Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua

Cari Informasi/Berita/Tulisan/Artikel di Blog IKP

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org

31 August 2007

Daftar Berita Edisi Bulan Agustus 2007

INFO KONSERVASI PAPUA
Nomor : 088 - III/08/2007
Edisi : Juli 2007

MANCA NEGARA : Beijing : Mikroba Usia 1,43 Miliar Tahun Ditemukan di China.

FOTO-FOTO
1.
Spesies : Burung Pitohui (Pitohui kirhocephalus)
2. Spesies : Ular Piton Hijau (Morelia viridis / Chondrophyton viridis
3. Spesies : Bintang Laut jenis Acanthaster planci
4. Foto : Taman Wisata Alam Teluk Youtefa
5. Foto : Persetujuan Konservasi Adat Masyarakat Desa Papasena, Mamberamo
6. Foto : Satu Lagi Pos Konservasi dibangun di Kampung Papasena II, Jance : Kami Sudah Memiliki 3 Pos Konservasi di Mamberamo

KONSERVASI ALAM DAN SUMBER DAYA ALAM
1.
Raja Ampat : Ada "Senat" di Raja Ampat
2. Merauke : Akan Kembangkan Sistem Pertanian Organik
3. Jayapura : Pelatihan Pengelolaan Hasil Alam Berskala Industri Rumah Tangga di Desa Papasena dan Kwerba Mamberamo
4. Jayapura : Konsentrat Tembaga Dominasi Ekport Papua
5. Sentani : Semua Potensi Alam Punya Nilai Jual
6. Raja Ampat : Kekayaan Laut Raja Ampat yang "Terlupakan”
7. Papua : Konversi Hutan Tingkatkan Bencana Alam di Papua

SPESIES
1.
Sentani : Produksi Kakao Perlu Didukung Mekanisasi
2. Jayapura : Kayu Suang, kayu endemik di Papua yang terancam punah
3. Raja Ampat : Ikan Pelangi dari Papua
4. Jayapura : Ikan Gabus Asli Danau Sentani makin langka
5. Sentani : PAI Kab.Jayapura Bangun Screen House, Untuk Jaga Spesies Asli Anggrek
6. Jayapura : Pemkot Mulai Tanaman Sagu di Skow Mabo
7. Nabire : Di Nabire, Puluhan Warga Keracunan, Diduga Berasal Dari Ikan Laut yang Mereka Konsumsi
8. Biak : Oragnisme Perusak Tumbuhan dari Luar Negeri Diwaspadai
9. Jayapura : Pengembangan Rumput Laut Diseriusi
10. Sentani : 300 Species Anggrek Akan Tampung di Green House
11. Jakarta : Tim Ekspedisi Temukan Spesies Baru di Papua
12. Timika : 70 Ternak Babi Siap Bagi Bibit Unggul

HUKUM DAN KEBIJAKAN
1.
Sentani : Bantuan Dep. Perindustrian Menumpuk, Belum Bisa Dimanfaatkan Oleh Pengrajin Rotan Karena Belum Ada Lokasi
2. Jayapura : Lagi, Dua Universitas Mengirimkan Mahasiswanya Untuk Magang di Wambena
3. Sorong : Kayu 1,5 M Hilang, SKSHH Dishut Sorsel Diduga Tak Beres
4. Biak : Pembangunan Harus Berwawasan Lingkungan
5. Biak : Disinyalir Masih Aktivitas Kapal China di Perairan Indonesia
6. Sentani : Polisi Hutan Siap Masuk Diklat
7. Jayapura : DKP Pelajari Hasil Studi Banding Penanganan Sampah
8. Jayapura : Pentingnya Pendidikan Lingkungan Sejak Dini.
9. Jayapura : PDAM Usulkan Penambahan Debit Air
10. Manokwari : Polres Manokwari Buru Tersangka Illegal Logging, Minta Bantuan Polres Tangerang Untuk Pastikan Keberadaan Tersangka
11. Jayapura : Greenpeace Dukung Perlindungan Hutan
12. Sorong : Patroli Handak Diintensifkan
13. Sorong : Dua Kasus Perikanan Dilimpahkan
14. Jayapura : Warga Koya Akan Nikmati Air Bersih
15. Jayapura : Polda Berhasil Bekuk Dua Pelaku Illegal Logging di Kaimana, Satu Ditangkap di Bandara Hasanudin, Satunya di Bulukumba
16. Sorong : Sidang Illegal Loging Distop
17. Sorong : Aktor Kaburnya Terry Belum Jelas
18. Perda Kebersihan Harus DitindaklanjutiJayapura : Penanganan Lingkungan Harus Melalui Studi Menyeluruh

Jayapura : Penanganan Lingkungan Harus Melalui Studi Menyeluruh

(www.cenderawasihpos.com, 31 Agustus 2007)
JAYAPURA-Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kota Jayapura, Drs Yan Hendrik Hamadi mengatakan, agar Kota Jayapura bebas dari permasalahan (kerusakan) lingkungan, maka harus dilakukan studi sistem secara menyeluruh.“Harus dilakukan studi sistem secara menyeluruh, bukan studi perorangan. Seperti yang terjadi di negara Jepang,”ujarnya kepada Cenderawasih Pos, di ruang kerjanya, Kamis, (30/8).

Diterangkannya, studi sistem secara menyeluruh dalam hal ini, setiap orang tanpa terkecuali memberikan kontribusinya. Dalam hal ini masing-masing pihak mengkajinya dari berbagai bidang ilmu yang dimilikinya, tentang bagaimana baiknya penanganan lingkungan di kota ini.Sehingga tercipta laut dan langit biru di wilayah Kota Jayapura, terutama aktivitas pembangunan yang dilaksanakan oleh setiap individu tidak akan merusak lingkungan, sebab pola pembangunannya adalah berwawasan lingkungan.Diungkapkan, studi itu menyangkut perencanaan penangana lingkungan, bagaimana sistem pengawasan dan sanksi-sanksinya bagi para pelanggar aturan itu sendiri, misalnya, tokoh agama, tokoh adat mempunyai peran memberikan sosialisasi-sosialisasi dan ajakan-ajakan untuk menjaga kelestarian lingkungan alam beserta ekosistemnya.Yang terakhir bagaimana peran seorang ibu rumah tangga untuk membentuk karakter generasi muda mulai dari sejak umur 5 tahun tentang pemahaman dan kecintaan anak terhadap lingkungannya.

Menurutnya, setelah adanya studi secara menyeluruh dan adanya pembagian peran masing-masing, maka harus adanya komitmen bersama secara terus menerus (bukan komitmen sesaat) untuk tertib lingkungan, baik itu tertib untuk tidak membuang sampah sembarangan, tertib untuk tidak menggusur dan menebang pohon dan berbagai ketertiban lainnya.“Semua itu harus disertai dengan dana yang besar setiap tahunnya yang totalnya mencapai triliunan rupih. Hal inilah terjadi di Negara Sakura itu,”tandasnya.(nls)

Perda Kebersihan Harus Ditindaklanjuti

(www.cenderawasihpos.com, 31 Agustus 2007)
JAYAPURA-Peraturan Daerah (Perda) tentang kebersihan Kota Jayapura yang baru-baru ini ditetapkan, harus ditindaklanjuti di lapangan. Anggota Komisi C DPRD Kota Jayapura Pdt Charles Simamare mengatakan, sampai saat ini, fasilitas keterbatasan seperti kontainer sampah masih sangat terbatas. Terkait dengan adanya Perda tersebut, maka instansi teknis terkait harus menyikapinya dengan menambah kontainer sampah di sejumlah titik di wilayah Kota Jayapura ini.”Kontainer sampah masih sangat terbatas sehingga masyarakat kadang-kadang membuang di pinggir jalan, dan ini harus segera disikapi,”ujarnya.


Hal yang lain perlu menjadi perhatian, kata anggota dewan dari Partai Damai Sejahtera (PDS) ini adalah sosialisasi Perda tersebut. Dengan sosialisasi itu, masyarakat dapat memahami bagaimana keterlibatannya dalam menjaga kebersihan, termasuk kerja sama dengan pemerintah. “Perda sudah ada, tinggal pemerintah dalam hal ini instansi teknis terkait menindaklanjutinya. Perda kebersihan itu harus disosialisasikan secepatnya sehingga masyarakat memahami hak dan kewajibannya,”tandasnya.(ito

29 August 2007

Sorong : Aktor Kaburnya Terry Belum Jelas

(www.radarsorong.com, Kamis 29 Agustus 2007)
SORONG – Siapa kator dibalik kaburnya terdakwa illegal loging Terry, hingga kini belum ada kejelasan. Hal ini dikarenakan sejak kaburnya tahanan tersebut terungkap, dimana pihak Polsek Sorong Timur sempat memanggil dan melakukan pemeriksaan terhadap salah satu pegawai lembaga permasyarakat (Lapas) yang berinsial Y.

Kapolsek Sorong Timur AKP Robert Reja saat dikonfirmasi enggan berkomentar lebih jauh mengenai masalah tersebut. Bahkan kata Reja, sesuai arahan pimpinan, dimana kaburnya tahanan tersebut agar diambil langkah- langkah guna menyelesaikan masalah tersebut dan kemudian upaya untuk mendapatkan kembali tahanan yang kabur. “Arahan dari pimpinan, karena kita ini adalah mitra kerja, baik kepolisian, kejaksaan dan lembaga permasyarakatan termasuk pengadilan negeri. Bagaiamana kita sebagai mitra koordinasi lebih jauh, untuk langkah-langkah penanganannya. Karena semua sudah terjadi tahanan sudah kabur,” ungkapnya.

Kepada Koran ini Reja juga menjelaskan, pihaknya hanya sebatas meminta keterangan dari saksi- saksi yang mengetahui kaburnya tahanan tersebut terutama mengenai kronologis sampai dengan raibnya tahanan illegal longing. Sedangkan penanganan lebih lanjut agar dikoordinasikan dengan kejaksaan negeri sorong dalam hal ini JPU yang menangani masalah tersebut. “Yah begitu kita koordinasi dengan Kejaksaan dalam hal ini JPU, mungkin saja nanti Kejaksaan mengeluarkan daftar pencarian orang (DPO). Untuk masalah ini saya tidak bisa berikan keterangan lebih jauh sebaiknya tanyakan saja kepada pihak kejaksaan soal langkah penanganan lebih lanjut bagaiamana,” ujarnya. (boy)

Sorong : Sidang Illegal Loging Distop

(www.radarsorong.com, Kamis 29 Agustus 2007)
P. Napitupulu SH MH: Sidang Dapat Berjalan kalau Terdakwa Ada
SORONG – Sidang illegal logging yang melibatkan terdakwa Terry dan Riswandi untuk sementara distop. Dihentikannya sidang kasus pembalakan tersebut menurut Ketua Pengadilan Negeri Sorong P. Napitupulu, SH, MH sebagi buntut kaburnya terdakwa Terry dan Riswandi.Ditanya mengenai langkah yang akan diambil PN terkait kasus kaburnya kedua terdakwa Terry dan Riswandi, kata Napitupulu adalah membuktikan dulu dan mencari tahu siapa yang bersalah dibalik kaburnya kedua terdakwa tersebut. Untuk itu dirinya memberikan kesempatan kepada kepolisian melakukan penyelidikan lebih lanjut.‘’Langkah tersebut kami lakukan, karena walau status kedua terdakwa adalah sebagai tahanan pengadilan yang sudah pernah disidangkan, namun asas praduga tak bersalah masih melekat pada diri mereka. Kan persidangan belum sampai pada tahap putusan akhir,’’ terangnya kepada Radar Sorong, kemarin.

Disinggung apakah persidangan bisa dilanjutkan walau kedua terdakwa tidak hadir di persidangan ? Menurut Napitupulu, pihaknya tetap menunggu kedua terdakwa tertangkap. ‘’Kehadiran terdakwa di persidangan mutlak diperlukan. Jadi kelau kedua terdakwa sudah tertangkap sidang illegal loging dilanjutkan. Jadi untuk saat ini sidang mereka tidak dapat dilanjutkan,’’ ungkapnya.Sementara itu saat Radar Sorong ke Lapas guna mengkonfirmasi kepada Pjs Kalapas saat kaburnya Terry, Pjs Kalapas Oktavina tidak ada di tempat. "Mama Oktavina tidak ada dirinya sedang sakit. Coba besok datang lagi ke sini mungkin beliau sudah ada,’’ kata salah satu staf lapas kepada Radar Sorong, kemarin.(ano)

Jayapura : Polda Berhasil Bekuk Dua Pelaku Illegal Logging di Kaimana, Satu Ditangkap di Bandara Hasanudin, Satunya di Bulukumba

(www.cenderawasihpos.com, Selasa 28 Agustus 2007)
JAYAPURA - Aparat Reserse dan Kriminal Polda Papua berhasil membekuk dua pelaku pembalakan liar atau illegal loging yang selama ini beroperasi di sekitar Distrik Buruway, Kabupaten Kaimana, masing-masing berinisial HS (27) dan ER (38).Dua tersangka kasus illegal logging ini digiring ke tahanan Polda Papua, Minggu (26/8) dan sejak Minggu malam, keduanya sudah mendekam di Rutan Polda Papua.Dua tersangka ini sebelumnya berhasil dibekuk saat keduanya sudah berada di luar Papua. Tersangka HS dibekuk saat turun dari pesawat di Bandara Hasanudin Makasar, Sabtu (25/8) sekitar pukul 11.00 WITA dan tersangka ER dibekuk saat berada di Bulukumba Sulawesi Barat, Sabtu (25/8) sekitar pukul 22.00 WITA.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabidhumas) Polda Papua, Kombes Pol. Drs. Agus Rianto saat dikonfirmasi wartawan, Senin (27/8) kemarin membenarkan adanya penangkapan terhadap pelaku illegal loging itu.Pengungkapan kasus ini berawal dari penyelidikan yang dilakukan oleh penyidik Polda Papua sejak sekitar dua minggu lalu. Dimana di daerah Distrik Buruway Kabupaten Kaimana diduga kuat ada oknum-oknum yang melakukan kegiatan pembalakan liar."Modus operandinya, para tersangka ini mengangkut kayu tersebut dengan menggunakan sebuah kapal barang. Dimana kapal itu datang dari Bulukumba dengan membawa sembako. Setelah sembako itu diturunkan di Kaimana, maka selanjutnya kapal itu digunakan untuk mengangkut kayu hasil illegal loging menuju Bulukumba," paparnya.

Dalam kasus ini, polisi mengamankan barang bukti antara lain; dari tangan tersangka HS diamankan barang bukti berupa kayu olahan sebanyak 500 batang dan sebuah long boat, sedangkan dari tersangka ER disita barang bukti berupa kayu olahan sebanyak 400 batang dan papan sebanyak 100 lembar."Untuk kapal yang mengangkut kayu itu, belum berhasil ditangkap, karena saat dikejar, kapal itu sudah kabur terlebih dahulu," paparnya.Dalam kasus ini, tersangkanya dijerat dengan pasal 78 ayat 5 dan 7 jo pasal 50 ayat 3 huruf e, f, dan h Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. (fud)

28 August 2007

Bintang Laut jenis Acanthaster planci

Bintang Laut jenis Acanthaster planci yang ada diperairan Raja Ampat, Papua
Dikenal juga dengan nama Bulu Seribu. Ini adalah Bintang Laut yang kurang disukai karena memiliki daya rusak. Ukurannya kurang lebih selebar kaki manusia dan memiliki 10-20 cabang. Bintang laut ini terkenal kerakusannya melahap karang-karang hidup.Pada kurun tertentu hewan ini merupakan biang kerok terhadap kerusakan skala besar karang-karang di lautan pasifik serta di Great Barrier Australia. Bahkan beberapa Organisasi Selam melakukan perburuan terhadap hewan ini untuk mencegah kerusakan karang yang lebih luas. Bintang Laut ini sangat beracun, sehingga perlu ditangani dengan sangat hati-hati.
Penjelasan logis terhadap ledakan populasi hewan ini adalah karena diburunya musuh alami Bintang Laut ini, yaitu Charonia tritonis. Oleh karena itu, perlindungan terhadap Charonia tritonis perlu dilakukan dengan undang-undang mengingat peranannya yang besar terhadap kelestarian terumbu karang. Sumber info : www.coremapkepri.or.id

27 August 2007

Jayapura : Warga Koya Akan Nikmati Air Bersih

(www.cenderawasihpos.com senin 27 Agustus 2007)
JAYAPURA-Untuk menyediakan kebutuhan akan sarana air bersih bagi masyarakat Distrik Muara Tami, Walikota Jayapura, Drs MR Kambu, M.Si bersama mantan Sekda Kota Jayapura, Drs TH Pasaribu, M.Si (sebagai penghubung antara perusahan air minum Belanda dan pemerintah ), serta beberapa kepala dinas/badan/bagian meninjau lokasi yang akan dibangun fasilitas air bersih tersebut.“Selama ini wilayah Koya Barat, Koya Timur, Koya Tengah dan wilayah di sekitarnya tidak mendapatkan air bersih, selama ini mereka gali sumur sendiri, syukur-syukur dapat air tawar yang bagus, tapi jika tidak, terpaksa mereka beli air,” ujar walikota kepada wartawan, usai meninjau lokasi air bersih di Koya Tengah, Distrik Muara Tami, Sabtu, (25/8).

Dijelaskan, pihaknya telah mendapatkan suatu sumber air bersih di wilayah Kelurahan Koya Timur, hanya saja, setelah dihitung-hitung, kapasitasnya hanya mampu melayani, wilayah Koya Timur saja, sementara wilayah lain tidak kebagian air bersih.Untuk itu, supaya semua wilayah mendapatkan kebutuhan air bersih, maka pihaknya mencari lokasi lain, dan akhirnya mendapatkan lokasi di wilayah Koya Tengah. Dan setelah dikaji nampaknya kapasitasnya mampu melayani kebutuhan air bersih bagi masyarakat Koya Timur, Koya Barat dan wilayah di sekitarnya.Lanjut dia, pihaknya telah menyediakan anggaran untuk hal itu. Yang dialokasikan untuk, pembayaran pembebasan lahan, membangun bak penampungan air, pemasangan pipa dan kantor dari perusahaan itu sendiri.

“Dengan keyakinan dan percaya bahwa usaha dan kerja keras ini pasti ada peluang dan kesempatan untuk dapat menyediakan fasilitas air bersih bagi masyarakat di wilayah itu. Perusahaan ini pusatnya di Bandung, dan mereka bekerjasama dengan kami,” ucapnya.(nls)

26 August 2007

Sorong : Dua Kasus Perikanan Dilimpahkan

(www.radarsorong.com, Sabtu 25 Agustus 2007)
SORONG- Kejaksaan Negeri Sorong Jumat (24/8) kemarin kembali menerima pengiriman tahap II kasus tindak pidana perikanan yang diserahkan penyidik Lanal Sorong. Dalam pelimpahan kemarin bersamaan diikutsertakan tersangka JW (39) beserta barang-bukti (BB) kapal KM Rohauly 05, SBB dan alat pancing.Dikatakan, JW ditangkap oleh KRI Teluk Selaka 512 ketika sedang melakukan aktivitas pemancingan ikan di Perairan Waigeo pada titik koordinat 00,26’52’’ S-131,36’42’’ T. Dimana tersangka melakukan aktivitas pemancingan di luar area fishing ground yang tertera dalam Surat Ijin Penangkapan Ikan (SIPI).

Dimana sebelumnya kapal berangkat dari Bitung tanggal 10 Juli 2007 lalu, kapal ber-ABK 19 orang ini ditangkap KRI Teluk Selaka di Perairan Waigeo pada hari Rabu tanggal 14 Juli 2007 sekitar pukul 12.00 WIT beserta ikan hasil tangkapan yakni 60 ekor ikan tuna seberat 869 kg. Penangkapan dilakukan karena dalam SIPI tertera area fishing ground adalah di daerah Laut Sulawesi dan Laut Maluku.Atas perbuatannya, JW dijerat dengan Pasal 110 jo pasal 7 ayat 2 huruf C undang-undang no.21 tahun 2004 tentang perikanan.JPU yang menangani kasus ini, Ismail Nahumarury, SH saat dikonfirmasi Radar Sorong membenarkan adanya pengiriman tahap 2 dari kasus ini. ”Saya dan Steven Rumambi, SH yang akan menangani kasus ini,”katanya singkat kemarin di ruang kerjanya.(ano)

25 August 2007

Foto : Persetujuan Konservasi Adat Masyarakat Desa Papasena, Mamberamo

Kegiatan Persetujuan Konservasi Adat Masyarakat Desa Papasena, Mamberamo pada peta-peta yang dipresentasikan Yoseph Watopa dan Hugo Yoteni - staf CII Papua, dalam rangka penentuan dimana batas-batas daerah konservasi. (Foto : Jance Bemei / CI)

Papua : Konversi Hutan Tingkatkan Bencana Alam di Papua

(www.beritabumi.or.id, 24 Agustus 2007)
Oleh: Dominggus A Mampioper

Hilangnya hutan Papua menjadi lahan perkebunan terutama perkebunan kelapa sawit akan memperburuk kondisi di sekitarnya. Perubahan itu akan mengurangi fungsi hutan dalam konservasi alam dan meningkatnya bencana alam.

Seperi berkurangnya kemampuan dalam menahan dan menyimpan air hujan. Akibatnya jika musim panas warga akan kesulitan air sebaliknya saat hujan, pemukiman terendam banjir.
"Kondisi ini yang saat ini terjadi di Kabupaten Keerom Provinsi Papua dimana lahan-lahan hutan berubah menjadi Perkebunan Kelapa Sawit di Arso," ujar mantan Koordinator Forest Watch Indonesia Regio Papua, Lindon Pangkali di Jayapura (22/8).

Menurut Pangkali, kalau semua lahan hutan di Papua berubah menjadi lahan perkebunan maka suka atau tidak, banjir akan selalu meluap tanpa kompromi. "Karena itu bagi saya upaya untuk mengkonversi lahan menjadi perkebunan sawit perlu dikaji lebih mendalam," ujar Pangkali.

Dalam kesempatan berbeda, Bustar Maitar didampingi Christophetthief, keduanya sebagai Greenpeace Forest Campaigner dan Septer Manufandu, Sekretaris Eksekutif Foker LSM Papua (21/8), mengatakan sekitar 9 juta hektar hutan di Provinsi Papua dan Papua Barat telah diidentifikasi Departemen Kehutanan untuk dikonversi. Dari berbagai pengalaman, konversi hutan alam menjadi perkebunan kelapa sawit menimbulkan dampak sosial dan lingkungan hidup, mulai konflik perburuhan, lenyapnya bahan pangan penting, semakin terbatasnya sumber daya untuk kesehatan dan bahan bangunan, pencemaran akibat penggunaan pestisida, dan lenyapnya ekosistem hutan untuk selamanya.
Menurutnya, pembangunan daerah khususnya yang bersinggungan dengan hutan di Papua maupun Papua Barat akan lebih baik apabila dilakukan dengan prinsip-prinsip ramah lingkungan dengan menjaga kelestarian hutan serta memperhatikan kearifan lokal. "Dampaknya akan dirasakan bersama sehingga masyarakat perlu dilibatkan," jelasnya.

Dikatakannya, pemanasan muka bumi mendorong keadaan iklim tidak stabil, termasuk banjir dan kekeringan, meningkatnya permukaan air laut lebih dari 1 meter serta menyusutnya luas salju. Indonesia merupakan negera ketiga terbesar yang menyumbangkan gas-gas pemanasan bumi yang dihasilkan dari pembukaan dan pembakaran hutan.

Untuk itu, hutan khususnya yang berada di Papua dan Papua Barat menjadi penting sebagai salah satu paru-paru bumi. "Kami mendukung pemerintah daerah melindungi hutan untuk memetik manfaat sebesar-besarnya dan bukan dari pembalakan atau pembukaan hutan untuk kelapa sawit," paparnya.
Perdasus belum disahkan picu illegal logging.

Sementara itu, Perdasus yang semula disahkan awal Juli 2007 kini tak jelas waktu penetapannya. Padahal sebelumnya, Ketua Legislasi DPRP Demas Patty telah berjanji akan menetapkan Perdasus Kehutanan Juli 2007.
Menurut Lindon Pangkali, mantan koordinator Forest Watch Indonesia Regio Papua, ketidak-jelasan payung hukum seperti Perdasus Kehutanan akan memberikan peluang terjadinya pembalakan liar (illegal logging) di Papua.

"Karena itu saya minta Perdasus Kehutanan harus ditetapkan secepatnya agar alur kayu bisa terkontrol dan tidak ada main kucing-kucingan di lapangan yang jauh dari pantauan," ujar Pangkali. Sedangkan Jhon Kabey, Ketua Kadin Provinsi Papua di Jayapura (23/8) mengatakan hal itu sangat berpengaruh pada pasokan kebutuhan kayu lokal. Pasalnya semua aturan Ijin Pemanfaatan Kayu dan Ijin Pemanfaatan Kayu Masyarakat Adat (IPKMA) sudah tidak berlaku lagi. Selain itu berpengaruh pula pada meningkatnya harga kayu dan sulitnya bahan baku. Tidak adanya payung hukum yang jelas dalam pemanfaatan kayu juga menyebabkan industri lokal di Papua terhenti kegiatannya. "Kalaupun mau menggunakan, masyarakat bisa memakai untuk kepentingan rumah di kampung dan juga untuk dipakai sendiri," ujar Kabey.

24 August 2007

Timika : 70 Ternak Babi Siap Bagi Bibit Unggul

(www.radarsorong.com, Kamis 23 Agustus 2007)
TIMIKA – 70 peternak yang masuk dalam binaan Dinas Peternakan (Disnak) Mimika, siap menyupai bibit babi unggul kepada peternak lain yang ingin mengembangkan usaha pertenakan babi. Penyebaran ternak babi itu, untuk memanfaatkan dana Otonomi Khusus (Otsus) sebesar Rp1 miliar lebih Tahun 2007 yang mendanai program pengadaan ternak. Ke-70 peternak penyuplai ternak babi merupakan hasil survei lapangan yang dilakukan oleh Ardin R Kabuapaten Mimika. Dari data Ardin R, disebutkan setiap peternak telah menyiapkan 5-10 bibit babi unggul, untuk dijual kepada pemerintah dan diteruskan kepada peternak yang dibutuhkan. Warga yang akan dibagikan akan disesuaikan berdasarkan proposal yang masuk sejak Tahun 2005 dan 2006. Demikian disampaikan A. Yarona, Sekeretaris Ardin R Mimika saat di hubungi Radar Timika, Rabu (22/8).

Dijelaskan, babi unggul hasil survey selama dua minggu terdapat di sejumlah peternak yang bermukim di Jl Samratulangi, Jl Yosudarso, Nawaripi, Kwamki Baru, Kwamki Lama. Dari data itu selanjutnya akan diserahkan ke Dinas Peternakan Mimika. "Campur tangan kami tidak bermaksud menginterversi tugas Disnak, tetapi yang lebih penting adalah sebagai bagian dari masyarakat yang siap mendukung masuknya dana Otsus di Mimika,”kata Yarona. Karena itu, Ardin R merasa terpanggil untuk membantu meningkatkan perekonomian warga melalui penjualan babi unggul ke Disnak.

Ir. Jhon Wicklif Tegay, MM, Kadisnak yang dikonfirmasi di ruang kerjanya membenarkan adanya kesiapan peternak lokal menyiapkan bibit babi unggul. Untuk mendukung proses pengadaan bibit babi, Ardin R telah mendukung upaya pengadaan dengan menkomunikasikannya kepada warga peternak. "Kasubdin Pengembangan dan Peyebaran Ternak sedang berada di Jayapura untuk meminta surat rekomendasi dari Disnak Provinsi untuk mendatangkan bibit babi dari Bali. Rekomendasi itu bertujuan untuk menambah persiapkan bibit lokal, bila nanti masih kekurangan,” jelas Wicklif. (krg)

23 August 2007

Sorong : Patroli Handak Diintensifkan

(www.radarsorong.com, Kamis 23 Agustus 2007)
SORONG- Dalam upaya mencegah dan memperketat pengamanan bagi aktifitas nelayan yang melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak (handak) bom ikan dan potasium maka Lanal Sorong bersama Tim Gabungan akan intensifkan patroli. Tim gabungan terdiri dari Polairud serta Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Sorong. “Lanal bersama tim gabungan sudah melakukan patroli keliling bersama sejak bulan kemarin dan akan dilanjutkan,”ujarnya kepada wartawan di Mako Lanal Sorong kemarin.

Ditanya soal hasil patroli, kata Danlanal, sejauh ini memang belum ada pelanggar yang ditangkap namun praktek pemboman ikan dan potassium disinyalir masih terus berjalan. Dijelaskan, pengawasan yang dilakukan bukan hanya di laut saja tapi pengawasan sampai ke darat yakni dengan patroli langsung ke nelayan yang baru selesai mencari. “Jadi kami melihat ikan hasil tangkapanya misalnya kalau macam ikan hasil handak itu bisa terlihat insannya sudah pecah dan juga kalau mau direndam ke dalam air itu terlihat keluar darah yang banyak,”tegasnya seraya menambahkan tindakan pemboman ikan jelas merusak habitat dan keanekaragaman laut yang menjadi potensi laut seperti ikan, terumbu karang dan lainnya. Salah satunya seperti Kabupaten Raja Ampat yang akan menjadi kepulaun bahari sehingga diharapkan tindakan pemboman ikan harus ditindak.Sedangkan saat ditanya sanksi terhadap praktek pemboman ikan terebut, kata Danlanal, sanksinya paling berat yakni bisa dikenakan pasal berlapis karena melanggar hukum soal lingkungan hidup dan penggunaan bahan peledak.(fer)

Spesies : Ular Piton Hijau (Morelia viridis / Chondrophyton viridis)

Spesies Ular Piton Hijau, Foto Dok. Conservation International

Ular Piton Hijau termasuk spesies ular yang tidak berbisa yang jarang kita temui di hutan, ataupun tidur di rumah. Panjangnya berkisar 1,45-1,5 meter, berbentuk ramping dengan kepala yang agak besar dan hampir berbentuk segitiga. Ular belum dewasa ( anak ) berwarna kuning-merah kecoklat-coklatan dengan beberapa bintik coklat. Bagian perut berwarana putih kekuning-kuningan. Ular dewasa berwarna hijau. Bentuk ujung ekornya runcing yang biasanya di gunakan untuk “mengait” pada ranting pohon. Bola mata besar dengan biji mata tegak lurus ( pada ular dewasa ).

Ular ini tersebar luas di Pulau Irian (Papua), sampai ke Pulau Aru dan Queensland ( Australia ), mulai dari tepi pantai sampai pada ketinggian 2.000 meter dari permukaan laut. Makanan utamanya berupa mamalia kecil. Ular yang belum dewasa meemakan berbagai kadal dan reptilia lainnya. Belum banyak bukti bahwa ular ini memangsa burung.

Ancaman utama adalah perdagangan. Karena berwarna menarik, ular piton ini sering ditangkap untuk diperdagangkan, sehingga termasuk spsies yang terancam. Oleh CITES (sebuah badan Internasional yang mengawasi dan memantau perdagangan flora dan fauna langka ) Piton hijau dimasukan dalam Appendik II (satwa terancam, hanya diijinkan perdagangan terbatas dengan ijin tertentu ). Selain diperdagangkan, ular ini sering juga dikonsumsi oleh masyarakat. (sumber : Buku RAP, Mengenal Keragaman Hayati Irian Jaya, Conservation International Indonesia)

22 August 2007

Jayapura : Greenpeace Dukung Perlindungan Hutan

(www.cenderawasihpos.com, Rabu 22 Agustus 2007)
JAYAPURA-Sekitar 9 juta hektar hutan di Provinsi Papua dan Papua Barat telah diidentifikasi Departemen Kehutanan untuk dikonversi. Dari berbagai pengalaman, konversi hutan alam menjadi perkebunan kelapa sawit menimbulkan dampak sosial dan lingkungan hidup, mulai konflik perburuhan, lenyapnya bahan pangan penting, semakin terbatasnya sumberdaya untuk kesehatan dan bahan bangunan, pencemaran dan peracunan akibat penggunaan pestisida, dan lenyapnya ekosistem hutan untuk selamanya.Hal itu diungkapkan Greenpeace Forest Campaigner Bustar Maitar didampingi Greenpeace Forest Campaigner Christophetthief dan Sekretaris Eksekutif Foker LSM Papua Septer Manufandu pada acara press briefing dengan tema ‘Selamatkan manusia dan hutan Papua’, di Hotel Yasmin Lantai 8, Jayapura, Selasa, (21/8).Menurutnya, pembangunan daerah khususnya yang bersinggungan dengan hutan di Papua maupun Papua Barat akan lebih baik apabila dilakukan dengan prinsip-prinsip ramah lingkungan dengan menjaga kelestarian hutan serta memperhatikan kearifan lokal. “Dampaknya akan dirasakan bersama sehingga masyarakat perlu dilibatkan,” jelasnya.

Dikatakannya, pemanasan muka bumi mendorong keadaan iklim tidak stabil, termasuk banjir dan kekeringan, meningkatnya permukaan air laut lebih dari 1 meter serta menyusutnya luas salju. Indonesia merupakan negera ketiga terbesar yang menyumbangkan gas-gas pemanasan bumi yang dihasilkan dari pembukaan dan pembakaran hutan.Untuk itu, hutan khususnya yang berada di Papua dan Papua Barat menjadi penting sebagai salah satu paru-paru bumi. “Kami mendukung pemerintah daerah melindungi hutan untuk memetik manfaat sebesar-besarnya dan bukan dari pembalakan atau pembukaan hutan untuk kelapa sawit,”paparnya.(api)

Manokwari : Polres Manokwari Buru Tersangka Illegal Logging, Minta Bantuan Polres Tangerang Untuk Pastikan Keberadaan Tersangka

(www.cenderawasihpos.com, Rabu 22 Agustus 2007)
MANOKWARI- Polisi tidak tinggal diam terkait kasus illegal logging (IL) dengan tersangka Yunus Suhardianto Indra, Direktur PT Tung Yung. Pasalnya, untuk menghadirkan tersangka, polisi telah mengambil langkah meminta bantuan Polres Tangerang.Polisi juga menghubungi lelaki yang bernama Edi Rahman yang menjamin tersangka saat dila-kukan penangguhan penahanan beberapa waktu yang lalu.Kapolres Manokwari AKBP Drs Yakobus Marjuki yang dikonfirmasi Manokwari Pos di ruang kerjanya, Selasa (21/8) mengatakan, terkait kasus IL dengan tersangka Yunus, pihaknya telah mengambil langkah untuk segera menghadirkan tersangka untuk selanjutnya menyerahkannya ke kejaksaan guna diproses hukum selanjutnya.

“Mengenai kasus Ilegal logging, kami sudah minta bantuan Polres tangerang menanyakan apakah yang bersangkutan masih berdomisili didaerah tersebut,” tuturnya.Lebih jauh Kapolres menjelaskan, penangguhan penahanan terhadap tersangka saat Kapolres lama AKBP Drs Pietrus Waine, SH, M.Hum dijamin oleh orang lain yakni atas nama Edi Rahman yang saat ini berdomisili di daerah Tangerang.Pihaknya sudah menghubungi penjamin tersebut. Dalam pembicaraan, Kapolres meminta sesuai dengan permohonan sebagai penjamin sudah waktunya ia membawa tersangka ke Polres Manokwari. Kalaupun tidak dibawa, pihaknya akan melakukan pemanggilan satu dan kedua. Lalu mengeluarkan perintah membawa.

Kapolres juga mengatakan akan menemui Edi Rahman untuk menanyakan hambatan untuk menghadirkn tersangka.Lanjut Kapolres, perkara-perkara kalau ditangguhkan, pasti ada hambatan seperti ini. Sehingga walaupun penyidik punya hak untuk menangguhkan tetapi hak tersebut harus dipertimbangkan secara matang. Kalau orang itu akan melarikan diri, maka ia harus terus ditahan. Tetapi terkait perkara IL ini, mungkin sempat terkatung-katung penanganannya, apalagi penahanannya dibatasi selama 120 hari paling lama. “ Pada saat itu ada kesulitan untuk memberkas para saksi.Yang ada berkas lama, ternyata tidak boleh sehingga dibuat lagi berkas yang baru, sehingga Kapolres yang lama mengambil kebijakan untuk menangguhkan tersangka dengan jaminan Edi Rahman,” jelasnya.

Perkara ini kata Kapolres tetap akan diteruskan ke kejaksaan karena kewajiban dari kepolisian untuk menyerahkan tersangka. ”Secara manajeman tanggung jawab saya untuk menghadirkan tersangka, terakhir kami jemput,”tuturnya.(sr)

Raja Ampat : Kekayaan Laut Raja Ampat yang "Terlupakan"

(www.kompas.com, 21 Agustus 2007)
Penulis : Ichwan Susanto
Luar biasa. Hanya dua kata ini yang mampu terucap saat Kompas dan rombongan Conservacy International Indonesia beberapa waktu lalu menatap untaian bukit-bukit kecil Kepulauan Wayag di Raja Ampat, Provinsi Papua Barat, dari atas perbukitan. Kehijau-biruan air laut yang terkurung pasir putih dan tebing bukit ditambah semilir angin semakin memanjakan jari untuk tak henti menjepret puluhan panorama nan indah itu, mengabadikannya.

Kepulauan Wayag merupakan salah satu obyek wisata di provinsi itu. Menuju tempat itu butuh waktu sekitar tiga jam dengan menggunakan speedboat dari Waisai, ibu kota Kabupaten Raja Ampat. Selain panorama perbukitan, wilayah di dekat Laut Pasifik ini pun memiliki keindahan bawah laut yang sangat menarik.

Wisata terumbu karang nan kaya akan keragaman hayati ikan dan karang menjadikan Wayag sebagai salah satu daerah konservasi laut daerahnya. Selain Wayag, Raja Ampat masih menawarkan berbagai keindahan alam bahari yang tercatat sebagai daerah dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.

Namun, potensi yang dapat digali sebagai daerah wisata dan perikanan itu kini belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, sebagian besar penduduk Raja Ampat juga berprofesi sebagai petani dan nelayan. Ketersediaan sumber daya hayati di alam sekitar mereka menjadi tempat satu-satunya menggantungkan hidup. Jika lingkungan dirusak, sebanyak 32.055 penduduknya akan terganggu kehidupannya.

Karena itu, dibutuhkan rencana tata ruang wilayah (RTRW) yang tidak lagi terfokus ke daratan. RTRW perlu digiring ke wilayah pesisir, pantai, dan laut supaya pengelolaannya terarah.
Pengelolaan dirasakan penting mengingat perairan wilayah yang berjuluk "Kabupaten Bahari" ini sangat bervariasi sehingga membutuhkan penanganan spesifik. Atlas Sumber daya wilayah pesisir Raja Ampat (2006) menunjukkan empat karakteristik pantai di Raja Ampat, yaitu pantai berpasir, bertebing, berlumpur, dan kerikil pasiran. Karakteristik fisik yang berbeda-beda ini pun menunjukkan keanekaragaman jenis biota yang hidup di dalamnya.

Direktur Program Kelautan Conservation International Indonesia Ketut Sarjana Putra mengingatkan, pengelolaan kepulauan bahari harus sesuai dengan karakteristik laut dan pulau-pulau karena ekosistem laut sangat sensitif terhadap perubahan. Jika satu ekosistem dirusak, dampaknya pasti menjalar ke ekosistem lain dengan sangat cepat.

Penataan wilayah laut ini harus mencakup pula pengelolaan pulau-pulau kecil yang mendominasi daerah yang oleh Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002 dimekarkan dari Kabupaten Sorong. Ratusan pulau kecil tak berpenghuni itu umumnya sangat rentan mengalami erosi akibat aktivitas manusia, seperti penambangan dan penebangan hutan. Padahal, perairan di sekitar pulau-pulau itu merupakan tempat mencari ikan para nelayan.

Menurut laporan akhir Valuasi Ekonomi SDA di Kepulauan Raja Ampat (2006) yang disusun Conservation International Indonesia dan Universitas Negeri Papua, pemanfaatan sumber daya laut mencapai Rp 126 miliar per tahun, yang terdiri dari perikanan tradisional (Rp 63 miliar), perikanan tangkap komersial (Rp 20 miliar), budidaya mutiara (Rp 41 miliar), pengumpulan biota teripang dan lola (Rp 2 miliar), serta budidaya rumput laut (Rp 23 juta).

Dari sisi pendapatan asli daerah, sektor kelautan dan perikanan memberikan kontribusi 82 persen dari total pendapatan asli daerah atau senilai Rp 1,32 miliar. Sektor pertambangan dan kehutanan tak memberikan kontribusi langsung terhadap pendapatan asli daerah Raja Ampat atau masih berupa bagi hasil nonpajak senilai total Rp 40,8 miliar.

Dengan demikian, harus diakui, hanya hasil dari sektor perikanan dan kelautan yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Sektor pertambangan dan penebangan hutan memang memberikan pemasukan besar bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Raja Ampat, tetapi pengelolaannya tentunya harus ekstra ketat mengingat berdampak terhadap lingkungan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

"Saya harap pertambangan bukan lagi menjadi opsi dalam pembangunan Raja Ampat. Sektor perikanan dan pariwisata merupakan pilihan yang bagus bagi peningkatan ekonomi masyarakat yang ramah lingkungan," ujar Ketut.

Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi saat mencanangkan Raja Ampat sebagai "Kabupaten Bahari" juga mengingatkan Bupati Raja Ampat Marcus Wanma agar tak mengeksploitasi pertambangan dan kehutanan. "Banyak tempat yang hanya karena uang (demi mengejar pendapatan asli daerah) merusak lingkungan," katanya.

Freddy berjanji akan mencarikan dana untuk mencarikan jalan demi mengganti pemasukan dari kedua sektor itu dalam mengisi APBD. Ia mencontohkan, pemberian dana dekonsentrasi dan dana alokasi khusus (DAK) dari Departemen Kelautan dan Perikanan untuk Kabupaten Raja Ampat pada tahun 2008 telah direncanakan Rp 10 miliar. Mantan Gubernur Irian Jaya ini pun menyatakan akan berkoordinasi dengan departemen lain agar memberikan pendanaan bagi Raja Ampat.

Belum digali
Potensi tinggi Raja Ampat yang belum digali adalah pariwisata yang baru memberikan kontribusi Rp 45 juta ditambah pajak restoran/hotel Rp 75 juta. Kepala Dinas Pariwisata Raja Ampat Luther M Binter mengatakan, angka ini memang masih jauh dari harapan.
Sebagai daerah yang terkenal sebagai surga bagi turis mancanegara yang menggemari rekreasi bawah air, Raja Ampat masih membutuhkan infrastruktur yang memadai agar industri pariwisata berdiri kokoh.
Hingga saat ini hanya ada Resor Kri di Pulau Kri dan Resor Sorido yang dikelola PT Papua Diving milik Max Amer dari Belanda. Selain itu, ada dua penginapan di Pulau Saonek dan dua homestay di Yenwaupnor.
Namun, jasa pelayanan dan akses transportasi yang minim membuat wisatawan memilih berekreasi menggunakan jasa agen wisata dengan mengikuti paket wisata liveaboard atau menginap di kapal. Tercatat, kunjungan wisatawan pada tahun 2005 sebanyak 746 orang atau meningkat tiga kali lipat lebih dari tahun 2004.
Butuh kerja keras dan kemauan untuk menggalakkan potensi pariwisata agar mendatangkan pemasukan bagi daerah maupun penduduk setempat. Fasilitas penyewaan alat selam, penginapan, kapal, tempat makan, dan cinderamata merupakan kebutuhan yang dapat mendukung wisatawan mau singgah ke Raja Ampat.

Jakarta : Tim Ekspedisi Temukan Spesies Baru di Papua

(kompas, 21 Agustus 2007)
Jakarta, Tim Biologi Ekspedisi Widya Nusantara (Ewin) yang menjelajahi Kepulauan Raja Ampat, khususnya Waigeo dan Taman Wisata Alam Sorong Papua Barat memperoleh beberapa spesies baru."Dari total 554 tanaman yang dikumpulkan dari dua area konservasi ini ditemukan beberapa spesies yang diduga baru termasuk spesies Cyrtosperma dan 72 spesies koleksi baru Kebun Raya Indonesia," kata Deputi Ilmu Kebumian LIPI Herry Harjono dalam jumpa pers menyambut HUT LIPI ke-40 di Jakarta, Senin (20/8).

Selain itu, ekspedisi ke Raja Ampat yang berlangsung mulai 11 Juni hingga 9 Juli 2007 itu menemukan lima spesies tanaman endemik di Kepulauan Waigeo yakni Guioa waigeoensis, Alstonia beatricis, Calophyllum parviflorum, Scefflera apiculata dan Nepenthes denseri, serta 42 spesies endemik Guinea Baru.

"Semua spesies yang dikumpulkan dari penjelajahan tim biologi konservasi ini akan menambah koleksi kebun raya Indonesia, baik untuk Kebun Raya Bogor, Cibodas, Purwodadi dan Kebun Raya Bali di Bedugul," katanya.Sementara itu hasil eksplorasi tim botani EWIN ke Kepulauan Raja Ampat yakni lebih dari 500 nomor ditemukan terdiri atas 50 famili tumbuhan tingkat tinggi, yakni 164 nomor koleksi paku-pakuan, 195 nomor jenis jamur, 19 nomor jenis lumut, dan 11 nomor galls."Beberapa jenis merupakan koleksi baru herbarium, dan dugaan spesies baru seperti Osmoxylon sp nov," katanya.

Sedangkan studi tim zoologi juga mendeskripsikan jenis-jenis baru dan rekor baru fauna seperti 28 jenis burung, 60 jenis ikan, 12 jenis amfibi, 32 jenis reptilia, 24 jenis moluska, serta berbagai serangga yang tiga jenis di antaranya spesies baru dan tiga jenis catatan baru.Sedangkan dari 124 nomor spesimen dalam 22 jenis mamalia yang ditemukan, empat jenis catatan baru yaitu Pterupus conspicillatus, Macroglossus minimus, Synconycteris australis dan Asseliscus tricuspidatus yang belum pernah dijumpai di waigeo dan satu jenis kuskus Waigeo Spilocuscus papuensis yang menjadi koleksi baru Museum Zoologicum Bogoriense.Tim kedua yang akan berangkat ke Raja Ampat dalam rangkaian ekspedisi ini, ujar Herry, adalah tim laut yang terdiri dari peneliti oseonografi dan biologi laut.

20 August 2007

Sentani : 300 Species Anggrek Akan Tampung di Green House

Sentani - Guna melestarikan dan membudidayakan tanaman anggrek kekayaan masyarakat Kabupaten Jayapura, pemerintah menyediakan tempat khusus koleksi anggrek yang disediakan di kompleks Kantor Bupati Jayapura.Ketua DPC Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) Kabupaten Jayapura Chostafina Bonay Suwae,S.Sos, kepada wartawan mengatakan dengan sedianya green house penampung tanaman anggrek itu, dimaksudkan agar semua species anggrek yang ada di Kabupaten Jayapura, maupun anggrek dari beberapa daerah di provinsi Papua akan ditampung dalam satu tempat.

"Adanya green house ini, tujuanya untuk menampung semua jenis anggrek yang ada di Kabupaten Jayapura, maupun dari beberapa daerah lainnya di provinsi Papua," tuturnya saat ditemui disela–sela peresmian Green House kebun koleksi anggrek dan taman hias Pemerintah Kabupaten Jayapura di Gunung Merah, kemarin.Khusus untuk jenis anggrek di Kabupaten Jayapura, ujar Chostafina Suwae, sekitar 300 lebih species yang bakalan dikoleksi masuk dalam kebun penampungan, namun yang sementara ini ditampung dalam Green House baru sekitar 40 species tanaman anggrek.Dikatakan keberadaan kebun anggrek ini selain melakukan koleksi anggrek, juga disisi lain sangat membantu masyarakat dalam hal menunjang kehidupan ekonominya, dimana mereka termotivasi mencari jenis tanaman anggrek di hutan dan selanjutnya dibeli oleh pemerintah daerah kerja sama dengan DPC PAI Kabupaten Jayapura.

"Selain kita melakukan koleksi anggrek untuk ikut dalam even perlombaan maupun pameran, juga disatu sisi mendukung masyarakat, mereka yang mencari jenis anggrek di hutan dan selanjutnya kita beli,"tukasnya. **

Jayapura : PDAM Usulkan Penambahan Debit Air

(www.papuapos.com, Senin 20 Agustus 2007)
Jayapura - Guna memenuhi kebutuhan air bersih di Jayapura, PDAM Kabupaten Jayapura tengah mengusulkan ke Dinas PU Ciptakarya akan ada penambahan debit air yang diambil dari bukit Ormo, hal tersebut disampaikan Dirut PDAM Ir. Gading Butar-butar.Dikatakannya, bulan lalu dari PDAM sudah mengadakan survey ke Bukit Ormo yang lokasinya dibalik Pegunungan Cyclop, dari Bukit Ormo tersebut di temukan mata air yang masih alami, dan diperkirakan kapasitas debit airnya 300 liter perdetik, tapi untuk tahap pertama akan dimanfaatkan 100 liter perdetik.Kebutuhan akan air bersih terus meningkat, seiring dengan lajunya pertambahan penduduk, oleh karena itu agar tidak kekurangan air bersih berbagai upaya harus dilakukan,' katanya kepada Papua Pos, Sabtu (18/8) di Entrop.Upaya yang dilakukannya, selain mengganti pipa-pipa yang rusak juga mencari mata air yang kira-kira bisa menambah debit air yang dibutuhkan.

Mata air di bukit Ormo, masih alami lain dengan sekitar pegunungan Cyclop yang alamnya mulai rusak karena adanya pembalakan hutan. Untuk mencapai ke mata air di bukit Ormo, harus berjalan kaki dari Cyclop Angkasa selama 4 hingga 5 jam sampai di Mata air, dan itu yang kami lakukan,'ungkapnya.Hasil temuannya di Ormo, oleh pihak PDAM di ajukan PU Ciptakarya, dengan harapan agar di tindak lanjuti, karena kebutuhan akan air bersih sangat mendesak.“Setelah kami ajukan, mudah-mudah secepatnya Dinas PU Ciptakarya membuat perencanaan, kemudian mendatangkan konsultan, kalau rencana ini berjalan mulus, diperkirakan sumber air dari Ormo sudah bisa dinikmati tahun 2008, terangnya.Diperkirakan, dana yang dibutuhkan untuk membuat intake baru di Ormo memakan biaya sebesar Rp. 20 miliar hingga Rp. 25 miliar.

'Mata airnya berada diketinggian 460 meter, nantinya dari Ormo dengan sistim gravitasi dialirkan dulu ke bak penampungan di Angkasa, yang berada pada ketinggian 300 meter, nah dari sana baru bisa didistribusikan,'terangnya.Seandainya rencana ini terwujud, lanjutnya, maka kebutuhan air hingga 2010 bisa teratasi, karena saat ini debit air yang didistribusikan ke masyarakat sebanyak 350 liter perdetik, 50 persen diantaranya ada kebocoran, dan pada tahun 2010 dibutuhkan debit air sebanyak 515 liter perdetik, dan untuk menambah hingga 515 liter perdetik bisa didapatkan dari Bukit Ormo. **

Jayapura : Pentingnya Pendidikan Lingkungan Sejak Dini

(www.cenderawasihpos.com , Senin 20 Agustus 2007)
Dari Lomba Baca Puisi, Pidato, Paduan Suara dan Mengarang
JAYAPURA-Berbagai kerusakan lingkungan beserta ekosistemnya yang terjadi selama ini, sudah saatnya semua pihak harus memikirkan alternatif pemecahan masalahnya, baik penanganannya dalam jangka pendek maupun jangka panjang.Terkait dengan itu, Kelurahan Waena, Distrik Heram memanfaatkan momentum 17 Agustus 2007 ini untuk menggelar berbagai lomba antar siswa/murid SD-SMP se-Distrik Heram dan Abepura yang intinya berupa ajakan kepada masyarakat untuk memahami tentang betapa pentingnya setiap orang memiliki wawasan yang utuh untuk menjaga lingkungan beserta ekosistem dari kerusakan.

Kepala Kelurahan Waena, Johanis Ohee, SE mengatakan, kegiatan lomba yang dilaksanakan pihaknya itu, bukan sekedar kegiatan seremonial untuk memeriahkan HUT RI ke 62, namun lomba baca puisi, pidato, paduan suara dan mengarang tersebut memuat tentang masalah lingkungan, kecuali lomba paduan suara yang bertemakan kebangsaan.Diungkapkan, dengan menanamkan pendidikan lingkungan sejak usia dini, secara tidak langsung memberikan didikan dan ajaran bagi masyarakat untuk menyadari bahwa kedepannya lingkungan alam ini harus dipertahankan dan dipelihara, sebab jika tidak, maka akan membahayakan kehidupan umat manusia di muka bumi ini, khususnya di Kota Jayapura.

"Tujuan lomba ini, selain memeriahkan HUT RI ini, juga bertujuan untuk membina masyarakat secara dini guna mengenal lingkungan yang sehat dan bersih,"tandasnya. Lanjut dia, sebenarnya perlombaan itu sendiri, awalnya dari motto perayaan HUT RI di kelurahan yang dipimpinnya yakni Kelurahan Waena jadi bersih, Kota Jayapura jadi Kota Beriman. Menurutnya, bila motto perayaan HUT itu menjadi komitmen setiap kelurahan, maka visi dan misi Kota Jayapura semakin terwujud, terutama masalah pembangunan yang berwawasan lingkungan.(nls)

Jayapura : Pengembangan Rumput Laut Diseriusi

(www.cenderawasihpos.com, Senin 20 Agustus 2007)
JAYAPURA-Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Jayapura Ir Jan Piet Nerokouw, MP mengatakan, potensi budidaya rumput laut di wilayah pesir laut masih sangat menjanjikan jika dikembangkan dengan baik. Diungkapkan, potensi di wilayiah tersebut sebenarnya telah dibuktikan melalui hasil penelitian. Di mana penelitian yang dilakukan oleh LIPI itu menyatakan bahwa sepanjang Tanjung Kasuari sampai ke wilayah Holtekamp, Pulau Kosong dan Skouw Yambe memiliki potensi untuk pengembangan rumput laut dalam jumlah yang besar.

"Dari hasil penelitian yang dilakukan lembaga penelitian seperti LIPI menyatakan jika di Kota Jayapura memiliki potensi pengembangan rumput laut, dan itu akan kami seriusi,"ujarnya kepada Cenderawasih Pos di Kantor DPRD Kota Jayapura, kemarin. Sebagian wilayah itu, kata Nerokouw telah diujicoba pemgembangkan rumput laut, hanya saja masih dalam jumlah kecil. Seperti uji coba budidayadi Skouw Yambe dan wilayah pesisis Kampung Enggros."Pelatihan pengelolaan pasca panen sebenarnya telah dilakukan di Enggros dan saat itu masyarakat sangat tertarik. Tinggal ke depan budidaya rumput laut ini dikembangkan lebih besar lagi sehingga dapat memberikan kontribusi tambahan pendapatan bagi masyarakat,"tandasnya. (ito)

16 August 2007

Jayapura : DKP Pelajari Hasil Studi Banding Penanganan Sampah

(www.cenderawasihpos.com, Rabu 15 Agustus 2007)
JAYAPURA-Kepala Dinas Kebersihan dan Pemakaman (DKP) Kota Jayapura, Luhulima Siradjidin mengatakan, hasil studi banding tentang masalah lingkungan dan penanganan sampah yang dilakukan Kepala Bapedalda Kota Jayapura, Drs Hendrik Hamadi dan Ketua DPRD Kota Jayapura, Drs Theopilus Bonay, MM ke Jepang baru-baru ini sedang dipelajari, apakah cocok diterapkan atau tidak.Selain memperlajari hasil studi tersebut, pihaknya juga mempelajari beberapa sistem penanganan sampah, diantaranya sistem pembakaran sampah sampai habis dengan menggunakan insenerator dan sistem penanganan sampah yang dianjurkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup RI, yaitu penanganan sampah menggunakan sistem 3R (Renyus, Rejuse dan Resaikael).

Dikatakannya, dari beberapa sistem penanganan sampah tersebut, salah satunya akan diambil khususnya yang dianggap memiliki keuntungan lebih bagi masyarakat dan pemerintah.Dalam hal ini sampah tidak boleh berserahkan di jalan-jalan utama, lingkungan masyarakat, tidak boleh tercium bauh busuk di kota akibat sampah dan yang lebih penting ialah agar hasil sampah rumah tangga dan industri/perusahan itu dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. “Di sini hasil dari sampah itu dapat diolah agar dapat bernilai ekonomis,” katanya.

Diungkapkan, sistem penanganan sampah yang sekarang digunakan pihaknya adalah pengangkutan sampah dari lingkungan masyarakat dan TPS-TPS (tempat pembuangan sampah) yang ada untuk selanjutnya dibuang ke TPA Nafri guna diolah dengan menggunakan sistem kontrol lenvil.Artinya, sampah-sampah tersebut, ditimbun dengan tanah, kemudian dibiarkan beberapa bulan lamannya, sehingga sampah-sampah itu menjadi tanah yang kemudian digunakan kembali untuk menimbun sampah-sampah yang baru.(nls)

Beijing : Mikroba Usia 1,43 Miliar Tahun Ditemukan di China

(www.antara.co.id)
Beijing (ANTARA News) - Ahli geologi telah menemukan fosil mikroba laut-dalam yang berusia 1,43 miliar tahun di cerobong asap kuno berwarna hitam yang digali di satu tambang di China, memberi bukti tambahan bahwa kehidupan mungkin telah berawal dari dasar samudra.Cerobong asap tersebut berumur 1 miliar tahun lebih tua dari fosil serupa yang ditemukan sebelumnya dan hampir serupa dengan susunan penampung bakteri dan hewan purba yang ditemukan saat ini di dasar laut."Ini adalah sisa dari beberapa jenis bentuk kehidupan paling tua di planet ini," kata Timothy Kusky, ahli geologi di Saint Louis University dan penulis bersama studi bagu yang memberi penjelasan mengenai fosil itu.

Kusky mengatakan fosil tersebut memberi "saran yang menggiurkan" bahwa kehidupan berkembang di dekat saluran udara hidrotermal laut-dalam dan bukan di perairan dangkal, sebagaimana diisyaratkan bukti lain.Cerobong asap hitam berada di ruang terbuka yang terbenam di kerak Bumi dan mengeluarkan air yang kaya akan mineral dengan suhu mencapai 400 derajat Celsius. Bakteri yang tak bergantung pada sinar matahari atau oksigen bergerak memasuki cerobong asap yang rapuh dan tumbuh di sekitar saluran udara dan memperoleh makanan dari mineral yang larut."Sebagian orang ingin menyebutnya hidup di lingkungan yang ekstrem. Kebanyakan bakteri ini hidup di planet yang berbeda dengan suasana tempat kita hidup," kata Kusky kepada LiveScience.

Cerobong asap tersebut dapat mencapai tinggi 15 meter, tapi untuk menemukan contoh cerobong asap yang bahkan lebih modern sangat sulit, karena cerobong asap itu rapuh dan dapat ambruk ketika disentuh."Temuan ini menawarkan kepada ilmuwan contoh berharga di-darat bagi penelitian geologi dan geo-biologi," kata Kusky. Ia menyatakan bahwa sebagian fosil yang digalinya memiliki panjang 3 kaki.Umur dan ukuran cerobong tersebut, kata Kusky, akan membantu ilmuwan memahami bagaimana pertumbuhan saluran udara hidrotermal kuno dan perkembangan kehidupan di dasar laut mungkin saling berkaitan, demikian Xinhua.(*)

Biak : Oragnisme Perusak Tumbuhan dari Luar Negeri Diwaspadai

(www.cenderawasihpos, Rabu 15 Agustus 2007)
BIAK - Sejumlah organisme perusak tumbuhan atau hama dan penyakit tumbuhan yang berasal dari luar negeri sangat berpotensi untuk masuk ke wilayah Indonesia, khususnya di Papua. Sebab dengan kondisi geografis Indonesia yang sebagian besar wilayahnya merupakan daerah kepulauan, ancaman masuknya hama dan penyakit dari luar negeri cukup besar.Kepala Pusat Karantina Tumbuhan Drs.Suwanda yang ditemui wartawan disela-sela kegiatan Sosialisasi Karantina Tumbuhan di Aula Yapis Selasa kemarin mengatakan, penyakit dan organisme perusak tumbuhan yang diwaspadai antara lain Leptal Yellow Wing yang menyerang tanaman kelapa dan berasal dari PNG, lalat buah, kumbang Colorado yang menyerang sayur-sayuran dan lain sebagainya.

“ Selain dari luar, ancaman hama dan penyakit dari dalam negeri yang masuk ke Papua juga patut diwaspadai sepeti penyakit nematode sista kuning yang menyerang tanaman kentang, penyakit hangus pucuk tebu. Kami juga berupaya mencegah pengiriman atau pengambilan plasma nutfa tanaman tebu yang cukup kaya di Papua,”ungkapnya.Masuknya penyakit dan organisme perusak tanaman ke wilayah Indonesia dalam era globalisasi saat ini menurut Suwanda patut di waspadai. Sebab dalam era kecanggihan teknologi saat ini, peluang terjadinya perang biologis yang berkaitan dengan persaingan dagang menurutnya peluangnya cukup besar terjadi. Bahkan kerugian yang ditimbulkan akibatnya serangan hama dan penyakit tumbuhan tersebut menurutnya dapat merusak areal pertanian atau perkebunan masyarakat yang menimbulkan kerugian besar.

Untuk mencegah masuknya hama dan penyakit tumbuhan ke wilayah Indonesia khususnya di Papua menurut Suwanda, Karantina Tumbuhan berupaya keras melakukan pengawasan pada setiap pintu-pintu masuk seperti bandara dan pelabuhan. Namun dengan kondisi geografis serta jumlah petugas yang masih terbatas, Karantina Tumbuhan kata Suwanda saat ini telah bekjerjasama dengan pihak kepolisian untuk mengawasi dan mencegah masuknya organisme perusakan tanaman atau penyakit tanaman dari luar negeri.Selain upaya pencegahan, langkah lain yang ditempuh oleh Karantina Tumbuhan yaitu meningkatkan kegiatan sosialisasi kepada masyarakat, agar pemahaman masyarakat terhadap pentingnya karantina dapat meningkat. Dengan adanya peningkatan pemahaman tersebut, maka masyarakat menurut Suwanda juga dapat berperan serta mengawasi masuknya hama dan bibit penyakit.(nat)

14 August 2007

Sentani : Semua Potensi Alam Punya Nilai Jual

(www.papuapos.com , 14 Agustus 2007)
Sentani - Selama satu minggu lamanya Komisi B DPRD Kabupaten Jayapura mengadakan kunjungan kerja di tiga Kabupaten di Jawa Tengah masing – masing Kabupaten Jepara, Kabupaten Patih dan Kabupaten Rembang. Kunjungan kerja ketiga daerah ini, sesuai dengan Tupoksi komisi B DPRD Kabupaten Jayapura, untuk melihat kemajuan pembangunan di daerah lain, terutama menyangkut pengelolaan potensi sumber daya alam yang ada di Jawa Tengah, agar bisa diterapkan di Kabupaten Jayapura.

Sekretaris Komisi B DPRD Kabupaten Jayapura, Efensius L. Tolok kepada Papua Pos mengatakan hampir setiap potensi alam yang ada di Tiga daerah itu dikelolah secara optimal oleh masyarakat bekerja sama dengan pemerintah daerah, sehingga memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi. Sementara bila dilihat potensi alam di Kabupaten Jayapura memiliki peluang yang sangat besar dibanding dengan potensi Kabupaten di Jawa Tengah, untuk dikelolah sebagai sumber pendapatan daerah. Hampir setiap potensi alam di Jepara memiliki nilai jual, contohnya kayu dari akar hingga batang dan tangkainya diukir sedemikian rupa sehingga bisa jadi ukiran yang dapat dijual dengan harga yang tinggi, padahal bila dibandingkan dengan kita di Kabupaten Jayapura banyak kayu yang terbuang begitu saja dan masih banyak yang belum dikelolah untuk jadi uang,tuturnya saat berbincang “ bincang di ruang kerjanya, kemarin.Hanya saja kata Efensius, masyarakat di Jawa Tengah memiliki pengetahuan dalam bidang ukir-ukiran, yang mendapat pembinaan pemerintah daerah dengan menyediakan suatu lembaga pendidikan khusus setara SMA hingga Perguruan Tinggi, bidang seni ukir. Dengan bekal pendidikan dan keterampilan mengukir potensi alam yang ada dapat dikelolah secara baik oleh masyarakat dan mampu terobos pasaran didalam maupun luar negeri.Hal yang sama pula dikemukakan salah seorang Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Jayapura, Nikolas Krebru yang menilai beberapa kelebihan ditiga daerah itu yang mestinya perlu ditiru lewat gebrakan pembanguna di Kabupaten Jayapura.

Seperti halnya di Kabupaten Rembang yang memanfaatkan potensi laut secara baik, terutama menata taman wisata laut sehingga memadati pengunjung yang ingin melihat keindahan pantainya.Sedangkan di Kabupaten Patih, unggul dengan berbagai tanaman ubi “ ubian seperti singkong dan Kacang, tak heran produksi kacang garuda, kacang kelinci didatangkan dari sana.Terkait dengan hasil kunjungan kata Nikolas, pihaknya sedang membuat laporan untuk diteruskan kepada pimpinan lembaga, maupun kepada pemerintah daerah, terutama SKPD terkait, agar dapat menyusun program kegiatan sesuai dengan kemajuan di daerah lain. **

Sentani : Polisi Hutan Siap Masuk Diklat

(www.papuapos.com 14 Agustus 2007)
Sentani - Sebanyak 60 orang polisi hutan yang baru direkrut Dinas Kehutanan Kabupaten Jayapura, siap masuk Diklat untuk dilatih dan dibina. Penerimaan Polisi Hutan oleh Pemda Kabupaten Jayapura ini dimaksudkan untuk menjaga kelestarian hutan di kawasan cagar alam, agar terhindar dari ancaman bencana.

Demikian dikemukakan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Jayapura, Amos Hokoyoku kepada Papua Pos, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (13/8) kemarin.Menurutnya, perekrut polisi hutan sebanyak 60 orang adalah untuk menjaga hutan yang ada diwilayah kabupaten Jayapura, dimana sebelum mereka ditempatkan terlebih dahulu didik melalui Diklat Kehutanan.Dari 60 orang polisi hutan yang direkrut 40 orang berasal dari masyarakat yang berdomisili disekitar kawasan hutan, 10 orang diambil dari beberapa masyarakat yang tidak memiliki kaitan dengan hutan setempat dan 10 orang diambil dari masyarakat non Papua.Kesemuanya memiliki latar belakang pendidikan lebih banyak SMU/SLTA dan 4 orang berlatar belakang pendidikan perguruan tinggi.Ketika disinggung mengenai upah atau insentif yang akan diberikan kepada 60 orang petugas polisi hutan, Amos mengatakan para polisi hutan ini akan dilakukan kontrak kerja dalam jangka waktu tertentu kemudian diberikan insentif (upah) perorang Rp 850.000 perbulan.

Ke- 60 orang polisi hutan ini akan dioptimalkan menjaga kawasan lingkungan hutan di Kabupaten Jayapura terutama kawasan gunung Cyklop yang tengah mengacam masyarakat saat ini, mereka ditempatkan menjaga kawasan hutan di Kabupaten Jayapura, sehingga melalui mereka akan dapat meminimalkan terjadinya kerusakan hutan yang dilakukan oleh orang – orang yang tidak bertanggungjawab. **

Nabire : Di Nabire, Puluhan Warga Keracuan, Diduga Berasal Dari Ikan Laut yang Mereka Konsumsi

(www.cenderawasihpos.com, Senin 13 Agustus 2007)
NABIRE– Puluhan warga yang berdomisili di Kampung Sanoba, Distrik Nabire mengalami keracuan setelah mengkonsmsi ikan laut yang mereka beli di pasar, Ahad (12/8). Akibatnya, puluhan warga itu harus menjalani perawatan di RSUD NabireMenurut salah satu korban yang juga adalah seorang ibu rumah tangga bernama Dian kepada Cenderawasih Pos menceritakan, kejadian yang menimpa mereka itu bermula ketika mereka yang terdiri dari delapan kepala keluarga datang ke Pasar Sore Tapioka, Nabire untuk membeli ikan pada Sabtu (11/8) pekan kemarin, sekitar jam 16.00 Wit untuk dikonsumsi di rumah masing-masing. Ikan mereka beli itu adalah ikan Bopari.Usai membeli ikan, mereka pulang dan memasaknya untuk makan malam, sekitar pukul 21.00 Wit. “ Namun 3 jam kemudian yakni sekitar pukul 00.00 Wit, kami semua yang mengkomsumsi ikan bopari itu sudah mulai terasa gejalanya, “ jelasnya.Gejala yang mereka rasakan yakni bagian muka mulai terasa panas, mata perih kemudian tangan, kaki dan mulut mulai terasa miring, kepala pusing dan sekujur tubuh menjadi keram. “ Jadi pada awal gejela, kami pikir kena barang halus atau keserupan. Karena semuanya dalam tidak sadar dan badan semua keram dan mati rasa,” terangnya.

“ Namun saya teringat bahwa kami makan ikan bopari, kemudian saya cek keluarga lain ikut mengkomsumsi ikan itu, semunya mengalami hal yang sama,” tambahnya.Sebanyak 20 warga dari drlapan kepala keluarga mengalami keracunan dan pada Ahad (12/8) dini hari, sekitar pukul 03.00 Wit, dilarikan ke RSUD Nabire.Setelah diperiksa, ke 20 warga itu langsung diimpus semuanya.Sedangkan barang bukti langsung dibawah ke Mapolres Nabire. Aparat polisi datang ke RSUD mengambil keterangan dari para korban dan pihak rumah sakit untukmelengkapi data, namun sayang, pihak RSUD Nabire tidak punya alat deteksi keracunan ikan.Ketika wartawan hendak mengkonfirmasi hal itu kepada Dokter jaga RSUD dr Felix, menurut stafnya dokter sudah pulang dinas. Namun menurut salah seorang medis jaga bahwa diduga puluhan warga itu keracunan ikan yang mereka konsumsi, namun hal itu belum dipastikan karena perlu pemeriksaan lebih lanjut.“ Beberapa pasien yang sudah diberi obat dan merasa baik, sudah dipernolehkan pulang, namun ada sebagian besar yang masih dirawat, terutama anak-anak yang masih lemas,” jelasnya.Para korban keracunan mengaku mengenal ciri-ciri dari penjual ikan tempat dimana mereka membeli ikan. Sementara itu pihak Reserse dan Kriminal Polres Nabire yang dikonfirmasi, sampai berita ini ditulis, mengaku belum menerima laporan dari penjagaan piket Polres Nabire, namun pihak reserse dan Kriminal berjanji akan menindaklanjuti kasus ini jika ada laporannya.(jon)

Biak : Disinyalir Masih Aktivitas Kapal China di Perairan Indonesia

(www.cenderawasihpos.com, Senin 13 Agustus 2007)
BIAK-Ancaman kegiatan illegal fishing yang dilakukan oleh kapal-kapal penangkap ikan asal Republik Rakyat China atau RRC, sejak pemerintah melarang kegiatan penangkapan ikan oleh kapal-kapal China disinyalir masih ada.Komandan Gugus Keamanan Laut Armada Timur (Guskamlaarmatim) Laksamana Pertama TNI Sugeng Supriyanto yang dikonfirmasi melalui Asintel Guskamlaarmatim Letkol Laut (P) Jaka Santosa, S.Sos, mengatakan, ancaman kegiatan illegal fishing oleh kapal-kapal China di perairan Indonesia masih ada. Wilayah perairan Indonesia yang rawat terhadap kegiatan pencurian ikan oleh kapal-kapal China atau kapal asing lainnya menurut Jaka Santosa berada di wilayah Laut Aru. Dirinya mencontohkan pada bulan juni yang lalu, TNI AL berhasil menangkap 4 buah kapal China yang melakukan penangkapan di sekitar Laut Aru di Selatan Papua.

“Pada umumnya mereka melakukan operasi di sekitar Laut Aru sebab wilayah tersebut potensi ikannya cukup besar,”jelasnya.Selain itu, disana juga sangat startegis bagi kapal-kapal asing untuk melarikan diri ke daerah perbatasan. “ Selain kapal China ancaman dari kapal asing lainnya juga masih ada seperti yang kami tangkap pada bulan Juli kemarin di daerah kepala burung,”ungkapnya.Kegiatan penangkapan ikan oleh kapal-kapal China di wilayah perairan Indonesia menurut Jaka Santosa tentunya sangat merugikan negara. Sebab selain tidak memiliki dokumen, kapal-kapal tersebut dalam operasinya melakukan penangkapan dengan menggunakan alat tangkap fail troll yang ditarik oleh dua buah kapal. “Alat tangkap ini mampu menangkap ikan dalam jumlah yang besar.Hal ini tentunya sangat merugikan negara, sebab jumlah ikan yang diambil dalam jumlah yang besar,”ujarnya.Untuk mengantisipasi terjadinya kegiatan illegal fishing khususnya oleh kapal China maupun kapal asing lainnya, TNI AL dalam hal ini Guskamlaarmatim meningkatkan kegiatan patroli laut khususnya di wilayah perairan yang dianggap rawan terjadi kegiatan illegal fishing. Selain melakukan patroli laut, pemantauan juga dilakukan melalui patroli udara dengan menggunakan pesawat udara milik TNI AL.(nat)

09 August 2007

Jayapura : Pemkot Mulai Tanaman Sagu di Skow Mabo

(www.cenderawasihpos.com, Kamis 9 Agustus 2007)
JAYAPURA-Dalam rangka memberdayakan masyarakat petani khususnya di Skow Mabo, Distrik Muara Tami, Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura melalui Dinas Pertanian Kota Jayapura pada anggaran 2007 ini telah mencanangkan kegiatan penanam pohon sagu yang luasannya sekitar satu hektar di wilayah tersebut.“Pencanangan penanaman pohon sagu di Kampung Skow Mabo tersebut dilakukan sendiri oleh Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, SH pada kegiatan turun kampung baru-baru ini,” kata Kepala Dinas Pertanian Kota Jayapura, Dominggus Wafumilena kepada Cenderawasih Pos, di sela-sela pemberian bantuan walikota di Posyandu Lansia Kampung Yoka, Rabu, (8/8).Dikatakannya, sebenarnya program penanam pohon sagu tersebut, baru akan dilaksanakan atau diprogramkan pada 2008 mendatang, namun karena bertepatan dengan kegiatan gubernur serta agar sebagai langkah awal pelaksanaannya maka tahun ini pihaknya mulai mencanangkan penanaman pohon sagu itu.

Dijelaskan, pada 2008, pihaknya mengupayakan lahan seluas 25 hektar di wilayah tiga Kampung Skow, yaitu, Skow Mabo, Skow Yambe, Skow Sae, akan ditanami pohon sagu.Dalam kegiatan itu, pihaknya hanya menfasilitas saja, sementara masyarakat sendiri yang akan menanam pohon sagu itu. “Inti dari program itu adalah memotivasi dan membudayakan masyarakat untuk mengembangkan tanaman sagu pada lahan-lahan rawa yang belum dimanfaatkan. Dan juga sesuatu untuk membiasakan masyarakat untuk tidak melupakan makanan lokal seperti sagu itu, sebab saat ini banyak masyarakat mulai meninggalkan makanan lokal dan mengkonsumsi makanan-makanan dari luar. Jadi hutan sagu kita ini harus dilestarikan,” imbuhnya.(nls)

Biak : Pembangunan Harus Berwawasan Lingkungan

(wwww.cenderawasihpos.com, Rabu 8 Agustus 2007)
SORENDIWERI-Untuk mengantisipasi dampak lingkungan dari kegiatan pembangunan yang sata ini sedang gencar-gencarnya dilaksanakan di Kabupaten Supiori, Pemkab Supiori menyiapkan strategi pembangunan yang berwawasan lingkungan.Bupati Supiori Drs.Jules F Warikar mengatakan, rancangan pembangunan yang berwawasan lingkungan sangat diperlukan, sebab Pulau Supiori merupakan wilayah konservasi."Lebih dari separuh pulau ini merupakan kawasan pelestarian berbagai habitat,keanekaragaman hayati, satwa endemic dan tumbuhan khas Supiori, seperti anggrek hitam dan lain-lain. Untuk mengantisipasi dampak lingkungan dari pembangunan yang berkembang begitu cepat, maka perlu disusun suatu strategi khusus,"ungkap Bupati Jules F Warikar pada Semiloka Pembangunan yang dilaksanakan di Sorendiweri belum lama ini.

Dikatakan, dalam skala regional, pola dasar pembangunan Supiori merupakan sub system dari system pembangunan Papua yang disesuaikan dengan potensi, kondisi lingkungan strategis, kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Sehingga pola dasar pembangunan Supiori merupakan cerminan kebutuhan seluruh masyarakat terutama masyarakat adat, gereja dan pemerintah sebagai pilar-pilar utama pembangunan Supiori.Dijelaskan, strategi pembangunan Supiori yang disusun oleh pemerintah daerah tetap mengacu pada kondisi dan karakteristik biofisis alam lingkungan dan kondisi social budaya, serta pengetahuan dan kemampuan ekonomi masyarakat Supiori.

"Sebagai bagian dari system lingkungan global, pembangunan berwawasan lingkungan yang dilakukan di Supiori tetap mengacu pada ketentuanperundang-undangan yang berlaku dan komitmen-komitmen masyarakat global tentang perlunya melestarikan alam lingkungan,"tuturnya.Dengan adanya pola pembangunan yang berwawasan lingkungan, menurut bupati diharapkan tercipta kondisi lingkungan yang kondusif bagi enyelenggaraan pembangunan jangka panjang. Strategi pembangunan yang berwawasan lingkungan yang dikembangkan Pemkab Supiori memiliki tujuan terselenggaranya pembangunan ekonomi diatas prinsip kelestarian lingkungan hidup. Dengan demikian menurut bupati akan tercipta keserasian dan keselarasan kepentingan ekologi dan kepentingan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat."Selain itu akan tersedia modal pembangunan ekonomi yang berpihak pada kelestarian lingkungan dan kepentingan pembangunan. Juga tersedia perangkat aturan dalam menjaga keseimbangan lingkungan yang diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan lingkungan yang kondusif bagi kepentingan pembangunan,"tambahnya.Ditambahkan, strategi pembangunan berwawasan lingkungan yang diterapkan Pemkab Supiori menggunakan pendekatan system dengan memberi bobot pada pola dan sifat hubungan interaksi dan saling ketergantungan antara komponen-komponen pendukung dari system tersebut."Penyusunan strategi ini dilakukan dengan memperhatikan kondisi social budaya, kemampuan ekonomi, teknologi dan kondisi ekologis atau lingkungan hidup yang ada,"jelasnya.(nat)

Sorong : Kayu 1,5 M Hilang, SKSHH Dishut Sorsel Diduga tidak Beres

(www.radarsorong.com Rabu 8 Agustus 2007)
SORONG- Merasa dirugikan karena kayu kepunyaan sendiri malah dijual orang,membuat Maria Asem selaku pemilik kayu tersebut mempertanyakan hal ini ke Bupati Sorong Selatan cq Kepala Dinas Kehutanan Sorsel terkait surat keterangan sahnya hasil hutan (SKSHH) kayu tersebut yang dikeluarkan Dishut Sorsel kepada pihak lain,padahal kayu-kayu tersebut adalah murni milik Maria Asem.Pengacara keluarga Maria Asem,Jacobus Wogim, SH yang ditemui Koran ini di kantor advokadnya di Malanu kemarin mengatakan, kayu jenis merbau dengan volume 1500 M3 diambil oleh PT BKI di Sungai Kamundan Distrik Aifat Timur pada November 2006 lalu tanpa sepengetahuan Maria Asem. Padahal kayu tersebut milikMaria Asem yang bekerjasama dengan Agustina Antoh karena Agustina Antoh memiliki IPHH.Lanjut diungkapkan Jacobus Wogim, hal tersebut terjadi karena saat itu IPHH milik Agustina Antoh sudah mati dan dalm proses perpanjangan. Karenanya kayu 1500 m3 senilai 1,5M dibiarkan berada di atas Sungai Kamundan Distrik Aifat Timur untuk menunggu sampai IPHH yang baru terbit.Namun PT BKI menjualnya berdasarkan SKSHH yang diterbitkan Dinas Kehutanan Sorsel. Padahal kalau mau dilakukan pengecekan ke lapangan,SKSHH dari PT BKI tersebut tidak dapat dikeluarkan karena pemilik IPHH adalah Agustina Antoh. “Kok bisa diterbitkan SKSHH bukan berdasarkan IPHH pemilik,lagipula SKSHH diterbitkan oleh petugas yang bukan sebagai pejabat penerbit SKSHH,itu kan menyalahi aturan”katanya singkat.

Hal inilah yang dipermasalahkan yakni mengenai penerbitan SKSHH kepada PT BKI oleh Dinas Kehutanan Sorsel, padahal ijin kepemilikan atau IPHH atas kayu-kayu tersebut atas nama Agustina Antoh. Karena kejadian yang dinilai menyimpang ini maka keluarga pemilik kayu telah berada di Sorsel untuk membicarakan hal ini dengan Bupati Sorsel cq Kadis Kehutanan Kabupaten Sorsel.Ditambahkan,saat kejadian November 2006 lalu saat itu pihak keluarga Maria Asem langsung melaporkan keganjilan tersebut ke Polres Sorsel untuk diselidiki namun entah mengapa baru Januari 2007 lalu baru ditindaklanjuti. Padahal keberadaan kayu-kayu tersebut sudah tidak diketahui lagi karena kayu-kayu tersebut sudah dijual entah kemana.Lanjut dikatakan,pihak keluarga Maria Asem tidak mempermasalahkan kejadian ini kalau saja hak mereka atas kayu-kayu senilai 1,5M tersebut dibayarkan segera.

Menurut kuasa hukum Jacobus wogim, SH tujuan pihak keluarga Maria bertolak ke Sorsel adalah untuk membicarakan hal ini dengan Kadis Kehutanan setempat karena Dinas Kehutananlah yang mengeluarkan SKSHH sehingga kayu-kayu tersebut dijual oleh PT BKI dan upaya yang dilakukan adalah penyelesaian secara kekeluargaan terlebih dahulu. (ano)

08 August 2007

Jayapura : Konsentrat Tembaga Dominasi Ekport Papua

(www.cenderawasihpos.com Rabu 8 Agustus 2007)
JAYAPURA-Nilai ekspor Papua sampai April 2007 dimana Jepang merupakan negara tujuan ekspor terbesar yang mencapai 92,8 juta US$, disusul Korea Selatan sebesar 91,54 juta US$ dan Filipina sebesar 43,9 juta US$, lebih banyak didominasi oleh jenis komiditi konsentrat tembaga. "Ada 7 (tujuh) jenis komoditi yang diekspor selama Maret 2007. Komiti-komiti yang paling besar memberikan andil terhadap total ekspor Papua masih didominasi oleh konsentrat tembaga, di susul film faced, plywood dan ikan beku campuran," ungkap Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Papua, Yusuf Wally SE, MM, didampingi Kasubdin Bina Perdagangan Luar Negeri, Drs. Sunaryo kepada Cenderawasih Pos, Selasa (7/8).

Yusuf Wally secara rinci menjelaskan, untuk jenis komoditi ekspor Papua yakni konsentrat tembaga ini pada Maret 2007 terealisasi sebesar 461.589.071,42 US$ atau mengalami peningkatan 223.179.382,99 US$ atau sebesar 98,88 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama 2006 lalu yang tercapai 238.409.688,43 US$. Sedangkan komoditi ekspor film faced terealisasi 2.640.216,10 US$ atau meningkat 150.588,35 US$ (0,57 persen) jika dibandingkan dengan realisasi ekspor pada periode yang sama tahun lalu sebesar 2.488.727,75 US$.

Untuk ekspor plywood cenderung turun, dimana realisasi ekspor sampai Maret 2007 tercapai 1.453.029,20 US$ atau turun 0,31 persen yakni sebesar 3.000.784,15 US$ jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 4.453.813,35 US$ dan ikan beku campuran realisasi ekspor tercapai 2.572.826,88 US$ atau turun 228.000,00 US$ jika dibandingkan dengan periode yang sama 2006 lalu yang tercapai 2.800.816,88 US$.Sementara itu, Yusuf Wally juga menjelaskan, dalam Maret 2007, hanya 3 pelabuhan di Provinsi Papua yang melakukan kegiatan ekspor. Pelabuhan utama yang mendominasi kegiatan ekspor ini, seperti Pelabuhan Amamapare di Timika, Pelabuhan Merauke dan Pelabuhan Biak. "Sedangkan untuk pelabuhan lainnya (Jayapura, Nabire dan Serui) tidak ada realisasi ekspor," ujarnya.

Ditambahkan, untuk ekspor melalui Pelabuhan Amamapare sampai Maret 2007 terealisasi sebanyak 461.589.071,42 US$ atau naik sebesar 223.179.382 US$ (98,88 persen) jika dibandingkan realisasi ekspor di pelabuhan Maret 2006 lalu yang tercapai 238.409.688,43 US$. Sedangkan pelabuhan Merauke terealisasi sebesar 4.321.345,30 US$ atau turun sebesar 5.248.839,80 US$ dari periode yang sama tahun lalu 9.570.185,10 US$ dan ekspor melalui Pelabuhan Biak terealisasi 910.639,17 US$ atau naik 413.185,06 US$ jika dibandingkan dengan periode yang sama 2006 yang tercapai 497.454,11 US$. "Sampai saat ini, sektor pertambangan masih sangat mendominasi dalam menyumbang total ekspor di Provinsi Papua, disusul sector industri dan sektor hasil laut," imbuhnya. (bat)

Jayapura : Pelatihan Pengelolaan Hasil Alam Berskala Industri Rumah Tangga di Desa Papasena dan Kwerba Mamberamo

( Informasi Konservasi Papua, 07 Agustus 2007 )
Daerah Mamberamo sangat kaya dengan sumber daya alamnya, namun tidak semua sumber daya alam bernilai ekonomis bagi pendapatan terkini masyarakat. Hal ini memberi pengertian bagi kita bahwa hasil alam boleh melimpah namun pengelolaan dan pemanfaatannya belum maksimal dan belum diatur secara baik bagi kepentingan ekonomi masyarakat dalam jangka panjang dan tidak berdampak pada penurunan jumlah hasil alam yang dikelola.

Pada Tahun 2005 Conservation International (CI) Papua Program bekerja sama dengan Fakultas Mipa dan Fakultas Ekonomi Universitas Cenderawasi melakukan kegiatan Sustainable Use Option Plan (SUOP) atau Perencanaan Pilihan Pemanfaatan hasil alam yang berkelanjuatan di Mamberamo pada desa Dabra, Papasena I, Papasena II, Kwerba dan Kasonaweja. “Tujuan dari kegiatan ini adalah menilai kelayakan dari kegiatan masyarakat dalam pemanfaatan sumber daya alam dan dari kegiatan ini juga diharapkan akan diperoleh gambaran mengenai kapasitas para pihak serta bagaimana menerapkan insentif yang memadai bagi masyarakat untuk mendukung strategi konservasi”kata Yoseph Watopa, Eeconomist Specialist Conservation International Mamberamo Program.

Dari kegiatan SUOP ini, merekomendasikan lima kegiatan masyarakat dalam pemanfaatan hasil alam yang memiliki peluang pengelolaan secara berkelanjutan. Hal ini berkaitan dengan pengolahan lebih lanjut dari hasil alam yang selama ini dikemas secara tradisional yang berpeluang untuk dikelola secara industri skala kecil atau industri rumah tangga. Contohnya selama ini masyarakat mengambil kulit buaya untuk dijual, kadang-kadang daging dikonsumsi namun kalau kelebihan biasanya mereka buang disepanjang sungai. Begitu pula dengan ikan sembilang, perutnya diambil, dagingnya dibuang.

Hal ini menjadi menarik untuk ditindak lanjuti melalui beberapa program yang dapat membantu masyarakat. Masyarakat dapat dilatih untuk beberapa usaha industri kecil pengelolaan alam tersebut.
Perlu diketahui bahwa pelatihan ini berlangsung dari tanggal 03-24 Mei 2007, bertempat didua kampung yaitu, Kwerba dan Papasena. ( Irwan Chalid)

Jayapura : Lagi, Dua Universitas Mengirimkan Mahasiswanya Untuk Magang di Kampung Wambena

( Informasi Konservasi Papua, 07 Agustus 2007 )
Guna menjaring dan menciptakan generasi muda khususnya dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan dan keanekaragaman hayati, hari ini Conservation International Mamberamo Program kembali menerima mahasiswa magang dari dua Universitas, masing-masing, 4 orang Universitas Cenderawasih Jayapura, dan 1 orang dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jogjakarta.

Menurut Program Manager CI-Mamberamo Program, Neville Kemp, mengatakan bahwa penerimaan mahasiswa magang ini bertujuan untuk saling mengikat kerjasama dengan dunia kampus yang saling menguntungkan. “Ini adalah menjadi suatu masukan bagi kami terutama dalam segi pendataan dan saling mengikat kerjasama dengan dunia kampus” ujarnya.

Sementara itu ditempat yang sama, supervisor bagi kegiatan mahasiswa magang ini, Hugo Yoteni mengatakan, awalnya mahsiswa diberikan pengenalan apa itu CI-Mamberamo, serta akan diarakan dalam beberapa hari ini tentang arah penulisan mereka kelak apabila telah meyelesaikan magang ini.

Seperti tahun sebelumnya, lokasi magang tahun ini tetap mengambil tempat di kampung Wambena Distrik Depapre, kabupaten Jayapura. ( irwan chalid )

Merauke : Merauke Akan Kembangkan Sistem Pertanian Organik

(www.cenderawasihpos.com, Selasa 7 Agustus 2007)
MERAUKE- Jika selama ini petani di Merauke lebih banyak mengenal sistem mengembangkan pertanian non organik, maka mulai musim tanam tahun depan sistem pertanian organik (dengan menggunakan pupukorganik,red) akan mulai dicoba ke petani. Hal itu diungkapkan Kepala Tanaman Pangan Kabupaten Merauke Ir Omah Laduani Ladamay, M.Si. Apalagi, lanjutnya, ketersediaan bahan pupuk organik tersebut di Merauke cukup melimpah. ‘’Kami bukan mendatangkan dari luar,tapi di sini (merauke, red) sudah tersedia cukup banyak. Dan Kami bisa olah dan proses sendiri,’’ terangnya.

Menurutnya, pertanian dengan system organik tersebut tidak merusak tanah tapi menjaga keseimbangan struktur tanah karena tidak mengandung zat-zat kimia. Apalagi, hasil dari pertanian organik tersebut harganya lebih tinggi dibanding dengan hasil pertanian non organik, yang tentu saja akan memberikan keuntungan bagi petani.‘’Selain biaya produksi bisa ditekan, harga dari hasil pertanian organik ini cukup tinggi sehingga memberikan keuntungan bagi petani,’’ terangnya. Pertanian dengan menggunakan pupuk organik tersebut, lanjut Ladamay, telah dicoba di sawah milik Ketua DPRD Merauke danhasilnya cukup menggembirakan. ‘’Itu ditanam diantara Kayu Bus dan ternyata hasilnya cukup bagus,’’ jelasnya.

Mantan Kepala Bappeda Kabupaten Mimika tersebut menyebutkan, untuk negara-negara maju system pertanian organik tersebut telah dikembangkan. Apalagi, Presiden SBY, telah memberikan kartu merah agar system pertanian organik terus dikembangkan di Indonesia dalam menjaga keseimbangan alam. Disinggung luas tanam pada musim tanam Gadu (Garap Dua Kali,red) tahun ini, Ladamay mengungkapkan jika sampai saat ini telah tercatat 15.00 ha. ‘’Tapi kemungkinan jumlah itu masih bertambah, karena saya lihat masih ada petani kita yang sementara mengolah sawahnya. Mudah-mudahan jumlah tersebut bertambah,’’ harapnya. (ulo)