( Tempo Interaktif, Selasa, 10 Januari 2006 )
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Chalid Muhammad, mengkritik Ketua DPR Agung Laksono menyangkut pernyataannya soal PT Freeport Indonesia.Agung menilai Freeport sebagai perusahaan pertambangan adalah sektor strategis untuk devisa. Karenanya dapat terus beroperasi setelah membenahi masalahnya manjemen dan lingkungan. "Pernyataan itu sangat disesalkan. Dengan adanya indikasi pelanggaran hukum harusya Ketua DPR mendesak adanya tindakan hukum terhadap Freeport dan bukan membelanya,"kata Chalid.Chalid berpendapat selama pejabat tingi negara terus mengeluarkan pernyataan yang membela Freeport dengan menyebutnya strategis untuk devisa, maka Freeport tidak akan pernah bisa disidik dan dibawa ke pengadilan. Menurut Chalid tidak tepat jika pertambangan diklaim sebagai sektor strategis untuk devisa negara. "Sektor pertambangan, hanya berkontribusi 1,3-1,6 persen bagi devisa negara,"katanya.Jumlah yang diterima oleh Indonesia dari Freeport jauh lebih kecil daripada ongkos yang harus dikeluarkan untuk memperbaiki kerusakan lingkungan akibat pertambangan. Biaya perbaikan itulah, menurut Chalid kurang diperhatikan oleh berbagai pihak.
Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua
IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org
11 January 2006
Jakarta : Walhi Kritik Pernyataan Ketua DPR Soal Freeport
10 January 2006
Jayapura : Pemprov Akan Bangun Pos Penyuluh Pertanian
( Cenderawasih Pos, Senin 09 Januari 2006 )
Sekretaris Badan Bimas Ketahanan Pangan Provinsi Papua, Anthon Sumaryanto, SH, M.Si mengatakan,Pemerintah Provinsi Papua telah memberikan prioritas terhadap wilayah yang rawan pangan di Papua dengan membentuk suatu pos yang nantinya akan ditempatkan sejumlah penyuluh pertanian lapangan (PPL) untuk membantu masyarakat mengembangkan tanaman-tanaman pangan lokal. "PPL yang ditugasnya ini diharapkan bisa memberikan pengarahan kepada masyarkat setempat tentang cara bercocok tanamam yang baik dan tepat,"kata Anthon kepada wartawan, kemarin.
Adapun daerah rawan pangan itu diantaranya, Puncak Jaya, Tolikara, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Paniai, Biak Numfor dan Jaya Wijaya. Kabupaten-kabupaten ini akan dibangun pos-pos pengembangan tanaman pangan lokal untuk mengantisipasi terjadinya kerawanan pangan yang dapat mengakibatkan kelaparan.
Menurutnya, petugas yang akan ditempatkan di pos-pos tersebut tidak hanya akan mendampingi masyarakat dalam bercocok tanam, namun merekajuga diharapkan dapat memprediksi tentang kemungkinan akan terjadinya pergantian iklim yang akan menyebabkan gagal panen.
Hal yang lain, kata Anthon, pemerintah akan terus mengawal tentang keberadaan pos-pos ini supaya bisa berfungsi dengan baik. Bahkan untuk menunjang program itu, Bimas Tanaman Pangan bakal memberikan bantuan bibit-bibit tanaman pangan yang cocok dengan masing-masing daerah tersebut. (ito)
Jayapura : Hanya 10 Perusahaan Perkebunan Yang Masih Beroperasi
( Cenderawasih Pos, Senin 09 Januari 2006 )
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Papua Ir Leonard Rumbarar mengatakan, cukup banyak banyak perusahaan perkebunan swasta/negeri (PBS/N) yang mengantongi izin di Papua, tetapi yang melakukan aktivitas di lapangan hanya beberapa perusahaan saja..
Dikatakan, sampai 2005, ada sebanyak 86 PBS/N yang mendapatizin beroperasi di Papua, namun dari 86 PBS/N itu, hanya 10PBS/N yang dinyatakan masih aktif beroperasi atau melakukan produksi hingga sekarang.
"Data yang ada pada Dinas Perkebunan Provinsi Papua pada 2005 lalu, di Kabupaten Jayapura, Keerom dan Sarmi terdapat kurang lebih 30 PBS/N yang memiliki izin, tetapi yang beroperasi di lapangan hanya 5 perusahaan yaitu PTPN II, PT Bumi Man Perkasa dan PT Purni Papua Perkasa Jaya di Keerom, Sinar Mas Group 2 Perusahaan di Jayapura, sementara yang di Sarmi tidak ada yang beroperasi,"urainya.
Ditambahkan, untuk Kabupaten Manokwari dan Bintuni, sekitar 11 perusahaan yang memiliki izin, tetapi yang beroperasi hanya 3 perusahaan yaitu PTPN II Prafi dan PT Cokran di Manokwari dan PT Varita Maju Tama di Bintuni, sementara itu satu perusahaan yang beroperasi di Kaimana adalah PT Adi Jaya Mulia.
"Beberapa Perusahaan lainnya yang memiliki izin namun tidak beroperasi, seperti di Kabupaten Yapen Waropen ada 6 dan semuanya tidak beroperasi, juga di Nabire ada 2 dan kedua-duanya tidak beroperasi, demikian halnya dengan 1 perusahaan di Mimika yang sudah memiliki izin, namun hingga saat ini belum beroperasi, di Kabupaten Merauke terdapat 17 PBS/N yang memiliki izin, tetapi yang beroperasi hanya Korindo Group saja ( PT Tunas Sawah Erma ),"jelasnya.(yom)
Jakarta : Majelis Rakyat Papua Akan Bahas Freeport
( Tempo Interaktif, Senin, 09 Januari 2006 )
Majelis Rakyat Papua mengagendakan rapat khusus soal keberadaan PT. Freeport Indonesia di provinsi Papua. "Sebagai wakil masyarakat adat Papua, adalah tugas kami membela hak mereka," kata Ketua Majelis Rakyat Papua, Agus Alue Alua kepada TEMPO, usai pelantikan penjabat Gubernur Papua di kantor Departemen Dalam Negeri hari ini. Agus menegaskan kalau pro dan kontra soal keberadaan PT Freeport sudah berkembang lama di Papua. "Soal pencemaran, soal rusaknya lingkungan, soal hak masyarakat adat yang dirugikan, itu semua masalah lama yang tak pernah direspon pemerintah," katanya. Dia menyambut baik tindakan tegas DPR dan Kementerian Negara Lingkungan Hidup yang akan mengirim tim untuk memeriksa sistem pembuangan limbah tailing dari pertambangan emas PT Freeport. "Seharusnya sudah dari dulu," katanya. Selain soal pencemaran lingkungan hidup, rapat khusus Majelis Rakyat Papua akan membicarakan masalah ganti kerugian untuk suku Komoro yang tinggal di sekitar lokasi pertambangan di Kabupaten Timika. "Sepuluh tahun terakhir ini, ganti kerugian yang diberikan Freeport tidak jelas," kata Agus. Dia menjelaskan, PT Freeport Indonesia memang selalu menyisihkan 1 persen dari keuntungan perusahaan setiap tahun untuk pemberdayaan warga suku Komoro. "Tapi, kami tidak tahu apakah ganti rugi itu untuk mengganti tanah, hak ulayat atau darah? Karena banyak juga orang Komoro yang jadi korban ketika pertambangan itu dibuka," katanya. Majelis, kata Agus, akan memperjelas skema ganti rugi yang sudah berjalan selama ini. "Perjanjian ganti rugi Freeport kepada warga Komoro memang akan berakhir 2006 ini," katanya.
Jakarta : Freeport Siap Bicara dengan Majelis Rakyat Papua
( Tempo Interaktif, Senin 09 Januari 2006 )
Juru bicara PT Freeport Indonesia, Siddharta Moersjid menegaskan perusahaannya siap berbicara dengan Majelis Rakyat Papua soal dana kemitraan dan dana perwalian untuk masyarakat adat suku Kamoro dan Amungme. Kedua suku itu hidup di wilayah yang kini menjadi area pertambangan PT Freeport di Timika. "Saya belum bisa komentar banyak soal itu. Tapi kami siap bertemu dan berbicara," kata Siddharta saat dihubungi hari ini. Siddharta menanggapi pernyataan Ketua Majelis Rakyat Papua, Agus Alue Alua yang mengaku lembaganya akan membahas soal dana ganti rugi hak ulayat untuk suku Kamoro, yang menurutnya tidak jelas. Siddharta menegaskan besaran dana kemitraan dan perwalian untuk suku Amungme dan Kamoro selalu terbuka untuk ditinjau kembali. "Dana itu juga dikelola secara transparan dan diaudit secara berkala," katanya. Masyarakat Suku Amungme dan Kamoro menerima dana kemitraan senilai 1 persen dari pendapatan PT Freeport Indonesia setiap tahun. Pada 2005 lalu, kedua suku itu mendapat bagi hasil sebesar US$ 40 juta atau lebih dari Rp 382, 4 miliar. Dana sebesar itu dikelola Lembaga Pengembangan Masyarakat Adat Amungme dan Kamoro yang penggunaannya diawasi bersama Pemerintah Daerah Papua, masyarakat dan PT Freeport. "Dana kemitraan ini diberikan sukarela oleh PT Freeport," kata Siddharta.
Sedangkan untuk dana perwalian, PT Freeport memberikan US$ 1 juta atau lebih dari Rp 9, 5 miliar setiap tahunnya untuk kedua suku itu.
Jakarta : Freeport Klaim Pengelolaan Limbahnya Sudah Baik
( Tempo Interaktif, Senin, 09 Januari 2006 )
PT Freeport Indonesia berkeras bahwa pembuangan tailing sisa penambangan ke sungai Aghwagon-Otomona-Ajkwa merupakan pilihan terbaik. "Audit lingkungan independen menyimpulkan pengeloaan tailing Freeport merupakan alternatif terbaik dengan mempertimbangkan keadaan geoteknik, topografi, iklim, seismolog dan mutu air yang ada," tulis Senior Manager Corporate Communications Freeport, Siddharta Moersjid, dalam surat elektroniknya kepada Tempo, Jumat (6/1).Freeport membuang tailing berupa gerusan batuan halus dari penggilingan dan pengapungan biji mineral melewati ketiga sungai tersebut ke daerah pengendapan di daerah dataran rendah atau Managed Disposal Area (MaDA). Siddharta menyatakan tailing yang dibuang tidak beracun karena dalam memproses biji mineral tidak menggunakan sianida dan merkuri.Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) pada 2001 menilai cara pembuangan tailing tersebut melanggar Peraturan Pemerintah Nomor 35 tahun 1991 tentang Sungai yang melarang pembuangan limbah padat atau cair ke dalam atau di sekitar sungai. Tailing Freeport juga dinyatakan tidak memenuhi baku mutu limbah cair yang mensyaratkan total suspended solution (TSS) atau limbah tidak terlarut sebesar 400 ppm sementara TSS tailing mencapai 4.000 ppm.Bapedal ketika itu meminta Freeport menghentikan pembuangan tailing ke sungai karena dinilai merusak lingkungan. Sebagai gantinya, Freeport diminta membangun sistem pemipaan untuk membuang tailing.Freeport, kata Siddharta, menolak rekomendasi tersebut karena konstruksi dan pemasangannya harus menghadapi medan yang terjal dan sulit, serta dapat mengakibatkan dampak lingkungan hidup terhadap ngarai yang dilewati pipa. Selain itu, keutuhan pipa juga terancam oleh peristiwa alam yang ekstrim seperti tanah longsor, air bah, dan gempa bumi terhadap keutuhan jaringan pipa. Penolakan itu didasarkan pada evaluasi teknis oleh pakar dan ilmuwan yang meriset sistem yang paling tepat sesuai lokasi yang ada di Papua. Hasilnya, kata Siddharta, sistem pipa dinilai tidak tepat dengan kondisi medan yang ada. Ia juga mengatakan pengelolaan tailing terus-menerus dievaluasi dan diperbaharui untuk meminimalkan potensi resiko. "Kami senantiasa meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan kami," tulis Siddharta. Oktamandjaya Wiguna.
06 January 2006
Tips & Trik : Makanan berserat alami
( Info Sehat, Minggu 05 Febuari 2006 )
Makanan berserat alami sangat diperlukan oleh tubuh manusia. Makanan serat alami adalah makanan yang secara struktur kimia tidak berubah atau bertahan sampai di usus besar. Walaupun makanan berserat alami tidak mengandung gizi, namun keberadaannya sangat diperlukan dalam proses pencernaan di tubuh manusia. Makanan berserat alami didapatkan dari buah-buahan dan sayur mayor yang kita konsumsi setiap harinya.
Fungsi makanan berserat adalah:
1. Membantu mencegah sembelit (susah buang air besar);
2. Mencegah timbulnya penyakit pada usus besar, termasuk kanker;
3. Membantu menurunkan kadar kolesterol dalam darah;
4. Mengontrol kadar gula dalam darah;
5. Mencegah wasir dan menurunkan berat badan.
Penelitian terakhir menunjukkan bahwa warga Jakarta hanya mengkonsumsi makanan berserat rata-rata 10 gram per hari. Padahal kebutuhan akan makanan berserat bagi tubuh manusia adalah 25 s.d 35 gram per hari.
Saat ini telah beredar beberapa merek dari produk yang menawarkan minuman berserat. Namun alangkah baiknya bila makanan berserat tersebut langsung dikonsumsi dari buah-buahan dan sayur-mayur setiap harinya.
05 January 2006
Jayapura : Diminta Menseriusi Permasalahan Tersebut
( Cenderawasih Pos, Sabtu 04 Febuari 2006 )
Ketua Perlindungan Hak Ulayat Masyarakat Adat Demta yang juga Kepala Desa Muris Kecil Distrik Demta Dicky H.N.Yakore meminta agar masalah pertengkaran kleim - mengkleim tanah ulayat milik masyarakat yang digunakan oleh kedua perusahaan yakni antara PT.You Lim sari dan PT.Gizan Putra Abadi segera diselesaikan. Pasalnya, jika tak diselesaikan akan berdampak pada masyarakat karena 2 perusahan tersebut selama 6 bulan ini tidak lagi beroperasi. "Para karyawan yang rata -rata masyarakat Demta saat ini hidupnya terkatung - katung sebagai akibat dari tidak beroperasinya lagi kegiatan kedua perusahaan ini, bagaimana para karyawan ini dapat menghidupkan keluarga mereka jika perusahaan tidak membayar gaji mereka,"pintanya.
Oleh karena itu sekali lagi pihaknya meminta agar pemerintah Kabupaten Jayapura terutama Badan Pertanahan Nasional (BPN) kabupaten untuk menyikapi persoalan kleim mengkleim tanah dari kedua perusahaan ini dapat diselesaikan dengan cepat dan baik sehingga persoalan ini tidak meimbulkan dampak yang lebih buruk lagi bagi masyarakat.
Dikatakan, sebagai bentuk keprihatian masyarakat pemilik hak ulayat tanah terhadap sikap kedua perusahaan tersebut, maka para tokoh adat, agama, pemuda dan tokoh masyarakat Demta telah mengeluarkan pernyataan sikap yakni membatalakan jual beli tanah terhadap PT.You Lim Sari yang dibuat tanggal 23 Desember 1984, mengusir PT.You Lim sari dan PT.Gizan Putra Abadi dari Demta, semua aset yang berada disana tidak boleh dipindah tangankan kepada pihak manapun untuk dijadikan jaminan pembayaran hutang - hutang kedua perusahaan tersebut kepada masyarakat termasuk para pekerja, bilamana sampai tanggal 5 Februari 2006 mendatang tidak ada pembyaran hutang - hutang ini, maka aset -aset tersebut dijual untuk membayar hutang - hutang tersebut, dan semua kegiatan apapun tidak diperbolehkan selain persetujuan tertulis dari adat. (and)
03 January 2006
Temulawak Bisa Turunkan Kolesterol
( Kompas, Senin 02 Januari 2006 )
Ekstrak temulawak teruji secara klinis mampu menurunkan kolesterol. Konsumsi ekstrak temulawak itu terbukti tidak menimbulkan efek samping yang berarti, baik gejala klinis, kimia darah, maupun urine. Selain itu, tidak menimbulkan tukak lambung dan memacu nafsu makan.
Daun jambu biji juga ternyata terbukti secara klinis dapat mempercepat peningkatan trombosit pada penderita demam berdarah dengue (DBD). Seiring dengan meningkatnya jumlah kasus DBD pada musim hujan, penggunaan ekstrak daun jambu biji ini bermanfaat sebagai terapi untuk mengatasi demam berdarah.
Uji klinis obat bahan alam perlu dikembangkan di Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati untuk memperoleh fitofarmaka, obat herbal yang teruji klinis lengkap. Pada tahun ini kami menguji klinis sembilan tanaman, kata Sampurno, Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan, Rabu (28/12), di Jakarta.
Menurut Soegeng Soegijanto dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, DBD merupakan salah satu masalah kesehatan di Tanah Air. Selama ini penggunaan ekstrak daun jambu biji dalam pengobatan DBD, terutama untuk meningkatkan jumlah trombosit, banyak diperbincangkan masyarakat awam maupun kalangan kedokteran, tetapi belum ada penelitian klinisnya.
Hasil uji klinis awal pada 44 anak di bangsal penyakit tropik dan infeksi Laboratorium Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Umum dr Soetomo, Surabaya, menunjukkan, ekstrak daun jambu biji dalam bentuk sirup mempercepat jumlah trombosit lebih dari 100.000/ul pada penderita DBD tingkat satu dan dua. Jika tanpa ekstrak daun jambu biji peningkatan trombosit butuh waktu 33,6 jam, pasien yang mengonsumsi ekstrak daun jambu biji hanya perlu waktu 13,6 jam.
Adapun ekstrak temulawak, kata Suwijiyo Pramono dari Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, setelah melalui uji klinis terbukti berkhasiat sebagai peluruh cairan empedu sehingga dapat menurunkan kolesterol.
Hasil uji klinis awal terhadap 80 penderita hiperkolesteremia yang tidak dapat dikendalikan dengan diet menunjukkan, sediaan kapsul ekstrak rimpang temulawak terpurifikasi dapat menurunkan kadar kolesterol darah sebesar 18,25 persen. (EVY)
Tips & Trik : Teh Hijau Bisa Atasi Kanker
( Republika, Senin 02 Januari 2006 )
Ekstrak teh hijau terbukti mampu membantu perbaikan kondisi pasien leukimia lymphocytic kronis (CLL). Meski hasil penelitian menunjukkan fakta demikian, kalangan ilmuwan tetap beranggapan perlu ada penelitian lanjutan. ''Hasil penelitian Mayo Clinic, Amerika Serikat itu menambah bukti khasiat teh hijau bagi pengobatan kanker,'' ujar Tait Shanafelt, penulis laporan penelitian kepada BBC.
Teh hijau, lanjut Shanafelt, sudah lama dikabarkan dapat mencegah terjadinya kanker. Dari penelitian Mayo Clinic terlihat ada agen khusus pada teh hijau yang memiliki kemampuan tersebut. ''Temuan ini sekaligus memberi harapan bagi pasien CLL.''
Penyakit CLL disebut leukimia kronis karena progresnya lebih lamban ketimbang leukimia akut. Beberapa pasien didapati tetap hidup berdekade lamanya dengan penyakit tersebut. Sampai sekarang, obat penyembuhannya belum diketemukan
Dalam penelitian Mayo Clinic, empat pasien CLL diterapi dengan mengonsumsi tablet ekstrak teh hijau. Tablet itu mengandung epigallocatechin gallate, antioksidan yang diperkirakan dapat memerangi sel kanker. ''Dalam beberapa bulan saja pertumbuhan sel kanker pada tiga dari empat pasien CLL tadi terlihat melambat,'' cetus Shanafelt.
Sementara itu, pasien keempat juga menunjukkan perbaikan kondisi. Hanya saja, tidak terlalu signifikan secara klinis. ''Perlu penelitian lanjutan untuk mengungkap kemungkinan adanya efek samping. (rei )
07 October 2005
Artikel : Pemetaan berbasis masyarakat di desa Papasena I dan desa Kwerba Mamberamo
Salah satu metode dalam kegiatan Multidisciplinary Landscape Assessment atau MLA
(CII Papua Program, 05 Oktober 2005)
Penulis, Yoseph Watopa, Mamberamo Field Coordinator CII Papua Program
Pengertian
Pemetaan partisipatif atau pemetaan berbasis masyarakat pada intinya adalah sama. Masyarakat kampung membuat peta untuk menggambarkan tempat dimana mereka hidup. Orang-orang yang hidup dan bekerja ditempat tersebutlah yang memiliki pengetahun mendalam mengenai wilayahnya. Merekalah yang mampu membuat peta secara detail dan akurat mengenai sejarah, tata guna lahan, pandangan hidup atau harapan untuk masa depan. Dengan kata lain pemetaan masyarakat merupakan cara yang praktis untuk mengumpulkan informasi tentang persepsi masyarakat local terhadap sumberdaya alam dan tempat-tempat khusus yang terdapat di sekitar wilayah desa dalam suatu model geografis.
Dengan demikian pemetaan berbasis masyarakat memberikan suatu penjelasan mengenai tata ruang secara tradisional yang dimiliki oleh komunitas masyarakat adat diwilayah tertentu.
Pemetaan dalam kegiatan MLA
MLA merupakan metode penelitian multidisiplin yang dikembangkan oleh CIFOR (Center for International Forestry Research) untuk melakukan survei persepsi masyarakat lokal tentang bentang alam (lansekap) hutan dan keaneka ragaman hayati yang terdapat di dalamnya dan hubungannya dengan kebutuhan, pemilihan dan sistem nilai masyarakat. Kegiatan tersebut merupakan penelitian multidisiplin karena melibatkan ahli sosial ekonomi, anthropologi, biologi hutan, botani, tanah dan etnobiologi dalam satu tim peneliti dengan melibatkan masyarakat secara aktif pada proses penyusunan metodologi dan pelaksanaan penelitian.
Langkah awal yang dilakukan dalam MLA adalah menggambar bersama dengan penduduk desa, suatu peta lanskap dengan mencantumkan nama lokal dari sungai-sungai dan tempat-tempat, serta lokasi di mana sumber-sumber utama ditemukan menurut masyarakat setempat. Tujuan pembuatan peta ini adalah untuk membangun suatu pemahaman bersama tentang wilayah yang akan diteliti, dan digunakan sebagai pendukung bagi semua aktivitas lain dari MLA. Ini sebabnya mengapa peta digambar pada hari-hari pertama.
Peta tersebut akan menjadi penunjuk kepada lokasi-lokasi berdasarkan tipe lahan seperti sungai, gunung, rawa, telaga, sungai kecil, kebun, bekas kebun, bekas kampung dan hutan untuk melakukan survey petak. Seperti dijelaskan diatas peta tersebut berisi sebaran sumber daya alam (seperti tempat kasuari bermain pada musim tertentu, dammar, rawa sagu, sagu tanam dll), daerah sacral, lokasi berburu atau dearah mencari, Manfaat lain yang diperoleh dari kegiatan pemetaan ini adalah sebagai alat komunikasi diantara masyarakat yang terlibat untuk mengingat lokasi-lokasi tertentu yang menjadi milik mereka dan alat komunikasi kepada pihak luar serta menjadi bukti yang dapat berbicara tentang sebaran sumber daya alam yang mereka miliki.
Proses Pemetaan
Pemetaan dilakukan oleh masyarakat di atas sebuah peta dasar hasil foto citra satelit. Peta dasar tersebut berisi sungai besar Mamberamo, beberapa sungai yang bermuara ke sungai Mamberamo, dan beberapa telaga besar. Peta dasar tersebut dibuatkan copian ke dalam kertas kalkir menjadi beberapa lembar peta yang akan diberikan kepada masyarakat. Penggambaran peta diawali dengan menentukan orientasi peta oleh masyarakat dan dilanjutkan dengan pemberian nama sungai-sungai besar dan arah aliran sungai. Kemudian dilanjutkan dengan sungai-sungai kecil yang berair dan telaga-telaga disekitar sungai. Kegiatan ini memerlukan waktu yang lama karena masyarakat akan mengenali sungi-sungai tersebut satu demi satu. Selanjutnya mereka diminta untuk menggambarkan lokasi-lokasi khusus (seperti lokasi bekas kampung, bekas kebun, dll).
Setelah semua digambarkan kegiatan pemetaan dilanjutkan dengan menggambarkan lokasi-lokasi sumberdaya tertentu atau lokasi-lokasi yang menjadi tempat masyarakat melakukan kegiatannya sehari-hari (berkebun, berladang, berburu, mencari gaharu atau dammar dll). Selain itu tempat-tempat tertentu yang bersifat khusus atau sacral juga digambarkan didalam peta dtersebut. Keseluruhan proses pembuatan peta tersebut tidak diselesaikan dalam satu kali pertemuan namun beberapa kali pertemuan, kemudian peta tersebut akan digabungkan terlebih dahulu menjadi satu peta dan kemudian ditempelkan di tempat-tempat terbuka sehingga mudah untuk dilihat oleh masyarakat dan mendapat masukan untuk perbaikan oleh anggota masyarakat lainnya.
Penggambaran obyek di peta dilakukan dengan memberikan tanda atau warna tertentu untuk masing-masing obyek atau legenda yang digambarkan.
Keterlibatan masyarakat
Masyarakat memiliki pengetahuan yang baik tentang bentangan alam atau landscape (Ijdoprelaurli dalam bahasa Papasena) yang mereka tempati sehingga mereka sangat antusias dan berpartisipasi aktif dalam proses pembuatan peta. Pemetaan sumber daya alam wilayah desa dilakukan oleh masyarakat sendiri dengan berpatokan pada copian peta dasar hasil pemotretan citra satelit dan mereka mengisi bagian yang kosong pada peta dasar. Ada empat kelompok yang dibentuk untuk membuat peta tersebut yaitu kelompok laki-laki tua, laki-laki muda, perempuan tua dan perempuan muda. Masing-masing kelompok mengeluarkan peta yang hampir sama.
Keempat peta awal tersebut kemudian digabungkan menjadi satu. Kegiatan ini merupakan suatu proses yang rumit karena peta-peta dasar hanya memiliki sedikit titik-titik referensi (sungai Mamberamo, sungai Tariku dan sungai Taritatu; serta beberapa danau/ telaga), sedangkan setiap kelompok kemudian menambahkan sungai-sungai kecil yang berlainan di wilayah mereka bersama dengan tempat-tempat dan sumber-sumber daya alam yang ada di sekitarnya. Proses penggabungan semua informasi tersebut melibatkan banyak anggota masyarakat untuk beberapa hari dan kami memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan pengecekan silang dan memperbaiki informasi. Kegiatan ini telah menunjukkan pengetahuan mereka yang mendalam tentang wilayah mereka.
Selanjutnya, beberapa pemuda desa menawarkan diri untuk menyempurnakan gambar peta terakhir. Hal ini merupakan aspek baru dari proses pemetaan. Peta tersebut memuat banyak simbol berwarna-warni yang mewakili berbagai sumber daya alam yang ada, dari dataran rendah berawa dekat desa hingga ke puncak gunung yang membutuhkan waktu beberapa hari untuk mencapainya. Masyarakat sangat bangga dengan produk tersebut, dan dipertimbangkan sebagai hasil yang penting dan berguna.
Peta hasil kerja masyarakat ini oleh mereka akan dijadikan sebagai dasar pertimbangan untuk menilai kebijakan pembangunan yang akan berdampak bagi lokasi-lokasi sumber daya alam mereka. Karena selain memuat sumber daya alam dan lokasi pencaharian mereka sehari-hari, peta ini juga memuat daerah-daerah yang menurut mereka adalah sacral dan khusus bagi kehidupan religius dan masa depan generasi mereka.
06 October 2005
Salah satu metode dalam kegiatan Multidisciplinary Landscape Assessment atau MLA
(CII Papua Program, 05 Oktober 2005)
Penulis, Yoseph Watopa, Mamberamo Field Coordinator CII Papua Program
Pengertian
Pemetaan partisipatif atau pemetaan berbasis masyarakat pada intinya adalah sama. Masyarakat kampung membuat peta untuk menggambarkan tempat dimana mereka hidup. Orang-orang yang hidup dan bekerja ditempat tersebutlah yang memiliki pengetahun mendalam mengenai wilayahnya. Merekalah yang mampu membuat peta secara detail dan akurat mengenai sejarah, tata guna lahan, pandangan hidup atau harapan untuk masa depan. Dengan kata lain pemetaan masyarakat merupakan cara yang praktis untuk mengumpulkan informasi tentang persepsi masyarakat local terhadap sumberdaya alam dan tempat-tempat khusus yang terdapat di sekitar wilayah desa dalam suatu model geografis.
Dengan demikian pemetaan berbasis masyarakat memberikan suatu penjelasan mengenai tata ruang secara tradisional yang dimiliki oleh komunitas masyarakat adat diwilayah tertentu.
Pemetaan dalam kegiatan MLA
MLA merupakan metode penelitian multidisiplin yang dikembangkan oleh CIFOR (Center for International Forestry Research) untuk melakukan survei persepsi masyarakat lokal tentang bentang alam (lansekap) hutan dan keaneka ragaman hayati yang terdapat di dalamnya dan hubungannya dengan kebutuhan, pemilihan dan sistem nilai masyarakat. Kegiatan tersebut merupakan penelitian multidisiplin karena melibatkan ahli sosial ekonomi, anthropologi, biologi hutan, botani, tanah dan etnobiologi dalam satu tim peneliti dengan melibatkan masyarakat secara aktif pada proses penyusunan metodologi dan pelaksanaan penelitian.
Langkah awal yang dilakukan dalam MLA adalah menggambar bersama dengan penduduk desa, suatu peta lanskap dengan mencantumkan nama lokal dari sungai-sungai dan tempat-tempat, serta lokasi di mana sumber-sumber utama ditemukan menurut masyarakat setempat. Tujuan pembuatan peta ini adalah untuk membangun suatu pemahaman bersama tentang wilayah yang akan diteliti, dan digunakan sebagai pendukung bagi semua aktivitas lain dari MLA. Ini sebabnya mengapa peta digambar pada hari-hari pertama. Peta tersebut akan menjadi penunjuk kepada lokasi-lokasi berdasarkan tipe lahan seperti sungai, gunung, rawa, telaga, sungai kecil, kebun, bekas kebun, bekas kampung dan hutan untuk melakukan survey petak. Seperti dijelaskan diatas peta tersebut berisi sebaran sumber daya alam (seperti tempat kasuari bermain pada musim tertentu, dammar, rawa sagu, sagu tanam dll), daerah sacral, lokasi berburu atau dearah mencari, Manfaat lain yang diperoleh dari kegiatan pemetaan ini adalah sebagai alat komunikasi diantara masyarakat yang terlibat untuk mengingat lokasi-lokasi tertentu yang menjadi milik mereka dan alat komunikasi kepada pihak luar serta menjadi bukti yang dapat berbicara tentang sebaran sumber daya alam yang mereka miliki.
Proses Pemetaan
Pemetaan dilakukan oleh masyarakat di atas sebuah peta dasar hasil foto citra satelit. Peta dasar tersebut berisi sungai besar Mamberamo, beberapa sungai yang bermuara ke sungai Mamberamo, dan beberapa telaga besar. Peta dasar tersebut dibuatkan copian ke dalam kertas kalkir menjadi beberapa lembar peta yang akan diberikan kepada masyarakat. Penggambaran peta diawali dengan menentukan orientasi peta oleh masyarakat dan dilanjutkan dengan pemberian nama sungai-sungai besar dan arah aliran sungai. Kemudian dilanjutkan dengan sungai-sungai kecil yang berair dan telaga-telaga disekitar sungai. Kegiatan ini memerlukan waktu yang lama karena masyarakat akan mengenali sungi-sungai tersebut satu demi satu. Selanjutnya mereka diminta untuk menggambarkan lokasi-lokasi khusus (seperti lokasi bekas kampung, bekas kebun, dll).
Setelah semua digambarkan kegiatan pemetaan dilanjutkan dengan menggambarkan lokasi-lokasi sumberdaya tertentu atau lokasi-lokasi yang menjadi tempat masyarakat melakukan kegiatannya sehari-hari (berkebun, berladang, berburu, mencari gaharu atau dammar dll). Selain itu tempat-tempat tertentu yang bersifat khusus atau sacral juga digambarkan didalam peta dtersebut. Keseluruhan proses pembuatan peta tersebut tidak diselesaikan dalam satu kali pertemuan namun beberapa kali pertemuan, kemudian peta tersebut akan digabungkan terlebih dahulu menjadi satu peta dan kemudian ditempelkan di tempat-tempat terbuka sehingga mudah untuk dilihat oleh masyarakat dan mendapat masukan untuk perbaikan oleh anggota masyarakat lainnya.
Penggambaran obyek di peta dilakukan dengan memberikan tanda atau warna tertentu untuk masing-masing obyek atau legenda yang digambarkan.
Keterlibatan masyarakat
Masyarakat memiliki pengetahuan yang baik tentang bentangan alam atau landscape (Ijdoprelaurli dalam bahasa Papasena) yang mereka tempati sehingga mereka sangat antusias dan berpartisipasi aktif dalam proses pembuatan peta. Pemetaan sumber daya alam wilayah desa dilakukan oleh masyarakat sendiri dengan berpatokan pada copian peta dasar hasil pemotretan citra satelit dan mereka mengisi bagian yang kosong pada peta dasar. Ada empat kelompok yang dibentuk untuk membuat peta tersebut yaitu kelompok laki-laki tua, laki-laki muda, perempuan tua dan perempuan muda. Masing-masing kelompok mengeluarkan peta yang hampir sama.
Keempat peta awal tersebut kemudian digabungkan menjadi satu. Kegiatan ini merupakan suatu proses yang rumit karena peta-peta dasar hanya memiliki sedikit titik-titik referensi (sungai Mamberamo, sungai Tariku dan sungai Taritatu; serta beberapa danau/ telaga), sedangkan setiap kelompok kemudian menambahkan sungai-sungai kecil yang berlainan di wilayah mereka bersama dengan tempat-tempat dan sumber-sumber daya alam yang ada di sekitarnya. Proses penggabungan semua informasi tersebut melibatkan banyak anggota masyarakat untuk beberapa hari dan kami memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan pengecekan silang dan memperbaiki informasi. Kegiatan ini telah menunjukkan pengetahuan mereka yang mendalam tentang wilayah mereka.
Selanjutnya, beberapa pemuda desa menawarkan diri untuk menyempurnakan gambar peta terakhir. Hal ini merupakan aspek baru dari proses pemetaan. Peta tersebut memuat banyak simbol berwarna-warni yang mewakili berbagai sumber daya alam yang ada, dari dataran rendah berawa dekat desa hingga ke puncak gunung yang membutuhkan waktu beberapa hari untuk mencapainya. Masyarakat sangat bangga dengan produk tersebut, dan dipertimbangkan sebagai hasil yang penting dan berguna.
Peta hasil kerja masyarakat ini oleh mereka akan dijadikan sebagai dasar pertimbangan untuk menilai kebijakan pembangunan yang akan berdampak bagi lokasi-lokasi sumber daya alam mereka. Karena selain memuat sumber daya alam dan lokasi pencaharian mereka sehari-hari, peta ini juga memuat daerah-daerah yang menurut mereka adalah sacral dan khusus bagi kehidupan religius dan masa depan generasi mereka.