(www.cenderawasihpos.com, 19-07-2008)
JAKARTA - Pelaku illegal fishing di Indonesia tidak juga jera. Meski berkali-kali dipergoki aparat keamanan Indonesia, kapal-kapal asing tanpa izin itu tetap nekat mencuri ikan di laut RI. Kapal pengawas Departemen Kelautan dan Perikanan menangkap dua kapal Vietnam dan tujuh kapal Thailand tanpa dokumen di perairan zona ekonomi eksklusif (ZEE) perairan Laut China Selatan.
"Dengan beroperasinya kesembilan kapal asing yang mencuri ikan itu, negara diperkirakan rugi Rp 21,5 miliar,'' kata Dirjen Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (P2SDKP) Aji Sularso kepada wartawan di Jakarta kemarin (18/07).
Kini awak kapal kesembilan kapal asing itu disidangkan di peradilan ad hock perikanan di Pelabuhan Sabang Mawang, Ranai, Kepulauan Riau, sesuai dengan ketentuan yang berlaku. ''Prosesnya akan dipercepat supaya kerugian negara segera kembali. Misalnya, kalau lama, ikan akan membusuk,'' katanya.
Menurut Aji, ada beberapa modus operandi yang dilakukan para pelaku illegal fishing . Misalnya, memalsukan dokumen izin, menggunakan alat tangkap di luar peraturan yang ditetapkan, dan melanggar batas fishing area yang diperbolehkan.
Awak kapal asing itu juga memanipulasi persyaratan (DC, bill of sale), berpidah dari kapal ke kapal lain (transshipment) di tengah laut, tidak pernah melapor ke pelabuhan perikanan setempat, dan menggunakan dua bendera (double flagging). ''Kalau tim patroli datang, mereka segera mengganti bendera dengan Merah Putih, seakan-akan itu kapal kita,'' kata mantan kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) DKP itu.
Ada beberapa perairan favorit yang selama ini dijadikan tempat illegal fishing nelayan asing. Misalnya, kawasan zona ekonomi eksklusif (ZEE), laut teritorial, Laut Natuna, Laut Arafura, dan utara Sulawesi Utara. Illegal fishing di Laut Natuna umumnya dilakukan kapal-kapal Taiwan, Vietnam, Thailand, dan Malaysia. Di utara Sulawesi Utara oleh kapal-kapal Philipina. Sedangkan di Laut Arafura oleh kapal Thailand, RRC, dan Taiwan.
''Mereka melakukan illegal fishing agar industri pengolahan di negara yang bersangkutan dapat bertahan. Wilayah tangkapan mereka juga makin habis. Di sisi lain, ada faktor terbukanya laut Indonesia, pengawasan yang lemah, dan terjadinya perbedaan harga ikan memotivasi pelanggaran,'' papar Aji.
Pria berkacamata itu memaparkan, berdasarkan estimasi perhitungan organisasi pangan dan pertanian (FAO), negara dirugikan sekitar Rp 30 triliun per tahun. Selain itu, terjadi over fishing dan overcapacity, rusaknya kelestarian sumber daya ikan, stok ikan menurun, dan melemahnya daya saing perusahaan Indonesia. ''Nelayan Indonesia juga semakin termarginalkan. Tangkapan per unit usaha nelayan dan perusahaan nasional juga menurun. Bahkan, usaha perikanan Indonesia menjadi sangat tidak kondusif," katanya.
Hingga pertengahan Juli 2008, sejak dilakukan operasi sapu bersih awal Desember 2007, kini DKP berhasil menangkap 167 kapal yang melakukan illegal fishing. Itu berarti hampir mendekati jumlah tangkapan pada 2007 yang mencapai 184 kapal. ''Total potensi kerugian negara yang terselamatkan Rp 398,829 miliar,'' jelasnya.(rdl/iro)
Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua
IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org
20 July 2008
Nasional : RI Tangkap Sembilan Kapal Asing, Curi Ikan Senilai Rp 21,5 Miliar
18 July 2008
Keerom : Penyaluran Bantuan Benih Ikan Akan Dituntaskan
(www.cenderawasihpos.com, 18-07-2008)
KEEROM-Penyaluran benih ikan air tawar bantuan dari Pemprov.Papua yang disalurkan Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan Kabupaten Keerom sebanyak 170 ribu ekor belum terserap 100 persen.
Kepala Bidang Perikanan Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan Kabupaten Keerom Mince Kadang mengatakan sejak didistribusikan bulan lalu, baru 34 ribu ekor benih yang didistribusikan."Yang belum tersaluarkan sebanyak 135 ribu ekor dan target kami bulan Agustus penyalurannya sudah tuntas dan akan kami bagikan untuk kelompok yang ada di Distrik Skamto sesuai dengan permintaan peemrintah provinsi,"terangntyaa saat dihubungi Cenderawasih Pos, Kamis (17/7).
Penyaluran benih ikan air tawar kepada kelompok penerima menurut Mince Kadang terkendala penyiapan lokasi. Kendala lain yang dihadapi yaitu adanya kekosongan stok benih dan benih yang tersedia juga masih kecil sehingga belum siap untuk disalurkan.
"Saat ini telah masuk musim hujan. Jadi setelah semua lokasi di Distrik Skamto telah siap maka ditargetkan pada Agustus mendatang sisa benih sebanyak 135 ribu tersebut akan langsung disalurkan kepada para petani ikan,"lanjutnya.
Disinggung mengenai penyaluran 34 ribu benih ikan, Mince Kadang mengatakan benih tersebut telah disalurkan kepada petani ikan yang berada di wilayah Arso 8 sebanyak 3 kelompok dan Arso 3 distrik Skamto."Diharapkan bantuan benih ikan air tawar ini, bisa membantu petani ikan dalam meningkatak perekonomian ekonomi keluarga dan akan kami pantau perkembangannya,"tambahnya. (lie)
Keerom : Penyaluran Bantuan Benih Ikan Akan Dituntaskan
(www.cenderawasihpos.com, 18-07-2008)
KEEROM-Tanggapan miring dari masyarakat yang mengatakan bahwa lahan percetakan padi yang telah dikerjakan petani di Arso 5, Distrik Skanto, Kabupaten Keerom akan dialihkan ke lokasi lain di Kabupaten Keerom, dibantah Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan Kabupaten Keerom, Roberth Purwoko.
"Hal itu tidak benar, tetapi pemerintah justru mencari areal baru. Sebab tahun 2007 melalui APBN, pemerintah pusat meluncurkan program untuk percetakan sawah seluas 100 hektar. Tahun ini, pemerintah pusat kembali menambah program percetakan sawah di Keerom, dengan luasan 100 Ha. Untuk itu kami harus mencari lahan baru dan telah menemukan di Pir 4, Kampung Wonorejo, Distrik Arso,"jelasnya saat ditemui Cenderawasih Pos di ruang kerjanya, Jumat (18/7).
Dikatakan, lahan yang ada di Pir 4 sangatlah efesien untuk persawahan. Sebab, selain hamparan lahan melebih permintaan dari pusat, lokasi tersebut juga tidak mengalami kendala dalam hal pengairan. "Di lokasi tersebut terdapat sungai yang bisa digunakan untuk mengairi sawah yang akan dibuat, baik pada musim hujan maupun musim kemarau,"ungkapnya.
Mengenai masalah pengairan, Purwoko mengatakan telah berkordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Keerom, dan Bappeda Kabupaten Keerom untuk pembangunan irigasi yang direncanakan tahun 2009. "Nantinya dalam proses penanaman padi, setiap hektar sawah akan ditanam 40 kg benih padi. Lahan itu nantinya dikelola oleh 4 kelompok dimana setiap kelompok terdiri dari 25 kepala keluarga,"tambahnya.(nls)
16 July 2008
Manca Negara : Tasmania : Setan Tasmania Lawan Kanker dengan Seks
(www.kompas.com, 15-08-2008)
TASMANIA, SELASA - Selama beberapa tahun kelangsungan hidup setan Tasmania (tasmanian devil) terancam serangan penyakit kanker yang mematikan. Penyebabnya tidak diketahui dan para peneliti terus berupaya mencegah dari kepunahan.
Seperti satwa khas Australia lainnya, hewan yang memiliki nama spesies Sarcophilus harrisii juga jenis marsupial. Hewan betina memiliki kantung di perutnya untuk menjaga dan menyusui anaknya yag baru lahir. Saat ini setan Tasmania hanya hidup di Tasmania, namun bukti fosil menunjukkan bahwa hewan tersebut pernah hidup di daratan Australia.
Selain kantung, setan Tasmania juga memiliki ciri khas rambut hitam yang lebat sekujur tubuhnya. Perilakunya juga khas dengan mengeluarkan gas berbau tajam untuk melawan musuhnya, suara yang melengking, dan geretan gigi yang menakutkan saat melumat mangsanya.
Sejak 1800-an, para pendatang memburu hewan tersebut karena menyerang ternak. Saat ini bukan manusia yang menjadi ancaman utama, melainkan tumor muka yang ganas. Penyakit tersebut menular melalui gigitan. Biasanya menyerang hewan berusia 2 tahun dan dapat menyebabkan kematian dalam hitungan bulan.
Sebelum penyakit tersebut mewabah, usia rata-rata dalam populasi di atas 3 tahun. Namun, saat ini hewan yang matang secara seksual di bawah setahun naik menjadi 13-83 persen. Hal tersebut merupakan hasil pengukuran yang dilakukan Menna Jones dan para peneliti lainnya dari Universitas Tasmania di empat titik populasi.
Para peneliti menduga perubahan penyebaran populasi dan penurunan kompetisi untuk mendapat makanan mendorong hewan-hewan yang masih muda untuk bereproduksi sebelum waktunya. Perkembangbiakan yang lebih awal mungkin solusi yang dikembangkan populasi setan Tasmania untuk beradaptasi terhadap serangan kanker. Mamalia khas Pulau Tasmania itu melawannya dengan mengubah strategi seksualnya untuk menghadapi situasi tersebut.
Kanker yang menyerang mulut, muka, dan leher pertama kali dilaporkan pada tahun 1996 di salah satu pusat populasi setan Tasmania. Pada 2007, penyakit tersebut menyebar ke lebih dari setengah sebaran populasinya. Akibat penyakit tersebut, populasinya menurun hampir 89 persen.WAH Sumber : LIVESCIENCE
15 July 2008
Nasional : Negara Berkembang di Khatulistiwa Rawan Terkena Dampak Perubahan Iklim
(www.mediaindonesia.com, 14-07-2008)
DEPOK--MI: Ketua Dewan Pembina Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati), Ismid Hadad mengatakan, rakyat miskin negara-negara berkembang yang terletak di Khatulistiwa paling rawan terkena dampak perubahan iklim.
"Dampak perubahan iklim tersebut sering berakibat pada migrasi massal dan potensi konflik sosial antardaerah dan antarbangsa," katanya dalam seminar bertema "Tantangan dan Peluang Global Warming Bagi Lingkungan dan Pembangunan Indonesia", di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia (FEUI), di Depok, Senin.
Ia mengatakan, kenaikan suhu bumi karena panas udara terkurung konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) dari 220 ppm CO2 sebelum zaman revolusi industri (1880-an) menjadi 430 ppm CO2 equivalen pada tahun 2000, dan menuju ke 550 ppm pada 2035 bahkan bisa menjadi 750 ppm CO2, jika pola pembangunan tetap business as usual tanpa upaya mitigasi perubahan iklim.
Kenaikan konsentrasi GRK, kata dia, harus bisa dihentikan pada tingkat 450-550 ppm CO2, karena jika tidak akan berdampak pada terjadinya banjir dan kekeringan silih berganti, gagal panen, kebakaran hutan, degradasi ekosistem, species punah, berjangkitnya penyakit malaria, malnutrisi dan berbagai penyakit lainnya.
"Kita harus mulai dari sekarang mengantsipasi kejadian itu, karena jika tidak bumi akan seperti neraka yang tidak nyaman untuk dihuni," katanya.
Menurut dia, dalam 50 tahun mendatang suhu iklim global rata-rata naik 2-3 derajat celsius yang akan berdampak pada mencairnya "glaciers" dan lapisan salju, naiknya permukaan air laut, curah hujan berubah, pola iklim regional bergeser, berkurangnya pasokan air, berubahnya pola pertanian, tenggelamnya pantai dataran rendah dan pulau-pulau kecil, dan sebagainya.
Lebih lanjut Ismid Hadad mengatakan, pengurangan CO2 harus dicapai dalam suatu kerangka waktu yang memungkinkan ekosistem beradaptasi secara alamiah dengan perubahan iklim, yang memberi kepastian bahwa produksi pangan tidak terganggu, dan yang memungkinkan pembangunan ekonomi berlangsung secara berkelanjutan.
Dikatakannya bahwa prinsip "Common but Differentiated Responsibilities" antara negara maju dan negar berkembang dalam memikul beban dan dampak perubahan iklim dibedakan kewajiban negara maju (Annex I Parties), dan negara berkembang (Non-Annex).
"Negara Annex I harus mengurangi emisi GRK kembali ke tingkat emisi 1990, sedangkan negara non-annex tidak dibebani kewajiban tersebut," katanya.
Selain itu, kata dia, diperlukan prinsip "right to development" agar tiap bangsa dan tiap generasi mempunyai hak untuk mewarisi lingkungan yang bersih dan membangun serta meningkatkan kesejahteraan masing-masing.(Ant/OL-01)
12 July 2008
Yapen : Pemkab Yapen dan Deptan Kembangkan Kopi dan Cacao
(www.cenderawasihpos.com, 11-07-2008)
JAYAPURA- Kendati tidak memiliki potensi tambang seperti daerah lainnya di Papua, Kabupaten Kepulauan Yapen (dulunya Serui) bukan berarti daerah ini miskin akan potensi alam. Di bidang pertanian, daerah ini ternyata memiliki potensi yang luar biasa, sehingga Departemen Pertanian (Deptan) akan menjadikan daerah ini sebagai proyek percontohan untuk budidaya Kopi dan Cacao.
"Kepulauan Yapen sekarang ini sedang mengembangkan komoditas kopi dan cacao," ungkap Bupati Kepaualaun Yapen Soleman D. Betawi kepada Cenderawasih Pos kemarin. Ia mengatakan bahwa atas saran menteri pertanian, ia melakukan studi ke Vietnam untuk mempelajari tentang Kopi dan Cacao. "Saya baru pulang dari Vietnam bersama beberapa orang dari delegasi Indonesia, pak Menteri suruh saya ke sana untuk studi kopi dan cacao," ungkapnya.
Ia melakukan hal itu karena kedepannya potensi pertanian khususnya kopi dan cacaio di Yepan sangat besar tak heran pula jika kemudian Departemen Pertanian menjadikan Yapen sebagai proyek percontohan untuk komoditas kopi dan cacao. "Mereka memilih kita karena melihat perencanaan kita cukup bagus, dan kita hanya menanam bibit yang ada sertivikasi dari Departemen pertanian," katanya.
Terkait dengan pelaksanaan pilot proyek itu, Pemkab Yapen telah melakukan kerjasama dengan dengan sejumlah lembaga antara lain UNIPA Manokwari, IPB Bogor, serta lembaga riset lainnya. "Ini semua kita lakukan supaya program ini semuanya berjalan bagus," ujarnya.
Sehingga apa yang kerap ditakutkan oleh petani kopi dan cacao yakni hama penggerek batang (PBK) tidak akan masuk ke Yapen tentunya melalui penggunaan bibit yang baik dan disertivikasi. "Kami konsern di komoditas ini karena peluang kopi dan kakao ini sangat besar tinggal bagaimana kita kerja saja," katanya.(ta)
11 July 2008
Tips & Triks : Antara Rakhmat, Terong, dan Telur Ayam
(www.tempointeraktif.com, 10-07-2008)
TEMPO Interaktif, Jakarta:
- “Bisa dibilang saya menang gara-gara osmosis.” Kalimat itu meluncur dari mulut Rakhmat Fauzi, 30 tahun. Guru IPA di Sekolah Menengah Pertama Negeri 14 Depok, Jawa Barat, ini menang dalam Lomba Kreativitas Ilmiah Guru Tingkat SMP atau Sederajat tahun lalu berkat inovasi media praktikum osmosis dari buah terong.
Selasa malam lalu, namanya kembali diumumkan sebagai pemenang, lagi-lagi berkat pendalamannya terhadap media praktikum osmosis. Tahun ini ia menawarkan membran telur ayam kepada siswa untuk bisa memahami konsep perpindahan air dari yang konsentrasinya tinggi (encer) ke yang konsentrasinya lebih rendah (lebih pekat) menembus lapisan membran yang semipermiabel itu dengan lebih baik.
Fenomena osmosis, Rakhmat menerangkan, banyak terjadi dalam kehidupan. Mulai dari pengangkutan air dan garam mineral dari tanah ke daun di pucuk pohon tinggi sampai kulit yang berkerut-kerut setelah kita mandi-mandi di laut.
Rakhmat menjelaskan, selama ini praktikum osmosis di sekolah hanya mengenal kentang sebagai medianya. Masalahnya, dia menambahkan, banyak kekurangan pada jenis buah sayur yang satu itu, di antaranya waktu pengamatan yang terlalu lama (buku keluaran Departemen Pendidikan Nasional ada yang menetapkannya sampai 24 jam).
“Datanya juga sangat subyektif karena berdasarkan kekuatan kentang,” kata Rakhmat. Kentang yang jadi lebih lunak ketika direndam dalam air biasa atau mengerut dalam larutan air garam memang memastikan terjadinya osmosis, “Tapi kan tiap orang punya kekuatan yang berbeda untuk bisa merasakannya.”
Sarjana magister tamatan Program Studi Biologi Universitas Indonesia itu lalu menemukan media membran putih yang biasa menempel di bagian dalam cangkang telur ketika sedang menyantap sebutir telur asin. Saat itu ia berpikir bahwa pembuatan telur itu juga melibatkan proses osmosis. “Saya mencari jawaban apa yang menyebabkannya dan mendapati membran itu,” katanya.
Temuannya itu ditularkan ke murid-muridnya di kelas VIII SMPN 14 Depok lewat praktikum tandingan terhadap yang menggunakan media kentang. Membran telur diikatkannya sebagai penutup tabung reaksi berisi satu di antara dua jenis larutan: encer atau lebih pekat. Tabung lalu direndam dalam larutan lawannya.
Sifat eksperimen tandingan itu yang jauh lebih singkat, hanya 12-15 menit, dan mampu mengukur proses osmosis yang terjadi lewat kenaikan atau penurunan kolom air dalam tabung reaksi, terbukti secara statistik bisa memperbaiki nilai praktikum dan pemahaman anak muridnya. “Yang ini (membran telur) memang lebih spektakuler,” kata Rakhmat membandingkannya dengan inovasi menggunakan terong.
Jadilah kata osmosis ibarat mantra mujarab untuk ayah seorang anak balita itu. Atas prestasinya dalam lomba tahun ini, Rakhmat berhak atas hadiah uang tunai Rp 8 juta dan asuransi senilai Rp 10 juta dari AJB Bumiputera 1912. Ia berhasil mengalahkan empat guru finalis lainnya dari Banjarnegara, Jawa Tengah; Gowa, Sulawesi Selatan; Ciracas, Jakarta Timur; dan Jombang, Jawa Timur.
Yayuk Rahayuningsih, peneliti senior di Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, anggota dewan juri, menilai kreasi membran telur ayam sebagai media praktikum osmosis untuk meningkatkan hasil belajar siswa yang diajukan Rakhmat unggul dalam hal orisinalitas. “Bahan-bahan yang digunakan juga mudah didapat, murah, dan yang juga penting data-datanya terukur,” katanya.
Tambahan data statistik peningkatan hasil belajar siswa berkat inovasinya itu juga berhasil memikat Yayuk dan juri lainnya. “Mungkin karena ia satu-satunya peserta yang memiliki latar belakang (pendidikan) master sehingga laporannya lengkap dan sistematis,” Yayuk berkomentar.
l wuragil
Manca Negara : Daftar Situs Warisan Dunia Tambah 8 Kawasan
(www.kompas.com, 10-07-2008)
JAKARTA, KAMIS - Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) menetapkan delapan daerah baru yang masuk dalam daftar situs warisan dunia (world heritage list). Kedelapan situs itu dinilai sangat berarti bagi kemanusiaan, tapi dibutuhkan proteksi yang kuat agar tetap bertahan.
Situs-situs itu adalah Kepulauan Socotra di Yaman yang dikenal sebagai Galapagos di Samudra India. Di kawasan tersebut terdapat 825 spesies tumbuh-tumbuhan dengan 37 persennya hanya ditemukan di sana. Sekitar 90 persen reptil juga endemik kawasan tersebut. Kehidupan lautnya juga beragam dengan 253 jenis karang, 730 jenis ikan karang, dan 300 jenis kepiting, lobster, dan udang. Socotra saat ini sudah menjadi kawasan dilindungi.
Kawasan lainnya adalah Lembah Fosil Joggins di Kanada. Kawasan tersebut juga setara dengan Galapagos. Di tempat ini dapat mempelajari kehidupan pada zaman purba sekitar 300 juta tahun lalu, dan ditemukan banyak sekali fosil reptil dari umur yang tertua.
Pulau Surtsey di Islandia Selatan merupakan pulau yang terbentuk saat terjadi letusan gunung berapi pada tahun 1963-1967. Kehidupan yang terbentuk di pulau tersebut sangat kaya dan unik dengan beragam spesies tumbuh-tumbuhan dan hewan.
Stepa atau padang semak yang masih asli di Saryarka, Kazakhstan, juga termasuk. Di wilayah tersebut terdapat danau yang menyediakan sumber air bagi 16 juta burung migrasi dan ratusan ribu burung air. Sarayarka juga habitat antelop saiga (Saiga tatanica) yang sudah terancam punah.
Lokasi yang tak kalah menarik adalah Biosfer Kupu-kupu Raja Mariposa monarca. Kawasan tersebut merupakan habitat kupu-kupu raja saat melakukan migrasi pada musim dingin.
Area tektonik Sardona di Swis juga terpilih karena nilai geologisnya. Di kawasan tersebut terdapat Glarus Overthrust, lapisan-lapisan batuan dari zaman ke zaman yang menggambarkan proses pembentukan gunung berapi.
Taman Nasional Gunung Sangingshan (China) terpilih karena kecantikannya. Di sana terdapat batu-batuan granit yang berrdiri tegak dan dapat dinikmati keindahannya sepanjang mata memandang.
Laguna di Kaledonia Baru terpilih karena kaya akan ekosistem karang. Keragamannya bisa dibandingkan dengan gugusan karang Great Barrier Reef di Australia. "Kedelapan situs budaya yang menarik perhatian ini adalah di antara tempat terbaik di dunia," ujar David Sheppard, kepala program kawasan dilindungi dari IUCN (International Union for Conservation of Nature), yang mengusulkannya. Dengan tambahan 8 tempat, daftar warisan dunia kini menjadi 878 lokasi, terdiri dari 679 situs budaya, 174 situs alam, dan 25 situs campuran keduanya.
Daftar 8 situs baru dalam Daftar Warisan Dunia:
1. Lembah Fosil Joggins (Kanada)
2. Taman Nasional Gunung Sangingshan (China)
3. Laguna Kaledonia Baru (Perancis)
4. Surtsey (Islandia)
5. Saryarka (Kazakhstan)
6. Biosfer Kupu-kupu Raja (Meksiko)
7. Arena Tektonik Sardona (Swis)
8. Kepulauan Socotra (Yaman)
08 July 2008
Nasional : Katak Tanpa Paru-paru di Kalimantan Berhasil Didokumentasikan
(www.kompas.com, 11-07-2008)
PONTIANAK, SELASA - Katak langka tanpa paru-paru yang hidup di hutan Kalimantan berhasil didokumentasikan di Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya, Kalimantan Barat. Spesies bernama Barbourula kalimantanensis yang memiliki habitat asli di Indonesia, Brasil, Filipina ini pernah dinyatakan punah pada 1978.
Namun, beberapa waktu yang lalu katak tersebut kembali ditemukan di Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya, tepatnya di Sungai Ela, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Demikian disampaikan Kepala Balai TN Bukit Baka-Bukit Raya Erwin Effendy, di Pontianak, Selasa (8/7).
"Pada Maret 2008 , tim kami yang membuat film dokumenter tentang TN Bukit Baka-Bukit Raya, kembali menemukan katak itu," kata Erwin. Katak Barbourula ini memiliki ukuran kira-kira hanya sebesar ibu jari tangan orang dewasa. Untuk yang jenis jantan ukurannya sekitar 66 milimeter, sedangkan untuk yang betina berukuran sekitar 77 milimeter. Kulit tubuh katak ini memiliki motif totol-totol.
Katak ini pertama kali ditemukan pada 1978 oleh Prof Dr Djoko Tjahjono Iskandar yang merupakan pakar herpetofauna, ampibi, dan reptil dari Departemen Biologi, Institut Teknologi Bandung. Dua spesimen katak temuannya saat itu disimpannya sebagai koleksi.
Barbourula baru diketahui tidak memiliki paru-paru saat Djoko dan tim peneliti yang melibatkan ahli biologi David Bickford dari Universitas Nasional Singapura kembali menemukan katak itu di TN Bukit Baka-Bukit Raya tahun 2007. Kali ini mereka melakukan penyayatan rutin dan memastikan tidak menemukan pary-paru pada tubuh katak tersebut. Laporan yang dimuat dalam Jurnal Current Biology edisi 6 Mei menyebutkan katak itu sangat istimewa karena tidak memiliki paru-paru dan bernapas melalui pori-pori kulitnya.
Menurut Erwin, Barbourula sangat sensitif terhadap perubahan ekosistem. Jika air sungai yang menjadi tempat hidupnya itu keruh, katak tersebut bisa mati. Karenanya, ia berharap seluruh lapisan masyarakat yang bersinggungan dengan Sungai Ela dan TN BB-BR, menjaga kelestarian alam di sana agar Barbourula yang menjadi kekayaan hayati bangsa bisa diselamatkan dari kepunahan.WHY
07 July 2008
Nasional : Populasi Orangutan Menurun 10-14 Persen
(www.kompas.com, 07-07-2008)
JAKARTA, SENIN - Hasil survei terbaru menunjukkan, populasi orangutan menurun tajam dalam empat tahun terakhir. Perubahan lingkungan yang drastis di Pulau Sumatera dan Kalimantan menjadi penyebabnya.
Populasi orangutan di Sumatera turun 14 persen, sementara di Kalimantan mencapai 10 persen. Di Pulau Sumatera, populasinya turun dari 7.500 ekor menjadi 6.600 ekor, dan di Kalimantan dari 54.000 ekor menjadi 49.600 ekor.
"Tanpa usaha ekstra secepatnya mereka akan menjadi spesies kera besar pertama yang akan punah," ujar Serge Wich, ilmuwan dari Great Ape Trust yang berpusat di Iowa. Wich dan 15 rekannya melaporkan hasil survei yang paling komprehensif sejauh ini terhadap populasi orangutan itu dalam jurnal Oryx edisi terbaru.
Menurutnya, temuan ini mengecewakan karena upaya konservasi selama 30 tahun terakhir ternyata masih belum cukup untuk melestarikan orangutan. Penurunan tersebut disebabkan pembalakan liar dan ekspansi kebun sawit yang tidak terkendali di Sumatera dan Kalimantan.
Apalagi, Indonesia dan Malaysia sebagai negara pengekspor sawit terbesar di dunia masih gencar-gencarnya memperbesar lahan sawit. Selain untuk minyak goreng, permintaan minyak sawit untuk biofuel sebagai bahan bakar alternatif terus meningkat.
Meski demikian, Wich mengatakan, masih ada celah optimisme untuk menjaga kelangsungan hidup orangutan, terutama dukungan dari pemerintah setempat. Presiden SBY menyatakan upaya konservasi orangutan lintas negara pada konferensi iklim di Bali. Pemerinta Nanggroe Aceh Darussalam juga mencanangkan moratorium pembalakan hutan.
Dari temuan ini, Wich merekomendasikan perlunya kebijakan politik yang kuat untuk menekan pembalakan hutan yang menjadi habitat orangutan dan mencegah perdagangan satwa langka tersebut. Kepedulian masyarakat lokal untuk menjaga hutan juga tidak kalah penting. Jika hal tersebut tidak konsisten dilakukan bukan tidak mungkin orangutan punah pada 2011 sesuai perkiraan Center of Orangutan Protection.
WAH Sumber : AP
Merauke : Diduga Ada Oknum-Oknum yang Memback-Up, Bupati Gebze Tentang Penggalian dan Penebangan Kayu Ilegal di Merauke
(www.cenderawasihpos.com, 7-7-2008)
MERAUKE- Maraknya penggambilan pasir dan penebangan kayu secara secara ilegal akhir-akhir ini di Merauke menjadi perhatian serius Bupati Merauke Drs. Johanes Gluba Gebze. Menurutnya, penggalian dan penebangan kayu ilegal itu bisa bebas dilakukan karena ada oknum-oknum tertentu yang diduga memback-up.
"Saya tidak usah menyebutkan oknum-oknum tersebut karena tidak etis. Ada pengawalan-pengawalan tertentu tapi harapan saya untuk ditertibkan sesuai dengan jalurnya masing-masing," teang Bupati Gebze saat mengumpulkan seluruh Muspida untuk menyikapi hal itu Operation Room Kantor Bupati, Sabtu (5/7).
Menurut Gebze, dirinya sudah beberapa kali menangkap langsung. ''Saya sudah tangkap. Makanya saya undang semuanya untuk menangani sesuai jalurnya. Jadi memang ada teman-teman yang memback-up sehingga menjadi dilemah bagi teman-teman untuk menghindari konflik,'' kata Bupati.
Ada pula yang memiliki izin, namun izinnya di tempat lain tapi ambilnya ditempat lain pula. Disamping itu, pengangkutan pasir, tanah timbun maupun kayu hasil hutan ilegal itu dilakukan pada malam hari. ''Ada yang angkut malam. Kalau sudah angkut malam sudah pasti pencuri,'' jelasnya.
Menurut Bupati Gebze, penggalian pasir dan tanah timbun serta penebangan hutan secara ilegal yang tidak terkendali itu akan sangat memberi pengaruh yang sangat besar. Selain akan menimbulkan kerusakan lingkungan juga tidak memberikan masukan bagi negara atau daerah.
Selain semua pihak diminta untuk melakukan penertiban sesuai jalurnya masing-masing, Gebze mengungkapkan pihaknya akan mengeluarkan intruksi untuk warga yang akan memanfaatkan hutan untuk mengurus perizinan. ''Kami akan berikan izin sesuai dengan prosedur bila melakukan pengurusan dari pada terus melakukan pencurian,'' tandasnya. (ulo)
Manokwari : Luas Panen Turun, Produksi Padi Naik
(www.radarsorong.com, 7-7-2008)
MANOKWARI-Data Badan pusat statistik (BPS) Provinsi Papua Barat yang disampaikan melalui berita resmi statistik menunjukkan angka tetap produksi padi di Papua Barat tahun 2007 sebesar 28,20 ribu ton gabah kering giling (GKG). Mengalami peningkatan sebesar 686 ton (2,49 persen) dibandingkan produksi padi tahun 2006.
Peningkatan produksi padi tahun 2007 disebabkan adanya kenaikan produktivitas sebesar 1,55 hektar (4.81 persen). Namun peningkatan produksi tersebut tidak diiringi dengan luas panen. Pada tahun 2007 mengalami penurunan seluas 188 hektar (2,20 persen). Sumbangan penurunan luas panen
terbesar adalah pada komoditi ladang. Sementara untuk luas panen padi sawah mengalami kenaikan luas panen.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pola tanam padi ladang masyarakat yang mulai beralih ke padi sawah dan adanya program untuk peningkatan produksi. Untuk angka ramalan II produksi padi tahun 2008 di Papua Barat diperkirakan sebesar 31,55 ribu ton GKG, naik sebanyak 3,34 ribu ton (11,86 persen) dibandingkan dengan produksi tahun 2007.
Kenaikan produksi tahun 2008 diperkirakan terjadi karena adanya penambahan luas panen sebesar 732 hektar atau 8, 76 persen. Demikian juga dengan produktivitas diperkirakan akan naik sebesar 0,96 persen hektar (2,85 persen). Kenaikan luas panen tahun 2008 diperkirakan karena adanya program pencetakan lahan sawah baru, bantuan benih dan pupuk.(sr)

