Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua

Cari Informasi/Berita/Tulisan/Artikel di Blog IKP

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org

23 June 2008

Jayapura : Bersihkan Kota dari Sampah dan Pinang

(www.cenderawasihpos.com, 23-06-2008)
JAYAPURA-Dalam rangka mewujudkan kemitraan antara Polisi Republik Indonesia (Polri) dan masyarakat, Polresta Jayapura menggandeng Pemuda Gereja Emanuel Dok IX Jayapura melakukan kegiatan bersih kota.
Kegiatan yang melibatkan sekitar 500 pemuda gereja dan anggota Polresta Jayapura serta Keluarga Besar Putra Putri Polri (KBPPP) mulai membersihkan sampah yang ada di sekitar Taman Imbi dan di depan Gereja Pengharapan Jayapura dan Jl Irian Jayapura, Minggu (22/6).

Dari pantauan Cenderawasih Pos, selain membersihkan sampah dan memotong bunga di Taman Imbi, juga bekas ludah pinang di trotoar sepanjang jalan Irian Jayapura dibersihkan dengan menggunakan sabun dan sikat serta sapu dan didukung 1 truk tanki air untuk menyemprot pinang tersebut.
Kapolresta Jayapura, AKBP Roberth Djoenso SH didampingi Kabag Binamitra Kompol FN Djari mengatakan, kegiatan ini merupakan kelanjutan dari kegiatan penghijauan di Skyland Otonom beberapa hari lalu. "Kegiatan ini untuk menyambut Hari Bhayangkara ke-62. Ini merupakan wujud perpolisian masyarakat bahwa Polri merupakan mitra masyarakat yang ditunjukan dengan kegiatan bhakti sosial, membersihkan kota dari sampah dan pinang,"ungkapnya.

Apalagi, kata Kapolresta, sesuai dengan motto Kota Jayapura yang Beriman, sehingga pihaknya bersama masyarakat dalam hal ini pemuda gereja berupaya mewujudkannya. "Ini perlu kesadaran kita bersama dalam membersihkan lingkungan. Jika bukan kita yang melakukan siapa lagi,"tandasnya. Sementara itu, Koordinator Pemuda Gereja Pantai Kosta di Indonesia Jemaat Emanuel Dok IX Atas, dr Idawati Waromi mengaku pihaknya telah melakukan kegiatan kerja bhakti ini, mulai dari tingkat RT, tingkat RW, tingkat kampung hingga ke kota. "Kami ingin suasana kota terjamin kebersihannya, sehingga kami berinisiatif melakukan ini bersama Polresta Jayapura," ujarnya seraya mengajak masyarakat untuk sadar membuang sampah dan bekas pinang ke tempatnya sehingga kota ini terjaga kebersihannya. (bat)

Jayapura : Kawasan Bambu Kuning Segera Dibenahi

(www.cenderawasihpos.com, 23-06-2008)
JAYAPURA-Musibah banjir yang sering melanda warga di Kawasan Bambu Kuning Polimak, tampaknya sudah menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Papua maupun Kota Jayapura. Walikota Jayapura Drs MR Kambu, Msi mengatakan, sesuai rapat dengan dinas instansi terkait, dalam minggu ini juga jalan di Kawasan Bambu Kuning akan dibenahi .

Menurutnya, untuk penanganan kawasan Bambu Kuning, untuk sementara ini jalur yang lewat di kawasan tersebut akan ditutup, sehingga lalu lintas kendaraan bisa lewat jalur yang lain. "Untuk kelancaran pembangunan, maka jalur yang melewati kawasan Bambu Kuning terpaksa ditutup,"ungkap Walikota Kambu saat ditemui usai menghadiri acara penggalangan dana jemaat GIDI di Kotaraja, Sabtu (21/6).

Lebih lanjut walikota menegaskan, terkait dengan pembangunan yang dilaksanakan pemerintah di kawasan Bambu Kuning ini, tidak ada ganti rugi yang diberikan kepada masyarakat. Sebab, kawasan ini sejak dari awal memang tidak diizinkan pemerintah untuk didirikan bangunan atau pemukiman warga, karena dulunya kawasan tersebut merupakan daerah rawa.

Begitu juga di kawasan perbukitan diatas Bambu Kuning juga merupakan daerah konservasi yang tidak boleh dijadikan tempat pemukiman, karena warga nekad membangun dan melakukan aktvfitas di kawasan yang dilarang tersebut, akhirnya berdampak terjadinya banjir di kawasan tersebut.
"Tidak ada ganti rugi atau komplain dari masyarakat, sebab pembangunan yang dilakukan pemerintah ini untuk kepentingan umum,"ujarnya yang mengharapakan kesadaran dan dukungan dari warga di kawasan Bambu Kuning ini.

Untuk menghindari banjir yang sering melanda kawasan tersebut, menurut Kambu, maka kawasan tersebut akan ditimbun dan saluran drainase juga akan diperbaiki untuk kelancaran aliran air. Hanya saja, jalur yang ditutup memang hanya tempat di lokasi Bambu Kuning, dimana lalu lintas masyarakat di sekitar masih bisa jalan, sedangkan untuk jalur Entrop-Jayapura memang harus lewat Argapura. (tri)

Nasional : Hidup "Si Penyanyi Hutan" Makin Tertekan

(www.kompas.com, 22-06-2008)
UHU… uhu… uhu… uhu….” Pekik nyaring ini langsung terdengar ketika speedboat yang kami tumpangi merapat di Pulau Hampapak, Kecamatan Bukit Batu, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Kamis (12/6). Jangan salah kira, itu bukan suara orangutan atau sejenis burung.
Suara mengalun berintonasi tinggi itu pekikan kawanan owa kalimantan yang ditampung oleh Yayasan Kalaweit—organisasi penyelamat owa—di pulau yang terletak di Sungai Rungai, anak Sungai Kahayan. Pulau seluas 25 hektar itu terletak sekitar 50 kilometer dari Kota Palangkaraya atau perlu satu jam untuk mencapainya dengan memakai speedboat. Owa bertabiat pendiam.

Kalau wilayah teritorial keluarganya tidak diganggu, owa akan mencari makan buah-buahan, pucuk daun, dan serangga dengan tenang, tanpa menimbulkan suara.
”Tapi, sekali ada gangguan mendekat, hewan yang di alam liar umurnya bisa mencapai 30 tahun ini akan memekik-mekik nyaring,” kata Andre, paramedis Yayasan Kalaweit. Di Kalimantan ada dua jenis owa, yaitu Hylobates agilis albibarbis dan Hylobates mullery. Warna bulu owa jenis kedua lebih gelap daripada yang pertama. Di Kalimantan, primata ini punya banyak nama, di antaranya kalaweit (Dayak Ngaju) dan klampiau (Dayak di Kalbar). Sesekali kalau sedang tak digendong atau disusui induk betina, anak owa dapat bernyaman-nyaman dalam gendongan induk jantan. Sepanjang hidupnya, owa hanya berpasangan dengan satu ekor lawan jenisnya. Ketika pasangannya mati, owa akan depresi dan tak jarang segera menyusul mati. Alih-alih dari bertampang lucu menggemaskan seperti orangutan (Pongo pygmaeus), owa bermuka murung dan terkesan galak. Tetapi, owa memiliki pekikan yang mengalun sehingga banyak orang meminatinya sebagai piaraan, seperti halnya burung kicau. ”Owa tak ubahnya penyanyi andal di alam Kalimantan,” kata Hamdani, Manajer Program Yayasan Kalaweit untuk Wilayah Kalimantan.

Selain sebagai ”penyanyi hutan”, owa juga diburu karena kelincahannya dalam bergelantungan seperti pemain sirkus dari pohon ke pohon karena memiliki tangan yang panjang, bahkan hampir sama dengan tinggi tubuhnya. Dua hal itulah yang menyebabkan masyarakat ingin memilikinya. Perburuan dan perdagangan satwa yang dilindungi itu pun semakin marak. Di sisi lain, kehidupan owa pun semakin terancam dan tertekan. Bagaimana tidak terancam, kata Direktur Eksekutif Save Our Borneo, Nordin, di Palangkaraya, hutan di Kalimantan yang menjadi tempat hidupnya sampai akhir tahun 2007 tinggal sekitar 44,3 juta hektar. Dari luas itu, yang benar-benar masih terjaga berkisar 25 hingga 30 persen, yakni di kawasan pegunungan. Laju deforestasi atau kerusakan hutan sekitar 864.000 hektar per tahun. Yayasan Kalaweit, yang berdiri sejak 1999, saat ini menampung 141 owa di Pulau Hampapak. Hamdani menuturkan, problem besar dalam penyelamatan owa adalah sulitnya mencari tempat pelepasliaran di hutan alam karena sulitnya mencari hutan lestari. Jadi, pantas saja jika hidup ”si penyanyi hutan” ini makin tertekan.(CAS/FUL/AIK)

21 June 2008

Nasional : Badak Pejantan Torgamba di Way Kambas Sakit-sakitan

(www.kompas.com, 20-06-2008)
JAKARTA, JUMAT
- Badak bernama Torgamba di Suaka Rhino Sumatera (SRS), yang merupakan lokasi penangkaran badak Sumatera secara semi-alami di dalam kawasan Taman Nasional Way Kambas, Lampung, kini mulai sakit-sakitan. Padahal, Torgamba adalah salah satu badak pejantan yang diharapkan menghasilkan keturunan.

Torgamba memang sudah menua. Badak tersebut telah berumur lebih dari 28 tahun sesuai data dalam International Studbook Keeper for Sumatran Rhino. Torgamba ditangkap tahun 1985 di Riau. Sebelum dipindahkan ke SRS pada tahun 1998 terlebih dahulu dipelihara di Port Lympne Zoo, Inggris.

Sejak tahun 2005 Torgamba mengalami beberapa kali gangguan kesehatan namun tidak dijumpai adanya infeksi ataupun penyakit yang menular. Gangguan kesehatan serius yang dialami Torgamba adalah terutama gangguan ginjal kronis dan anemia kronis berdasarkan hasil uji laboratorium.

Akibat gangguan tersebut, Torgamba mengalami gangguan metabolisme umum seperti kelelahan, tidak nafsu makan, dan gangguan keseimbangan calcium-phosphor. Pemeriksaan fungsi reproduksi terhadap Torgamba mengindikasikan adanya gangguan fungsi produksi spermatozoa yang disebut oligozoospermia yaitu menghasilkan konsentrasi spermatozoa yang sangat sedikit dan tingkat abnormalitasnya sangat tinggi sehingga kemungkinan tidak berpotensi sebagai pejantan untuk program pengembangbiakan.

Tanda fisik ketuaan juga sudah ditunjukkan dengan tanggal dan rusaknya beberapa gigi. Pada bulan Oktober tahun 2006, Torgamba mengalami dampak dari musim kering yang panjang, di mana ia mengalami kerusakan telapak kaki lebih parah bila dibandingkan dengan badak yang lain. Pada bulan Agustus 2007 Torgamba menderita sakit yang lebih parah dari sebelumnya, tubuhnya melemah dan mengalami kelelahan parah (lethargic), bahkan hampir semua fungsi organ tubuh mengalami penurunan (degenerasi) dan mengalami anemia akut.

Gangguan pada organ tubuh yang terberat dialami oleh saluran pencernaan dan ginjal namun tidak ditemukan adanya infeksi pada kedua organ tersebut. Ia juga menderita dehidrasi, sehingga memerlukan penanganan dengan pemberian cairan infus melalui pembuluh darah vena sebanyak 20 liter per hari selama 5 kali pemberian.

Walaupun saat ini kondisi Torgamba terlihat jauh lebih baik, namun status kesehatannya masih mengkhawatirkan seiring terjadinya perubahan pola makan di mana di dalam hutan Torgamba hampir tidak pernah lagi mencari makan sendiri. Saat ini ia diberi pakan tambahan 3 kali per hari di dalam kandang (pagi, sore, dan malam). Sementara itu pemeriksaan darah rutin yang dilakukan setiap 1-2 kali per bulan masih menunjukkan anemia yang kronis dan gangguan ginjal.

Torgamba, seperti halnya mamalia lain yang bertubuh besar, bila diamati secara sekilas masih memperlihatkan aktivitas yang normal. Ia seolah-olah "menyembunyikan" atau bahkan tidak menghiraukan rasa sakitnya. Ia kadang terlihat mampu berjalan jauh menjelajahi hutan, namun ternyata staminanya tidak cukup baik sehingga kondisinya melemah dan terlihat mengalami kelelahan.

Dengan adanya gangguan ginjal dan anemia kronis, Torgamba dikhawatirkan mudah jatuh sakit dan menjadi parah. Oleh karena itu, Torgamba kini ditempatkan di dalam tempat khusus yang lebih kecil (boma) dan hanya satu atau dua hari saja per bulan berada di lokasi yang lebih luas 10 Ha.

Pada masa betina berahi setiap 20 - 25 hari sekali, Torgamba masih mampu mengawini badak-badak betina di SRS. Namun dengan status reproduksinya yang tidak subur dan kondisi tubuhnya yang melemah, kecil sekali kemungkinan Torgamba memenuhi harapan dunia terutama para pemerhati badak untuk menciptakan sebuah kehidupan baru yaitu lahirnya anak-anak badak Sumatera.

Torgamba, ibarat sebuah "bom waktu", bisa sakit kapan saja dengan tiba-tiba tanpa dapat diprediksi dengan tepat. Kini, Torgamba dalam pengawasan 24 jam oleh perawat dan dokter hewan. Namun walaupun Torgamba beranjak tua, pengalaman SRS memelihara badak selama 10 tahun, diharapkan mampu memberi kesempatan Torgamba bertahan hidup lebih lama.

Sebagai catatan, rekor terlama badak Sumatera hidup di penangkaran terdata di London Zoo, yaitu hidup antara tahun 1868 - 1900 (32 tahun). Seyogyanyalah, Torgamba dan rekan-rekannya di SRS, menjadi perhatian kita semua bukan hanya Pemerintah Indonesia tapi juga dunia internasional khususnya para pemerhati badak, dan bersama-sama kita memikirkan dan mencari jalan terbaik untuk Torgamba khususnya dan konservasi badak Indonesia pada umumnya. Demikian kata Adi Susmianto, ketua Pembina Yayasan Badak Indonesia.

Selain Torgamba, SRS kini hanya mengandalkan seekor jantan muda Andalas (6), yang lahir di Amerika dan ditranslokasi ke SRS tahun lalu. Andalas menjadi pejantan bagi 4 badak Sumatera lain yang kondisinya masih sangat baik. Tiga betina, yaitu Bina (22), Rosa (6), dan Ratu (7). Badak-badak tersebut menunjukkan perilaku normal layaknya badak Sumatera liar di habitatnya. Demikian juga hasil-hasil pemeriksaan kesehatan secara rutin menunjukkan kondisi mereka normal. Namun sampai sekarang belum satu pun perkawinan yang menghasilkan keturunan.
WAH
Sumber : Antara

Nasional : Peneliti LIPI Temukan Flora Khas Danau Kelimutu

(www.kompas.com, 20-06-2008)
ENDE, JUMAT
- Para peneliti dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan spesies flora baru yang hanya terdapat di Taman Nasional (TN) Kelimutu, Flores. Flora tersebut diberi nama Begonia kelimutuensis karena layak menjadi flora khas Danau Kelimutu da tidak ditemukan di daerah lain di seluruh dunia.

Kepala Balai Taman Nasional (TN) Kelimutu, Ir. Gatot Soebiantoro, M.Sc, mengatakan hal itu kepada Pos Kupang, di ruang kerjanya, Jumat (20/6/2008) saat dikonfirmasi tentang hasil penelitian yang dilakukan LIPI terhadap keberadaan flora dan fauna di TN Kelimutu tahun lalu.

Gatot mengatakan, saat ini ada 78 spesies flora berhasil diidentifikasi di TN Kelimutu. Dua spesies merupakan endemik Taman Nasional Kelimutu, 5 spesies endemic Flores, dan sisanya merupakan tanaman eksotik. Dua spesies yang diidentifikasi endemik asli Kelimutu, yaitu Begonia kelimutuensis yang sudah dikenal masyarakat lokal sebagai tumbuhan Uta Onga dan Rhododendron reschinum, atau dalam bahasa daerah setempat dikenal dengan nama Turuwara.

Sedangkan untuk fauna, saat ini terdata 49 spesies yang telah diidentifikasi di Kelimutu. Beberapa di antaranya merupakan endemik Flores dan diharapkan kedepan penelitian tetap dilakukan untuk mengekspolirasi keanekaragaman hayati di TN Kelimutu.

Dikatakannya, kegiatan penelitian studi komunitas flora dan fauna di TN Kelimutu tahun 2007 lalu adalah upaya untuk mengemukan keanekaragaman flora dan fauna dan ekosistem yang ada dalam kawasan TN Kelimutu. Kegiatan ini merupakan hasil kerja intens antara TN Kelimutu dengan Pusat Penelitian Biologi-LIPI-Bogor yang mana mereka menurunka tim terdiri dari Ir. Albert Husein Wawo, MSi, Dr. Hary Wiriadinata, Ir. Sudayanti, Achmad Saim, BSc dan Wardi. Dijelaskannya, studi tahun 2007 lalu merupakan studi awal dari rangkaian studi komunitas flora dan fauna di TN Kelimutu yang direncanakan 3 tahap, dan diperkirakan akan berakhir tahun 2009.

"Ini merupakan satu kebanggaan bagi kita semua karena selama ini Kelimutu terkenal hanya keunikan danau tiga warna. Namun dengan ditemukan flora baru tersebut setidaknya menambah khasanah dan keindahan Kelimutu, dan dengan begitu pengunjung yang hendak ke Kelimutu tidak hanya sekedar melihat Danau Kelimutu namun bisa menikmati keindahan lainya baik flora maupun fauna yang ada di taman nasional ini," kata Gatot.

Kaimana : Penambang Batu Diberi Waktu 22 Hari

(www.radarsorong.com, 20-06-2008)
KAIMANA-Puluhan penambang batu di kompleks Rumah Negara Selasa (18/6) lalu dihentikan kegiatannya oleh Satpol PP. Upaya tersebut dilakukan Satpol PP menindaklanjuti Peraturan Daerah tentang penambangan liar yang ada di wilayah tersebut.

Pantauan wartawan Koran ini di lokasi penambangan milik Pemda, para penambang batu dikumpulkan untuk mendapat arahan dari Kabag Satpol PP Rahmat Koharudin.
Koharudin meminta penambang meninggalkan lokasi pekerjaan dalam kurun waktu 1 X 24 atau paling lambat 22 hari. Pihaknya memberi kelonggaran bagi penambang sambil mencari tempat baru. Penambang yang sudah mengumpulkan batu agar batu-batu tersebut segera diambil. Jika dalam tempo 22 hari terhitung sejak disampaikan, maka pihaknya akan melakukannya dengan paksa.

Salah satu penambang batu Yustus Homer sangat menyesal atas tindakan petugas Satpol PP. Tindakan tersebut mematikan kehidupan ekonomi masyarakat yang sulit mendapatkan pekerjaan. Jika dihentikan pekerjaan ini, Pemda juga harus adil dan menghentikan pekerjaan penambang batu yang sama di sepanjang Jalan Bumsur-Hailai.

“Jika tidak akan mematikan kelangsungan kehidupan kami. Terus terang dengan kondisi ekonomi yang semakin sulit dengan lapangan kerja yang kurang, terpaksa kami hanya mengandalkan pekerjaan ini. Jika ini ditutup kami tidak bisa menghidupi keluarga kami,” tuturnya.
Menurut Homer, pemerintah harus menyediakan sebuah lokasi baru dan segera mengeluarkan instruksi larangan pengambilan batu di wilayah yang rawan longsor, sehingga dengan demikian adil bagi pihaknya. (ani)

20 June 2008

Nasional : Habitat Badak Jawa Diperluas ke Gunung Honje

(www.kompas.com, 19-06-2008)
SERANG, KAMIS
- Populasi Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) Pandeglang, Banten diperkirakan tinggal mencapai 55 sampai 60 ekor. Salah satu faktor sulit berkembang biak karena daya jelajah yang terbatas.

"Jumlahnya memang mengalami penambahan sejak 1980, namun sulit perkembang biakannya kerena terbatasnya makanan dan masih perlu habitat baru," Kata Humas TNUK Enjat Sudrajat di Serang, Kamis (19/6). Menurutnya, kurangnya tanaman sebagai bahan makanan badak tersebut disebabkan faktor alam atau kekeringan. Kekeringan itu biasanya terjadi bulan Juli hingga Oktober setiap tahunnya, sehingga menyulitkan badak mencari makanan.

Oleh karena itu, kata Enjat, pihak TNUK akan menambah luas habitat badak ke Gunung Honje yang ada di bagian timur Ujung Kulon. Jika saat ini luas habitat badak sekitar 38.000 Ha, dengan Gunung Honje luasnya menjadi sekitar 68.000 Ha. Sebab, badak rentan mati jika kekurangan makanan.

Aktivitas badak jawa mencari makan lebih sering pada malam hari. Sumber air menjadi faktor yang sangat penting karena 1 sampai 2 kali sehari badak-badak tersebut beristirahat selama menempuh perjalanan penjelajahannya dalam satu hari sekitar 20 kilometer.

Perkembangbiakan badak tersebut sangat lambat. Lama hamil diperkirakan 16 bulan dan lama menyusui atau mengasuh anak satu sampai dua tahun dan jarak kelahiran empat hingga sembilan tahun sekali, dengan jumlah anak yang dilahirkan satu ekor.

Selain badak, kata Enjat, di areal TNUK seluas 79.000 ha tersebut, masih ada sekitar 600 ekor populasi macan, 8.000 ekor banteng, 7.000 ekor kera serta burung-burung, dan satwa lainnya.
WAH
Sumber : Antara

Kaimana : " Pasukan " Lintah Menyerang Polisi Saat Masuk Hutan di Kaimana (Bag. 1)

(www.papuapos.com, 19-06-2008)
Setelah menyusuri perairan Teluk Cenderawasih dengan perahu cepat selama empat jam dari Nabire, Papua, tim reserse dari Markas Besar Kepolisian RI (Polri) itu masuk hutan dengan jeep selama tiga jam. Tempat yang dituju ialah kawasan hutan yang terletak di tepi Sungai Goro, Distrik Yanmor, Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Inilah perjalanan Tim Reserse Mabes Polri saat menembus hutan belantara kabupaten Kaimana, Papua.
Polri mensinyalir, telah terjadi pembalakan liar di kawasan itu. Ada sejumlah orang yang menebang hutan di tepi sungai dan menebangi pohon di hutan yang berada di luar batas wilayah konsesi. Di Kaimana, sebelumnya, Polri menetapkan enam orang sebagai tersangka kasus pembalakan liar tersebut dan menyita sekitar 12 ribu meter kubik kayu gelondongan.

Mereka yang kini ditahan di Mabes Polri adalah pimpinan PT Kaltim Hutama dan PT Centrico, keduanya perusahaan yang memiliki Hak Pengusahaan Hutan (HPH) di Kaimana. Tugas para polisi itu lah, yang antara lain, membuktikan bahwa aktivitas penebangan tersebut berada di luar lokasi yang diijinkan.

Mereka ke sana untuk mengukur batas-batas hutan yang menjadi hak HPH. Hutan di tepi Sungai Goro adalah lokasi pertama yang akan diukur. Untuk mengukur batas hutan, Polri dibantu tiga ahli kehutanan dari Departemen Kehutanan.

Tim Mabes Polri menyewa tiga mobil "Strada" untuk membawa sekitar 25 polisi sehingga lebih banyak polisi yang bergelantungan di bak belakang yang terbuka daripada yang masuk ke dalam mobil.

Namun, perjalanan berkendara itu terhenti di tepi Sungai Goro yang menjadi akhir dari jalan raya yang bisa dilalui kendaraan bermotor. Mobil tak lagi bisa digunakan, sedangkan di depan ada sungai membentang yang harus diseberangi tanpa perahu.

Tapi, bukan polisi namanya kalau menjadikan sungai sebagai halangan, dan mereka pun tanpa komando menerabas sungai tersebut. Ada yang menyeberang begitu saja tanpa mempedulikan pakaian mereka basa.

Ada pula yang menggunakan batang kayu yang melintang di badan sungai sebagai titian. Belum 50 meter masuk ke dalam hutan, tim Mabes Polri dikejutkan dengan teriakan dari orang yang berada di rombongan terdepan. Bukan…. Bukan serangan orang bersenjata atau hadangan hewan buas."Awas banyak lintah. Perhatikan tanah," kata seorang polisi yang ada di barisan terdepan.

Spontan, mereka pun menoleh ke bawah dan ternyata beberapa lintah kecil sudah menempel di sepatu, ujung celana maupun kaki hampir semua anggota tim.

Sebagian lintah dapat terlihat dengan jelas, namun banyak juga yang berukuran kecil, sehingga orang perlu menunduk untuk melihat ada atau tidaknya lintah di kaki dan sepatu. Banyak polisi yang disibukkan oleh lintah tersebut sambil terus memperhatikan kaki.

Sebagian sudah mengantisipasi serangan lintah dengan menyemprotkan cairan anti nyamuk ke kaki dan lengan mereka. "Lintah itu teman kita juga. Anggap saja ini ucapan selamat datang," kata perwira polisi AKP Aji Witarsa sambil berjalan cepat untuk mencegah lintah merambat ke kakinya.

Kendati lintah menghantui dari bawah, namun tim Mabes Polri tetap melaju masuk ke dalam hutan.Dua jam di tengah hutan, sebagian besar anggota tim lebih banyak yang sibuk mengurusi lintah di kaki dibandingkan konsentrasi mengukur batas hutan.

Ketika kembali ke lokasi semula, mereka memilih melewati jalan lain yang tidak banyak lintahnya. Mereka tidak tersesat karena membawa empat alat pemindai Global Positioning System (GPS). Dengan alat yang mirip pesawat telepon seluler itu pula, mereka dapat memastikan apakah pohon yang ditebang masih berada di dalam batas wilayah konsesi atau bukan.

Namun urusan lintah masih terus berlanjut karena mahluk kecil itu terbawa di sela-sela sepatu jatuh saat mereka sudah berada di dalam mobil. "Makanya cuci kaki di sungai yang bersih," kata seorang polisi kepada rekannya.

Bahkan, ketika mobil sudah berjalan 30 menit pun, urusan lintah masih belum selesai juga karena tiba-tiba seorang polisi melihat seekor lintah menggeliat di jok mobil depan. Mobil pun berhenti untuk mengeluarkan si "penumpang gelap" itu. (bersambung)

Jayapura : Karantina Musnahkan 100 Kg Daging Babi Ilegal, Juga 7 Ekor Ayam yang Tidak Dilengkapi Dokumen

(www.cenderawasihpos.com, 19-06-2008)
JAYAPURA-100 Kg daging babi serta 7 ekor ayam yang disita Petugas Balai Karantina Hewan Klas II Sentani Wilayah Kerja Pelabuhan Jayapura karena tidak miliki dokumen lengkap, dimusnahkan dengan cara dibakar di halaman Kantor Balai Karantina Hewan, Wilayah Pelabuhan Jayapura, Rabu (18/6).
Sekadar diketahui, daging babi tersebut yang dibungkus dalam karton disita saat KM Nggapulu sandar di Pelabuhan Jayapura, Selasa (10/6), sementara 7 ekor ayam disita dari salah seorang penumpang KM Sinabung saat sandar di pelabuhan, Senin (16/6). Kepala Balai Karantina Hewan Klas II Sentani drh Abdul Kadir Jaelani melalui Kasie Infodok Boaz Henry Lumbaa mengatakan, pihaknya akan terus mengintensifkan pemeriksaan dan pengawasan terhadap barang yang dibawa penumpang kapal di pelabuhan.

"Pemusnahan ini berdasarkan Surat Keputusan (SK) Gubernur Provinsi Papua No 158 Tahun 2004 tentang pemasukan unggas dan produknya ke Provinsi Papua dan PP No 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewan, ini yang menjadi acuan kami melakukan penahanan untuk dimusnahkan,"jelas Boaz kepada Cenderawasih Pos di sela-sela pemusnahan kemarin.

Diungkapkan, penahanan terhadap daging babi ilegal ini, karena ada larangan pemasukan babi dan produknya dalam upaya mencegah penyebaran virus hog cholera yang telah menyerang babi di seluruh Tanah Papua, termasuk menyita 7 ekor ayam guna mengantisipasi dan mencegah flu burung.
Ditegaskan, Balai Karantina Hewan Klas II Sentani tetap konsisten untuk melakukan pemeriksaan, pengawasan dan mewaspadai semua komoditi, termasuk hewan yang masuk melalui Pelabuhan Jayapura maupun Bandara Sentani."Daging babi berasal Manado sedangkan 7 ekor ayam dari Bau Bau,"pungkasnya.(ind)

19 June 2008

Manca Negara : Spesies : Electrolux dan Michelin Warnai Daftar Teratas 10 Spesies Anyar

(www.kompas.com, 18-06-2008)
JAKARTA, RABU
- Ribuan spesies baru hewan maupun tumbuh-tumbuhan ditemukan sepanjang tahun 2007. Di antara spesies-spesies tersebut tentu ada yang paling menarik, paling unik, dan aneh.

"Kebanyakan orang tidak sadar betapa kecil pemahaman kita tentang spesies di Bumi atau sampai di mana batas taksonomi untuk mempelajari keragaman hayati," ujar Quentin Wheeler, direktur IISE (the Intenational Institute for Species Exploration) yang juga seorang entomolog atau pakar serangga.
Setiap tahun, para ilmuwan masih melaporkan temuan spesies-spesies anyar. Sepanjang tahun 2006, misalnya, telah ditemukan 16.969 spesies baru. Masih banyak spesies yang bleum terungkap sampai sekarang. Para ilmuwan memperkirakan terdapat sekitar 10 juta spesies di muka Bumi. Namun yang tercatat dalam daftar sistem penamaan spesies sejak disusun abad ke-18 baru 1,8 juta spesies.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, IISE menyusun daftar 10 spesies yang berada para peringkat teratas sebagai cara meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap alam dan lingkungannya. Lembaga penelitian di Universitas Negeri Arizona, AS itu tidak hanya memasukkan hewan yang masih hidup namun juga yang telah punah.

Di antara sepuluh spesies terdapat hewan yang dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin. Misalnya ubur-ubur kotak (Malo kingi) yang namanya mengingatkan kepada Robert King, turis asal AS yang tewas beberapa saat setelah disengat spesies tersebut di pantai Queensland, Australia. Selain itu terdapat pula ular Taipan (Oxyuranus temporalis) yang saat ini merupakan ular paling berbisa di dunia.

Lipa naga juga masuk dalam daftar tersebut. Hewan yang unik dengan warna tubuh merah menyala kelihatannya cantik namun sebenarnya peringatan kepada hewan lainnya kalau ia beracun.

Spesies lainnya unik karena bentuknya yang ganjil seperti Michelin Man, jenis tumbuhan yang lezat dimakan dari Australia Barat. Bentuknya seperti seorang pria gendut yang menjadi lambang salah satu perusahaan ban.

Dalam daftar tersebut juga terdapat ikan pari pendiam yang tumbuhnya beronamen artistik. Namanya terinspirasi mesin penyedot debu merek Electrolux karena hewan tersebut memiliki kemampuan menyedot mangsa di sekitarnya.

Daftar 10 spesies teratas dalam daftar IISE adalah sebagai berikut:
1. Electrolux addisoni, jenis ikan pari dari Samudera India bagian barat.
2. Gryposaurus monumentensis, jenis dinosaurus atau reptil purba raksasa yang berparuh bebek.
3. Desmoxytes purpurosea, jenis kelabang berwarna merah menyala.
4. Philautus maia, jenis katak dari Sri Lanka yang telah punah.
5. Oxyuranus temporalis, jenis ular dari Australia yang memiiki racun paling mematikan di dunia.
6. Styloctenium mindorensis, jenis kelelawar buah dari Pulau Mindoro, Filipina yang khas dengan wajah belang putih.
7. Xerocomus silwoodensis, jenis jamur baru yang ditemukan di Kampus Silwood, Imperial College London, Inggris, salah satu institusi yang melakukan penelitian biologi paling intensif.
8. Malo kingi, ubur-ubur paling mematikan di Queensland, Australia.
9. Megaceras briansaltini, jenis kumbang badak yang memiliki moncong mirip tanduk tunggal.
10. Tecticornia bibenda, jenis tumbuhan yang bentuknya mirip karakter Michelin di Australia Barat.

WAH Sumber : LIVESCIENCE

Jayapura : Rumbino: Master Plan Drainase Kota Belum Ada

(www.cenderawasihpos.com, 18-06-2008)
JAYAPURA-Sistem drainase di Kota Jayapura yang belum tertata baik, sehingga menimbulkan sejumlah permasalahan, nampaknya menjadi perhatian serius Pelaksanan Tugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Jayapura Rudolf Rumbino, ST, MT. Menurutnya, sampai saat ini Master Plan untuk pembangunan sistem drainase di Kota Jayapura ini memang belum ada, sehingga banyak persoalan muncul.

"Belum ada master plan untuk pembangunan sistem drainase Kota Jayapura yang representatif, tapi kami sedang berupaya untuk mengajukan master plan drainase lewat Cipta Karya Provinsi,"tutur Rudolf Rumbino saat ditemui Cenderawasih Pos di ruang kerjanya, Selasa (17/6).
Menurutnya, kondisi drainase di Kota Jayapura ini memang perlu dilakukan revitalisasi secara menyeluruh. Hanya saja, memang perlu master plan drainase yang lengkap dan detail, sehingga pembangunannya tidak sepenggal-sepenggal, dimana akibat tidak jelas ujung dan pangkalnya sering timbul genangan air. Selain itu juga harus dibedakan, mana drainase primer dan sekunder atau drainase tepi jalan dan drainase pemukiman dari bagian hulu hingga hilir.

Wilayah Kota di Jayapura yang terpisah-pisah, baik kawasan Jayapura, Entrop dan Abepura, sebenarnya penyusunan master plan drainase ini tidak rumit, karena tidak saling berhubungan. Hanya saja, memang harus mempertimbangkan beberapa faktor di masing-masing kawasan, sebab saat ini dengan padatnya pemukiman juga mengurangi daerah resapan air, yang berdampak debit air di drainase ini cenderung meningkat.

Masing-masing saluran drainase di tiga kawasan ini memang mempunyai permasalahan, tidak jelas mana saluran primer dan saluran sekunder, dimana ujung dan pangkalnya. Bahkan ada drainase tepi jalan yang fungsi utamanya untuk menyerap air agar tidak meluap, justru menjadi tempat aliran air dari berbagai tempat, sehingga sering meluap ke jalan dengan membawa sejumlah sampah, bahkan material tanah dan lumpur yang mengendap karena tidak jelas ujung dan pangkal saluran.
Untuk penanganan seluruh sistem drainase di Kota Jayapura ini memang membutuhkan biaya puluhan miliar. Dengan keterbatasan alokasi di Kota Jayapura, memang sangat diharapkan adanya dukungan dana baik melalui dana APBN dana Provinsi Papua maupun Kota Jayapura sendiri sebagai ibukota provinsi. (tri)

Jayapura : Nahkoda KM Cinta 88 Dituntut 200 Juta

(www.cenderawasihpos.com, 18-06-2008)
JAYAPURA-Terdakwa Nahkoda KM Cinta 88, Adam Bruza (32) yang merupakan warga Filipina dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Alfonsius G Loe Mau SH dengan denda 200 juta, subsidair 6 bulan kurungan dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Jayapura, Selasa (17/6).

Dari fakta-fakta yang ada didapati bahwa terdakwa Adam Bruza sebagai Nakhoda KM Cinta 88 dengan berbendera Indonesia, Kamis (6/3) sekitar pukul 12.30 WIT di perairan Samudra Pasifik telah melakukan kegiatan pengolahan ikan dengan tidak mematuhi daerah jalur penangkapan ikan.
Dokumen SIPI yang dimiliki oleh Nakhoda Adam Bruza meliputi Laut Sulawesi dan Laut Maluku tidak termasuk Laut Samudra Pasifik, dimana saat ditemukan oleh patroli Lakahia 1-10,-01 diperairan Samudra Pasifik ternyata KM Cinta 88 merupakan kapal lampu, dan saat diperiksa terdapat alat monitor ikan Fish Founder sedang dioperasikan untuk memonitor keberadaan ikan.
Oleh karena melakukan monitor keberadaan ikan di wilayah yang berada di luar daerah yang tertera di SIPI Nakhoda KM Cinta 88 Adam Bruza beserta 2 orang anak buak kapal langsung digiring ke Dermaga Porasko Lantamal X Jayapura.

Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap pada persidangan unsur-unsur yang didakwakan kepada terdakwa Adam Bruza melanggar pasal 100 jo pasal 7 ayat (2) huruf C Undang-undang No 31 Tahun 2004 tentang perikanan dengan unsur-unsur setiap orang yang melakukan usaha pengolahan perikanan wajib mematuhi jalur, daerah, musim penangkapan ikan.
"Sebagai pertimbangan dalam pengajuan tuntutan terdapat hal-hal yang memberatkan yakni terdakwa tidak mematuhi peraturan penangkapan ikan di wilayah Republik Indonesia, serta hal-hal yang meringankan terdakwa mempunyai tanggungan istri dan anak, belum pernah dihukum dan mengakui perbuatannya,"kata JPU Alfons.

Usai pembacaan tuntutan oleh JPU, melalui penterjemah Bahasa Philipina bernama Wolter, terdakwa Adam Bruza menggunakan haknya untuk melakukan pembelaan terhadap tuntutan yang telah dibacakan tersebut. Persidangan yang dipimpin oleh Hakim Ketua H Simarmata SH akhirnya menunda persidangan dengan agenda pembelaan terdakwa yang akan digelar Selasa nanti. (lie)