Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua

Cari Informasi/Berita/Tulisan/Artikel di Blog IKP

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org

06 October 2007

Timika : Populasi Kangguru di Nayaro Terus Bertambah

(www.cenderawasihpos.com, Jumat 5 Oktober 2007)
TIMIKA-Jumlah kangguru tanah (Thylogale brunii) yang dipelihara dalam lokasi penampungan satwa dilindungi yang ada di Kampung Nayaro, bertambah satu ekor, hingga kini jumlah satwa endemik di Papua tersebut berjumlah 17 ekor. Hal itu dibenarkan oleh Kepala Seksi KSDA Mimika, Prianto, S.Hut, saat ditemui disela-sela pemantauan satwa tersebut di Nayaro, Kamis (4/10).Menurutnya, penambahan jumlah tersebut tentunya sangat menggebirakan pihaknya sebagai pihak yang selama ini mengelola lokasi penampungan tersebut, sebab hal tersebut sekaligus menandakan proses adaptasi ma-malia itu cukup baik di lingkungan yang ada.

Kangguru ‘anak’ tersebut sudah menjadi penghuni baru sejak beberapa waktu lalu. Dipastikannya penambahan anggota baru tersebut setelah memenuhi sarat yang ada, yaitu sudah hidup di luar kantung induknya. Sebab bayi kanguru yang ada di dalam kantung induk betina seperti terlihat pada kangguru lainnya belum bisa disebut anggota baru.Ia menjelaskan sebanyak 17 kangguru tanah yang merupakan satwa dilindungi itu resmi masuk di wilayah penampungan di Nayaro tersebut sejak tanggal 5 Juli lalu dari Sukabumi. Pada anggal 6 Juli, satu kangguru kedapatan mati dengan analisa dari laboratorium akibat sebelumnya mengalami stress dilokasi baru hingga jumlahnya jadi 16. Dengan penambahan tersebut lanjutnya jumlah kangguru yang ada menjadi sama dengan saat pertama datang.Selain Kangguru tanah lanjutnya di tempat penampungan tersebut, kini terdapat dua spesis satwa dilindungi lainya, yaitu; satu ekor Kasuari gelambir ganda (Casuarius casuarius) hasil penyerahan sukarela dari warga masyarakat dan dua ekor burung nuri merah kepala hitam (Lorius domicellus) hasil sitaan petugas Seksi KSDA Mimika.(mno)

Jayapura : Dicurigai Tertular Virus Sapi Gila, Dicurigai Tertular Virus Sapi Gila

(www.cenderawasihpos.com , Jumat 5 Oktober 2007)
JAYAPURA-Setelah disita dari beberapa supermarket, toko, kios-kios dan pasar, akhirnya ribuan kaleng daging kalengan produk China itu dimusnahkan dengan cara dibakar, Kamis (4/10), kemarin. Daging kalengan tersebut, merupakan hasil operasi tim gabungan Balai Besar POM, Polresta Jayapura serta Bimas Ketahanan Pangan Provinsi Papua, beberapa hari lalu.Daging kalengan yang dimusnahkan di sekitar lokasi gudang Maju Makmur Entrop itu, antara lain jenis Greatwall Brand, Pork Kitchen Meat dan Pork Leg With Ushroom. Dimana dari Gudang Maju Makmur sendiri disita sebanyak 139 karton yang masing-masing karton berisi 48 kaleng, sehingga jumlahnya mencapai 6.672 kaleng.Selain itu, ada beberapa kaleng daging produk China yang disita dari Saga Mall yaitu Greatwall Brand sebanyak 48 kaleng, Pork Kitchen Meat 48 kaleng dan Pork Leg With Ushroom sebanyak 44 kaleng.Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dari Balai Besar POM, Drs. Nelson Hutagalung, MM, menjelaskan, barang-barang yang disita dan musnahkan ini merupakan barang yang dianggap sebagai produk illegal, sebab dalam kemasan produk tersebut tidak ada nomor pendaftarannya di balai POM.

“Selain itu, produk daging kalengan ini juga belum dinyatakan bebas dari Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta belum bebas dari penyebaran virus sapi gila,”paparnya.Dikatakan, produk yang dimusnahkan ini merupakan hasil operasi gabungan yang dilakukan sebelumnya. “Yang mana operasi ini digelar demi menjaga keamanan dan kesehatan konsumen, agar konsumen bisa terhindar dari barang-barang yang illegal. Dalam operasi itu, bila produk yang dilarang itu ditemukan dalam jumlah yang tidak terlalu banyak, maka langsung dimusnahkan di TKP, namun jika produk yang ditemukan dalam jumlah banyak, akan dimusnahkan secara tersendiri, seperti sekarang ini,”katanyaMenurutnya, untuk menghindari beredarnya makanan illegal di pasaran, maka perlu koordinasi lebih intensif lagi antara pemerintah, pengusaha maupun masyarakat. “Jika ada produk makanan yang sudah kedaluarsa, sudah rusak maupun makanan yang tidak terdaftar, harus segera dilaporkan, agar tidak dikonsumsi masyarakat,”ujarnya.Saat ditanya apakah dari operasi yang dilakukan tiga hari sebelumnya itu telah mendapatkan produk yang kadaluarsa, pihaknya menyatakan selama operasi itu belum mendapatkan produk yang kedaluarsa.

“Yang kita dapatkan hanya produk-produk yang memang dilarang untuk dipasarkan,” katanya.Di tempat yang sama, Sales Manager Maju Makmur, Paulus Megawanto mengatakan, dengan adanya larangan peredaran produk tersebut, maka pihaknya tetap care dan peduli terhadap produk yang dilarang itu, sehingga pihaknya harus menarik semua produk yang ada untuk kemudian dimusnahkan. “Kami memang mengalami kerugian, tetapi kami wajib manarik produk ini dari pasar, termasuk dari Saga,”katanya.(fud)

04 October 2007

Jakarta : Amankan Perbatasan, 1.600 Kapal Diperiksa, Numberi: Diduga Beroperasi Secara Illegal

(www.cenderawasihpos.com, 3 Oktober 2007)
JAKARTA-Pemerintah dituntut bekerja serius mengamankan wilayah perbatasan laut Indonesia. Potensi kerugian negara akibat illegal fishing bahkan sampai pada hitungan triliun. Karena itu, menjelang pergantian tahun, operasi aparat di laut digencarkan. “Jadwalnya tentu rahasia, ada istilah pendadakan agar penjahat dan pelaku kriminal laut dapat digulung,” ujar Kepala Pusat Penyiapan Kebijakan Keamanan Laut Bakorkamla (Badan Koordinasi Keamanan Laut) Brigjen Pol E.H. Allagan kemarin. Dalam penggerebegan rutin, selain mengambil kembali aset negara yang diambil kapal illegal, tim juga mencegah penyelundupan barang haram masuk melalui pintu-pintu perbatasan. “Istilahnya sekali bergerak dua tiga pulau terlampaui,” kata Allagan. Dalam penjelasan rapat kerja dengan Komisi 1 DPR, Menteri Kelautan Dan Perikanan Fredy Numberi mengatakan hingga September 2007, pihaknya sudah memeriksa 1600 kapal yang diduga beroperasi secara illegal di perairan laut Indonesia yang berada di perbatasan. “Sebanyak 63 diantarannya kapal asing,” ujar Freddy. Menteri kelahiran Serui Papua, itu menambahkan, kebijakan pemerintah untuk mengamankan perbatasan dan cegah illegal fishing tegas.

“Tidak boleh ada kapal asing kalau tidak punya industri di Indonesia,” ujarnya. Purnawirawan TNI Angkatan Laut itu melanjutkan, sebelumnya meski tak punya perusahaan industri perikanan kapal asing bisa leluasa beroperasi. Itu sebabnya, banyak yang bergerak secara illegal tanpa mengajukan izin.”Sekarang tidak bisa lagi, mereka bisa menangkap ikan kalau benar-benar ada perusahaannya di Indonesia,” katanya. Mantan Gubernur Papua itu mengakui anggaran dan insentif bagi petugas operasi lapangan sangat kecil. “Itulah yang kami minta agar mereka yang di lapangan itu diperjuangkan anggarannya oleh teman-teman di DPR,” katanya. Daerah perbatasan yang terisolir, kata Freddy, dibuka dengan bantuan prajurit TNI. “Minimal ada simbol-simbol kenegaraan seperti bendera merah putih yang dipasang di wilayah-wilayah itu,” ujarnya. Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Lukman Edy yang ikut dalam rapat menambahkan, pihaknya juga membantu mempercepat pembangunan di perbatasan. “Kami berkoordinasi dengan Menkominfo untuk mewujudkan program desa berdering di desa-desa terpencil, targetnya 38.476 desa,” katanya.(rdl)

Supiori : Kualitas Kopra Masyarakat Akan Ditingkatkan

(www.cenderawasihpos.com, 3 Oktober 2007)
SUPIORI-Agar komoditi kopra dari Kabupaten Supiori dapat bersaing di pasaran, maka Pemkab Supiori melalui Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Kehutanan mendorong masyarakat untuk meningkatkan kualitas kopra yang diproduksi. Untuk meningkatkan kualitas kopra tersebut Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Kehutanan, Ir.Dance Rumainum mengatakan proses pengolahan kopra yang selama ini dilakukan oleh masyarakat akan disempurnakan untuk mendapatkan hasil yang baik.Terkait dengan peningkatan kualitas kopra masyarakat, pada tahun anggaran 2007 ini Pemkab Supiori kata Dance telah membangun gudang pengasapan kopra di Pulau Mapia dan Meosbefondi.

"Kedua daerah ini sangat berpotensi dalam pengembangan kopra sehingga kami memberikan dukungan untuk membantu masyarakat dalam proses pengolahan.Sebab dengan pengolahan yang baik mutu kopra yang dihasilkan juga lebih baik dan dapat bersaing di pasaran,"ujarnya saat menghadiri peresmian pengoperasian Pasar Supiori, di Masram Supiori Timur, Selasa (2/10).Selain memperbaiki proses pengolahan kopra untuk meningkatkan mutu, pada tahun anggaran 2007 ini, Pemkab Supiori juga akan melakukan pengembangan kelapa rakyat seluas 100 Ha yang akan dilakukan di beberapa wilayah seperti Distrik Supiori Utara dan Pulau Rani.Pengembangan tanaman kelapa rakyat tersebut menurut Dance dimaksudkan agar produksi kelapa yang merupakan komoditi andalan untuk sektor perkebunan di Supiori akan semakin meningkat.

"Selain pengembangan tanaman kelapa, di beberapa daerah yang tanaman kelapanya sangat potensial seperti Pulau Mapia kami melakukan rehabilitasi tanaman,"tambahnya.Menyangkut pemasaran komoditi kopra dari Supiori, ada beberapa daerah yang menurut Dance Rumainum selama ini menjadi tujuan pemasaran kopra di wilayah Indonesia Timur yaitu Surabaya dan Bitung sehingga kedua daerah tersebut merupakan pasar potensial untuk kopra dari Kabupaten Supiori. "Kami juga mendapat informasi kalau di Makassar juga berpotensi untuk kami pasarkan kopra ke sana,"ujarnya.(nat)

03 October 2007

Kaimana : Kaimana Bentuk Konservasi Laut Daerah

(www.kompas.com, Selasa, 02 Oktober 2007)
Kaimana, Kabupaten Kaimana di Papua Barat kini bersemangat membangun kawasan konservasi laut daerah supaya keindahan dan kekayaan alamnya tetap terpelihara. Kawasan konservasi sebagian besar berada di perairan Teluk Triton dan Selat Iris seluas 500.000 hektar.Penyusunan penetapan kawasan konservasi laut daerah (KKLD) Kaimana saat ini sedang digarap oleh masyarakat pemilik ulayat, pemerintah kabupaten, dan LSM Conservation International Indonesia (CII). "Ini merupakan modal awal yang sangat bagus," ujar Albert Nebore, Project Manager CII, Senin (1/10).


Kawasan Teluk Triton dan Selat Iris dipilih menjadi daerah konservasi karena kondisinya relatif masih alami dan baik. Perairan Kaimana kini terkenal sebagai Kerajaan Ikan yang bersaing dengan julukan kabupaten tetangganya di Papua Barat, Raja Ampat, yang mendapat predikat Surga Ikan. Lokasi KKLD Kaimana relatif mudah dikelola karena luasannya mengumpul menjadi satu. Berbeda dengan Raja Ampat yang KKLD-nya menyebar di tujuh kawasan. Albert Nebore mengatakan, desakan masyarakat dan pemda untuk menjadikan Kaimana sebagai KKLD seperti Raja Ampat juga didukung oleh Menteri Kelautan dan Perikanan. KKLD Kaimana akan dideklarasikan bulan April 2008, bertepatan dengan ulang tahun Kaimana. Perairan di Kaimana memiliki 937 spesies ikan dan 492 jenis karang (enam di antaranya jenis baru). Selain keindahan bawah laut, Kaimana juga dijuluki Kota Senja semenjak dikenal lewat judul lagu Senja di Kaimana. Kekayaan sejarah dan budaya kawasan di leher Kepala Burung Papua ini ditunjukkan lewat peninggalan sejarah zaman mesolitikum berupa lukisan tembok. Lukisan bermotif cap tangan, ikan, manusia, dan aneka satwa ini masih berupa misteri.

Belum dipantau
Berkaitan dengan ancaman serius pencemaran terhadap Danau Sentani, Jayapura, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kota Jayapura hingga kemarin belum memantau limbah pertambangan emas di sekitar Bumi Perkemahan Waena. Oleh karena itu, Kepala Bapedalda Kota Jayapura Jan Hendrik Hamadi belum bisa memperkirakan dampak penggunaan air raksa dalam pertambangan itu terhadap 33.000 lebih masyarakat suku Sentani yang bermukim di Danau Sentani. (ich/row)

01 October 2007

Terima Kasih Ikan...!

(Taksonomi Kelautan)
Para taksonom kelautan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau bidang lain patut berterima kasih kepada ikan. Khususnya, ikan-ikan spesies baru yang setahun lalu ditemukan tim peneliti Conservation International Indonesia di perairan Raja Ampat, Papua Barat.

Berterima kasih? Tentu saja. Pasalnya, dari pelelangan nama spesies baru sepuluh ikan karang di Monaco, 20 September 2007, didapat dana segar sekitar 1,5 juta dollar AS—LIPI kebagian sekitar 500.000 dollar AS untuk program pembangunan kapasitas taksonom muda.
"Selain untuk beasiswa jenjang S2 dan S3 taksonomi, juga untuk pelatihan taksonom muda LIPI. Khusus kelautan, jumlahnya masih sangat sedikit," kata Kepala Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) LIPI Suharsono di Jakarta, Jumat (28/9).


Taksonomi merupakan pengklasifikasian flora atau fauna berdasarkan ciri-ciri tertentu. Sebagian besar peneliti Indonesia mampu mengidentifikasikan flora atau fauna tertentu, tetapi tidak mengetahui spesies baru atau tidak. "Taksonom" tanpa publikasi khusus di bidang taksonomi seperti itu dianggap tidak real. Di Indonesia tidak banyak taksonom real.
Fakta itu patut disayangkan di tengah kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia. Tak sedikit taksonom asing yang "mengambil untung" dan menggemparkan dunia ilmu pengetahuan dari kekayaan alam Indonesia.


Sepuluh jenis ikan karang temuan dua ilmuwan CI Indonesia itulah contohnya. Keduanya, Mark Erdmann (dari AS) dan Gerry Allen (dari Australia).


Atas seizin keduanya, nama di belakang nama genus ikan—yang secara tradisi menjadi hak mereka—dapat dilelang. Pemenang berhak mencantumkan namanya menggantikan nama kedua penemu itu. Harga tertinggi lelang 500.000 dollar AS, untuk genus Hemiscyllium yang menyerupai hiu bertotol. Jenis itu berjalan menggunakan siripnya dan hanya ditemui di Teluk Cenderawasih.
Harga terendah 50.000 dollar AS (sekitar Rp 450 juta) untuk ikan dari genus Pseudanthias yang hanya ditemukan di karang dalam di Teluk Cenderawasih. Pseudanthias ini awalnya tumbuh sebagai betina dan beranjak dewasa sebagai jantan. Satu pejantan hidup dengan 20 betina.

Sukses besar
Direktur Program Kelautan CI Indonesia Ketut Sarjana Putra mengatakan, pelelangan pertama kali itu sukses besar. Lelang dihadiri langsung oleh putra mahkota Kerajaan Monaco Pangeran Albert II di Museum Oseanografi Monaco. Lelang didukung Monaco Society dan Balai Lelang Christie’s.
Selain hasil 1,5 juta dollar AS, lelang juga sukses menjual program kunjungan langsung ke kawasan Raja Ampat dan Kaimana senilai 350.000 dollar AS. Pemenangnya Pangeran Albert II.
Peserta lelang juga membeli rencana program patroli dan penegakan hukum 100.000 dollar AS. Nama pemenang lelang akan menjadi nama kapal patroli.


"Kesepakatan awal, semua hasil lelang dari spesies ikan akan digunakan untuk program kelautan di kawasan kepala burung Papua. Tidak untuk program lain," kata Ketut.
Rencananya, CI Indonesia akan membeli kapal baru untuk pendidikan kelautan dan fungsi sosial di pulau-pulau di sekitar Teluk Cenderawasih. Selanjutnya, program kedua rencananya digelar di Shanghai, China.

Kini sedang ditunggu pengklasifikasian jenis ikan lain dari Papua untuk memastikan baru atau tidak. Hal itu terkait dengan lembaga berusia 112 tahun, International Commission on Zoological Nomenclature (ICZN). Menurut Suharsono, komersialisasi pemberian nama spesies baru seperti di Monaco ini baru yang pertama kali berlangsung megah dan mewah. Sebelumnya, "jual beli" nama spesies berlangsung biasa saja. Seperti digelar lembaga nonprofit Jerman—pemilik daftar 120 spesies beraneka satwa. Tentu kita pantas bersyukur dan mengucap, "Terima kasih ikan!" (GSA)

Lelang Nama Ikan Asal Papua Hasilkan 2 Juta Dolar

(Antara News)
Sebanyak 10 nama ikan spesies baru asal Raja Ampat, Papua, dilelang oleh Balai Lelang Christie di Monaco, dan berhasil mengumpulkan dana hingga dua juta dolar Amerika Serikat (AS).
"Hasilnya besar, karena yang melelang adalah Pangeran Albert II dari Monaco. Sekitar 400 ribu dolar AS menjadi hak Monaco Society, satu juta dolar dikelola oleh Conservation International (CI) dan 500 ribu dolar diserahkan kepada LIPI," kata Kepala Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), DR Suharsono, di Jakarta, Jumat.


Lelang dengan nama "The Blue Action" yang diadakan di Oceanographic Museum of Monaco pada 20 September 2007 itu melelang nama-nama ikan temuan baru dua ilmuwan CI, Mark Erdmann dan Gerry Allen. Salah satu nama spesies baru itu adalah hiu merayap (walking shark) dari genus Hemiscyllium bahkan terjual dengan harga 500 ribu dollar. Si pembeli nama kemudian akan menyerahkan nama pilihannya untuk didaftarkan ke International Commission on Zoological Nomenclature (ICZN), suatu badan dunia di bidang penamaan spesies yang telah berusia 112 tahun.


Menurut dia, lelang nama-nama spesies baru tersebut merupakan yang pertama di dunia. Sebelumnya, memang pernah ada perdagangan nama 120 spesies baru oleh para ilmuwan Jerman dan lembaga Biopat dan menghasilkan 514 dolar AS, namun bukan berupa lelang. Direktur Program Maritim CI Indonesia, Ketut Sarjana Putra, mengatakan bahwa jika tak punya dana untuk membina keanekaragaman hayati kelautan, maka Indonesia seharusnya kreatif menggali dana dari berbagai kegiatan positif.


"Nama spesies adalah hak penemu, namun berhubung penemunya telah merelakan spesies temuannya dilelang untuk menggunakan nama orang lain, mengapa tidak. Semoga ini menjadi pemicu bagi penemu spesies dalam negeri melakukan hal sama," katanya. Seluruh spesies ikan tersebut nantinya akan disimpan juga di Museum Herbarium Bogoriense LIPI Cibinong.

Suharsono mengatakan, 500.000 dolar AS yang diserahkan ke LIPI akan digunakan untuk pengembangan kapasitas taksonom kelautan muda yang sangat minim di Indonesia, berhubung keanekaragaman laut di Indonesia sangat besar. Sementara itu, dana yang dikelola oleh CI, ujar Ketut, juga akan dimanfaatkan bagi program pendidikan kelautan di masyarakat Kabupaten Raja Ampat yang dana operasionalnya cukup tinggi.

"Yang 400.000 dolar milik Monaco Society merupakan dana untuk kegiatan non-spesies seperti ekspedisi menggalakkan kegiatan kelautan serta membeli lagi kapal patroli. Pangeran Albert berencana akan ke Raja Ampat dan Bali tahun ini juga," katanya menambahkan. (*)

29 September 2007

Sentani : Konsep Pengelolaan Hutan Perlu Diperbarui, Berbasis Masyarakat Adat Untuk Tingkatkan Kesejahteraan

SENTANI - Direktur WWF Wilayah Papua Benja Victor Mambai mengungkapkan bahwa selama ini masyarakat adat pemilik hak ulayat kawasan hutan produksi ini tidak diberdayakan, sehingga berapa pun besarnya pengolahan hutan di Papua ini, belum mampu untuk memberikan dampak kesejahteraan masyarakat di pinggiran hutan ini.“Seiring dengan program pembedayaan masyarakat, maka konsep pengelolan hutan wana lestari yang berbasis masyarakat ini perlu untuk diterapkan, ”ungkap Benja usai pemaparan program kehutanan di aula lantai II, kantor Bupati, Kamis (27/9).Lebih lanjut, untuk tahap awal penerapan konsep pengolahan hutan berbasis masyarakat adat ini, rencananya akan dilakukan di Distrik Unurum Guay. Alasannya, selain dari kemudahan aksesbilitas pendampingan masyarakat di daerah tersebut, aspek potensi dan keseiapam masyarakat sendiri sudah sangat mendukung. “Selama ini masyarakat sudah cukup berpengalaman dengan beroperasinya sejumlah perusahaan HPH, ”jelasnya.Menurut Benja, konsep ini nantinya diharapkan dapat diterapkan di seluruh Papua. Meski saat ini baru terfokus di Distrik Unurum Guay, namun untuk tahap awal ini juga diharapkan menjangkau daerah lain seperti Sarmi, Boven Digul, yapen dan Jayawijaya.

“Yang jelas saat ini yang sudah dipersiapkan di Kabupaten Jayapura dan Yapen,”ujarnyaDikatakan bahwa konsep pengelolaan konsep hutan berbasis masyarakat adat ini ini bukan dari WWF melainkan konsep bersama untuk mendukung program pemberdayaan masyarakat khususdi bidang kehutanan. Oleh karena itu, untuk penerapan konsep ini, pihaknya siap untuk melakukan pendampingan kepada masyarakat. “Ini memang perlu keterlibatan dan peran serta dari semua pihak,’tandasnya. (tri)

Sentani : Pemkab Rekrut 60 Anggota Satgas, Untuk Menjaga Kawasan Cyclop

(www.cenderawasihpos.com, Jumat 28 September 2007)
SENTANI - Rusaknya kawasan penyangga dan Cagar Alam Cyclop, yang berdampak terjadinya bencana banjir yang merusak sejumlah faslitasi umum, maka Bupati Jayapura Habel M Suwae, S Sos, MM mengambil kebijakan untuk merekrut tenaga untuk menjaga kawasan Cagar Alam Cyclop. Kini, sebanyak 60 anggota Satuan Tugas Pengamanan Cagar Alam Pengunungan Cyclop sudah direkrut dan disiapkan untuk pengamanan.Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Jayapua Ir. Amos Hokoyoku mengungkapkan bahwa anggota Satgas Cagar Alam Cyclop ini direkrut dari warga masyarakat di 5 distrik yang wilayahnya berbatasan dengan Cagar Alam Cyclop. 5 Distrik tersebut, yakni Sentani Timur, Sentani Kota, Sentani Barat, Depapre dan Ravenirara.

“Mereka kami rekrut dari warga masyarakat pemilik hak ulayat berdasarkan rekomendasi dari masing-masing distrik, ”ungkap Amos Yoku didampingi Kasubdin Konservasi, Keamanan dan Penyuluhan Kehutanan Waluyo, SE.Dikatakan bahwa dari 60 anggota tersebut, 40 diantaranya adalah pemuda dari keluarga yang mempunyai hak ulayat dari kawasan Cyclop ini, sementara untuk memberikan semangat kompetisi dalam menjalankan tugas, juga direkrut 10 orang Papua diluar Kabupaten Jayapura dan 10 orang dari pendatang. “Anggota Satgas ini sudah mulai menjalankan tugasnya, ”ungkap Waluyo.Untuk menjalankan tugasnya tersebut, Satgas Cyclop yan kemarin sudah mulai berseragama lengakp ini, juga akan diberikan pembekalan lebih lanjut terhadap tugas-tugas mereka yang berada di bawah panduan dari Polisi Kehutanan. (tri)

28 September 2007

Sentani : CPA Hirosi Lakukan Penyemprotan, untuk mengantisipasi flu burung

(www.cenderawasihpos.com, Kamis 27 September 2007)
SENTANI - Untuk mengantisipasi penyebaran flu burung, puluhan anggota Club Pencinta Alam (CPA) Hirosi melakukan tindakan sanitasi dengan penyemprotan disinfektan kepada kadang-kadang ayam milik warga di sejumlah perumahan di Kabupaten Jayapura.Ketua CPA Hiroshi Marshal Suebu yang ditemui disela kegiatan di perumahan BTN Sereh mengungkapkan bahwa CPA Hirosi mempunyai program rutin untuk bakti lingkungan. Oleh karena itu bertepatan bulan Ramadhan ini, untuk mengantisipasi penyebaran flu burung yang terakhir dikabarkan tersebar di Tanjung Elmo, maka bekerjasama dengan pihak Dinas Peternakan, pihaknya melakukan sanitasi kadang dan pembersihan lingkungan warga.

Menurut Marshal, informasi terakhir flu burung kembali ditemukan di kawasan Tanjung Elmo. Mengingat warga di kota Sentani, khususnya di sejumlah perumahan ini banyak memelihara ayam, maka perlu ada tindakan antisipati menjaga kebersihan kadang. Kegiatan Bakti lingkungan ini, kemarin digelar di Perumahan BTN Teratai, BTN Polonia dan BTN Sereh.“Rencananya besok (hari ini) kami masih melakuan kegiatan serupa di BTN Furia dan perumahan warga lainnya,”jelas Marshal yang mengaku banyak anggota CPA Hirosi yang beragama muslim yang turut dalam kegiatan bakti lingkungan jelang ramadhan ini.(tri)

Biak : Nahkoda Kapal China Dijadikan Tersangka

(www.cenderawasihpos.com, Kamis 27 September 2007)
BIAK - Proses hukum terhadap kapal ikan asal China Piong Piong Hai 05099 yang ditangkap sekiar 40 mil laut sebelah timur laut Manokwari oleh KRI Taliwangsa terus berlanjut. Rencananya proses hukum akan dilaksanakan di Manokwari. Hal ini sebagaimana dikemukakan Komandan Gugus Keamanan Laut Armada Timur (Guskamlaarmatim) Laksamana Pertama TNI Sugeng Supriyanto kepada Cenderawasih Pos Rabu (26/9).Dikatakan, untuk proses penyidikan lebih lanjut akan diserahkan kepada Fasharkan TNI AL Manokwari. Mengenai perkembangan penyidikannya, Danguskamla mengatakan, KRI Taliwangsa saat ini masih melakukan penyelidikan dan peyidikan terhadap kapal yang ditangkap Senin (24/9) sore tersebut.”Prosesnya saat ini masih ditangani oleh KRI Taliwangsa dan dalam waktu dekat akan diserahkan ke Fasharkan untuk diproses lebih lanjut,”ungkapnya.Dari hasil penyelidikan, nahkoda kapal Shi Liang Han dan Kepala Kamar mesin (KKM) Chang Hai Bo kemungkinan besar akan ditetapkan sebagai tersangka. Kedua orang warga negara China tersebut akan dijerat dengan pasal berlapis sebab selain melakukan pelanggaran perikanan, nahkoda dan KKM juga diduga masuk ke dalam wilayah Indonesia secara tidak sah dan tanpa dilengkapi dokumen keimigrasian.

Selain akan dijerat dengan Undang-Undang Perikanan dan Keimigrasian, menurut Danguskamla, keduanya juga dapat dijerat dengan Undang-Undang Konservasi. Sebab dari hasil pemeriksaan yang dilakukan kapal tersebut disinyalir melakukan penangkapan penyu dan ikan hiu.”Barang bukti berupa penyu sebanyak 27 ekor dimana 15 diantaranya sudah mati dan diawetkan dibuang oleh para ABK akan ditangkap,”jelasnya.Terkait dengan penangkapan kapal ikan asing asal China di perairan Manokwari menurut Danguskamlaarmatim Sugeng Supriyanto selama bulan September 2007, TNI AL dalam hal ini Guskamlaarmatim telah memproses 6 buah kapal dimana 3 diantaranya merupakan kapal asing yaitu 2 dari China dan 1 dari Thailand. Selain kapal asing, TNI AL juga tengah memproses 2 kapal ikan Indonesia dan satu kapal barang yang juga berbendera Indonesia.(nat)

Jayapura : Pemprov Akan Kembangkan Ubi Jalar dan Sagu

(www.cenderawasihpos.com, Kamis 27 September 2007)
JAYAPURA-Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holticultura Provinsi Papua, Ir Leonardo A, Rumbarar mengatakan, untuk mensukseskan program Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua yakni menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang handal, maka ke depan Dinas Tanaman Pangan dan Holticultura Provinsi Papua akan mengembangkan makanan-makanan khas Papua yang mudah didapat dan mempunyai kadar protein dan vitamin yang tinggi, misalnya ubi jalar dan sagu, khusus untuk ubi jalar akan dikembangkan secara besar-besaran pada 2008, di bebebarapa daerah yang dirasakan cocok yakni di Pegunugan Tengah, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Keerom dan Merauke." Khusus untuk ubi jalar, kami akan mengembangkan bibit-bibit yang unggal, sehingga hasilnya benar-benar mengadung protein dan vitamin yang tinggi, disamping itu, kami akan mendatangkan mesin pengolahan ubi tersebut, sehingga bisa menghasilkan berbagai bentuk makanan, misalnya supermi, tepung dan minuman jus,"katanya.

Dijelaskan, yang akan dikembangkan adalah bibit ubi jalar lokal yang dinilai bagus dan ada juga bibit ubi jalar yang didatangan dari luar Papua, selanjutnya bibit-bit tersebut dibagikan kepada masyarakat di daerah-daerah yang tersebut di atas untuk dikelola, sehingga penyediaan protein dan vitamin dapat terpenuhi dengan baik.Khusus untuk sagu, pihaknya juga akan mengembangkannya untuk jenis makanan seperti tepung, kue, serta beberapa jenis makanan lainnya, agar penyediaan pangan lokal terpenuhi dengan melimpah, disamping itu juga untuk diekspor ke luar negeri, sehingga dapat mendatangkan pendapatan bagi masyarakat itu sendiri, serta pendapatan daerah." Sudah ada beberapa lokasi yang kami lihat cocok menjadi tenpat untuk mengembangkan sagu tersebut, misalnya di Kabupaten Jayapura, Keerom, Waropen serta Merauke, kami juga berharap saat program tersebut dilaksanakan di lapangan, masyarakat harus aktif untuk mendukung program tersebut,"ajaknya.(cak)