Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua

Cari Informasi/Berita/Tulisan/Artikel di Blog IKP

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org

12 October 2008

Nasional : Dikira Punah, Kijang Gunung Masih Hidup di TN Kerinci Seblat

(www.kompas.com, 11-10-2008)

JAKARTA, JUMAT - Kijang Gunung (Muntiacus montanus), species kijang yang tidak ditemukan dalam 100 tahun terakhir dan dianggap telah punah ditemukan kembali di Taman Nasional Kerinci Seblat, Sumatera. Spesies langka tersebut ditemukan kembali oleh tim Pelestarian Harimau Sumatra (PHS) dari Balai Taman Nasional Kerinci Seblat dan Fauna dan Flora International (FFI).

"Pertama kali ditemukan pada 8 Agustus 2002 saat Montanus terjerat perangkap pemburu dan tim kami melepaskannya," kata Perwakilan dari FFI Indonesia, Dr J Sugardjito, di Jakarta, Jumat (10/10). Dia mengatakan spesies yang dianggap punah ini ditemukan diketinggian 2.400 meter Gunung Kerinci, sekitar 15 kilometer dari lokasi penemuan tipe specimen yang sama yang ditemukan di daerah Sungai Kring oleh Robinson dan Kloss pada tahun 1914.

Ia mengatakan saat melakukan ekspedisi tersebut Robinson dan Kloss hanya menemukan bukti tengkorak dan kulitnya saja. Bukti tersebut disimpan di Raffles Museum Singapore, tapi hilang saat evakuasi pada tahun 1942 begitu Jepang menduduki Singapura.

Untuk saat ini foto Kijang Gunung yang dimiliki oleh tim PHS dari Balai Taman Nasional Kerinci Seblat dan FFI, merupakan satu-satunya bukti di dunia bahwa spesies tersebut masih hidup di Taman Nasional Kerinci.

Sementara itu, menurut peneliti mamalia dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), DRB Gono Semiadi, untuk meyakinkan ahli bahwa temuan ini merupakan Kijang Gunung yang telah punah dibutuhkan waktu satu tahun untuk penelitian.

"Keyakinan sudah ada dari foto dan catatan dari buku-buku taksonomi, tetapi untuk bisa yakin 100 persen perlu ada pembanding yaitu tengkorak asli Kijang Gunung tersebut. Sayangnya yang di Singapura hilang, karena itu kami coba meminjam dari pemburu yang mungkin memilikinya," ujar dia.

Menurut dia, spesimen dari kijang yang telah punah ini didapat dari Belanda pada 1930. Sedangkan deskripsi awal dari Robinson dan Kloss bukan saja warna kulit yang lebih gelap yang berbeda dengan jenis kijang muntjak yang biasa ditemui di Sumatra, Bangka, dan Malaysia, tetapi juga tetapi ukurannya yang lebih kecil.

Foto yang dimiliki FFI tersebut telah diteliti oleh Peneliti Inggris Robert Timmins, Profesor Dr Colins Grove dari Australian National University, dan DR Gono Semiadi dari LIPI. WAH Sumber : Antara

11 October 2008

Nasional : Indonesia Miliki 45 Persen Spesies Ikan Dunia

(www.kompas.com, 10-10-2008)

DENPASAR, JUMAT - Indonesia yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia yakni 95.000 kilometer mengoleksi 45 persen spesies ikan dunia. Sayangnya, kekayaan yang sangat bernilai tersebut belum dimanfaatkan maksimal.

"Perairan Indonesia sangat besar perannya keanekaragaman hayati," kata Dirjen Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan Dr Ir Made L. Nurdjana seusai mengadakan pertemuan dengan jajaran Dinas Perikanan kabupate/kota se Bali dalam upaya memacu peningkatan produksi di Denpasar, Jumat (10/10). Padahal. katanya, sejumlah spesies ikan sebenarnya dapat dibudidayakan pada lahan marginal.

Nurdjana menambahkan, untuk pengembangan perikanan air tawar potensi yang ada seluas 2,23 juta hektare hingga kini baru dimanfaatkan sepuluh persen. Demikian pula potensi perikanan air payau seluas 1,22 juta hektare telah dimanfaatkan 40 persen. Sedangkan potensi air laut 8,37 juta hektare baru dimanfaatkan 0,01 persen untuk pengembangan rumput laut.

"Berbagai upaya dan program Departemen Kelautan dan Perikanan dengan merangkul masyarakat dan nelayan diharapkan mampu memanfaatkan potensi yang ada secara maksimal untuk kesejahteraan bangsa dan negara Indonesia," ujar Dirjen Nurdjana. WAH Sumber : Antara

Manca Negara : Virgina : Hiu Perawan Virginia Lahirkan Anak

(www.kompas.com, 10-10-2008)
RICHMOND, JUMAT - Sebagian ikan hiu ternyata memiliki sifat partenogenesis sehingga dapat melahirkan tanpa kawin. Contohnya seekor ikan hiu yang dipelihara di Virginia Aquarium & Marine Science Center.

Seperti dilaporkan Journal of Fish Biology, Jumat (10/10), seekor anak ikan hiu yang hidup di sana dipastikan tidak memiliki jejak genetik hiu jantan. Hiu tersebut berasal dari spesies ikan hiu berpunggung garis dari laut Atlantik.

Kelahiran tersebut diketahui saat hiu betina bernama Tidbit yang dipelihara di akuarium selama 8 tahun tewas setelah menjalani perawatan selama setahun. Saat dilakukan nekropsi (otopsi), para peneliti kaget karena di dalam perut ikan sepanjang 1,5 meter dan berat 47 kilogram itu ditemukan bayi hiu sepanjang 25 centimeter. Lebih mengagetkan karena tidak ada hiu jantan di akuarium tersebut.

Ini merupakan laporan kedua peristiwa reproduksi aseksual pada ikan hiu. Ikan hiu baru diketahui memiliki sifat partenogenesis dari seekor anak hiu kepala martil yang lahir di Kebun Binatang Omaha, Nebraska.

"Kemungkinan partenogenesis biasa pada ikan hiu jika populasinya turun begitu rendah sehingga ikan hiu betina kesulitan mencari pasangan," ujar Mahmood Shivij, ilmuwan dari Guy Harvey Research Institute, Universitas Florida.

Dengan perkawinan biasa, seekor induk ikan hiu dapat melahirkan lusinan keturunan. Namun, dengan partenogenesis hanya melahirkan satu ekor anak.

Selain ikan hiu, pertenogenesis ditemukan pada amfibi, reptil, dan burung. Namun, reproduksi aseksual ini lebih banyak ditemui pada hewan-hewan tak bertulang belakang.
WAH
Sumber : AP

10 October 2008

Nasional : Anggrek Langka Species Plaihari Kebanggaan Kalsel

(www.antara.co.id, 10-10-2008)
Banjarmasin (ANTARA News) - Spicies anggrek langka di kawasan Pleihari, Kabupaten Tanah Laut (Tala) menjadi kebanggaan Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).


Kuryani, staf Dinas Pertanian Kota Banjarmasin, yang juga seorang pengelola rumah budidaya anggrek khas Kalimantan, screen house milik Pemkot Banjarmasin kepada ANTARA di sela-sela kontes anggrek di gedung bundar Sultan Suriansyah Banjarmasin, Kamis mengakui anggrek langka tersebut kini banyak diburu kolektor anggrek.

Bahkan Ibu Wakil Presiden RI, Ny Hj Jusuf Kalla saat berkunjung ke Banjarmasin dan berkesempatan meninjau pembudidayaan anggrek terkesan dengan anggrek hutan khas Kalsel tersebut sehingga membeli untuk dibawa ke Jakarta.

Menurut Kuryani, jenis anggrek langka yang disebut spicies Phalaenoasis amabilis Pleihari, tersebut hanya beberapa kolektor saja yang memilikinya, lantaran sulit berkembangbiak.

Salah seorang kolektor yang dinilai terbanyak mengkoleksi anggrek pleihari tersebut, yaitu Ny.Sukaisih warga Jalan Purnawirawan Gang Damai Pleihari.

Sementara Ny.Sukaisih saat berada di lokasi kontes saat ditanya mengakui dirinya memiliki tujuh batang anggrek langka tersebut yang berasal dari lokasi hutan berbeda-beda pula.

Anggrek Pleihari yang ia miliki tersebut sempat pula diikutkan dalam kontes anggrek, yang diselenggarakan Perumahan Citra Garden Banjarmasin.

Kala itu anggrek Pleihari milik Ny Sukaisih tersebut berhasil keluar sebagai juara pertama kategori anggrek spicies, sehingga ditawar Rp35 juta tetapi karena sayang maka tawaran tersebut ditolak dan kini hanya menjadi koleksi di halaman rumahnya di Kota Pleihari.

Menurut Sukaisih, anggrek Pleihari sejenis anggrek bulan yang hanya ada di hutan kawasan Pleihari, tetapi uniknya beda lokasi maka akan berbeda pula bentuk bunganya.

Seperti anggrek Pleihari yang diperoleh dari hutan kawasan Gunung Bira maka bunganya akan beda dengan anggrek Pleihari yang diperoleh dari kawasan hutan Gunung Ranggang, begitu juga anggrek Pleihari dari kawasan hutan Gunung Pleihari berbeda pula dengan yang lainnya.

Sementara keterangan lain menyebutkan anggrek spesies Pleihari ini memang agak beda dibandingkan anggrek kebanyakan, masalahnya daunnya agak panjang dan memiliki bunga yang unik, warna putih di tengah ada warna kuning dan di tengah warna kuning itu ada bintik-bintik merah.

Kelebihan dan keunikan lain jenis anggrek ini, adalah tangkai bunga, bila anggrek lain tangkai bunga biasanya mati setelah mengeluarkan bunga, tetapi bagi anggrek khas Pleihari ini justru tangkai bunga ini terus memanjang hidup dan akhirnya di tangkai bunga itu pula keluar bibit-bibit baru tanaman itu.(*)

Nasional : Dephut Rilis Daftar Spesies Prioritas

(www.kompas.com, 10-10-2008)
JAKARTA, JUMAT - Ditjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), Departemen Kehutanan (Dephut), meluncurkan daftar spesies prioritas yang akan dikonservasi pada periode 2008-2018.

"Daftar spesies prioritas ini akan digunakan Departemen Kehutanan dan pihak-pihak lainnya, termasuk donor asing yang bermitra dengan pemerintah untuk melakukan berbagai kegiatan konservasi terhadap spesies tersebut," kata Dirjen PHKA, Darori, di Jakarta, Jumat (10/10).

Dia mengatakan Indonesia memiliki kekayaan hayati tertinggi, menjadikan negara ini sebagai salah satu biodiversity hotspot di dunia. Mengingat banyaknya spesies yang perlu diperhatikan dan dikelola, sementara tenaga dan pendanaan terbatas, maka perlu ada prioritas.

Spesies prioritas dipilih berdasarkan lima kriteria utama, yakni endemisitas, status populasi, kondisi habitat, keterancaman dan status pengelolaan. Sedangkan untuk kemudahan pengelolaan jenis-jenis spesies Indonesia dipilah tujuh kelompok besar, yakni burung, mamalia, primata, herpetofauna (reptil dan amfibi), serangga, spesies bahari dan perairan tawar, serta tumbuhan.

Hampir semua jenis mamalia masuk dalam spesies prioritas, untuk primata ternyata semua menduduki peringkat atas prioritas kecuali orangutan dan spesies endemik Kepulauan Mentawai seperti bokoi, bilou, joja, dan simakobu.

Sedangkan untuk spesies burung, beberapa yang menjadi prioritas adalah maleo, burung gosong, jalak bali, berbagai jenis elang, beberapa paruh bengkok dan cendrawasih. Untuk spesies herpetofauna, yang menjadi prioritas antara lain beberapa jenis kura-kura, ular, katak yang sangat endemik.

Sementara itu, untuk kelompok insekta adalah kupu-kupu dan kumbang yang jenisnya banyak untuk koleksi. Dan untuk spesies bahari dan perairan terpilih pesut Mahakam dan duyung, termasuk juga ikan langka kima dan penyu laut.

Untuk jenis tumbuhan, terpilih 22 spesies yang diprioritaskan termasuk beberapa jenis anggrek langka, rafflesia, tumbuhan penghasil kayu komersial yang telah langka yakni kayu hitam, kempas, nyatoh, dan bingatur.

"Melakukan konservasi tidak mudah agar satwa dan tumbuhan tidak punah di alam. Badak Jawa kita yang ditangkarkan di Ujung Kulon belum juga mempunyai anak, Andalas badak Sumatera yang dikembalikan ke habitatnya dari Amerika juga belum bisa berkembang biak, sulit memang," ujar Darori.

Dia mengatakan dengan adanya daftar spesies prioritas tersebut maka arahan kebijakan konservasi menjadi jelas, sehingga kegiatan konservasi sumberdaya hayati dapat dilakukan optimal, efisien dan terarah.
WAH
Sumber : Antara

Raja Ampat Berburu Dollar, Menuai Bencana

(www.cetak.kompas.com, 09-10-2008)

Oleh Ichwan Susanto

Hampir setengah tahun ini Beny Manggapro (65) setiap sore hanya nangkring, duduk di atas dahan ranting pohon ketapang yang menjulur ke laut.

Matanya sayu menatap riak- riak air yang tak lagi memantulkan warna biru cerah yang bermandi sinar matahari. Dari batas ujung barat ke timur perairan pantai Kampung Warwanai yang tampak hanya warna coklat lumpur.

Ia masih ingat beberapa waktu lalu perairan setempat masih jernih berwarna kebiruan. Ia dan warga sekitar tinggal mengayuh kole-kole, menebar kail, dan mendapatkan berbagai ikan karang. Kalau sanggup menyelam, aneka biota ada di dasar laut.

Namun, kini, bagian dari laut Raja Ampat, Papua Barat, yang tersohor itu mulai menutup pintu berkah hasil alamnya. Material lumpur yang mengendap dan partikel halusnya yang melayang-layang di air membuat ikan tak lagi betah di situ.

Biota air yang lambat dan tak dapat bergerak seperti karang, kerang, teripang, dan udang tak mampu mempertahankan kehidupannya. Mereka mati karena lingkungan dipenuhi lumpur.

Pada awal Agustus kemarin, ketika air pasang-turun ketinggian lumpur di pinggir pantai dapat mencapai pinggang orang dewasa. Saat pasang-naik, perairan setempat berwarna coklat kemerahan.

Dari atas pesawat patroli TNI Angkatan Laut, Cassa P-851, yang melintas ke Pulau Waigeo, 17 Juli, kerusakan lingkungan ini tampak sangat jelas. Garis pantai selebar hingga 100 meter membentuk jalur berwarna kecoklatan. Di atas perbukitannya, tampak jalur-jalur berwarna coklat merobek hijau daratan setempat. Jalur-jalur itu merupakan jalan dan gerusan alat-alat berat milik perusahaan tambang nikel PT Karunia Alam Waigeo (KAW).

Bupati Raja Ampat Markus Wanma memberikan waktu 15 tahun bagi perusahaan asal Karawang ini secara ”bebas” mengoyak keindahan kabupaten kepulauan bahari ini. Tak hanya KAW, beberapa perusahaan tambang nikel pun hingga kini masih beroperasi, di antaranya PT Anugrah Surya Pratama beserta grupnya, PT Anugrah Surya Indotama, yang beroperasi di Manoram.

Sebelumnya, ada PT Kawei Minning Sejahtera (KMS) yang menambang di Pulau Kawei, sebelah barat Pulau Waigeo. Namun, kini perusahaan milik anggota DPRP, Daniel Daat, ini ditutup paksa setelah berselisih dengan Bupati Markus Wanma.

Kawasan konservasi

Peta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sorong menunjukkan areal tambang berbagai perusahaan tambang ini berimpitan dengan kawasan konservasi. Lahan konsesi PT KAW ini berada di dekat zona penunjukan cagar alam Pulau Waigeo Timur yang diatur dalam Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 251/Kpts-II/ 1996, 3 Juni 1996.

Wilayah daratan ini menjadi habitat satwa kakatua jambul kuning (Cacatua galerita triton), cenderawasih (Paradise rubra), raja udang hutan (Halycon macleayii), julang irian (Aceros Plicatus), kakatua raja (Probosciger atterimus), bayan (Lorius floratus), nuri merah kepala hitam (Lorius domisella), mambruk (Caura cristata), dan maleo (Magrocephalon maleo). Selain fauna yang dilindungi itu, ada anggrek waigeo yang hanya tumbuh di daerah ini.

Cagar Alam Waigeo Timur secara geografis terletak antara 130° 33’ 51” sampai 130° 55’ 54” bujur timur dan 0° 02’ 27” sampai 0° 08’ 51” lintang selatan. Jenis batuan aluvium undak, neogen, dan batuan basa termasuk kelompok efiolit di timur. Jenis tanah rendzina, red yellow podsolik, dan gray brown podsolik. Tipe iklim A dengan curah hujan rata-rata 4.-62 milimeter dan rata-rata hujan 203,9 hari per tahun.

Kepala Bidang I Balai Besar KSDA Sorong, Suartana, mengaku sedang menyelidiki dampak aktivitas tambang PT KAW. Ia mengaku sedikit tahu aktivitas pertambangan ini. Pasalnya, peraturan Bupati Raja Ampat tentang pemberian kuasa pertambangan hanya ditembuskan ke Menteri ESDM, Mendagri, dan Gubernur, tidak ditembuskan ke Menteri Kehutanan maupun Menneg Lingkungan Hidup.

Adapun Komandan Lanal Sorong Yudo Margono yang langsung bergerak melaporkan kerusakan lingkungan ini ke Polres Raja Ampat. Mereka dituding lalai dalam menerapkan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal).

Lanal Sorong mencatat PT KAW ini sudah tujuh kali mengekspor bahan galian mengandung nikel ke China, rata-rata setiap pengapalan 35.000 ton. Adapun menurut data Forum Kerja Sama LSM Regio Kepala Burung, pengiriman nikel ke Queensland, Australia, sejak 2004 hingga awal 2008 diperkirakan telah 15 kali, rata-rata bermuatan 50.000 ton bahan galian nikel.

Menurut data Dinas Pertambangan dan Energi Raja Ampat, terdapat 16 perusahaan tambang nikel yang sedang dalam tahap eksplorasi, eksploitasi, maupun penyusunan amdal. Beberapa di antaranya beralamat kantor sama. PT KMS tidak dicantumkan dalam daftar.

Namun, menurut Asisten II Raja Ampat, Samuel Belseram, hanya tiga perusahaan yang kini masih aktif, yaitu KAW di Warwanai, PT Anugrah Surya Pratama, PT Anugrah Surya Indotama di Manoram seluas 9.500 ha.

Sebagai daerah yang telah dideklarasikan sebagai kawasan konservasi laut daerah, Raja Ampat seharusnya mulai menata diri dan berfokus pada bidang nonpertambangan. Sebab, eksploitasi lingkungan ini pasti berdampak negatif pada lingkungan dan merusak daya tarik wisata alam yang sudah mendunia itu.

09 October 2008

Manca Negara : Stockholm : Penemu Protein Ubur-ubur Raih Nobel Kimia

(www.http://techno.okezone.com, 09-10-2008)
STOCKHOLM
- Tiga ilmuwan akhirnya mendapatkan hadiah Nobel di bidang kimia. Dua Orang berasal dari Amerika, dan satu orang lagi berkewarganegaraan Jepang.

Komite Nobel memilih Osamu Shimomura, Martin Chalfie, dan Roger Tsien sebagai pemenang, karena penelitian mereka tentang Protein berpendar hijau atau GFP, yang diprediksi dapat menghambat penyebaran sel kanker.

Protein yang dapat ditemukan di Ubur-ubur, berguna untuk mengetahui penyebaran pada sel kanker. Protein tersebut secara luas digunakan di laboratium untuk proses hidup orang banyak, seperti pengembangan sel otak atau penyebaran sel kanker.

Shimomura adalah orang pertama yang mengisolasi GFP dari ubur-ubur, yang dia ambil di pantai barat di daerah Amerika Utara, pada tahun 1962, dan menemukan bahwa GFP itu menjadi hijau terang ketika disorot di bawah Ultraviolet.

Pada tahun 1990-an, Chalfie menunjukan nilai GFP sebagai genetic yang bercahaya, saat Tsien menambahkan bagaimana GFP ini berproses. Tetapi dikatakan bahwa yang mereka kerjakan memungkinkan ilmuwan lain menemukan beberapa perbedaan proses pada waktu yang sama.

Nantinya penelitian GFP ini dapat digunakan untuk penyembuhan kerusakan saraf atau melihat bagimana insulin membuat embrio tumbuh di pankreas.

"Ini adalah satu eksperimen spektakuler, penelitian yang sukses mengenai sel syaraf yang beda? , ujar pihak komite. Seperti yang diberitakan AP, Kamis (9/10/2008), trio ini berhak menerima hadiah sebesar 10 juta kronor atau USD1.4 Juta.

Chalfie, lahir pada tahun 1947, dia adalah professor di Universitas Columbia di New York. Sedangkan Tsien professor kelahiran tahun 1952 yang biasa mengajar di Universitas California, San Diego. Shimomura mememulai pekerjaanya pada pertengahan 1950 saat dia masih berada di Jepang. Tahun 1962, dia mengisolasi protein ubur-ubur. (srn)

Nasional : Maleo Terancam Punah

(www.antara.co.id, 09-10-2008)
Kendari, (ANTARA News) - Populasi satwa burung Maleo (Macrocephalo maleo) yang dilindungi keberadaannya terancam punah karena secara terus menerus kehilangan habitat.


Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tenggara (Sultra), Fred Kurung di Kendari, Kamis, mengatakan, penyusutan habitat burung maleo karena pengaruh kegiatan ladang berpindah-pindah.

Selain itu, juga disebabkan penebangan kayu secara liar dan pembukaan lahan baru untuk pemukiman warga tanpa mempertimbangkan fungsi kawasan sekitarnya.

"Aktivitas pembukaan lahan baru dan penebangan kayu tidak lagi memperhatikan fungsi kehidupan sekitar, tetapi cenderung muncul hawa nafsu keserakahan untuk mengeksploitasi kawasan hutan, termasuk habitat burung maleo, padahal satwa pun butuh hutan untuk mengembangkan dirinya," kata Fred.

Di Kawasan Suaka Margasatwa (SM) Kabupaten Buton Utara --dulu wilayah pemerintahan Kabupaten Muna-- adalah habitat burung maleo yang handal, namun kini kondisinya sudah memprihatinkan.

Penerbitan izin pemanfaatan kayu tanah milik (IPKTM) cenderung tidak terkendali hanya karena mengejar target mengumpulkan pendapatan asli daerah (PAD), namun tanpa disadari telah memupuskan harapan kehidupan satwa yang dilindungi seperti burung maleo.

Perburuan liar saat ini, juga menjadi ancaman serius karena bukan lagi menggunakan alat jerat tradisional, tetapi masyarakat juga dengan menggunakan alat senjata angin --senjata burung--berburu burung maleo, sehingga sulit bagi satwa tersebut untuk


Menyelamatkan diri.


"Kalau alat jerat biasanya hanya dipasang di tempat bertelur burung Maleo, sehingga masih memungkinkan untuk menghindar, tetapi sekarang ini pelaku pencari burung maleo sudah menggunakan senjata angin," kata Fred.

Pengawasan dari instansi terkait, yakni KSDA dan Dinas Kehutanan, menurut dia, sulit dimaksimalkan karena keterbatasan anggaran, sarana dan personil.

Selain burung Maleo, juga satwa liar yang memiliki habitat di SM Buton Utara adalah rusa (Cervus timorensis), monyet Buton (Macaca brunnences) dan kus-kus (Phalanger sp).

Ketua Yayasan Hijau Indonesia, Sahlan sangat menyesalkan adanya perburuan satwa langka seperti maleo di daerah itu.

Padahal, menurut dia, keanekaragaman satwa di wilayah Sultra sesungguhnya dapat menjadi obyek wisata andalan.

"Bukan hanya panorama alam pantai dan air terjun yang dapat menarik wisatawan tetapi burung pun menarik untuk dinikmati," katanya.

Oleh karena itu, diharapkan semua pihak haru peduli dengan habitat burung Maleo yang populasinya makin sedikit.

SM Buton Utara yang ditunjuk berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 782/Kpts-II/Um/12/1979 tertanggal 17 Desember 1979 memiliki luas 82.000 hektare.

SM Buton Utara terletak pada ketinggian 0-600 meter di atas permukaan laut dengan topografi datar, landai bergelombang hingga berbukit-bukit.(*)

Manca Negara : Indonesia : Produsen Rumput Laut Terbesar

(www.antara.co.id, 09-10-2008)
Jakarta (ANTARA News) - Ketua Umum Masyarakat Rumput Laut Indonesia Jana T Anggadiredja, di Jakarta, Kamis mengatakan Indonesia ditargetkan menjadi produsen rumput laut terbesar di dunia pada 2010 dan siap melangkah menjadi negara industri terkemuka komoditas itu.


"Sebenarnya sejak 2007, kita sudah menjadi produsen bahan baku terbesar untuk jenis `euchuma sp`," katanya saat memberikan keterangan penyelenggaraan Forum Rumput Laut Indonesia yang akan diadakan di Makassar, 27-30 Oktober.

Menurut data, pada 2007 produksi rumput laut Indonesia mencapai 94 ribu ton. Produk itu terbagi dalam jenis `euchuma dentuculatun` atau yang biasa dikembangkan untuk bahan baku kosmetik dan farmasi (karaginan) dan glacilaria (untuk agar-agar).

Menurut dia, saat ini pemasok rumput laut terbesar adalah Sulawesi Selatan, diikuti Bali, Sumbawa, dan Jawa-Madura.

Untuk mendukung langkah menjadi produsen rumput laut terbesar itu, kata Jana, berbagai asosiasi rumput laut telah merumuskan standar operasi bagi pengelolaan rumput laut, mulai memilih bibit hingga penanganan pascapanen.

Dengan adanya standar operasi itu, katanya, diharapkan peningkatan kuantitas produksi rumput laut diikuti peningkatan kualitasnya.

Menurut dia, sebagai refleksi dari keinginan untuk mempromosikan Indonesia sebagai negara besar penghasil rumput laut itu pula diadakan Forum Rumput Laut Indonesia di Makassar.

Acara itu, katanya, akan menjadi ajang promosi hasil yang dicapai Indonesia dalam pengembangan rumput laut, sekaligus memperkenalkan potensi perairan Indonesia yang merupakan lahan pengembangan rumput laut.

"Forum itu juga untuk memperjelas posisi Indonesia sebagai salah satu negara terkemuka dalam pengembangan industri rumput laut seiring permintaan dan kebutuhan dunia yang semakin besar," katanya.

Dalam forum itu, katanya, akan berbicara puluhan peneliti rumput laut dari 20 negara dan Kongres Petani Rumput Laut Indonesia serta pelatihan kepada para petani rumput laut.(*)

Manca Negara : Beijing : Survei Global Tunjukkan Fauna Sangat Terancam Punah

(www.antara.co.id, 09-10-2008)
Beijing, (ANTARA News) - Para pemimpin dunia telah meluncurkan berbagai rencana penyelamatan dari krisis ekonomi global, tapi tak ada rencana yang ditawarkan guna mengatasi krisis hewan mamalia di dunia.


Xinuanet mengutip survei utama tahunan oleh pencinta margasatwa global memperingatkan bahwa sedikitnya 1.141 dari 5.487 hewan mamalia yang dikenal terancam, dan 188 terdaftar dalam kategori resiko tertinggi "sangat terancam".

International Union for the Conservation of Nature (IUCN) melibatkan 1.700 ahli di 130 negara untuk penilaian "daftar merah".

Laporan tersebut mengkonfirmasi dampak yang menghancurkan akibat pembersihan hutan, perburuan, penangkapan ikan, polusi dan perubahan iklim terhadap populasi dan sejumlah kategori hewan yang paling banyak dipelajari di dunia.

Meskipun banyak negara dianggap bertanggung jawab atas nasib fauna di dalam perbatasan mereka, mereka perlu membangun koalisi internasional untuk menyelamatkan banyak spesies yang hidup atau berenang di seluruh perbatasan nasional.

Kenyataannya ialah tak ada strategi pelestarian jangka-panjang untuk menghalangi kepunahan spesies terancam pada masa depan, kata IUCN.

Yang lebih, tambahnya, manusia membuat spesies lain punah.

"Kita telah menjadi tak perduli terhadap keterangan yang menyedihkan ini dan kini benar-benar mengabaikannya tanpa berusaha memikirkan dampaknya," katanya.

Kesimpulan Mark Wright, ilmuwan yang memimpin Dana Marsatwa Dunia, keras tapi benar.

"Kita sudah terlalu terbiasa untuk melihat laporan yang mengeluhkan nasib planet ini atau kemerosotan jumlah hewannya. Dan kita menjadi sangat tidak sensitif mengenai ini," katanya.

Populasi ikan lumba-lumba air tawar di China hanya ditemukan di Sungai Yangtze di negeri itu. Hewan tersebut hanya dapat hidup di air tawar. Lumba-lumba itu adalah pemangsa yang oportunistik dan memangsa sangat banyak spesies ikan air tawar.

Penyebab kemerosotan hewan tersebut meliputi kerusakan habitat, penangkapan yang berlebihan, polusi dan kecelakaan selama lalu-lintas padat di sungai.

Spesies itu dilindungi secara hukum di negeri tersebut, tapi upaya pelestarian belum berhasil memindahkan ikan lumba-lumba Sungai Yangtze dari kategori sangat terancam.

Suatu penelitian ilmiah selama enam-pekan pada musim panas 2007 menyimpulkan bahwa spesies tersebut sekarang mungkin sudah punah, yang, tentu saja, belum secara resmi dikonfirmasi.

Berkurangnya jumlah hewan mamalia itu adalah masalah global. Berbagai kegiatan manusia ditambah dengan tingkat yang lebih besar atau kecil perubahan iklim dapat mengakibatkan kepunahan, kata IUCN.

Data dari IUCN yang telah disiarkan diharapkan dapat mendorong semua negara untuk memperlihatkan itikad politik dan keinginan masyarakat untuk memperkokoh pelestarian spesies semacam itu.

Tentu saja, katanya, uang diperlukan untuk melaksanakan strategi pelestarian, tapi keputusan yang layak mesti dibuat mengenai tempat dan cara uang itu dibelanjakan.(*)

Nasional : Cagar Biosfer Saat Ini Tidak Berkembang

(www.kompas.com, 08-10-2008)

JAKARTA, RABU — Cagar biosfer yang mencakup kawasan ekosistem asli yang ditetapkan dengan tujuan melindungi keanekaragaman hayati di Indonesia selama ini tidak berkembang. Bahkan, keberadaannya di era otonomi daerah makin terancam pengalihan tata guna lahannya.

"Cagar biosfer di dunia justru terus dikembangkan hingga sekarang mencapai 540-an, sedangkan di Indonesia dengan keanekaragaman hayati yang tergolong paling kaya itu sampai sekarang hanya memiliki enam cagar biosfer sejak era 1970-1980," kata Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Endang Sukara, Selasa (7/10) di Jakarta.

Keberlangsungan enam cagar biosfer di Indonesia didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui UNESCO, meliputi cagar biosfer Cibodas (Taman Nasional Gede Pangrango) di Jawa Barat, Tanjung Puting di Kalimantan Tengah, Lore Lindu di Sulawesi Tengah, dan Taman Nasional Komodo, keempatnya diresmikan pada tahun 1977. Kemudian cagar biosfer Leuser di Nanggroe Aceh Darussalam dan Siberut di Mentawai yang diresmikan UNESCO pada tahun 1981.

"Semenjak itu pemerintah tidak pernah memperbanyak cagar biosfer lagi," kata Endang Sukara.

Memperlambat kepunahan

Direktur Eksekutif Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati) Damayanti Buchori mengatakan, upaya memperlambat kepunahan keanekaragaman hayati seperti dibahas Badan Konservasi Dunia (IUCN) di Barcelona, Spanyol, akhir-akhir ini, harus ditunjukkan dengan keseriusan pemerintah memperbanyak cagar biosfer itu.

"Dari keberadaan enam cagar biosfer saja hingga saat ini sama sekali tidak mewakili keanekaragaman hayati yang tersebar di pulau-pulau," kata Damayanti.

Akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Sri Supraptini Mansjoer, mengatakan bahwa upaya memperlambat kepunahan keanekaragaman hayati tidak bisa lepas dari peran setiap pemerintah kabupaten atau kota di era otonomi daerah seperti sekarang.

"Pemerintah daerah paling memiliki peluang untuk melindungi keanekaragaman hayatinya. Tetapi, kapasitas untuk mengambil manfaat dari upaya memperlambat kepunahan berbagai jenis flora dan fauna di daerah masing-masing itu perlu ditingkatkan, misalnya untuk kepentingan ekoturisme," kata Sri Supraptini.

Biosfer

Endang Sukara memaparkan, cagar biosfer memiliki zona penyangga dan zona transisi. Namun, kedua zona ini tak diwujudkan dengan baik, kecuali pada cagar biosfer Cibodas dengan kelangsungan zona penyangga berupa Kebun Raya Cibodas yang tetap terpelihara dan berfungsi untuk ekoturisme hingga kini.

Perwujudan zona transisi pada kawasan perbatasan zona penyangga dengan permukiman. Akan tetapi, ini juga tidak terbentuk. Pada zona ini penduduk semestinya memanfaatkan potensi ekonomi dari keanekaragaman hayati cagar biosfer, seperti penanaman kayu spesifik atau lainnya.

Endang Sukara mengatakan, LIPI kini sedang memperjuangkan kawasan Pegunungan Muller di Kalimantan Tengah menjadi Warisan Dunia atau World Heritage. Sebab, menjaga kelangsungan kawasan ini sekaligus menjaga kelangsungan keanekaragaman hayati yang terdapat di Kalimantan.

"Itu disebabkan hampir semua hulu sungai berada di pegunungan Muller ini. Ketika habitat hutan di Pegunungan Muller rusak, intensitas bencana ekologis di Kalimantan makin bertubi-tubi," kata Endang Sukara. Sumber : Kompas Cetak

08 October 2008

Supiori : Dua Unit Rumah Pengasapan Kopra Dibangun

(www.cenderawasihpos.com, 08-10-2008)
SUPIORI-Salah satu komoditi andalan Kabupaten Supiori adalah kopra (buah kepala yang dikeringkan). Hanya saja sampai saat ini pengelolaannya belum didukung baik sarana dan prasana yang memadai. Meski begitu secara perlahan-lahan pemerintah telah memperhatikan hal itu.

Salah penunjang pengelolaan kopra yang kini telah dibuat pemerintah untuk membantu masyarakat dalam pengelolaan kopra itu adalah dengan membangun rumah pengasapan. Memang belum difungsikan namun setidaknya dengan rumah pengasapan itu masyarakat lebih mudah nantinya dalam melakukan pengeringan.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Supiori Ir. Dance Rumainum dua unit rumah pengasapan yang saat ini sementara dibangun terletak di Pulau Mapia dan Pulau Rani. Hanya saja dua rumah pengasapan kopra itu belum difungsikan karena semantara dalam proses pembangunan.

"Dua unit rumah pengasapan untuk kepala kering ini sementara dibangun. Memang belum selesai karena anggaran pembangunannya dilakukan secara bertahap," ujarnya kepada Cenderawasih Pos, kemarin.

Dikatakan pembangunan rumah pengasapan ini dimaksudkan supaya masyarakat dalam melakukan pengeringan kelapa yang baru dipanen lebih mudah dan kualitasnya terjamin jika dibandingkan dengan pengeringan secara manual.
Terkait dengan hal tersebut diatas maka kedepan pihaknya akan berupaya membangun rumah pengasapan secara terprogram di wilayah-wilayah yang memiliki kelapa cukup banyak sesuai dengan ketersedian anggaran.

"Kami berharap dengan adanya rumah pengasapan maka masyakat lebih mudah dalam melakukan pengeringan. Memang pemasaran yang masih menjadi kendala namun kedepan hal ini tetap akan menjadi perhatian serius kami," tandas Rumainum.(ito)