saling menghargai artinya investor apapun yang masuk di wilayah Kabupaten Raja Ampat. Dia (investor, red) harus menghargai hak-hak masyarakat Kabupaten Raja Ampat. Selain hak-hak dari perusahaan yang harus menyetor kepada negara,”jelasnya.
Diterangkan, prinsip yang kedua adalah saling menghormati antara investor dan masyarakat termasuk dengan pemda. Yang terakhir adalah prinsip saling mengutungkan artinya investor siapapun yang mau berinvestasi di kabupaten R4 harus memperoleh keutungan termasuk dengan pemda sendiri yang juga harus memperoleh keuntungan.(boy)
Sorong : Moswaren, Lumbung Beras Sorsel
(www.radarsorong.com, 16-06-2008)
SORONG- Ditengah susahnya masyarakat memenuhi kebutuhan pokok menyusul dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), masyarakat distrik Moswaren Kabupaten Sorong Selatan (Sorsel) patut bersyukur.
Pasalnya pemenuhan kebutuhan pokok berupa beras selalu tersedia. Hal ini lantaran Moswaren sendiri dikenal sebagai lumbung beras Kabupaten Sorsel.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sorsel Dance Nauw, SP MSi mengungkapkan, pada musim tanam tahun 2007 dan 2008 ini, produksi gabah kering giling di distrik Moswaren rata-rata mencapai 1500 ton. “Dengan total luas lahan tergarap 350 H, produktivitas sebesar 6 ton/Ha. Distrik Moswaren pada musim tanam tahun ini ditingkatkan lagi menjadi 500-800 Ha,”terang Dance Nauw kepada Radar Sorong. Dikatakan, program menjadikan Moswaren sebagai lumbung beras di Kabupaten Sorsel didasarkan pada kajian dan pertimbangan yang matang. Berdasarkan hasil interpretasi citra satelit dan penelitian langsung di lapangan, sebut Dance Nauw, keadaan fisiografi distrik Moswaren cukup berfariasi.
“Luas lahan yang mempunyai topografi datar dengan kemiringan kurang dari 15 % cukup besar yaitu sekitar 48 % sehingga calon untuk mengembangkan lahan sawah cukup luas,”terang Dance Nauw.
Disisi lain, lanjutnya, sumber daya manusia dari petani transmigrasi dan transmigrasi lokal yang merupakan objek sasaran pengembang padi juga sangat mendukung.
Moswaren secara alami juga didukung kondisi hidrologi yang memadai dimana kaya sumber air yang terdiri dari beberapa sungai kecil. Air tersebut juga dimanfaatkan warga setempat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Sedangkan pendistribusian air dari sumber ke rumah-rumah penduduk sudah dilakukan dengan program pipanisasi,”ujar Dance yang alumni Faperta Uncen Manokwari (kini Universitas Papua-red).
Selain pengembangan padi, wilayah Moswaren kata Kadis Pertanian Sorsel Dance Nauw, juga potensi sebagai wilayah tanam bawang merah. Untuk itulah pengujian penanaman bawang merah di Moswaren sedang dilakukan secara intensif.
Namun demikian ujar Dance Nauw, bukan hanya Moswaren yang potensil sebagai wilayah penghasil bawang merah. Dari penelitian dan uji coba yang telah dilakukan, distrik Ayamaru pun cocok sebagai wilayah tanaman bawang merah.
Dikatakan, meski telah ditemukan beberapa wilayah yang sesuai dengan komoditas-komoditas tertentu, namun Pemda Sorsel melalui Dinas Pertanian tidak serta merta mendorong masyarakat untuk langsung melakukan penanaman secara massal.
Saat ini Dinas Pertanian Sorsel bekerja sama dengan pihak tertentu melakukan uji coba penanaman dalam bentuk demplot terlebih dahulu.
“Ini harus dilakukan untuk mengetahui faktor ekonominya, kapasita hasil berdasarkan luas lahan, penanganan pasca panen dan beberapa hal terkait lainnya. Jadi pengembangan masing-masing komoditas pertanian dilakukan secara bertahap dan akan dilakukan di semua distrik sesuai dengan kesesuaian yang ada,”tandasnya.
Menciptakan Moswaren sebagai lumbung beras di Kabupaten Sorsel pada masa mendatang, menurut Dance Nauw, sarana pengairan yang telah dibangun Pemda Sorsel sejak beberapa tahun lalu akan terus dilanjutkan dan ditingkatkan sehingga program Moswaren sebagai lumbung beras senantiasa terwujud.
“Pada prinsipnya petani di kampung Bumi Ajo dan kampung Hasik Jaya siap menyukseskan program produksi padi/beras tersebut. Dukungan sistem pengairan sangat diperlukan. Sebab tanpa dukungan tersebut petani akan tetap bertanam ke padi ladang, sayur-sayuran dan buah-buahan,”pungkas Dance Nauw. (ros)
14 June 2008
Merauke : Menristek: Merauke Sangat Strategis di Bidang Pertanian
(www.papuaspos.com, 14-06-2008)
Merauke – Menteri Riset dan Teknologi Republik Indonesia, Ir. Kusmayanto Kadiman, Ph.D, menjelaskan, pembenahan infrastruktur dan pembagian lahan di kabupaten Merauke yang telah tertata dengan rapih, semua itu merupakan suatu potensi yang besar untuk daerah Merauke secara keseluruhan. Hal itu disampaikan Menteri kepada sejumlah wartawan saat melakukan kunjungannya di daerah Serapuh Kabupaten Merauke, Jumat (13/6) kemarin.
Menurutnya, pembagian lahan dari pemerintah kepada masyarakat merupakan program pemerintah melalui beberapa sektor, seperti sektor perikanan, pertanian serta dibidang kehutanan. Untuk itu, melalui program Merauke Intergratet Food and Energi Estate, sebagai langkah yang tepat.
Kusmayanto menjelaskan, untuk bidang pertanian Kabupaten Merauke yang mempunyai potensi lahan yang luas serta komitmen menuju daerah penyediaan pangan, maka akan dilakukan sebuah evaluasi yang berupa persiapan penyediaan Pupuk.
”Dengan potensi lahan pertanian yang luas saat ini, pemerintah akan menyediakan pupuk dan beberapa jenis tanaman (Benih) seperti bibit Kedelai, Tebu dan Padi unggulan. Jika memang hal ini cocok untuk lahan di Merauke, saya akan siap mengirim bibit tersebut dan hal ini sudah dibicarakan dengan kepala dinas setempat,” ujarnya.
Sementara itu jika dilihat pada sektor teknologi pangan, dirinya menilai Kabupaten Merauke sudah sangat maksimal, hal ini tidak terlepas dari Program Revitalitalisasi kualitas pangan dan pertanian.
Diakui pula, setelah melihat kondisi infastruktur yang ada, Menteri merasa yakin hal itu dapat menunjang sektor pertanian di Kabupaten Merauke. ”Setelah saya melihat ternyata benar, pembenahan infrastuktur seperti jalan kualitasnya lebih bagus, hal ini sebagai penunjang utama pertanian, bahkan terlihat irigasi (saluran air persawahan) baik dikiri maupun kanan terlihat bagus, itu artinya dari bawahnya sudah benar, dan bagus, dengan demikian Petani sekarang bukan hanya sekedar kuli tetapi petani yang benar-benar,” imbuhnya.
Untuk diketahui, Menristek, Ir. Kusmayanto Kadiman.Ph.D, tiba di Bandara Udara Mopah Kabupaten Merauke, Jumat (13/6) sekitar pukul 08.00 WIT, bersama rombongan dan beberapa pengusaha dari Mitsubitshi Corporation. dalam kunjunganya kali ini, Menristek hanya meninjau sektor Pertanian.**
Jayapura : Hakim Cek BB Kayu Hasil Illegal Loging
(www.papuapos.com, 14-06-2008)
Jayapura – Majelis Hakim yang menangani 12 perkara Illegal Loging yang sementara bergulir di Pengadilan Negeri Jayapura, Jumat (13/6) kemarin mengecek keberadaan barang bukti perkara di Rumah Penyimpanan Barang Sitaan Negara (Rupbasan). Pengecekan ini dimaksud untuk menentukan status barang bukti dalam putusan nanti. Majelis Hakim antara lain Aman Barus, SH, sebagai Ketua dan anggota masing-masing Abdul Siboro, SH dan Hotnar Simarmata, SH. Dari hasil pengecekan yang diterima oleh staf Rupbasan tersebut, ternyata dari 9 truk barang bukti, didapati hanya ada 3 barang bukti truk yang masih terparkir di Rupbasan, sementara 6 truk sudah tidak ada.
“Enam truk sudah dikeluarkan tanpa adanya penetapan atau ijin dari pengadilan,” ujar Ketua Majelis Hakim, Aman Barus, SH. Sementara kayu olahan ratusan kubik yang termuat dalam truk, masih tersimpan dalam gudang. Sayangnya, Majelis Hakim hanya melihat keberadaan kayu dari luar saja, tidak dapat masuk ke gudang untuk melakukan pemeriksaan mendetil mengenai jumlah kayu karena gudang terkunci.
Tiga truk yang masih ada tersebut, masing-masing Nopolnya, W 8799 UN, DS 9315 AB dan DS 9602 JK. Untuk diketahui, perkara Illegal loging yang sementara diperiksa di PN Jayapura saat ini berjumlah 12 perkara, dimana 9 terdakwa adalah sopir yang barang bukti truk dan kayunya ditahan dan 3 perkara lainnya, terdakwanya adalah pemilik kayu. **
Sorong : Taman Wisata Alam Dibahas
(www.radarsorong.com, 13-06-2008)
SORONG- Pemprov Papua Barat melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) kemarin di Hotel Mariat menggelar lokakarya manajemen kolaborasi pengelolaan Taman Wisata Alam Sorong. Lokakarya melibatkan 40 peserta dari berbagai elemen terdiri dari pemerintahan, swasta, Ormas, dan LSM. Tujuannya guna membahas konservasi hutan alam yang kedepannya akan dimanfaatkan sebagai salah satu taman wisata alam sebagai salah satu sumber pendapatan daerah.Kepala Balai Besar KSDA Provinsi Papua Barat, Drs Trisnu Danisworo, MS mengemukakan kawasan taman wisata alam Sorong (hutan lindung, red) dalam pengelolaannya dibawah pengawasan KSDA Papua Barat. Yang mana secara administrasi terletak di Distrik Sorong Timur merupakan hutan konservasi dengan luas 945,9 hektar yang didalamnya terdapat sedikitnya 53 jenis kayu yang tumbuh di kawasan terindah seperti kayu matoa, merbau, langsat, rambutan dan lainnya. Sementara jenis satwa yang terdapat di dalamnya adalah kakatua putih, kakaktua hitam, nuri dan jenis satwa lainya seperti kuskus dan rusa.
Dikatakan, tujuan utama pemanfaatan hutan lindung (hutan konservasi, red) adalah untuk taman wisata alam yang pada dasarnya digunakan untuk pariwisata. Taman wisata alam ini dapat dikelola secara kolaborasi berdasarkan aturan perundang-undangan yang berlaku melalui kesepakatan bersama melalui MoU. Tentunya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat sesuai dengan kondisi sosial masyarakat yang ada. Materi yang disajikan pada lokakarya adalah kebijakan pengelolaan sumber daya hutan, pemanfaatan potensi sumber daya hutan dan beberapa materi lainnya yang mempunyai keterkaitan langsung dengan pengelolaan hutan sebagai salah satu potensi sumber wisata alam.Sementara itu dalam sambutannya sekaligus membuka secara resmi lokakarya kemarin, Wakil Walikota Hj Baesara Wael, S.Sos, MH mengatakan selama ini semua bangga Kota Sorong sebagai kota wisata, apakah betul demikian karena selama ini yang banyak dikenal dan diketahui adalah Tanjung Kasuari sebagai taman wisata pantai. Padahal masih ada potensi lain yang dapat dikelola dengan baik yaitu hutan lindung.
Dijelaskan, selama ini yang menjadi sorotan dunia pada saat ini adalah masalah konservasi pengelolaan hutan yang tidak teratur hingga terjadi penebangan secara liar hingga menyebabkan terjadinya kerusakan ekosistem hutan yang berdampak pada pemanasan global. Untuk itulah langkah awal yang akan dibahas pada lokakarya ini semua stakeholder yang ada agar dapat meberikan kontribusi pemikiran yang konstruktif.“Pada awal ini kita bahas semaksimal mungkin langkah-langkah apa yang akan kita sepakati untuk menghidupkan kembali hutan kita ini sebagai hutan wisata alam. Jadi cukup representatif SKPD terkait untuk membicarakan hal ini,”ujar Wakil Walikota.(ris)
