Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua

Cari Informasi/Berita/Tulisan/Artikel di Blog IKP

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org

10 July 2010

Malvinas : Kelamin Makhluk Ini Terpanjang di Dunia

(www.kompas.com, 09-07-2010)
KOMPAS.com — Para ilmuwan terkejut begitu mengetahui bahwa alat kelamin makhluk ini punya panjang yang sama dengan tubuhnya. Ini merupakan makhluk dengan alat kelamin terpanjang di dunia bila dibandingkan dengan porsi tubuhnya.


Adalah Dr Alexander Arkhipin, pakar perikanan laut dalam dari Departemen Perikanan Pemerintah Kepuluauan Falkland (Malvinas) yang berbasis di Stanley, yang menemukan seekor cumi-cuma raksasa sedang ereksi ini.

Panjang alat kelamin cumi-cumi jantan itu sepanjang tubuhnya sendiri, termasuk lapisan bagian luar tubuh, kepala, dan tentakelnya. Ini merupakan kali pertama bagi ilmuwan tersebut mengetahui adanya alat kelamin jantan yang jika sedang ereksi maka panjangnya bisa sama dengan tubuh binatang yang dimaksud.

Cumi-cumi jenis laut dalam itu menggunakan penisnya untuk membuahi dengan cara menyemprotkan sperma ke dalam tubuh cumi-cumi betina. Peneliti Malvinas melihat bagaimana cumi raksasa melaksanakan kawin di dalam laut.

"Cumi-cumi dewasa itu ditangkap pada sebuah penelitian di laut dalam di Pantagonia. Kami mengambil cumi-cumi itu dari alat penangkap dalam keadaan hampir mati, sementara tentakelnya masih bergerak, dan alat kelamin di kulitnya mengecil dan membesar," kata Dr Alexander dikutip BBC, Rabu (7/7/2010).

Ketika peneliti membuka cumi-cumi itu, tampak ada alat kelamin yang hanya sedikit mencuat dari bagian tubuhnya. Tiba-tiba, alat kelamin itu mengalami ereksi. Anehnya, dokter tersebut memaparkan bahwa alat kelamin itu cepat memanjang mencapai 67 cm atau sama dengan panjang tubuhnya secara keseluruhan.

Para pakar biologi lebih banyak mengetahui kebiasaan kawin kelompok cephalopods atau kelompok cumi-cumi laut dangkal dan gurita.

Cumi-cumi menggunakan lapisan badan bagian luarnya untuk bergerak dengan dorongan semprotan air dan untuk bernapas. Makhluk-makhluk ini juga harus menyembunyikan organ-organ seksualnya dalam struktur tubuhnya itu. Hal inilah yang bisa memicu cumi-cumi jantan menyemprotkan sperma ke tubuh betina.

Bagaimana ikan ini bisa menyalurkan spermanya keluar bagian luar tubuhnya itu, dan bagaimana pula sperma tersebut bisa tetap berada di sana sementara air dengan deras mengalir melalui rongga lapisan tubuh bagian luar sehingga cumi-cumi betina bisa pula bergerak dan bernapas?

Kelompok cumi-cumi air dangkal memiliki satu tentakel khusus untuk melakukan tugas itu. Cumi-cumi jenis air dangkal ini memiliki alat kelamin berukuran pendek yang menghasilkan sperma, kemudian salah satu dari delapan tentakelnya mengalihkan sperma ini ke bagian penerima cumi-cumi betina.

Bagian penyimpan sperma ini terletak di badan kulit dan bagian dalam. Sementara itu, cumi-cumi air dalam menggunakan metode yang lebih primitif, yang melibatkan penyemprotan sperma ke dalam tubuh cumi-cumi betina. (*)

01 July 2010

Boven Digoel : Tanaman Karet Akan Jadi Primadona Daerah

(www.cenderawasihpos.com, 30-06-2010)
Pemerintah Kabupaten Boven Digoel akan terus mendorong masyarakat untuk mengembangkan budidaya tanaman karet melalui pembibitan dan juga penyediaan alat-alat sadap. Sebab tanaman karet merupakan salah satu komoditi unggulan dari daerah, yang layak untuk terus dikembangkan.


‘’Daerah kami sangat cocok untuk perkebunan karet,’’ kata Bupati Boven Digoel Yusak Yaluwo, SH, M.Si, didampingi Kepala Dinas Pertanian Habel Waridjo, SP, ketika ditemui Cenderawasih Pos, di Tanah Merah.

Saat ini, pohon karet tersebut sudah dapat ditemui dengan mudah di sekitar Distrik Jair dan Mindiptana, yang sangat tumbuh dengan subur. Tahun 2008 lalu, pihaknya telah melakukan pembibitan untuk melakukan peremajaan dari pohon karet tersebut. ‘’Jika karetnya semakin tua, produktivitasnya akan semakin menurun sehingga perlu diremajakan secara bertahap dengan melakukan pembibitan untuk selanjutnya disalurkan kepada petani,’’ katanya.

Selain itu, pihaknya juga memberikan bantuan peralatan sadap yang telah dibagi-bagikan kepada masyarakat. Dikatakan, tanaman karet yang ada saat ini seluruhnya merupakan milik masyarakat dengan total luas 1.303 ha dengan jumlah pemilik 1.597 Kepala Keluarga yang tersebar di 2 distrik yakni Jair dan Mindiptana.

Untuk distrik Jair seluas 617 ha dengan pemilik 587 KK. Sementara di Mindiptana seluas 686 Ha dengan jumlah pemilik 1.010 KK. Berdasarkan data tahun 2005, jelas Habel, untuk Mindiptana dihasilkan getah beku dan kering atau basah sebanyak 181 ton, sedangkan Jair sebanyak 83 ton. ‘’Itu data tahun 2005 lalu dan untuk data terbaru kami belum punya, kami harapkan tahun-tahun berikutnya data produksi setiap tahunnya sudah ada,’’ jelasnya.

Menyangkut pasaran produk karet ini, diakui Habel, selama ini dijual ke Surabaya dengan pengusaha yang mengumpulkan karet tersebut. ‘’Ada yang lewat koperasi mereka dan ada pula yang dijual langsung ke pengusaha tanpa melalui perantara,’’ terang Habel yang mengaku soal harga masih berfluktuasi tergantung dari nilai tukar rupiah terhadap dolar. (ulo)

12 June 2010

Timika : Ambil Berton-ton, Hanya Bayar 1 Juta

(www.papuapos.com, 11-06-2010)
TIMIKA [PAPOS] – Masyarakat Kampung Atuka Distrik Mimika Tengah mengeluhkan penangkapan udang yang dilakukan oleh kapal-kapal milik PT. Apona di sepanjang daerah pesisir pantai Kabupaten Mimika. Pasalnya, hasil penangkapan udang oleh perusahaan yang berkedudukan di Kaimana Papua Barat ini, tidak sebanding dengan incame yang diberikan kepada masyarakat sekitar lokasi penangkapan udang, seperti Potawaiburu, Atuka dan Kokonao.

Perusahaan hanya membayar 1 juta rupiah per tahun untuk masyarakat, padahal hasil penangkapan udang yang dilakukan setiap bulan berton-ton banyaknya. Salah satu warga kampung Atuka Rudolof Mametaru mengatakan, masyarakat di daerah sekitar pesisir pantai tidak merasa puas dengan pembayaran dari perusahaan kepada masyarakat ”setiap hari dilaut kami ini banyak kapal-kapal yang menagkap udang, bahkan kalau malam seperti kota ditengah laut karena lampu-lampunya” ujarnya.

Dikatakannya, mereka (kapal.red) menggunakan pukat harimau untuk menjaring udang dan juga ikan, namun ikan yang mereka tangkap apabila tidak mereka suka mereka lantas membuangnya.

Menurut dia, Kepala Kampung dan juga Ketua Bamuskam beberapa bulan lalu pernah bertatap muka dengan pihak perusahaan di kaimana terkait dengan pembayaran incame kepada masyarakat, namun pihak perusahaan hanya memberikan 10 juta untuk 10 tahun masa operasi panangkapan di laut mereka.”Mereka bayar hanya 10 juta dari tahun 2000 sampai sekarang, berarti 1 juta setiap tahun,” ungkapnya seraya berharap pemerintah dapat memperhatikan masalah ini karena mereka sama sekali dirugikan, dimana hasil tangkapan dengan incame untuk masyarakat tidak sebanding. [cr-56]

10 June 2010

Jayapura : Ribuan Kayu Ilegal dari teluk Bintuni Disita

(www.papuapos.com, 10-06-2010)
JAYAPURA [PAPOS]– Ribuan kayu tanpa dokumen di Sungai Mayapo,Kabupaten Teluk Bintuni, Jumat (4/6/) lalu berhasil disita Tim Operasi Hutan Lestari (OHL) 2010, Wilayah Papua dan Papua Barat.


Ribuan kayu tersebut terdiri dari 2175 m3 Kayu Merbau dan 3124 m3 Kayu campuran yang rencananya akan ke Surabaya yang akan diangkut menggunakan dua kapal tongkang milik PT.N dan PT.WG.

“ Hasil yang diperoleh para pengusaha yang selama ini telah dikenal memiliki HPH atau UPH, tetapi mereka tidak bisa menunjukkan dokumen sah sehingga kami dianggap sebagai perbuatan pidana sesuai dengan UU. No.41 tahun 1999,” ungkap anggota Tim Operasi Hutan Lestari 2010 Wilayah Papua Barat, Kombes Pol Paulus Waterpauw, kepada wartawan di Jayapura, Selasa [8/6].

Lebih jauh dikatakan, pihaknya telah menyita sejumlah 5300 m3 kayu Merbau, 2175 m3 atau 435 batang dan kayu campuran sebanyak 3125 m3 atau 625 batang.

Disamping ribuan kayu illegal, tim yang dipimpin langsung Direktur V Bareskrim Mabes Polri ini, juga menangkap 2 Tongkang yakni Ringgo milik PT.N dan tongkang Samudera Indonesia 77 PT. WG.

“Ada juga 7 alat berat milik PT.WG dan 3 mobil pengangkut kayu,” tambah Waterpauw.

Dituturkan, kronologis penangkapan saat kedua tongkang yang mengangkut ribuan kapal ini, telah keluar dari areal penebangan.

Dimana dari informasi awal telah di pegang oleh Tim yang terdiri dari 12 orang.

Tim kemudian melakukan pengejaran dengan lama perjalanan darat selama 5 dari ibukota kabupaten dan melewati sungai dengan Long boat selama 2 jam. Setelah dicek oleh petugas ternyata, dari log atau TPK sementara, para pembalak ini tidak mampu menunjukkan dokumen dari kayu tersebut.

Hasil penangkapan ini, telah ada 3 tersangka, dimana salah satunya berisial A sementara 2 orang lainnya merupakan tenaga stailer. Ketiga tersangka telah diamankan di Polres Bintuni. oleh Tim penyidik.

Keterangan tersangka mengatakan perusahaan mereka telah beroperasional sejak tahun 1992.[lina]

08 June 2010

Timika : Pemprov Papua Dorong Freeport Lunasi Kewajiban IPPKH

(www.papuapos.com, 07-06-2010)
Timika [PAPUA] - Pemerintah Provinsi Papua melalui Dinas Kehutanan setempat, mendorong PT Freeport Indonesia melunasi kewajiban Izin Pinjam Pakai Lahan Kawasan Hutan atau IPPKH untuk areal pertambangan.


"Pasti kita mendorong agar Freeport melunasi kewajiban-kewajibannya kepada negara. Bagaimanapun juga pelunasan kewajiban itu akan berdampak pada pendapatan daerah," kata Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua, Marthen Kayoi di Timika, Jumat.

Marthen Kayoi mengatakan, kewajiban mengajukan IPPKH ke Kementerian Kehutanan diatur dalam Perpu No 1 tahun 2004 bagi 13 perusahaan tambang di Indonesia yang beroperasi di dalam kawasan hutan lindung.

Menurut Kayoi, saat ini Freeport dan Pemprov Papua masih mendiskusikan semua kontribusi perusahaan itu termasuk mengurus IPPKH sebagai konsekuensi dari penyesuaian peraturan perundang-undangan.

"Pemprov Papua sama sekali tidak menghambat Freeport untuk tidak mengurus IPPKH. Kondisi yang sesungguhnya terjadi yaitu perusahaan ini sudah hadir sejak tahun 1960-an di Papua, lalu ada peraturan yang baru diberlakukan beberapa tahun belakangan sehingga membutuhkan penyesuaian," jelas Kayoi.

Saat kunjungan kerja ke Timika belum lama ini, sejumlah anggota Komisi IV DPR meminta Freeport segera mengurus IPPKH mengingat Menteri Kehutanan sudah pernah menyurati pimpinan perusahaan tersebut.

Anggota Komisi IV DPR Erik Satrya Wardhana mengatakan dalam diskusi dengan manajemen Freeport terungkap alasan perusahaan itu belum mengurus IPPKH karena masih terdapat perbedaan pendapat soal luas lahan hutan dan mulai kapan kewajiban itu dibayar.

Menurut Erik, IPPKH merupakan upaya pemerintah dalam melindungi kawasan hutan di Indonesia yang masih tersisa termasuk di Provinsi Papua. [ant/agi]

29 May 2010

Nasional : Basis Pengurangan Emisi di Provinsi

(www.kompas.com, 28-05-2010)
OSLO, KOMPAS.com - Menteri Kehutanan Zulkifli Hassan menyatakan, basis pelaksanaan program kegiatan pengurangan emisi dari penggundulan dan perusakan hutan (reduction of emmisions from deforestation and degradation/REDD+) akan dipusatkan di wilayah provinsi. Namun, untuk penetapan provinsi mana saja yang akan ditetapkan sebagai pusat kegiatan REDD+, wilayahnya akan ditetapkan bersama antara pemerintah RI dan Kerajaan Norwegia.

Hal itu diungkapkan Zulkifli Hassan menjawab pers, seusai makan siang di sela-sela Konferensi mengenai Perubahan Iklim dan Hutan (Oslo Climate and Forest Conference/OCFC) di Hamelkollen Park Hotel Rica, Oslo, Norwegia, Kamis (27/5/2010) siang waktu setempat atau malam hari waktu Indonesia Bagian Barat.

"Basis kegiatannya akan dipusatkan di provinsi. Namun, provinsi mana saja yang akan dijadikan pusat kegiatan, akan ditetapkan bersama oleh pemerintah RI dan Norwegia," tandas Zulkifli.

Menurut Zulkifli, Kementerian Kehutanan akan mengusulkan sejumlah provinsi untuk ditetapkan sebagai pusat kegiatan REDD+. "Salah satunya adalah Kampar, Riau, yang luas hutan gambutnya mencapai 700.000 hektar dan mencapai kedalaman 3-12 meter. Kawasan itu akan kita ajukan restorasi," kata Zulkifli.

Wilayah lain yang akan diusulkan adalah di Malino, Kalimantan Timur dan kawasan penyanggah Sungai Kapuas Taman Nasional Kaen Mentarang, Kalimantan Barat, yang berbatasan dengan Malaysia. "Pilihan lainnya yang akan diajukan adalah hutan gambut di kawasan food estate di Papua Barat, yang kedalamannya mencapai 1-2 meter," kata Zulkifli.

Zulkifli menegaskan, berdasarkan Letter of Intent (LoI) tentang kerja sama RI dan Norwegia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari deforestrasi dan degradasi hutan, disyaratkan selama dua tahun kawasan tersebut, dilakukan moratorium atau larangan dibuka perizinannya untuk dilakukan konversi bagi lahan industri.

"Kawasan hutan industri juga tidak boleh lagi dilakukan konversi untuk apa pun, terkecuali direstorasi agar bisa menyerap gas karbon dan menghasilkan oksigen (O2). "Pengukuran penyerapan emisi gas dan produksi O2-nya akan diukur dengan alat standar yang digunakan di Brazilia yang telah menerapkan REDDI lebih dulu," tambah Menhut.

21 May 2010

Presentasi dan Pelatihan TOT di Timika

Foto : Pembukaan acara oleh Bapak DR.Hanafi Guciano (New Forest) dan Presentasi Metode MLA oleh Jance Bemei (YKPM Papua) pada acara TOT di Timika

YKPM Papua pada tanggal 14-15 Mei 2010 bekerjasama dengan New Forest dan Pemerintah Daerah Mimika Provinsi Papua telah mengadakan Kegiatan Presentasi dan Pelatihan TOT di Timika, Provinsi Papua.

TOT adalah singkatan dari Training of Trainer artinya dari kegiatan ini mempunyai tujuan mengajarkan seseorang menjadi mahir dan mampu melakukan kegiatan yang diharapkan.

Acara ini diikuti oleh para peserta dari perwakilan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Mimika, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Mimika, LEMASA (Lembaga Masyarakat Adat Amungme) dan LEMASKO (Lembaga Masyarakat Adat Komoro.

Adapun acara kegiatan diantaranya :
• Pembukaan acara oleh Bapak Hanafi dari New Forest.

• Presentasi Metode MLA (MUltidiciplinary Landscape Assessment), di sampaikan oleh Jance Bemei dari YKPM Papua.

• Partisipatif aktif langsung dari Peserta ToT mengenai Menggambar Peta Partisipatif yang difasilitasi oleh Amson D. Flassy dari YKPM Papua.

• Partisipatif Aktif dari Peserta ToT, mengenai Bagaimana cara mengisi Data Sheet yang difasilitasi dan sampaikan oleh Michael Korwa dari YKPM Papua.

Foto : Pelatihan PDM (Metode Distribusi Kerikil) oleh peserta acara TOT

• Metode Distribusi Kerikil ( PDM ), diberikan oleh Irwan C Soplely dan Michael Korwa dari YKPM Papua.

• Bagaimana melakukan Ground Check Lokasi dan mengisi Data Sheet, diberikan oleh Jance Bemei dari YKPM Papua.

• Cara menggunakan GPS, diberikan oleh Amson Flassy dari YKPM Papua.

20 May 2010

Uniknya Temuan Hewan di Foja

(www.kompas.com, 19-05-2009)
KOMPAS.com — Menemukan spesies hewan baru selalu menjadi saat istimewa bagi para peneliti. Apalagi bila hewan-hewan itu datang sendiri ke kemah mereka seolah ingin memperkenalkan diri. Itulah yang dialami tim peneliti yang berkemah di Pegunungan Foja, Papua, saat herpetologis Paul Oliver mendapati seekor katak bertengger di karung beras yang mereka bawa.

Saat diamati lebih dekat, hewan mungil itu ternyata sejenis katak berhidung panjang yang belum dikenal. Para peneliti pun menjulukinya pinokio. Saat katak itu bersuara, hidungnya akan tegak ke depan, dan melengkung turun bila sang katak berhenti bernyanyi.

"Kami sedang duduk makan siang saat Oliver melihat ke bawah dan menemukan katak kecil di karung beras. Ia pun berusaha menangkapnya," ujar ornithologis Smithsonian, Chris Milensky. "Dan bukan hanya itu, seperti layaknya herpetologis yang cekatan, Oliver juga berhasil menangkap tokek bermata kuning yang baru dikenal."

Cerita tentang penemuan si hidung panjang dan tokek bermata kuning baru permulaan. Ternyata Pegunungan Foja di Papua menyimpan banyak hewan dan tumbuhan baru yang selama ini tidak dikenal dunia ilmu pengetahuan. Tak heran bila para peneliti dari Conservation International, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, The National Geographic Society, dan Smithsonian Institution kemudian menemukan spesies-spesies lain.

Spesies baru yang ditemukan lainnya pada ekspedisi di akhir 2008 itu antara lain tikus besar berbulu, tokek bermata kuning berjari bengkok, merpati kaisar, walabi kerdil (Dorcopsulus sp nov) anggota kanguru terkecil di dunia, serta seekor kanguru pohon berjubah emas yang sudah sangat langka dan sangat terancam keberadaannya karena perburuan dari bagian wilayah New Guinea lainnya.

Kejutan terbesar dari ekspedisi itu datang ketika seorang ornitologis, Neville Kemp, melihat sepasang merpati kaisar yang baru ditemukan (Ducula sp nov) dengan bulu-bulu tiga warna, yakni merah seperti berkarat, agak putih, dan abu-abu. Temuan lainnya yang direkam selama survei itu, antara lain, kelelawar kembang baru (Syconycteris sp nov) yang memakan sari bunga dari hutan hujan, seekor tikus pohon kecil (Pogonomys sp nov), seekor kupu-kupu hitam dan putih (Ideopsis fojana) yang memiliki hubungan dengan jenis kupu-kupu raja pada umumnya, dan semak belukar berbunga yang baru (Ardisia hymenandroides).

Hal yang menarik perhatian adalah kanguru pohon berjubah emas. Berbeda dengan bayangan banyak orang bahwa kanguru hanya hidup di dataran Australia, kanguru jubah emas ini telah beradaptasi dengan kehidupan hutan. "Ia bisa meloncat ke pohon dan bertengger di sana," ujar Kristofer M Helgen, kurator mamalia di Smithsonian's National Museum of Natural History. "Namun, saat berada di darat, ia melompat seperti kanguru lainnya."

Yang jelas temuan-temuan ini memberi harapan bagi para peneliti. "Saat hewan-hewan dan tanaman di seluruh dunia mengalami kepunahan dalam laju yang belum pernah terjadi selama jutaan tahun sebelumnya, penemuan jenis-jenis kehidupan baru ini sungguh menjadi berita yang menggembirakan," ujar Bruce Beehler, peneliti senior di CI. "Tempat seperti Foja memberi harapan masa depan lebih baik bagi kita dan menunjukkan bahwa belum terlambat untuk menghentikan krisis kepunahan di Bumi."
Editor: wsn | Sumber :AP

19 May 2010

Katak "Pinokio" Spesies Baru dari Papua

(www.kompas.com, 18-05-2010)
JAKARTA, KOMPAS.com — Sebuah ekspedisi ilmiah menemukan sejumlah spesies baru di Pegunungan Foja, di Pulau Guinea Baru, Provinsi Papua. Salah satunya jenis katak baru yang pantas disebut katak Pinokio karena memiliki bagian tubuh memanjang di mukanya.

Spesies baru itu yakni katak (Litoria sp nov) yang diamati memiliki benjolan panjang pada hidung seperti pinokio yang menunjuk ke atas bila ada ajakan dari jenis jantan serta mengempis dan mengarah ke bawah bila aktivitasnya berkurang. Katak ini ditemukan herpetologis, Paulus Oliver, secara kebetulan.

Kepala Komunikasi Conservation International (CI) Elshinta S Marsden di Jakarta, Senin (17/5/2010) malam, mengatakan, katak tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak spesies baru yang ditemukan selama Conservation International’s Rapid Assessment Program (RAP) pada tahun 2008. Ekspedisi ini merupakan kolaborasi ilmuwan dari dalam dan luar negeri, termasuk para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Selain katak pinokio, spesies baru yang ditemukan lainnya, antara lain, tikus besar berbulu, tokek bermata kuning berjari bengkok, merpati kaisar, walabi kerdil (Dorcopsulus sp nov) anggota kanguru terkecil di dunia, serta seekor kanguru pohon berjubah emas yang sudah sangat langka penampakannya, dan sangat terancam keberadaannya karena perburuan dari bagian wilayah Guinea Baru lainnya.

Kejutan terbesar dari ekspedisi itu datang ketika seorang ornitologis, Neville Kemp, melihat sepasang merpati kaisar yang baru ditemukan (Ducula sp nov) dengan bulu-bulu yang terlihat berkarat, agak putih, dan abu-abu. Temuan lainnya yang direkam selama survei RAP itu, antara lain, kelelawar kembang baru (Syconycteris sp nov) yang memakan sari bunga dari hutan hujan, seekor tikus pohon kecil (Pogonomys sp nov), seekor kupu-kupu hitam dan putih (Ideopsis fojana) yang memiliki hubungan dengan jenis kupu-kupu raja pada umumnya, dan semak belukar berbunga yang baru (Ardisia hymenandroides).

"Untuk menentukan temuan tersebut betul-betul terbaru perlu diteliti dulu famili dan habitatnya. Hal itu butuh waktu bertahun-tahun," katanya. Kepastian penemuan itu diungkapkan dalam rangka menandai peringatan Hari Keanekaan Ragam Hayati se-Dunia (International Day for Biological Diversity) pada 22 Mei.

Pada ekspedisi RAP yang didukung The National Geographic Society dan Smithsonian Institution ini, para ahli biologi bertahan menghadapi hujan badai yang lebat dan banjir bandang yang mengancam sambil terus melacak spesies-spesies, mulai dari bukit rendah di Desa Kwerba sampai ke puncaknya pada kisaran 2.200 meter di atas permukaan laut.

Disebutkan juga, Wakil Presiden Regional CI Indonesia Jatna Supriatna, PhD, mengatakan, temuan ini dapat menunjukkan berapa banyak bentuk spesies unik yang hanya hidup di hutan-hutan pegunungan Papua, dan menyadarkan dunia betapa hutan-hutan ini harus dilestarikan.

"Para peneliti LIPI merasa sangat bersyukur turut terlibat dalam pengungkapan keanekaan ragam hayati kawasan Pegunungan Foja, Mamberamo. Adanya kerja sama penelitian ini jelas mendukung program-program konservasi pada kawasan yang memiliki biodiversitas sangat tinggi dan termasuk dalam daftar perlindungan undang-undang RI," kata Ketua Tim Peneliti dari Pusat Penelitian Biologi LIPI Dr Hari Sutrisno.

Sedangkan Gubernur Papua Barnabas Suebu mengingatkan, pihaknya sepakat dan sangat mendukung agar wilayah-wilayah ber-biodiversitas sangat tinggi di Provinsi Papua dipertahankan karena banyak spesies endemik di wilayah ini yang masih terisolasi dan tidak terdapat di belahan dunia lain.
Penulis: WAH

06 May 2010

Jayapura : Sosialisasi Peraturan Terbaru Bidang Bina Produksi Kehutanan

(www.bpphp17.web.id, 5-5-2010)
Dalam rangka peningkatan Kapasitas SDM Aparatur Kehutanan. BP2HP Wilayah XVII Jayapura telah menyelenggarakan Sosialisasi Peraturan Terbaru Bidang Bina Produksi Kehutanan pada tanggal 3 sampai dengan 5 Mei 2010 bertempat di Hotel ASTON International Jl. Percetakan Negara Jayapura Papua. Kegiatan Sosialisasi yang akan dilaksanakan adalah :


1. SPHL dan Sistem Standarisasi International ( Lacey Act, DFID, ISO, ITTO, FSC, dan PEFC)
Maksud : Memberikan informasi mengenai Sistem pengelolaan Hutan Lestari (SPHL) dan Sistem Standarisasi International terkait dengan manajemen mutu dan pengelolaan hutan produksi lestari seperti Lacey Act, DFID, ISO, ITTO, FSC, dan PEFC.
Narasumber :
a. Direktur Bina Pengembangan Hutan alam Kementerian Kehutanan
b. Direktur Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan Kementerian Kehutanan
c. LPI PT. Ayamaru Bhakti Pertiwi
d. PT. Sprint Consultant

2. Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK)
Maksud : Memberikan informasi mengenai Standar Verifikasi Legalitas Kayu
Narasumber : Direktur Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan Kementerian Kehutanan

3. FLEGT, Carbon Trade, RIL dan REDD
Maksud : Memberikan informasi mengenai FLEGT, Carbon Trade, RIL dan REDD.
Narasumber :
a. Ir. Rahman Tasmin
b. Prof.Dr. Elias
c. Ir. B.Ch.Simangunsong, MS, Ph.D
d. Ir. E.G. Togu Manurung, MS, Ph,D

4. Kebijakan Bidang Pengendalian Bahan Baku IPHH dan Sistem Informasi RPBBI
Maksud : Memberikan informasi mengenai Kebijakan Bidang Pengendalian Bahan Baku IPHH dan SI RPBBI.
Narasumber :
a. Direktur Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan Kementerian Kehutanan
b. Kepala Sub. Direktorat Pengendalian Bahan Baku dan Industri Primer Kementerian Kehutanan

5. Kompetensi dan Sertifikasi GANIS/WASGANIS PHPL
Maksud : Memberikan informasi mengenai Kebijakan Pemenuhan Tenaga Teknis PHPL dan Kompetensi Sertifikasi GANIS/WASGANIS PHPL.
Narasumber :
a. Direktur Bina Iuran dan Peredaran Hasil Hutan Kementerian Kehutanan
b. Kepala Sub Direktorat Pengujian Hasil Hutan Kementerian Kehutanan

6. Pembentukan KPHP Yapen
Maksud : Memberikan informasi/gambaran dan pedoman kepada pihak yang berkompeten dalam pembangunan KPHP. Sehingga para pihak dapat memahami dan menjalankan perannya, sebagai wujud awal (embrio) pembangunan KPHP di tingkat tapak.
Narasumber :
a. Direktur Bina Rencana Pemanfaatan Hutan Produksi Kementerian Kehutanan
b. Kepala Sub. Direktorat Pola Pemanfaatan Hutan Produksi Kementerian Kehutanan
c. Ir. Noak Kapisa, M.Si

7. Ekspose Hasil-Hasil Kegiatan BPPHP Tahun 2009
Maksud : Memberikan informasi mengenai Hasil-Hasil Kegiatan BPPHP Tahun 2009.
Narasumber : CV. Design Consultant

Peserta berasal dari Dinas Kehutanan dan Konservasi Provinsi Papua, Dinas Kehutanan Kab./Kota se Provinsi Papua, Polda Papua, Kejaksaan Tinggi Provinsi Papua, Pemegang IUPHHK/IUIPHHK dan LSM yang bergerak dibidang kehutanan di Provinsi Papua.

05 May 2010

(www.kompas.com, 04-05-2010)
SIDOARJO, KOMPAS.com - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur berhasil menggagalkan penyelundupan 18 ekor burung Kakatua dilindungi, terdiri dari 14 ekor Kakatua jambul kuning (Cacatuiya bu pagia galerita), 3 ekor Kakatua raja (Probosciger aterrimus), dan 1 ekor Kakatua kecil jambul kuning (Cacatua Sulphurea) Rencananya, burung-burung langka ini akan dikirim ke Jakarta melalui pesawat terbang di Bandara Internasional Juanda.

Pengungkapan upaya penyelundupan 18 ekor burung Kakatua berawal dari pengintaian yang dilakukan petugas intelijen Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di Pelabuhan Tanjung Perak selama lima hari. Kepala BKSDA Jatim, Novianto Bambang W mengatakan, petugas intelijen mendapat informasi bahwa ada penampungan satwa-satwa liar dilindungi di sekitar Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Satwa-satwa itu diangkut dari wilayah Papua dan Maluku ke Surabaya menggunakan kapal laut.

"Rupanya hewan-hewan langka itu dikumpulkan oleh tersangka berinisial J (32) asal Madura secara bertahap. Setelah terkumpul hingga 18 ekor, burung kakatua lalu dibawa ke Bandara Internasional Juanda," ujarnya, Senin (3/5/2010) di Kandang Riset Terapan Pengembangbiakan Tumbuhan dan Satwa Liar BKSDA Jatim, Sidoarjo.

Agar tak mencurigakan, burung-burung itu dikemas dalam rak roti yang ditutup selubung kain kemudian diangkut menuju bandara menggunakan angkutan umum sewaan. Petugas yang telah mengintai sejak di Pelabuhan Tanjung Perak akhirnya berhasil meringkus tersangka, J beserta barang bukti di area parkir keberangkatan Bandara Internasional Juanda B11 pada, Minggu (2/5/2010) pukul 05.00.

"Dari keterangan tersangka, burung-burung Kakatua itu akan dikirim ke Jakarta. Bahkan ia mengaku pengiriman ini adalah pengiriman yang kedua kali," kata Novianto.

Dengan pengakuan tersangka bahwa ia melakukan penyelundupan melalui pesawat terbang hingga dua kali, maka diduga pengiriman satwa liar ini melibatkan pihak internal bandara. Karena itu, pengawasan di bandara harus diperketat.

Menurut Novianto, BKSDA bekerja sama dengan Kepolisian akan mengembangkan penyelidikan hingga ke tingkat penadah atau pembeli burung-burung Kakatua langka itu. Dengan demikian, seluruh jaringan jual-beli satwa langka ini dapat terungkap.

Bagian sindikat
Sementara itu, Koordinator Lapangan dan Tim Intelegen BKSDA Jatim, Eko Setyobudi mengatakan, diduga pelaku penyelundupan Kakatua langka ini merupakan bagian dari sindikat penjualan hewan langka. "Pelaku memang spesialis dalam penjualan satwa-satwa dilindungi. Seluruh hewan yang ia bawa adalah hewan-hewan langka yang dilindungi," katanya.

Kakatua raja, kakatua jambul kuning, dan kakatua kecil jambul kuning merupakan jenis kakatua yang dilindungi Undang-Undang nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Hewan-hewan endemik langka asal Maluku dan Papua ini dilindungi secara mutlak dan tidak boleh dibawa ke luar habitat aslinya tanpa seizin pemerintah.

"Dari hasil pemeriksaan sementara, tersangka mengaku akan menjual Kakatua jambul kuning dengan harga Rp 750.000 hingga Rp 1 juta per ekor, sedangkan Kakatua raja akan dijual antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta per ekor," kata Kepala Bidang Kelestarian Sumber Daya Alam II Surabaya Achmad Saerozi.

Kini, BKSDA Jatim mengamankan barang bukti 18 ekor kakatua di Kandang Riset Terapan Pengembangbiakan Tumbuhan dan Satwa Liar BKSDA Jatim, Sidoarjo. Sedangkan, tersangka J ditahan di Polsek Sedati, Sidoarjo.

Atas tindakan upaya penyelundupan satwa langka ini, tersangka akan dijerat pasal 21 ayat (2) huruf a Undang-Undang nomor 5 tahun 1990 dengan sanksi hukuman pidana penjara maksimal lima tahun dan denda maksimal Rp 100 juta.

02 May 2010

Jayapura : BPPHP Wil.XVII Jayapura Memperoleh Penghargaan Satuan Kerja Terbaik dari Menteri Kehutanan

(www.bpphp17.web.id, 01-05-2010) Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi Wilayah XVII Jayapura sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis lingkup Kementerian Kehutanan meraih Penghargaan Satuan Kerja Terbaik Wilayah Kalimantan dan Papua.

Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi Kementerian Kehutanan terhadap Kinerja Unit Pelaksana Teknis yang ada di seluruh Indonesia berdasarkan hasil pengawasan tahun 2008 sampai dengan 2009.

Piagam Penghargaan diserahkan oleh Bapak Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, SE, MM di Jakarta pada Peringatan Hari Bhakti Rimbawan yang ke 27 tanggal 16 Maret 2010 di Jakarta dengan tema “Perkuat Jiwa Korsa Guna Penguatan Bakti dan Kesejahteraan Rimbawan Demi Suksesnya Gerakan Tanam 1 Milyar Pohon”
Penghargaan Satuan Kerja Terbaik yang diperoleh BPPHP Wil.XVII Jayapura tidak terlepas dari kinerja yang selama ini di tunjukan sejak tahun 2008 sampai dengan tahun 2009, beberapa Indikator kinerja BPPHP Wil.XVII Jayapura yang optimal dapat dilihat dari kinerja yang berstandar internasional melalui sertifikat ISO 9001:2008 (QSC 00807), hasil penilaian Dirjen BPK terhadap laporan kinerja pada website (www.bpphp17.dephut.go.id / www.bpphp17.web.id ) yang selalu mendapatkan nilai Sangat Baik serta peran aktif BPPHP Wil.XVII Jayapura dalam implementasi HTR, KPHP, Penanaman Pohon dan SI-PUHH Online di Provinsi Papua.

Penghargaan Satuan Kerja terbaik wilayah Kalimantan dan Papua diharapkan dapat menjadi pemicu dan motivasi guna meningkatkan kinerja BPPHP Wil.XVII Jayapura dalam mewujudkan Pengelolaan Hutan Produksi Lestari di Provinsi Papua.