(www.cenderawasihpos.com, 07-07-2009)
BIAK-Dalam rangka hari bulan bakti Karantina Tumbuhan, Stasiun Karantina Tumbuhan Biak melakukan berbagai kegiatan. Diantaranya melakukan penyemprotan kandang babi dan pemberian vitamin bagi 2000-an ternak babi, pemberian vitamin B terhadap 200 ekor sapi dan sejumlah kegiatan lainnya. Penyemprotan itu sendiri dilakukan di kampung Yapdas, Mandow Dalam, Rigde, Nasaret dan kampung lainnya.
Kepala Stasiun Kartina Pertanian Biak, drh. S Tri Widodo mengatakan, kegiatan itu tak hanya dilakukan dalam rangka hari bulan bakti, namun juga sebagai upaya pencegahan terhadap berbagai macam penyakit. Salah satunya adalah penyebaran flu babi atau H1N1.
"Kegiatan yang kami lakukan ini juga merupakan salah satu upaya dalam mencegah penyebaran penyakit hewan seperti flu babi,"ujarnya kepada Cenderawasih Pos, Senin (6/7).
Dikatakan, upaya pencegahan terhadap berbagai penyakit hewan dan tumbuhan akan terus dilakukan secara rutin, secara khusus penyelundupan berbagai hewan dan tumbuhan secara ilegal ke Biak, ataupun dibawa keluar dari Biak.
"Upaya-upaya pencegahan terus kami lakukan, tak hanya dengan melakukan penyemprotan namun juga dengan pengawasan langsung di pintu-pintu masuk, seperti di pelabuhan dan bandara," tandasnya.(ito)
Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua
IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org
08 July 2009
Biak : Antisipasi Flu Babi, Karatina Lakukan Penyemprotan
05 July 2009
Jayapura : Pemkab Jayapura Teken MoU Dengan WWF
(www.cenderawasihpos.com, 04-07-2009)
Program Pengurangan Emisi Karbon dan Degradasi hutan.
SENTANI-Pemkab Jayapura terus melakukan upaya kerjasama dengan berbagai pihak dalam rangka meningkatkan derajat sosial masyarakatnya. Salah satunya, Jumat kemarin, Bupati Jayapura, Habel Melkias Suwae, S.Sos, MM, menandatangani Momerandum of Understanding (MoU) dengan WWF Perwakilan Provinsi Papua. MoU itu terkait dengan program pengurangan emisi karbon dan degradasi hutan.
Bupati Suwae, mengatakan, ada tiga alasan penting dilaksanakan MoU itu. Pertama, dari sisi pelestarian lingkungan, sebagai upaya melindungi hutan dan bagaimana pengelolaannya dapat dipertanggungjawabkan.
"Ini tidak bisa di tawar-tawar lagi," tandasnya singkat kepada wartawan, usai penandatangan MoU dengan WWF Perwakilan Papua di Ruang Rapat Bupati, Jumat, (3/7).
Alasan kedua adalah bagaimana ada upaya untuk melindungi hak ulayat masyarakat sebagaimana yang tertuang di dalam amanat undang-undang otsus itu sendiri. Sebagai contoh selama ini HPH melakukan eksploitasi terhadap hutan masyarakat, namun pada kenyataannya belum memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat pemilik hak ulayat tersebut. Misalnya, tentang sumber daya manusia (SDM), dimana pada penerimaan CPNS lalu Pemkab Jayapura sangat sulit menemukan putra asli pemilik hak ulayat yang berijasah sarjana yang bisa diterima sebagai CPNS.
Ketiga adalah bagaimana membangun dan memanfaatkan potensi sumber daya alam (SDA) yang ada guna memberikan manfaat lebih bagi masyarakat tanpa harus merusaknya.
Direktur WWF Perwakilan Papua, Benja Mambay, menandaskan, Papua ada empat kabupaten yang menjadi percontohan program tersebut, yaitu, Mappi, Merauke, Asmat dan Kabupaten Jayapura.
Program tersebut menyangkut bagaimana mengukur dan mengetahui potensi emisi karbon dan degradasi hutan yang terjadi di Kabupaten Jayapura, juga menyangkut kebudayaan, kemudian menyangkut bagaimana tata kelola kelembagaan dan regulasinya terkait program tersebut.
Ditempat terpisah, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten, Lambert Tukan, menyatakan, program tersebut dipusatkan di dua distrik, yaitu Distrik Airu dan Distrik Kaure.(nls)
04 July 2009
Naional : Hentikan Pengambilan Batu Karang, Bisa Merusak Lingkungan
(www.kompas.com, 29-06-2009)
TERNATE, KOMPAS.com - Para aktivis lingkungan di Maluku Utara (Malut) meminta kepada pemda setempat menghentikan pengambilan batu karang yang dilakukan masyarakat untuk bahan bangunan, karena dapat merusak kelestarian lingkungan laut.
"Saya melihat masyarakat di sejumlah kabupaten/kota di Malut seperti di Kabupaten Halmahera Selatan dan Halmahera Tengah masih sering mengambil batu karang untuk bahan bangunan," kata Djafar, aktivis lingkungan Malut, di Ternate, Senin (29/6).
Ironisnya, instansi pemerintah terkesan ikut mendorong masyarakat untuk terus mengambil batu karang, terbukti instansi bersangkutan membiarkan proyeknya seperti pembangunan gedung sekolah menggunakan bahan batu karang.
Djafar mengatakan, batu karang memiliki fungsi sangat penting bagi lingkungan, seperti menjadi tempat berkembang biaknya ikan dan dapat memecah gelombang yang menghantam pantai.
Pemda harus menghentikan pengambilan batu karang tersebut dengan cara mengeluarkan aturan hukum, misalnya dalam bentuk peraturan daerah (perda) atau surat keputusan bupati mengenai larangan pengambilan batu karang.
Selain itu, pemda harus intensif memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian batu karang. Penyuluhaan itu sebaiknya melibatkan tokoh masyarakat dan berbagai organisasi sosial yang ada di daerah setempat.
Pemda juga harus memberikan solusi sumber pendapatan bagi masyarakat yang selama ini menjadikan pengambilan batu karang sebagai sumber pencaharian, karena kalau tidak, mereka tetap akan mengambil batu karang.
Bupati Halmahera Selatan, Muhammad Kasuba membenarkan, masyarakat di daerahnya masih sering mengambil batu karang, baik untuk digunakan sendiri maupun dijual kepada pihak lain.
Namun Pemkab Halmahera Selatan telah mengeluarkan larangan pengambilan batu karang di seluruh wilayah daerah itu. Masyarakat yang kedapatan mengambil batu karang akan diberi sanksi tegas.
"Masyarakat yang selama ini menjadikan pengambilan batu karang sebagai sumber pendapatan, diarahkan untuk melakukan usaha lain, seperti membudidayakan rumput laut," kata Bupati.
BNJ, Sumber : Ant
Manca Negara : Australia : Dingo, Kotoran dan Urinenya Diekspor ke Seluruh Dunia
(www.kompas.com, 02-07-2009)
VICTORIA, KOMPAS.com — Dingo Discovery and Research Centre yang didirikan Lyn Watson di pinggiran Negara Bagian Victoria, Australia, telah mengembangbiakkan dingo hingga 30 ekor.
Melalui pemeriksaan DNA, mereka dipastikan merupakan keturunan anjing asli Australia yang datang dari Asia sekitar 5.000 tahun lalu. Tahun lalu, Watson menyatakan bahwa dingo terancam punah di Australia. ”Sekarang perilaku di dunia berubah. Kebun binatang tertarik berpartisipasi untuk melestarikan dingo sebagai spesies keturunan asli,” ujar Watson.
Tempat perlindungan dingo tersebut telah memasok anak-anak dingo ke Selandia Baru untuk sebuah kebun binatang di sana dan sekarang menerima pesanan dari sejumlah kebun binatang di Jepang, Brasil, AS, dan Eropa.
Bukan hanya anak dingo yang dijual, melainkan juga kotoran dan air kencingnya. Bau kotoran dan kencing dingo dapat mengusir binatang lain yang sering mengganggu rumah, seperti possum. (ISW)
Nasional : MS Kaban: Laju Kerusakan Hutan 1,02 juta Ha per Tahun
(www.kompas.com, 03-07-2009)
Laporan wartawan KOMPAS Yulvianus Harjono
BANDUNG, KOMPAS.com - Laju kerusakan hutan produksi di Indonesia mencapai 1,08 juta hektar per tahun. Laju ini sebetulnya sudah berkurang signifikan dibandingkan empat tahun lalu.
Hal itu disampaikan Menteri Kehutanan MS Kaban dalam Diskusi Panel bertajuk Masa Depan Hutan dan Kehutanan Indonesia yang diselenggarakan di Grha Kompas-Gramedia Bandung, Jumat (3/7).
Acara ini diadakan Pengurus Pusat Keluarga Alumni Ilmu Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Wiyana Mukti, Komunitas Pohon dan HU Kompas. "Dulu,empat tahun lalu sebelum bertugas, saya sempat worried (khawatir) dengan data 2,8 juta hektar hutan terdegradasi tiap tahun. Sekarang, turun di 1,08 juta ha. Saya yakin, ini bisa turun di bawah 1 juta hektar jika hotspot (wilayah kebakaran) hutan dan illegal logging bisa dikurangi," ucap Kaban.
Ia pun mengklaim, dengan upaya penagakan hukum terus menerus, angka penebangan liar bisa ditekan menjadi 200 kasus per tahun, dari sebelumnya 9.600 kasus per tahun.
Menurutnya, menjadi tantangan bagi pemerintahan ke depan untuk menekan angka laju kerusakan hutan. "Perlu konsistesi kebijakan kehutanan siapapun pemimpinnya nanti," ucapnya kemudian.
Ia khawatir, jika tidak dicegah laju deforistasi hutan produksi ini, dalam 15-16 tahun ke depan, hutan produksi akan lenyap. "Menjadi malapaetaka. Kita menciptakan kematian pada bangsa ini," ucapnya.
01 July 2009
Nasional : Para 'Penjajah' Tanpa Senjata
(www.kompas.com, 30-06-2009)
Oleh GESIT ARIYANTO
Mulanya binatang itu didatangkan sebagai biota air tawar yang lucu dan menggemaskan. Itulah keong- keong emas dari genus Pomacea. Keong itu hadir di Indonesia pada tahun 1980-an. Keong-keong itu lalu banyak menghuni akuarium-akuarium di rumah- rumah atau kantor. Lucu dan menggemaskan.
Tak butuh waktu lebih dari lima tahun ketika akhirnya kegemparan datang dari para petani di Sukabumi dan Tangerang. Lahan sawah subur mereka diserang keong. Pada 1984 mulai ramai istilah keong emas.
Keong-keong itu tak lucu lagi tak pula menggemaskan. Sebaliknya, memunculkan horor dan teror karena merusak padi.
Peneliti moluska air tawar pada Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Ristiyanti Marwoto, menyebut tak semua jenis keong dari genus Pomacea menjadi hama. Yang sudah diidentifikasi yaitu Pomacea canaliculata—dari Brasil, negara tropis yang banyak kemiripannya dengan Indonesia.
Tak hanya Indonesia, keong yang mulanya dipelihara sebagai binatang piaraan itu telah menjadi hama pertanian di Thailand, Vietnam, Laos, Kamboja, Filipina, hingga Korea Selatan. Seperti di Indonesia, upaya pemberantasan keong sebagai hama di negara-negara itu tak juga tuntas.
Di sawah, keong-keong itu tak hanya berwarna keemasan, tetapi juga kecoklatan dan kehijauan. Cirinya adalah menempelkan ratusan telurnya di batang- batang padi, tanaman liar, atau tanaman lainnya.
Kepala Puslit Biologi LIPI Siti Nuramaliati Prijono menyatakan, keong-keong emas impor itu adalah salah satu jenis tanaman asing invasif. ”Penjajah” dari negeri asing.
Jenis asing invasif
Jenis asing invasif adalah jenis flora dan fauna termasuk mikroorganisme yang berkembang pesat di luar habitat alaminya. Karena tak ada musuh alami, binatang itu jadi hama, gulma, serta menebarkan penyakit pada flora dan fauna asli.
Di Indonesia, sebagai kompetitor, predator, patogen, dan parasit, jenis-jenis asing invasif itu dapat memunahkan jenis asli. ”Dalam skala besar akan merusak ekosistem asli,” kata Siti.

Ikan aligator
Ikan aligator (Lepisus peus) berasal dari perairan tawar Amerika Latin. Pemakan segala, tetapi cenderung karnivora dengan berat tubuh bisa lebih dari 70 kilogram. Tahun 2008, ikan aligator atau buaya itu ditemukan penambang pasir di Sungai Citarum. Beratnya mencapai 90 kg dengan panjang tubuh 1,70 meter dan diameter 80 cm.
Ikan sapu-sapu
Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) banyak dijumpai di sungai-sungai air tawar. Ikan ini berasal dari kawasan Amerika bagian selatan dan tahan terhadap kondisi air berpolutan.
Setidaknya ada empat jenis lagi ikan dari Amerika bagian selatan yang ada di Indonesia, seperti si ganas ikan piranha (Pygocentrus nattereri), si gigi runcing ikan bawal hitam (Colossoma macropomum), si petarung ikan oskar (Astronotus ocellatus), dan araipaima (Arapaima gigas).
Serangga penyerbuk
Liriomyza sativae, Liriomyza huidebrensis, dan Liriomyza trofolii.
Serangga ini justru merusak antara lain tanaman tomat, kentang, bawang, merah, dan kacang panjang.
Menurut peneliti serangga LIPI, Rosichon Ubaidillah, tanaman yang diserang serangga itu langsung mati dalam waktu kurang dari dua pekan.
Temuan terbaru, hama pepaya (mealy bug) atau Paracoccus marginatus, ditemukan tahun 2008. Hama ini menyerang buah pepaya dengan serbuk putih. Belakangan juga menyerang jenis buah lain dan bunga hias. Secara umum, efek domino serangan hama-hama itu berdampak pada ketahanan pangan dan ekonomi nasional.
Flora invasif
Di Indonesia, jenis flora asing mencapai sekitar 2.000. Salah satu jenis invasif yang legendaris adalah eceng gondok (Eichornnia crassipes) yang merebak sekitar tahun 1990 dengan daya tarik bentuk dan warna bunganya yang ungu cerah.
Belakangan, tanaman air yang mudah berkembang pesat itu menjadi pengganggu. Sebarannya yang masif tak hanya mengganggu transportasi air, tetapi juga menyebabkan sedimentasi dan mematikan plankton.
Jenis akasia
(Acacia nilotica)
Saat ditanam di Taman Nasional Baluran, Jatim, tanaman ini semula untuk melindungi padang savana, makanan utama banteng, dari bahaya kebakaran.
Perkembangannya masif, hingga 200 hektar per tahun, kini mempersempit padang rumput. Hingga tahun 2000, akasia menginvasi 50 persen, sekitar 5.000 ha, padang savana dan mengancam keberadaan banteng.
Jenis lamtoro
(Leucaena leucocephala)
Ditanam massal pada masa Orde Baru dan kini memunculkan risiko. Pemerintah harus mendatangkan serangga dari Hawaii, musuh alami kutu loncat, yang merebak seiring dengan hadirnya lamtoro.

Aster
Aster (Eupatorium sordidum) dari Meksiko di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat, kini menutupi lantai hutan tempat tumbuh tanaman obat dan satwa lain. ”Sekarang sangat mengganggu, tetapi sulit diatasi,” kata peneliti botani LIPI, Sunaryo, yang pada April 2009 meneliti di sana. Setidaknya ada delapan jenis flora asing invasif di tempat itu.
Flora dan fauna asing invasif di atas hanya contoh kecil dari ribuan jenis yang saat ini ada di Indonesia. Tak ada satu pun yang didatangkan dengan maksud merusak, tetapi kelemahan pengetahuan dan informasilah yang menyebabkan ancaman.
Tak ada yang tahu, episode macam apa dari maraknya penjualan kura-kura brasil yang mungkin lucu nan menggemaskan. Akankah menambah deret getir akan kehadiran para ”penjajah” tak bersenjata?
28 June 2009
Nasional : Jangan Sampai Bambu Punah
(www.kompas.com, 27-06-2009)
BANDUNG, KOMPAS.com - Diperkirakan sekitar 15 tahun hingga 20 tahu ke deapan orang Indonesia tidak akan melihat lagi pohon bambu akibat akibat eksplorasi besar-besaran tanpa disertai budidaya. Kenyataan ini, jika dibiarkan akan berpangaruh terhadap keseimbangan lingkungan.
Penelitu Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI), Prof. Dr. Elizabeth A. Widjaja, mengatakan itu kepada wartawan di Bandung, Sabtu (27/6). Menurutnya, pemerintah Indonesia hingga kini belum menunjukkan kepeduliannya.
"Buktinya, hingga saat ini pemerintah Indonesia belum memasukkan bambu ke dalam jenis tanaman yang dilindungi," kata Elizabeth seusai bicara dalam Seminar sehari Bambu untuk Kehidupan Modern (Bamboo for Modern Life) di Saung Angklung Udjo Bandung itu.
Untuk melindungi pohon bambu dari kepunahan, menurut Elizabeth, salah satunya tidak mengeksplorasi secara besar-besaran dan ada upaya pengendalian atau kuota dalam mengeksplorasinya. "Selain itu, juga harus ada upaya budidaya, sehingga habitatnya tetap seimbang," kata Elizabeth, seraya menambahkan pohon ini sangat baik untuk konservasi air.
Selain upaya tersebut, lanjut perempuan yang selama 33 tahun hingga sekarang eksis dalam penelitian bambu itu, harus ada kemauan pemerintah Indonesia membuat regulasi perlindungan bambu. "Bisa saja pemerintah memasukkan bambu ke dalam jenis tanaman lain yang dilindungi, lengkap dengan sanksi, sebagaimana regulasi lainnya," katanya.
Ancaman lain terhadap kepunahan bambu, sebagai pohon penahan erosi tersebut karena semakin sempitnya lahan kebun bambu akibat berubah fungsi, antara lain jadi perumahan atau industri.
Ia menyebutkan, di Indonesia terdapat 160 jenis bambu, dan 88 jenis di antaranya, merupakan bambu endmik atau jenis bambu khas yang terdapat di suatu daerah.
Semua jenis bambu itu memiliki barbagai nilai yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, selain untuk kebutuhan perumahan dan perkakas rumah tangga atau tanaman hias, bambu merupakan salah satu jenis pohon yang sangat baik untuk kelestarian lingkungan. "Sebagai fungsi pelestari lingkungan yang paling baik, bisa kita buktikan setiap ada rumpun bambu di sana sudah pasti ada sumber air," katanya.
XVD, Sumber : Ant
21 June 2009
Manca Negara : Ekuador : Katak Kaca dari Ekuador
(www.kompas.com, 20-06-2009)
JAKARTA, KOMPAS.com — Para ilmuwan dari organisasi lingkungan hidup Conservation International (CI) dalam penelitian keragaman hayati di Hutan Lindung Nangaritza Ekuador dekat perbatasan Peru menemukan katak kaca atau kristal yang disebut Hyalinobatrachium pellucidum.
Jenis amfibi ini berukuran lebih kecil dari kuku jari dan berkulit transparan sehingga organ dalamnya tampak dari luar. Satwa ini tergolong terancam punah.
Di lokasi yang sama, peneliti dari CI juga menemukan paling tidak 15 fauna dan flora yang tergolong baru bagi khazanah ilmiah.
Di dunia diperkirakan terdapat 14 juta flora-fauna, yang telah teridentifikasi manusia hanya sekitar 1,8 juta.
19 June 2009
Manca Negara : Kamboja : Lumba-lumba Irawadi di Ambang Kepunahan
(www.kompas.com, 18-06-2009)
KRATIE, KOMPAS.com — Para aktivis pelestarian lingkungan memperingatkan bahwa lumba-lumba Irawadi, salah satu mamalia langka dunia, di ambang kepunahan.
Lumba-lumba Irawadi Sungai Mekong hanya ditemukan di Kamboja dan Laos.
Badan konservasi alam dunia (WWF) mengatakan, hanya sekitar 70 lumba-lumba jenis itu yang tersisa dan binatang ini akan punah jika tidak ada tindakan untuk menyelamatkannya. Populasi lumba-lumba ini semakin turun dalam beberapa tahun dan laporan WWF ini adalah peringatan nyata bahwa kelangsungan hidup mereka sangat terancam.
Saat ini hanya beberapa lusin lumba-lumba yang tersisa, kebanyakan berkumpul di perputaran Sungai Mekong di kota Kratie, Kamboja. Namun, populasi lumba-lumba di kawasan ini juga dalam keadaan kritis. Yang paling mengkhawatirkan dua pertiga kematian dalam beberapa tahun belakangan melanda bayi lumba-lumba. Jika yang muda tidak selamat maka spesies ini tidak memiliki masa depan.
Namun juga terdapat kemajuan. Untuk pertama kalinya, para pegiat pelestarian alam berhasil mengetahui penyebab kematian lumba-lumba. Hasil otopsi mengungkapkan keberadaan bahan kimia racun termasuk PCB, merkuri, dan pestisida DDT. WWF menyatakan, bahan kimia berbahaya itu telah menekan sistem kekebalan lumba-lumba dan melemahkan pertahanan mereka melawan infeksi yang tidak biasanya berakibat fatal.
Sepertinya lumba-lumba yang masih bertahan bergantung pada kebersihan habitatnya. Namun para pegiat mengumumkan hal itu sangat sulit sehingga mereka merekomendasikan program pembiakan penangkaran dan pembiakan silang dengan jenis lumba-lumba air tawar lain untuk memperkuat gen spesies ini.
ONO , Sumber : BBC
Nasional : Sekitar 30 Persen Terumbu Karang Kaltim Hancur
(www.kompas.com, 18-06-2009)
SAMARINDA, KOMPAS.com — Penangkapan ikan memakai bom, racun, dan pukat harimau telah menghancurkan 30 persen terumbu karang di Kalimantan Timur.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kaltim Khaerani Saleh mengatakan hal itu saat dihubungi dari Kota Samarinda. Terumbu karang di Bontang dan Balikpapan sampai 1990 cukup bagus, tetapi kini hancur akibat penangkapan ikan dan batu-batu karangnya diambili untuk bahan bangunan. Hal itu dikatakan Saleh yang sedang berada di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Khaerani mengatakan, luas terumbu karang Kaltim 29.500 hektar berasal dari Kabupaten Paser, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kota Balikpapan, dan Kota Bontang. "Kami belum memiliki data luas terumbu karang di Kaltim yang akurat berikut kerusakannya," katanya.
Yang dapat dipastikan, lanjut Khaerani, separuh dari 6.532 hektar terumbu karang di Bontang dilaporkan telah rusak akibat penangkapan ikan dengan bom dan racun serta pemanfaatan berlebihan.
Terumbu karang yang jauh lebih luas terdapat di Kabupaten Berau. Diperkirakan 480.000 hektar dari 1,27 juta hektar atau 40 persen Kawasan Konservasi Laut Berau berupa terumbu karang dan padang lamun. Kabupaten Nunukan juga punya terumbu karang di kawasan Karang Unarang atau lebih dikenal dengan blok ambalat yang diributkan itu.
Khaerani mengatakan, pemerintah daerah melaksanakan program transplantasi terumbu dan terumbu karang buatan guna menyelamatkan ekosistem laut yang rusak. "Untuk membangun terumbu karang perlu sekitar 12 bulan dengan tingkat keberhasilan 80 persen, tetapi luas tidaknya bergantung dana yang ada," katanya.
Nasional : Elang Jawa dan Tikukur Botol Selangkah Lagi Punah
(www.kompas.com, 18-06-2009)
LEBAK, KOMPAS.com — Populasi elang jawa dan burung tikukur botol di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) kian terancam punah akibat pemburuan juga kerusakan hutan lindung yang dilakukan masyarakat.
Nurli mengatakan, berkurangnya satwa yang dilindungi pemerintah itu karena tanaman yang dijadikan sumber makanan kian menipis, bahkan beberapa titik sudah menghilang akibat adanya penebangan liar tersebut. Selain itu, juga akibat pemburuan yang dilakukan orang yang tidak bertanggung jawab.
Bahkan, populasi burung tikukur botol menghilang dan saat ini belum ditemukan kembali. Sedangkan populasi elang jawa masih berkeliaran di sekitar Cikaniki, Blok Wates, dan Gunung Endut sekitar kawasan hutan lindung TNGHS.
"Saya sendiri hingga kini belum mengetahui bentuk burung tikukur botol itu," ujar Nurli. Oleh karena itu, pihaknya terus melakukan pemantauan dan monitoring untuk menyelamatkan burung yang kategori langka itu supaya tidak terancam punah.
Dia mengatakan, berdasarkan hasil monitoring di lapangan diperkirakan 19 ekor burung elang jawa yang masih berkeliaran di kawasan hutan konservasi TNGHS. Namun, hingga saat ini burung elang jawa sulit berkembang biak karena adanya kerusakan kawasan hutan taman nasional itu.
Untuk mencegah kepunahan elang jawa dan tikukur botol di kawasan hutan Gunung Halimun-Salak, pihaknya berkoordinasi dengan Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) Sukabumi. Kawasan hutan lindung TNGHS yang meliputi tiga kabupaten, yakni Lebak, Bogor, dan Sukabumi, banyak satwa spesies yang dilindungi pemerintah, misalnya elang jawa, owa abu-abu, dan macan tutul.
WAH, Sumber : Antara
18 June 2009
Nasional : 2.000 Jenis Anggrek di Indonesia Terancam Hilang
(www.kompas.com, 18-06-2009)
JAKARTA, KOMPAS.com — Sekitar 2.000 dari 5.000 jenis anggrek di Indonesia terancam punah akibat pembabatan hutan dan penyelundupan yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, kata peneliti dari LIPI Dwi Murti Puspitaningtyas, di Jakarta, Kamis (18/6).
"Sebanyak 30 hingga 40 persen jenis anggrek Indonesia harus segera dilakukan penyelamatan melalui pembudidayaan dan konservasi, karena jenisnya semakin langka," kata dia. Bila konservasi dan upaya penyelamatan ribuan jenis anggrek tersebut tidak dilakukan, dandikhawatirkan Indonesia akan banyak kehilangan kekayaan alam yang tidak ternilai harganya.
Beberapa jenis anggrek yang kini langka di antaranya, yaitu Phalaenopsis javanica dari Jawa Barat, Cymbidium hartinahianum dari Sumatera Utara, dan Paraphalaenopsis denevii dari Kalimantan. Selain itu, seluruh jenis anggrek Paphiliopedium masuk appendix CITES sebagai jenis anggrek yang tidak boleh diperdagangkan di dalam negeri maupun luar negeri.
Menurut dia, beberapa anggrek langka tersebut dinilai memiliki keunikan sehingga kini terus dilakukan perburuan. Fungsinya adalah untuk dijadikan sebagai induk silangan guna menghasilkan hibrida baru, sehingga yang terjadi adalah semakin langka jenis anggrek tersebut akan semakin diburu. Murti mengatakan, eksploitasi anggrek secara besar-besaran yang dilakukan di beberapa daerah seperti di Kalimantan harus segera dibatasi.
WAH, Sumber : Antara


