Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua

Cari Informasi/Berita/Tulisan/Artikel di Blog IKP

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org

31 December 2008

Sorong : Teluk Bintuni akan Jadi Pusat Industri Petrokimia

(www.radartimika.com, 30-12-2008)
SORONG - Pemerintah memproyeksikan Kabupaten Teluk Bintuni di Papua Barat menjadi pusat industri petrokimia. Rencana tersebut berkaitan dengan mulai berproduksinya proyek gas alam cair Tangguh di Kabupaten Teluk Bintuni.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, dirinya mendapat tugas khusus dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono guna menilai potensi mendirikan industri petrokimia di Tangguh. Selain memaksimalkan potensi gas, industri tersebut juga digunakan untuk mengantisipasi penurunan harga minyak internasional.

’’Kita mencari nilai tambah dari gas di Tangguh. Kalau hanya jualan gas, ketika harga minyak turun, pendapatan (bagi hasil migas) pemerintah ikut turun,’’ ujar Kalla ketika menjadi pembicara kunci di seminar tentang otonomi khusus Papua di Sorong, Papua Barat, kemarin (29/12).

Wakil Presiden Jusuf Kalla hari ini memang dijadwalkan berkunjung ke Teluk Bintuni untuk melepas kargo ekspor perdana gas alam cair Tangguh. Kalla juga dijadwalkan meresmikan pengeboran perdana lapangan minyak hasil kerja sama operasi Pertamina dan Petrochina di Kabupaten Sorong.

Proyek gas alam cair Tangguh adalah megaproyek yang dikerjakan konsorsium yang dipimpin perusahaan migas Inggris BP Plc. Dengan pengapalan perdana kargo gas hari ini, proyek senilai USD 5 miliar itu bisa memenuhi komitmen pengapalan gas kepada semua pembeli.

Sesuai kontrak, pembeli LNG dari Tangguh adalah CNOOC untuk pengiriman ke terminal Fujian sebesar 2,6 metrik ton per tahun. Pembeli lain adalah Sempra Energy LNG Corporation untuk pengiriman ke receiving terminal di Costa Azul, Mexico, seberat 3,7 metrik ton per tahun. Gas yang dikirim ke Sempra dipasarkan di Amerika Serikat dan Meksiko.

Gas alam dari Tangguh juga dikirimkan ke POSCO, K-Power, dan SK Corporation dari Korea Selatan. Pembeli yang juga telah antre adalah Tohoku Electric dari Jepang. Proyek LNG Tangguh akan mengolah gas yang berasal dari tiga ladang gas di Papua Barat. Yaitu, blok Berau, blok Muturi, dan blok Wiriagar.

Cadangan gas terbukti dari ketiga ladang itu adalah 14,4 triliun kaki kubik. Untuk tahap awal, Tangguh direncanakan memproduksi 7,6 metrik ton LNG per tahun dari dua unit pemurnian dan pencairan gas (train). Dengan beroperasinya lapangan gas Tangguh dan Petrochina, ujar Kalla, dana bagi hasil yang diperoleh rakyat Papua Barat dipastikan meningkat.

Sebab, sesuai UU Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat, provinsi berhak mendapatkan 70 persen alokasi dana bagi hasil yang diterima pemerintah. ’’Apalagi, dana bagi hasil migas untuk Papua dan Papua Barat sangat besar. Jauh lebih besar dibandingkan dengan provinsi lain yang hanya memperoleh 15 persen dari dana bagi hasil migas yang diterima pemerintah," katanya.

Kalla yakin, tambahan dana bagi hasil migas tersebut akan mempercepat pembangunan di Papua dan Papua Barat yang infrastrukturnya sangat tertinggal dibandingkan dengan provinsi lain. Namun, sebelum dana bagi hasil tersebut terealisasi, Wapres meminta pemerintah provinsi dan DPR Papua mengoptimalkan pemanfaatan dana alokasi umum, dana alokasi khusus, dan dana otonomi khusus yang tahun ini mencapai Rp 29 triliun.

Bila dihitung dari sisi keuangan, alokasi anggaran pemerintah dibagi jumlah penduduk di Papua dan Papua Barat jauh melebihi provinsi lain. Dengan jumlah penduduk hanya 2,9 juta jiwa, setiap kepala di kedua provinsi mendapatkan alokasi dana Rp 10 juta per orang per tahun. ’’Kalau dibagikan, per keluarga bisa mendapat Rp 40 juta per tahun. Bandingkan dengan Sulawesi Selatan yang hanya Rp 2 juta per kepala, atau Jawa Barat yang hanya Rp 1,5 juta per kepala,’’ kata dia.

Karena itu, Wapres meminta pemerintah dan DPRD tidak hanya menuntut hak dan melupakan kewajiban otonomi khusus. Kedua lembaga diminta saling mendukung, sekaligus saling mengkritik kebijakan yang salah secara konstruktif. ’’Kalau bupati terlalu lama di Jakarta, DPRD harus mengkritik. Sebaliknya, kalau DPRD terlalu rajin studi banding, bupati juga harus teriak. Semua pihak harus bekerja sebaik mungkin untuk rakyat,’’ tegasnya.

Kalla juga membantah bahwa pemerintah pusat tidak adil. Sebab, dana yang ditransfer ke kedua provinsi jauh lebih besar dibandingkan dengan dana yang diterima dari royalti PT Freeport, yakni Rp 17 triliun per tahun. ’’Mengapa manfaatnya belum terlihat? Itu terjadi karena wilayah Papua sangat luas dan penduduknya terpencar sehingga susah membangun infrastruktur. Lagi pula, biaya pembangunan infrastruktur di Papua dua hingga tiga kali lipat dibandingkan dengan Jawa,’’ terangnya.

Meski demikian, Kalla mengakui bahwa pemerintah terlambat membangun infrastruktur di Papua dan Papua Barat. Ketika itu, pemerintah berpikir tidak efisien membangun infrastruktur bila hanya melayani penduduk yang sedikit dan tersebar. Namun, pemerintah kini membalik paradigma tersebut. ’’Kalau infrastruktur tidak dibangun, mereka mau lewat mana,’’ jelasnya. (noe/oki/jpnn)

Jayapura : BMG Warning Nelayan di Papua,

Awal Tahun Diminta Tidak melaut
(www.cenderawasihpos.com, 30-12-2008)
JAYAPURA-Badan Meteorologi dan Geofisikan (BMG) Wilayah V Jayapura memperingati (mewarning) para nelayan di Papua untuk sementara waktu tidak melaut. Sebab diperkirakan pada awal tahun 2009, tinggi gelombang laut di beberapa wilayah perairan Papua (Pantai Utara dan Laut Arafura) mencapai 2 hingga 4 meter.

Kepala Bidang Data dan Informasi BMG Wilayah V Jayapura, Ahmad Mudjahidin melalui Kasubdin Pelayanan Jaga, Zem I Padama, S.Si, mengatakan, pada awal tahun antara tanggal 1 hingga 3 Januari, tinggi gelombang di sekitar wilayah Laut Arafura bisa mencapai 3 hingga 4 meter.

Sementara untuk wilayah pantai utara Papua, gelombang laut diperkirakan bisa mencapai 2 hingga 2,5 meter.”Dengan kondisi seperti ini, tentunya sangat membahayakan bagi dunia pelayaran di Papua yang menggunakan kapal kecil khususnya bagi para nelayan. Untuk itu, nelayan diminta untuk mewaspadai tinggi gelombang ini. Sebab tinggi gelombang seperti ini sngat riskan untuk para nelayan dan kapal yang berukuran kecil,”ungkapnya kepada Cenderawasih Pos, Senin (29/12).

Dikatakan, tingginya gelombang di beberapa wilayah perairan Papua disebabkan adanya angin barat yang terjadi setiap tahun. Untuk wilayah Laut Arafura kecepatan angin menurutnya bisa mencapai 25 knot. Sedfangkan di Pantai Utara Papua kecepatan angin antara 10 hingga 25 knot.

Selain masalah gelombang laut menurut Zem, intensitas curah hujan yang mulai meningkatkan di beberapa kabupaten/kota juga perlu diwaspadai khususnya daerah yang rawan banjir dan tanah longsor. Sebab berdasarkan pengamatan BMG di beberapa kabupaten seperti Mimika, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Boven Digoel dan Asmat, intensitas curah hujannya tinggi yaitu lebih dari 400 mm.”Sedangkan untuk wilayah Kota Jayapura masih di bawah normal yaitu sekitar 215 mm, dimana peluang hujan terjadi pada malam hari,”tandasnya.(ind)

Nasional : Negara Memimpin Perusakan Ibu Pertiwi

(www.kompas.com, 30-12-2008)
JAKARTA, SELASA — Saat ini laju deforestasi atau kerusakan hutan di Indonesia masih di atas 1 juta hektar per tahun. Kemudian dilaporkan pemerintah, ada 24 pulau tenggelam dalam periode 2005-2007 serta kejadian banjir dan longsor yang hampir merata di semua daerah. Hal itu menunjukkan bahwa negara memimpin perusakan Ibu Pertiwi melalui berbagai kebijakan yang dikeluarkannya. Demikian disampaikan Ketua Institut Hijau Chalid Muhammad, Senin (29/12) di Jakarta.

”Pada akhir 2008 bahkan negara memberi dua kado berupa pengesahan Undang-Undang Pertambangan Mineral dan Batu Bara yang mempercepat eksploitasi tambang dengan menjual murah serta kado pembebasan perkara pembalakan liar hutan oleh 13 dari 14 perusahaan,” kata Chalid.

Belum lagi, adanya penyimpangan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2008 yang membatasi pemanfaatan hutan lindung untuk usaha pertambangan, meskipun itu berupa pengalihan fungsi hutan hanya untuk sarana dan prasarana tambang. Diungkapkan Chalid, seperti di Morowali, Sulawesi Tengah, pemerintah selama 2008 ini mengizinkan pembukaan pelabuhan usaha tambang di kawasan hutan lindung. ”Kemudian di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, masih diizinkan usaha tambang mangan di kawasan hutan lindung pula,” kata Chalid.

Kemudian fakta lain, sebanyak 263 warga dalam setahun ini meninggal akibat bencana ekologis, seperti banjir dan longsor. Ada lagi berupa perizinan pemerintah untuk pengalihan fungsi hutan seluas 4 juta hektar untuk perkebunan sawit di Papua, yang juga menjadi bagian peran negara dalam merusak Ibu Pertiwi.

Chalid juga mengemukakan hal-hal tersebut dalam suatu pertemuan Evaluasi 2008 dan Outlook 2009 Pergerakan Kaum Muda Indonesia kemarin di Jakarta. Tidak hanya bidang lingkungan yang disajikan, tetapi juga meliputi masalah hak asasi manusia, politik, kelautan, dan sosial-budaya.
Nawa Tunggal

Nasional : Pemantauan Penanaman Pohon Tidak Jelas, LSM Sudah Gunakan Citra Satelit

(www.kompas.com, 30-12-2008)
JAKARTA, SELASA - Program Penanaman 100 Juta Pohon yang dicanangkan pemerintah tidak disertai dengan mekanisme pemantauan kelangsungan hidup pohon yang ditanam secara jelas dan terukur. Oleh karena itu, klaim pemerintah yang menyatakan sudah menanam jutaan pohon, sulit dibuktikan.

”Karena itu, sistem pemantauan oleh pemerintah sangat penting untuk segera diwujudkan,” kata Kepala Komunikasi dan Branding World Wildlife Fund for Nature (WWF) Indonesia Elshinta Marsden, Senin (29/12), di Jakarta.

Menurut dia, seperti dilakukan WWF di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah, program penanaman pohon disertai pemantauan dan evaluasi setiap enam bulan mudah dilakukan dengan menggunakan teknologi pencitraan satelit.

”Di antara berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang peduli terhadap pemulihan lingkungan hutan memang sudah menerapkan teknologi serupa, namun yang dibutuhkan sekarang pemantauan secara menyeluruh yang harus diupayakan pemerintah,” kata Elshinta.

Kematian 17 persen
Dudi Rufendi selaku Koordinator Program NEWtrees WWF di Taman Nasional Sebangau mengatakan, hasil evaluasi penanaman pohon yang terakhir kali dilakukan pada November-Desember 2008 menunjukkan adanya kematian pohon sekitar 17 persen. Pemantauan dilakukan untuk penanaman lahan seluas 406 hektar, dengan setiap hektar ditanami 400 pohon endemik. ”Ada tiga jenis pohon endemik yang ditanam, meliputi jelitung, kulai, dan belangeran,” kata Dudi.

Menurut Dudi, pemantauan dilakukan dengan memotret sampel pohon yang ditanam dalam lingkup 1 hektar, kemudian ditentukan titik koordinatnya dengan teknologi GPS (global positioning system). Kemudian dengan teknologi pencitraan satelit dapat diperkirakan kelangsungan hidup pohon sesuai sampel tersebut dan bisa ditentukan persentase keberhasilan penanaman tersebut.

Tingkat kematian pohon sekitar 17 persen selama penanaman satu tahun, menurut Dudi, tergolong baik. Setelah dihitung tingkat kematian pohon tersebut, kemudian ditanami kembali dengan bibit yang baru.

Menurut Elshinta, pemantauan program penanaman pohon dilakukan selama tiga tahun. Masa-masa ini merupakan masa kritis penanaman pohon. ”Upaya untuk memantau kelangsungan hidup pohon yang tidak kalah penting lainnya adalah melibatkan masyarakat setempat,” kata Elshinta.

Elshinta menyebutkan, dukungan masyarakat untuk melestarikan pohon ini juga disuarakan melalui kampanye bersama Cita Hijau 2009. Pencanangannya pada Minggu (28/12) di Jakarta.
Nawa Tunggal

Timika : 37 Hektar Lahan Kosong Dibuka

(www.radartimika.com, 30-12-2008)
TIMIKA – Seluas 37 hektar lahan kosong di Nawaripi, Kampung Wonosari Jaya dibuka oleh PT Yamvaf Pasific Jaya. Serimonial pembukaan lahan tersebut dilakukan Bupati Mimika, Klemen Tinal, Minggu (28/12) yang ditandai dengan pengguntingan pita. Mendampingi bupati, pimpinan PT Yamvaf Pasific Jaya, Hasanudin Yampi berserta ratusan undangan.

Hasanudin kepada Radar Timika disela-sela kegiatan itu mengatakan, pihaknya telah banyak membuka lahan kosong di kota Timika dan sekitarnya. Diantaranya, tahun 1996 di depan Telkom, tahun 1997 di kompleks Kelapa Dua (belakang Hasrat Abadi) seluas 10.800 meter persegi, dan tahun 1999 di kompleks Matoa dengan luas lahan 22.456 meter persegi dan di Kampung Kadun Jaya tahun 2004 dengan luas lahan 240.000 meter persegi.

"Pembukaan lahan kali ini Nawaripi dengan luas 37 hektar. Yang akan dibuka tiga lahan yakni, tanah kavling seluas 11 hektar, penginapan dinas atau pengusaha 10 hektar, dan 16 hektar untuk perumahan. Maksud dan harapan kami membuka lahan tersebut untuk menciptakan sebuah lingkungan yang teratur, bersih, rapi dan aman,"ujar Hasanudin.

Dikatakan, dengan pembukaan lahan baru akan memberikan lapangan kerja dan bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, pembukaan lahan berarti memanfaatkan lahan yang tidak aktif menjadi lahan produktif untuk pemukiman.

"Acara yang kami selenggarakan ini sebenarnya sudah kami siapkan sejak bulan lalu. Jadi sudah 40 persen yang sudah mengambil tanah kavling. Selain tanah kavling kami juga membangun rumah tipe 70," tambahnya.

Bupati Klemen Tinal yang diminta komentarnya mengenai pembukaan lahan kosong mengatakan, pemerintah menganggap pembangunan ini sangat strategis, dan sesuai dengan otonomi khusus yang diberikan. "Otonomi khusus menjadikan masyarakat sebagai subyek untuk mengambil bagian dalam pembangunan daerah,". (ckr)

30 December 2008

Manca Negara : Amerika : Lebih dari 2 Triliun Ton Es Kutub Mencair

(www.kompas.com, 29-12-2008)
LEBIH dari dua triliun ton es di Kutub Utara dan Kutub Selatan mencair sejak tahun 2003. Hasil pengukuran menggunakan data pengamatan satelit GRACE milik NASA itu menunjukkan bukti terbaru dampak dari pemanasan global.

"Antara Greenland, Antartika, dan Alaska, pencairan lapisan es telah meningkatkan air laut setinggi seperlima inci dalam lima tahun terakhir," kata Scott Luthcke, geofisikawan NASA.

Dari pengukuran tersebut, lebih dari setengahnya adalah es yang sebelumnya ada di Greenland. Selama lima tahun, es yang mencair dari Greenland tersebut mengalir ke Teluk Chesapeake dan mengalir ke laut lepas. Bahkan menurut Luthcke, pencairan es di Greenland akan berlangsung semakin cepat.

Mencairnya es di daratan sebenarnya tak berpengaruh langsung terhadap kenaikan muka air laut di seluruh dunia seperti mencairnya lautan beku. Pada tahun 1990-an, pencairan es di Greenland tidak menyebabkan peningkatan air laut yang berarti.

"Namun, saat ini Greenland turut meningkatkan setengah milimeter tingkat air laut per tahun," kata ilmuwan es NASA Jay Zwally. “Pencairan terus memburuk. Ini menunjukkan tanda yang kuat dari pencairan dan amplifikasi. Tidak ada perbaikan yang terjadi,” lanjut Zwally.

Para ilmuwan NASA mempresentasikan temuan baru mereka pada konferensi American Geophysical Union di San Fransisco minggu lalu. Dengan menganalisis perubahan iklim, secara umum para ilmuwan akan melihat yang terjadi beberapa tahun untuk menentukan tren secara keseluruhan.
HIN
Sumber : LIVESCIENCE

27 December 2008

Nasional : Presiden Berharap WOC di Manado Sukses

(www.kompas.com, 26-12-2008)
MANADO, JUMAT — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap pelaksanaan Konferensi Kelautan Dunia (World Ocean Conference/WOC) dan Coral Triangel Initiative (CTI) Summit Mei 2009 diikuti enam kepala negara harus sukses.

Hal itu disampaikan Presiden saat meninjau prasarana infrastruktur dan peresmian sejumlah hotel berbintang di Manado, Jumat (26/12). Menurut Presiden, kedua event dunia yang sudah masuk dalam agenda Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merupakan inisiatif Indonesia untuk pembangunan laut dan kelestarian karang dunia.

"WOC adalah gerakan revolusioner di bidang kelautan, sedangkan CTI adalah sumbangan Indonesia kepada dunia dalam menjaga keberadaan karang dunia sebagai sumber pangan masa depan," katanya.

Sekretaris Eksekutif Panitia Daerah WOC Noldy Tuerah mengatakan bahwa dalam perkembangannya WOC menjadi minat pemangku kelautan dunia, bahkan tercatat sudah 121 negara yang menyatakan diri ikut dalam konferensi di Manado.

Sekretaris Menko Kesra S Indroyono yang menjadi Sekretaris Panitia Nasional mengatakan dalam pertemuan WOC dan CTI akan dideklarasikan Manado Ocean Policy. Untuk CTI, Indroyono mengatakan akan dihadiri enam kepala negara yakni Filipina, Malaysia, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Timur Leste, dan Indonesia, ditambah kehadiran dua negara partner, Australia dan Amerika Serikat.
Jean Rizal Layuck

25 December 2008

Merauke : Hijaukan Bumi, Korem 174/ATW Tanam Ribuan Pohon

(www.cenderawasihpos.com, 24-12-2008)
MERAUKE-Dalam rangka melakukan penghijauan, jajaran Korem 174/ATW melakukan penanaman ribuan pohon secara massal di Markas Korem 174/ATW, Tanah Miring, Rabu (23/12). Tidak kurang 170 personel dari satuan tersebut dikerahkan untuk menanam 2.930 pohon yang terdiri dari 1.830 pohon ekaliptus, 300 pohon jambu mete dan 800 pohon durian.

Penanaman diawali Danrem 174/ATW, Kolonel CZI Suratmo dilanjutkan dengan ratusan personil di jajaran Korem 174/ATW tersebut. Danrem Suratmo saat membacakan amanat Pangdam XVII/Cenderawasih mengungkapkan, tujuan penanaman 100 juta pohon tersebut adalah untuk mengurangi dampak pemanasan global, meningkatkan absorbsi gas CO2 dan polutan lainnya, mencegah banjir, kekeringan dan tanah longsor serta meningkatkan upaya konservasi sumber daya genetic tanaman hutan.

''Tujuan tersebut untuk mewujudkan pembangunan Indonesia yang bersih,"katanya. Namun untuk mewujudkan hal tersebut, lanjut Pangdam, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tapi harus ada kepedulian yang yang tinggi dari semua komponen masyarakat di Papua, Papua Barat khususnya di Kabupaten Merauke dengan mewujudkan kesadaran menanam dan memelihara tanaman sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Karena itu, kepada seluruh jajaran prajurit TNI AD, ia mengharapkan, penanaman pohon tersebut hendaknya dijadikan sebagai momentum guna menumbuhkan kembali nilai-nilai kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup sebagaimana yang telah dicangkan pemerintah saat ini guna membantu mengatasi permasalahan bangsa yakni menurunnya sumberdaya genetic tanaman hutan.

Pengdam menambahkan, pencanangan penanaman pohon ini sebagai wujud bahwa Kodam XVII/Cenderawasih juga mempunyai komitmen terhadap pelestarian lingkungan hidup. (ulo)

Jayapura : Terlibat Pembalakan, Prajurit Kodam Akan Dipecat

(www.cenderawasihpos.com, 24-12-2008)
JAYAPURA- Masih berkaitan dengan kegiatan pencanangan penanaman serentak 100 juta pohon dalam rangka peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional, Kodam XVII/Cenderawasih kembali melaksanakan aksi tanam pohon di Makodam, Selasa ( 23/12) kemarin.

Dalam aksi tanam pohon di belakang lapangan tembak Makodam yang dipimpin langsung Pangdam Mayjen TNI A.Y Nasution itu, juga diikuti para pejabat TNI/Polri dan perwakilam LSM diantaranya lembaga konservasi internasional Indonesia program mamberamo dan WWF Region Papua.

Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI A.Y Nasution mengatakan, yang harus dimaknai dari semangat kebangkitan nasional adalah semangat untuk menjaga kelestarian lingkungan dan alam, diantaranya semangat melakukan aksi menanam pohon. Jika dulunya itu semangat dalam rangka untuk mempertahankan hidupnya, maka sekarang ini yang harus dilakukan adalah semangat untuk menjaga kelestarian alam.

Terkait dengan semangat kebangkitan nasional ini khususnya di Papua menurut Pangdam semangat tersebut baru muncul . Namun, kondisi itu tidak saja terjadi di Papua tapi juga terjadi dibeberapa daerah lain di Indonesia. Meski semangat ini baru mancul, namun semangat kebangkitan menanam dan memelihara pohon ini harus terus digelorakan agar menjadi sebuah kesadaran yang muncul dari diri setiap pribadi orang.

" Bagi saya yang terpenting dalam aksi penanaman 100 juta pohon yang terpenting bukan penanamannya tapi yang terpenting adalah pemeliharaannya. Sebab, jangan sampai kegiatan ini hanya bersifat seremonial atau formalitas saja maka jelas tidak ada manfaatnya," ujar Pangdam kepada Cenderawasih Pos, kemarin.

Menurut Pangdam, kesadaran untuk menamam pohon ini harus dimulai dari diri sendiri, masing-masing kantor/markas baru mengarah ke wilayah yang lebih luas lagi. Namun, tidak ada artinya juga semangat menamam pohon ini jika harus dibarenngi juga dengan semangat untuk menebang pohon.

Makanya, setiap ada pohon di sekitar kompleks Kodam yang ditebang, dirinya merasa prihatin dan segera meminta staf untuk segera mencari tahu siapa yang melakukan penebangan pohon tersebut. Sebab, jangankah menebang pohon, jika ada prajurit yang terbukti melakukan penebangan dahan pun dirinya sangat marah.

Pangdam mengaku sangat hafal jika ada pohon di sekitar Makodam yang tumbang, karena dirinya selalu mengecak terus kondisi pohon-pohon tersebut. Sebab, adanya penebangan pohon itu menandakan kesadaran dan kepedulian untuk melestarikan lingkungan rendah. Jika dirinya memiliki kewenangan untuk menangkap, maka prajurit yang melakukan penebangan itu akan ditangkap semua.

Disinggung jika ada prajurit terbukti melalukan aksi tebang menebang pohon, Pangdam mengaku tidak segan-segan untuk memberikan sanksi, jika perlu diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

" Kita inikan negara hukum dan ketentuan ada bahkan Gubernur telah mengeluarkan peraturan tentang itu. Jika mereka itu telah melakukan pelanggaran hukum contohnya illegal loging (pembalakan) dirinya tidak akan pandang bulu untuk menindaknya bahkan bisa sampai pada sanksi pemecatan tergantung berat ringannya kesalahan yang dilakukan," tegasnya.

Sebab, sesuai ketentuan hukum yang berlaku, ada beberapa sanksi yang bisa diberikan kepada prajurit yang terbukti bersalah, ada yang dipenjara, sanksi teguran hingga sanksi disiplin.
Sementara itu, pimpinan WWF Region Papua Benjay Mambay mengungkapkan, aksi penananam pohon yang dilakukan TNI ini setidaknya bisa memberikan motivasi kepada seluruh elemen masyarakat untuk terus melakukan upaya-upaya pembaruan dalam rangka menjaga dan melestarian lingkungan hidup.(mud)

24 December 2008

Nasional : Cenderawasih Langka Berhasil Ditangkarkan di Bali

(www.kompas.com, 23-12-2008)
DENPASAR, SELASA — Taman Burung dan Rimba Reptil Bali untuk pertama kalinya bisa menangkarkan cendrawasih merah (Paradisaea rubra). Salah satu burung endemik Papua yang langka itu berhasil ditangkarkan di dalam kawasan penangkaran di Gianyar, Bali.

"Kami sangat peduli pada pelestarian alam, terutama burung-burung liar yang sangat indah ini. Untuk bisa menangkarkan burung cendrawasih kepala merah ini, memerlukan waktu, kesabaran, dan riset yang cukup lama. Tidak mudah memang, tetapi akhirnya bisa juga berkat kerja keras para staf kami," kata pemilik Taman Burung dan Rimba Reptil Bali, Nicholas J Blackbeard.

Keberhasilan itu ditandai dengan pemasangan cincin identifikasi di kaki anakan burung usia dua pekan, Senin (22/12). Saat diberikan cincin identifikasi itu, anak burung yang belum diketahui kelaminnya dan belum diberi nama itu tidak henti-henti membuka mulutnya pertanda ingin makan. Anakan burung itu kemudian dimasukkan kembali ke dalam wadah khususnya dan dikembalikan ke dalam gedung karantina dan perawatan anakan burung.

Para pengunjung mengaku sangat gembira menyaksikan pemasangan cincin di kaki kanan anakan burung jenis sangat langka itu. Sementara indukan burung itu tetap berada di dalam sangkar raksasanya karena berbagai jenis cendrawasih diketahui sangat sensitif terhadap kehadiran unsur-unsur asing di luar kebiasaannya.

"Bahkan kami memberi makannya juga sangat hati-hati, harus pengasuhnya. Kalau tidak begitu, mereka bisa mogok makan. Bahkan bisa saja telur satu-satunya ini ditendang keluar dari sarangnya," kata seorang staf taman burung itu.

Bukan cuma cendrawasih merah yang bisa ditangkarkan di sana karena burung endemik kebanggaan Bali, jalak bali atau curik bali (Leucopsar rothschildii), juga bisa dibiakkan secara baik, dan saat ini terdapat tiga anakan usia tiga bulan yang berada dalam bangunan pembiakan. Demikian juga dengan burung macaw (Ara arauna) asal pedalaman rimba Amazon, Amerika Selatan, juga terdapat beberapa anakan usia beberapa pekan.

Taman Burung dan Rimba Reptil Bali yang telah berdiri sejak 12 tahun lalu tercatat mempunyai 225 spesies dan subspesies burung dari berbagai negara, dengan jumlah burung mencapai 1.125 burung. Tiap kali beberapa merak (Pavo munticus) juga datang mendekat kepada para pengunjung.

Jika pengunjung datang ke sana, burung-burung paruh bengkok macaw akan menyambut dengan celotehannya di dahan-dahan dalam taman burung yang asri itu. Tidak ketinggalan burung kakatua berbagai jenis yang sangat jinak dan bisa disentuh pengunjung. Tidak ketinggalan burung-burung migran, di antaranya pelikan dan flaminggo menemani pengunjung di kolam besar yang terdapat di dalamnya.

Pengunjung juga bisa melihat-lihat burung yang dipelihara khusus di dalam sangkar-sangkar raksasa menurut region wilayahnya, misalnya area Nusa Tenggara, area Afrika, dan area Amerika.
WAH, Sumber : Antara

Nasional : Soal Hutan, Pemerintah Harus Serius dan Tegas

(www.kompas.com, 23-12-2008)
JAKARTA,SELASA- Pengelolaan hutan sebagai sebuah komoditi, bukan aset, menyebabkan dampak kerusakan kurang diperhatikan. Parahnya, pemerintah sebagai pemegang regulasi tidak menunjukkan upaya serius untuk mereduksi dan mencegah bencana tersebut.

Hal tersebut dikemukakan Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Berry Nahdian Forqan pada sebuah diskusi di Jakarta, Selasa(23/12). "Setiap tahun bencana ekologi terus mengalami peningkatan. Tahun 2007 terjadi 205 bencana dan tahun 2008 meningkat sampai 359 kali," katanya.

Berry menjelaskan, belum adanya tawaran yang berani serta ketegasan pemerintah menjadi akar masalah sampai saat ini. Banyaknya kasus pengelolaan hutan oleh pihak swasta yang jelas-jelas merusak malah dibebaskan, bahkan diizinkan kembali operasinya.

Padahal, pengelolaan sumber daya alam (SDA) harus melihat aspek pendistribusian yang mempengaruhi keseimbangan SDA dan pengolahan dengan memperhatikan dampak lingkungan yang terjadi. Paling terpenting adalah aspek pembaharuan yang memikirkan SDA tersebut dapat digunakan kembali dalam beberapa waktu kedepan.

Sebagai contoh, 13 perusahaan besar di Riau yang diindikasikan melakukan pembalakan liar di Riau Desember ini justru dibebaskan. Polisi daerah setempat memberikan surat pemberhentian penyidikan tanpa alasan yang jelas. "Harapan Indonesia menjadi lebih baik soal penangan lingkungan, justru menjadi mimpi buruk di tahun 2008," lanjutnya.

Agenda mendesak untuk pemerintah, lanjut Berry, harus segera dilaksankan sebagai upaya penyelamatan lingkungan jangka panjang. Pemerintah harus segera mencabut seluruh peraturan dan kebijakan yang selama ini menjadi alat legitimasi untuk mengeruk keuntungan atas nama lingkungan hidup dan SDA. Selanjutnya, melakukan moratorium perizinan sampai adanya UU nasional yang interaktif menyangkut pengelolaan SDA.

Moratorium juga harus dilaksanakan untuk pembayaran dan penambahan utang sebgai upaya untuk menyelamatkan anggaran negara. Terakhir, menginvestasi aset kekayaan strategis bangsa serta sesegera mungkin menerapkan agenda nasionalisai aset.
C12-08

Jayapura : 27 Lokasi Tambang Ilegal Akan Ditutup

(www.cenderawasihpos.com, 23-12-2008)
SENTANI - Menindaklanjuti Surat Bupati Jayapura untuk penertiban kawasan Pertambangan Tanpa Izin (PTI) yang ada di wilayah Kabupaten Jayapura, maka Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Jayapura beserta dinas/instansi terkait mengelar rapat pembahasan.Hasilnya, 27 lokasi tambang ilegal akan segera ditutup dalam waktu dekat ini.

Kepala Dinas Pertambangan Dan Energi Kabupaten Jayapura Nehemia Karma, SH mengungkapkan bahwa 27 lokasi tambang ilegal ini, tersebar mulai dari Sentani Timur, Sentani, Kemtuk, Nimbokarang, Nimbotong, Unurum Guay dan sejumlah lokasi lainnya. "27 lokasi tambang yang akan ditertibkan ini, hampir semuanya merupakan lokasi penambangan galian C yang tidak mempunyai izin,"ungkap Nehemia Karma saat ditemui usai rapat pembahasan di aula lantai II Kantor Bupati, Senin (22/12).

Menurut Nehemia Karma, saat ini hanya ada 5 lokasi penambangan galian C yang memiliki izin resmi dari Bupati Jayapura dan 3 lokasi mendapatkan izin dari Gubernur Papua. Namun terkait dengan Perda Provinsi No 23 tahun 1995 tentang ijin pertambangan daerah, maka untuk aktifitas tambang yang ada di Kabupaten Jayapura harus mendapatkan izin dari bupati, sebab saat ini Kabupaten Jayapura sudah memiliki Dinas Pertambangan dan Energi sendiri.

"Penertiban lokasi tambang ini harus kami lakukan dengan tujuan untuk pencegahan kerusakan lingkungan yang lebih luas dampaknya dan juga tertibkan aturan persyaratan penambangan,"ujar Nehemia yang mengaku penertiban ini diharapkan juga memberikan dampak PAD meski bukan merupakan tujuan utama.

Bagi lokasi tambang ilegal yang ditutup ini, menurut Nehemia, bisa dibuka kembali apabila sudah mengurus perijinan untuk aktifitas tambang ini. Menurutnya, satu hal yang perlu diperhatikan untuk aktifitas penambangan ini yaitu harus ada kajian terhadap dampak lingkungan, sehingga aktifitas penambangan ini tetap terkendali. (tri)

23 December 2008

Foto : : Serangga Mamberamo, Papua

Jenis serangga yang ditemukan di daerah hutan Mamberamo, Papua

Jayapura : Wilayah Pesisir Memiliki Potensi Keragaman SDA

(www.papuapos.com, 22-12-2008)
JAYAPURA (PAPOS) – Program mitra bahari (PMB) memiliki program strategis sebagai pendamping dan pendukung program lain dalam pembangunan kelautan dan perikanan. Untuk itu, kegiatan PMB perlu dikondisikan dan dipadukan baik ditingkat pusat maupun di daerah. Demikian disampaikan Kepala Dinas Perikanan Dan Kelautan Provinsi Papua, Ir. Astiler Maharaja melalui kasubdin produksi Dinas Periknana dan Kelautan Papua, Ir. Aldash Palilu pada pembukaan lokda program mitra bahari di hotel Relat Indah, Sabtu (20/12). Turut hadir ketua konsorsium program mitra bahari regional center papua, Eselon III dan IV Lingkup Dinas Perikanan.

Dikatakannya, sesuai amanat Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Pesisir dan Pulau-pulau kecil bahwa Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil memiliki keragaman potensi Sumber Daya Alam yang tinggi, dan sangat penting bagi pengembangan sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, dan penyangga kedaulatan bangsa.

Oleh karena itu, perlu dikelola secara berkelanjutan dan berwawasaan global, dengan memperhatikan aspirasi dan partisipasi masyarakat, dan tata nilai bangsa yang berdasarkan norma hukum nasional dan daerah khususnnya daerah pesisir di Provinsi Papua.

Program Mitra Bahari meruapakan jejaring pemangku kepentingan di bidang pengelolaan Wilayah Pesisir dalam penguatan kapasitas sumber daya manusia, lembaga, pendidikan, penyuluhan, pendampingan, pelatihan, penelitian terapan, dan pengembangan rekomendasi kebijakan.

‘’Oleh Karena itu, kelembagaan kita sebenarnnya sangat kuat dan sudah tertuang dalam Undang-undang diatas. Oleh sebab itu sangat di perlukan program-program yang menyentuh langsung dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir Papua serta perencanaan, pengawasan dan pengendalian Sumberdaya Pesisir yang mapan,’’ katanya.

Bahkan ia mengharapkan melalui Lokda Program Mitra Bahari ini dapat menjaring isu-isu pengelolaan daerah Kelautan pesisir dan pulau-pulau kecil khususnnya di Provinsi Papua dan suatu kesepakatan rekomendasi untuk pembangunan perikanan dan kelautan Provinsi Papua ke depan.‘’Saya mengharapkan lewat lokakaria ini dapat menghasilkan suatu rekomendasi bersama untuk pembangunan kelautan dan perikanan yang lebih baik kedepan,’’ tukasnya. (bela)

21 December 2008

Foto : Tumbuhan Kantong Semar di lereng pegunungan Cartensz, Papua

Lereng pegunungan Cartenz Papua merupakan surga, tempat subur bagi tanaman Kantong Semar. (Foto : Pieter Wamea)

Nasional : Wapres: Jangan Obral Pengelolaan Hutan

(www.kompas.com, 20-12-2008)
Laporan wartawan Kompas Suhartono
BANJARMASIN, SABTU — Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla meminta agar pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten di Indonesia tidak mengobral perizinan dalam pengelolaan hutan dan sumber daya alam.

Sebab, jika tidak dibatasi, kawasan hutan dan sumber daya alam seperti di Kalimantan Selatan akan habis. Jika habis, pemerintah provinsi dan kabupaten serta masyarakat akan dinilai menghabisi sumber daya alam di kawasan ini, yang seharusnya diwarisi kepada anak cucu kita.

Wapres Kalla menegaskan hal itu saat memberikan pengarahan di acara pembukaan rapat tentang batu bara dan besi baja, yang dilakukan di lantai II Kantor Cabang PT Pelindo di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu (20/12) siang waktu setempat.

Dalam kunjungan itu, Wapres Kalla didampingi oleh Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil, Menteri Perhubungan Jusman Safeii Djamal, dan Menteri Dalam Negeri Mardiyanto. Hadir pula pimpinan PT Krakatau Steel, Gubernur Rudy Arifin, dan pimpinan daerah lainnya.

"Tolak saja izin pengelolaan hutan jika memang sudah banyak. Karena pemerintah harus menjaga dengan baik agar tidak habis sumber daya alam dan energi itu. Kalau habis, kita akan ditanya mana warisan anak cucu kita? Jadi, kelolalah dengan baik, warisan kekayaan alam yang kita miliki ini dengan baik," ujarnya.

Menurut Wapres Kalla, pemerintah daerah harus tegas dan tidak ragu. "Kalau memang sudah banyak yang mengajukan untuk pengelolaan izin hutan, tolak saja. Jangan berpikir-pikir lagi," lanjutnya.

Wapres Kalla menambahkan, sebagian hutan Indonesia sudah habis karena kayunya diekspor ke Jepang. "Jangan sampai kekayaan kita yang lain habis lagi," lanjut Wapres Kalla.

Sebelumnya, Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Arifin menyatakan bahwa hingga kini masih banyak perizinan pengelolaan kawasan hutan untuk tambang yang masih mengantre. Padahal, tambahnya, sudah banyak yang mendapatkan izin tersebut. Ia meminta pertimbangan Wapres Kalla bagaimana cara mengatasinya.
HAR

20 December 2008

Nasional : Karang Beracun Kurang Dikenali oleh Penyelam

(www.kompas.com, 19-12-2008)
MANADO, JUMAT — Para peneliti kelautan internasional mencemaskan sejumlah bahaya yang berisiko bagi kegiatan penyelaman di beberapa kawasan laut dunia. Bahaya penyelaman yang dimaksud adalah adanya spesies ikan dan karang beracun di beberapa obyek penyelaman yang kurang dikenal penyelam.

Di samping itu, para peneliti juga sangat khawatir atas kegiatan pencemaran di sejumlah laut di belahan dunia yang merusak ekosistem dan biota laut pada masa depan.

Dua topik itu disorot para pakar kelautan internasional yang mengirimkan abstrak, pengalaman, dan pandangan ilmiah mereka kepada panitia Konferensi Kelautan Dunia (World Ocean Conference/WOC) Sulawesi Utara melalui situs jaringan. Kegiatan WOC akan diikuti 121 negara yang akan mendeklarasikan Manado Ocean Policy yang mencakup seluruh masalah kelautan.

Dr Desy Mantiri, anggota panitia simposium WOC Sulawesi Utara, kepada wartawan di Manado, Kamis (18/12), mengatakan, pihaknya telah menerima sekitar 600 abstrak dari pakar kelautan dari berbagai negara dunia, antara lain Belgia, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat. Jumlah abstrak yang masuk itu sebagian mengenai kesehatan laut, biomedika, dan polusi kelautan.

Desy mengatakan, dalam pembahasan kesehatan laut (marine health) pada WOC yang berlangsung 11-15 Mei 2009 di Manado, para pakar memperkenalkan adanya sejumlah spesies ikan dan karang beracun yang mesti dihindari dan perlu diantisipasi. Sejauh ini masalah ikan dan karang beracun belum memunculkan risiko bagi penyelam dunia.

”Kasus ini belum ditemukan di Indonesia, tetapi para pakar telah mensinyalir di beberapa tempat obyek penyelaman di belahan dunia telah muncul,” katanya.

Akan tetapi, Desy enggan merinci abstrak mengenai bahaya penyelaman karena menyangkut izin publikasi dari sebuah karya ilmiah peneliti. (zal)
Jean Rizal Layuck

Nasional : Kodok, Indikator Perubahan Lingkungan

(www.kompas.com, 19-12-2008)
Kodok merupakan hewan yang sangat terikat pada habitatnya. Kodok juga sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Kepekaan ini dapat dijadikan sebagai indikator terjadinya perubahan lingkungan di sekitarnya. Dampak perubahan lingkungan terlihat pada turunnya populasi yang disertai turunnya keanekaragaman jenis kodok.

Tahun kodok
Tahun 2008 disepakati sebagai Tahun Kodok (Year of Frogs). Penetapan ini berawal dari kekhawatiran banyak ahli kodok di dunia terhadap rentannya eksistensi kodok akibat isu pemanasan global dan besarnya ancaman dari dampak lingkungan. Tujuan penetapan Tahun Kodok untuk mengangkat pamor kodok di dunia.

Bahaya yang dihadapi
Masalah utama yang mengancam populasi dan keanekaragaman jenis kodok di Indonesia adalah hilangnya habitat alami kodok, seperti penggundulan hutan hujan tropis, pencemaran air sungai (berupa limbah rumah tangga dan logam berat), dan konversi lahan basah menjadi areal perkebunan. Pemanfaatan yang berlebihan serta serangan penyakit jamur dan virus juga menjadi menjadi ancaman yang dihadapi kodok.

Jenis kodok endemik Jawa berstatus Kritis (CR):
- Kodok Merah (Leptophryne cruentata), Hanya terdapat di hutan tropis dataran tinggi Jawa Barat.
- Kodok Pohon Ungaran (Philautus jacobsoni), Hanya terdapat di hutan tropis Jawa Tengah.

Jenis endemik yang berstatus Rentan (VU):
- Kongkang Jeram (Huia masonii)
- Kodok Pohon Mutiara (Nyctixalus margaritifer)
- Kodok Pohon Kaki Putik (Philautus pallidipes)
- Kodok Pohon Jawa (Rhacophorus javanus)

Kerusakan hutan hujan tropis paling besar di Indonesia terjadi di Pulau Jawa. Kerusakan di Pulau Jawa berdampak nyata pada status jenis-jenis kodok yang terdapat di dalamnya, terutama jenis-jenis yang endemik (tidak terdapat di pulau lain).

Sekilas kodok
Kodok jantan datang ke kolam dan menggunakan teknik unik mereka untuk menarik perhatian kodok betina. Dengan teknik "amplexus", kodok jantan akan memeluk pinggang kodok betina.

Klasifikasi katak dan kodok:
• Kerajaan : Animalia
• Filum : Chordata
• Kelas : Amfibia
• Bangsa : Anura

Polusi dan Reproduksi
Jenis-jenis yang tidak tahan terhadap polusi umumnya akan mati pada tingkat metamorfosis dari telur menjadi berudu, sedangkan jenis-jenis yang tahan umumnya akan mengalami pertumbuhan tidak normal atau cacat pada tangan atau kaki yang sangat berperan pada proses kawin kodok. Bila bentuknya tidak normal atau tidak tumbuh, hal itu berpengaruh pada berlanjutnya keturunan jenis kodok itu. Akibatnya, jenis yang tahan terhadap polusi air berangsur-angsur juga punah.

Status IUCN
Punah (Extinct)-EX 34 jenis
Punah di alam (Extinct in the Wild)-EW 1 jenis
Kritis (Critically Endangered)-CR 455 jenis
Genting (Endangered)-EN 768 jenis
Rentan (Vulnerable)-VU 670 jenis
Terancam (Near Threaten)-NT 369 jenis
Perlu Perhatian (least Concern)-LC 2.236 jenis
Data Tidak Cukup (Data Deficient)-DD 1.382 jenis

Kodok dalam Angka
- Dari 6.000 jenis kodok di dunia, 5.915 telah ditelaah statusnya oleh International Union for Conservation and Natural (IUCN) Resources.
- 1.893 berada dalam status terancam dan menuju kepunahan.
- Kodok di Indonesia diketahui 351 jenis yang telah terdeskripsi dengan benar.
- Lebih dari 100 jenis lainnya belum dideskripsikan.

Hidup katak dalam tiap tahap pertumbuhannya rentan akan bahaya. Misalnya katak pohon dalam semalam mampu bertelur sampai 500 butir. Dari 20 telur hanya 1 yang akan menjadi katak, dari 10 katak hanya 1 yang hidup lebih dari setahun.

Kodok berdarah dingin, suhu tubuh berubah sesuai suhu udara. Kulit katak mampu beradaptasi untuk menghindari kekeringan. Katak dapat menyerap air dan embun melalui kulitnya.

Amfibi adalah karnivora, sedangkan kebanyakan berudu adalah herbivora.

Predator kodok dan katak, antara lain, ular, burung, dan rakun.

Mekanisme pertahanan beberapa jenis katak dan kodok

Limnonectes mempunyai geligi seperti taring sebagai alat pertahanan diri. Kulit beracun pada jenis Bufonidae dan Ranidae. Biasanya jenis ini baunya menyengat, berwarna terang. Kulit yang sangat lengket pada jenis suku Microhylidae. Beberapa katak menggembungkan tubuhnya.

Perbedaan katak dan kodok
Katak memiliki:
• Kulit yang halus dan berlendir
• Kaki yang panjang dan kuat
• Kaki belakang yang berselaput
• Dua mata yang menonjol
• Bertelur dalam klaster

Kodok memiliki
• Kulit yang kering dan berbintil
• Badan yang buntek dengan kaki belakang pendek
• Kelenjar paratoid di belakang mata
• Bertelur dalam rantai yang panjang

Pemanfaatan kodok
Fenomena pemanfaatan kodok yang berlangsung sampai saat ini adalah pemanfaatan yang tidak berkelanjutan tanpa memedulikan bentuk pelestarian. Bentuk pemanfaatan yang berpotensi menurunkan populasi kodok adalah konsumsi daging paha kodok. Indonesia adalah negara pengekspor daging paha kodok. Negara tujuan ekspor kodok, antara lain, Belanda, Perancis, Belgia, Portugal, Hongkong, dan Korea.

Jenis-jenis yang diekspor adalah kodok penghuni sawah (Fejervarya spp) dan kodok penghuni perairan berarus deras (Limnonectes spp) yang umumnya berukuran besar (kelompok macrodon). Keunggulan kodok jenis ini adalah kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan persawahan dan irigasinya. Kemampuan ini membuat ancaman terhadap status populasi di alam akibat pemanfaatan oleh manusia berkurang, didukung pula dengan bertambahnya habitat persawahan di Sumatera.

Beberapa jenis kodok berukuran besar dimanfaatkan kulitnya sebagai komoditas ekspor bahan baku sarung tangan. Kelompok kodok tersebut adalah dari jenis kodok berkulit kasar (Bufo spp), sedangkan dagingnya tidak dapat dikonsumsi karena mengandung racun.

Siaran Pers : Universitas Negeri Papua dan WWF-Indonesia Sepakati Kerjasama Penelitian dan Pengembangan

Foto Dokumentasi WWF


SIARAN PERS 15 Desember 2008
____________________________________________________________________

Manokwari, 15 Desember 2008 – Universitas Negeri Papua dan WWF-Indonesia akhir pekan lalu (Jumat, 12/11) menandatangani kesepakatan bersama kerjasama penelitian dan pengembangan. Penandatanganan tersebut mempertemukan visi WWF-Indonesia yakni konservasi keanekaragaman hayati bagi kesejahteraan generasi mendatang dan upaya UNIPA mengembangkan penelitian dan pengembangan sebagai bagian penting dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Nota kesepahaman ditandatangani oleh Direktur Eksekutif WWF-Indonesia Dr. Mubariq Ahmad dan Rektor Universitas Negeri Papua Ir. Yan Pieter Karafir, MEc mewakili masing masing lembaga. Acara penandatanganan nota kesepahaman ini bertempat di Kampus Universitas Negeri Papua di Manokwari dan dihadiri oleh Kepala-kepala dinas terkait di Propinsi Papua Barat, Kepala Balai Taman Nasional Teluk Cenderawasih, para Pembantu Rektor dan Dekan Universitas Negeri Papua serta Direktur WWF-Indonesia Region Sahul.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Negeri Papua Ir. Yan Pieter Karafir, MEc
menekankan pentingnya harmonisasi konservasi dan pertanian agar sumberdaya alam dan fungsi ekosistem yang ada tetap lestari menopang kehidupan manusia. “Terimakasih kepada WWF untuk kerjasama yang akan dibangun ke depan. Ilmu pengetahuan sangat penting sehingga kita tidak selalu saling menyalahkan atas ketertinggalan maupun kemiskinan yang terjadi. Dengan kerjasama ini saya berharap dapat menjawab keseimbangan antara pemanfaatan dan kelestarian sumber daya alam kita, dimana cara-cara ini hanya dapat dilakukan dengan penelitian yang terus menerus.”

Direktur Eksekutif WWF-Indonesia Dr. Mubariq Ahmad dalam sambutannya menyatakan kesepahaman kerjasama ini sangat penting, “Kami merasa bahwa ini adalah dukungan yang luar biasa bagi WWF-Indonesia dan kami sangat berterimakasih atas kerjasama ini. Melalui kerjasama dengan Universitas Negeri Papua kita dapat bersama-sama belajar dan mengaplikasikan ilmu yang di dapatkan di kampus. Kita berharap agar kedepan kerjasama ini berjalan dengan efektif dan dapat diperluas terutama terkait dengan konservasi sumberdaya alam dan pengembangan ekonomi lingkungan,” ujarnya.

Tujuan kerjasama antara WWF-Indonesia dan Universitas Negeri Papua adalah dalam rangka pengembangan program penelitian dan pengelolaan sumber daya alam berdasarkan prinsip-prinsip kelestarian sehingga tercapai keseimbangan antara tingkat pemanfaatan dan daya dukung (carrying capacity) sumberdaya alam tersebut. Keseimbangan tersebut diharapkan akan menjamin ketersediaan sumberdaya alam serta pemanfaatannya bagi kehidupan masyarakat dan pembangunan secara berkelanjutan.

Nota kesepahaman ini akan menjadi dasar kerangka kerjasama antara WWF-Indonesia dan Universitas Negeri Papua dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Lingkup kerjasama tersebut antara lain mencakup pengembangan kegiatan penelitian terkait dengan potensi dan pengelolaan sumberdaya alam, pertukaran informasi, pengembangan sumberdaya manusia, penyediaan dan pendayagunaan sarana dan prasarana, serta dukungan tenaga ahli.

Untuk informasi selanjutnya silakan hubungi :
1. Drs. Benja V. Mambai, Msi, Direktur WWF-Indonesia Region Sahul
Telepon : 0967 574204, Email : bmambai@wwf.or.id
2. Dr. Ir. Fenny Ismoyo, MSc, Pembantu Rektor IV Universitas Negeri Papua
Telepon : 0986 214245, 081344623551, Email : fennyismoyo@yahoo.com

Catatan untuk Redaksi:
1. Tentang WWF-Indonesia
WWF adalah organisasi konservasi global yang mandiri dan didirikan pada tahun 1961 di Swiss, dengan hampir 5 juta supporter dan memiliki jaringan yang aktif di lebih dari 100 negara dan di Indonesia bergiat di lebih dari 25 wilayah kerja lapangan dan 17 provinsi. Misi WWF-Indonesia adalah menyelamatkan keanekaragaman hayati dan mengurangi dampak ekologis aktivitas manusia melalui: Mempromosikan etika konservasi yang kuat, kesadartahuan dan upaya-upaya konservasi di kalangan masyarakat Indonesia; Memfasilitasi upaya multi-pihak untuk perlindungan keanekaragaman hayati dan proses-proses ekologis pada skala ekoregion; Melakukan advokasi kebijakan, hukum dan penegakkan hukum yang mendukung konservasi, dan; Menggalakkan konservasi untuk kesejahteraan manusia, melalui pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan. Selebihnya tentang WWF-Indonesia, silakan kunjungi website utama organisasi ini di http://www.panda.org/; situs lokal di http://www.wwf.or.id/ dan situs keanggotaan WWF-Indonesia di http://www.supporterwwf.org/.

2. Tentang Universitas Negeri Papua
Universitas Negeri Papua adalah pengembangan dari Fakultas Pertanian Universitas Cenderawasih yang disahkan pada 03 Nopember 2000 dengan keputusan Presiden RI No. 153 Tahun 2000 dan diresmikan oleh DirJen Pendidikan Tinggi pada 28 Juli 2001. Kampus Utama Universitas Papua terletak di Manokwari dan lokasi lainnya terletak di Sorong dan Paniai. Universitas Negeri Papua adalah universitas negeri kedua di Tanah Papua dan memiliki 6 fakutas, 4 pusat studi dan lembaga pengabdian pada masyarakat.
Misi Universitas Papua adalah :
- Menyelenggarakan program pendidikan tinggi dengan prinsip manajemen terpadu.
- Menghasilkan tenaga pemikir dan peneliti yang mampu memuktahirkan IPTEKS
- Menjadi pusat kepakaran dan memberi layanan pemikiran strategis.
- Berorientasi pada produktivitas, kualitas, efisiensi, relevansi dan profesional.

17 December 2008

Nasional : LIPI : Populasi Coelacanth Harus Dilindungi

(www.kompas.com, 16-12-2008)
JAKARTA, SELASA - Sejak ditemukan sepuluh tahun yang lalu di perairan Manado Tua, Sulawesi, Ikan Raja Laut atau yang lazim disebut Coelacanth, membuat nama Indonesia menjadi buah bibir di kalangan peneliti ikan di seluruh dunia, khususnya ikan purba.

Menurut Peneliti Bidang Oceanografi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Augy Syahailatua PhD, ikan ini baru ditemukan di negara-negara Afrika Timur seperti Kenya, Madagaskar, Tanzania, Kongo, dan Mozambik, serta di Indonesia. Oleh karena itu keberadaanya perlu dilindungi sebagai satwa langka dari kepunahan maupun tindak pencurian.

"Untunglah sejak tahun 1999 sudah dikeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 yang melarang ikan ini dijadikan sebagai komoditas yang diperjual-belikan secara bebas," ujar Augy, dalam workshop mengenai Coelacanth di Gedung LIPI, Jakarta, Selasa (16/12).

Selain itu, keberadaan Coelacanth juga dilindungi Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (Cites) secara hukum internasional. "Jadi misalkan ada pihak asing yang membeli Coelacanth secara ilegal dari Indonesia, bila ketahuan, maka kami akan usut dan memintanya untuk mengembalikannya ke Indonesia," katanya.

Coelacanth, sebelumnya dikenal orang hanya sebagai fosil Ikan yang banyak ditemukan di daratan Eropa, Namun sejak Ikan ini ditemukan di perairan Comoros, banyak orang berpendapat bahwa ikan ini masih ada. Di Indonesia awal kabar ikan ini berasal dari laporan Dr. Mark V. Erdmann, peneliti dari Universitas of California Berkeley, Amerika Serikat, yang menjumpai di Pasar Bersehati, Manado, dalam keadaan mati.

"Setahun kemudian seorang nelayan di Manado secara kebetulan menangkap seekor Coelacanth, yang kemudian dibawa dan diawetkan di Museum Zoologi LIPI di Bogor. Dalam rentang 2008 ini, sudah empat spesimen ditemukan di Perairan Sulawesi, khususnya, Sulawesi bagian utara," lanjutnya.
C11-08

Nasional : Penelitian Coelacanth Terganggu Agenda Politik

(www.kompas.com, 16-12-2008)
JAKARTA, SELASA - Penelitian mengenai sebaran ikan raja laut atau yang biasa dikenal dengan sebutan Coelacanth di Indonesia bakal terganggu oleh agenda politik yang sedang terjadi, akibat pemilu 2009.

Rencananya, para peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan asosiasi peneliti masalah kelautan dari Jepang, Aquamarine Fukushima Japan, akan melanjutkan penelitian di Raja Ampat, Papua.

"Ke depan kami akan terus melakukan penelitian mengenai sebaran Coelacanth, sebab dari cerita seorang nelayan di Papua, mereka pernah menangkap seekor Coelacanth dan itu harus di buktikan. Namun untuk sementara dikarenakan agenda politik, niatan itu kami tunda," ujar Peneliti Senior LIPI, M. Kasim Moosa, seusai acara workshop tentang Coelacanth di Gedung LIPI, Jakarta, Selasa (16/12).

Kasim maupun para peneliti lainnya, berharap suasana dan situasi politik di Indonesia berlangsung aman dan terkendali, sehingga bila pemilu 2009 sudah selesai dilaksanakan, pihaknya bisa melanjutkan penelitian. "Sebab kami sudah mengajukan proposal penelitian Coelacanth di Papua kepada Menristek, namun sementara ditunda. Karena Papua dan Aceh harus bebas dari peneliti asing untuk sementara," lanjutnya.

Raja Ampat, Papua, dipilih lantaran memiliki kesamaan struktur habitat bawah laut dengan perairan di Sulawesi. "Di Raja Ampat mempunyai dasar bawah laut yang dalam, jadi memungkinkan Coelacanth hidup di sana. Sebab Coelacanth hidup di kedalaman 150 meter sampai 200 meter, sedangkan di Indonesia Barat, Kalimantan dan Sumatera itu perairannya cenderung dangkal," tutur Kasim.
C11-08

Nasional : Flora dan Fauna di Bopunjur Terancam

(www.kompas.com, 16-12-2008)
BANDUNG, SELASA - Kelangsungan hidup flora dan fauna di sekitar kawasan Bogor, Puncak, dan Cianjur atau Bopunjur terancam. Hal itu disebabkan maraknya perubahan tata guna lahan dan perdagangan flora dan fauna di wilayah itu.

Hal itu dikatakan Ornitolog (pakar burung) dan peneliti Pusat Penelitian Sumber Daya Alam dan Lingkungan Universitas Padjadjaran, Johan Iskandar, dalam diskusi Perubahan Tata Guna L ahan di kawasan Bogor, Puncak, dan Cianjur atau Bopunjur di Grha Kompas Gramedia, Bandung, Selasa (16/12).

Menurut Johan, kawasan Boponjur telah ditetapkan sebagai hutan lindung dan sangat penting sebagai fungsi konservasi bagi flora dan fauna tertentu. Di Bopunjur terdapat kawasan konservasi seperti Kebun Raya Cibodas, Cagar Alam Gede Pangrango, Taman Wisata Situ Gunung, dan Cagar Alam Talagawarna.

"Akan tetapi, saat ini, fungsi konservasi itu terancam karena ulah manusia memanfaatkan lahan. Hal itu berakibat pada kelangsungan hidup flora dan fauna yang ada atau singgah di sana," katanya.

Untuk kelangsungan hidup flora, menurut Johan, terancam akibat diperjualbelikan, baik oleh masyarakat sekitar atau luar Bopunjur. Diantaranya berbagai macam jenis tanaman paku, anggrek liar, dan beragam jenis lumut. Tiga jenis tanaman itu dianggap ciri khas daerah dataran tinggi Bopunjur yang berada di ketinggian 600 meter 800 meter di atas permukaan laut. Harganya bervariasi, antara Rp 500.000 hingga Rp 1 juta per tanaman.

"Banyak pembeli menganggap tanaman atau flora di Bopunjur, sangat indah dan cocok dijadikan tanaman hias," katanya.

Hal yang sama juga terjadi pada kelangsungan hidup fauna di Bopunjur, terutama berbagai macam jenis burung. Selain alih fungsi lahan perumahan dan pertanian sehingga mengakibatkan hilangnya kawasan koridor hutan di sekitar Bopunjur, penyebab lain adalah penggunaan pestisida di kawasan itu.

Kawasan Bopunjur, menurut Johan, adalah salah satu rute migrasi burung dari utara menuju selatan, dari Asia Daratan menuju Australia. Burung itu antara lain alap-alap dan elang. Artinya, kawanan burung yang bermigrasi itu menggunakan Bopunjur sebagai salah satu tempat beristirahat dan mencari makan. Namun, aktivitas itu kini terancam. Fauna itu terancam kehilangan tempat istirahat dan mencari makan.

"Banyak burung dikhawatirkan gagal migrasi akibat keracunan pestisida akibat apa yang dimakannya ketika melewati daerah Bopunjur," katanya.

Johan mengharapkan para pemegang kebijakan di Bopunjur bisa belajar dari data keberadaan burung yang tersisa. Mengutip catatan sejarah, Johan mengatakan, tahun 1932-1952 tercatat 62 jenis burung penetap. Namun, sekitar tahun 1980-an, 20 jenis burung punah, 4 terancam punah, dan 5 jenis berkurang.
CHE

Spesies : Burung Raja Udang di lereng pegunungan Carstenz, Papua

(Info Konservasi Papua, 16-12-2008)
Penulis : Pieter
Wamea, Pemerhati Konservasi di Papua
Anggota Milist Info Konservasi Papua


Lereng Carstensz di Papua adalah kawasan dataran tinggi yang kaya akan keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna dengan bentangan alam pegunungan yang begitu indah.

Bagi pe
nggemar Bird Watching, kawasan ini sarat dengan berbagai spesies burung endemic.

Satu diantara sekian banyak yang hidup mendiami lereng pegunungan ini adalah Burung Raja Udang. Kini ia telah menjadi objek pengamatan amat menyenangkan.

Di aliran sungai Wanagon yang memisahkan Kampung Banti dan Kampung Opitawak wilayah Amungsa, populasi burung ini cukup banyak dan dengan mudah dapat dijumpai untuk diamati.

Burung pemakan capung, laba-laba, belalang, jangkrik, berudu, reptilia kecil dan hewan air lainnya, hidup erat dengan aliran-aliran sungai hutan tropis pada umumnya di Papua.
Di dataran Benua Australia, keluarga salah satu spesies ini dikenal dengan sebutan Kokabura yang juga terkenal dengan panggilan populernya, Burung Tertawa. Pendengar radio Australia/ABC pasti mengenal rekaman suara tertawanya yang lucu disetiap awal dan akhir siaran pelajaran bahasa Inggris.

M
enurut Ensiklopedi Indonesia, seri Fauna-Burung, 1992 bahwa jumlah burung Raja Udang terbanyak ada di dataran Asia Tenggara dan yang terbagus ialah Raja Udang Ekor Raket (Tanyciptera Galatea) yang terdapat mulai dari Maluku, Papua sampai ke Australia.

Di lereng Carstensz, disebut Raja Udang Paruh Sepatu (Clytoceyx Rex) yang memiliki paruh pipih, mampu bertahan hidup sampai di ketinggian sekitar 2.630 meter di atas permukaan air laut dan pada temperatur udara10 s/d 12.9 derajat Celcius.

Kombinasi warna pada kepala dan punggung tertutup bulu biru hijau mengkilat terus menjulur ke ujung ekor, dihiasi lingkaran kalung putih pada leher yang melebar ke bagian dada dan perut, membuatnya bersinar cantik menawan. Paruh pipih hitam yang 4,5 cm itu menampilkan kewibawaan dan keberaniannya menghadapi tantangan dan ancaman hutan yang liar.


Hari ini kita belajar mencintai burung Raja Udang di lereng Carstensz sebagai wujud nyata mengasihi alam yang merupakan bagian tak terpisahkan dari mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama manusia.

Mari Lestarikan keanekaragaman hayati alam Papua hari ini sebagai warisan kelangsungan hidup buat kitorang punya anak cucu dihari esok.........

16 December 2008

Biak : Pemberdayaan Ekonomi Bidang Perikanan Terus Digalakkan

(www.cenderawasihpos.com, 16-12-2008)
BIAK-Upaya peningkatan keterampilan masyarakat dengan memanfaatkan pontensi lokal daerah sebagai bentuk pengembangan ekonomi kerakyatan, nampaknya mulai menjadi perhatian serius pemerintah.

Salah satunya adalah dengan menggelar pelatihan peningkatan produksi dan pemasaran abon ikan bagi kelompok perempuan di Kabupaten Biak Numfor, di Hotel Arumbay, Senin (15/12).

Penjabat Bupati Biak Numfor, Drs Frans R Kristantus, MM mengatakan, potensi perikanan masih cukup menjanjikan sehingga sumber daya manusia (SDM) setempat perlu diberikan pelatihan keterampilan khususnya dalam bidang pengelolaan hasil-hasil tangkapan ikan tersebut.

Dikatakan, pelatihan peningkatan produksi dan pemasaran abon ikan itu dimaksudkan agar ekonomi berbasis kerakyatan di bidang perikanan terus digalakkan di masyarakat, dengan harapan tingkat pendapatan masyarakat khususnya nelayan dan masyarakat di pesisir lebih baik dari sebelumnya.

"Jika selama ini masyarakat cuma tahu menangkap lalu jual, maka kali ini diharapkan mereka bisa melakukan pemasaran dengan baik, tentunya didukung dengan keterampilan dan pemahaman dari masyarakat sendiri tentang teknik-teknik yang harus diperhatikan," ujarnya kepada Cenderawasih Pos usai membuka pelatihan peningkatan produksi dan pemasaran abon ikan bagi kelompok perempuan, di Hotel Arumbay, Senin (15/12) kemarin.

Kegiatan Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD) Provinsi Papua yang digelar di Kabupaten Biak Numfor ini diikuti 50 orang perempuan. Selain akan mendapatkan materi di ruangan satu hari penuh, mereka juga melakukan praktek langsung di lapangan selama dua hari berturut-turut di Kampung Urfu, Distrik Yendidori Biak.(ito)

Nasional : Disepakati Penyusunan Deklarasi Wallacea

(www.kompas.com, 15-12-2008)
MAKASSAR, SENIN — Konferensi internasional Alfred Russel Wallace and The Wallacea ditutup di Makassar, Sabtu (13/12). Para peserta konferensi menyepakati penyusunan deklarasi pelestarian Wallacea, kawasan di sekitar garis maya Wallacea yang memisahkan dua wilayah fauna. Pelestarian Wallacea penting karena kawasan keanekaragaman hayatinya tinggi dan salah satu penentu perubahan iklim.

Kesepakatan tercapai setelah delapan pleno diskusi menghadirkan 32 pembicara dari berbagai latar belakang keilmuan. Selama konferensi, keunggulan kawasan Wallacea didiskusikan dari perspektif sejarah, antropologi, biologi, biokimia, biogeografi, ekologi, evolusi, kelautan, dan perspektif keilmuan lainnya.

Saat diskusi umum pembahasan materi deklarasi, Jatna Supriatna dari Conservation International Indonesia menyatakan bahwa deklarasi itu penting untuk menggugah kepedulian dan kesadaran pemerintah akan pentingnya kawasan itu. ”Kita butuh perubahan kebijakan. Itu sebabnya kita butuh deklarasi yang jelas dan ditandatangani semua peserta konferensi,” ujarnya.

Usulan isi deklarasi antara lain adalah soal dampak pertambangan di kawasan Wallacea, satwa endemik yang terancam punah oleh agrikultur berlebihan, pembalakan hutan, pentingnya pembangunan berkelanjutan, posisi penting Wallacea dalam meredam perubahan iklim dan cuaca, serta penelitian keanekaragaman hayati di kawasan itu demi kemajuan ilmu pengetahuan dan penemuan baru.

Peneliti dari Institut Teknologi Bandung, Djoko Iskandar, mengusulkan, deklarasi itu menekankan pentingnya menyadarkan pemerintah untuk mempermudah penelitian keanekaragaman hayati di kawasan Wallacea.

”Ada kesalahan mendasar dari kebijakan dan pengaturan penelitian keanekaragaman hayati yang menghambat penemuan baru,” ujar Djoko.
Aryo Wisanggeni G

15 December 2008

Manca Negara : Portugal : Cacing "Rambut Api" Hidup di Lumpur Panas

(www.kompas.com, 14-12-2008)
JAKARTA, SABTU - Tidak hanya hidup di lumpur hangat yang ada di dasar laut, jenis cacing yang baru ditemukan ini juga memiliki "rambut api." Tubuhnya tak hanya silinder memanjang umumnya cacing, melainkan di salah satu ujungnya terdapat banyak serabut berwarna merah yang bergerak bebas.

Karenanya pantas kalau cacing temuan Ana Hilario dari Universitas Averio Portugal itu akan dinamai Medusa, untuk mengingatkan pada makhluk berambut ular dalam mitologi Yunani. Hilario menemukannya di endapan lumpur vulkanik di Teluk Cadiz, Spanyol yang berada di bagian barat daya Samudera Atlantik.

Lumpur vulkanik yang muncul dari rekahan di dasar laut mengandung methan sehingga menyediakan sumber energi yang melimpah untuk membentuk komunitas kehidupan yang beragam. Dari kawasan tersebut, Hilario dan timnya menemukan 20 cacing namun hanya satu yang paling unik.

Cacing yang berukuran kecil tersebut diidentifikasi dalam kelompok yang disebut frenulate. Para ilmuwan belum banyak tahu mengenai cacing jenis ini. Salah satu rahasia alam yang telah diketahui bahwa di dalam tubuhnya terdapat organ khusus yang mengandung bakteri.

Bakteri tersebut membantu menghasilkan senyawa organik yang dibutuhkan cacing tersebut. Tubuh cacing menyerap zat kimia seperti methan melalui permukaan tubuhnya dan meneruskannya ke organ beriis bakteri untuk diolah.
WAH
Sumber : National Geographic News

14 December 2008

Manca Negara : Panama : Rekor Gigitan Tercepat Dicatat Rayap Panama

(www.kompas.com, 13-12-2008)
JAKARTA, SABTU - Meski tubuhnya kecil, rayap Panama (Termes panamensis) berhasil mencetak rekor gigitan paling cepat di antara semua hewan yang ada di dunia. Rahangnya sanggup menggigit mangsa dengan kecepatan hingga 70 meter perdetik.

Bahkan, untuk merekam gerakan yang segitu cepat, para peneliti membutuhkan kamera dengan kemampuan merekam gambar 40.000 frame perdetik. Rayap Panama menggigit mangsa menggunakan sepasang capit di rahang yang secara ilmiah sering disebut mandible.

"Banyak serangga yang bergerak lebih cepat daripada kemampuan mata manusia untuk melihat, jadi kami tahu kalau butuh kamera kecepatan tinggi untuk merekam perilakunya," ujar Marc Seid dari Institut Riset Tropis Smithsonian yang melaporkan hasil penelitiannya dalam jurnal Current Biology edisi 25 November. Meski demikian, ia mengaku tak menyangka secepat itu gigitan rayap Panama.

Dengan gigitan secepat itu, serangga tersebut mungkin dapat membinasakan mangsanya dalam sekali serang. Gigitan yang cepat juga menjadi alat pertahanan diri karena dengan ukuran tubuh yang kecil, rayap Panama harus mencari cara menghasilkan energi yang besar untuk melawan musuhnya.

Capit yang besar dan serangan yang cepat efektif untuk pertarungan jarak dekat. Hal tersebut serign dilakukannya dengan musuh-musuhnya karena rayap lebih banyak berkeliaran di gorong-gorong yang sempit dan tak cukup banyak ruang bergerak.

"Mereka sepertinya menyimpan energinya di mandible-nya namun kami masih belum tahu bagaimana mereka melakukannya. Itu menjadi pertanyaan berikutnya," ujar peneliti lainnya Jeremy Niven.
WAH

Sumber : LIVESCIENCE

13 December 2008

Sorong : Waspadai Ombak Desember dan Januari

(www.radartimika.com, 12-12-2008)
SORONG – Sebanyak 9 rumah di Kelurahan Dum Timur rusak berat akibat dihantam ombak setinggi 3-4 meter. Kondisi cuaca demikian dipastikan terjadi hingga akhir Desember sampai Januari.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Sorong Rahawarin Farans. Dikatakan, pada Juni hingga November cuaca laut dipengaruhi angin selatan. Berdampak pada ombak dan angin yang kencang dan biasanya nelayan harus berhati-hati memperhitungkan hal itu.

Sedangkan memasuki periode Desember, cuaca akan menjadi tidak bersahabat dan hal itu harus ditanggapi serius setiap nelayan yang ingin melaut. Karena kecenderungan terjadi angin dan ombak kencang yang dipicu anggin barat.

"Jadi ada dua pemicu cuaca laut yang tidak bersahabat yang harus diwaspadai atau diperhatikan nelayan maupun para pengguna jasa transportasi laut yang bersifat tradisional. Memang pada bulan-bulan tertentu seperti bulan Juni sampai September di daerah kepala burung dipengruhi anggin selatan yang dapat menimbulkan gelombang yang tinggi. Kemudian memasuki akhir November baik awal Desember sampai dengan Januari itu dipicu oleh anggin Barat yang menimbulkan gelombang dan cuaca yang ekstrim," katanya.(dik/jpnn)

12 December 2008

Video : Tupai jenis baru dari pegunungan Foja, Mamberamo - Papua



Jika video tidak tampil, klik disini

Mamalia baru itu adalah binatang sejenis tupai, Pygmy possum Cercatetus, dan tikus raksasa, Mallomys. Kedua jenis hewan itu ditemukan oleh gabungan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Conservation International (CI) saat menjelajah wilayah tersebut pada Juni 2007 lalu. Pada ekspedisi pertama yang dilakukan akhir tahun 2005 silam, para ilmuwan terkejut saat menemukan puluhan jenis satwa yang baru bagi dunia ilmu pengetahuan dan juga kenakearagaman hayati yang sangat kaya di papua.

Saat ditemukan, hewan tersebut tidak takut kepada manusia bahkan seringkali mengunjungi perkemahan yang didirikan para peneliti. Sedangkan sang tupai, Possum, layak disebut marsupial (hewan berkantung) terkecil di dunia karena ukurannya yang cukup digenggam tangan. Begitu jinaknya, hewan pengerat itu meloncat dan dengan tenangnya dan berjalan-jalan di lengan dan kamera yang dibawa sang kameramen ekspedisi tersebut.

Penemuan mamalia baru seperti ini termasuk jarang sekali mengingat sebagian besar telah terdokumentasi. Foja adalah bagian dari lembah sungai Mamberamo, hutan tropis terbesar di Asia-Pasifik yang belum terjamah. Pemerintah Indonesia telah menyatakan wilayah itu sebagai suaka margasatwa. (info selengkapnya baca disini)

11 December 2008

Foto : Mambruk, burung bermahkota cantik jelita

Orang mancanegara menyebutnya sebagai crowned pigeon alias merpati bermahkota. Sebab memang bentuk tubuhnya mirip merpati tapi kepalanya dihiasi mahkota indah. Mahkota ini mirip dengan bulu hiasan pada ekor burung merak. Sedangkan nama Latinnya adalah Goura victoria. Sepasang burung Mambruk ini adalah berasal dari daerah pegunungan Foja - Mamberamo, Papua. (Foto : Nev Kemp / Conservation International)

10 December 2008

Bintuni : Gubernur Bawa Investor Batubara ke Babo

(www.radarsorong.com, 09-12-2008)
BINTUNI-Gubernur Papua Barat Abraham O. Atururi didampingi Kepala Dinas Pertambangan Provinsi Papua Barat beserta staff serta Chinese Comunnication Construction Group yang bergerak di bidang pertambangan batubara tiba di Bandara Babo dalam rangka melakukan survei keberadaan batubara di Kampung Kaitaro Distrik Kaitaro Kabupaten Teluk Bintuni.

Setelah tiba di Bandara Babo pukul 14.00 Wit (Jumat,5/12) menggunakan pesawat twin otter Manokwari-Babo, Gubernur Bram bersama rombongan diterima Sekda Teluk Bintuni AE. Nauri, BA mewakili Bupati Teluk Bintuni, bersama Kepala Distrik Babo Muspudis serta masyarakat.
Selanjutnya Gubernur dan rombongan diarak berjalan kaki oleh masyarakat dengan tarian adat menuju penginapan yang berjarak kurang lebih 2 Km. Setibanya di penginapan untuk beristirahat, namun sebelumnya Gubernur melakukan perkenalan langsung di hadapan rombongan yang hadir termasuk investor China tersebut.

Adapun rombongan yang hadir adalah mewakili Kepala Dinas Pertambangan Papua Barat Jon Tulus, SH dan staf Geologi Jeri Lilinsui serta Yakob Soug. Selain itu China Communications Construction Group Limited (CCCGL) yang lebih dari 40 tahun bekerja di pertambangan di negara China dan mereka juga yang membangun Kantor Gubernur berlantai 9 di Arfai-Manokwari yang diwakili Mr. Song geolog di bidang pertambangan batubara dan Mr. Kong serta Sukardi sebagai Juru Bahasa dan tidak ketinggalan sekretaris.

Gubernur Bram mengatakan, Jumat (05/12) kehadiran dirinya dan rombongan di Distrik Babo Kabupaten Teluk Bintuni bertujuan ingin melakukan perubahan secara umum khusunya di Distrik Babo Teluk Bintuni dan pada umumnya di Provinsi Papua Barat.

“Saya antar sendiri dan serahkan kepada masyarakat. Saya tidak datang diam-diam dan nantinya pulang diam-diam. Ini negeri kita sama-sama dan mari bicara bersama-sama, sehingga manfaat yang dirasakan juga bersama-sama,” jelas Atururi.

Malam harinya dilakukan tatap muka bersama masyarakat selama kurang lebih 3 jam di Balai Kampung Irarutu-Babo. Keesokan hari Sabtu (06/12) sore Gubernur meninggalkan Bandara Babo menuju Manokwari, sedangkan tenaga Geolog asal China dan staf Pertambangan Provinsi Papua Barat meninggalkan Babo menuju Kampung Kaitaro untuk melakukan survei. (dan)

Sorong : Tiga Nelayan Ditangkap

(www.radarsorong.com, 09-12-2008)
Ricardo Umkeketony, S.STP : Mereka Ini Orang-Orang Lama

SORONG – Tiga nelayan yang merupakan warga pulau Raam, distrik Sorong Kepulauan (Sorkep), masing-masing La Edi, La Saimu dan Lasimin diamankan aparat distrik Selat Sagawin kabupaten Raja Ampat karena menggunakan bom ikan di laut.

Ketiga warga tersebut diamankan pada Sabtu lalu (6/12) sekitar pukul 07.30 WIT di sekitar kampung Tua -wilayah kampung Yenanas- dimana dari ibukota distrik ditempuh sekitar 30 menit perjalanan dengan menggunakan motor temple 15 PK.

Menurut Kepala Distrik (Kadistrik) Selat Sagawin, Ricardo Umkeketony, S.STP, ketiga nelayan yang menggunakan satu perahu tersebut diamankan pihaknya dibantu dua staf distrik Selat Sagawin dan dua hansip kampung Yenanas-bukota distrik Selat Sagawin.

Saat dipergoki oleh tim yang dipimpin oleh Kadistrik Selat Sagawin, diperkirakan ketiganya baru sekitar 30-an menit selesai mengumpulkan ikan hasil bom. Selain menangkap pelaku, pihaknya kata Ricardo juga mengamankan barang bukti (BB) berupa ikan hasil tangkapan satu karung lebih, bom ikan yang dikemas dalam botol berbagai ukuran, bahan-bahan pembuat bom ikan, alat dan perlengkapan untuk menyelam seperti kompresor, kacamata molo dan sejumlah barang bukti lainnya.

Kepada Koran ini melalui telepon selulernya tadi malam, Ricardo Umkeketony yang akrab disapa Rico lebih lanjut mengatakan,
setelah mengamankan pelaku, pihaknya kemudian melakukan penggeledahan di TKP (tempat kejadian perkara).

Saat itu ditemukan ikan hasil bom satu karung, dan barang bukti lain yakni bom ikan kurang lebih 13 buah yang terdiri dari ukuran botol bir besar 2 buah, bom ikan ukuran bir kecil 3 buat dan botol kratindaeng 6 buah.

Selain itu juga ditemukan alat dan bahan pembuat bom ikan yang disimpan di botol aqua.
Setelah merinci barang bukti yang diamankan tersebut, ketiganya kemudian dibawa ke kampung Yenanas, ibukota distrik Selat Sagawin.

Guna memberikan efek jera kepada ketiga pelaku pemboman ikan itu, sebelum diserahkan ke Polair Polres Raja Ampat, menurut Kadistrik Selat Sagawin, pihaknya sempat memberikan hukuman fisik dengan minta pelaku jungkir dan berguling-guling di tanah.
“Dari hasil interogasi guna mengetahui apakah mereka ini pelaku utama atau ada orang di belakang mereka, setelah dicek ternyata mereka ini orang-orang lama, La Edi, La Saimu dan Lasimin. Dari ketiganya ini, La Edi ini sudah pernah ditangkap di Saonek dulu, tapi belum jera-jera juga,”urai Rico.

Saat diinterogasi, La Edi mengaku menggunakan bom ikan sejak tahun 2006. Setiap minggunya dia ke wilayah Batanta dan mencari dengan menggunakan bom ikan.

“Pengakuannya jika setiap minggu dia bisa habiskan 6 botol bom ikan, bisa dibayangkan jika setiap minggu 6 sampai 7 botol misalnya dikali berapa bulan dikali berapa tahun, sudah berapa banyak karang yang patah, karang yang rusak akibat bom, kemudian sudah berapa banyak ikan dan telur ikan yang punah,”tandas Rico sambil menegaskan bahwa memang harus ada efek jera supaya pelaku-pelaku ini tidak lagi melakukan aktifitas pencarian ikan yang merusak lingkungan.

“Mereka harus diproses hukum, tidak boleh setengah-setengah, makanya saya minta teman-teman di CI untuk kita sama-sama dampingi proses hukum biar sampai tuntas, jangan setengah-setengah,”ujarnya. (ian)

07 December 2008

Jayapura : Perusahaan Wajib Laporkan Amdal

(www.radarsorong.com, 06-12-2008)
JAYAPURA–Kepala Bapedalda Kota Jayapura Drs.Jan Hendrik Hamadi mengungkapkan, Pemkot Jayapura akan melakukan penertiban dokumen lingkungan. Hal ini merupakan tindaklanjut dari surat Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) RI Nomor B-7403/DEP.I/LH/10/2008 dan Nomor B-7405/DEP.I/LH/10/2008 tentang Pemantauan RKL/RPL Daerah dan Pembahasan Bersama DPPL (Dokumen Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan).

“Untuk itu, setiap perusahaan milik negara/BUMN/perorangan dan swasta yang ada di Kota Jayapura ini juga diminta untuk melaporakan dokumen Amdal atau UKL (Upaya Pengelolaan Lingkungan) dan UPL (Upaya Pemantauan Lingkungan) kepada Walikota cq Bapedalda Kota Jayapura,” ungkap Hendrik Hamadi saat ditemui di ruang kerjanya baru-baru ini.

Perusahaan yang diwajibkan melaporkan dokumen Amdal maupun UKL dan UPL-nya ini adalah perusahan BUMN maupun swasta yang bergerak sektor kesehatan seperti rumah sakit, Puskesmas, klinik bersalin, apotik, laboratorium klinik, dan lainnya. Sektor Perindustrian dan Perdagangan, seperti SPBU, PLTD, industri kasur busa, bengkel service, las dan lainnya.
Sektor Pariwisata seperti hotel dan rumah makan, sector pertambangan dan energi seperti galian C dan tambang tradisional dan lainya, sektor pekerjaan umum seperti rusunawa, perumahan, jalan dan lainnya, serta sektor perhubungan.

Bagi yang sudah sudah melaksanakan kegiatan/usaha pada sektor tersebut, namun belum memiliki dokumen lingkungan seperti UKL-UPL atau Amdal agar segera mengisi formulir Dokumen Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (DPPL). Sedangkan bagi yang sudah memiliki dokumen lingkungan UKL-UPL atau dokumen Amdal agar segera melapor legalitas kepemilikan dokumen lingkungan ini. “Sebelum tanggal 10 Desember 2008 diharapkan sudah melapor ke Bapedalda,” ujarnya.(tri)