( Papua Pos, Jumat 15 September 2006 )
Seruan menangkap lebih banyak lagi cukong kayu ilegal diserukan oleh Wakil Presiden. Wakil Presiden Jusuf Kalla mengharapkan agar pihak kepolisian segera menangkap lebih banyak lagi pelaku pembalakan liar (illegal logging) yang kini buron di dalam negeri maupun luar negeri. Penangkapan terhadap pelaku pembalakan liar paling tidak, akan menghindarkan negara ini seperti Afrika, karena banyak areal kosongnya dibandingkan dengan jumlah pohonnya.
Memang seruan tersebut adalah seruan hati nurani kita juga. Bagaimana tidak? Hampir setiap tahun kita menyaksikan akibat dari kelakuan yang amat jahat tersebut. Mereka mencuri kayu dari hutan kita, lalu kemudian memperkaya diri sendiri. Akibatnya, masyarakat kemudian menderita akibat banjir, kerusakan ekologis, serta rusaknya gen tumbuhan di masa depan. Kelakuan para cukong kayu memang bagaikan lumpur hisap. Mereka tidak membiarkan satu pun kayu tegap berdiri. Mereka langsung berselera tinggi ketika menyaksikan pepohonan hijau dan lebat Mereka, ketika melihat lahan subur langsung mengasah alat pemotong.
Mereka tidak mau menunggu waktu. Hutan yang indah dan subur dibabat tuntas habis. Maka kelak, negeri kita benar-benar seperti di Afrika sana. Yang ada hanyalah lahan yang kering kerontang tak berguna lagi. Tak ada kehidupan yang bisa diharapkan di sana.
Mereka menggunakan jaringannya untuk merambah hutan di seantero negeri. Terbanglah melalui pesawat udara di atas Pulau Sumatera, Kalimantan dan Papua. Yang terlihat hanyalah lahan kosong kering kerontang pada sebagian besar wilayah yang sebelumnya amat subur. Semuanya karena kejahatan para pencuri kayu yang berlindung di balik cukong kayu.
Kejahatan ini sudah lama terjadi. Mereka pernah dilindungi oleh tangan kekuasaan. Kekuatan mereka dari uang dan pelicin yang mereka berikan. Maka dengan lihai keluarlah legalitas atas keberadaan mereka Dengan uang yang membanjir itu, para penguasa mengeluarkan secarik kertas untuk mengubah peruntukkan hutan. Mereka bersedia memanipulasi sebuah kebijakan karena mata mereka menghijau karena uang.
Demikian juga mereka bisa dengan mudah menipu sistem. Karena kemampuan melakukan kejahatan ini sudah amat luar biasa mahir, maka kebijakan bisa diselewengkan atas nama kebenaran padahal sesungguhnya tipu muslihat palsu. Di Kalimantan, seorang petinggi daerah terjerat kasus ini.
Ia mengubah hutan menjadi lahan sawit. Di atas kertas cukup bagus. Tetapi nyatanya, kayu bekas hutan dijual dan dijadikan barang dagangan. Seruan Wakil Presiden adalah tantangan kepada aparat kepolisian. Penangkapan seorang cukong kayu yang baru-baru ini ditangkap di luar negeri masih belum bisa membersihkan negeri ini dari kejahatan hitam. Dibutuhkan lebih banyak lagi tenaga dan kekuatan untuk menjadikan Indonesia bersih dari tantangan dan jemari para cukong.
Sungguh para cukong kayu ini benar-benar tidak malu. Mereka bagaikan manusia yang tak lagi punya martabat. Mereka tidak malu-malu melarikan diri. Mereka tidak lagi malu melihat dirinya tak lebih dari objek perburuan aparat.
Ini benar-benar menunjukkan betapa rendahnya martabat mereka. Bahkan keluarga mereka pun bernasib sama. Mereka secara bersama-sama banyak yang terlibat dalam kejahatan yang patut digolongkan sebagai kejahatan kepada seluruh masyarakat.
Aparat Kepolisian harus bekerja keras menangkap mereka. Mereka harus benar-benar dijebloskan ke dalam penjara yang ada di negeri ini. Kalau perlu, tanpa pandang bulu, mereka harus dihukum seberat-beratnya karena mereka tidak pernah memikirkan akibat dari perbuatannya. Mereka dengan sendirinya sudah menjerumuskan diri ke dalam kejahatan yang dengan sengaja mereka lakukan sendiri. Karena itu, kita semuanya harus menggalang seruan itu untuk menangkap cukong kayu. **
Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua
IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org
16 September 2006
Jakarta : Tangkapi Cukong Kayu
14 September 2006
Jayapura : Disnak Datangkan Sapi Bakalan dan Bibit
( Cenderawasih Pos, Rabu 13 September 2006 )
Dinas Peternakan (Disnak) Provinsi Papua terus memberikan perhatian terhadap sektor pemberdayaan ekonomi rakyat melalui berbagai bentuk program. Salah satunya program pengadaan sapi bibit dan sapi bakalan. Program ini didanai langsung oleh anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) dan anggaran pendapatan belanja negara (APBN).
Kepala Dinas Peternakan Provinsi Papua, drh Didik Radjasa, M.MT menjelaskan, pengadaan sapi bakalan yang dibiayai APBD berjumlah 130 ekor dan sapi bibit 80 ekor. Sedangkan pengadaan sapi bibit yang dibiayai APBN berjumlah 108 ekor dan sapi bakalan 94 ekor.
Diungkapkan, pengadaan sapi yang dibiayai APBD sudah tiba Senin (11/9) dan selanjutnya akan dikarantinakan dan diperiksa kesehatannya untuk kemudian disebarkan ke masyarakat. Sementara sapi yang dibiaya APBN sudah diserbarkan dua minggu lalu. "Baik sapi bakalan maupun sapi bibit disebarkan ke masing-masing petani. Untuk sapi bakalan akan diperlihara selama satu tahun kemudian dipotong, sedangkan sapi bibit dipelihara selama lima tahun, lalu modalnya dikembalikan. Artinya semua modal awal dikembalikan,"jelas Didik kepada Cenderawasih Pos, kemarin.
Menurutnya, program pengadaan sapi bibit dan sapi bakalan ini dilakukan setiap tahun anggaran dengan maksud memberdayakan para peternak, khususnya masyarakat yang ada di wilayah perkampungan. "Program ini merupakan pemberdayaan ekonomi kerakyatan, di mana masyarakat dilibatkan langsung untuk memelihara ternak, sementara hasilnya akan dibagi karena modal awalnya dikembalikan ke pemerintah,"tandasnya. (ito)
12 September 2006
Jayapura : Pemerintah Diminta Segera Bentuk Tim Gabungan, UntukMengatasi Pencemaran Lingkungan di Perbatasan Merauke PNG
( Cenderwasih Pos, Kamis 11 September 2006 )
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua diminta segera membentuk tim gabungan guna menindaklajuti aspirasi masyarakat yang berada di daerah perbatasan Merauke - PNG, mengingat beberapa bulan terkahir ini, perairan laut di sekitar daerah perbatasan itu telah tercemar limbah pertambangan yang diduga berasal dari negara tetetangga PNG.
"Untuk menindaklajuti aspirasi masyarakat terkait adanya pence-maran laut dari sungai di sekitar wilayah perbatasan Merauke - PNG di mana sangat meresahkan masyarakat yang rata-rata bermata pencaharian nelayan dari petani,"kata anggota Komisi D DPRP, Gerald Pahabol kepada Cenderawsih Pos baru-baru ini. Dijelaskan, akibat pencemaran limbah yang diduga pertambangan itu, telah banyak merugikan masyarakat, terutama masyarakat yang bermata pencaharian sebagai nelayan, "Masyarakat nelayan di sana sangat dirugikan dengan adanya pencemaran limbah hasil pertambangan itu, untuk itu langkah-langkah konkret harus segera diambil dengan melakukan pendekatan-pendekatan dengan pemerintah negara tetangga sehingga upaya-upaya penanggulangan pencemaran lingkungan itu dapat teratasi dengan baik, "ungkapnya.
Ditambahkan, mengingat aspirasi ini sangat mendesak maka pemerintah daerah hendaknya serius melihat persolan ini."Masalah ini cukup serius untuk itu, pemerintah hendaknya proaktif mengambil langkah-langkah penanganan dengan membentuk tim gabungan,"paparnya. (and)
Jayapura : Labi-Labi Moncong Babi Dilepasliarkan ke Habitat Aslinya di Papua
( Cenderawasih Pos, Senin 11 September 2006 )
Setelah menjalani masa penyesuaian selama sepuluh hari, sebanyak 1821 ekor dari 2862 ekor labi-labi moncong babi (Carettachelys insculpta) yang diterbangkan dari Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta menuju Timika tanggal 28 Agustus 2006 telah dilepasliarkan ke habitatnya di Timika, Papua, Sabtu, 9 September 2006. Informasi ini seperti disampaikan Ramdani SiraitCorporate Communications PT Freeport Indonesia dalam press releasenya kepada Cenderawasih Pos Minggu ( 10/9) kemarin.
Dikatakan, pemulangan dan pelepasliaran satwa langka asal Papua tersebut merupakan kerjasama antara Departemen Kehutanan, Jaringan Pusat Penyelamatan Satwa (JPPS) dan PT Freeport Indonesia. Acara pelepasliaran tersebut berlangsung di danau di dalam kawasan Pendidikan Konservasi dan Suksesi Alami Lahan Tailing, PT Freeport Indonesia.
Sebelum dikembalikan ke Papua, labi-labi tersebut direhabilitasi di PPS Yogyakarta dan Sukabumi selama sekitar 6-8 bulan dimana para ahli penyelamatan satwa di kedua PPS tersebut membantu pemulihan kemampuan mereka untuk bertahan hidup di habitat aslinya. "Labi-labi yang dipulangkan tersebut adalah satwa yang disita di sejumlah tempat, termasuk di bandara Juanda, Surabaya dan bandara Soekarno-Hatta setelah diselundupkan dari Papua," jelasnya.
Selama dalam perjalanan lewat udara dari Jakarta ke Timika dan berada dalam masa penyesuaian di Timika, 8,5 persen labi-labi tersebut mati. Sebanyak 69 ekor mati dalam perjalanan dari Jakarta ke Timika, dan 174 ekor lainnya mati dalam masa penyesuaian di Timika.
Menurut Koordinator Penanganan dan Penyaluran Satwa JPPS, Resit Sezor, jumlah tersebut dikategorikan rendah untuk kematian satwa selama masa transportasi dan penyesuaian karena tingkat toleransi untuk kematian satwa reptil dalam masa tersebut adalah 15 persen.
Tim terpadu yang terdiri dari perwakilan Badan Koordinasi Sumber Daya Alam (BKSDA) II Papua, JPPS dan PT Freeport Indonesia telah bekerja ekstra keras untuk menangani perawatan satwa dalam masa penyesuaian. Tim mengelompokkan seluruh labi-labi berdasarkan kondisi kesehatan ke dalam 5 kelompok dari A sampai E. Tim kemudian memutuskan untuk melepasliarkan Labi-labi yang berada pada kategori A, B dan C setelah dilakukan perawatan medis ringan dan "tagging" berupa tali nilon yang dipasang pada karapas (tempurung) Labi-labi. Pemasangan "tagging" bertujuan untuk kegiatan pemantauan terhadap kemampuan bertahan hidup di habitatnya. Sedangkan Labi-labi pada kategori D dan E masih akan terus dirawat sampai kondisinya meningkat ke kategori yang lebih baik.
Sebelumnya pada hari Kamis 7 September, sebanyak 1821 ekor labi-labi telah dilepasliarkan di sepanjang aliran sungai Minajerwi, suatu kawasan yang berada di sebelah Timur areal PT Freeport Indonesia. "Sementara itu, sekitar 800 ekor lainnya saat ini masih menjalani proses pemulihan dan direncanakan akan dilepasliarkan di sepanjang aliran sungai Mawati yang juga berada di dekat areal PT Freeport Indonesia," terangnya.
Kawasan yang menjadi tempat pelepasliaran tersebut sebelumnya telah disurvei oleh tim terpadu yang terdiri dari Badan Koordinasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Papua II, JPPS dan PTFI. Tim terpadu juga melakukan sosialisasi dengan para penduduk di sekitar kawasan tersebut untuk bersama-sama menjaga kelestarian labi-labi tersebut setelah dilepasliarkan.
Pasca pelepasliaran tersebut, pihak JPPS berharap ada satu tim kerjasama antara LSM, Pemerintah dan PTFI untuk mengikuti perkembangan labi-labi tersebut agar dapat terjaga kelestariannya, terutama perkembangbiakannya. Resit juga menambahkan bahwa kerjasama tersebut dapat diikuti dengan kerjasama dalam penyelamatan satwa-satwa asli papua lainnya. (luc)
09 September 2006
Jayapura : Tim Pansus Freeport ke AS Dan Australia, Tak Tepat, Pieter Eli: Freeport Urusan Antara Negara, Bukan Provinsi
( Cenderawasih Pos, Jumat 08 September 2006 )
Rencana Tim Pansus Freeport DPRP ke New Orleans (USA) dan Australia guna menindaklanjuti aspirasi rakyat soal penutupan Freeport, terus menuai kritik. Kritik itu tidak hanya datang dari sesama anggota dewan sendiri, tetapi juga dari kalangan LSM.
Direktur Kontras Papua Pieter Ell, SH misalnya. Ia menilai rencana keberangkan Tim Pansus Freeport ke USA dan Australia itu kurang tepat, bahkan terkesan membuang-buang anggaran, karena tidak akan menyelesaian persoalan yang mengemuka selama ini.
Ia yang juga sebagai salah satu aktivis LSM yang terus memperhatikan seputar persoalan yang mengemuka di PT Freeport belakangan ini, menilai masalah Freeport adalah masalah urusan negara dengan negara. Bukan negara dengan provinsi, sehingga tidak tepat langsung mencapuri masalah peninjauan kontrak karya tersebut. "Jadi harus dipamahi dulu di sini, bahwa masalah Freeport adalah urusan negara dengan negara. Sehingga tidak tepat kalau Pansus DPRP akan berkunjung ke Amerika Serikat dan Australia karena itu hanya sia-sia," ujarnya kepada Cenderawasih Pos, kemarin.
Menurutnya, pembentukan Pansus untuk PT Freeport ini juga dilakukan oleh DPR RI, bahkan DPD RI. Sehingga ia menyarankan bahwa yang perlu dilakukan adalah koordinasi ke pemerintah pusat, karena masalah PT Freeport kontrak karyanya ditangangani atas nama negara.
"Kasus ini memang menarik perhatian masyarakat, tidak hanya di kalangan masyarakat Papua, namun Indonesia, bahkan dunia Internasional karena telah menimbulkan korban di masyarakat sipil dan aparat. Karenanya, persoalan ini harus dilihat baik dan tidak tepat jika DPRP yang ke sana. Itu hanya terkesan jalan-jalan," paparnya.
Dikatakan, jika Pansus DPRP tetap ngotot ke AS dan Australia, maka sebelum berangkat perlu ada penjelasan kepada masyarakat kegunaan kunjungan itu, dan sejauh mana dampaknya terhadap penyelesaian tuntutan masyarakat, juga akan seperti apa. Sementara anggaran yang digunakan ke AS dan Australia itu jumlahnya meliaran rupiah.
"Saya juga tahu pasti kalau DPR RI juga membentuk Pansus tentang persoalan yang terjadi di Freeport ini. Bahkan di DPD RI ikut membahas hal ini. Tapi solusi yang tepat sampai saat ini juga belum ada,' katanya.
Pengacara ternama di Papua ini juga mengatakan bahwa studi banding yang sering kali dilakukan legislatif termasuk DPRP, tidak pernah ada dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Tentang bagaimana azas mamfaatnya secara langsung, namun terkesan kurang transparan dan tidak ditindaklanjuti setelah kembali. Belum diketahui pasti berapa anggaran yang akan dihabiskan tim Pansus Freeport ke USA dan Australia, namun dari bocoran yang didapat Cenderawasih Pos anggaran yang akan digunakan Pansus DPRP untuk Freeport ke Australia dan AS itu jumlahnya sekitar Rp 5 miliar. (ito)
08 September 2006
Amerika : Teknologi Layar Terinspirasi Sayap Kupu-kupu
( Kompas, Kamis 07 September 2006 )
Sayap kupu-kupu yang menghasilkan warna-warna metalik menginspirasi para peneliti untuk mengembangkan material eksotik baru untuk semir rambut, kosmetik, bahkan layar datar. Selain itu, material yang dipakai mungkin lebih murah daripada bahan baku yang dipakai untuk membuat barang-barang tersebut selama ini.
Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa pewarnaan sayap kupu-kupu dihasilkan dari sisik kristal-kristal fotonik yang terbuat dari kitin, bahan polisakarisa yang juga ditemukan pada tubuh serangga dan hewan lainnya. Sisik-sisiknya hanya berukuran beberapa mikrometer dan tersusun di permukaan sayap layaknya susunan genteng di atap rumah.
Untuk pertama kalinya, tim peneliti gabungan dari AS dan Eropa berhasil mengukur struktur dan karakteristik optik kristal fotonik yang terbentuk pada sayap kupu-kupu jenis Cyanophrys remus. Kristal fotonik dapat mengatur pantulan cahaya ke arah tertentu dan mengatur frekuensinya sehingga menghasilkan warna-warna berbeda.
"Sayapnya menghasilkan warna yang sangat kaya," kata Lazlo Biro, ilmuwan material di Research Institute for Technical Physics and material Science di Budapest, Hungaria. Sayap kupu-kupu jantan berwarna biru gelap metalik saat menarik perhatian pasangannya dan berwarna hijau saat menyamar dari ancaman musuh.
Struktur kristal dapat diketahui dengan mengombinasikan bentuk sisik-sisiknya dari mikroskop elektron dan meneliti bagiamana sisik-sisiknya memantulkan cahaya. Para peneliti menemukan bahwa setiap sisiknya memiliki struktur sisi yang berbeda. Warna biru gelap metalik dihasilkan sisik-sisik yang memiliki kristal tunggal, sedangkan warna hijau dihasilkan kristal fotonik yang tersusun secara acak.
Struktur kristal yang tersusun acak ini mungkin sangat baik untuk ditiru karena dapat menghasilkan warna-warna berbeda kombinasi hijau, kuning, dan biru, tergantung orientasinya. Meskipun efek yang dihasilkan kupu-kupu C. remus di alam umumnya hanya hijau, tim peneliti telah menemukan bagaimana caranya menghasilkan warna merah.
"Dengan menyusun kristal di atas lengan mikroelektromekanik yang dapat diputar arahnya, struktur ini dapat digunakan pada layar datar," kata Biro. Dengan cara itulah, dapat dihasilkan piksel yang menghasilkan kombinasi warna merah, hijau, dan biru.
Struktur kristal seperti ini juga dapat diaplikasikan sebagai bahan kosmetik untuk menggantikan bahan logam yang dipakai sekarang. Tapi, untuk dikembangkan secara komersial, mungkin dibutuhkan waktu bertahun-tahun.
06 September 2006
Manca Negara : Amerika : Masih Banyak Dinosaurus yang Tersisa
( Kompas, Selasa 05 September 2006 )
Ini mungkin menjadi kabar baik bagi para pecinta dinosaurus karena sebagian reptil yang pernah hidup sejak jutaan tahun lalu itu mungkin masih ada yang tersisa. Tentu bukan dalam kondisi hidup, namun fosil spesies-spesies baru yang belum pernah ditemukan sebelumnya.
Peter Dodson dari Universitas Pennsylvania dan Steve Wang dari Swarthmore College memperkirakan bahwa jumlah genera yang belum ditemukan mencapai 71 persen dari total genera. Yang telah ditemukan baru sekitar 29 persennya saja.
"Ada kemungkinan besar anak-anak yang lahir sekarang bakal memiliki karir yang cemerlang dalam bidang paleontologi dinosaurus," ujar Dodson. Sebagai seorang profesor anatomi di Sekolah Kedokteran Hewan Penn dan profesor di Departemen Sains Kebumian dan Lingkungan, Dodson telah menghitung jumlah genera yang mungkin ada sejak 1990 dan masih diperbaiki sampai sekarang.
Perkiraan itu dibuat berdasarkan frekuensi penemuan, rata-rata 10 hingga 20 setiap tahunnya, dan temuan-temuan terakhir di China, Mongolia, dan Amerika Selatan. Ia memprediksi ada sekitar 1.850 genera yang akan ditemukan lagi. Sejauh ini baru 577 genera yang telah ditemukan. Perkiraan ini dilaporkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences.
Salah satu hambatan sulitnya ditemukan genera baru adalah peluang terjadinya fosil. Pembentukan fosil merupakan kejadian alam yang langka dan sekitar setengah dari genera yang pernah hidup mungkin tidak menyisakan fosil.
"Saya tidak bisa mengatakan bahwa prediksi ini tepat meskipun secara statistik menunjukkan demikian," ujarnya. Namun, ia berharap diskusi lebih mendalam perlu dilakukan untuk menyingkap keanekaragaman dinosaurus berdasarkan data-data temuan.
05 September 2006
Manca Negara : Australia : Crocodile Hunter Tewas Disengat Pari
( Kompas, Senin 04 September 2006 )
Steve Irwin (44) yang dikenal sebagai Crocodile Hunter ternyata harus mengakhiri hidupnya di laut. Ia akhirnya tewas setelah disengat duri ekor ikan pari dalam sebuah insiden saat membuat dokumentasi di sekitar Karang Penghalang Besar, Queensland, Australia, Senin (4/9).
Sebuah helikopter medis segera mendatangi lokasi saat para kru dokumentasi lainnya meminta bantuan. Namun, paramedis yang berusaha menyelamatkannya gagal. Kepolisian Queensland memastikan kematian tersebut dan pihak keluarga telah dihubungi.
"Benar bahwa Irwin tewas setelah disengat seekor ikan pari di Karang Batt sekitar Port Douglas pada pukul 11.00 waktu setempat (atau 08.00 WIB)," kata seorang polisi sebagaimana dikutip Kantor Berita Perancis (AFP). Ia meninggakan seorang istri dan dua anak, satu laki-laki dan satu perempuan masing-masing Bob (3) dan Bindi Sue (8).
Selama ini Irwin dikenal sebagai pria pemberani yang sering muncul di program televisi The Crocodile Hunter yang mengudara sejak 1992 dan telah disiarkan di jaringan Discovery Channel ke seluruh dunia. Irwin sering mempertujukkan kemampuannya menaklukkan hewan-hewan berbahaya, seperti buaya, ular, dan laba-laba berbisa.
Ia juga sangat giat mengkampanyekan pelestarian lingkungan asli Australia. Bersama istrinya Terri, ia membangun taman reptil di Queensland yang sekarang berkembang menjadi Kebun Binatang Australia.
Namun, ia menerima banyak kritikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada Januari 2004, ia dikritik karena membawa anaknya yang masih berusia 1 tahun ke kandang buaya. Ia juga dituduh mengganggu penguin, seekor anjing laut, dan paus bongkok di Perairan Antartika karena terlalu dekat saat membuat dokumentasi.
Meskipun demikian, ia juga dibenci para pemburu liar karena menentang wisata berburu. Karena itulah, pemerintah federal akhirnya batal mengadakan safari perburuan yang dijadikan wisata mahal di bagian utara Australia. "Membunuh seekor hewan demi trofi berburu akan berdampak buruk pada pariwisata," ujarnya dalam sebuah acara televisi.
Kepergiannya ini merupakan kehilangan besar bagi Kebun Binatang Australia serta para penggemarnya di seluruh dunia. Keberanian dan kekocakan Irwin akan selalu dikenang lewat film-film dokumentasi kehidupan liar yang mengajarkan kita untuk bersahabat dengan alam.
04 September 2006
Jayapura : Lurah Hedam Surati Penambang Material
( Cenderawasih Pos, Selasa 03 September 2006 )
Untuk menindaklanjuti surat edaran dari Walikota Jayapura Drs MR Kambu, M.Si kepada setiap kepala kelurahan se-Kota Jayapura agar dapat memperhatikan kebersihan lingkungannya termasuk saluran air yang ada, langsung dijalankan oleh Kepala Kelurahan Hedam, Distrik Abepura, Max Olua, S.Sos.
Bahkan dirinya melayangkan surat kepada para penambang material bangunan yang ada di wilayahnya, salah satunya adalah PT. Flora Ria Adi Kencana agar pengembang bersangkutan dalam menjalankan aktivitasnya tidak merusak lingkungan, mengingat kondisi di lapangan, setiap kali hujan maka banyak material bangunan seperti, pasir, dan kerikil memenuhi saluran yang ada, terutama di sepanjang jalan yang ada di depan Asrama Mahasiswa Manokwari (Acemo) Padang Bulan.
"Setiap kali hujan, maka pasti ada pasir bercampur batu serta sendimen lainnya dalam saluran air, makanya saya menyurati yang bersangkutan agar memperhatikan masalah ini,"ujarnya kepada Cenderawasih Pos di ruang kerjanya Senin (2/9) kemarin.
Sementara itu, Pimpinan PT. Flora Ria Adi Kencana, Rasli Marey mengatakan, pihaknya telah melakukan teknik penambangan material secara baik, salah satunya mennyediakan sebuah areal penahan material yang longsor.
"Kami telah buat areal penahan material yang longsor, namun memang hal itu tidak sepenuhnya menahan material yang longsor,"paparnya. Dikatakannya, tidak semuanya aktivitas yang dilakukan pihaknya membawa dampak bagi warga. Untuk dirinya mengajak setiap penambang material, maupun pengembang bangunan yang berskala besar di wilayah Kelurahan Hedam untuk memberikan tanggung jawab dalam memeliharan lingkungannya, secara bersama-sama. (nls)
Jayapura : Menkop Bantu 1,4 Juta Pohon Kakao
( Cenderawasih Pos, Selasa 03 September 2006 )
Kepala Dinas Perindustrian ,dan Perdagangan Kabupaten Jayapura Drs. Samuel Padollo, MM mengatakan, dari hasil pertemuan Pemkab Jayapura dalam hal ini Tim Ekonomi Kabupaten Jayapura dengan Menteri Perkoperasian dan Usaha Kecil Menengah (Menkop) RI, akhirnya Menkop menyetujui bantuan sebanyak 1,4 juta pohon kakao dari 2 juta bibit permohonan yang diajukan.
"Untuk tahap pertama ini, Menkop RI memang menyetujui 1,4 juta pohon kakao yang akan disalurkan lewat 7 koperasi yang ada,"tutur Padollo saat ditemui Cenderawasih Pos di Gunung Merah, Senin (2/10) kemarin.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa keputusan bantuan dari Menkop RI kepada pemerintah Kabupaten Jayapura ini sudah ditetapkan dalam SK Menteri Perkoperasian No 29/Kep/Dep/ VIH/2006 tentang Penetapan Tahap Pertama Koperasi Penerima dan Pengelola Dana Bantuan Perkuatan Untuk Pengembangan Usaha Budidaya Kakao. "Jadi kalau tahap pertama ini berhasil, masih ada harapan untuk mendapatkan bantuan tahap berikutnya,"jelas Padollo.
Secara keseluruhan sesuai SK Menkop tersebut, bantuan berupa dana segar yang akan diberikan dari Menkop RI ini sebesar Rp 5,6 Miliar yang dialokasikan untuk dikelola oleh 7 koperasi yang ada. "Untuk bantuan dari Menkop ini tinggal kita realisasikan saja, namun kita juga masih menunggu petunjuk pelaksanaan maupun petunjuk teknis di lapangan,"jelas Padollo. (tri)
03 September 2006
Jayapura : Pengadilan PNG Denda 17 Nelayan Indonesia 3.000 Kina
( Media Indonesia, Sabtu 02 September 2006 )
Pengadilan Papua Nugini (PNG) di Vanimo, Kamis (31/8), telah menjatuhi hukuman denda 3.000 kina (mata uang PNG) kepada 17 nelayan Indonesia asal Jayapura, Papua yang terbukti melakukan penangkapan ikan secara ilegal di perairan negara tetangga itu.Selain melakukan penangkapan ikan secara ilegal, para nelayan tradisional itu juga tidak memiliki dokumen yang sah.Konsul RI di Vanimo, Ign. Kristanyo Hardoyo, Jumat sore, mengakui, 17 nelayan Indonesia selain dijatuhi denda 3.000 kina, keempat perahu mereka juga disita."Bila mereka tidak sanggup membayar denda maka ke-17 nelayan itu akan dipenjara selama enam bulan di rumah tahanan Vanimo," kata Kristanyo.Menurut dia, jawaban kesediaan para nelayan membayar denda itu paling lama ditunggu sampai Sabtu (2/9) karena pengadilan PNG ingin mengetahui apakah para nelayan itu sanggup membayar.Para nelayan yang bermukim di kawasan Dok V dan Hamadi Jayapura itu ditangkap patroli Angkatan Laut PNG, tgl 26 Agustus 2006 lalu, dengan menggunakan empat kapal motor. Satu Kina berkisar antara Rp2.500 hingga Rp3.000.
Biak : Daging Ikan Tuna, Diuji ke Jepang
( Papua Pos, Senin 02 Oktober 2006 )
Pengusaha di Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua, saat ini masih menunggu hasil uji coba ekspor pengiriman sampel daging ikan tuna (Sasimi) ke negara Jepang. Kepala Unit Layanan Informasi Bisnis Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Biak Numfor Musa Fonataba di Biak,Minggu, mengatakan,jika hasil ujicoba ekspor daging ikan tuna ke Jepang berhasil, maka kegiatan bisnis sektor perikanan ini mempunyai prospek perekonomian yang bagus buat nelayan di Kabupaten Biak Numfor.
"Dengan terbukanya pasar ekspor daging ikan tuna ke Jepang, maka peran nelayan lokal menjadi sentral produksi untuk memenuhi permintaan kebutuhan negara pembeli,"katanya.Pasar ekspor daging ikan tuna yang dihasilkan nelayan Biak, menurut pengakuan Fonataba, hingga saat ini sangat terbuka, tinggal sekarang apakah para nelayan mampu mensuplai kebutuhan untuk kegiatan ekspor atau tidak.
"Sambil menantikan hasil pengujian sampel, kami terus menginformasikan kepada nelayan yang beroperasi di Biak untuk dapat menangkap peluang ekspor ini ke Jepang,"katanya.Fonataba mengakui, selain daging ikan tuna. sejumlah pengusaha dari Biak juga sedang melakukan ujicoba percobaan dengan komoditas ikan hias campuran dan loby dengan negara tujuan Singapura. **