Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua

Cari Informasi/Berita/Tulisan/Artikel di Blog IKP

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org

06 November 2010

Timika : DPR Minta Freeport Taati Ketentuan UU Minerba

(www.papuapos.com, 5-11-2010)
Timika [PAPOS]- Ketua Komisi VII DPR, Effendi MS Simbolon meminta PT Freeport Indonesia menaati semua ketentuan yang diatur dalam UU No 4 tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara (Minerba).

"Kontrak generasi ke lima soal Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) kepada PT Freeport belum disetujui sehingga dia harus tunduk kepada UU No 4 tahun 2009 tentang Minerba," kata Effendi Simbolon kepada wartawan di Timika, Rabu.

Ia bersama sembilan anggota Komisi VII DPR lainnya pada Rabu pagi tiba di Timika, ibu kota Kabupaten Mimika dalam rangka kunjungan kerja selama tiga hari.

Menurut wakil rakyat dari Fraksi PDI Perjuangan itu, kunjungan kerja ke Mimika dalam rangka menyerap, menggali dan melakukan kros cek dengan Pemkab setempat, Pemprov Papua dan manajemen PT Freeport Indonesia mengenai masalah izin pertambangan, pengelolaan lahan eksplorasi, persoalan lingkungan, masalah kelistrikan, masalah bahan bakar dan lainnya.

Setiba di Timika, Komisi VII DPR bersama rombongan dari Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), BP Migas, Pertamina dan PLN Wilayah Sulmapa menggelar pertemuan dengan Bupati Mimika, Klemen Tinal.

Pada Kamis (4/11), rombongan Komisi VII DPR akan meninjau lokasi pertambangan emas, tembaga dan perak Freeport di Grassberg Tembagapura dan selanjutnya akan meninjau areal pengendapan pasir sisa tambang (sirsat) di Maurupauw MP 21.

Effendi dan rekan-rekannya juga menjadwalkan pertemuan dengan jajaran direksi PT Freeport Indonesia.

"Pertemuan dengan Direktur Utama dan jajaran Direksi Freeport sangat penting sekaligus untuk memberikan klarifikasi atas data yang kami miliki," tuturnya.

Ia mengharapkan PT Freeport dapat memenuhi semua ketentuan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan baik menyangkut pengelolaan lingkungan, termasuk besaran royalti dan iuran tetap tentang tarif atas jenis penerimaan negara bukan pajak yakni 3,75 persen dari ketentuan semula sebesar satu persen sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah No 45 tahun 2003.

Dengan menaati berbagai aturan tersebut, kata Effendi, kegiatan operasional PT Freeport tidak akan mengalami gangguan hingga selesainya masa kontrak karya dengan Pemerintah Indonesia yang dijadwalkan berakhir sekitar tahun 2040.

PT Freeport Indonesia merupakan perusahaan penanaman modal asing pertama yang berinvestasi di Indonesia sejak ditandatangani kontrak karya pertama tanggal 7 April 1967. Kontrak karya Freeport dengan Pemerintah Indonesia diperbaharui (kontrak karya tahap II) pada tahun 1991 yang ditandatangani oleh mendiang Presiden Soeharto.[ant/agi]

Manca Negara : Amerika : Ular Ini Beranak Tanpa Kawin

(www.kompas.com, 5-11-2010)
KOMPAS.com - Reproduksi aseksual, yaitu reproduksi yang terjadi tanpa disertai pembuahan sel telur oleh sperma, adalah hal yang umum terjadi pada hewan tak bertulang belakang. Tapi, reproduksi cara tersebut bisa sangat mengejutkan bila terjadi di kelompok hewan bertulang belakang atau yang sering disebut vertebrata, walaupun bukan berarti tidak ada.

Baru-baru ini peneliti dikejutkan dengan adanya spesies ular yang mampu bereproduksi secara aseksual lewat proses yang disebut partenogenesis. Spesies tersebut adalah Boa constrictor, atau biasa disebut boa, golongan ular tak berbisa yang memiliki badan relatif besar dan biasa ditemukan di Karibia, Amerika Selatan dan Amerika Tengah.

Temuan itu dimulai ketika Warren Booth, ahli Genetika Populasi dan Evolusi dari Virginia State University, menemukan seekor boa yang melahirkan 22 anakan. Boa yang ditemukan di Boa Store Tennesee ini melahirkan anakan yang seluruhnya betina dan karakteristiknya sama dengan induknya, berwarna karamel.

Setelah melakukan tes DNA pada boa betina yang ditemukan dan pejantan yang ada di tempat tersebut, Booth sangat yakin bahwa boa yang ditemukannya bereproduksi secara partenogenesis. Pasalnya, tak mungkin anakan yang dihasilkan memiliki karakter yang jarang itu jika tidak menuruni gen dari kedua induknya.

Booth menemukan sesuatu yang unik pada partenogenesis boa ini. "Partenogenesis ini dilakukan saat ada pejantan di tempat itu," ujar Booth. Hal tersebut, menurut Booth, berbeda dengan partenogenesis pada umumnya yang dilakukan ketika tak menemukan pasangan kawin. Hingga kini, Booth belum menemukan alasan partenogenesis pada ular tersebut.

Keunikan yang lain adalah materi genetik yang terdapat pada anakan. Pada ular, anakan jantan biasanya akan memiliki kromoson ZZ dan anakan betina memiliki kromosom ZW. Namun, anakan boa ini berbeda sebab kromosom anakannya adalah WW dan berjenis kelamin jantan. "Ini mengejutkan. Selama ini, ilmuwan berpandangan bahwa anakan dengan kromosom WW tidak akan berkembang," jelas Booth.

Booth mengatakan, kemampuan boa dalam melakukan partenogenesis ini bisa berdampak negatif. "Mereka kehilangan jumlah keanekaragaman genetik. Boa itu akan cenderung secara fisik dan fisiologi yang berpengaruh pada kemampuannya untuk survive dan bereproduksi," terang Booth. Perhatian pada cara bereproduksi ini, menurut Booth, sangat penting dalam mengupayakan konservasi ular.

Hasil penelitian Booth dipublikasikan di jurnal online Biology Letters pada tanggal 3 November 2010.

05 November 2010

Nasional : Kakatua Terancam Punah

(www.kompas.com, 3-11-2010)

BOGOR, KOMPAS.com — Burung kakatua di Indonesia yang tersebar di kawasan Wallacea terancam punah pada berbagai tingkatan. Tiga dari tujuh jenis kakatua yang endemik (hanya ada di Indonesia) adalah kakatua maluku (Cacatua moluccensis), kakatua putih (Cacatua alba), dan kakatua tanimbar (Cacatua goffiniana). Sementara itu, kakatua-kecil jambul-kuning (Cacatua sulphurea), yang juga terdapat di Timor Leste, memiliki status keterancaman tertinggi, yaitu kritis.

Demikian siaran pers yang dikeluarkan Burung Indonesia, yang ditandatangani Fahrul P Amama, Communication and Media Relations Burung Indonesia, Senin (1/11/2010). Burung Indonesia atau Perhimpunan Pelestari Burung Liar Indonesia adalah organisasi nirlaba yang bekerja sama dengan Bird Life Internasional (berkedudukan di Inggris) yang memfokuskan pekerjaan pada pelestarian jenis-jenis burung yang terancam punah.

Dalam siaran pers itu dipaparkan, Indonesia sebagai negara dengan kekayaan hayati yang tinggi bertengger di peringkat pertama sebagai negara dengan jumlah jenis burung terancam punah dan paling banyak akibat eksploitasi berlebih. Berbagai jenis burung paruh bengkok tersebut diekspor ke luar wilayah Indonesia untuk memenuhi kesenangan manusia. Catatan paling awal pada abad ke-15, terjadi pengangkutan kakatua pertama ke Eropa lewat perairan Nusantara yang kala itu disebut East Indies.

Selain penangkapan dan perdagangan internasional yang tidak memerhatikan keberlangsungan populasi untuk pulih, jenis-jenis kakatua dan paruh bengkok lainnya di Indonesia masih harus menghadapi ancaman berupa bukaan hutan untuk fungsi lain. Setiap tahunnya, pada periode 2006 hingga 2009, laju deforestasi hutan mencapai 31 juta hektar per tahun.

Ketiga jenis kakatua tersebut memang dapat pula dijumpai di hutan sekunder atau hutan yang telah mengalami proses pembalakan. Bahkan, kakatua putih dianggap cukup toleran dengan hutan modifikasi. Walau demikian, ketiganya sangat membutuhkan tutupan hutan alam dengan tutupan tajuk rapat, terutama ketersediaan pohon besar sebagai sarang.

227 DPB

Bird Life International selaku otoritas ilmiah Badan Konservasi Dunia (IUCN) untuk semua jenis burung di dunia menilai, tiga dari tujuh jenis kakatua di Indonesia menghadapi ancaman kepunahan. Ketiga jenis kakatua tersebut menghadapai berbagai tekanan yang dapat melenyapkan populasi mereka di alam bebas.

Untuk itu, sebagai organisasi konservasi dengan jaringan kemitraan terbesar, Bird Life International mengembangkan program konservasi berbasis standar dan kriteria yang diterima dan dapat diaplikasikan secara global. Program konservasi ini tidak hanya mengenali, mendokumentasikan, dan melindungi jaringan kawasan-kawasan penting bagi burung, tetapi juga terhadap kekayaan hayati lainnya. Program ini dikenal sebagai Important Bird Area (IBA) atau Daerah Penting bagi Burung (DPB).

Dengan 227 kawasan penting bagi burung (di luar Pulau Papua), Indonesia memiliki DPB/IBA terbanyak di Asia Tenggara, disusul Filippina (117 IBA) dan Vietnam (63 IBA). Daerah penting bagi burung di Indonesia tersebar di Jawa dan Bali (53 DPB), Nusa Tenggara (43 DPB), Sumatera (40 DPB), Maluku (36 DPB), Sulawesi (32 DPB), dan Kalimantan (23 DPB).

Secara umum, paruh bengkok di Asia dan Amerika Latin saat ini juga menghadapi ancaman serupa. Sejak pertengahan abad ke-17 hingga awal abad ke-19, terhitung sembilan belas jenis paruh bengkok telah menghilang. Perburuan sebagai pakan dan hewan peliharaan ditengarai sebagai penyebab utamanya. Faktor lain penyebab kepunahan paruh bengkok adalah introduksi mamalia dan hilangnya tutupan hutan alam.

Kakatua adalah kelompok burung yang mudah dikenali dari ciri fisiknya: paruh atas yang lebih membengkok dan kuat serta tipe jari kaki zygodactyl (dua jari ke depan dan dua mengarah ke belakang). Berbeda dengan paruh bengkok lain, kelompok kakatua memiliki jambul dan warna bulu dominan yang kurang beragam, seperti putih, hitam, abu, dan kombinasinya.

Secara ilmiah, mereka dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu Cacatuinae (kakatua), Calyptorhynchinae (kakatua hitam), dan Nymphicinae (Cockatiel).

Pusat keragaman kakatua berada di kawasan tropis Australasia (Australia, Papua, dan Wallacea). Dari 21 jenis kakatua di dunia, Indonesia memiliki 7 jenis. Tiga jenis di antaranya hanya terdapat di Indonesia.

03 November 2010

Manca Negara : Afrika : Nyamuk Pembawa Malaria Berevolusi

(www.kompas.com, 2-11-2010)
KOMPAS.com
— Dua galur nyamuk penyebar penyakit malaria di Afrika berevolusi secara genetik hingga menjadi spesies baru yang berbeda dengan sebelumnya. Hal itu diketahui dari penelitian internasional yang dipimpin ilmuwan dari Imperial College London (ICL) tentang galur M dan galur S pada nyamuk Anopheles gambiae yang ada di Sub-Sahara Afrika.

Secara fisik, galur M dan S itu identik. Namun, secara genetik, keduanya berbeda sehingga jenis nyamuknya pun seharusnya dibedakan. Perbedaan genetik itu membuat upaya mengontrol populasi nyamuk Anopheles gambiae dipastikan hanya efektif untuk satu galur dan tidak efektif untuk galur yang lain. Karena itu, jika akan dibuat insektisida untuk membasmi nyamuk tersebut, insektisidanya harus efektif untuk kedua jenis galur.

Pemimpin peneliti, George Christophides dari Divisi Sel dan Biologi Molekuler pada ICL, seperti dikutip ScienceDaily, Kamis (21/10/2010), menyebutkan, malaria adalah penyakit mematikan. Satu dari lima kematian yang terjadi di Afrika disebabkan oleh malaria. ”Cara yang tepat untuk membasmi malaria adalah dengan mengontrol nyamuknya sebagai pembawa penyakit,” katanya.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 200 juta orang terserang malaria di seluruh dunia, sebagian besar ada di Afrika. Malaria membunuh satu anak setiap 30 detik.

Peneliti lain dari ICL, Mara Lawniczak, mengatakan, studi menunjukkan, evolusi nyamuk penyebar malaria jauh lebih cepat dibandingkan yang diperkirakan sebelumnya. Untuk itu, pemantauan genetik tersembunyi pada nyamuk perlu dilakukan jika ingin sukses dalam mengatasi malaria karena strategi menghadapi satu galur nyamuk berbeda dengan strategi untuk menghadapi galur yang lain. (SCIENCEDAILY/MZW)

29 October 2010

Manca Negara : Myanmar : Monyet Hidung Pesek dari Myanmar

(www.kompas.com, 28-10-2010)
KOMPAS.com
— Seekor monyet berhidung pesek jenis baru ditemukan di bagian utara kawasan hutan Myanmar, kawasan hutan yang terancam habitatnya oleh penebangan hutan liar dan proyek pembangunan waduk yang akan dilakukan China. Spesies baru itu diberi nama Rhinopithecus strykeri.

Monyet yang ditemukan ini memiliki ekor yang panjang, warna tubuh yang hitam, daun telinga putih, dan jenggot yang juga berwarna putih. Yang unik dari monyet ini adalah kebiasaannya bersin saat hujan sebab selain hidungnya yang pesek, lubang hidungnya pun menghadap ke atas.

Thomas Geissmen, salah satu peneliti yang berasal dari Universitas Zurich-Irchel, menyatakan, "Ini adalah hal baru dalam ilmu pengetahuan. Sangat tidak biasa menemukan monyet yang memiliki karakteristik lain daripada yang lain di daerah seperti ini."

Para ilmuwan mengungkapkan, monyet-monyet itu memiliki ciri yang berbeda dengan monyet berhidung pesek lain yang berada di China dan Vietnam. Mereka memperkirakan, ada antara 260 dan 330 monyet berciri serupa yang hidup di area hutan yang luasnya mencapai 27 km persegi itu.

Melihat kondisi habitatnya, peneliti mengatakan bahwa monyet-monyet itu berada dalam ancaman. "Ancaman perburuan akan meningkat dalam setahun ke depan seiring rencana pembangunan dam dan pembabatan hutan yang terjadi," ungkap para ilmuwan itu di American Journal of Primatology bulan ini.

Berkaitan dengan kondisi habitatnya, Frank Momberg dari Flora Fauna International yang terlibat dalam penelitian ini mengatakan, "Masa depan dari si monyet pesek ini tergantung pada China." Selama ini, monyet banyak diburu untuk dimanfaatkan daging, bulu, dan organ tubuhnya untuk dijadikan obat.

Peneliti mengungkapkan kemungkinan kerusakan lingkungan yang bisa terjadi akibat pembangunan waduk. Selain merusak ekosistem si monyet, pembangunan waduk yang disertai pembuatan jalan baru dan penebangan dalam jumlah besar dapat berakibat pada erosi daerah aliran sungai (DAS) sehingga akan mengurangi fungsi waduk itu sendiri.

Atas dasar konsekuensi itu, peneliti meminta China melakukan analisis dampak lingkungan terkait dengan pembangunan waduk itu. Tujuannya adalah menyelamatkan monyet yang saat ini sudah dalam kondisi terancam punah itu. Sebagai informasi, rencananya waduk akan dibuat di Sungai Irrawady, Myanmar, oleh China Power Investment Corporation.

28 October 2010

Merauke : Waspada, Tinggi Gelombang Di Perairan Merauke 3-5 Meter

(www.papuapos.com, 28-10-2010)
BIAK [PAPOS] - Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) kelas I Biak merilis, tinggi gelombang laut di perairan sebelah Barat hingga Selatan Merauke diperkirakan mencapai 3 hingga 5 Meter. Perkiraan tersebut berlaku sejak tanggal 20 hingga 26 Oktober 2010 mendatang.

Kepala seksi data dan informasi BMKG kelas I Biak, Ibnu Sulistiono menjelaskan, tinggi gelombang laut yang melebihi batas normal tersebut, terjadi karena adanya angin kencang. Dimana, kecepatan angin di wilayah tersebut diperkirakan mencapai 20 hingga 25 knot, yang bertiup dari arah Barat daya menuju Timur laut Papua.

Sementara itu, Ibnu juga menjelaskan, tinggi gelombang laut di wilayah Pantai Utara Papua diperkirakan masih dalam batas normal, yakni 0,5 hingga 2 Meter, terkecuali di bagian sebelah Selatan Papua, khususnya yang berbatasan dengan sebelah Barat hingga Selatan merauke, tinggi gelombang diperkirakan bisa mencapai 2 hingga 3,5 Meter. [gia]


Manca Negara : Amazon : Inilah Makhluk-makhluk Aneh dari Amazon

(www.kompas.com, 27-10-2010)
KOMPAS.com — Spesies yang istimewa dan spektakuler yang sebelumnya tak diketahui keberadaannya ditemukan di hutan hujan tropis Amazon dengan tingkat penemuan yang cukup tinggi, satu spesies setiap tiga hari. Hal itu dilaporkan WWF pada hari ini.

Beberapa spesies seperti anaconda yang panjangnya sepanjang limusin, lele raksasa yang bisa memakan monyet, laba-laba bertaring biru, dan katak beracun adalah beberapa dari 1.220 spesies hewan dan tumbuhan yang ditemukan dalam periode 1999 hingga 2009.

Salah satu penemuan terhebat adalah ditemukannya anaconda yang panjangnya mencapai 4 meter di Pando, Bolivia, pada tahun 2002. Itu adalah spesies anaconda pertama yang teridentifikasi sejak tahun 1936 dan menjadi spesies keempat anaconda yang teridentifikasi.

Selain itu, ada 55 jenis reptil lain yang ditemukan, termasuk anggota famili Elapidae yang meliputi ular-ular paling berbisa di dunia, yaitu kobra dan taipan. Ada lagi temuan berupa 24 jenis katak berwarna, termasuk katak-katak beracun.

Dari 257 jenis ikan yang ditemukan di sungai dan danau di Amazon, sebagian besar adalah lele raksasa. Satu di antara lele itu ditemukan di Venezuela dengan panjang mencapai 1,5 meter dan berat 32 kilogram. Umumnya, lele yang ditemukan menjadi makanan spesies lain.

Namun, pernah pula ditemukan lele raksasa yang memakan monyet, terbukti dari adanya bagian tubuh monyet yang terdapat di perut lele itu. Ada pula lele yang ditemukan di Rondonia, Brasil, yang memiliki ukuran yang sangat kecil, buta, dan berwarna merah.

Ada pula laba-laba yang ditemukan dengan jumlahnya mencapai 500 spesies, termasuk laba-laba yang memiliki badan coklat tapi memiliki struktur macam gigi taring yang berwarna biru. Sementara untuk mamalia, ada lumba-lumba berwarna merah jambu, tujuh macam monyet, dan dua macam landak.

Amazon sendiri merupakan tempat 637 spesies tumbuhan baru ditemukan, seperti bunga matahari, lili, dan berbagai macam nanas. Amazon adalah rumah bagi 40.000 spesies di mana 1.000 spesies bisa ditemukan di satu hektar hutan hujan tropis di Ekuador dan 3.000 spesies bisa ditemukan di 24 hektar hutan Kolombia.

Laporan tentang adanya spesies itu dikeluarkan di sela-sela pertemuan PBB yang diadakan di Nagoya, Jepang, dalam rangka upaya pencegahan kepunahan massal spesies di seluruih dunia. Bersama dengan laporan itu, WWF juga menggarisbawahi pentingnya pelestarian Amazon.

"Laporan ini menunjukkan dengan jelas betapa istimewanya keanekaragaman hayati di Amazon," kata Fransisco Ruiz, pimpinan WWF's Living Amazon Initiative. Namun, ia menyesalkan bahwa keistimewaan itu kini dalam tekanan karena keberadaan manusia. Lanskap wilayah itu cepat sekali berubah.

13 August 2010

Papua : Pengetahuan Dan Kearifan Tradisional ­ Masyarakat Adat

(Tabloid Jubi, 12-08-2010)
Link : http://tabloidjubi.com/index.php/edisi-cetak/advertorial/8605-pengetahuan-dan-kearifan-tradisional-s-masyarakat-adat

JUBI --- Kesadaran mencin­tai lingkungan hidup timbul dari keseharian setiap suku-suku bangsa di dunia ini termasuk masyarakat asli di Tanah Papua. Pandangan kosmis masyarakat tradisional menurut antropolog Dr JR Mansoben dari FISIP Uncen adalah ham­pir menjadi patokan dari sebagian besar kelompok kelompok etnik di Tanah Papua. Mereka ini bisa tergolong ke dalam masyarakat yang mela­kukan pelestarian ling­kung­­an hidup sesuai dengan penge­tahuan dan kearifan local masing-masing suku. Masyarakat Suku Amungme misalnya memasukan symbol-simbol lingkungan hidup dengan tubuh seorang manusia.

“Tanah bagi orang Amungme adalah ibu atau mama, karena itu tak heran kalau mereka memiliki hubungan yang begitu kuat dengan tanah dan alam. Alam sekitarnya dianggap sebagai tubuh seorang mama yang memberi dan menjamin hidup mereka. Begitu pula dengan masyarakat Asmat menganggap pohon sebagai penjelmaan dari jati diri manusia.

Pandangan ini lanjut Mansoben telah menyebabkan terbentuknya norma-norma dan nilai-nilai tertentu yang berfungsi sebagai pengendali social bagi masya­rakat adat untuk berintegrasi dengan ekosistem. Norma-norma itu mengatur dan menetapkan aturan-aturan yang baik untuk dijalankan maupun larangan-larangan termasuk pantangan yang harus dipatuhi. Sistem pengetahuan konservasi tradisional itu adalah dengan melarang masyarakat untuk mengambil hasil hutan atau hasil laut pada suatu tempat tertentu yang telah disepakati selama beberapa waktu.Larangan-larangan ini dimaksudkan agar memberikan peluang bagi jenis-jenis biota laut untuk berkembang tanpa diganggu selama jangka waktu tertentu. Hal ini penting agar ikan dan biota laut yang akan dipanen bisa memberikan hasil yang banyak. Sistem pelarangan ini banyak dikenal oleh suku-suku di Tanah Papua. Misalnya saja Suku Tepera di Distrik Depapre Kabupaten Jayapura mengenal sistem pelarangan ini dalam bahasa local disebut Takayeti atau Tiatiki.

Sedangkan dalam masyarakat Biak Numfor dan Kabupaten Raja Ampat meng­enal sistem korservasi lokal dengan nama Sasisen. Orang-orang Maya di Pulau Salawati Kabupaten Raja Ampat menyebutnya Rajaha dan Pulau Misol menamakan sistem konservasi tradisional dengan nama samsom. Arti samsom dalam bahasa Matbat(Pulau Misol) adalah larangan.

Bagi masyarakat Suku Tepera Distrik Depapre Kabupaten Jayapura, upacara Tiatiki tentang pelarangan selama beberapa bulan bagi warga kampung mencari ikan pada lokasi tertentu. Ini artinya masyarakat setempat telah menyadari pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan hidup.Dr Wiklif Yarisetou dalam bukunya berjudul Tiatiki Konsep dan Praktek menyebut­kan pembagian zonasi-zonasi menurut klen di Kampung Senamai; Tablanusu; Tablasupa dan Kampung Maruway antara lain, Akadame yaitu bagian laut yang diukur mulai dari batas surut air laut sampai air pasang di kedalaman 12 meter. Ciri khas yang menonjol di sini saat air laut surut, wilayah tersebut dinamakan akademi, kering (meti). Saat itu warga mempunyai kesempatan untuk mencari ikan di padang lamun, termasuk mencari siput dan kerang-kerangan.

Kia-kia merupakan zonasi bagian laut yang memiliki kedalaman dari 12 sampai dengan 25 meter. Dasar laut masih bisa dilihat atau tampak oleh mata. Bila air laut surut lokasi ini tak sampai kering atau meti.Nau koti, yaitu bagian laut yang mempunyai kedalaman 25 meter sampai 100 meter. Bagian dasar laut tidak kelihatan dan warna air sudah kebiru-biruan.Beta nau, bagian laut yang kedalaman lautnya 100 meter sampai ke zona laut lepas atau laut bebas di Samudera Pasifik.Dari gambaran zonasi-zonasi tersebut, maka menurut Dr Wiklif Yarisetou wilayah-wilayah laut akadame; kia-kia dan nau koti termasuk dalam areal kekua­saan tanah-tanah adat. Jika ada warga lain yang menangkap ikan di lokasi tersebut dianggap melanggar adat. Wilayah laut inilah yang menjadi pusat kegiatan tiaitiki karena lokasi akadame dan kia-kia meru­pakan tempat pemijahan; pemeliharaan dan pertumbuhan ikan-ikan. Lokasi ini sangat aman dari arus dan gelombang laut sehingga ikan-ikan dan biota lainnya dapat berkembang biak.

Selain pengetahuan local tentang tiaitiki masyarakat Suku Dani di pedalaman tanah Papua juga telah mengenal prinsip keseimbangan lingkungan sejak dulu. Mereka membuat parit-parit mengelilingi bedeng-bedeng agar terhindar dari pengrusakan babi. Parit-parit juga sangat berguna karena mengeluarkan airbekas tanah dari akar-akar petatas (Ipomea batatas/ipere) Fungsi parit parit memberikan kesuburan bagi bedeng-bedeng petatas (ipere) dan menya­lurkan air kalau musim kema­rau tiba. Atau sistem pengairan ini sangat berguna bagi kesuburan tanah dan juga mencegah terjadinya banjir.

Mestinya kelaparan dan bencana tidak akan terjadi,kalau masyarakat setempat masih mematuhi aturan adat yang berlaku dari generasi ke generasi. Sayang­nya pengetahuan lokal atau indigenious knowledge tentang lingkungan hidup seringkali dia­baikan, sehingga tak heran kalau petaka selalu menimpa mereka.Berbeda dengan masyarakat adat di PNG yang telah memadukan aturan kon­servasi tradisional dengan kebijakan-kebijakan pemerintah Papua New Guinea. Masyarakat lokal hanya mengusulkan kepada pemerintah PNG agar lokasi di kampung mereka menjadi wilayah yang dilarang bagi masyarakat adat setempat untuk menebang atau berburu. Di negara Papua New Guinea (PNG) disebut sebagai areal konservasi atau Wildlife Management Area. Misalnya warga Kampung Kamiali di Lae menyepakati Wildlife Management Area di kampung mereka sehingga banyak sekali telur-telur burung Maleo atau ayam hutan yang berkembang biak. Pada waktu tertentu masya­rakat adat setempat bisa menangkap atau mengkonsumsi telur burung ayam hutan. Karena itu kesadaran untuk menjaga tradisi pelestarian lingkungan hidup sangat tergantung pada masyarakat adat sendiri. (Jubi/Dominggus Mampioper)

11 August 2010

Timika : Penertiban Camp di Freeport Mendapat Perlawanan

(www.papuapos.com, 10-08-2010)
TIMIKA [PAPOS] – Rencana PT. Freeport Indonesia untuk menertibkan camp-camp milik warga di daerah kali Iwaka, Distik Kuala Kencana mendapat perlawanan dari masyarakat.

Daerah yang hampir seluruhnya hutan ini, merupakan kawasan yang dijaga oleh Freeport untuk melestarikan hutan dan ekosistim di dalamnya, karena disinyalir sebagian dari warga telah melakukan penebangan liar untuk kepentingan ekonomi dan pribadi.

Namun, kawasan ini diklaim oleh masyarakat suku moni sebagai tanah adat yang mencakup hingga areal Kuala Kencana seluar 17 Hektar lebih, sehingga mereka menuntut agar Freeport mengembalikan tanah tersebut atau ganti rugi areal yang telah digunakan.

Sementara PT. Freeport Indonesia menggunakan tanah tersebut berdasarkan sertifikat tanah yang dikeluarkan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Fak-fak tahun 1994, Sertifikat Hak Guna Bangunan yang diterbitkan Badan Pertanahan Nasional Timika tahun 2002 dan Pelepasan Hak atas Tanah Adat dari beberapa kepala Suku Kamoro tahun 1995.

Disisi lain masyarakat suku Moni menilai bahwa tanah tersebut adalah hak ulayat mereka yang beranggapan selama ini tidak pernah diserahkan kepada PT Freeport.

“Untuk menyelesaikan masalah ini, dewan akan mengirimkan surat kepada PT.Freeport untuk meminta Freeport dan pihak keamanan menjelaskan kasus ini, sambil menunggu kesiapan waktu untuk bicara antara Freeport, warga Moni dan Pemda,” ujar Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Mimika, Karel Gwijangge kepada Papua Pos diruang kerjanya, Jumat [6/8].

Menurut, Karel Gwijangge, upaya PT. Freeport Indonesia mengosongkan wilayah sekitar Kali Iwaka yang berbatasan dengan Perumahan Karyawan Freeport dan Pusat Perkantoran Kuala Kencana dinilai tidak beralasan karena wilayah ini bukan kawasan Eksplorasi. Sehingga perluu dibicarakan secara baik. [cr-56]

Timika : Pemukiman Liar Pemicu Banjir Kota Timika

(www.papuapos.com, 10-08-2010)
TIMIKA (Papos) – Drainase yang buruk dan penyempitan daerah serapan air akibat pembangunan pemukiman warga disinyalir menjadi pemicu terjadinya banjir di Kota Timika dalam 2 bulan terakhir. Belum lagi, kebiasaan warga yang masih saja membuang sampah di drainase dan kali sehingga aliran air tidak berjalan dengan lancar.

Demikian dikatakan Kepala Bidang Bina Marga, Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Mimika Ir. Robert Mayaut kepada Papua Pos, di ruang kerjanya, Jumat [6/8].

Kata dia, curah hujan di Kabupaten Mimika ini sangat tinggi, sehingga sangat berpotensi terjadi banjir pada musim hujan akibat tersumbatnya aliran air karena sampah dan penyempitan daerah resapan air karena pembangunan pemukiman penduduk.

Menurutnya, harus ada perencanaan yang matang terkait dengan aliran air di drainase dan kali, sehingga tidak menimbulkan bencana banjir yang lebih besar di masa yang akan datang.“Saat ini beberapa kali yang melintas dalam kota tidak berfungsi dengan baik, selain mengalami penyempitan akibat timbunan, kali juga dijadikan tempat pembuangan sampah oleh warga,” ujarnya.

Kata Robert, Master Plan drainase dan pembuangan air dari kali menuju laut dalam kota Timika saat ini belum ada, sehingga pembangunan drainase terkadang sia-sia karena air yang melalui drainase tidak bejalan lancar menuju penampungan, seperti kali dan selanjutnya mengalir ke laut.“Drainase itu sangat penting untuk manampung air terus dibawa ke kali, agr tidak terjadi kubangan-kubangan air sehingga menyebabkan banjir,” jelas Robert.

Dia berharap masyarakat tidak lagi membuang sampah tidak di drainase dan kali karena sangat berpotensi terjadi banjir apabila musim hujan tiba seperti saat-saat ini.“Masyarakat harus berperan serta dalam pembangunan, seperti sadar akan membuang sampah pada tempat, merelakan sebagain dari tanahnya untuk pembangunan drainase, ini semua dilakukan untuk kepentingan masyarakat juga,” tukasnya.

Ditemui secara terpisah ketika memberikan seminar di Timika, Kepala Seksi Observasi Stasiun Geo Fisika Kelas I Angkasapura, Jayapura Cahyo Nugroho mengatakan, bencana yang sangat rentang terjadi di Kabupaten Mimika adalah bencana banjir dan tanah longsor

Hal ini diakibatkan Topografi wilayah Kabupaten Mimika yang rata dan di daerah utara memiliki tebing-tebing yang curam.“Dengan curah hujan yang mencapai 2.500 - 5.000 mili meter per tahun atau berkisar antara 200-400 mm per bulan, wilayah Kabupaten Mimika sangat rentang dengan bencana banjir, apalagi pada setiap musim hujan seperti saat ini,” terangnya.

Sementara itu untuk Bencana Gempa Bumi kata Cahyo, secara umum Kabupaten Mimika tidak memiliki potensi Gempa karena tidak dilalui oleh patahan besar. [cr-56]

Wamena : Hutan Asmat Belum Didata

(www.papuapos.com, 10-08-2010)
ASMAT [PAPOS] - Hutan Kabupaten Asmat hingga saat ini belum ada data base luasan secara permanen baik hutan lindung, hutan dikonversi, hutan terbatas dan hutan areal penggguna lain (APL) dan perkebunan.

Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Asmat, Elias Bapaimu yang ditemui Papua Pos di ruang kerjanya, Jumat [6/8] lalu mengungkapkan hingga saat ini belum adanya data base luasan hutan Kabupaten Asmat. Namus dia mengatakan, secara bertahap akan dilakukan pendataan mulai dari hutan lindung sampai dengan taman Lorenz hingga perbatasan Kabupaten Nduga.

“Memang saat ini kita belum mengetahui secara pasti hutan Kabupaten Asmat secara pasti kita hanya melihat itu dari wilayah masing-masing dimana yang termasuk hutan lindung, hutan konversi,” katanya.

Dikatakan, potensi hutan yang menghasilkan Kayu besi atau kayu merbau yang hanya ada di Kabupaten Asmat hingga saat ini diperkirakan tinggal 40 persen.

Padahal kayu Membrau yang dominan digunakan di Asmat baik untuk pembangunan jalan, perumahan dan digunakan para pengukir sebagai bahan ukiran.Dalam memantau peredaran hutan para pengusaha dibatasi dengan setiap pengambilan hasil hutan harus dilaporkan ke Dinas Kehutanan.[cr-57]

06 August 2010

Nasional : Wow, Ada Mawar Hijau di Kebun Raya Bali

(www.kompas.com, 05-08-2010)
KOMPAS.com- Mawar merah sering menjadi lambang asmara. Nah, bagaimana kalau bunga mawar berwarna hijau? Lambang cinta lingkungan mungkin kali ya?
Nah, soal mawar hijau yang mungkin belum banyak diketahui itu kini bisa dijumpai di Kebun Raya Bali, salah satu obyek wisata di kawasan Bedugul, Bali.

Sosok tanamannya sendiri tak jauh berbeda dengan mawar pada umumnya, dengan batang bercabang berduri serta daun menyirip.

Uniknya, warna mahkota bunganya seluruhnya hijau. Yang mungkin agak berbeda, ukuran mahkota bunganya lebih kecil daripada mawar pada umumnya.
Mawar hijau adalah salah satu bonus keunikan yang bisa dinikmati pengunjung Kebun Raya Bali. Kenapa bonus? Karena kehadirannya tak terlalu menonjol. Koleksi mawar hijau tersebut bisa ditemui di area koleksi mawar yang tidak jauh dari pintu masuk Kebun Raya Bali.

"Mawar hijau adalah salah satu keunikan Kebun Raya Bali. Bisa dilihat setiap saat karena bunganya mekar tanpa tergantung musim," ujar Dr Bayu Adjie, Kepala Riset Kebun Raya Bali, di sela-sela workshop penulisan artikel lingkungan yang digelar CiFOR, 17-23 Juli 2010. Ia mengatakan, sejauh ini tanaman tersebut baru dikoleksi Kebun Raya Bali dan Kebun Raya Cibodas, Jawa Barat. Koleksi yang ada di Kebun Raya Bali merupakan sumbangan seorang kepala desa di Candikuning, Baturiti, Tabanan, daerah dekat Kebun Raya Bali. Koleksi pertama masuk tahun 1976. Konon, asal tanaman tersebut dari kolektor tanaman bunga di Malang, namun sampai sekarang belum diketahui apakah tanaman tersebut asli dari sana atau didatangkan dari daerah lain.

"Diperkirakan, mawar hijau hasil silangan dua jenis spesies mawar tapi secara alami," kata Putu Suendra, Koordinator Jasinfo Kebun Raya Bali. Pihaknya saat ini mencoba membudidayakannya dengan teknik stek dan menghasilkan sekitar 100 batang tanaman sejenis. Karena jumlahnya yang masih sedikit, belum ada rencana menjual bibitnya atau mendistribusikan ke luar Kebun Raya Bali. Namun, ia berjanji jika hasil budidaya sukses akan segera menyabarkannya ke masyarakat sebagai bagian upaya konservasi ex-situ. Jika itu terjadi, mungkin mawar hijau akan mudah dijumpai di pasar sepeti halnya mawar batik yang kelopak bunganya berbintik-bintik mirip motif batik.